eXTReMe Tracker
if knowledge is power, then passion is the engine, body is the vehicle, and conscience is the driver

Blog ini sudah pindah ke http://www.orangenexus.com

April 30, 2006

Pikiran sebagai password?

Filed under: Mind & Thinking, Fun Stuff, Current Events — itpin @ 7:38 am

Ilmuwan dari Carleton University di Ottawa, Kanada, sedang mempelajari kemungkinan pemanfaatan gelombang otak sebagai alat identifikasi individu karena gelombang otak setiap orang dipercayai bersifat unik. Bila percobaan yang mereka lakukan berhasil, kita mungkin tidak perlu lagi mengingat sederetan password. Tinggal tempelkan saja sensor di kepala kita, colokkan ujung lainnya di USB komputer (hmh.. mungkin waktu itu kita tidak perlu USB lagi, semua sudah serba wireless?), dan simsalabim… ‘You are logged in!:-)

Berita selengkapnya bisa dibaca di sini.

• • •
 

April 29, 2006

EBay, Amazon, Google

Filed under: E-Business, Strategy — itpin @ 8:09 am

Banyak dari kita yang menganggap karena biaya memulai bisnis di Internet cukup rendah dan situs web yang dipakai sebagai sarana distribusi bisa diakses 24 jam dalam seminggu dan bisa terjangkau dari seluruh pelosok dunia, bisnis di Internet bakal memberikan banyak keuntungan. Mari kita kaji apakah pendapat tersebut memang benar.

Memang harus kita akui bahwa secara relatif, biaya yang dikeluarkan untuk memulai bisnis di Internet cukup rendah. Hanya dengan bekal jutaan rupiah, kita sudah bisa membuat situs web untuk memasarkan barang atau jasa. Namun di sisi lain, kerendahan biaya itu juga lah yang memancing banyak pemain lain untuk bergabung. Dalam istilah strategi bisnis, entry barrier-nya sangat rendah sehingga memancing banyak kompetitor. Dengan banyaknya kompetitor yang masuk, tekanan terhadap harga jual juga semakin besar.

Selain itu, sifatnya yang global membuat calon pelanggan dengan mudah beralih dari satu situs ke situs lainnya. Keberadaan situs pembanding harga seperti Shopping.com atau Froogle dan situs yang memberikan informasi kepada konsumen seperti Epinions.com memberikan kemungkinan yang luas kepada calon pelanggan untuk mendapatkan tawaran yang terbaik. Dalam hal ini, kita bisa katakan bahwa meski perusahaan berbasis Internet bisa menciptakan value yang besar, sebagian value tersebut harus direlakan kepada pelanggannya yang semakin cerdik dan karena tekanan persaingan yang sengit.

Lalu bagaimana menjelaskan beberapa perusahaan seperti eBay, Amazon.com, dan Google yang berhasil sejauh ini?

Apakah mereka berhasil karena menjadi yang pertama? Bukan itu alasannya. Amazon.com bukanlah situs penjual buku pertama. Google juga jelas-jelas bukan search engine pertama.

Apakah mereka adalah yang termurah? Bukan juga. Malah listing fee di eBay termasuk yang termahal di industrinya, dan harga buku di Amazon kadang bisa lebih mahal dari harga yang dipatok kompetitornya seperti B&N.

Lalu apa?

Kita bisa memberikan banyak penjelasan keberhasilan mereka. Namun di artikel ini kita akan membahas keberhasilan mereka melalui konsep network effect.

Network effect adalah konsep yang pertama kali diperkenalkan oleh Robert Metcalfe. (Ya, Robert Metcalfe yang sama dengan salah satu ahli pada artikel ini.) Lewat hukumnya yang dikenal dengan Metcalfe’s Law, beliau mengatakan bahwa nilai suatu jaringan akan bertambah secara eksponensial dengan bertambahnya anggota jaringan.

Untuk menjelaskan lewat contoh, mari kita lihat eBay. EBay memang merupakan yang pertama di bidangnya, namun menjadi pertama bukan penjelasan terpenting keberhasilannya. EBay berhasil karena berhasil memanfaatkan momentum sebagai yang pertama untuk mendapatkan user sebanyak-banyaknya. Awalnya itu dilakukan dengan menawarkan servisnya secara gratis. Setelah penggunanya mulai banyak, barulah eBay mulai menarik bayaran untuk listing fee. Saat itu, beberapa kompetitor mulai muncul dan beberapa malah menawarkan listing fee gratis. Untungnya buat eBay, saat itu jumlah user situs web-nya sudah mencapai jumlah yang banyak. Malah sewaktu raksasa Yahoo! membuka Yahoo! Auctions dan menawarkan listing fee secara gratis juga, pengaruh terhadap aktivitas di eBay ternyata nyaris tidak ada. Beberapa pemakai eBay yang sempat tergoda tawaran Yahoo! dan beralih ke sana akhirnya kembali ke pangkuan eBay karena yang pembeli tidak bisa menemukan penjual yang banyak; dan yang penjual tidak bisa menemukan pembeli yang banyak.

Di sini kita bisa melihat betapa berharganya network effect. Nilai dari jaringan eBay sudah membengkak sedemikian rupa sehingga walau eBay menaikkan listing fee-nya pun, tidak banyak yang berpikir untuk pindah ke lain hati. Lewat network effect ini, eBay berhasil menciptakan value yang besarnya eksponensial bila dibanding dengan jumlah penggunanya), dan sekaligus mampu mendapatkan sebagian besar dari value tersebut. Dengan kata lain, harga bukan lagi pertimbangan utama untuk pengguna eBay karena manfaat yang mereka dapatkan lewat eBay cukup besar. Menariknya, Yahoo! yang belajar dari pengalaman tersebut berhasil membalikkan keadaan sewaktu masuk ke Jepang. Yahoo! masuk ke Jepang mendahului eBay dan itu lah pasar satu-satunya dimana eBay kalah bersaing sehingga akhirnya eBay memutuskan keluar dari Jepang. Pentingnya network effect dalam industri online auction ini membuat eBay dan Yahoo! berusaha saling mendahului masuk ke pangsa pasar regional lainnya walau awalnya mereka harus merugi terlebih dahulu.

Network effect ini juga menjelaskan sebagian keberhasilan Amazon.com dan Google, walau tidak sepenting di eBay. Amazon.com, seperti kita ketahui, menyediakan kesempatan para pembeli untuk memberikan ulasan (review) terhadap barang-barang yang sudah dibelinya. Ulasan-ulasan itu menjadi salah satu faktor penting para calon pembeli untuk memutuskan barang apa yang hendak dibelinya. Keberhasilan Amazon.com memikat para pembelinya memberikan ulasan secara tidak langsung telah membentuk network effect tersendiri yang sulit dikejar para kompetitornya. Yang ingin membaca ulasan tentang buku akan pergi ke Amazon.com, sedangkan yang ingin menulis ulasan akan menulis di Amazon.com karena pembacanya lebih banyak.

Keberhasilan Google mendapatkan iklan lewat program AdWords dan AdSense-nya juga bisa diterangkan dengan network effect. Karena banyak pemilik situs web yang telah menjadi rekanan Google (atau biasanya disebut affiliates) lewat program AdSense untuk menjual iklan di situs mereka, para pemasang iklan (advertisers) mau tidak mau harus memasang iklan lewat program Google yang disebut AdWords. Dan karena banyak pemasang iklan di Google, lebih banyak lagi yang ingin menjadi affiliates Google sehingga tercipta semacam virtous circle.

Contoh keberhasilan network effect bukan saja berlaku untuk perusahaan sebesar eBay atau Google. Di tingkat yang lebih kecil situs seperti Craig’s List berhasil memanfaatkan efek ini untuk menjaring komunitas kota San Francisco untuk saling memberikan informasi. Situs ini kemudian berkembang untuk melayani kota-kota lain. Ujung-ujungnya eBay sampai tertarik untuk berinvestasi di sana dengan membeli sekitar 25% saham. Ada pula Webmaster World dan Slashdot yang menjadi ajang komunikasi untuk komunitas yang dilayaninya. Contoh terbaru adalah situs social networking seperti Friendster dan MySpace.

Walau network effect tidak bisa menjelaskan semua kisah sukses di Internet, perusahaan dot-com yang berhasil menciptakan network effect memiliki peluang untuk sukses berkelanjutan secara signifikan. Untuk perusahaan konvensional, network effect ini juga bisa dipakai walau Internet menyediakan ruang dan tempat yang lebih sesuai untuk menciptakan network effect. Salah satu contoh perusahaan konvensional yang berhasil lewat efek ini adalah Yellow Pages. Dengan menyediakan informasi para pengiklan lokal untuk didistribusikan kepada para pelanggan telepon, perusahaan ini mampu mempertahankan dominasinya secara konsisten dan nyaris tanpa saingan berarti. Network effect ini juga merupakan alasan mengapa perusahaan jaringan mobile phone menawarkan paket supermurah di masa-masa promosi untuk pendaftaran nomor baru, terutama untuk talk time antar sesama pengguna dari jaringan yang sama. Selain itu, konsep seperti ATM Bersama atau SMS antar operator juga didasarkan atas prinsip serupa.

• • •
 

April 28, 2006

Hotmail menjadi Windows Live Mail

November tahun lalu, Microsoft memutuskan mengganti nama Hotmail.com menjadi Windows Live Mail. Pergantian tersebut menyusul pengumuman Google yang meluncurkan Gmail beberapa bulan sebelumnya dengan kapasitas sebesar 1GB dan user interface yang lebih inovatif (tepatnya pada hari April’s Fool 2005). Peluncuran Gmail tersebut benar-benar menyentak Microsoft karena selama ini mereka membiarkan Hotmail berjalan begitu saja tanpa penambahan sesuatu yang baru selama beberapa tahun.

Seiring dengan pergantian nama tersebut, Microsoft sekaligus merencanakan pergantian user interface Windows Live Mail. Namun ketika pergantian tersebut diuji kepada pengguna di awal tahun ini, banyak pengguna yang ternyata lebih menyukai interface lama. Berdasarkan feedback tersebut, Microsoft kemudian menawarkan jalan tengah. Pengguna yang ingin kembali memakai interface lama disediakan pilihan classic view.

Cerita di atas memberikan kita beberapa pelajaran berharga:

BAGIAN PERTAMA: CORPORATE COMPLACENCY AND CHANGE

Perusahaan seperti Microsoft pun bisa terjebak dalam kepuasan diri dan melupakan inovasi sampai ada penantang baru yang muncul dengan konsep baru. Kepuasan diri semacam itu merupakan penyakit umum yang diderita perusahaan-perusahaan yang sukses. Apa yang menjadikan sebuah perusahaan sukses biasanya akan berubah menjadi kepercayaan (belief) bahwa formula sukses tersebut akan abadi. Ironisnya, semakin sukses sebuah perusahaan, kepercayaan tersebut akan semakin mengeras dan semakin sulit diubah. Pada saat terjadi perubahan lingkungan, sukses hari kemarin justru berpotensi menjadi bibit bencana hari ini.

Namun dalam kasus ini, Microsoft tetap perlu diacungi jempol karena mereka tidak terlena terlalu lama. Hanya dalam waktu singkat mereka bisa melepaskan diri dari mimpi indah keberhasilan masa lalu. Hal ini juga mengingatkan kita pada kejadian beberapa tahun sebelumnya ketika Netscape berhasil mendahului Microsoft dalam penguasaan pasar browser Internet. Microsoft yang menyadari keterlambatannya memutuskan mengarahkan semua sumber daya yang ada untuk mengambil alih kepemimpinan tersebut dari Netscape dan akhirnya Netscape berhasil ditaklukkan. Sikap cepat tanggap seperti Microsoft ini sangat dibutuhkan oleh perusahaan-perusahaan besar untuk terus mempertahankan keberhasilan mereka.

Di sini kita juga bisa memetik pelajaran lain tentang perubahan: Krisis membantu perubahan. Hanya karena merasakan adanya krisis dari Gmail (dan Netscape), Microsoft baru merasakan desakan untuk berubah. Saya akan menulis lebih banyak lagi mengenai topik ‘krisis dan perubahan‘ ini pada posting yang lain.

BAGIAN KEDUA: INNOVATION AND CONSUMER BEHAVIOUR

Manusia adalah makhluk yang sulit berubah, meski itu untuk sesuatu yang lebih baik. Kita bisa melihat hal itu pada diri pengguna yang masih menyukai interface lama. Detik.com sendiri pernah mengadakan perubahan layout halamannya beberapa tahun lalu dan akhirnya kembali ke layout lama. Layout baru yang dirasa lebih indah itu justru menuai protes mayoritas pengunjung situs web tersebut yang sudah terbiasa dengan layout lama. Hal yang sama juga pernah dialami oleh eBay. Yahoo! mempertahankan layout halaman depan situsnya selama bertahun-tahun sebelum memutuskan melakukan pergantian yang dilakukan secara hati-hati dan berkonsultasi dengan pengunjung situs selama berbulan-bulan. Google sendiri malah belum pernah mengganti layout-nya yang super sederhana itu karena alasan yang sama. Keberhasilan inovasi produk seperti Walkman, iPod, Harry Potter, handphone, dan kamera digital adalah karena kemudahan pemakaiannya tanpa harus banyak merubah kebiasaan lama.

Banyak inovator yang tidak pernah mencicipi kesuksesan karena mereka merancang produk baru tanpa memperhatikan kebiasaan calon penggunanya. Inovasi yang berhasil umumnya tidak memaksa pelanggan untuk merubah kebiasaan mereka secara drastis.

(Memang ada beberapa inovasi yang berhasil dengan merubah kebiasaan pelanggannya secara radikal seperti mobil atau komputer. Namun dalam kasus-kasus seperti itu, dibutuhkan waktu adopsi yang relatif lama dan biaya edukasi pelanggan yang cukup tinggi, selain inovasi tersebut harus menawarkan manfaat nyata yang sangat penting buat pelanggan. Resiko kegagalan untuk inovasi sejenis itu juga lebih besar. Contoh: Segway atau Iridium. Bila Anda belum pernah mendengar kedua kata ini, maka itulah buktinya.)

Dalam kasus di atas, Microsoft kembali harus diacungi jempol karena mereka menjalankan testing dengan interface baru sebelum diluncurkan untuk mendapatkan feedback langsung dari pengguna. Testing semacam ini dibutuhkan untuk menguji apakah asumsi-asumsi perancang sesuai dengan kehendak pengguna. Pada saat hasil pengujian menunjukkan beberapa asumsi ternyata salah, Microsoft memutuskan mengambil jalan tengah dengan menawarkan classic view untuk pengguna yang masih menyukai interface lama. Karena itu, testing, eksperimen, pilot project, atau prototype seharusnya menjadi bagian penting proses inovasi untuk mengurangi resiko kegagalan.

Kita belum bisa tahu apakah langkah Microsoft tersebut akan menuai keberhasilan, terutama dalam menghadapi ancaman Gmail. Namun apa yang mereka lakukan di atas jelas lebih baik dibanding bila mereka tetap berpuas diri dan tidak melibatkan pengguna dalam upaya perubahan tersebut.

• • •
 

April 27, 2006

Kebodohan para ahli

Filed under: Fun Stuff, Cognitive Biases — itpin @ 7:39 am

Bila kita mendengar kata ‘ahli‘, secara otomatis kita akan berasumsi bahwa apa yang mereka katakan mengenai bidangnya selalu benar.

Apakah asumsi tersebut benar? Coba dengarkan beberapa kutipan dari para ahli tersebut:

  • Bill Gates (1981): “Memori 640KB seharusnya cukup untuk semua orang.”
  • Thomas Watson, pendiri IBM (1943): “Dunia mungkin hanya membutuhkan lima komputer.”
  • John von Neumann, ahli matematika dan komputer (1949): “Kelihatannya kita telah mencapai batas kemampuan yang mungkin dicapai oleh komputer…
  • Ken Olsen, pendiri Digital Equipment Computer (1977): “Tidak ada alasan bagi orang-orang untuk memiliki komputer di rumah masing-masing.
  • Robert Metcalfe, pencipta Ethernet dan pendiri 3Com (1995): “Internet akan runtuh pada tahun 1996.
  • Wilbur Wright, pencipta pesawat terbang (1901): “Tidak dalam seribu tahun manusia bisa terbang.
  • Charlie Chaplin, aktor dan pelawak (1916): “Bioskop tidak lebih dari trend sesaat… Apa yang diinginkan penonton adalah daging dan darah di atas panggung.
  • W. Darryl Zanuck, pemimpin 20th Century Fox Studio (1946): “Orang-orang akan bosan menonton kotak kayu [TV] setiap malam.
  • Winston Churchill, negarawan dan Perdana Menteri Inggris (1939): “Energi atom mungkin akan sebaik peledak yang kita miliki saat ini, namun kecil kemungkinan menghasilkan sesuatu yang lebih berbahaya.
• • •
 

April 26, 2006

Mitos tentang modal kapital

Filed under: Entrepreneurship, Innovation — itpin @ 8:13 am

Salah satu mitos besar yang diyakini para calon wiraswasta adalah pentingnya modal awal yang besar. Namun sebagaimana mitos-mitos lainnya, keyakinan tersebut adalah keyakinan yang salah.

Modal awal memang diperlukan, namun memiliki modal yang besar untuk memulai usaha sebenarnya justru bisa menjerumuskan. Sebaliknya, memiliki modal pas-pasan malah bisa menjadi berkah tersembunyi.

Kenapa demikian?

Salah satu penentu utama keberhasilan sebuah usaha baru adalah apakah usaha baru tersebut menawarkan inovasi yang diperlukan calon konsumen. Inovasi tersebut bisa dalam bentuk produk itu sendiri (menawarkan manfaat baru kepada konsumen) atau pada prosesnya (misalnya: proses pembuatan, distribusi, promosi, atau pricing). Tanpa adanya inovasi, secara otomatis usaha baru tersebut akan bersaing langsung dengan usaha-usaha lain yang sudah mapan dan lebih kaya sumber daya. Karena semua pihak bersaing dengan menawarkan produk/jasa yang hampir sama kepada konsumen yang sama, faktor penentu persaingan ada pada reputasi (termasuk brand) dan harga. Bagi usaha baru yang belum memiliki reputasi, satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah menurunkan harga. Strategi tersebut dalam jangka panjang, paling banter hanya akan menghasilkan keuntungan yang sedikit lebih baik dibanding bila uang tersebut dibungakan di bank.

Bila usaha baru tersebut tidak ingin terjebak dalam permainan harga, inovasi untuk menghasilkan sesuatu yang berbeda (namun tetap diminati konsumen) adalah kuncinya. Dalam hal ini, ketersediaan sumber daya adalah faktor yang menentukan. Sumber daya berlimpah (terutama modal kapital) justru akan menekan inovasi. Calon wiraswasta yang memulai usahanya dengan modal yang besar akan cenderung berpikir seperti pemilik usaha lama yang sudah mapan. Sebaliknya modal pas-pasan akan memaksa calon wiraswasta untuk memikirkan solusi yang cerdas yang tidak bisa dipikirkan oleh usaha-usaha lama yang sudah mapan.

Karena itu, bila Anda ingin memulai usaha baru namun kekurangan modal, jangan takut untuk mencoba. Modal terbesar tidaklah terletak pada lembaran uang atau account balance di bank, namun terletak pada organ fantastis yang terletak di antara kedua telinga Anda dan kemampuan Anda untuk mengeksekusi ide-ide yang dihasilkan dari organ tersebut. Jadikan kekurangan modal tersebut sebagai pemicu untuk mengaktifkan kekuatan organ abu-abu Anda agar bisa menghasilkan inovasi-inovasi yang berguna. Bill Gates (Microsoft), Michael Dell (Dell), Pierre Omidyar (eBay), Larry Page & Sergei Brin (Google), Jerry Yang & David Filo (Yahoo!), Henry Ford (Ford Motor), Soichiro Honda (Honda), Thomas Edison (GE), dan banyak lagi pendiri-pendiri perusahaan raksasa lainnya memulai semuanya dengan modal ala kadarnya. Keberhasilan mereka justru terletak pada kemampuan mereka memanfaatkan otak mereka untuk berpikir dan ketekunan mereka dalam mencoba, dan bukan mengandalkan modal kapital.

• • •
 

April 25, 2006

Catur dan kecantikan

Filed under: Fun Stuff — itpin @ 8:10 am

Banyak yang berpikir bahwa olah raga otak catur dan kecantikan adalah dua hal yang terpisah. Pendapat tersebut mungkin harus diuji ulang setelah Anda mengenal Alexandra Kosteniuk. Kunjungan singkat ke galeri foto Kosteniuk pasti akan merubah pandangan Anda. Bagi Anda yang awam tentang dunia catur, Kosteniuk pernah menjadi juara catur wanita Rusia, Eropa, dan hampir menjadi juara dunia. Dia juga berhasil meraih gelar Grand Master (Pria) yang merupakan gelar tertinggi di dunia catur.

Kalau prestasi Kosteniuk masih dianggap kurang, bagaimana dengan Judith Polgar? Bungsu dari 3 pecatur bersaudari ini dianggap sebagai pecatur wanita terkuat sepanjang sejarah. Saat ini, hanya ada belasan pecatur pria yang dianggap lebih kuat dari Judith. Judith sendiri tidak pernah mau berkompetisi dengan sesama wanita karena tidak memiliki saingan lagi di sana. Silakan menikmati kecantikan Judith di sini atau di sini.

Siapa tahu suatu saat nanti, olah raga catur wanita akan menjadi seperti tenis wanita. Bukan saja para penonton datang untuk menikmati permainannya, namun sekalian untuk cuci mata.

• • •
 

April 24, 2006

Efek Pygmalion

Filed under: Mind & Thinking, Managing People, Education, Column Archive — itpin @ 8:40 am

(Artikel ini juga dipublikasikan di majalah Human Capital, edisi Oktober 2006)

Pygmalion adalah salah satu legenda terkenal Romawi yang awalnya ditulis oleh pujangga Ovid. Dalam kisah tersebut, Pygmalion adalah seorang pemahat kesepian yang mengaku tidak pernah tertarik dengan wanita. Suatu saat, dia memahat patung berbentuk seorang wanita dari gading. Patung tersebut sangat indah dan realistis sehingga Pygmalion akhirnya jatuh cinta pada patung tersebut. Karena cintanya, Pygmalion memohon pada sang dewi cinta Venus untuk menghidupkan patung tersebut untuk dinikahi. Berkat permohonannya yang sungguh-sungguh dan tulus, Venus akhirnya mengabulkan permintaan tersebut.

Ide cerita tersebut kemudian dipakai oleh George Bernard Shaw, dramawan Irlandia yang juga pemenang hadiah nobel kesusasteraan tahun 1925, untuk menghasilkan salah satu karyanya yang paling dikenal, Pygmalion. Karya Shaw tersebut menceritakan tentang seorang profesor fonetik yang berhasil merubah seorang gadis penjual bunga yang sederhana, Eliza Doolittle, menjadi seorang lady di kalangan elit di London.

Walau kisah asli Pygmalion jelas-jelas merupakan legenda yang tidak mungkin terjadi, namun adaptasi Shaw ternyata menggambarkan sesuatu yang cukup dekat dengan realitas yang jarang kita sadari: bahwa harapan kita terhadap seseorang akan merubah harapan orang tersebut terhadap dirinya sendiri dan akhirnya akan merubah harapan tersebut menjadi kenyataan.

Interaksi rumit tersebut bukanlah sekedar teori yang hanya bisa dinikmati dalam pementasan Shaw, tapi sudah dibuktikan dalam beberapa eksperimen yang dilakukan dengan ketat.

Sekitar tahun 1960-an, Rosenthal dan Jacobson melakukan eksperimen di beberapa sekolah dasar di US. Dalam salah satu eksperimen tersebut, para guru diberitahu bahwa sekelompok murid-murid (sekitar seperlima dari kelas) memiliki IQ yang lebih tinggi. Secara berkala selama eksperimen tersebut dilakukan, dilakukan tes IQ. Dan memang benar, IQ kelompok murid-murid yang diharapkan memiliki IQ yang lebih tinggi tersebut memang memiliki IQ yang secara signifikan lebih tinggi dibanding murid-murid lainnya.

Namun itu saja tidak cukup membuat cerita tersebut menjadi istimewa. Apa yang membuat cerita ini menjadi istimewa adalah fakta bahwa sebelum kelas tersebut dimulai, semua murid-murid telah menjalani tes IQ dan sebenarnya IQ semua murid-murid dalam kelas tersebut lebih kurang sama! Bagaimana sekolompok murid-murid yang diberitahu memiliki IQ tinggi akhirnya benar-benar menunjukkan IQ yang tinggi, menurut Rosenthal dan Jacobson, adalah hasil dari harapan guru-guru tersebut. Secara tidak sadar, harapan-harapan tersebut mempengaruhi citra diri murid-murid itu sendiri. Citra diri tersebut mungkin membuat mereka belajar lebih keras atau secara tidak sadar mengembangkan kemampuan bawah sadar mereka. Eksperimen tersebut juga dilakukan untuk mahasiswa dengan hasil yang lebih kurang sama.

Kesimpulannya: walau kisah Pygmalion merupakan dongeng, namun efek Pygmalion bukanlah dongeng!

Dalam konteks dunia kerja, efek ini juga pernah diteliti oleh J. Sterling Livingstone. Hasil penelitian tersebut dipublikasikan di Harvard Business Review pada edisi Sep/Okt 1988 di artikel yang berjudul “Pygmalion in Management“. Menurut Livingstone, bagaimana manajer memperlakukan anak buahnya dipengaruhi secara tidak sadar oleh harapan manajer tersebut. Manajer yang memiliki pengharapan positif terhadap anak buahnya akan cenderung mendapatkan hasil yang positif dan sebaliknya. Harapan-harapan tersebut dikomunikasikan dengan halus, kadang tidak disadari oleh manajer tersebut. Misalnya saja manajer akan memberikan lebih banyak feedback konstruktif untuk anak buah yang diharapkan menunjukkan kinerja positif dan memberikan kritik bernada negatif terhadap anak buah yang diharapkan menunjukkan kinerja negatif. Atau manajer akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk berdiskusi dengan anak buah yang diharapkan menunjukkan kinerja positif. Akumulasi dari hal-hal kecil seperti itu akan mempengaruhi citra diri para anak buah tersebut yang akhirnya berbuah pada kenyataan sesuai harapan manajer tersebut dari awal. Kesesuaian antara harapan dan kenyataan tersebut semakin memperkukuh kepercayaan manajer bersangkutan bahwa pendapatnya memang benar dari awal.

Pendapat tersebut ditunjang juga oleh dua peneliti dari Insead, Jean-Francois Manzoni dan Jean-Louis Barsoux. Penelitian tersebut dituangkan dalam buku “The Set-Up-to-Fail Syndrome“. Mereka berfokus pada bagaimana para boss secara tidak sadar menyusun perangkap untuk menggagalkan anak buahnya. Harapan negatif boss menimbulkan ketidakpercayaan diri anak buah, yang menurunkan kinerjanya, yang memperkuat kepercayaan awal sang boss, dan seterusnya.

Lalu apa artinya efek Pygmalion bagi kita? Bila kita adalah orang tua atau pengajar, berhati-hatilah dengan harapan-harapan negatif yang kita miliki terhadap anak-anak atau murid-murid kita. Bila kita adalah manajer atau boss, berhati-hatilah terhadap harapan-harapan negatif terhadap bawahan kita. Sebagai pasangan, kita juga harus berhati-hati terhadap pikiran-pikiran negatif terhadap pasangan kita.

Sebagai manusia, kita memang sulit menghilangkan harapan-harapan tersebut, namun dengan menyadari bahwa harapan-harapan kita bisa menjadi kenyataan, kita bisa selalu bermawas diri. Walau saat ini kita masih jauh dari memahami bagaimana pikiran kita bisa menciptakan kenyataan, bukti-bukti secara empiris dan eksperimental telah menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bisa ditarik antara pikiran dan kenyataan.

• • •
 

April 23, 2006

Pelajaran dari dua olahraga air

Filed under: Learning, Change Management — itpin @ 8:30 am

Di kota kelahiranku, Rantau Prapat (Sumatera Utara), ada sebuah sungai yang cukup dikenal warga setempat, yaitu Sungai Bilah. Sungai tersebut bukanlah sungai yang indah. Airnya juga termasuk kotor. Namun karena kota kecil ini tidak memiliki kolam renang, penduduk setempat yang ingin berenang terpaksa memanfaatkan sungai tersebut untuk belajar dan berlatih renang; dan karena tidak ada guru renang, mereka semua penduduk yang pernah mencebur diri ke dalam sungai tersebut harus belajar secara otodidak.

Ayah saya termasuk salah satu pelajar otodidak tersebut. Walau dia termasuk perenang yang baik di usia mudanya, dia mengaku menyesal telah belajar teknik-teknik renang secara otodidak. Kemampuannya untuk berenang dengan baik dengan teknik-teknik otodidak justru mempersulitnya untuk belajar teknik-teknik yang lebih benar secara teori. Sebab itu, dia berkali-kali menasehatiku: “Kalau kamu ingin belajar berenang, belajarlah dengan benar dari awal. Jangan belajar sendiri dulu seperti papa, lalu mencoba mencari guru untuk mempelajari teknik-teknik yang benar. Apa yang sudah menjadi kebiasaan akan sulit untuk diubah.”

Kata-kata tersebut adalah salah satu kata-kata terbijak yang bisa diberikan seorang ayah kepada anaknya. Bukan karena kata-kata tersebut membuatku tidak pernah merasakan kotornya air Sungai Bilah tersebut, tetapi karena di dalamnya terkandung pemahaman yang dalam terhadap proses belajar.

Sebelum saya lanjutkan, saya akan mengutip cerita lain dari Marcia L. Conner dalam salah satu kolomnya. Marcia menceritakan tentang sepasang suami istri yang datang untuk belajar olah raga air kayak. Sang suami telah pernah belajar kano, sementara sang istri belum pernah belajar apa-apa sebelumnya. Karena pengetahuannya, sang suami menghabiskan kebanyakan waktu untuk membanding-bandingkan antara kedua cabang olah raga tersebut. Dia juga berusaha menggunakan teknik-teknik mengayuh kano untuk diterapkan di kayak. Upaya tersebut jelas sia-sia dan membuatnya terlempar terus ke dalam kolam latihan. Karena sifat keras kepalanya, sang suami tidak memperlihatkan kemajuan yang berarti selama latihan hari pertama. Sementara istrinya, yang benar-benar seorang pemula murni, justru mampu menunjukkan perkembangan yang cukup baik pada hari yang sama.

Kedua cerita tersebut menyimpulkan satu hal tentang proses belajar. Sering dalam mempelajari sesuatu yang baru, hal tersulit adalah melupakan sesuatu yang lama. Seorang perenang otodidak akan sulit mempelajari teknik-teknik yang benar karena tubuh dan pikirannya sudah terkondisi dengan cara-cara lama. Hal yang sama juga dialami sang suami yang mencoba belajar kayak tanpa melupakan kano (paling tidak untuk sementara). Celakanya, semakin kita ahli dengan cara-cara lama, semakin sulit kita mempelajari cara-cara baru.

Apa yang sulit buat individu, lebih sulit lagi buat organisasi dan masyarakat. Karena itu tidak heran bila banyak upaya-upaya change management di perusahaan gagal total. Proses perubahan organisasi bukanlah sekedar melakukan perubahan di atas kertas dan manajemen puncak mengumumkan perubahan tersebut. Perubahan yang sebenarnya melibatkan pembelajaran hal-hal baru dan itu baru akan terjadi bila mayoritas orang-orang dalam perusahaan telah mampu merubah cara berpikir lama ke cara berpikir baru. Sialnya, proses tersebut butuh waktu dan tenaga yang tidak sedikit dan sering luput dari perhatian. Atas dasar alasan tersebut, proses perubahan organisasi sering berakhir dengan kegagalan.

Bila proses perubahan individu dan organisasi sudah mengalami hambatan seberat itu, bayangkan bagaimana bila kita ingin merubah suatu masyarakat seperti Indonesia… Lalu, adakah teknik-teknik atau prinsip-prinsip yang bisa dipelajari untuk mempermudah proses perubahan tersebut? Jawaban atas pertanyaan tersebut akan dibahas pada kesempatan mendatang.

• • •
 

April 22, 2006

Rusia mendominasi kontes pemrograman komputer

Filed under: Analytical Thinking, Current Events — itpin @ 8:00 am

Tim dari Saratov State University, Rusia berhasil menjuarai kontes pemrograman komputer dunia yang diselengarakan baru-baru ini oleh Association for Computer Machinery (ACM). Tujuh dari 10 tim teratas berasal dari benua Eropa dan hanya 1 dari US, yaitu MIT di posisi ke-8. Sementara dari Asia, tim dari Shanghai Jiao Tong University berhasil menduduki posisi ke-5.

Pemenang ditentukan melalui 10 pertanyaan babak final yang harus diselesaikan dalam waktu 15 jam. Tim dari Rusia tersebut berhasil menyelesaikan dengan benar 6 pertanyaan. Bagi yang penasaran dengan soal-soal yang dilombakan di babak final, silakan download di sini.

• • •
 

April 21, 2006

Mempersiapkan wawancara kerja di Microsoft

Filed under: Fun Stuff, Analytical Thinking — itpin @ 8:00 am

Jika Anda cukup beruntung mendapatkan kesempatan interview kerja di kantor pusat Microsoft di Redmond, WA, US, berikut adalah beberapa pertanyaan yang mungkin akan Anda hadapi:

  • Bagaimana Anda menimbang sebuah pesawat jumbo jet tanpa menggunakan timbangan?
  • Berapa estimasi jumlah stasiun pengisian bensin di seluruh Amerika Serikat?
  • Bila ada salah satu negara bagian Amerika Serikat yang bisa dihilangkan, manakah itu?
  • Berapa kali dalam sehari jarum jam pendek dan jarum jam panjang saling bertumpukan?
  • Berapa berat es di sebuah lapangan ice hockey?
  • Anda memiliki delapan bola billiard. Salah satunya lebih ringan atau lebih berat. Dengan dua kali timbangan, bagaimana Anda menemukan bola tersebut?
  • Empat orang harus menyeberangi sebuah jembatan tua yang akan rubuh 17 menit lagi. Jembatan tersebut cukup rapuh sehingga hanya bisa memuat dua orang dalam sekali penyebrangan. Karena waktu itu malam gelap gulita, penyeberangan harus dilakukan dengan bantuan sinar senter. Sayangnya hanya ada 1 senter untuk keempat orang tersebut. Keempat orang tersebut mampu berjalan dengan kecepatan berbeda. Adam mampu menyeberangi dalam 1 menit, Larry 2 menit, Elton 5 menit, dan Bono 10 menit. Bagaimana caranya keempat orang tersebut mampu menyeberangi jembatan tersebut dengan selamat?

Berapa banyak yang bisa Anda jawab? Terlalu mudah? :-)

• • •
 
Next Page »