eXTReMe Tracker
if knowledge is power, then passion is the engine, body is the vehicle, and conscience is the driver

Blog ini sudah pindah ke http://www.orangenexus.com

May 30, 2006

‘All you can eat’ dan masalah sosial

Filed under: Systems Thinking, Economics, Column Archive — itpin @ 7:51 am

(Versi lain dari artikel ini juga dipublikasikan di harian Jawa Pos)

Kuis kilat: Di manakah Anda makan lebih banyak: di restoran presmanan (all you can eat), atau di restoran di mana pemesanan dilakukan melalui menu?

Percaya atau tidak, jawaban Anda tersebut sangat relevan dengan setidaknya tiga masalah sosial yang sedang kita hadapi bersama, yaitu: kemacetan jalan raya, polusi lingkungan, dan perparkiran.

Ketiga masalah tersebut mengandung satu kesamaan penting: kesemuanya melibatkan sekelompok orang yang menikmati fasilitas umum dengan membebankan biaya kepada orang lain dan lingkungan. Bila kita memakai kendaraan bermotor, kita akan menyebabkan polusi udara dan suara selain menambah kemungkinan terjadinya kemacetan jalan. Bila kita membuang limbah, kita akan mengotori lingkungan dan mungkin malah membahayakan orang lain. Bila kita mengambil lahan parkir, kita berpotensi menimbulkan kemacetan jalan atau menyulitkan orang lain yang lebih membutuhkan untuk memarkir kendaraannya. Dalam dunia ekonomi, istilah negative externalities dipakai untuk melabeli fenomena-fenomena semacam ini, karena apa yang kita lakukan akan menyebabkan ekses negatif terhadap pihak-pihak eksternal.

Kita tentu tidak mengatakan semua orang yang menyebabkan negative externalities ini adalah orang-orang yang egois. Umumnya kita melakukannya tanpa sengaja, karena kita tidak pernah menyadari konsekuensinya terhadap lingkungan sekitar. Kita juga sering dipaksa keadaan. Infrastruktur yang minim dan aturan-aturan hukum yang berlaku sering menjadi faktor pendukung. Selain itu, negative externalities tidak mungkin dihilangkan sepenuhnya tanpa melenyapkan aktivitas seluruh masyarakat.

Namun, masalah akan terjadi bila negative externalities berkembang ke titik yang terlalu ekstrim. Apa yang terjadi di ruas-ruas jalan protokol kota-kota metropolitan adalah contoh yang nyata. Segala upaya yang telah coba dilakukan oleh pemerintah memang layak didukung. Akan tetapi, bila kita melihat dari konsep negative externalities, upaya-upaya tersebut hanya sebatas menyembuhkan gejala tanpa menyentuh akarnya.

Salah satu alasannya adalah: untuk menanggulangi negative externalities, pihak-pihak pelaku harus didenda sebanding dengan biaya yang dibebankan ke lingkungan berdasarkan aktivitasnya. Sedangkan sejauh ini kita tidak pernah (atau jarang) menyadari biaya tersebut, apalagi membayarnya. Kita bebas membuang gas-gas berbahaya atau mengambil ruas jalan tanpa harus dimintai kompensasi yang sebanding. Memang, kita bisa berargumen kita sudah membayar pajak kendaraan bermotor. Untuk pencemaran lingkungan, beberapa waktu lalu sempat beredar wacana untuk memberlakukan pajak limbah untuk perusahaan besar. Wacana untuk menerapkan parkir berlangganan juga sempat dikumandangkan di beberapa daerah. Bila semua itu diterapkan, bukankah sudah cukup?

Walau sekilas kelihatannya pajak-pajak tersebut memang diadakan untuk tujuan tersebut, namun bila diteliti lebih lanjut, pajak-pajak tersebut tidak berbeda dengan sistem all you can eat di restoran. Dan seperti jawaban kebanyakan orang atas pertanyaan di atas, umumnya kita akan berusaha memakan sebanyak-banyaknya di restoran all you can eat. Dengan kata lain, karena harga yang kita bayar bersifat fixed-sum (jumlah yang tetap), terdapat kecendrungan untuk mengkompensasi pengeluaran tersebut dengan konsumsi maksimal. Bila mayoritas anggota masyarakat memiliki pemikiran serupa, para pembayar pajak tersebut justru akan berebut memakai semaksimal mungkin fasilitas umum yang terbatas sehingga melebihi daya tampung optimum.

Secara teori, masalah negative externalities baru bisa dikurangi bila kita membayar denda yang sebanding dengan aktivitas kita, ibarat sistem pemesanan lewat menu di restoran. Sistem ini membuat kita lebih berhati-hati dalam melakukan konsumsi, karena semakin banyak kita mengkonsumsi, semakin banyak biaya yang harus kita keluarkan. Dengan kata lain, kita hanya akan memesan sesuai yang kita inginkan dan sebatas kemampuan kita.

Memang harus diakui, apa yang indah di teori tidak selalu indah di lapangan. Pada kebanyakan kasus, jelas tidak mudah menghitung harga yang harus dikenakan untuk sekali konsumsi fasilitas publik. Bayangkan saja untuk mobil. Untuk menghitung total biaya akibat externalities dari pemakaian mobil tersebut, kita membutuhkan informasi seperti tingkat kemacetan, jarak tempuh kendaraan, dan emisi gas-gas beracun yang dikeluarkan knalpot mobil tersebut. Idealnya, informasi semacam ini mungkin bisa diambil dengan teknologi seperti GPS, RFID, atau sensor-sensor yang ditempatkan di mobil. Setiap kali melewati suatu jalan, sistem komputer di mobil akan memberitahu berapa harga yang harus dibayar berdasarkan informasi yang didapatnya dan pengendara bisa memutuskan untuk terus memilih jalan tersebut atau mencari jalan alternatif lain yang lebih murah. Informasi tersebut dikirim ke komputer pemerintah yang akan mengirimkan rekening tagihan bulanan. Akan tetapi, bayangan ideal tersebut masih jauh dari kenyataan karena keterbatasan infrastruktur.

Namun, meski kondisi ideal tersebut belum bisa dijalankan, solusi sebagian sudah dicoba diterapkan di beberapa tempat dengan sukses. Di tahun 2003, kota London menerapkan zona khusus di mana pemakai mobil harus membayar bila ingin memakai zona tersebut pada jam-jam sibuk. Dalam setahun, jumlah pemakai di zona tersebut turun sepertiganya. Sistem ini sudah dipelajari untuk diterapkan di kota-kota metropolitan lainnya. Sistem meteran parkir dengan tarif parkir berdasarkan zona dan lama parkir sudah diterapkan di banyak negara. Sistem ini mampu mengurangi negative externalities akibat pemakaian ruas jalan dan sekaligus mengatasi masalah kebocoran uang parkir.

Demikian juga untuk pengendalian polusi. Pengendalian emisi gas sulfur dengan menggabungkan sistem kuota dan lelang telah dilakukan di beberapa negara maju dan Cina. Pada sistem ini, perusahaan yang ingin membuang gas sulfur harus membeli ijin di pasar lelang. Jumlah ijin umumnya dibatasi dengan kuota. Sistem serupa sedang dikembangkan untuk pembatasan emisi karbon dalam upaya menanggulangi pemanasan global. Teknis dan mekanisme dari solusi-solusi tersebut tidak mungkin dijelaskan di ruang artikel ini, namun bagi yang berminat, terdapat banyak referensi yang bisa didapat di Internet. Tentu saja bila sistem ini dijalankan, pajak tahunan yang bersifat fixed-sum harus diturunkan untuk tidak terlalu membebani masyarakat, terutama bagi yang jarang memakai fasilitas-fasilitas umum tersebut.

Indahnya sistem ini adalah pemerintah tidak sendirian memikirkan bagaimana menanggulangi masalah yang terjadi. Pemerintah hanya perlu mengumumkan biaya yang harus dibayar bila ingin memakai fasilitas publik. Selanjutnya terserah kepada pemakai untuk membuat keputusan sendiri, termasuk memikirkan solusinya bila ingin menghemat. Dengan jutaan pemakai, solusi-solusi kreatif untuk mengurangi biaya pasti akan bermunculan. Kreativitas kolektif ini akan lebih baik dibanding kebijakan sekelompok orang yang duduk di pemerintahan saja. Efek lainnya adalah membuat seluruh lapisan masyarakat untuk ikut bersama-sama merasa bertanggung jawab terhadap masalah tersebut.

Dengan demikian, kita bisa menyimpulkan bahwa untuk menyelesaikan masalah negative externalities sampai ke akarnya, harus dipikirkan cara-cara kreatif untuk beralih dari sistem pembayaran fixed-sum ke variable-sum. Kalau pun teknologi belum mampu memberikan solusi sepenuhnya, solusi yang sub-optimum tetap bisa membantu selama masih berpijak pada teori dan prinsip pengendalian negative externalities.

Akan tetapi, bila tujuan pemerintah hanyalah demi meningkatkan nilai kas, kita tidak perlu berdebat lebih jauh. Barulah jika pemerintah menganggap masalah-masalah tersebut sebagai masalah sosial dan bersungguh-sungguh ingin menyelesaikannya sampai ke tingkat fundamental, ahli-ahli ekonomi seharusnya dilibatkan selain dari bidang-bidang terkait lainnya seperti transportasi, lingkungan, psikologi, dan sosiologi. Solusi sederhana yang hanya melihat satu sisi saja paling banter hanya akan memberikan solusi sementara yang mungkin malah akan menyebabkan masalah yang lebih rumit di kemudian hari.

Perlu diingat juga bahwa pengenaan bayaran variabel atas biaya externalities tersebut tidak bisa menyelesaikan seluruh masalah. Konsistensi dan komitmen dari pemerintah, pengadaan infrastuktur yang mendukung, dan kepastian hukum dalam menindak para pelanggar tetap dibutuhkan. Singkatnya, masalah sosial tetap harus dipandang dengan kerangka berpikir secara sistem (systems thinking).

• • •
 

May 29, 2006

JFK dan Kuba

Filed under: Managing People, Group Thinking — itpin @ 8:25 am

Hari ini adalah ultah John F. Kennedy (lahir: 29 May 1917). Presiden US ke 35, yang merupakan presiden termuda di negara adidaya tersebut akhirnya harus terbunuh di Dallas tgl 22 Nov 1963.

Walau sudah meninggal empat puluh tahun lalu, JFK masih merupakan sebuah fenomena. Cerita-cerita seputar dirinya masih banyak diminati. Namun, kali ini saya akan membahas tentang dua kisah JFK yang melibatkan musuh besarnya, Fidel Castro dan negaranya Kuba. Saya harapkan kedua kisah tersebut mampu memberi kita pelajaran penting, terutama dalam hal pengambilan keputusan.

Cerita pertama adalah keputusan JFK untuk menginvasi Kuba dalam kejadian yang dikenal dengan nama Invasi Teluk Babi. Seperti yang sudah kita ketahui, invasi untuk menggulingkan Castro tersebut berakhir dengan kegagalan total. Dari sekitar 1.400 pasukan US yang diterjunkan ke sana, sekitar 1.200 tertawan. Analisa pasca kegagalan banyak yang menyalahkan keengganan JFK mengerahkan pesawat tempur untuk membantu. Namun seorang social psychologist dari Yale, Irving Janis, berpendapat lain. Menurut Janis, kegagalan tersebut berakar dari proses pengambilan keputusan yang dilakukan JFK dan tim-nya.

Janis mencatat keputusan penyerbuan ke Kuba tersebut dilakukan oleh tim JFK secara mufakat tanpa perdebatan berarti. Hampir semua anggota tim setuju dengan keputusan tersebut, kecuali satu dua suara minor yang tidak berani membuka suaranya secara lantang atau diabaikan begitu saja. Para penasehat JFK, bila diamati lebih lanjut, memiliki latar belakang yang sama dengan sang presiden: kaya raya, kulit putih dari keluarga terpandang, dan dididik di universitas Ivy League. Setidaknya waktu itu ada dua suara yang menentang, yaitu Arthur Schlesinger, salah seorang penasehat JFK; dan David M. Shoup, komandan pasukan marinir. Schlesinger diminta untuk menyetujui saran presiden oleh para koleganya, sementara Shoup yang bukan termasuk dalam barisan elit politik di Gedung Putih, diabaikan nasehatnya.

Apa yang terjadi, menurut Janis, adalah fenomena yang disebut sebagai groupthink, di mana sekelompok orang, demi menjaga identitasnya dalam kelompok, tidak berani menentang keputusan yang dianggap sebagai keputusan mayoritas. Saya menekankan kata dianggap, karena apa yang terjadi adalah: semua orang saling menduga bahwa keputusan tersebut disetujui rekan-rekannya sehingga mereka memutuskan mengambil keputusan yang sama tanpa berpikir secara kritis. Fenomena ini sangat sering terjadi, apalagi di negara kita yang paternalistik dan memandang tinggi status. Betapa seringnya kita mengeluarkan pendapat yang bertentangan dengan keputusan yang dibuat setelah keputusan diambil?

Untung saja JFK seorang yang ingin terus belajar. Setelah sempat terpukul akibat kegagalan tersebut (dan dikabarkan sempat menangis), JFK melakukan refleksi atas proses pengambilan keputusan yang dilakukannya dan memutuskan untuk merombak proses tersebut. JFK memutuskan untuk memberikan kesempatan pada semua pihak untuk benar-benar menyuarakan pendapatnya. Delapan belas bulan kemudian, hasil refleksi dirinya membuahkan hasil. Bila JFK salah mengambil keputusan saat itu, perang nuklir sangat mungkin terjadi.

Kala itu, Oktober 1962, foto satelit menunjukkan beberapa rudal nuklir Uni Soviet telah ditempatkan di Kuba. Penempatan rudal-rudal tersebut jelas membahayakan US karena letak Kuba yang bertetangga dengan US. Mendengar berita tersebut, JFK langsung memikirkan kemungkinan untuk menghancurkan rudal-rudal tersebut melalui serangan udara. Namun tidak semua penasehatnya sependapat. Ada yang memang mendukung JFK, tapi ada juga yang menganjurkan alternatif lain seperti invasi, blokade, dan menyelesaikan lewat perundingan.

Akhirnya pada tanggal 22 Oktober, JFK mengeluarkan ultimatum lewat televisi. Angkatan Laut US akan melakukan blokade terhadap Kuba. Soviet harus segera membongkar rudal tersebut. Bila rudal tersebut digunakan, US akan balas menyerang Soviet. Pada tanggal 24 Oktober, dunia menyaksikan dengan berdebar-debar ketika enam kapal perang Soviet berangkat menuju Kuba dan mendekati blokade US. Untung saja kapal-kapal tersebut berhenti atau berputar balik.

Sementara itu, negosiasi dilakukan. Lewat perundingan, akhirnya Soviet setuju menarik rudal tersebut dari Kuba dengan kompensasi penarikan sebagian rudal-rudal US dari Eropa. US menarik rudal-rudal lama dari Eropa untuk menyelamatkan muka Soviet, dan terhindarlah dunia dari krisis perang nuklir.

(Episode dari krisis tersebut bisa ditonton di film yang dibintangi Kevin Costner, Thirteen Days.)

Keberhasilan JFK menyelesaikan krisis kedua ini tidak terlepas dari perombakan proses pengambilan keputusannya. Dia mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis pada para petinggi militer yang menganjurkan serangan udara. Dia mendengar perdebatan antara pengajur invasi dan perundingan. Mereka dipersilakan berdebat dan berdebat. Hasilnya, groupthink berhasil dihilangkan meski pengambilan keputusan dilakukan oleh orang-orang yang hampir sama dengan kejadian Invasi Teluk Babi.

Kita patut bersyukur urutan kejadian tersebut tidak terbalik. Bila krisis rudal nuklir tersebut terjadi sebelum JFK sempat belajar mengenai groupthink, sejarah mungkin akan lain sama sekali. Anda dan saya mungkin tidak akan pernah ada.

Groupthink adalah fenomena yang penting untuk dipelajari, terutama bagi para pengambil keputusan di dalam suatu kelompok. Kadang, demi menyenangkan pemimpin, suara-suara yang tidak setuju hanya tersimpan rapat-rapat. Para pemimpin atau manajer harus mampu mengeluarkan suara-suara tersebut untuk menjamin keputusan yang lebih baik. Beberapa teknik seperti devil’s advocate di mana setidaknya satu orang ditunjuk secara khusus untuk mengeluarkan kritik terhadap suara mayoritas, bisa diterapkan. Atau, pemimpin bisa mengajak satu per satu anggotanya untuk mengeluarkan pendapatnya dalam suasana yang lebih santai. Tentu saja, untuk bisa melakukan itu, sang pemimpin harus mampu membangun reputasi sebagai seorang yang open-minded dan demokratis. Tanpa itu, dipastikan tidak ada pengikut yang bersedia membuka mulutnya meski diminta secara langsung.

Terus terang, meski tidak memiliki informasi yang akurat, saya curiga sindroma groupthink ini jauh lebih sering terjadi di negara kita. Moto ‘musyawarah untuk mufakat‘ sering dipakai sebagai tameng untuk meloloskan kepentingan pemegang kekuasaan. Padahal, perdebatan sehat selama proses musyawarah justru merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan keputusan yang lebih baik. Barulah setelah melalui proses musyawarah, di mana semua pendapat-pendapat bisa dikeluarkan, dicapai kata mufakat yang harus didukung oleh semua pihak termasuk yang tidak setuju. Secara psikologis, walau keputusan akhir tidak sesuai dengan keinginan kita, selama suara kita didengarkan dengan serius, kita lebih bersedia mendukungnya.

Terima kasih untuk pelajarannya, JFK.

And.. Happy Birthday!

• • •
 

May 27, 2006

Pertarungan 3 raksasa di dunia video games

Filed under: Innovation, Strategy, Current Events — itpin @ 7:51 am

(Saya sudah menulis secara ringkas persaingan antara ketiga perusahaan tersebut pada posting sebelumnya. Kali ini, strategi ketiga perusahaan akan coba saya analisa lebih lanjut mengingat banyaknya peminat video games saat ini. Selamat membaca.) 

Pertarungan antar tiga raksasa video games Sony, Microsoft, dan Nintendo memasuki babak baru. Pada E3 (Electronic Entertainment Expo) di Los Angeles 10-13 Mei baru lalu, ketiga pemain besar tersebut mendemonstrasikan produk baru mereka yang direncanakan akan menjadi senjata andalan untuk merebut pangsa pasar dari saingannya, dan sekaligus merebut waktu luang kita di ruang tamu.

Nintendo mengeluarkan console baru Wii (dibaca: we dalam bahasa Inggris) yang memiliki controller yang berbentuk remote control TV. Controller yang dilengkapi chip keluaran STMicroelectronics tersebut dapat dipakai untuk mendeteksi gerakan pemakai. Gerakan tersebut lalu bisa diterjemahkan sebagai gerakan pedang, sarung tinju, tongkat golf, raket tenis, atau peralatan lainnya sesuai dengan judul game yang sedang dimainkan. Para analis melihat langkah tersebut sebagai strategi yang jitu karena sebagai pemain terkecil dari ketiga raksasa tersebut, Nintendo harus bisa mengelak secara langsung pertarungan antara Sony dan Microsoft yang lebih berfokus pada kemampuan tampilan grafik dan kapasitas penyimpanan. Dengan berfokus pada desain controller, Nintendo juga membuktikan dirinya mampu memahami consumer insights lebih baik dibanding dua kompetitornya itu. Dengan strategi ini, Nintendo berharap bisa menjangkau konsumen yang selama ini alergi dengan video games karena kesulitan mengendalikan gerakan dalam permainan, seperti kaum ibu rumah tangga dan orang-orang tua.

Bagaimana dengan Sony? PlayStation 3 (PS3) yang direncanakan akan dirilis Sony akhir November mendatang, diposisikan sebagai game console tercanggih saat ini. Selain tampilan grafis yang lebih realistis, PS3 akan dilengkapi dengan pemutar DVD generasi mendatang yang memakai standar Blu-Ray. Sementara itu, Microsoft telah mengeluarkan Xbox 360 yang menjanjikan kompabilitas penuh dengan sistem operasi komputer baru Windows Vista dan sistem operasi untuk mobile phones, Microsoft Mobile. Pemakai dijanjikan bisa mentransfer games mereka tanpa masalah antar ketiga sistem tersebut.

Dari sisi harga, Sony mengeluarkan dua versi consoles, masing-masing berharga $499 dan $599, tergantung pada kapasitas harddisk-nya. Sedangkan versi termahal Xbox 360 dipatok pada harga $399. Nintendo sendiri belum mengumumkan harga secara resmi, walau kabar burung yang beredar mengatakan Wii ditarget akan dijual dengan harga $249.

Kita melihat bahwa ketiga perusahaan tersebut mengambil strategi yang berbeda. Microsoft memanfaatkan dominasi sistem operasinya untuk membantu mengungkit penjualan Xbox, Sony mempertaruhkan keberhasilan standar Blu-Ray yang didukungnya untuk pemutar DVD generasi mendatang, sementara Nintendo berfokus pada kemudahan permainan untuk menjangkau segmen pasar yang selama ini jarang tergarap sambil memposisikan dirinya agak jauh dari PlayStation dan Xbox. Tentu menarik untuk menebak-nebak strategi siapa yang akan membuahkan hasil terbaik.

Selama berlangsungnya E3, Nintendo memang berhasil mencuri perhatian. Antrian untuk mencoba Wii terpaksa ditutup lebih awal karena membludaknya pengunjung yang ingin mencoba controller Nintendo tersebut. Secara sepintas, kelihatannya strategi Nintendo akan membuahkan hasil sesuai harapan. Tapi tunggu dulu. Strategi yang tepat tidak berarti strategi yang tidak mudah untuk ditiru. Begitu mengetahui strategi Nintendo, Sony segera mengumumkan akan mengeluarkan controller yang bisa mendeteksi gerakan pemakainya juga. Untuk mengantisipasi rencana Sony tersebut, Nintendo harus cerdik memanfaatkan keunggulan waktu yang dimilikinya.

Sedangkan kompetisi dari segi harga memang tidak berpihak pada Sony. Microsoft yang mencoba memanfaatkan harga PS3 yang tinggi mengeluarkan pernyataan bahwa konsumen bisa mendapatkan sebuah Xbox 360 dan sebuah Wii untuk sebuah PS3. Logika sederhana tersebut memang tidak salah. Tapi sekali lagi, tunggu dulu. PS3 hadir dengan tambahan pemutar DVD Blu-Ray, yang rencananya akan dijual terpisah dengan harga sekitar $1,000. Bila dilihat dari sisi tersebut, pembeli PS3 sebenarnya mendapatkan nilai lebih.

Namun kembali masalahnya tidak seserhana itu. Saat ini format Blu-Ray harus bersaing keras dengan format kompetitornya HD-DVD yang didukung antara lain oleh Toshiba, Intel, dan Microsoft. Seperti yang pernah terjadi dengan pertarungan format kaset video Betamax dan VHS, kontes antara Blu-Ray dan HD-DVD ini diramalkan akan menghasilkan hanya satu pemenang tunggal. Winner takes all. Sony, yang kala itu memperkenalkan format Betamax yang lebih superior harus mengaku kalah dengan VHS karena gagal menjalin kerjasama dengan pihak-pihak lain. Siapa yang bisa menjamin Sony tidak akan mengalami nasib yang sama kali ini.

Selain itu, untuk memutar film dalam format Blu-Ray, konsumen harus memiliki TV yang bisa mendukung format tersebut. Saat ini, konsumen yang memiliki TV yang kompatibel tersebut masih sedikit. Tanpa adanya TV yang mendukung, nilai pemutar DVD format Blu-Ray tersebut menjadi faktor yang tidak penting dalam perbandingan harga. Sebagai tambahan, Microsoft juga menjanjikan kemampuan untuk menambah pemutar HD-DVD ke console Xbox 360-nya dengan harga yang cukup murah.

Para analis juga memperkirakan baik Sony mau pun Microsoft harus mensubsidi consoles mereka masing-masing untuk memikat pembeli. Untuk setiap Xbox 360, Microsoft mensubsidi sekitar $100, sementara untuk Sony, angka tersebut lebih tinggi lagi, yaitu sekitar $200 - $300. Dengan kata lain, semakin banyak consoles yang terjual, semakin besar kerugian yang harus mereka tanggung, paling tidak untuk sementara. Baik Sony atau Microsoft berharap keuntungan bisa diperoleh melalui penjualan games dan dari licensing fee dengan pihak lain. Dari segi finansial untuk memberikan subsidi, Microsoft memiliki keuntungan karena memiliki pundi-pundi dana segar yang sangat besar, sementara Sony masih harus bergelut dengan masalah finansial akibat persaingan ketat dengan Xbox (untuk PlayStation), iPod (untuk Walkman), Sharp (untuk TV layar datar), dan Toshiba dan Lenovo (untuk komputer notebook).

Microsoft juga memiliki keunggulan waktu. Xbox sudah diluncurkan November tahun lalu, sementara Sony dan Nintendo baru akan meluncurkan produk mereka akhir tahun ini. Dengan keunggulan waktu sekitar setahun penuh, seharusnya Microsoft mampu memanfaatkan keuntungan tersebut. Microsoft sendiri berharap mampu menjual 10 juta unit Xbox 360 sebelum Sony dan Nintendo melempar produk-produk mereka ke pasaran.

Namun bukan berarti Microsoft sendiri tidak memiliki masalah. Walau sudah diluncurkan terlebih dahulu, penjualan Xbox 360 masih tersendat-sendat akibat kurangnya judul games untuk console tersebut, selain masalah produksi yang mengakibatkan kurangnya pasokan Xbox 360 di pasaran. Microsoft berjanji untuk menyelesaikan masalah pasokan secepatnya dan lebih agresif dalam mencari partner untuk menciptakan judul-judul games. Keberhasilan Microsoft baru-baru ini dalam membujuk produsen games terkenal Take-Two Interactive untuk merilis Grand Theft Auto IV untuk Xbox 360 merupakan bukti dari komitmen Microsoft.

Cukup menarik menanti siapa yang akan menjadi pemenang dalam pertarungan tersebut. Stratagi Nintendo untuk menghindari persaingan memang sangat menarik dan cerdik. Namun bila Nintendo tidak bisa menjadikan consumer insights sebagai bagian dari kompetensi inti (core competence) perusahaan, kemampuannya tersebut akan dengan mudah ditiru oleh Sony dan Microsoft. Kegagalan dalam ini bisa jadi akan dibayar mahal karena Nintendo sendiri sudah kesulitan mengejar Sony dan Microsoft dalam hal teknologi.

Pertarungan antara Sony dan Microsoft sendiri sulit diterka hasilnya. Sony memiliki keunggulan dari segi kompetensi dan reputasi. Namun pertarungan di industri-industri lain akan ikut menentukan. Selain pertarungan antara format Blu-Ray dan HD-DVD yang baru saja dimulai, peranan pengembang games lain juga ikut menentukan. Sebaik apa pun game console yang dimiliki, tanpa adanya judul games yang memadai, game console tersebut tidak akan berarti apa-apa. Dalam hal menjalin kerjasama dengan pengembang games lain, Sony memang saat ini jauh lebih unggul, tapi Microsoft tentu tidak tinggal diam saja. Selain itu, strategi korporasi dan kemampuan finansial kedua perusahaan juga merupakan faktor penting. Microsoft harus mengalihkan sebagian fokus mereka ke tempat lain karena sedang menghadapi ancaman dari Google, Yahoo! dan open source software. Sony sendiri harus menghadapi masalah finansial dan persaingan di industri-industri lain dengan pemain-pemain seperti Apple, Sharp, dan Toshiba.

Apa pun hasilnya, ketiga pemain tersebut menjanjikan kita pertarungan yang lebih seru dari games yang dimainkan di consoles mereka. Kita di Indonesia, karena tidak bisa berpartisipasi dalam permainan tersebut, setidaknya mampu menikmati pertarungan tersebut sambil menikmati keuntungan sebagai konsumen yang disajikan pilihan yang lebih baik.

• • •
 

May 25, 2006

Nike

Filed under: Innovation, Strategy, Current Events, Brand Management — itpin @ 9:29 am

Nike dan Apple mengumumkan kerjasama mereka dalam memproduksi keluarga produk Nike+iPod Sport kit, di mana sebuah sensor elektronik mini akan dimasukkan pada sol sepatu bagian dalam. Sensor tersebut bisa berkomunikasi secara wireless dengan iPod dan mengirimkan informasi seperti kecepatan, jarak lari, dan informasi lain. Informasi dari iPod tersebut kemudian bisa di-upload ke PC atau Mac dan dipublikasikan di situs NikePlus.com. Di situs ini, para pemakai bisa membentuk komunitas untuk mendiskusikan kemajuan fisik mereka atau saling memberikan dukungan.

Kerjasama ini menyusul kerjasama lain yang diumumkan Nike dengan Google bulan Maret lalu. Kedua perusahaan ini sepakat membangun situs Joga.com, yang merupakan situs social networking untuk para penggemar sepakbola. Baik Nike mau pun Google mengharapkan situs ini mampu menjadi MySpace-nya penggemar soccer.

Terlepas dari keberhasilan mereka di kemudian hari, kedua kerjasama tersebut menunjukkan komitmen Nike menjadikan mereknya sebagai lifestyle brand. Nike memang sudah lama terkenal sebagai produsen sepatu yang tidak memproduksi apa pun. Semua produksi di-outsource ke luar negeri, termasuk ke Indonesia. Nike sendiri lebih banyak berfokus dalam hal design, marketing dan branding, sesuatu yang memang merupakan kompetensi inti (core competence) mereka.

Nike berhasil mengajarkan kita beberapa hal. Pertama, merek (brand) yang dibangun dengan baik bisa bernilai lebih tinggi dibanding barangnya sendiri. Kedua, kerjasama sangat dibutuhkan untuk inovasi. Kerjasama dengan perusahaan di industri lain malah lebih baik lagi. Selain tidak memiliki konflik kepentingan, cara pandang yang bebeda justru mampu menghasilkan inovasi yang lebih radikal dan sulit ditiru. Sebelum Nike, produsen sepatu mana yang bisa memikirkan kerjasama dengan perusahaan-perusahaan hi-tech seperti Google dan Apple? Jangan heran juga bila kelak Nike akan mengumumkan kerjasama dengan perusahaan bio-tech, misalnya dengan membuat peralatan olahraga yang bisa mengambil sampel keringat kita dan melakukan pemeriksaan medis saat itu juga dan hasil pemeriksaan tersebut akan dikirim ke iPod untuk ditampilkan.

Titik pertemuan antara dua industri yang berbeda memang merupakan ladang yang subur untuk inovasi karena kedua belah pihak membawa cara pandang, asumsi-asumsi, dan ketrampilan yang berbeda. Bila kedua belah pihak bisa dipertemukan, inovasi akan lebih mudah dihasilkan dibanding bila harus bekerja sendirian.

Nike bukanlah satu-satunya perusahaan yang berusaha berinovasi dengan bekerjasama dengan pihak-pihak lain. UPS (United Parcel Service) di US, misalnya, telah menjalin kerjasama dengan beberapa perusahaan seperti Toshiba. Komputer-komputer Toshiba yang rusak bisa dikirim lewat UPS. Apakah UPS mengirimkannya ke Toshiba? Tidak! Komputer-komputer tersebut akan diperbaiki sendiri oleh para teknisi UPS dan lalu dikirimkan kembali ke pelanggan. Dengan menghapus jalur pengiriman ke dan dari Toshiba, waktu perbaikan bisa dipotong beberapa hari. Toshiba puas karena tidak usah repot-repot, UPS mendapatkan penghasilan tambahan dari kontrak tersebut, dan pelanggan puas karena tidak perlu menunggu terlalu lama. Contoh lain terbaru adalah raksasa Microsoft yang merasa perlu bekerjasama dengan MTV untuk mengalahkan iPod.

Selain untuk menciptakan inovasi, kerjasama sering dilakukan untuk menghadang laju kompetitor. Microsoft dan Yahoo! bekerjasama dalam instant messaging untuk menghalang laju Google Talk. Dalam kerjasama ini, para pemakai Yahoo! IM dan MSN Messenger akan mampu berkomunikasi satu sama lain. EBay dan Yahoo! juga bekerjasama dalam menghadapi Google, di mana Yahoo! akan menjual iklan ke eBay, dan eBay akan memasarkan PayPal di Yahoo!. Sementara itu, Google sendiri tidak ketinggalan dengan menjalin aliansi dengan AOL untuk memasarkan iklan teks-nya, dan baru-baru ini dengan Dell yang akan memasukkan produk Web dan desktop search Google di komputer-komputernya. EBay juga menjalin kerjasama dengan Dell dan Disney untuk membantu menjual barang-barang dari kedua perusahaan tersebut. Contoh lain di luar dunia IT juga tak kalah banyaknya.

Sejalan dengan semakin ketatnya kompetisi dan tuntutan yang lebih keras untuk terus berinovasi, akan semakin banyak perusahaan yang mencari partner inovasi di luar industrinya atau malah dengan salah satu kompetitornya untuk menghalang laju kompetitor yang lain. Pameo ‘survival of the fittest‘ yang diperkenalkan oleh Charles Darwin sering dijadikan alasan untuk mengandalkan diri sendiri. Namun kini, bahkan beberapa pengikut teori Darwin sendiri pun sudah mengajukan teori evolusi baru: spesies yang mampu bertahan paling lama bukanlah yang paling kuat, tapi yang paling mampu bekerjasama.

Selamat datang di era kerjasama… atau punah!

• • •
 

May 24, 2006

Wawancara dengan Ardian Poernomo

Filed under: Interviews — itpin @ 7:59 am

Sekali lagi, saya mencoba mengadakan wawancara via email dengan pemenang dua kali Google India Code Jam (tahun lalu dan tahun ini), Ardian Poernomo. Berikut hasil wawancara:

It Pin (IP): Bagaimana asal mulanya Anda tertarik dengan dunia programming?

Ardian (A): Hmm… mulai kenal programming sekitar umur 6 tahun. Waktu itu dikenalin papi. Yah.. habis itu belajar-belajar sendiri, coba-coba sendiri. Dulu di rumah ada beberapa buku, jadi bisa dicoba-coba.

IP: Bisa tolong ceritakan perjalanan Anda (dari pendaftaran) sehingga menjuarai Google India Code Jam (sebanyak dua kali)?

A: Kok kayaknya gak ada spesial ya.. hehe.. Sejak dari TOKI, memang rajin mengikutin lomba-lomba (terutama online yg gratisan). Karena lomba beginian tidak sering-sering amat, jadi ya begitu ada lomba, biasanya sudah banyak yg ngomongin, apalagi kalau ada hadiahnya :D :D :P . Ya kalau menang kalah itu kayaknya udah sering. Yang ikut juga itu-itu juga. Jadi (sebagian besar) sudah pernah ketemu di lomba, dan juga sering menang kalah juga. Kebetulan aja waktu lomba Google, aku yg menang. Ada hoki nya kali sama Google India ;)

IP: Bagaimana kualitas para programmer Indonesia bila dibanding dengan programmer dari negara lain?

A: In term of lomba beginian (algorithm), kualitas harusnya cukup bagus. Cuma memang gak banyak yang menekuni bidang ini.

IP: Apa saran Anda untuk para programmer Indonesia yang ingin mengikuti jejak Anda (berprestasi di dunia internasional)?

A: 1. latihan, 2. tekun, 3. enjoy ;) hehehehhee..

IP: Apa rencana Anda selanjutnya? Meneruskan kuliah atau langsung bekerja? Atau
sudah mendapatkan tawaran posisi dari Google atau perusahaan lain?

A: Meneruskan kuliah.

IP: Apakah tertarik untuk pulang kembali ke Indonesia dan mengembangkan dunia IT
tanah air?

A: Hahaha.. entar kalo sudah pinter d :P Ya mengembangkan IT Indo juga gak harus dari Indo juga kan.. Sekarang sekolah dulu biar pinter ;) . Soalnya kalau cuma pinter utek-utek algoritma gini, aplikasinya masih enggak jelas.

IP: Apakah ada perbedaan sistem pendidikan yang diperoleh di NTU (dan Singapura secara umum) dibandingkan di Indonesia? Apa yang Anda sukai dari sistem pendidikan di Indonesia dan Singapura?

A: Kalau kurikulumnya kayaknya gak beda. Bahkan textbooks nya ada beberapa yg sama kalau aku compare sama teman-teman di Indo. Yang pasti di sini, fasilitas (lab) lebih lengkap, Orangnya lebih tertib, habis itu teman-temannya lebih rajin (mungkin bayarnya mahal ya :P ). Lha, wong “normal”nya itu sebulan sebelum ujian sudah belajar tiap hari. Kalau yang rajin juga tiap hari sebelum dan sesudah kelas itu belajarrrrr melulu. Terus networkingnya lebih bagus. Soalnya sebagian besar tinggal di asrama, jadi mo ngapa-apain juga gampang.

IP: Mengapa memilih belajar di Singapura dan bukan ke negara lain seperti US?

A: Dulu daftar Singapura juga iseng-iseng :P . Eh, keterima hehe. Ya udah deh. Masuknya di Singapura bukan rencana. Kalau gak keterima juga kuliahnya di Indo. Kalau US kayaknya susah masuk.. Lagian dulu rapor aku gak bagus-bagus banget. Jadi kalau mau di univsitas favorit susah. Sudah gitu *sangat* mahal. Kalau masuk ke universitas yg biasa-biasa.. mending di Singapura aja kan?

IP: Cita-cita Anda 10 tahun kedepan?

A: Hehehe.. Gak tau deh. Sekarang sih sekolah dulu yg pinter :P . Belum pikir nanti mau kerja jadi apa.

• • •
 

May 22, 2006

Ekonomi Semakin ‘Sexy’

Filed under: Reviews, Economics — itpin @ 8:23 am

Ekonomi terkenal sebagai ilmu yang kering dan terlalu rasional. Namun untungnya, belakangan ini telah bermunculan buku-buku yang mencoba mengupas ilmu tersebut ke dalam bahasa awam dan mengaplikasikannya dalam hidup sehari-hari. Beberapa dari buku tersebut adalah:

  • Freakonomics, karangan Steven D. Levitt dan Stephen J. Dubner. Bila Anda ingin tahu apa persamaan agen real-estate dengan Ku Klux Klan, mengapa penjual obat bius tetap tinggal dengan orang tuanya, bagaimana tindakan seorang ibu yang ingin mengaborsi bayinya ternyata berhasil menurunkan tingkat kriminalitas di seluruh US, mana yang lebih berbahaya untuk anak kecil: pistol atau kolam renang, dan apa hubungan nama Anda dengan penghasilan Anda saat ini; inilah bukunya. Levitt, ekonom dari University of Chicago dan Dubner, penulis untuk The New York Times berhasil membuat ekonomi menjadi petualangan ala Sherlock Holmes yang berusaha mencari kebenaran sejati di balik apa yang kita terima sebagai kebenaran konvensional. Menurut saya, buku ini lebih merupakan buku yang bisa menantang cara berpikir Anda dibanding sebagai buku tentang ekonomi (walau buku tersebut telah dipakai sebagai textbook ekonomi di beberapa sekolah karena popularitas dan daya tarik cerita-cerita yang disajikannya).
  • The Undercover Economist, karangan Tim Harford, penulis kolom di Financial Times. Buku ini lebih ‘ekonomi’ dibanding Freakonomics. Namun, tetap saja ringan untuk dibaca siapa saja yang tidak memiliki latar belakang ilmu ekonomi atau bisnis. Harford menyajikan ilmu ekonomi secara lugas dan menghubungkannya dengan hal-hal nyata seperti: mengapa harga-harga di supermarket berbeda-beda, mengapa infrastruktur transportasi yang baik bisa menurunkan harga rumah di tengah kota, mengapa terjadi kemacetan di jalan dan polusi lingkungan dan bagaimana mengatasinya, atau mengapa Kamerun tetap miskin tetapi Cina bisa kaya padahal dulunya Cina lebih miskin dari Kamerun. Pembaca awam dipastikan akan lebih menghargai peranan ilmu ekonomi dalam hidupnya setelah menyelesaikan buku ini.
  • The World Is Flat, karangan Thomas L. Friedman. Buku ini sudah saya singgung sekilas pada posting sebelumnya. Meski bukan seorang ekonom, Friedman mampu menceritakan tentang asal muasal dan dampak globalisasi dengan jelas dan menarik. Buku yang ditulis seperti novel ini membuat pembacanya tidak bisa meletakkannya begitu saja. Sangat perlu dibaca untuk semua orang, terutama para pengusaha dan profesional untuk membayangkan langsung denyut-denyut globalisasi. (Bagi para ekonom yang penasaran: Thomas Friedman tidak memiliki hubungan keluarga dengan Milton Friedman.)
  • Confessions of An Economy Hit Man, karangan John Perkins. Dalam buku bak novel Sidney Sheldon ini, Perkins menceritakan bagaimana pemerintah US, IMF, dan World Bank, dengan didukung beberapa perusahaan multinasional, menjalankan strategi yang sistematik dan terselubung agar US bisa menguasai perekonomian negara-negara tertentu. Beberapa contoh yang diberikan adalah: invasi ke Panama, dan invasi ke Irak tahun 2003. Ada juga cerita tentang Indonesia. Walau banyak yang meragukan keabsahan teori konspirasi yang diurai Perkins, banyak juga yang menggunakan buku ini sebagai argumen untuk mengkritik habis hegemoni ekonomi US, IMF, dan World Bank.
  • The Roaring Nineties, karangan Joseph E. Stiglitz, seorang pemenang hadiah Nobel ekonomi dan mantan penasehat ekonomi Bill Clinton. Dalam buku ini, Stiglitz menelusuri pengalamannya selama bertugas di Washington dan berkesimpulan bahwa ekonomi pasar bebas US terlalu bebas sehingga menyebabkan berbagai masalah sosial dan skandal-skandal seperti Enron. Pemerintah seharusnya melakukan campur tangan terbatas untuk membantu pemerataan sosial. Dia juga mengkritik globalisasi yang terjadi sekarang dan apa yang harus dilakukan untuk menarik manfaat maksimal dari globalisasi sambil mengurangi dampak sosialnya.  Seperti Confessions, Indonesia juga menjadi salah satu bahan bahasan, terutama pada saat krisis ekonomi 1997. (Buku ini telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul Dekade Keserakahan.)
  • Co-Opetition, karangan Adam M. Brandenburger dan Barry J. Nalebuff. Buku ini sebenarnya populer di tahun 1990-an karena berhasil mempopulerkan game theory tanpa menggunakan persamaan matematika. (Game theory adalah cabang ilmu ekonomi yang menggunakan matematika secara intensif. Hal ini tidak terlepas dari kejeniusan para penggagas teori ini seperti John von Neumann dan John Nash. Neumann diceritakan bisa menyelesaikan persoalan serumit apa pun hanya dengan sekejap, sementara cerita tentang Nash bisa ditonton di film A Beautiful Mind.) Mereka menggunakan prinsip-prinsip game theory untuk menjelaskan beberapa kasus bisnis terkenal seperti pertarungan antara Atari, Sega, dan Nintendo; atau mengapa promosi ‘everyday low prices‘ yang diterapkan supermarket sebenarnya justru merugikan konsumen.

Buku-buku di atas pernah atau masih menjadi best sellers. Mereka telah membantu mempopulerkan ilmu kering kerontang yang dulunya hanya dianggap sebagai penentuan masalah supply-demand dan buy-low sell-high tersebut. Namun, selain buku-buku tersebut, jangan lupakan beberapa buku lain yang kualitasnya hampir sama. Beberapa di antaranya:

  • Sex, Drugs and Economics, karangan Diane Coyle. Lewat judulnya yang provokatif, kita bisa menduga bagaimana Coyle berusaha keras menjelaskan ekonomi lewat topik-topik yang ‘hangat’ dan malah ‘panas’, seperti industri seks, obat-obat terlarang, olah raga, musik, hiburan, dan lainnya. Sayangnya, meski buku ini sangat membantu untuk mendalami dunia ekonomi, buku ini kalah jauh dalam hal penjualan dibanding Freakonomics dan The Undercover Economist. Mungkin rendahnya penjualan buku ini membuat Coyle lebih menyadari lagi pentingnya hukum supply and demand: supply buku-buku sejenis sudah terlalu banyak di pasaran!
  • Reinventing the Bazaar, karangan John McMillan. Buku ini dengan lugas menceritakan evolusi pasar dari pasar-pasar jaman kuno sampai saat ini. McMillan juga mengemukakan pendapatnya bahwa untuk mencapai pasar yang baik, ada 5 hal yang harus dipenuhi: kepercayaan sosial yang tinggi, perlindungan atas hak-hak properti, pencegahan negative externalities (semoga saya sempat menulis tentang externalities suatu saat nanti, karena ini adalah topik yang menarik), informasi yang mengalir bebas, dan kompetisi. McMillan juga menganjurkan peranan pemerintah yang terbatas untuk mengawasi pasar.
  • Thinking Strategically (Avinash K. Dixit dan Barry J. Nalebuff), dan Game Theory at Work (James Miller). Kedua buku ini juga membahas tentang game theory, namun tidak seringan Co-Opetition. Bagi yang tertarik untuk mendalami game theory, kedua buku tersebut juga dianjurkan.

Anda yang pernah membaca salah satu dari buku-buku di atas pasti akan lebih menghargai peranan ekonomi dalam hidup kita. Para pengarang Freakonomics memang mengatakan ilmu ekonomi berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Namun sang pengarang Sex, Drugs dan Economics juga memberikan satu pertanyaan yang menantang: mengapa tidak banyak orang yang bekerja di bidang (maaf), prostitusi? Supply terbatas, dan demandnya? Ehm.. katakanlah cukup banyak. Bayaran tinggi, waktu kerja fleksibel, dan bisa bekerja di rumah lagi! Bila dilihat dari kaca mata ekonomi belaka, seharusnya bidang pekerjaan ini banyak peminatnya, namun kenyataannya tidak. Menurut pengarang tersebut, Diane Coyle, untuk menjawab pertanyaan tersebut, orang harus berpaling ke tempat lain seperti agama, moral, psikologi, dan sosiologi.

Singkatnya, meski ekonomi mampu membantu kita memahami apa yang terjadi di sekeliling kita, ekonomi tidaklah menawarkan satu-satunya jawaban.

• • •
 

May 20, 2006

Fenomena ‘The Flat World’

Filed under: Current Events, Social Entrepreneurship, Globalization, Reviews — itpin @ 8:05 am

Saat ini saya sedang membaca buku Thomas L. Friedman, The World Is Flat, yang menceritakan tentang sejarah globalisasi saat ini, yang oleh Friedman disebut sebagai Globalization 3.0 (Globalisasi 1.0 adalah globalisasi antar negara yang dimulai dari perjalanan Columbus, Globalisasi 2.0 adalah globalisasi antar perusahaan yang dimulai sekitar 1800an, dan Globalisasi 3.0 adalah globalisasi antar individu seperti yang kita alami saat ini). Lewat buku best-seller ini, pembaca akan terbawa menelusuri sejarah globalisasi yang dimulai dengan runtuhnya Tembok Berlin, revolusi Internet, outsourcing, Wikipedia, blogging, open source software, Wal-Mart, sampai ke munculnya media-media mobile seperti PDA dan handphone. Buku ini juga akan membawa kita mengalami secara langsung kemajuan yang telah dibuat India dan Cina dengan merangkul globalisasi. Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca siapa pun karena sadar atau tidak, hidup kita sangat dipengaruhi oleh Globalisasi 3.0 ini. Sayangnya, sejauh ini saya belum melihat versi terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

Sementara masih membaca bab-bab awal, saya sempat juga bersua dengan artikel mengenai maraknya trend outsourcing di negara-negara Eropa Timur, terutama Bulgaria. Kedekatan Bulgaria dengan negara-negara Eropa Barat, namun dengan biaya tenaga kerja yang relatif rendah, membuat eks negara komunis ini menjadi alternatif yang sangat menarik bagi perusahaan-perusahaan US untuk dijadikan tujuan outsourcing. Sebenarnya negara-negara Eropa Timur lainnya juga tidak mau ketinggalan dengan Bulgaria. Rusia, Ukraina, dan negara-negara Balkan juga berlomba-lomba memposisikan negara mereka sebagai tujuan outsourcing yang paling baik, terutama untuk sektor TI.

Membicarakan tentang outsourcing TI di negara-negara Eropa Timur mungkin terlalu jauh buat kita. India dan Cina? Masih agak jauh juga? Bagaimana dengan Kamboja dan Laos? Apakah kedua negara yang lebih miskin dari Indonesia ini, dan barusan membuka ekonominya dalam satu dekade terakhir masih terlalu jauh untuk dibicarakan?

Memang di kedua negara tersebut, outsourcing sektor TI yang dilakukan belumlah setaraf dengan apa yang terjadi di India atau Cina. Bila di India, Cina, dan Eropa Timur, mereka sudah menerima outsourcing pekerjaan TI yang membutuhkan intelektual dan kreativitas, di Kamboja dan Laos, outsourcing TI masih sebatas melakukan data entry untuk perusahaan-perusahaan negara maju yang ingin mendigitalkan koleksi perpustakaan mereka. Para pekerja ini disebut sebagai digital factory workers.

Lewat perusahaan Digital Data Divide, yang dibangun dengan filosofi social entrepreneurship oleh warga negara US Jeremy Hockenstein pada tahun 2001, para pekerja di kedua negara tersebut dibayar upah yang mencukupi kebutuhan hidup mereka secara layak untuk pekerjaan mengkonversi data-data analog ke bentuk digital. Pekerja direkrut dari kaum miskin atau orang-orang cacat dan bekerja 6 jam sehari. Selain itu, mereka diberi kursus komputer dan bahasa Inggris. Salah satu hasil kerja mereka bisa dilihat di arsip situs surat kabar Harvard Crimson.

Apa yang terjadi di Kamboja dan Laos memang masih merupakan awal, namun bagaimana dengan Indonesia? Kapan terakhir kali kita mendengar outsourcing TI yang diberikan untuk negara kita, yang sekaligus mampu membantu permasalahan sosial yang kita hadapi? Kapankah kita bisa menarik keuntungan dari the flat world ini, dan bukan hanya sebagai konsumen barang-barang global? Hal yang sangat disayangkan karena konsep seperti Digital Data Divide sebenarnya cocok untuk diterapkan di bumi Nusantara ini.

• • •
 

May 18, 2006

Tiga Medan Persaingan

Filed under: Innovation, Strategy, Current Events — itpin @ 8:30 am

Ada 3 pengumuman produk-produk baru di dunia teknologi dalam seminggu ini.

Pertama, Sony dan Nintendo masing-masing memperkenalkan game consoles terbaru mereka masing-masing pada Electronic Entertainment Expo (E3) di Los Angeles 11-13 Mei lalu. Sony memperkenalkan PlayStation (PS) 3 yang dilengkapi dengan pemutar DVD generasi baru Blu-ray, sementara Nintendo mengeluarkan Wii yang dilengkapi dengan controller yang bisa mendeteksi gerakan 3D pemakainya. Controller tersebut bisa dipakai sebagai pedang, tinju, tongkat golf, raket tenis, atau lainnya tergantung pada jenis games yang dimainkan. Sekilas, Nintendo lebih berhasil mencuri perhatian dari Sony karena mereka berfokus pada controller yang selama ini agak terabaikan dalam perang video games sebelumnya. Begitu mengetahui strategi Nintendo, Sony buru-buru mengumumkan mereka akan mengikuti jejak Nintendo dengan melengkapi controller mereka kemampuan serupa. Pertarungan antara Sony, Nintendo, dan tentu saja Microsoft (dengan Xbox-nya) masih panjang. Selain ditentukan oleh teknologi masing-masing, hasil pertarungan akan ditentukan juga oleh pihak-pihak lain, terutama para pengembang games.

Kedua, Microsoft mengumumkan rilis baru Windows Media Player (WMP) versi 11. Versi ini secara khusus memang dibuat untuk meruntuhkan dominasi Apple lewat iPod dan iTunes-nya. WMP 11 ini mendapat banyak pujian, apalagi Windows berhasil menggandeng MTV sebagai content partner. Lewat saluran distribusi Windows yang solid dan pemasaran MTV yang canggih, banyak pihak yang melihat Apple bakal mendapatkan tantangan serius kali ini. WMP yang selama ini kurang mendapat perhatian, kali ini dirombak total dengan user interface yang lebih apik dan intuitif buat penggunanya. Pengelompokkan lagu menggunakan sistem album (lengkap dengan gambar cover album) memudahkan pemakai untuk mencari lagu yang akan diputar. Pencarian juga jauh lebih cepat. Tapi tentu saja, software ini tidak bisa memainkan lagu-lagu dari iTunes.

Ketiga, AMD mengumumkan akan mengeluarkan chip arsitektur baru tahun depan, namun tidak akan merombak total arsitektur chipnya dibanding generasi sebelumnya. Chip generasi baru tersebut, yang dinamakan Next Generation Processor Technology, akan tetap bertumpu pada strategi AMD dalam bersaing dengan Intel, yaitu berfokus pada kinerja sistem secara keseluruhan. Karena itu, AMD tetap akan berupaya menurunkan konsumsi daya dan menaikkan kecepatan input output via teknologi HyperTransport-nya. Intel, di sisi lain, akan merombak total arsitektur chip generasi terbarunya yang dimaksudkan untuk mengejar AMD dalam hal konsumsi daya dan kinerja.

Ketiga pengumuman tersebut menunjukkan sengitnya persaingan di bidang teknologi. Namun, justru persaingan tersebut memaksa semua pemain untuk tidak tinggal diam dan terus berinovasi dengan fitur-fitur baru. Bandingkan dengan Internet Explorer yang tidak melakukan sesuatu yang baru karena kehilangan kompetitor.

Namun ada lagi dua tema lain yang bisa kita tarik dari ketiga kasus tersebut.

Untuk menjamin keberhasilan inovasi, perusahaan sudah tidak bisa bertumpu pada diri mereka sendiri lagi. Mereka harus merangkul pemain-pemain lain untuk membangun apa yang disebut sebagai ekosistem inovasi. Dalam dunia video games, ekosistem tersebut harus melibatkan pengembang games dan pembuat chip. Dalam dunia musik digital, content provider adalah elemen yang vital. Sementara dalam dunia mikroprosesor, dukungan dari pabrik-pabrik komputer dan pengembang software adalah kunci yang harus dipegang. Tanpa adanya dukungan pihak-pihak lain tersebut, secanggih apa pun produk yang dihasilkan, tingkat keberhasilan pasti akan rendah.

Tema lainnya adalah perbedaan strategi yang seharusnya diambil oleh pemain yang lebih kuat dengan yang lebih lemah. Sebagai pemain yang lebih lemah, seperti Nintendo, strategi terbaik adalah menjauhkan diri dari strategi para pemain terkuat. Bila Sony dan Microsoft mati-matian bersaing dalam peningkatan resolusi grafik, kecepatan, dan media penyimpanan, Nintendo harus berusaha menjauh dari medan persaingan seperti itu. Karena itu, strategi mereka untuk berfokus pada kemudahan permainan lewat desain controller yang intuitif perlu diacungi jempol. AMD juga berusaha keluar dari strategi Intel dengan menciptakan arsitektur yang berbeda sama sekali.

Sementara itu untuk pemain yang lebih kuat, strategi mencontoh strategi pemain yang lebih lemah yang berhasil adalah strategi yang dianggap lebih aman (meski bisa diperdebatkan apakah pemain yang lebih kuat akan lebih baik bila melakukan lompatan inovasi seperti yang dilakukan Nintendo dengan Wii-nya). Sony tidak malu-malu mencontoh gebrakan Nintendo (dan Microsoft bisa jadi akan mengikutinya kelak). WMP, meski dilengkapi fitur-fitur baru, namun fitur-fitur tersebut tetap mengacu pada fitur-fitur yang ada pada iPod dan iTunes. Intel juga mencoba mengejar AMD dari segi konsumsi daya dan bukannya memikirkan untuk menciptakan inovasi nilai yang lebih radikal.

Siapa yang akan menang? Pemain yang lebih kuat dengan sumber daya mereka, atau pemain yang lebih lemah dengan inovasi mereka? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

• • •
 

May 17, 2006

Bias Kognitif

Filed under: Cognitive Biases, Critical Thinking — itpin @ 3:06 pm

Pernahkah Anda merasa tidak enak badan, namun enggan pergi ke dokter sampai Anda benar-benar tidak kuat lagi? Apakah Anda termasuk golongan yang malas ke dokter gigi sampai sakit di gigi Anda membuat kepala Anda berdenyut-denyut? Bila Anda menjawab ‘YA’, jangan merasa bersalah karena mayoritas dari homo sapiens memang memiliki kecendrungan demikian.

Apa yang menyebabkan hal itu adalah salah satu bias kognitif (cognitive bias) manusia yang cenderung melebih-lebihkan saat sekarang dibanding hari esok. (Istilah keren untuk bias ini adalah hyperbolic discounting, di mana nilai saat ini dianggap jauh lebih besar dibanding nilai yang akan diterima kelak.) Pada saat kita mengetahui gigi kita bolong, kita tahu bahwa bolongnya gigi tersebut akan menyebabkan sakit suatu saat nanti. Namun karena ‘nanti’ berada di luar horizon persepsi kita saat ini, nilai dari kesakitan yang akan dialami di masa depan jarang kita hiraukan. Barulah pada saat ‘nanti’ tersebut berubah menjadi ’sekarang’, Anda memberi perhatian.

Bias ini juga membuat kita menilai kesenangan hari ini lebih penting dibanding kesenangan hari esok. Itu lah alasan mengapa kita menghambur-hamburkan gaji yang baru kita terima tanpa mempertimbangkan kebutuhan yang lebih penting esok hari. Bias itu juga yang membuat para gadis berani mengambil resiko untuk melakukan free sex di luar nikah karena kenikmatan saat ini menutupi resiko mengandung (dan mengasuh) anak di luar nikah sembilan bulan kemudian. Bias ini juga membuat perokok, pecandu minuman keras atau narkoba tidak pernah gentar menghadapi peringatan bahaya ancaman jiwa di kemudian hari. Di dalam perusahaan, bias ini membuat perusahaan lebih mementingkan hasil jangka pendek dibanding jangka panjang.

Setelah mengetahui bahaya bias semacam itu, Anda mungkin akan bertanya: Apakah mungkin untuk menghilangi bias tersebut? Sayangnya, sebagaimana halnya bias-bias kognitif yang lain, bias tersebut sudah menjadi bagian yang utuh dengan proses kognitif kita. Seorang yang ahli dalam hal berpikir sekalipun tidak akan bisa menghilangkan bias tersebut sama sekali. Namun, pengaruh buruk bias tersebut bisa diminimalkan dengan cara menyadari keberadaannya. Dengan menyadari keberadaan bias-bias kognitif seperti ini, kita bisa mundur sesaat untuk menilai apakah keputusan kita dipengaruhi oleh bias tersebut atau tidak. Cara berpikir kritis seperti itu amat dibutuhkan pada saat kita mengambil keputusan yang penting atau yang memiliki konsekuensi jangka panjang. Bila ternyata kita menyadari pengaruh negatif bias tersebut, kita bisa secara sadar menghilangkan pengaruh bias tersebut dengan tekad dan upaya disiplin diri.

Kesadaran akan adanya bias-bias kognitif tersebut wajib kita ketahui, bila kita ingin berpikir lebih baik dan tidak terjebak dalam kesalahan yang akan kita sesali seumur hidup. Jadikan bias tersebut pelayan Anda, bukan sebaliknya. Untuk membantu Anda mengenali lebih banyak bias-bias kognitif lain, saya akan mencoba menulis lagi lebih banyak mengenai bias-bias kognitif yang lain pada kesempatan-kesempatan mendatang. Selain itu, untuk mempermudah pembaca, semua artikel-artikel yang berkaitan dengan bias kognitif akan ditempatkan di halaman kategori ini.

• • •
 

May 16, 2006

Homaro Cantu

Filed under: Creative Thinking, Innovation — itpin @ 8:02 am

Anda penggemar makanan? OK.. OK.. pertanyaan yang bodoh. Siapa yang tidak?

Kalau begitu, Anda tentu tahu bahwa dunia makanan merupakan dunia yang penuh kreativitas. Kunjungilah 10 restoran yang berbeda, terutama yang berkelas atas, dan Anda mungkin akan menjumpai ratusan variasi masakan. Sejak dulu, para chef terkenal selalu diasosiasikan dengan karya-karya mereka yang bukan saja memuaskan lidah, tapi juga menggelitik rasa seni kita.

Walau demikian, kita semua juga tahu ada batasan untuk kreativitas dan inovasi di dunia makanan. Bagaimanapun, terdapat sejumlah standar-standar konvensional untuk mengolah makanan yang tidak bisa dilanggar. Misalnya, tidak ada chef yang pernah berpikir untuk memasak dengan sinar laser, walau sinar tersebut bisa menghasilkan panas yang cukup. Selain itu, makanan harus selalu dalam bentuk 3 dimensi, dan tidak dalam bentuk 2 dimensi. Makanan juga harus dimasak dengan bantuan api yang membutuhkan oksigen, sehingga tidak mungkin dimasak dalam ruang hampa. Dan sejumlah unsur alam seperti nitrogen atau helium bukanlah bagian dari peralatan atau bumbu dapur. Orang memasak dengan peralatan masak standar, dan bukan dengan printer misalnya. Dan tentu saja, makanan harus disajikan di meja, bukan melayang-layang di atas meja. Kalau pun ada orang yang memiliki ide-ide gila seperti itu, mungkin hanyalah para kartunis yang ingin menghibur pembaca atau penontonnya.

Tapi, tunggu dulu… Apakah benar demikian?

Tuhan mungkin tidak setuju. Karena itu, Dia menciptakan Homaro Cantu.

Homaro Cantu, 29 tahun, bukanlah chef sembarang chef. Dari kecil, dia sudah suka membongkar perkakas dan mainan di rumahnya dan belajar sains secara otodidak sebelum akhirnya bertemu dengan dunia masakan di sekolah menengahnya. Sejak saat itu, dia bercita-cita untuk menjadi seorang chef ternama. Dengan kegigihannya, dia belajar dengan para chef ternama di US, meski kadang-kadang tanpa meminta bayaran. Kreativitasnya yang sudah membara sejak kecil akhirnya mendapatkan tempat penyaluran di dunia dunia dapur, apalagi setelah dia diberi kepercayaan untuk mengelola restoran Moto di Chicago. Setelah itu, dapur di Moto diubah menjadi laboratorium eksperimen ala Star Trek.

Pengunjung restoran tersebut akan disuguhi menu yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Ada sup yang dimasak dalam ruang hampa atau telur yang dibekukan dengan nitrogen. Ada makanan yang dihias dengan lukisan indah yang bisa dimakan (dan rasanya lezat). Lukisan tersebut dicetak dengan printer Canon i560 inkjet. Menu makanannya sendiri? Jangan takut. Bila Anda kelamaan menunggu pesanan Anda muncul dan tidak bisa menahan lapar lagi, kunyah saja menu tersebut. Rasanya dijamin tidak mengecewakan (tidak ada maksud bercanda di sini). Cantu juga sedang bereksperimen dengan sinar laser untuk memasak bagian tengah ikan dan membiarkan lapisan luarnya tetap mentah untuk disajikan sebagai sushi. Dan bagaimana dengan makanan yang bisa melayang? Sejauh ini, dia telah berhasil membuat butiran gula dan garam melayang dengan bantuan pistol partikel ion. Dan Cantu sedang mencoba penggunaan nitrogen dan helium untuk membuat makanan yang bisa melayang.

Jangan kira tidak ada orang yang bersedia mencicipi makanan-makanan tersebut. Cantu berani menjami semua makanan yang disajikannya enak untuk dimakan. Berkat Cantu, Moto menjadi salah satu restoran yang paling banyak dibicarakan di Chicago. Makanan-makanan tersebut juga tidak murah. Rata-rata seorang pengunjung akan menghabiskan sekitar US$ 200 untuk sekali makan.

Selain mengolah masakan, Cantu juga rajin menciptakan peralatan-peralatan dapur yang inovatif dan telah memegang sekitar 30 paten. Contoh penemuannya termasuk sendok yang bisa mengeluarkan makanan dengan memencet tombol (cocok untuk bayi dan anak kecil), atau kotak untuk memasak yang bisa membuat makanannya tetap memasak dirinya sendiri walau sudah dikeluarkan dari kotak.

Lewat karya-karya inovatifnya, Cantu berhasil mengaburkan batas antara seni dan sains dalam dunia makanan, dan meleburkan dunia Thomas Edison dan Salvador Dali.

Masihkah Anda berpikir bahwa standar-standar konvensional yang selalu kita pegang selama ini tidak bisa diubah?

• • •
 
Next Page »