eXTReMe Tracker
if knowledge is power, then passion is the engine, body is the vehicle, and conscience is the driver

… tentang inovasi dan berpikir holistik

June 6, 2006

Google Spreadsheets dan dilema Microsoft

Filed under: Innovation, E-Business, Strategy, Current Events — itpin @ 8:33 am

Google mengumumkan akan membuka layanan online spreadsheet yang dinamakan Google Spreadsheets mulai hari ini. Langkah ini menyusul akuisisi yang dilakukan Google bulan Maret sebelumnya terhadap perusahaan Writely yang menawarkan layanan online word processor.

Google Spreadsheets ini nantinya bisa mengenali formula-formula Microsoft Excel, walau tidak bisa dipakai untuk menjalankan macro. Pengguna juga bisa melakukan kolaborasi dengan pemakai lain melalui Internet sambil memakai aplikasi tersebut.

Walau CEO Google, Eric Schmidt, berusaha menepis anggapan yang mengatakan bahwa Google berusaha menyaingi Microsoft Office lewat Google Spreadsheets dan Writely, kata-kata Schmidt bisa dipastikan hanya sekedar basa-basi. Sangat mungkin mereka sedang mempersiapkan Google Presentation (untuk bersaing dengan PowerPoint) dan Google Database (untuk bersaing dengan Access) juga.

(Bila saya tidak percaya dengan kata-kata Schmidt, Bill Gates dkk. lebih-lebih tidak akan percaya. Mereka mungkin langsung mengadakan serangkaian meeting begitu Google mengeluarkan pengumuman tersebut.)

Beberapa tahun sebelumnya, tepatnya 1997, seorang dosen dari Harvard Business School, Clayton Christensen, menerbitkan sebuah buku yang segera menjadi buku acuan semua perusahaan teknologi di US dan belahan dunia lainnya. Buku tersebut, The Innovator’s Dilemma, menjelaskan mengapa perusahaan-perusahaan pemimpin pasar, yang besar berkat inovasi, akhirnya akan mengalami kesulitan untuk berinovasi terus menerus.

Menurut Christensen, perusahaan-perusahaan pemimpin pasar tersebut gagal bukan karena terlalu arogan dan melupakan konsumen. Justru sebaliknya. Mereka gagal karena terlalu memperhatikan kebutuhan konsumen mereka. Mereka dengan rajin meminta feedbacks dari konsumen mereka dan menindaklanjutinya. Karena itu, mereka melakukan modifikasi produknya terus menerus sehingga menjadi terlalu canggih.

Hal ini yang terjadi pada produk-produk Microsoft Office. Jujur saja, dari semua fitur-fitur yang ditawarkan Office, berapa persen yang benar-benar kita pakai?

Nah, di sinilah perusahaan-perusahaan pendatang baru memiliki kesempatan untuk menggulingkan sang penguasa dari tahtanya. Caranya? Jangan ikuti permainan pemimpin pasar, tapi ciptakan sesuatu yang tidak ingin dibuat oleh pemimpin pasar tersebut. Terjemahannya: Tawarkan versi yang lebih sederhana, tidak perlu canggih-canggih, tapi mudah dipakai, lebih cepat untuk menyelesaikan fungsi-fungsi yang paling dasar, dan jauh lebih murah. (Dalam hal ini, biaya pemakaian Google Spreadsheeets malah mencapai nol.) Umumnya, strategi ini akan berhasil karena pemimpin pasar tidak akan melihat itu sebagai ancaman, setidaknya sampai sang pendatang baru berhasil mengumpulkan konsumen yang cukup besar dan mulai memperbaiki produknya dengan cepat sehingga sang penguasa pasar tidak sempat bereaksi.

Google menjalankan strategi yang sama. Ambisi mereka untuk mengalahkan Microsoft sudah bukan rahasia umum lagi. Namun, mereka mengambil langkah yang sangat cerdik. Microsoft, walau pun menyadari ancaman tersebut, tidak bisa begitu saja mengikuti langkah Google. Jutaan pembeli produk-produk Microsoft tidak akan memaafkan Microsoft begitu saja bila Microsoft ikut-ikutan menyediakan layanan sejenis dengan gratis. Microsoft juga tidak bisa saja menghilangkan potensi keuntungan milyaran dolar yang bisa diraupnya dengan Office dengan manawarkan layanan gratis. Dilema seperti inilah yang oleh Christensen disebut sebagai innovator’s dilemma.

Apakah Google akan berhasil menggulingkan Microsoft Office lewat layanan-layanan baru tersebut? Hanya waktu yang bisa memberikan jawaban. Tapi Google juga harus mengingat, yang dihadapinya adalah Bill Gates dkk, yang pasti sudah membaca buku yang sama. Tahun 2003, Christensen dan rekannya Michael Raynor menerbitkan buku The Innovator’s Solution yang memberikan ide-ide bagaimana menghindari perangkap innovator’s dilemma tersebut. Saya berani memastikan, para petinggi Microsoft akan berlomba-lomba membeli dan membaca buku tersebut, bila mereka belum melakukannya. Pertanyaannya sekarang, apakah ide-ide dari buku tersebut dan kejeniusan Gates mampu mempertahankan dominasi Microsoft Office dalam beberapa tahun ke depan?

Let’s wait and see…

• • •
 

4 Comments »

  1. Sejak diperkenalkan standar Web2.0 dan AJAX, dunia Web memang berkembang sangat pesat. Berbagai aplikasi desktop banyak diporting ke Web. Yang paling keliatan adalah aplikasi email yang menyerupai desktop mail semacam outlook. Vendor-vendor free web-based email sudah mulai memperkenalkan versi beta dari Webmail 2.0 mereka sejak cukup lama (GMail, Yahoo! Mail Beta, MS Live Mail).

    Selain email, aplikasi desktop populer lainnya adalah office suite. Sebelum Google merambah ke sini, sudah cukup banyak pemain lain semacam gOffice, Zoho, ThinkFree, dan sebagainya.

    Didukung dengan online storage dengan kapasitas bergiga-giga byte, user bahkan tidak perlu menyimpan dokumennya di komputer lokal.

    Belum lagi game berbasis Web yang terus berkembang.

    Suatu saat nanti, mungkin user tidak perlu lagi menginstal aplikasi apapun di komputernya selain Web browser.

    Comment by denni — June 7, 2006 @ 9:44 am

  2. Internet memang terbukti mampu mengubah kehidupan manusia. Dengan segala inovasi yang dihasilkan oleh berbagai kalangan baik yang komersial maupun tidak dan semuanya memiliki tujuan ekonomis baik itu yang utama maupun tidak. Persaingan Google dan Microsoft nampaknya selalu menjadi sajian utama disetiap media IT karena Google sangat fenomenal dan patut terus diikuti perkembangannya. Namun tidak kalah menarik untuk memperhatikan pergerakan Microsoft. Sejak tahun 2000 Microsoft telah berubah dan tidak banyak yang menyoroti perubahan internal ini. Di buku “Microsoft Rebooted” dijelaskan banyak hal mengenai perubahan internal Microsoft yang sangat fundamental. Namun ibarat kapal raksasa, mau belok 20 derajat saja perlu waktu lama. Sejak tahun 2000 ternyata Microsoft sudah menerapkan strategy Blue Ocean yang sekarang marak dibicarakan. MSN Search bersaing dengan Google Search itu adalah kosmetik semata. Microsoft tahu sekali bahwa internet search is not their ball field. Microsoft juga tahu sekali bahwa tidak selamanya Windows dan Office akan mendominasi aplikasi desktop. Microsoft sedang berevolusi persis seperti cerita IBM pada buku “Who Says Elephants can’t Dance”. Bagi para wirausaha ada baiknya untuk juga belajar sisi lain Microsoft yang cukup positif untuk dipelajari dan diambil manfaatnya. Buku “Microsoft Rebooted” dan “Who Says Elephants can’t Dance” adalah bacaan yang sangat baik untuk belajar bagaimana raksasa-raksasa itu berubah.

    Comment by Procol Harum — June 10, 2006 @ 11:59 pm

  3. @denni: “Web 2.0″ dan AJAX itu hanya menggunakan barang2 yang sudah ada sejak relatif lama, bukan merupakan standard baru. Kombinasinya dan teknik pengkombinasiannya yang mungkin baru, tapi bukan standardnya.

    Aplikasi2 dan teknik2nya muncul duluan baru keluar istilah2 buzzwords semacam “Web 2.0″ dan AJAX.

    Comment by Ronny — June 13, 2006 @ 6:53 pm

  4. Secara arsitektur perangkat lunak, aplikasi ‘inovatif’ seperti Google Spreadsheets atau Writely ini sebenarnya masuk kategori Web Application, yang sudah ada sejak akhir 90′an.

    Yang menjadikan langkah Google seperti ini ‘menarik’ (setidaknya buat saya) adalah besarnya skala infrastruktur yang harus disiapkan di belakang aplikasi-aplikasi tersebut, dan besarnya potensi bisnis yang dihasilkannya.

    Comment by Ferli — June 21, 2006 @ 3:24 pm

RSS feed for comments on this post. | TrackBack URI

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.