Melahirkan bakat sepakbola
Selamat datang di Piala Dunia 2006 yang akan dimulai malam ini di Jerman. Posting ini adalah edisi khusus Piala Dunia untuk para penggila bola (gibol).
Nah, para gibol, pernahkan Anda memperhatikan tanggal lahir para bintang sepakbola, terutama dari Eropa? Kalau Anda memang terlalu nganggur, inilah yang Anda akan temukan: mayoritas pemain-pemain elit, baik di tingkat senior atau junior, lahir di bulan Januari-Maret. Sementara pemain yang lahir di bulan-bulan seperti November dan Desember sangat jarang.
Mengapa demikian? Silakan pilih beberapa alternatif di bawah ini:
- Cuma kebetulan semata.
- Pengaruh astrologi. Para bintang sepak bola lebih cocok dengan rasi bintang tertentu.
- Pengaruh cuaca pada saat terjadi pembuahan atau pada saat kelahiran.
- Para penggila bola lebih suka membikin anak di musim semi, pada saat puncak liga-liga sepakbola di Eropa.
Sudah memilih jawabannya?
Ternyata semua jawaban di atas salah, setidaknya menurut Anders Ericsson, seorang profesor psikologi dadri Florida State University. Ericcson adalah seorang pakar di bidang Expert Performance Movement yang berusaha menjawab pertanyaan “Mengapa seseorang bagus di bidang tertentu?”
Dan inilah penjelasan beliau:
Di Eropa, sepakbola sudah ditangani secara profesional sejak anak-anak berusia dini. Liga-liga untuk anak kecil merupakan sesuatu yang umum. Karena liga-liga tersebut ditentukan berdasarkan kelompok umur, maka tanggal 31 Desember ditentukan sebagai acuan perhitungan umur. Jadi bila sekarang tahun 2006 dan yang bertanding adalah KU-13, maka yang para pemain harus lahir di antara 1 Januari 1993 - 31 Desember 1993. Dan ketika pelatih harus memilih satu di antara dua pemain, yang satu lahir di bulan Januari dan satunya lagi di bulan Desember, secara statistik, pemain yang lahir di bulan Januari akan memiliki tubuh yang lebih besar, yang memberikan pemain kelahiran Januari tersebut lebih banyak peluang untuk terpilih sebagai pemain inti.
Apa yang terjadi bila kelompok tersebut masuk ke jenjang KU-14? Pola yang sama akan berulang. Anak yang lahir bulan Januari tersebut akan diberi porsi latihan lebih, bertanding lebih sering, mendapatkan nasehat lebih banyak, dst-nya. Akumulasi tersebut menyebabkan pemain tersebut akan tumbuh lebih matang. Memang mungkin saja pemain kelahiran Desember tersebut lebih berbakat, tapi menurut Ericsson, bakat saja tidaklah cukup. Latihan dan feedbacks lebih berperan dalam meningkatkan kinerja, bukan saja dalam sepakbola, tapi di hampir semua bidang.
Dalam bidang kedokteran, misalnya, Ericsson melihat kualitas analisa para dokter semakin memburuk sesuai dengan usia, kecuali… ahli bedah. Kenapa? Karena ahli bedah akan langsung menerima feedback dari tindakan media mereka. Hal yang sama tidak berlaku untuk mamografer. Ketika seorang dokter membaca mamogram, dia tidak bisa memastikan apakah suatu benjolan merupakan kanker atau bukan, sampai sebulan atau setahun kemudian.
Solusinya? Feedback! feedback! dan feedback!
Untuk kasus mamogram, misalnya, adakan pelatihan untuk para dokter dengan membaca mamogram lama yang hasilnya sudah ketahuan. Lalu dokter diminta melakukan diagnosa. Hasil diagnosa langsung dinilai dan bila salah diberi feedback.
Ini tidak berarti bakat tidak penting. Anda atau saya bisa saja berlatih menendang si kulit bundar setiap hari, tetapi tidak akan pernah menjadi pemain sepak bola yang lebih baik dari Ronaldo atau Ronaldinho yang hanya berlatih sekali seminggu, misalnya. Tapi bila Ronaldo dan Ronaldinho tidak pernah latihan setiap hari, mereka mungkin masih bermain di pantai-pantai di Rio dan tinggal di daerah kumuh.
Jadi bila Anda ingin berprestasi di bidang tertentu, inilah nasehat Ericcson: tentukan target yang spesifik yang ingin Anda capai; latihan-latihan-latihan; bandingkan hasil latihan dengan target; bila masih ada gap (bukan cuma dalam hal hasil akhir, tapi juga teknik atau proses yang dipakai), cari tahu kenapa gap tersebut muncul; dan kembali latihan-latihan-latihan berdasarkan feedback yang Anda dapatkan.
Untuk yang ingin mencari karir atau memulai bisnis, pesan Ericsson cukup sederhana: Temukan bidang yang benar-benar Anda sukai. Bila tidak, Anda tidak memiliki motivasi untuk berlatih terus menerus.
Dan bagi para gibol, bila Anda ingin menyaksikan anak Anda bertanding di Piala Dunia 2026, 2030, atau 2034, semoga hasil riset Ericsson ini bisa membuka jalan menuju mimpi Anda.
“Temukan bidang yang benar2 anda sukai”
Ini lebih tepat untuk negara maju.
Sedangkan untuk negara seperti Indonesia, tidak akan jalan karena rakyat masih butuh uang, dan tidak semua bidang pekerjaan memberikan penghasilan yang cukup.
Saya pernah dengar ini “Boro2 mau latihan sepak bola, nasi ngepul di dapur aja susah!”
Comment by Bayu R — June 9, 2006 @ 11:58 am
Bayu,
Komentarmu emang ada benarnya. Kala kita masih harus bergelut u/ memperoleh kebutuhan2 pokok, kapan ada waktu u/ memikirkan hal2 lain?
Sebenarnya di negara maju pun, semboyan tsb masih jarang diperhatikan dgn alasan yg berbeda. Materialisme dan hedonisme mendorong mereka mencari karir di mana keuntungan bisa didapat dengan instant (mis: menjadi pengacara, konsultan manajemen, atau investment banker).
Namun, ada banyak cara u/ tetap bisa menekuni bidang yg kita sukai. Untuk yg sudah bekerja, kita bisa mencoba menjadi freelancer kalau kebetulan bidang pekerjaan tersebut bisa disambi. Atau, kita bisa menekuni sebagai hobi sambil tetap melihat2 peluang untuk menjadikan hobi tsb sbg sumber pendapatan. Banyak contoh usahawan tanah air yang sukses dengan modal ala kadarnya karena menjalani hobi mereka sbg bisnis, terutama di bidang jasa. Malah setahuku ada musisi yang memulai karirnya sebagai pengamen jalanan. Para pemain sepakbola di negara2 Amerika Latin dan Afrika juga banyak yang berangkat dari kemiskinan. Intinya, kalau kita jadikan kondisi saat ini sebagai alasan (dan bukan sebagai motivator), maka kita selamanya tidak akan pernah maju.
Pentingnya melakukan apa yg kita sukai bukan semata2 karena potensi bisnisnya, tapi lebih karena hal2 tsb bisa memberi kita kesenangan dan kedamaian jiwa. Lihatlah wajah orang2 yg karyanya mendapatkan penghargaan, meski hanya dalam bentuk piagam…
Comment by itpin — June 14, 2006 @ 11:02 am
itpin,
musisi yang sukses dari pengamen, orang yang sukses dari nyambi… dll
semua itu hanyalah segelintir, yang gagal jauh lebih banyak.
boro2 nyambi, kerja aja disuruh lembur melulu.
yang sukses spt yang anda sebutkan cuma 1 diantara ratusan ribu deh.
Comment by Bayu R — June 15, 2006 @ 4:23 pm
wah, bayu, keliatannya you’ve a tough life
anyway, aku setuju dgn itpin. sesulit apapun, kita harus tetap memiliki harapan dan bukannya mengeluh terus. tanpa harapan, hidup akan hampa.
-miq-
Comment by m.iqbal — June 16, 2006 @ 9:40 am
sebenarnya pandanga om erricson ada benarnya. yang dibutuhkan memang bidang yang kita sukai untuk menumbuhkan motivasi.walaupun akhirnya mentok dengan masalah fulus…jika mempunyai motivasi yang tinggi saya rasa banyak cara untuk menutupinya(ingat motivasi tinggi). misalnya saja bidang yang kita sukai adalah hidup (misal) dan motivasi kita tentu saja untuk terus bertahan hidup,nah suatu saat kita tidak mempunyai fulus sama sekali (Rp.000,-) untuk menunjang hidup. Lalu apakah kita membiarkan diri kita mati kelaparan. tentu tidak …
kita bisa mengemis, minta-minta, dll. jika kita hanya berdiam diri maka tidak bisa disebut mempunyai motivasi hidup yang tinggi. gitu ceunah ..
Comment by kuda — August 21, 2006 @ 8:40 pm