eXTReMe Tracker
if knowledge is power, then passion is the engine, body is the vehicle, and conscience is the driver

Blog ini sudah pindah ke http://www.orangenexus.com

June 19, 2006

Wasit video dalam sepakbola

Filed under: Cognitive Biases, Systems Thinking — itpin @ 8:40 am

Sejalan dengan berlangsungnya FIFA World Cup 2006 di Jerman, debat mengenai pemakaian video untuk membantu wasit dalam membuat keputusan pasti akan terlontar pada beberapa kesempatan. Bukankah teknologi saat ini sudah mencukupi, terutama untuk event sebesar itu? Lalu mengapa hal itu tidak diterapkan?

Para pendukung pemakaian video mungkin harus mempelajari apa yang pernah dilakukan National Football League (NFL). Liga American football ini pernah memakai video untuk membantu wasit pada tahun 1986, namun diakhiri tahun 1992. Untuk memahami alasan mengapa pemakaian video tersebut diakhiri, kita bisa memulainya dengan menyadari bagaimana proses pengambilan keputusan manusia.

Salah satu bias koginitif yang sering mempengaruhi proses pengambilan keputusan kita adalah confirmation bias, di mana kita memperkuat kepercayaan kita dengan menyaring masuk bukti-bukti yang mendukung kepercayaan kita tersebut dan menolak (kadang tanpa sadar) bukti-bukti sebaliknya.

Pemakaian video, ternyata tidak bisa mengurangi bias tersebut. Hal ini sudah terbukti di beberapa liga nasional sepakbola di Eropa. Setiap minggu, di liga Jerman misalnya, surat kabar-surat kabar rajin membahas kontroversi yang terjadi pada pertandingan-pertandingan minggu sebelumnya. Menariknya, mereka sering tiba pada kesimpulan yang berbeda dengan merujuk pada gambar yang sama!

Hal itu tidak terlepas dari tayangan video yang masih 2 dimensi. Efek dua dimensi tersebut menyebabkan kita tidak bisa melihat kejadian sesungguhnya secara jelas dan tepat. Bila betis dua pemain saling bersilangan, apakah kita tahu betis mereka saling menempel atau ada ruang di antaranya? Bila bola kelihatan offside, apakah itu karena sudut pengambilan yang miring? Debat-debat semacam itu jelas tidak akan berakhir meski dengan bantuan video. Untuk meningkatkan akurasi, gambar yang diulas bisa diambil dari beberapa sudut yang berbeda. Namun, itu tetap tidak bisa menjamin tingkat akurasi 100%.

Lalu ada alasan lain. Permainan sepakbola, seperti kita ketahui, dibangun dari menit demi menit. Momentum masing-masing tim dan dinamika antar kedua tim dibangun melalui aliran permainan detik demi detik. Bila wasit harus sering menghentikan permainan untuk berkonsultasi dengan rekaman video, dinamika permainan yang sudah terbangun akan sering terputus. Dalam kasus NFL di atas, inilah alasan utama mengapa mereka menghentikan pemakaian video. Belum lagi bila rekaman video ternyata juga tidak jelas, sumpah serapah penonton pasti akan berhamburan.

Dari sisi wasit sendiri, pemakaian video dikhawatirkan akan menurunkan mutu keputusan wasit dalam jangka panjang. Wasit yang mengetahui adanya “rekan yang obyektif” yang bisa membantu setiap saat, cenderung akan menghindari tanggung jawab, bukan saja untuk keputusan yang sulit, tapi juga untuk keputusan yang sederhana.

Dan satu alasan lain lagi yang tak kalah pentingnya: “human error” justru dibutuhkan untuk membuat permainan menjadi lebih menarik. Bukankah kontroversi-kontroversi keputusan wasit seperti dalam kasus “Tangan Tuhan Maradona” justru mampu menjadi sumber berita yang menarik untuk dibahas sampai bertahun-tahun kemudian? Bukankah kita sebenarnya membutuhkan kontroversi-kontroversi semacam itu sebagai bahan pembicaraan? Hilangkan kontroversi-kontroversi semacam itu, sepakbola (atau olah raga lain) pasti akan menjadi lebih monoton! Media massa juga akan kekurangan bahan berita.

Apa pelajaran yang bisa kita tarik dari sini? Pertama, teknologi tidaklah menawarkan semua jawaban atas masalah kita. Kadang, aplikasi teknologi justru mampu menyebabkan masalah lain yang tak terduga sebelumnya. Kedua, solusi optimal sering lebih baik dari solusi yang maksimal (sempurna). Kesempurnaan yang dirancang dengan cermat justru bisa menyebabkan masalah lain. Ketiga, bias-bias kognitif dan ketidaksempurnaan manusia bukanlah sesuatu yang buruk. Ketidaksempurnaan tersebut justru membuat kita lebih manusiawi, dan sifat-sifat manusiawi itu lah yang menjadikan dunia ini lebih indah dan menarik.

Jadi, mari kita syukuri kemanusiaan kita yang tidak sempurna ini!

• • •
 

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. | TrackBack URI

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.