Richard Dawkins dari Oxford University, tak pelak lagi, adalah salah satu orang yang paling dibenci kalangan orang-orang beragama. Bila kalangan ateis memiliki nabi, maka Dawkins pasti merupakan salah satu nabi besar mereka. Lewat teorinya tentang selfish gene, Dawkins seorang diri berhasil menghilangkan banyak kelemahan teori Darwin dan sekaligus meruntuhkan banyak kritik dari kalangan beragama terhadap teori evolusi. Para pemuka agama yang sekarang ingin menentang teori evolusi terpaksa mempelajari buah pemikiran Dawkins untuk mencari kelemahannya. (Salah satu penentang Dawkins yang paling populer adalah rekannya dari Oxford sendiri, ahli teologi Alister McGrath.)
Teori evolusi memang menjadikan Dawkins terkenal. Namun, tak kalah pentingnya, Dawkins juga memperkenalkan istilah meme (baca: mim), yang merupakan ekivalen gen untuk nilai-nilai budaya. Istilah yang pertama kali diperkenalkan dalam buku The Selfish Gene ini mulai populer dan sudah sering masuk dalam literatur yang berkaitan dengan budaya dan berpikir. Karena popularitasnya, cabang ilmu baru yang disebut memetika dilahirkan khusus untuk mempelajari meme ini.
Untuk memperjelas arti meme, kita bisa berpaling pada cara kerja gen manusia (atau makhluk hidup lainnya). Gen makhluk hidup akan menggandakan diri terus menerus untuk menjaga kelangsungan hidup spesies-nya. Meme, bekerja dengan prinsip yang sama pada tataran ide-ide dan nilai-nilai. Meme-meme, menurut Dawkins, juga saling bersaing untuk hidup abadi. Sebagaimana halnya gen, meme akan melalui proses seleksi yang ketat. Meme yang gagal melewati proses seleksi akan punah, sementara yang bertahan akan hidup panjang (atau abadi). Contoh meme yang paling sering disinggung Dawkins tentu saja meme agama, tetapi bisa juga diperluas ke ideologi lainnya yang tidak berkaitan dengan agama (kapitalisme, sosialisme, kapitalisme, rasionalisme, empirisme), iklan-iklan yang berusaha menyusupkan klaim mereka ke dalam benak kita, lirik lagu-lagu, gosip, takhayul, dlsb.
Mengapa meme ini penting untuk kita ketahui? Kita coba berpaling ke bidang psikoanalisa sejenak. Menurut Sigmund Freud, selalu ada dua kekuatan yang bersaing untuk mengontrol ego kita. Yang satu disebut id, yang merupakan dorongan-dorongan primitif manusia yang selalu mencari kepuasan. Hasrat seksual dan agresi termasuk dalam kategori ini. Di sisi lain, ada yang disebut sebagai super-ego, yang berwujud nilai-nilai budaya dan moral. Id dan superego ini selalu berseberangan dan berusaha mempengaruhi ego yang berusaha menjaga keseimbangan psikis kita. Bila gen membentuk fisik kita, maka ego, id, dan super-ego membentuk psikis kita.
Dalam konteks gen dan meme, id bisa dianalogikan sebagai hasil pemrograman gen manusia yang diwariskan turun temurun; sementara super-ego sendiri adalah hasil pemrograman meme. Sekarang kita bisa melihat bagaimana gen dan meme bekerja sama membentuk diri kita. Dengan kata lain, melalui pengertian terhadap meme, kita akan lebih mengerti bagaimana budaya dan ide-ide membentuk diri kita.
(Catatan: Memang korelasi id/gen dan meme/super-ego tidak sesempurna itu. Ada beberapa meme yang bisa jadi justru mendukung id, dan mungkin ada beberapa gen yang menjadikan kita makhluk yang bermoral. Klasifikasi ego, id, dan super-ego kadang juga dianggap terlalu simplistik. Namun akan sulit untuk menjelaskan meme dan pengaruhnya terhadap kita tanpa memberikan analogi di atas.)
Sekarang setelah Anda memiliki gambaran tentang apa itu meme, bisakah Anda menyebut meme yang sedang menggandakan diri di kepala Anda saat ini?
Jawabannya: Meme tersebut adalah konsep meme itu sendiri, yang ditularkan kepada Anda melalui posting ini.