eXTReMe Tracker
if knowledge is power, then passion is the engine, body is the vehicle, and conscience is the driver

Blog ini sudah pindah ke http://www.nexusnexia.com

August 31, 2006

Google dan eBay: kawan atau lawan?

Filed under: E-Business, Strategy — itpin @ 8:22 am

Mungkin ada beberapa orang yang terkejut ketika mendengar kerja sama besar yang dijalin oleh Google dan eBay. Dalam kerja sama tersebut, Google akan melayani iklan teks di situs eBay (terutama untuk eBay internasional) dan akan memperkenalkan iklan click-to-call dalam waktu dekat. Pada model click-to-call, pembeli bisa mengklik teks iklan yang memungkinkan mereka langsung berbicara lewat suara dengan penjual. Layanan tersebut akan memakai teknologi Skype yang dimiliki eBay.

Kerja sama tersebut agak mengejutkan karena sebelum ini eBay dan Google sering diposisikan sebagai pesaing berat, terutama setelah Google memperkenalkan Google Base yang dianggap memiliki layanan yang hampir sama dengan iklan penjualan barang yang ditawarkan eBay. Selain itu, Google juga gencar mengembangkan layanan micropayment mereka sendiri untuk menyaingi PayPal yang merupakan milik eBay.

Walau kedua perusahaan tersebut menyadari potensi besar terjadinya konflik di kedua wilayah di atas, mereka tidak menutup mata terhadap potensi keuntungan yang bisa diraup dari kerja sama tersebut. Dengan kata lain, mereka sepakat untuk menjadi pesaing dan pelengkap sekaligus.

Apa yang mereka lakukan sebenarnya bukan hal baru. Yahoo dan Microsoft juga telah mengumumkan kerja sama membuka jembatan instant messenger masing-masing agar para pemakai kedua produk tersebut bisa saling mengirim pesan. Pada saat yang sama, mereka bersaing keras di industri web portal untuk memperebutkan pengunjung dan layanan-layanan lainnya seperti online email. Masih banyak contoh-contoh lain lagi yang tidak bisa disebutkan satu per satu di sini. (Saya yakin, Anda pasti bisa mencari contoh-contoh lainnya.)

Fenomena persaingan sekaligus kerja sama tersebut sebenarnya sudah dikupas oleh Adam Brandenburger dan Barry Nalebuff dalam buku terkenal mereka, Co-opetition. Judul buku ini sekaligus dipopulerkan sebagai istilah untuk melukiskan paradoks “persaingan/kerja sama” ini. Dalam framework Value Net yang mereka kembangkan, perusahaan digambarkan memiliki interaksi dengan empat jenis pemain lainnya, yaitu: pemasok (suppliers), pelanggan (customers), pesaing (competitors), dan pelengkap (complementors). Interaksi tersebut bisa bersifat zero-sum game atau win-win.

Bila pada cara pandang sebelumnya yang dipengaruhi oleh framework Five Forces-nya Michael Porter, perusahaan selalu bersaing dengan pemain-pemain lain dalam membagi keuntungan ekonomis (murni zero-sum game), maka Value Net ini didasarkan atas cara pandang yang berbeda. Memang perusahaan harus tetap bersaing memperebutkan nilai ekonomis dengan para pemain lainnya. Misalnya saja, dalam tawar menawar dengan pelanggan, perusahaan ingin menjual dengan harga setinggi-tingginya dan pelanggan berusaha menekan harga serendah-rendahnya. Hal yang sama berlaku juga dalam negosiasi harga dengan pemasok. Akan tetapi, Brandenburger dan Nalebuff juga meyakinkan kita bahwa perusahaan hendaknya mencari cara-cara kreatif untuk menciptakan nilai ekonomis bersama dengan keempat pihak tersebut.

Cara berpikir yang lebih positif itulah yang mulai disadari dan diterapkan. Di satu sisi, para perusahaan dalam industri sejenis memang bersaing dengan keras, tetapi mereka berusaha bersaing dengan sehat karena mereka menyadari adanya potensi kerja sama suatu ketika nanti. Seperti pada tulisan saya sebelumnya mengenai Nike, kerja sama mutlak dibutuhkan di jaman yang serba tidak pasti ini untuk mempertinggi harapan hidup perusahaan dan spesies, termasuk kerja sama dengan pihak yang selama ini dianggap sebagai pesaing.

(Sebenarnya banyak pedagang kita yang juga sudah mempraktekkan hal itu sejak lama, walau tidak mengerti teorinya. Para pedagang telepon genggam misalnya, sering saling mengambil stok dari penjual lainnya untuk mengurangi resiko menyimpan stok terlalu banyak. Para pemilik situs web juga sering terlibat dalam bentuk promosi reciprocal linking yang bisa dianggap sebagai bentuk co-opetition.)

• • •
 

August 30, 2006

Perubahan dimulai dari diri sendiri

Filed under: Education, Macroeconomics — itpin @ 8:16 am

Tulisan berikut saya dapatkan dari kiriman Sdr. Carlos Patriawan. Karena tersentuh oleh tulisan tersebut dan melihat relevansinya dengan beberapa artikel saya sebelumnya, saya memutuskan memasukkannya di blog ini. Saya tidak tahu sumber asli tulisan ini (kalau ada yang tahu, tolong beritahukan). Hasil terjemahan di bawah adalah berkat jasa Boedi Dayono (Januari 2004).

Selamat membaca…

Perbedaan antara negara berkembang (miskin) dan negara maju (kaya) tidak tergantung pada umur negara itu. Contohnya negara India dan Mesir, yang umurnya lebih dari 2000 tahun, tetapi mereka tetap terbelakang (miskin). Di sisi lain, Singapura, Kanada, Australia, dan New Zealand –- negara-negara yang umurnya kurang dari 150 tahun dalam membangun — saat ini merupakan bagian dari negara maju di dunia. Mayoritas penduduknya tidak lagi miskin.

Ketersediaan sumber daya alam dari suatu negara juga tidak menjamin negara itu menjadi kaya atau miskin. Jepang mempunyai area yang sangat terbatas. Daratannya 80% berupa pegunungan dan tidak cukup untuk pertanian dan peternakan. Tetapi, saat ini Jepang menjadi raksasa ekonomi nomor dua di dunia. Jepang laksana suatu negara “industri terapung” yang besar sekali, mengimpor bahan baku dari semua negara di dunia dan mengekspor barang jadinya.

Swiss tidak mempunyai perkebunan coklat tetapi sebagai negara pembuat coklat terbaik di dunia. Negara Swiss sangat kecil, hanya 11% daratannya yang bisa ditanami. Swiss juga mengolah susu dengan kualitas terbaik. (Nestle adalah salah satu perusahaan makanan terbesar di dunia). Swiss juga tidak mempunyai cukup reputasi dalam keamanan, integritas, dan ketertiban –- tetapi saat ini bank-bank di Swiss menjadi bank yang sangat disukai di dunia.

Para eksekutif dari negara maju yang berkomunikasi dengan temannya dari negara terbelakang akan sependapat bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam hal kecerdasan. Ras atau warna kulit juga bukan faktor penting. Para imigran yang dinyatakan pemalas di negara asalnya ternyata menjadi sumber daya yang sangat produktif di negara-negara maju/kaya di Eropa.

Lalu, apa perbedaannya?

Perbedaannya adalah pada sikap/perilaku masyarakatnya, yang telah dibentuk bertahun-tahun melalui kebudayaan dan pendidikan. Berdasarkan analisis atas perilaku masyarakat di negara maju, ternyata bahwa mayoritas penduduknya sehari-harinya mengikuti/mematuhi prinsip-prinsip dasar kehidupan sebagai berikut:

  1. Etika, sebagai prinsip dasar dalam kehidupan sehari-hari
  2. Kejujuran dan integritas
  3. Bertanggung jawab
  4. Hormat pada aturan dan hukum masyarakat
  5. Hormat pada hak orang/warga lain
  6. Cinta pada pekerjaan
  7. Berusaha keras untuk menabung dan berinvestasi
  8. Mau bekerja keras
  9. Tepat waktu

Di negara terbelakang/miskin/berkembang, hanya sebagian kecil masyarakatnya mematuhi prinsip dasar kehidupan tersebut.

Kita bukan miskin (terbelakang) karena kurang sumber daya alam, atau karena alam yang kejam kepada kita. Kita terbelakang/lemah/miskin karena perilaku kita yang kurang/tidak baik. Kita kekurangan kemauan untuk mematuhi dan mengajarkan prinsip dasar kehidupan yang akan memungkinkan kita mampu membangun masyarakat, ekonomi, dan negara.

Jika Anda tidak meneruskan pesan ini, tidak akan terjadi apa-apa pada diri Anda! Hewan peliharaan Anda tidak akan mati. Anda tidak akan kehilangan pekerjaan. Anda tidak akan mendapat kesialan dalam 7 tahun. Anda juga tidak akan sakit.

Tetapi jika Anda mencintai negara kita, teruskan pesan ini kepada teman-teman Anda. Biarlah mereka merefleksikan hal ini. Kita harus mulai dari mana saja. Kita ingin BERUBAH dan BERTINDAK!

Dan… PERUBAHAN DIMULAI DARI DIRI KITA SENDIRI!

• • •
 

August 28, 2006

Umar Hasan Saputra

Filed under: Innovation, Cognitive Biases, Current Events, Belief Systems — itpin @ 8:34 am

Beberapa harian nasional beberapa hari ini rajin melaporkan tentang penemuan fenomenal di dunia pertanian oleh Umar Hasan Saputra, seorang alumni IPB. Umar berhasil menemukan nutrisi khusus pengganti pupuk yang telah terbukti mampu meningkatkan hasil produksi pertanian secara signifikan (yang dinamakan Nutrisi Saputra). Pak Ciputra yang melihat presentasi Umar tersebut bahkan menyebutkan sebagai pencapaian yang melebihi pencapaian Einstein dan berpotensi merevolusi dunia pertanian.

Namun sebelum menghargai hasil karya Umar, ada baiknya kita menghargai perjuangan serba sulit yang dilakoninya terlebih dahulu. Seperti yang bisa dibaca di harian Jawa Pos hari ini, Umar sempat ditertawakan rekan-rekannya, gagal dan berpindah laboratorium berkali-kali, harus merogoh kocek sendiri untuk mendanai penelitiannya, hampir putus asa, dan sempat terpaksa berhutang Rp. 500.000,- untuk membeli susu anaknya karena kehabisan uang. Apa yang membuatnya maju terus adalah keyakinan dalam dirinya dan keinginan yang mendalam untuk menyumbangkan sesuatu buat umat manusia.

Beriringan dengan cerita tentang Umar, Kompas juga mengeluarkan berita tentang pemberian penghargaan Fields Medal Awards, ajang penghargaan setaraf Hadiah Nobel untuk para matematikawan. Empat orang mendapatkan penghargaan untuk tahun ini, termasuk Grigori Perelman, seorang matematikawan eksentrik dari Rusia. Hampir sama dengan nasib Umar, Perelman harus merogoh kocek sendiri untuk mendanai penelitiannya. Hasil karyanya juga masih jarang diketahui, bahkan oleh para ahli matematika sekali pun. Perelman sendiri sering dianggap eksentrik dan gila.

Kedua cerita tersebut merupakan gambaran betapa sulitnya menjadi pendobrak paradigma. Kita mungkin sering berasumsi, bila kita memiliki ide yang hebat, orang akan berduyun-duyun memberikan dana atau setidaknya dukungan moral. Kadang hal tersebut memang benar, tetapi lebih sering dukungan yang diharapkan tersebut tidak pernah datang, bahkan dari orang-orang terdekat. Semuanya baru akan datang setelah penemuan tersebut terbukti sukses.

Salah satu penyebabnya adalah daya tolak dari cara pandang lama yang sangat kuat, bahkan di dunia ilmu pengetahuan dan akademis yang konon kabarnya sangat mendewakan rasionalitas. Di sini kita hendaknya selalu mengingat bahwa para ilmuwan sekali pun adalah manusia biasa yang tidak terlepas dari bias-bias kognitif dan dipengaruhi oleh kepentingan pribadi dan keinginan untuk menjaga status quo bidang bersangkutan. Pendewaan terhadap rasionalitas dan berpikir kritis tidaklah menjamin mereka tidak memiliki ikatan emosi terhadap teori yang mereka yakini saat ini.

Sebagai contoh kita bisa melihat bagaimana Royal Society of London mengejek penemuan vaksin cacar oleh Edward Jenner karena penemuan tersebut sangat bertentangan dengan pengetahuan umum yang dianut saat itu. Dan ketika dokter Ignaz Semmelweis dari Hongaria membuktikan bahwa tangan dokter yang tidak disteril merupakan penyebab infeksi mematikan selama kelahiran di Universitas Wina di tahun 1850-an, dia harus kehilangan jabatannya.

Jalan menuju pendobrak paradigma dan inovator tidaklah seindah yang terlihat. Karena itu, rasa cinta terhadap bidang yang ditekuni yang berasal dari panggilan hidup sangat dibutuhkan. Rasa cinta dan panggilan hidup inilah yang merupakan sumber kekuatan dari dalam. Jalan tersebut jelas bukanlah jalan untuk semua orang, terutama bagi mereka yang menyukai status quo atau yang masih belum menemukan panggilan hidupnya.

Bagaimana dengan Anda?

• • •
 
Next Page »