eXTReMe Tracker
if knowledge is power, then passion is the engine, body is the vehicle, and conscience is the driver

Blog ini sudah pindah ke http://www.orangenexus.com

August 31, 2006

Google dan eBay: kawan atau lawan?

Filed under: E-Business, Strategy — itpin @ 8:22 am

Mungkin ada beberapa orang yang terkejut ketika mendengar kerja sama besar yang dijalin oleh Google dan eBay. Dalam kerja sama tersebut, Google akan melayani iklan teks di situs eBay (terutama untuk eBay internasional) dan akan memperkenalkan iklan click-to-call dalam waktu dekat. Pada model click-to-call, pembeli bisa mengklik teks iklan yang memungkinkan mereka langsung berbicara lewat suara dengan penjual. Layanan tersebut akan memakai teknologi Skype yang dimiliki eBay.

Kerja sama tersebut agak mengejutkan karena sebelum ini eBay dan Google sering diposisikan sebagai pesaing berat, terutama setelah Google memperkenalkan Google Base yang dianggap memiliki layanan yang hampir sama dengan iklan penjualan barang yang ditawarkan eBay. Selain itu, Google juga gencar mengembangkan layanan micropayment mereka sendiri untuk menyaingi PayPal yang merupakan milik eBay.

Walau kedua perusahaan tersebut menyadari potensi besar terjadinya konflik di kedua wilayah di atas, mereka tidak menutup mata terhadap potensi keuntungan yang bisa diraup dari kerja sama tersebut. Dengan kata lain, mereka sepakat untuk menjadi pesaing dan pelengkap sekaligus.

Apa yang mereka lakukan sebenarnya bukan hal baru. Yahoo dan Microsoft juga telah mengumumkan kerja sama membuka jembatan instant messenger masing-masing agar para pemakai kedua produk tersebut bisa saling mengirim pesan. Pada saat yang sama, mereka bersaing keras di industri web portal untuk memperebutkan pengunjung dan layanan-layanan lainnya seperti online email. Masih banyak contoh-contoh lain lagi yang tidak bisa disebutkan satu per satu di sini. (Saya yakin, Anda pasti bisa mencari contoh-contoh lainnya.)

Fenomena persaingan sekaligus kerja sama tersebut sebenarnya sudah dikupas oleh Adam Brandenburger dan Barry Nalebuff dalam buku terkenal mereka, Co-opetition. Judul buku ini sekaligus dipopulerkan sebagai istilah untuk melukiskan paradoks “persaingan/kerja sama” ini. Dalam framework Value Net yang mereka kembangkan, perusahaan digambarkan memiliki interaksi dengan empat jenis pemain lainnya, yaitu: pemasok (suppliers), pelanggan (customers), pesaing (competitors), dan pelengkap (complementors). Interaksi tersebut bisa bersifat zero-sum game atau win-win.

Bila pada cara pandang sebelumnya yang dipengaruhi oleh framework Five Forces-nya Michael Porter, perusahaan selalu bersaing dengan pemain-pemain lain dalam membagi keuntungan ekonomis (murni zero-sum game), maka Value Net ini didasarkan atas cara pandang yang berbeda. Memang perusahaan harus tetap bersaing memperebutkan nilai ekonomis dengan para pemain lainnya. Misalnya saja, dalam tawar menawar dengan pelanggan, perusahaan ingin menjual dengan harga setinggi-tingginya dan pelanggan berusaha menekan harga serendah-rendahnya. Hal yang sama berlaku juga dalam negosiasi harga dengan pemasok. Akan tetapi, Brandenburger dan Nalebuff juga meyakinkan kita bahwa perusahaan hendaknya mencari cara-cara kreatif untuk menciptakan nilai ekonomis bersama dengan keempat pihak tersebut.

Cara berpikir yang lebih positif itulah yang mulai disadari dan diterapkan. Di satu sisi, para perusahaan dalam industri sejenis memang bersaing dengan keras, tetapi mereka berusaha bersaing dengan sehat karena mereka menyadari adanya potensi kerja sama suatu ketika nanti. Seperti pada tulisan saya sebelumnya mengenai Nike, kerja sama mutlak dibutuhkan di jaman yang serba tidak pasti ini untuk mempertinggi harapan hidup perusahaan dan spesies, termasuk kerja sama dengan pihak yang selama ini dianggap sebagai pesaing.

(Sebenarnya banyak pedagang kita yang juga sudah mempraktekkan hal itu sejak lama, walau tidak mengerti teorinya. Para pedagang telepon genggam misalnya, sering saling mengambil stok dari penjual lainnya untuk mengurangi resiko menyimpan stok terlalu banyak. Para pemilik situs web juga sering terlibat dalam bentuk promosi reciprocal linking yang bisa dianggap sebagai bentuk co-opetition.)

• • •
 

August 30, 2006

Perubahan dimulai dari diri sendiri

Filed under: Education, Macroeconomics — itpin @ 8:16 am

Tulisan berikut saya dapatkan dari kiriman Sdr. Carlos Patriawan. Karena tersentuh oleh tulisan tersebut dan melihat relevansinya dengan beberapa artikel saya sebelumnya, saya memutuskan memasukkannya di blog ini. Saya tidak tahu sumber asli tulisan ini (kalau ada yang tahu, tolong beritahukan). Hasil terjemahan di bawah adalah berkat jasa Boedi Dayono (Januari 2004).

Selamat membaca…

Perbedaan antara negara berkembang (miskin) dan negara maju (kaya) tidak tergantung pada umur negara itu. Contohnya negara India dan Mesir, yang umurnya lebih dari 2000 tahun, tetapi mereka tetap terbelakang (miskin). Di sisi lain, Singapura, Kanada, Australia, dan New Zealand –- negara-negara yang umurnya kurang dari 150 tahun dalam membangun — saat ini merupakan bagian dari negara maju di dunia. Mayoritas penduduknya tidak lagi miskin.

Ketersediaan sumber daya alam dari suatu negara juga tidak menjamin negara itu menjadi kaya atau miskin. Jepang mempunyai area yang sangat terbatas. Daratannya 80% berupa pegunungan dan tidak cukup untuk pertanian dan peternakan. Tetapi, saat ini Jepang menjadi raksasa ekonomi nomor dua di dunia. Jepang laksana suatu negara “industri terapung” yang besar sekali, mengimpor bahan baku dari semua negara di dunia dan mengekspor barang jadinya.

Swiss tidak mempunyai perkebunan coklat tetapi sebagai negara pembuat coklat terbaik di dunia. Negara Swiss sangat kecil, hanya 11% daratannya yang bisa ditanami. Swiss juga mengolah susu dengan kualitas terbaik. (Nestle adalah salah satu perusahaan makanan terbesar di dunia). Swiss juga tidak mempunyai cukup reputasi dalam keamanan, integritas, dan ketertiban –- tetapi saat ini bank-bank di Swiss menjadi bank yang sangat disukai di dunia.

Para eksekutif dari negara maju yang berkomunikasi dengan temannya dari negara terbelakang akan sependapat bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam hal kecerdasan. Ras atau warna kulit juga bukan faktor penting. Para imigran yang dinyatakan pemalas di negara asalnya ternyata menjadi sumber daya yang sangat produktif di negara-negara maju/kaya di Eropa.

Lalu, apa perbedaannya?

Perbedaannya adalah pada sikap/perilaku masyarakatnya, yang telah dibentuk bertahun-tahun melalui kebudayaan dan pendidikan. Berdasarkan analisis atas perilaku masyarakat di negara maju, ternyata bahwa mayoritas penduduknya sehari-harinya mengikuti/mematuhi prinsip-prinsip dasar kehidupan sebagai berikut:

  1. Etika, sebagai prinsip dasar dalam kehidupan sehari-hari
  2. Kejujuran dan integritas
  3. Bertanggung jawab
  4. Hormat pada aturan dan hukum masyarakat
  5. Hormat pada hak orang/warga lain
  6. Cinta pada pekerjaan
  7. Berusaha keras untuk menabung dan berinvestasi
  8. Mau bekerja keras
  9. Tepat waktu

Di negara terbelakang/miskin/berkembang, hanya sebagian kecil masyarakatnya mematuhi prinsip dasar kehidupan tersebut.

Kita bukan miskin (terbelakang) karena kurang sumber daya alam, atau karena alam yang kejam kepada kita. Kita terbelakang/lemah/miskin karena perilaku kita yang kurang/tidak baik. Kita kekurangan kemauan untuk mematuhi dan mengajarkan prinsip dasar kehidupan yang akan memungkinkan kita mampu membangun masyarakat, ekonomi, dan negara.

Jika Anda tidak meneruskan pesan ini, tidak akan terjadi apa-apa pada diri Anda! Hewan peliharaan Anda tidak akan mati. Anda tidak akan kehilangan pekerjaan. Anda tidak akan mendapat kesialan dalam 7 tahun. Anda juga tidak akan sakit.

Tetapi jika Anda mencintai negara kita, teruskan pesan ini kepada teman-teman Anda. Biarlah mereka merefleksikan hal ini. Kita harus mulai dari mana saja. Kita ingin BERUBAH dan BERTINDAK!

Dan… PERUBAHAN DIMULAI DARI DIRI KITA SENDIRI!

• • •
 

August 28, 2006

Umar Hasan Saputra

Filed under: Innovation, Cognitive Biases, Current Events, Belief Systems — itpin @ 8:34 am

Beberapa harian nasional beberapa hari ini rajin melaporkan tentang penemuan fenomenal di dunia pertanian oleh Umar Hasan Saputra, seorang alumni IPB. Umar berhasil menemukan nutrisi khusus pengganti pupuk yang telah terbukti mampu meningkatkan hasil produksi pertanian secara signifikan (yang dinamakan Nutrisi Saputra). Pak Ciputra yang melihat presentasi Umar tersebut bahkan menyebutkan sebagai pencapaian yang melebihi pencapaian Einstein dan berpotensi merevolusi dunia pertanian.

Namun sebelum menghargai hasil karya Umar, ada baiknya kita menghargai perjuangan serba sulit yang dilakoninya terlebih dahulu. Seperti yang bisa dibaca di harian Jawa Pos hari ini, Umar sempat ditertawakan rekan-rekannya, gagal dan berpindah laboratorium berkali-kali, harus merogoh kocek sendiri untuk mendanai penelitiannya, hampir putus asa, dan sempat terpaksa berhutang Rp. 500.000,- untuk membeli susu anaknya karena kehabisan uang. Apa yang membuatnya maju terus adalah keyakinan dalam dirinya dan keinginan yang mendalam untuk menyumbangkan sesuatu buat umat manusia.

Beriringan dengan cerita tentang Umar, Kompas juga mengeluarkan berita tentang pemberian penghargaan Fields Medal Awards, ajang penghargaan setaraf Hadiah Nobel untuk para matematikawan. Empat orang mendapatkan penghargaan untuk tahun ini, termasuk Grigori Perelman, seorang matematikawan eksentrik dari Rusia. Hampir sama dengan nasib Umar, Perelman harus merogoh kocek sendiri untuk mendanai penelitiannya. Hasil karyanya juga masih jarang diketahui, bahkan oleh para ahli matematika sekali pun. Perelman sendiri sering dianggap eksentrik dan gila.

Kedua cerita tersebut merupakan gambaran betapa sulitnya menjadi pendobrak paradigma. Kita mungkin sering berasumsi, bila kita memiliki ide yang hebat, orang akan berduyun-duyun memberikan dana atau setidaknya dukungan moral. Kadang hal tersebut memang benar, tetapi lebih sering dukungan yang diharapkan tersebut tidak pernah datang, bahkan dari orang-orang terdekat. Semuanya baru akan datang setelah penemuan tersebut terbukti sukses.

Salah satu penyebabnya adalah daya tolak dari cara pandang lama yang sangat kuat, bahkan di dunia ilmu pengetahuan dan akademis yang konon kabarnya sangat mendewakan rasionalitas. Di sini kita hendaknya selalu mengingat bahwa para ilmuwan sekali pun adalah manusia biasa yang tidak terlepas dari bias-bias kognitif dan dipengaruhi oleh kepentingan pribadi dan keinginan untuk menjaga status quo bidang bersangkutan. Pendewaan terhadap rasionalitas dan berpikir kritis tidaklah menjamin mereka tidak memiliki ikatan emosi terhadap teori yang mereka yakini saat ini.

Sebagai contoh kita bisa melihat bagaimana Royal Society of London mengejek penemuan vaksin cacar oleh Edward Jenner karena penemuan tersebut sangat bertentangan dengan pengetahuan umum yang dianut saat itu. Dan ketika dokter Ignaz Semmelweis dari Hongaria membuktikan bahwa tangan dokter yang tidak disteril merupakan penyebab infeksi mematikan selama kelahiran di Universitas Wina di tahun 1850-an, dia harus kehilangan jabatannya.

Jalan menuju pendobrak paradigma dan inovator tidaklah seindah yang terlihat. Karena itu, rasa cinta terhadap bidang yang ditekuni yang berasal dari panggilan hidup sangat dibutuhkan. Rasa cinta dan panggilan hidup inilah yang merupakan sumber kekuatan dari dalam. Jalan tersebut jelas bukanlah jalan untuk semua orang, terutama bagi mereka yang menyukai status quo atau yang masih belum menemukan panggilan hidupnya.

Bagaimana dengan Anda?

• • •
 

August 25, 2006

Dewi Fortuna dan Hitler

Filed under: Learning, Cognitive Biases — itpin @ 8:26 am

Pada musim panas tahun 1930 di sebuah daerah di Jerman, sebuah kecelakaan hampir terjadi antara sebuah mobil penumpang dan sebuah truk trailer besar. Untung saja (atau sialnya?) pengemudi truk tersebut bereaksi cukup cepat untuk menginjak pedal rem. Bila dia terlambat setengah detik saja, mobil penumpang tersebut pasti akan tergilas dan kemungkinan besar para penumpang di dalam mobil tersebut akan tewas.

Apa yang membuat insiden tersebut istimewa adalah fakta bahwa penumpang yang duduk di baris depan (bagian kanan) adalah Adolf Hitler, yang dua tahun kemudian naik di tampuk kekuasaan Jerman. Tanpa disadari supir truk tersebut, responnya yang cepat kemungkinan besar telah ikut mempengaruhi sejarah dan wajah peradaban dunia.

Cerita di atas adalah salah satu contoh bagaimana ‘keberuntungan’ (atau tiadanya keberuntungan) mempengaruhi hidup kita. Harus diakui, sebaik apa pun rencana yang kita susun, faktor keberuntungan memegang peranan yang sangat penting. Dalam bisnis sekalipun, berada di tempat yang benar pada waktu yang benar sering menjadi faktor penentu keberhasilan; sementara mereka yang telah melakukan perhitungan yang njelimet sering gagal karena Dewi Fortuna kebetulan berada di tempat lain. Beberapa riset yang ditujukan untuk mempelajari faktor-faktor keberhasilan sebuah bisnis sering menemukan banyak perusahaan yang ‘kesuksesannya yang tidak bisa dijelaskan’, sebuah kata lain untuk kata ‘luck‘.

Fakta ini seharusnya membuat kita rendah hati dalam menghadapi hidup, karena kita menyadari adanya kekuatan yang jauh lebih besar di luar diri kita yang ikut mempengaruhi jalan hidup kita. Namun pada kenyataannya, manusia sering disesatkan oleh bias yang disebut sebagai fundamental attribution error. Bias ini membuat kita menganggap kesuksesan kita berasal dari kemampuan, ketrampilan, atau keputusan yang kita buat; sementara kegagalan disebabkan karena nasib buruk belaka. Padahal kenyataannya, (hampir) semua kesuksesan dan kegagalan bisa jadi disebabkan oleh pertautan yang sulit diurai antara tindakan kita dan keputusan nasib.

Anda lalu akan bertanya, “Bila nasib ikut menentukan kesuksesan/kegagalan kita, mengapa kita perlu belajar?” Jawaban sederhananya, karena semua kejadian di dunia ini tidak diatur dalam logika biner hitam dan putih, ya dan tidak. Semua kejadian di dunia ini beroperasi secara probabilistik. Fungsi belajar adalah meningkatkan probabilitas kita untuk meraih apa yang kita inginkan dan mengurangi dampak negatif bila nasib memutuskan lain. Dengan kata lain, belajar tidak memastikan Anda akan sukses, tetapi akan meningkatkan probabilitas kesuksesan Anda dibanding mereka yang tidak belajar. Seberapa banyak probabilitas tersebut, tidak ada yang tahu kecuali Yang Maha Kuasa.

Keunggulan probabilitas tersebut juga tidak berarti Anda akan selalu menang melawan mereka yang probabilitasnya lebih kecil. Bila Anda memiliki probabilitas 60-40 dan teman Anda 40-60, dan tangan nasib kebetulan memilih 40% yang dimiliki teman Anda dibanding 60% milik Anda, Anda tetap kalah pada kesempatan tersebut. Probabilitas tersebut hanya akan berpihak pada Anda, bila kejadian yang sama bisa diulang beberapa kali. Semakin sering kejadian yang sama berulang, semakin besar probabilitas tersebut akan membantu Anda. Contoh terjelas bisa dilihat di bursa saham. Para pemain yang memiliki pengetahuan yang lebih baik tidak selalu menang pada setiap transaksi, tetapi dalam jangka panjang, pengetahuan mereka akan membuat mereka menang lebih sering. Anda bisa saja memprotes bahwa tidak semua dari kita diberi peluang sebanyak itu. Tetapi dengan pengetahuan dan sikap yang benar, Anda seharusnya bisa menciptakan peluang-peluang yang lebih banyak. Bukankah Seneca pernah berkata, “Luck is what happens when preparation meets opportunity“?

Walau demikian, ada baiknya untuk selalu diingat: tidak perduli sebanyak apa pun yang telah Anda pelajari, always be humble… Kita hidup di dunia yang tidak pasti dan random.

• • •
 

August 24, 2006

Angsa hitam bernama ‘induksi’

Kita mengenal dua cara untuk menarik kesimpulan atau menyusun argumen: deduksi dan induksi. Dalam deduksi, kesimpulan dianggap benar bila diturunkan dari premis-premis yang benar. Misalnya, bila premis pertama adalah: Semua manusia pasti akan mati, dan premis kedua adalah: Saya adalah manusia, dan kedua premis tersebut adalah benar, maka kesimpulan benar yang bisa ditarik adalah: Saya pasti akan mati.

Sementara itu, induksi tidak bermain dengan kepastian mutlak. Kesimpulan bisa ditarik dari premis-premis yang mungkin benar. Sebagai contoh: bila saya melihat kucing yang berwarna putih hari ini, dan besok melihat lagi kucing putih, dan keesokan harinya lagi melihat kucing berwarna putih, maka saya bisa menarik kesimpulan bahwa semua kucing berwarna putih. Kita bisa melihat bagaimana rapuhnya argumen berdasarkan induksi dibanding argumen deduksi. Singkatnya, bila deduksi bersifat pasti, induksi bersifat probabilistik.

Meski memiliki kelemahan dibanding deduksi, induksi sungguh menggoda karena kemampuannya mereduksi kejadian-kejadian individual menjadi generalisasi tunggal sehingga menghemat kapasitas penyimpanan di otak. Namun induksi mengandung bahaya tersembunyi, karena keterbatasan kemampuan kognitif manusia, kita sering menganggap kesimpulan dari hasil induksi sebagai hasil dari deduksi. Sikap rasialisme, praduga, atau takhayul sering berakar dari kerancuan ini.

Padahal seperti yang kita ketahui, kesimpulan induksi belum tentu benar, sekuat apa pun contoh-contoh kasus yang diberikan. Sebagai contoh, sebelum abad ke-17, orang-orang Eropa hanya pernah melihat angsa berwarna putih. Sebab itu, mereka percaya bila semua angsa harus berwarna putih. Kesimpulan induksi sempat dianggap sebagai kesimpulan deduksi, sampai seorang penjelajah Belanda, Vlaming menemukan spesies angsa hitam, cygnus atratus, di Australia Barat pada tahun 1697.

Penemuan angsa hitam tersebut menjadi contoh yang baik untuk menunjukkan kelemahan induksi. David Hume, seorang skeptis tulen dari Inggris memakai penemuan angsa hitam ini untuk menjelaskan sikap skeptisnya terhadap kebenaran absolut, “No amount of observations of white swans can allow the inference that all swans are white, but the observations of a single black swan is sufficient to refute that conclusion.”

Bagi seorang skeptis tulen seperti Hume, di dunia ini tidak ada kebenaran mutlak, meski yang diperoleh dari metode deduksi sekalipun. Menurut Hume, semua deduksi sebenarnya adalah induksi yang belum menemukan ‘angsa hitam’nya. Bahkan premis yang selama ini diterima sebagai kebenaran, seperti “Semua manusia pasti akan mati” bisa saja terbukti salah. Siapa yang bisa memastikan tidak ada manusia-manusia baka seperti dalam kisah Highlander yang hidup di antara kita? Walau peradaban manusia sudah melahirkan puluhan milyar anak manusia, cukup satu orang manusia baka saja yang dibutuhkan untuk membalikkan kebenaran premis bersangkutan.

Hukum-hukum alam yang diperoleh dari sains juga tidak bisa dianggap memiliki kebenaran kekal. Kita melihat bagaimana Hukum Newton ternyata tidak bisa dipakai pada skala makrokosmos (digantikan oleh teori relativitas Einstein) dan pada skala mikrokosmos (digantikan oleh teori mekanika kuantum). Teori geocentris yang sempat dianut ribuan tahun akhirnya terbukti salah dan digantikan oleh teori heliocentris berkat jasa Nicolaus Copernicus dan Galileo Galilei. Siapa di antara kita yang bisa menjamin baik teori relativitas, mekanika kuantum, dan heliocentris sebenarnya hanya merupakan hipotesa sementara sampai ditemukan lagi teori-teori baru yang lebih mendekati kebenaran absolut?

Dalam mencari kebenaran, kita tentu tidak perlu sampai seskeptis Hume. Skeptisme membutuhkan energi yang besar dan bila kita skeptis terhadap segala sesuatu, kita tidak akan mampu menyisihkan waktu untuk menikmati keindahan hidup. Induksi, dengan segala kekurangannya tetap diperlukan. Tetapi berbekal pengetahuan tentang kelemahan induksi, kita bisa mengurangi resiko yang ditimbulkannya. Misalnya saja, bila Anda percaya bahwa kemarau bulan Juli tidak akan menurunkan hujan, Anda bisa merencanakan piknik kebun pada bulan tersebut. Namun dengan menyadari bahwa kesimpulan tersebut adalah kesimpulan induksi, Anda bisa bersiap-siap bila hujan ternyata turun, misalnya dengan mempersiapkan payung besar atau mencari lokasi yang berdekatan dengan ruang tertutup. Dalam permainan saham, Anda bisa memakai strategi hedging atau metode stop loss untuk mengurangi kerugian bila analisis Anda ternyata salah. Kita juga bisa belajar untuk tidak memandang orang-orang yang berbeda dengan kita (baik dalam segi suku, ras, agama) secara negatif, meski kita sering mendengar cerita-cerita yang mendukung sikap negatif tersebut.

Cara terbaik untuk menjaga keseimbangan di sini adalah mungkin dengan bersikap open-minded dan belajar terus, sambil tetap memegang teguh beberapa kebenaran positif yang membuat hidup kita lebih berarti. Dan tetap ingat juga: Angsa hitam tetap memiliki kecantikannya sendiri, meski berbeda dengan kecantikan angsa putih.

• • •
 

August 23, 2006

‘Survivorship bias’

Filed under: Analytical Thinking, Cognitive Biases — itpin @ 8:13 am

Bayangkan diri Anda menghadiri reuni sekolah. Ketika menerima undangan, Anda sudah memutuskan untuk hadir. Bukankah posisi Anda sekarang sudah cukup membanggakan, sebagai seorang manajer TI di sebuah perusahaan multinasional? Selain itu, Anda terkenal sebagai salah satu blogger ternama dari Indonesia. Pendidikan Anda juga lumayan, paling gak Anda menyandang gelar S1 dan S2 dari universitas terkemuka di Jakarta. Dan Anda punya istri yang kecantikannya bisa dipamerkan ke teman-teman Anda, atau malah lebih baik lagi, ke para mantan pacar yang sempat memutuskan Anda.

Hari reuni tiba. Agak mengherankan juga kenapa yang hadir hanya segelintir. Tetapi gak masalah. Yang penting masih bisa bertukar cerita dengan teman-teman yang hadir. Yup, salah satu mantan pacar Anda juga hadir dan garis-garis ketuaan mulai tampak di matanya. Perutnya juga sudah mulai mengendur. Untung saja kita gak jadian dulunya.

Anda pura-pura tidak melihatnya. O ya, bukankah itu si Anton yang pernah jadi teman dekat Anda? Anda pun mendekatinya untuk bertukar cerita. Melihat Anda, Anton tersenyum. Dalam sekejap, kalian berdua sudah terlibat pembicaraan. Ternyata Anton sudah sukses besar. Dia memiliki beberapa perusahaan, termasuk satu di Cina. Ya, gak masalah. Bukankah setiap orang memiliki takdir yang berbeda? Anda toh sudah puas dengan apa yang Anda miliki. Anda juga masih yakin kondisi Anda lebih baik dibanding mayoritas teman-teman lainnya.

Beberapa teman kemudian bergabung. Satu per satu menceritakan kondisi mereka saat ini. Bambang, setelah menikahi anak pejabat, sekarang memiliki kedudukan yang penting di sebuah bank negara dan sering diajak makan malam Gubernur BI. Ridwan, yang dulu anak badung, ternyata sering bolak-balik Indonesia-US untuk membantu bisnis orang tuanya. Yudi sukses di bisnis Internet dan sekarang aktif bermain saham di Wall Street lewat Internet. Grace, setelah menyelesaikan studi S3 di UCLA, sekarang bekerja sebagai eksekutif GE untuk kawasan Asia Pasifik. Semakin Anda mendengar cerita mereka, semakin Anda merasa diri Anda menciut dan menciut… Bahkan mantan pacar Anda, Rini, ternyata menikah dengan putra seorang konglomerat. Kelihatannya dari semua yang hadir, nasib Anda yang paling memprihatinkan.

Bila Anda pernah berada pada situasi seperti itu, jangan terburu-buru minder. Anda adalah korban dari ‘survivorship bias‘. Dengan kata lain yang lebih awam, semua yang hadir memang sengaja hadir untuk memamerkan diri mereka. Sementara bagi mereka yang tidak memiliki apa pun untuk dipamerkan, memilih untuk tidak hadir (kecuali Anda yang naif, tentunya). Jika Anda ingin mengembalikan harga diri Anda, yakinlah bahwa Anda kemungkinan besar lebih sukses dari semua yang tidak hadir saat itu (kecuali yang sudah hidup enak di luar negeri).

Efek bias ini juga sering kita alami sehari-hari. Bukankah kita sering merasa antrian kita selalu bergerak lebih lambat dari antrian lainnya? (Jawabannya: karena Anda tidak pernah memperhatikan antrian yang bergerak lebih lambat dibanding antrian Anda). Atau, secepat apa pun Anda menjalankan kendaraan, kelihatannya Anda masih terlalu lambat karena selalu ada yang menyalib kendaraan Anda? (Jawabannya: karena Anda tidak akan pernah melihat kendaraan yang bergerak lebih lambat dari kendaraan Anda.)

Perusahaan-perusahaan MLM atau money game juga sering memanfaatkan bias ini. Ketika Anda hadir di forum atau presentasi mereka, Anda akan menjumpai mereka yang telah sukses setelah bergabung dengan perusahaan tersebut. Mereka tidak berpura-pura sukses. Bila Anda meminta mereka menunjukkan account statements bank mereka, Anda akan melihat sendiri buktinya. Rasa percaya diri yang mereka tunjukkan bukanlah hasil latihan akting. Namun, tentu saja Anda harus ingat, mereka yang gagal setelah bergabung, tidak mungkin hadir untuk memamerkan kegagalan mereka. Yang Anda saksikan adalah para ‘survivors‘ yang hanya merupakan sebagian kecil dari sample.

Jadi, bagaimana caranya bersikap terhadap bias semacam ini? Bila Anda menemukan kondisi seperti di atas, cobalah bersikap obyektif dalam menjawab pertanyaan ini: Seberapa besar populasi yang ada dan seberapa besar sample yang mewakili populasi yang hadir? Dalam kasus reuni sekolah, bila jumlah murid sekolah yang diundang adalah 300 orang (total populasi) dan yang hadir hanya 30 orang (sample), Anda harus berhati-hati bahwa yang hadir tidaklah representatif. Tetapi bila jumlah murid yang diundang hanya 40 orang dan yang hadir 30 orang, dan Anda berada dalam situasi di atas, Anda layak depresi setelah merenungi nasib Anda. Sementara dalam kasus seperti MLM, Anda bisa bertanya berapa total anggota yang ada dan berapa dari anggota tersebut yang mendapatkan pendapatan di atas 5 juta, misalnya. Dengan meletakkan semuanya pada perspektif yang lebih obyektif, semoga Anda bisa terhindar dari perangkap ‘survivorship bias‘ ini.

• • •
 

August 22, 2006

Sebuah jendela peluang buat Dell

Filed under: Current Events, Moral & Ethics, Brand Management — itpin @ 8:02 am

Dell akhirnya memutuskan menarik dan mengganti baterai komputer notebook-nya yang bermasalah dengan mengeluarkan biaya sebesar USD 4.1 juta. Banyak posting di komunitas blogging yang menyebutkan Dell sebenarnya sudah menyadari masalah ini sejak 2 tahun sebelumnya. Lebih jauh lagi, video clip yang menggambarkan bagaimana sebuah notebook Dell yang meledak telah beredar luas di Internet.

Pelajaran pertama dari kasus ini: Internet telah menambah kompleksitas kegiatan ‘public relations’ dan ‘crisis management’ perusahaan. Perusahaan tidak bisa lagi bersembunyi di balik perkataan “no comments“, sementara komunitas Internet telah dilengkapi dengan tools sedemikian banyaknya untuk menyuarakan dan menyebarkan pendapat mereka.

Penarikan produk tersebut jelas bukanlah yang pertama dan terakhir. Menurut sebuah artikel di Financial Times yang ditulis oleh Nirmalya Kumar dan Nader Tavassoli dari London Business School (17 Agustus 2006), tahun ini saja setidaknya sudah ada ratusan produk yang ditarik dari pasaran dengan berbagai alasan. Beberapa contoh lainnya yang bisa kita lihat adalah penarikan mikroprosesor Pentium oleh Intel di tahun 1994 yang memaksa Intel merogoh kocek sebesar USD 500 juta. Coca Cola kehilangan 21% pendapatan akibat kasus kontaminasi minuman yang terjadi di Eropa tahun 1999. Bridgestone kehilangan separuh keuntungan akibat kasus Ford-Firestone tahun 2001. Kasus susu beracun yang dialami Snow Brand di Jepang menjatuhkan perusahaan tersebut dari posisi penguasa pasar dalam waktu sangat singkat. Di Indonesia, kita tentu masih ingat dengan kasus obat anti-nyamuk HIT.

Tingginya kompetisi, yang membuat perusahaan harus berpacu dengan waktu dan memangkas biaya, sering memaksa perusahaan mengeluarkan produk tanpa pemeriksaan lebih jauh. Di sisi lain, konsumen juga semakin berpengetahuan dan dilengkapi dengan koneksi Internet. Berbekal kekuasaan baru tersebut, konsumen dengan senang hati mengobok-obok kesalahan sekecil apa pun yang dilakukan oleh perusahaan.

Penarikan produk seperti itu sering memberikan dampak negatif terhadap brand bersangkutan. Riset demi riset membuktikan berita buruk suatu brand akan beredar 3-4 kali lebih cepat dibanding berita baiknya. Namun menurut Kumar dan Tavossoli, product recall semacam itu sebenarnya bisa dilihat juga sebagai peluang. Contoh yang mereka berikan tentu saja kasus penarikan Tylenol oleh J&J. Penarikan produk tersebut dilihat sebagai bagian dari etika perusahaan yang menjunjung tinggi keselamatan konsumen di atas segalanya, termasuk keuntungan perusahaan. Dalam jangka panjang, etika semacam itu justru akan menguntungkan perusahaan.

Untuk mengubah krisis product recall menjadi peluang, kedua profesor marketing tersebut menawarkan formula 4C, yang terdiri dari candid (berterus terang atas kesalahan yang dilakukan perusahaan), contrite (mengambil tanggung jawab atas kesalahan tersebut), compassionate (menunjukkan empati tulus terhadap para korban), dan committed (berkomitmen penuh untuk menyelesaikan masalah yang timbul).

(Hmh… seberapa banyak ‘C’ yang telah dilakukan oleh PT Lapindo Brantas?)

Pelajaran kedua dari kasus ini: hampir semua ancaman bisa dijadikan peluang, tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Belakangan ini beredar wacana untuk mengganti istilah ‘risk management’ menjadi ‘uncertainty management’ yang mencakup ‘positive‘ dan ‘negative uncertainties’. Pemakaian istilah ‘risk’ sering membatasi para pengambil keputusan untuk berfokus pada hal-hal negatif dan melupakan adanya kesempatan untuk menarik manfaat dari ketidakpastian (padahal kita sekarang hidup dalam jaman yang penuh ketidakpastian).

Bagaimana Dell menangani kasus ini dan apa dampak yang ditimbulkan oleh keputusan yang dibuatnya patut kita jadikan pelajaran. Mari kita nantikan perkembangan selanjutnya.

• • •
 

August 18, 2006

Perubahan tanpa krisis

Filed under: Change Management — itpin @ 8:32 am

Pada beberapa posting mengenai manajemen perubahan organisasi, kita melihat bagaimana krisis dibutuhkan untuk menggerakkan perubahan. Tanpa krisis, organisasi akan nyaman di ekuilibrium imajiner yang diciptakannya.

Namun celakanya, biasanya organisasi yang sedang dilanda krisis, walau sangat membutuhkan perubahan, sering sudah kehabisan sumber daya (termasuk dana) yang dibutuhkan untuk berubah. Selain itu, kegagalan upaya perubahan di tengah tipisnya sumber daya organisasi bakal menjerumuskan organisasi ke krisis yang lebih dalam lagi. Fenomena ini yang membuat beberapa pakar dan praktisi manajemen yang merasa perubahan sebenarnya harus dilakukan pada waktu organisasi tersebut masih sehat. Bukankah pada saat itu, organisasi masih memiliki segala sumber daya yang dibutuhkan, dan kalau pun upaya perubahan gagal, resiko yang ditanggung tidak sebesar pada saat organisasi sedang krisis?

Kenyataannya, manajemen perubahan di saat organisasi masih sehat sering lebih sulit. Memang sumber daya masih berlimpah sehingga ruang untuk menolerir kesalahan cukup besar. Akan tetapi, organisasi yang ingin memulai perubahan di situasi seperti ini memiliki beberapa hambatan yang lebih halus, namun sangat kuat.

Kita mulai dulu dari pemimpinnya. Bila organisasi sedang krisis, pemimpin yang berhasil membalikkan keadaan akan dikenang sebagai legenda, dipuji-puji media massa, dan menjadi selebriti dadakan. Bila pun sang pemimpin gagal, orang-orang akan memakluminya. Setidaknya dia masih bisa mundur tanpa menghancurkan kepercayaan dirinya. Sekarang bayangkan bila ada pemimpin yang ingin memulai perubahan di organisasi yang sedang sehat. Bila dia berhasil, orang-orang akan mengatakan “Ya, jelas saja dia berhasil. Toh organisasi itu punya segalanya.” Dan kalau gagal? “Dengan semua yang dimiliki organisasi tersebut, dia tidak mampu melakukannya?” Kecuali untuk pemimpin yang benar-benar memiliki ego yang sehat, umumnya orang yang berada pada situasi demikian akan pergi dengan muka tertunduk.

Hambatan berikutnya tentu saja budaya organisasi dan cara berpikir orang-orang di dalam. Kalau belum rusak, kenapa harus diperbaiki? Perlu diketahui juga bahwa upaya perubahan syarat dengan muatan politis. Para manajer yang memiliki posisi yang enak (dan biasanya memiliki banyak pengaruh) akan mati-matian menggagalkan upaya perubahan. Sementara itu, tanpa dukungan dari mereka, upaya perubahan pasti akan gagal.

Jadi apa yang harus dilakukan? Pertama, tentu saja organisasi bersangkutan harus mampu menemukan pemimpin yang berani mengambil tanggung jawab tersebut. Di dunia bisnis kita mengenal orang-orang seperti Jack Welch yang berani mengobrak-abrik organisasi GE yang masih sehat sewaktu dinakhodai beliau. Salah satu alasan Welch dianggap sebagai pemimpin bisnis terbesar abad ini adalah keberhasilannya mengubah konglomerasi raksasa GE berkali-kali selama karirnya.

Kedua, setelah terpilih, pemimpin tersebut harus mampu menciptakan krisis buatan. Bagaimana caranya? Mari kita lihat krisis sebagai gap antara harapan dan kenyataan. Pada organisasi yang benar-benar mengalami krisis, gap tersebut jelas kelihatan. Nah, pada kondisi organisasi yang sehat, pemimpin yang cerdik harus mampu menaikkan harapan tersebut melalui retorika dan komunikasi yang dilakukannya. Welch, misalnya, langsung meminta semua unit bisnis di bawah GE “harus menjadi nomor 1 atau nomor 2 di industrinya; atau akan dijual atau ditutup“. Bisnis-bisnis GE yang tidak berada di posisi pertama atau kedua di industrinya segera melihat adanya gap besar yang harus ditutup bila tetap ingin menjadi bagian dari keluarga besar GE.

Ketiga, harapan baru tersebut (bisa dalam bentuk visi baru, nilai-nilai baru, atau strategi baru) harus dikomunikasikan secara kontiniu dan diikuti tindakan nyata. Sistem reward and punishment organisasi seharusnya juga disesuaikan dengan pencapaian harapan baru organisasi karena insentif merupakan bagian yang sangat penting untuk merubah perilaku manusia dalam organisasi. Sang pemimpin harus mampu juga bermain politik dengan merangkul sebanyak mungkin manajer yang memiliki pengaruh besar. Di sisi lain, bila ada manajer berpengaruh yang berusaha mensabotase, sang pemimpin harus berani menggeser orang tersebut.

Keempat, upaya perubahan sebesar apa pun harus dibagi menjadi upaya-upaya yang lebih kecil. Setiap kali upaya-upaya kecil tersebut berhasil dilewati, rayakannya. Perayaan tersebut penting, selain sebagai simbol kemenangan, juga untuk memelihara motivasi semua anggota organisasi untuk meneruskan program-program perubahan yang belum selesai.

Ya, itu lah beberapa tips bagi mereka yang cukup berani memulai perubahan di organisasinya yang sedang berada di puncak kejayaannya.

Selamat mencoba dan good luck!

• • •
 

August 17, 2006

Selamat ulang tahun, Indonesiaku

Filed under: Mind & Thinking, Current Events — itpin @ 9:05 am

Telah 61 tahun bangsa ini merdeka, dan apa yang telah kita capai? Dibandingkan dengan tahun 1945, kemajuan yang sudah diperoleh jelas banyak sekali. Kita tentu berhutang budi dengan para pahlawan dan mereka yang pernah memimpin bangsa ini (terlepas dari semua kelemahan dan kekurangan mereka). Namun bagaimana posisi Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain? Ok, mungkin pertanyaan tersebut kurang relevan karena Indonesia mungkin kalah dibanding dengan negara-negara seperti Cina dan India; tetapi masih lebih baik dibanding beberapa negara miskin lainnya.

Pertanyaan yang lebih relevan mungkin seperti ini: “Bagaimana kemajuan Indonesia dibanding dengan potensinya?

Seperti yang saya tulis di beberapa posting sebelumnya, sebenarnya banyak bakat-bakat intelektual dari Indonesia yang mendapat pengakuan dunia. Sumber daya alam kita juga berlimpah (walau bisa juga jadi kutukan). Selain itu, sebenarnya ada satu lagi sumber daya yang memiliki potensi besar, tetapi sampai saat ini belum bisa diwujudkan kegunaannya. Sumber daya tersebut adalah keragaman. Ya, keragaman seperti yang dicita-citakan oleh semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Kita bisa melihat bagaimana bangsa Amerika Serikat yang berhasil menjadi superpower karena kemampuannya memanfaatkan keragaman tersebut dengan menjadikan negaranya sebuah melting pot. Memang keragaman bukanlah satu-satunya alasan keberhasilan negara tersebut. Namun, keragaman jelas merupakan salah satu unsur terpenting. Telah banyak riset dan bukti empiris yang menunjukkan keragaman yang dimanfaaatkan dengan benar mampu meningkatkan kreativitas dan laju inovasi sebuah masyarakat. Cara pandang yang berbeda memaksa kita berpikir lebih kompleks dan keluar dari zona kenyamanan kita. Potensi keragaman tersebut juga sudah dimanfaatkan oleh negara-negara seperti Australia, Kanada, dan beberapa negara Eropa lainnya. Semboyan Malaysia, The Truly Asia, sebenarnya layak juga dipakai Indonesia. Tetapi, sayang sekali, kita kalah cerdik dari negeri jiran kita.

Kita memang tidak bisa menyangkal adanya perbedaan kepercayaan, nilai-nilai, dan cara berpikir masing-masing individu. Pribumi/Non-Pribumi, Islam/Kristen/Hindu/Buddha/Kong Hu Cu, Indonesia Barat/Indonesia Timur, Pria/Wanita, Pengusaha/Pekerja. Semua perbedaan tersebut adalah nyata. Akan tetapi kita bisa memilih persepsi kita dalam memandang perbedaan tersebut. Apakah kita ingin melihat perbedaan tersebut sebagai ancaman terhadap identitas kita, atau kita bisa melihatnya sebagai sarana untuk belajar melihat dunia yang indah melalui cara pandang yang berbeda?

Bagaimana pula dari cara pikir kita? Meski untuk putra/i bangsa yang sudah berpendidikan, cara pikir kita sudah baik, namun masih banyak anak bangsa lainnya yang bahkan tidak bisa membedakan antara kausalitas, korelasi, dan kebetulan. Ketidakmampuan tersebut sering membuat kita tertipu oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab yang menyamarkan diri dalam bentuk pemimpin, pejabat, birokrat, pengusaha, atau malah guru.

Bangsa kita juga tidak memiliki visi kuat yang bisa mengobarkan semangat kita untuk mencapai tujuan bersama. Dalam bahasa teori kompleksitas, kita tidak memiliki attractor. Akibatnya, semua pihak hanya bekerja demi kepentingan diri atau kelompok sendiri — kadang malah dengan mengorbankan kepentingan bangsa. Tanpa adanya visi semacam itu, sebanyak apa pun orang-orang pintar di Indonesia, kita sebagai bangsa hanya akan berjalan di tempat karena energi kita terpencar ke segala arah.

Menyambung tulisan kemarin mengenai poros benua, Jared Diamond berargumen bahwa kemajuan sebuah peradaban disebabkan oleh mudahnya sebuah inovasi (dalam hal ini pertanian) ditularkan ke daerah sekitar. Di jaman ini, kemajuan teknologi sudah menghilangkan banyak hambatan-hambatan geografis tersebut. Namun teknologi belum mampu menghilangkan sekat-sekat psikologis dan tembok-tembok imajiner yang diciptakan oleh pikiran manusia. Kita masih terjebak dengan cara pandang yang terkotak-kotak dan penuh praduga. Kegagalan kita menyadari perubahan dunia membuat kita masih hidup dalam sistem yang diciptakan melalui kerangka berpikir Newtonian yang serba mekanis dan teratur; sementara saat ini kita sebenarnya membutuhkan paradigma yang melihat dunia melalui kaca mata quantum mechanics dan complexity yang menekankan pada fleksibilitas, dialog, dan inovasi.

Kita jelas masih jauh dari potensi kita. Itu kabar buruknya. Kabar baiknya? Kabar baiknya adalah: bangsa kita masih punya banyak ruang untuk bertumbuh. Bila kita berhasil memajukan sistem pendidikan negeri ini, meningkatkan kemampuan berpikir kita, memanfaatkan keragaman, dan membangun visi bersama, tidak ada alasan mengapa kita tidak bisa mengejar negara-negara lain.

Selamat ulang tahun, Indonesiaku!

• • •
 

August 16, 2006

Poros benua dan kemerdekaan Indonesia

Filed under: Reviews — itpin @ 8:37 am

Kita mungkin sering bertanya-tanya, kenapa ada bangsa atau ras yang maju dan ada yang ketinggalan jauh. Penduduk asli seperti Aborigin di Australia, misalnya, masih hidup di jaman batu ketika bangsa Eropa memasuki benua tersebut. Sampai saat ini pun, ada sebagian suku-suku di Indonesia yang kehidupannya tidak jauh beranjak dari kebudayaan jaman batu. Melihat perbedaan tersebut, kita sering berkesimpulan bahwa perbedaan tersebut terletak pada perbedaan kecerdasan yang jauh, seolah-olah umat manusia ini terdiri dari spesies berbeda. Yang lebih disayangkan lagi, banyak yang menjadikan itu sebagai alasan untuk merasa rendah diri sebagai anak bangsa yang dianggap masih ‘terbelakang’.

Apakah kesimpulan tersebut benar? Dalam agama, kita sering diajari bahwa setiap manusia itu sama. Gerakan hak asasi juga mengeluarkan pernyataan yang bernada serupa. Tetapi, apakah ada bukti yang bisa diterima nalar bahwa perbedaan tersebut bukan disebabkan oleh kemampuan individu? Jared Diamond mengambil tantangan tersebut dan hasil penelitiannya dituangkan dalam buku Guns, Germs, and Steel yang menerima banyak penghargaan.

Dalam buku tersebut, Diamond menyimpulkan bahwa perbedaan kemajuan budaya tersebut bukan disebabkan oleh perbedaan kecerdasan. Bahkan dengan nada simpatik, Diamond berargumen bahwa kebudayaan yang dianggap terbelakang sebenarnya memaksa penduduknya untuk lebih kreatif dibanding kebudayaan modern yang dimanja oleh MTV. Apa yang terjadi sebenarnya adalah, kebudayaan yang lebih maju (terutama di Eropa, Afrika Utara, dan Asia - yang disingkat Eurasia) sebenarnya disebabkan karena wilayah tersebut mendukung terbentuknya masyarakat pertanian lebih dahulu. Sementara di bagian lain, karena kondisi geografis, masyarakat pertanian terlambat muncul menggantikan masyarakat pemburu nomaden.

Apa yang istimewa dari masyarakat pertanian ini? Dibanding dengan masyarakat pemburu nomaden, masyarakat pertanian mampu menyimpan surplus produksi mereka. Sebagian dari surplus tersebut bisa dipakai untuk mensubsidi profesi lainnya seperti tukang (yang merupakan cikal bakal kesenian). Masyarakat pertanian yang menetap juga memunculkan kebutuhan akan administrasi dan birokrasi. Karena tidak perlu berpindah-pindah, mereka bisa beranak pinak lebih banyak. Kompleksitas masyarakat semacam itu memaksa munculnya inovasi-inovasi dalam kebudayaan bersangkutan. Menyusul pertanian, peternakan juga muncul. Setelah itu: huruf dan angka. Yang tidak kalah pentingnya, interaksi antara manusia dengan hewan peliharaan mengakibatkan menularnya beberapa penyakit dari hewan ke masyarakat ini. Sepanjang sejarah, proses penularan tersebut memang menimbulkan banyaknya kematian di dalam masyarakat pertanian itu sendiri, namun yang bertahan hidup akhirnya mengembangkan kekebalan tubuh.

Kekebalan terhadap kuman ini lah yang menjadi salah satu alasan superioritas masyarakat pertanian terhadap pemburu ketika kedua kebudayaan tersebut bertemu. Sebagai contoh, ketika bangsa Spanyol berperang melawan bangsa Inca dan Aztec, kado kuman dari kerajaan Spanyol membunuh lebih banyak korban dari pihak lawan dibanding senjata dan mesiu.

Lalu apa yang menyebabkan kontinental Eurasia lebih kondusif untuk masyarakat pertanian? Jawabannya adalah: Geografi. Bila Anda bisa melukiskan peta dunia di kepala Anda, tentunya Anda tahu bahwa benua Eropa dan Asia sebenarnya saling bertautan secara horizontal dari Portugal sampai Jepang. Dengan kata lain, benua ini memanjang secara horizontal. Bandingkan dengan benua Amerika dan Afrika yang memanjang ke bawah (vertikal). Kita mungkin menganggap itu bukanlah hal penting dalam menentukan kemajuan budaya dan masyarakat. Diamond menganggap itu adalah faktor yang paling penting.

Benua yang horizontal (atau menurut istilah Diamond, berporos Timur-Barat) memiliki keunggulan karena daerah-daerah yang terletak bersebelahan secara horizontal kemungkinan besar memiliki iklim yang sama. Selain itu, wilayah-wilayah tersebut memiliki panjang hari yang sama. Iklim dan panjang hari yang sama memungkinkan tanaman yang sukses dikembangkan sebagai bahan pertanian di satu tempat diterima di tempat lain tanpa masalah berarti. Sebagai contoh, gandum dan buah-buahan yang dikembangkan di Mesopotamia dengan cepat menyebar ke Eropa. Sementara untuk benua yang berporos Utara-Selatan, pengembangan di satu wilayah sering mendapat hambatan untuk ditransfer ke tempat lainnya karena adanya perbedaan iklim yang kontras. Varian jagung di Meksiko, misalnya, membutuhkan waktu yang lama untuk tiba di Amerika Serikat.

(Meski Diamond tidak mengambil kepulauan Indonesia sebagai contoh, saya pribadi yakin teori tersebut berlaku juga untuk menjelaskan perbedaan kemajuan di kepulauan Indonesia. Alasan mengapa kebudayaan Jawa lebih maju dibanding kebudayaan dari pulau lain adalah karena alasan geografi. Jawa memiliki poros Timur-Barat dan akses geografis dari ujung timur ke barat hampir tidak menemui hambatan.)

Secara singkat, tidak ada alasan bagi kita untuk memandang rendah bangsa/suku lain yang terbelakang. Dan jelas tidak ada alasan juga bagi kita untuk memandang rendah diri kita sendiri. Perbedaan yang muncul bukan disebabkan oleh superioritas/inferioritas pada tingkatan individu, tetapi karena kondisi geografi yang harus dihadapi para nenek moyang kita. Sedangkan di jaman modern ini, perbedaan yang ada antara negara miskin dan kaya lebih disebabkan oleh sistem dan budaya yang sudah terbentuk. Tentu saja, sebagai manusia yang memiliki akal budi, kita memiliki kemampuan untuk merubah sistem dan budaya yang ada di sekitar kita.

Meski terlalu cepat sehari, ijinkan saya mengucapkan Selamat Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ke-61. Maju terus, bangsa Indonesia!

• • •
 
Next Page »