eXTReMe Tracker
if knowledge is power, then passion is the engine, body is the vehicle, and conscience is the driver

Blog ini sudah pindah ke http://www.nexusnexia.com

August 7, 2006

Microsoft dan Google

Filed under: Innovation, E-Business, Strategy, Column Archive — itpin @ 8:10 am

(Artikel ini juga dipublikasikan di Majalah eBizzAsia, edisi Juli 2006)

Belakangan ini berita persaingan Microsoft dan Google sering menghias media massa. Microsoft, di satu pihak mewakili dari dunia lama, sementara Google mewakili dunia baru yang lahir dari Internet. Google, seperti yang kita ketahui, belakangan ini agresif mengeluarkan produk-produk baru yang bersaing dengan produk-produk Microsoft. Sementara itu, Microsoft sendiri jelas tidak tinggal diam.

Memang menarik melihat dinamika persaingan kedua perusahaan tersebut yang terjadi di beberapa medan pertempuran sekaligus. Akan tetapi, bila kita ingin menarik pelajaran dari langkah-langkah yang diambil kedua belah pihak, kita harus memahami dinamika persaingan tersebut dengan melihat mereka sebagai incumbent dan innovator.

Secara singkat, incumbent didefinisikan sebagai pemegang standar sistem yang berlaku umum saat ini, sementara innovator adalah pihak yang berusaha memperkenalkan standar baru. Tema pertarungan antara incumbent dan innovator sudah sering terjadi di bidang TI seperti IBM dengan mainframe-nya (incumbent) dan PC (innovator), kamera analog (incumbent) dan kamera digital (innovator), atau musik CD (incumbent) dan MP3 (innovator).

Pembagian antara incumbent dan innovator ini penting dipahami karena strategi persaingan dan inovasi kedua belah pihak berbeda sama sekali. Kita akan berusaha memahami strategi persaingan incumbent dan innovator melalui Microsoft dan Google.

Microsoft

Sebagai incumbent, kekuatan Microsoft terletak pada sumber dayanya yang besar. Sumber daya tersebut bisa dalam bentuk uang, pelanggan yang besar, dan juga jaringan kerjasama dengan perusahaan-perusahaan lain. Dengan dana yang besar, Microsoft sebenarnya mampu mengeluarkan produk-produk inovatif. Namun, kenapa Microsoft dianggap tidak seinovatif Google?

Di sini kita melihat paradoks. Apa yang menjadi kekuatan incumbent, justru merupakan kelemahannya pada saat yang sama. Kelemahan utama Microsoft justru terletak konfigurasi sistemnya yang sudah dibangun seefektif dan seefisien mungkin untuk bersaing. Strategi, struktur organisasi, budaya perusahaan, proses, dan cara berpikir Microsoft sudah terbentuk sedemikian rupa untuk bersaing secara efektif dan efisien di industrinya. Konfigurasi tersebut juga terbentuk dari pola-pola hubungan yang sudah diciptakan Microsoft dengan para partner kerja sama dan standar software yang dipergunakan oleh konsumen. Sebagai tambahan, konfigurasi tersebut sudah terasah dan diperbaiki bertahun-tahun melalui persaingan dengan rival-rival Microsoft sebelumnya seperti Apple, IBM, Borland, Novell, Netscape, dan Corel.

Namun begitu aturan persaingan berubah, konfigurasi yang sudah terlanjur terbentuk justru menjadi masalah karena tidak bisa dibongkar begitu saja. Misalnya saja, kebanyakan inovasi baru seperti Google Earth atau Google Spreadsheets tidak menawarkan keuntungan yang besar, paling tidak di tahap-tahap awal. Untuk perusahaan berukuran trilyunan USD, inovasi yang hanya menjanjikan penambahan pendapatan jutaan USD tidak akan dilirik. Biasanya setelah produk baru berkembang pesat, incumbent baru tertarik untuk ikut serta. Namun biasanya sudah terlambat, seperti yang terjadi di medan search engine. Pada saat Microsoft memutuskan membuat search engine sendiri, posisi Google sudah terlalu kuat untuk digeser. Hal yang sama mungkin bakal terulang lagi untuk inovasi-inovasi lain dari Google.

Selain itu, Microsoft tidak bisa begitu saja mengabaikan pelanggannya saat ini. Karena itu, Microsoft mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk memahami keinginan pelanggannya. Fitur-fitur baru ditambahkan dan produk-produk baru yang dibutuhkan pelanggannya diluncurkan. Namun dengan berfokus pada kepentingan pelanggan lama, Microsoft juga kehilangan kontak dengan segmen konsumen baru yang tumbuh bersama Internet. Di sini lah para inovator berkembang subur karena tidak bersaing langsung dengan Microsoft.

Lalu apa langkah terbaik yang harus dilakukan Microsoft? Tentu saja Microsoft harus memanfaatkan kekuatannya dengan masuk ke segmen-segmen pasar baru, terutama di bidang yang belum dikuasai Google. Dalam konteks ini, kita bisa memahami langkah Microsoft untuk mengeluarkan game console XBox. Lalu, Microsoft bisa menetralisir ancaman dari Google dengan mengembangkan layanan yang sama namun dengan memanfaatkan konfigurasi sistem yang dimilikinya saat ini, yang antara lain ditunjukkan dengan produk Windows Live and Office Live yang merupakan kepanjangan dari Microsoft Windows dan Office.

Selain itu, dengan kekuatannya di bidang enterprise software, Microsoft berusaha mengintegrasikannya Office dengan sistem ERP perusahaan. Dengan integrasi semacam itu, Excel bisa dipakai untuk memanipulasi informasi yang diperoleh langsung dari database keuangan, misalnya. Untuk memperkuat cengkramannya di dunia desktop computer, Microsoft juga mencoba menciptakan standar sebanyak mungkin, misalnya dengan memperkenalkan format gambar Windows Media Photo untuk menyaingi format JPEG dan format dokumen baru untuk bersaing dengan PDF.

Tak kalah pentingnya, Microsoft mencoba menyerang sumber uang Google di bidang search engine, walau Microsoft menyadari sulit untuk menang di sini. Karena itu, Microsoft mengembangkan search engine sendiri dan Windows Vista yang dilengkapi fitur search yang terintegrasi dengan mengurangi potensi pendapatan dan sekaligus memecah perhatian Google.

Google

Seperti yang kita lihat, kekuatan Google diperoleh karena perusahaan ini tidak memiliki beban dari konfigurasi sistem masa lalu yang mampu menahannya untuk melakukan inovasi-inovasi baru. Tanpa adanya beban tersebut, Google bebas melahirkan inovasi-inovasi baru, meski inovasi tersebut belum tentu mampu menghasilkan sesuatu yang bernilai tinggi. Karena itu, tidak heran kita melihat banyaknya inovasi-inovasi yang keluar dari Google.

Strategi Google bisa diringkas menjadi dua bagian besar. Pertama, Google tidak berkonfrontasi langsung dengan Microsoft dengan menciptakan medan persaingan baru di mana Microsoft belum ingin atau setengah hati untuk berpartisipasi. Medan perang tersebut adalah layanan web services, di mana aplikasi-aplikasi dijalankan lewat interface Web dan bukan melalui PC. Google dengan cerdik menyadari Microsoft tidak akan berpartisipasi sepenuh hati di sini karena bila Microsoft berpartisipasi di sini, Microsoft akan menghadapi konflik kepentingan dan kemungkinan kanibalisasi terhadap produk-produk Microsoft yang berbasis desktop PC. Di sini, Google memakai strategi judo dengan mengubah kekuatan Microsoft menjadi kelemahannya. Melalui taktik ini, Google berharap bisa memperkokoh posisinya di bidang yang menjanjikan di masa depan.

Strategi kedua adalah berusaha memecah konsentrasi Microsoft dengan mengeluarkan layanan yang langsung menyerang ke pusat kekuatan Microsoft misalnya dengan mengeluarkan Google Spreadsheets yang bersaingan dengan Excel, mengakuisisi Writely yang bersaing dengan Word, atau membuat Gmail dan Gtalk yang berhadapan dengan Hotmail dan MSN Messenger. Google mungkin tidak berharap produk-produk tersebut bakal menggeser dominasi Microsoft. Namun setidaknya, produk-produk tersebut akan memaksa Microsoft membagi perhatiannya.

Pertarungan kedua perusahaan ini sangat menarik karena keduanya merupakan wakil terbaik dari dua dunia yang berbeda. Microsoft adalah incumbent yang sigap, sementara Google dianggap sebagai innovator terbaik di Internet. Dari kasus di atas kita bisa mempelajari bagaimana kedua perusahaan tersebut berusaha mengurangi kekuatan musuh dengan menyerang langsung ke pusat kekuatan musuhnya. Selain itu, mereka berusaha memanfaatkan kekuatan mereka sebaik mungkin. Microsoft memperkokoh posisinya di bidang enterprise software dan memanfaatkan Windows untuk memperkenalkan format-format media baru, dan Google berusaha memperluas layanan search-nya dan memindahkan medan pertempuran ke layanan gratis via web services.

Hasil pertarungan mungkin tidak bisa disimpulkan dalam waktu singkat. Namun, mereka mungkin akan mencapai titik ekuilibirium di mana Microsoft tetap mempertahankan dominasinya di beberapa bidang (terutama untuk enterprise software), tapi harus puas menyerahkan beberapa bidang lainnya kepada Google, terutama untuk search engine dan web services. Microsoft akan tetap berjaya di segmen korporasi sementara Google lebih populer di segmen konsumen individu. Di masa depan, kita pasti tidak bisa melihat Microsoft yang seperkasa saat ini, namun sejalan dengan waktu, Google pasti akan berubah menjadi incumbent yang memiliki masalahnya sendiri.

Penjelasan di atas tentu saja terlalu sederhana dibandingkan dengan apa yang sebenarnya terjadi. Beberapa bagian strategi Microsoft dan Google bisa dilihat dari kerangka strategic real options dan kerangka-kerangka lainnya. Tetapi, setidaknya artikel ini bisa membuat kita mengerti secuil dari dinamika persaingan kedua raksasa tersebut. Bagi pembaca yang ingin membaca artikel lain mengenai persaingan Google dan Microsoft, silakan klik link ini.

• • •
 

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. | TrackBack URI

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.