eXTReMe Tracker
if knowledge is power, then passion is the engine, body is the vehicle, and conscience is the driver

Blog ini sudah pindah ke http://www.nexusnexia.com

August 16, 2006

Poros benua dan kemerdekaan Indonesia

Filed under: Reviews — itpin @ 8:37 am

Kita mungkin sering bertanya-tanya, kenapa ada bangsa atau ras yang maju dan ada yang ketinggalan jauh. Penduduk asli seperti Aborigin di Australia, misalnya, masih hidup di jaman batu ketika bangsa Eropa memasuki benua tersebut. Sampai saat ini pun, ada sebagian suku-suku di Indonesia yang kehidupannya tidak jauh beranjak dari kebudayaan jaman batu. Melihat perbedaan tersebut, kita sering berkesimpulan bahwa perbedaan tersebut terletak pada perbedaan kecerdasan yang jauh, seolah-olah umat manusia ini terdiri dari spesies berbeda. Yang lebih disayangkan lagi, banyak yang menjadikan itu sebagai alasan untuk merasa rendah diri sebagai anak bangsa yang dianggap masih ‘terbelakang’.

Apakah kesimpulan tersebut benar? Dalam agama, kita sering diajari bahwa setiap manusia itu sama. Gerakan hak asasi juga mengeluarkan pernyataan yang bernada serupa. Tetapi, apakah ada bukti yang bisa diterima nalar bahwa perbedaan tersebut bukan disebabkan oleh kemampuan individu? Jared Diamond mengambil tantangan tersebut dan hasil penelitiannya dituangkan dalam buku Guns, Germs, and Steel yang menerima banyak penghargaan.

Dalam buku tersebut, Diamond menyimpulkan bahwa perbedaan kemajuan budaya tersebut bukan disebabkan oleh perbedaan kecerdasan. Bahkan dengan nada simpatik, Diamond berargumen bahwa kebudayaan yang dianggap terbelakang sebenarnya memaksa penduduknya untuk lebih kreatif dibanding kebudayaan modern yang dimanja oleh MTV. Apa yang terjadi sebenarnya adalah, kebudayaan yang lebih maju (terutama di Eropa, Afrika Utara, dan Asia - yang disingkat Eurasia) sebenarnya disebabkan karena wilayah tersebut mendukung terbentuknya masyarakat pertanian lebih dahulu. Sementara di bagian lain, karena kondisi geografis, masyarakat pertanian terlambat muncul menggantikan masyarakat pemburu nomaden.

Apa yang istimewa dari masyarakat pertanian ini? Dibanding dengan masyarakat pemburu nomaden, masyarakat pertanian mampu menyimpan surplus produksi mereka. Sebagian dari surplus tersebut bisa dipakai untuk mensubsidi profesi lainnya seperti tukang (yang merupakan cikal bakal kesenian). Masyarakat pertanian yang menetap juga memunculkan kebutuhan akan administrasi dan birokrasi. Karena tidak perlu berpindah-pindah, mereka bisa beranak pinak lebih banyak. Kompleksitas masyarakat semacam itu memaksa munculnya inovasi-inovasi dalam kebudayaan bersangkutan. Menyusul pertanian, peternakan juga muncul. Setelah itu: huruf dan angka. Yang tidak kalah pentingnya, interaksi antara manusia dengan hewan peliharaan mengakibatkan menularnya beberapa penyakit dari hewan ke masyarakat ini. Sepanjang sejarah, proses penularan tersebut memang menimbulkan banyaknya kematian di dalam masyarakat pertanian itu sendiri, namun yang bertahan hidup akhirnya mengembangkan kekebalan tubuh.

Kekebalan terhadap kuman ini lah yang menjadi salah satu alasan superioritas masyarakat pertanian terhadap pemburu ketika kedua kebudayaan tersebut bertemu. Sebagai contoh, ketika bangsa Spanyol berperang melawan bangsa Inca dan Aztec, kado kuman dari kerajaan Spanyol membunuh lebih banyak korban dari pihak lawan dibanding senjata dan mesiu.

Lalu apa yang menyebabkan kontinental Eurasia lebih kondusif untuk masyarakat pertanian? Jawabannya adalah: Geografi. Bila Anda bisa melukiskan peta dunia di kepala Anda, tentunya Anda tahu bahwa benua Eropa dan Asia sebenarnya saling bertautan secara horizontal dari Portugal sampai Jepang. Dengan kata lain, benua ini memanjang secara horizontal. Bandingkan dengan benua Amerika dan Afrika yang memanjang ke bawah (vertikal). Kita mungkin menganggap itu bukanlah hal penting dalam menentukan kemajuan budaya dan masyarakat. Diamond menganggap itu adalah faktor yang paling penting.

Benua yang horizontal (atau menurut istilah Diamond, berporos Timur-Barat) memiliki keunggulan karena daerah-daerah yang terletak bersebelahan secara horizontal kemungkinan besar memiliki iklim yang sama. Selain itu, wilayah-wilayah tersebut memiliki panjang hari yang sama. Iklim dan panjang hari yang sama memungkinkan tanaman yang sukses dikembangkan sebagai bahan pertanian di satu tempat diterima di tempat lain tanpa masalah berarti. Sebagai contoh, gandum dan buah-buahan yang dikembangkan di Mesopotamia dengan cepat menyebar ke Eropa. Sementara untuk benua yang berporos Utara-Selatan, pengembangan di satu wilayah sering mendapat hambatan untuk ditransfer ke tempat lainnya karena adanya perbedaan iklim yang kontras. Varian jagung di Meksiko, misalnya, membutuhkan waktu yang lama untuk tiba di Amerika Serikat.

(Meski Diamond tidak mengambil kepulauan Indonesia sebagai contoh, saya pribadi yakin teori tersebut berlaku juga untuk menjelaskan perbedaan kemajuan di kepulauan Indonesia. Alasan mengapa kebudayaan Jawa lebih maju dibanding kebudayaan dari pulau lain adalah karena alasan geografi. Jawa memiliki poros Timur-Barat dan akses geografis dari ujung timur ke barat hampir tidak menemui hambatan.)

Secara singkat, tidak ada alasan bagi kita untuk memandang rendah bangsa/suku lain yang terbelakang. Dan jelas tidak ada alasan juga bagi kita untuk memandang rendah diri kita sendiri. Perbedaan yang muncul bukan disebabkan oleh superioritas/inferioritas pada tingkatan individu, tetapi karena kondisi geografi yang harus dihadapi para nenek moyang kita. Sedangkan di jaman modern ini, perbedaan yang ada antara negara miskin dan kaya lebih disebabkan oleh sistem dan budaya yang sudah terbentuk. Tentu saja, sebagai manusia yang memiliki akal budi, kita memiliki kemampuan untuk merubah sistem dan budaya yang ada di sekitar kita.

Meski terlalu cepat sehari, ijinkan saya mengucapkan Selamat Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ke-61. Maju terus, bangsa Indonesia!

• • •
 

4 Comments »

  1. jadi, apa yg harus disimpulkan pada Poros benua dan kemerdekaan Indonesia ?
    :D

    Comment by doeljoni — August 16, 2006 @ 1:08 pm

  2. Iya nih kurang nyambung sama judulnya. Tapi artikenya sendiri menarik banget. Dari dulu saya memang suka berpikir mengap orang-orang Eropa dan Asia terkesan lebih maju. Ternyata ada teori seperti ini toh.

    Comment by ak — August 16, 2006 @ 1:49 pm

  3. Hubungan antar ‘poros benua’ dan ‘kemerdekaan Indonesia’? Hubungan tersebut jelas ada, tetapi saya biarkan pembaca untuk menarik hubungan sendiri. Anggap saja sebagai latihan ‘lateral thinking’ u/ melatih kreativitas :)

    pin.

    Comment by itpin — August 16, 2006 @ 4:05 pm

  4. apa sebenarnya hubungan kebudayaan dengan pertanian, apabila dipandang dari segi ekonomi, sosial, pengetahuannya?

    Comment by makmur — July 9, 2007 @ 12:00 pm

RSS feed for comments on this post. | TrackBack URI

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.