Spamming untuk menyelamatkan jiwa
Bila Anda membuka email account Anda dan menemukan email-email dengan judul seperti: “Explode Your Online Marketing Profits in Just 14 Days!” atau “Create Your Own BLOG Guaranteed to Earn Steady Profits!“, apakah Anda akan membukanya? Atau, Anda akan langsung melabelinya sebagai spam dan langsung dihapus? Pada kebanyakan kasus, saya berani bertaruh, Anda akan langsung menghapus email tersebut tanpa membacanya.
Tapi, apa yang Anda lakukan bila Anda tahu setengah dari keuntungan email tersebut akan diberikan untuk membantu operasi jantung anak-anak kecil di India? Ah, tidak mungkin ada email spam seperti itu! Anda boleh skeptis. Namun, tepat itulah yang dilakukan oleh Dr. Mani Subramanian, seorang dosen kedokteran di India. Pekerjaan sampingan selain sebagai seorang pengajar dan dokter? Dr. Subramanian tidak sungkan-sungkan mengakuinya: email spammer!
Lewat hasil dari spamming yang dilakukannya, dia berhasil mengumpulkan USD 25.000 tahun lalu. Dari jumlah tersebut, sekitar setengahnya disumbangkan ke Children’s Heart Foundation yang didirikannya untuk mendanai operasi jantung bagi anak-anak kecil. Tahun lalu, misalnya, yayasan tersebut telah membiayai 13 operasi. Sang dokter juga mengakui, bila email spam biasa hanya menghasilkan tingkat respons 5%-10%, email spam yang menjelaskan sebagian keuntungan akan dipakai untuk mendanai operasi jantung anak-anak memiliki tingkat respons 30%-40%. Suatu peningkatan drastis!
Apa yang dilakukan sang dokter adalah bentuk kreativitas dan inovasi. Sama seperti pada kisah Alex Tew, Kyle MacDonald, dan Homaro Cantu yang pernah dibahas di blog ini, kreativitas tersebut ditandai dengan pembalikan asumsi yang sebelumnya kita terima sebagai kebenaran. Spamming, yang kita anggap sebagai sesuatu yang berkonotasi negatif semata ternyata bisa juga dipakai untuk menyelamatkan jiwa.
Walau demikian, tindakan dokter tersebut memang masih menyisakan dilema dalam hal etika pemasaran online. Di sini, saya serahkan pada masing-masing pembaca untuk menilainya: Apakah tindakan sang dokter bisa dibenarkan? Pertanyaan tambahan: Bila Anda berada pada posisi sang dokter, apakah Anda akan melakukan apa yang dia lakukan sekarang untuk menyelamatkan anak-anak miskin? Bila Anda adalah orang tua para anak-anak tersebut, apakah Anda akan keberatan dengan bagaimana uang sumbangan tersebut diperoleh? Apa definisi Anda tentang etika/moral dengan mengambil kasus ini sebagai rujukan? Dan sejauh apakah kita harus berkompromi dengan etika yang telah diterima masyarakat?
setengah dari keuntungan? $12,500 untuk dia dapet dari hasil SPAM? sama aja spammer.
the ends doesn’t justify the means.
Comment by enda — September 10, 2006 @ 9:15 am
apapun tujuan akhirnya, spam tetaplah spam yang tidak beretika. apakah anda setuju dengan spam, pak?
Comment by jalansutera — September 11, 2006 @ 2:39 pm
saya setuju dgn enda dan jalansutera. spam adalah spam. saya sendiri bila menerima email dari dokter tersebut pasti juga akan langsung menghapusnya. tetapi bila saya adalah salah satu orang tua dari anak2 yg telah diselamatkan dari hasil spam tsb, saya mungkin akan menganggap sang dokter sebagai dewa penyelamat. yg ingin saya tunjukkan di sini adalah persoalan etika tidaklah bisa dilihat dari kaca mata hitam atau putih belaka, dan karenanya semenjak jaman yunani kuno sampai sekarang, perdebatan di sini belum benar2 usai.
salah contoh paling nyata bisa dilihat di bidang farmasi: apakah tindakan perusahaan farmasi besar untuk melarang produksi obat generik Aids di India dan Afrika adalah tindakan etis? kalau dianggap etis, jutaan penderita di negara miskin pasti tidak bisa mengakses ke obat2an yg bisa memperpanjang hidup mereka. tetapi bila produksi obat generik dibenarkan, industri farmasi besar tidak akan memperoleh sumber pendapatan yg cukup untuk mengembangkan obat2an baru yg bisa menyelamatkan jiwa2 lain karena biaya pengembangan obat2an sekarang ini benar2 membengkak. apa pun pilihan yg dibuat, pasti ada pihak yg merasa dirugikan. masing2 pihak juga memiliki alasan yang bisa dibenarkan secara moral/etika.
karenanya, menurut saya, kita perlu meningkatkan kecerdasan etika kita. kecerdasan etika bukanlah sekedar kemampuan membedakan mana yang etis dan tidak secara absolut, namun juga berarti memiliki kesadaran adanya daerah abu-abu yang sering tidak memiliki jawaban tunggal. saya yakin banyak dari kita yang pernah bergumul dengan persoalan etika yg berada di daerah abu-abu tsb. pembahasan kasus ‘borderline’ seperti di atas diharapkan mampu menjadi salah satu cara u/ meningkatkan kesadaran kita atas rumitnya persoalan etika.
pin.
Comment by itpin — September 11, 2006 @ 3:16 pm
Walau niatnya baik, SPAM adalah SPAM.
Lebih baik dia buat blog konseling online, yang dananya untuk disumbangkan.
Comment by pipit — September 11, 2006 @ 3:23 pm
To Pipit. Lu klamaan hidup di daerah utopia and eforia. hari gini buka blog konseling online mana ada duitnya. Biaya operasi transplantasi jantung rata2 ada di level US$25.000 ga termasuk jantungnya! pake jantung klo ga ada donor terpaksa beli. ada donor masuk waiting list lu pikir ndiri aja matematikanya brapa dana yang kudu keluar. Tuh dokter trying to be a robinhood caranya mungkin salah hasil akhirnya bener, gw setuju ama 3 komentator sebelum lu, apalagi yang nomer 3 jawabannya bijak. idealnya : niat benar, cara benar, Insya Allah ada hasil (kutipan tina Aa Gym -Berbisnis Dengan Hati). Tapi itu kan idealnya , masalahnya dunia ini tuh dah ga ideal lagi. So, face the fact Onta!
Comment by aria — November 18, 2006 @ 9:20 pm