eXTReMe Tracker
if knowledge is power, then passion is the engine, body is the vehicle, and conscience is the driver

Blog ini sudah pindah ke http://www.orangenexus.com

October 31, 2006

Wisata kreativitas

Filed under: Creative Thinking, Learning, Managing People — itpin @ 8:27 am

Bila mendengar kata Ferrari, kebanyakan dari kita akan teringat Formula One Grand Prix, Michael Schumacher, atau mobil mewah buatan Italia. Tidak banyak yang tahu kalau perusahaan dengan karyawan sekitar 3.000 orang ini adalah salah satu perusahaan paling kreatif di Eropa. Kreativitas tersebut tidak saja tercermin pada produk-produknya, tetapi pada cara mereka membangkitkan kreativitas para karyawannya.

Sebagai contoh, Ferrari secara teratur menyelenggarakan program Creativity Club untuk para stafnya. Setiap kali pertemuan klub diselenggarakan, mereka akan mengundang para artis dari bidang seni yang berbeda-beda. Daftar undangan tersebut umumnya terdiri dari para pelukis, pemahat, pemusik, penulis, DJ, fotografer, chef, aktor, dan konduktor orkestra. Selain berbincang-bincang dengan para karyawan Ferrari, para artis tersebut juga diminta mengajarkan ketrampilan mereka melalui kursus-kursus singkat. Para peserta klub tersebut tidak dibatasi. Selain eksekutif dan kalangan manajer, para pekerja pabrik juga boleh ikut serta. Klub ini sangat diminati, karena selain menawarkan nuansa baru, juga memberi kesempatan bagi keluarga besar Ferrari untuk belajar melihat masalah secara berbeda.

Selain Creativity Club, perusahaan berlambang kuda jingkrak ini juga meluncurkan program-program seperti English@breakfast, English@tea, English@lunch, German@breakfast, dan sejenisnya, yang diperuntukkan untuk para karyawan yang ingin belajar bahasa asing dalam suasana santai.

Dari Ferrari, kita beralih ke perusahaan otomotif lainnya, Nissan. Ketika para staf Nissan Design International (NDI) mengalami kebuntuan di tengah-tengah proyek merancang model Pathfinder, wakil presiden NDI kala itu, Jerry Hirshberg, membuat keputusan yang mencengangkan. Dia mengajak seluruh staf, termasuk para teknisi dan sekretaris, untuk … menonton film Silence of the Lambs. Nonton setelah jam kerja selesai? Tidak, mereka menonton di siang hari. Hasilnya? Menurut penuturan Hirshberg, setelah acara tersebut, ketegangan di perusahaan tersebut berkurang perlahan-lahan. Dalam beberapa hari, ide-ide berdatangan dan masalah-masalah berhasil diselesaikan.

Cara Pixar lain lagi. Perusahaan pembuat film animasi 3 dimensi ini mendirikan Pixar University. Universitas ini menjalankan kelas-kelas, event, atau workshop yang berkaitan dengan pembuatan film animasi 3 dimensi, termasuk kelas-kelas melukis, memahat, atau creative writing. Setiap karyawan diharapkan menghabiskan 4 jam setiap minggu di universitas tersebut untuk terus mengembangkan diri dan kreativitas mereka, dan mereka dianjurkan mengambil kelas-kelas yang tidak berhubungan dengan pekerjaan mereka.

Ferrari, Nissan, dan Pixar adalah dua contoh perusahaan yang benar-benar serius mengembangkan dan memanfaatkan kreativitas staf mereka. Program-program yang kadang kelihatannya tidak berhubungan dengan pekerjaan tersebut justru sering membawa para staf belajar melihat pekerjaan dan masalah mereka dengan kaca mata lain. Ketiga perusahaan tersebut memahami pentingnya pemberian stimulus acak pada otak-otak yang bekerja di sana agar mampu melahirkan ilham-ilham kreatif.

Upaya memperoleh stimulus acak tersebut bisa juga dilakukan dengan melakukan benchmarking ke perusahaan lain. Akan tetapi, benchmarking paling efektif bukanlah dengan mengunjungi perusahaan pada industri yang sama atau yang masih berkaitan. Pilihlah industri yang berlainan. Perusahaan manufaktur yang ingin meningkatkan hubungan dengan distributornya bisa belajar dari divisi customer service hotel bintang lima atau call center perusahaan kartu kredit. Perusahaan minuman ringan yang ingin memastikan distribusinya selalu lancar bisa melakukan jiarah ke kantor FedEx atau UPS. Belajar dari industri yang tidak berhubungan tersebut lebih sering memberikan ide-ide kreatif.

• • •
 

October 30, 2006

Merayakan kegagalan cerdas

Filed under: Managing People, Innovation — itpin @ 8:55 am

Bagi Anda yang bekerja di perusahaan, kemungkinan besar Anda akan berusaha sekuat mungkin melakukan kesalahan yang bisa merugikan perusahaan. Kesalahan, kadang sekecil apa pun, bisa membuat kita menerima umpatan dari boss. Perusahaan tentu saja memiliki alasan yang sangat masuk akal untuk tidak mentolerir kesalahan, karena bagaimana pun, perusahaan memang didirikan untuk menghasilkan keuntungan dan menghindari kerugian.

Hal yang sama juga berlaku bila Anda adalah pengusaha atau pemilik perusahaan. Kegagalan bukanlah sesuatu yang Anda harapkan. Selain harus menghadapi celaan dari diri sendiri, Anda mungkin juga harus menghadapi cemoohan (atau kadang-kadang, lebih parah lagi, rasa kasihan) dari orang-orang lain. Sebaliknya, kita akan berbangga dengan keberhasilan dalam bentuk apa pun, tidak perduli bagaimana kita mencapainya.

Hukuman terhadap kegagalan ini, walau sering mampu menjadi motivator yang kuat untuk berhasil, namun ternyata bisa menjadi musuh besar inovasi. Mengapa? Karena untuk menciptakan satu inovasi yang berhasil sering dibutuhkan banyak kegagalan. Bukankah Thomas A. Edison sendiri baru berhasil menciptakan bola lampu yang mampu bertahan lama setelah melakukan ribuan ‘kesalahan’? Tanpa mentalitas seperti Edison, kita tidak mungkin bisa menghasilkan keberhasilan besar.

Kecenderungan orang-orang Asia yang menilai kegagalan semata-mata dari kaca mata negatif merupakan salah satu alasan mengapa kontinental ini jarang menghasilkan karya-karya inovatif. Wiraswasta yang takut dicemooh karena gagal lebih memilih bidang usaha yang sedang populer saat ini. Ketika bisnis factory outlet lagi marak, semua orang berpikir untuk membuka factory outlet. Ketika bisnis telepon genggam lagi booming, semua orang tertarik untuk masuk ke bidang tersebut, tidak perduli apakah mereka menyukainya atau tidak. Mentalitas semacam itu membuat kita lebih banyak menjadi imitator. Padahal, meski kelihatannya cara ini aman, namun dalam jangka panjang bila banyak orang berpikiran sama, bisnis semenarik apa pun akan overcrowded sehingga pangsa pasar dan margin keuntungan menyusut.

Untuk para pekerja di perusahaan, ketakutan untuk melakukan kesalahan dalam bentuk apa pun, membuat kita tidak berani mengajukan ide-ide inovatif karena adanya kemungkinan ide-ide tersebut tidak jalan (baca juga: Ketakutan, Kreativitas, dan Inovasi).

Tentu saja, ada kesalahan yang harus dihukum. Tetapi, perusahaan harus bijak membedakan antara kesalahan tolol semacam itu dengan ‘kegagalan cerdas’. Kegagalan cerdas adalah kegagalan yang memang sudah diprediksikan dari awal mungkin akan terjadi. Namun, langkah tersebut tetap dilakukan karena adanya peluang untuk berhasil juga. Katakanlah perusahaan Anda meluncurkan sebuah produk baru. Melalui analisis awal, Anda sudah tahu produk ini memiliki kemungkinan sukses 70% dan kemungkinan gagal 30%. Anda mungkin sudah mendaftarkan syarat-syarat apa yang mesti dipenuhi agar produk ini sukses, seperti kondisi ekonomi yang kondusif atau peraturan pemerintah yang mendukung. Tetapi setelah diluncurkan ternyata kondisi ekonomi tiba-tiba memburuk dan produk tersebut gagal total di pasaran. Dalam kasus ini, kegagalan tersebut bukanlah akibat dari kesalahan tolol. Menghukum para manajer yang bertanggung jawab atas peluncuran produk tersebut bukanlah langkah bijak karena akan membuat orang-orang dalam perusahaan Anda tidak berani mencoba lagi kelak.

Kadang kegagalan semacam itu tidak bisa dianggap kegagalan sepenuhnya juga, selama perusahaan bisa menarik pelajaran. Untuk setiap kegagalan seperti itu, perusahaan hendaknya melakukan semacam after action review (AAR) untuk mencari sebab-sebab kegagalan tanpa berusaha mencari kambing hitam. Fokuskan pencarian pada sistem atau asumsi-asumsi yang dipakai. Beberapa perusahaan yang secara disiplin melakukan AAR semacam itu seperti Hewlett-Packard mampu menarik manfaat besar, karena kegiatan seperti itu mampu mengurangi tingkat kegagalan untuk peluncuran produk berikutnya tanpa membuat para staf takut mencoba lagi.

Solusi yang gagal di satu tempat kadang ternyata bisa berhasil di tempat lain. Pada tahun 1980an, IBM mengembangkan microchip yang dibuat dari kombinasi germanium dengan silikon biasa yang mampu mengantar listrik dengan lebih efisien. Rencana untuk memakai produk tersebut ke komputer mainframe gagal setelah teknologi microchip yang lebih bagus keluar. Gagal? Tunggu dulu. Para insinyur proyek ini tidak menyerah. Mereka merancang ulang microchip ini untuk keperluan lain: telepon genggam dan peralatan wireless lainnya. IBM akhirnya berhasil menangguk penghasilan tambahan milyaran USD berkat teknologi ini.

Berkah yang didapat IBM ini hanya mungkin terjadi bila para insinyur (staf lainnya) mendapat kebebasan untuk belajar dari kegagalan mereka tanpa merasa disalahkan. Tidak semua kegagalan atau kesalahan adalah negatif. Membabat kesalahan tanpa pandang bulu bisa membuat Anda membabat peluang keberhasilan di masa depan juga.

• • •
 

October 28, 2006

Teknik berpikir kreatif: Analisis morfologis

Filed under: Creative Thinking — itpin @ 8:03 am

Lewat artikel-artikel sebelumnya, Anda telah diperkenalkan dengan lima teknik berpikir kreatif. Teknik keenam ini berbeda dengan kelima teknik sebelumnya, terutama dalam hal jumlah ide yang bisa dihasilkan. Bila teknik-teknik sebelumnya hanya bisa menghasilkan jumlah ide yang terbatas, teknik morfologis ini menjamin Anda bisa mendapatkan ribuan (atau malah jutaan) ide dalam waktu singkat. Untuk mendapatkan jumlah ide sebanyak itu, teknik ini bisa dipakai bersama-sama dengan teknik-teknik lain.

Karena tekniknya cukup sederhana, kita langsung menuju ke contohnya tanpa perlu berteori panjang lebar:

Katakanlah Anda ingin merancang bola lampu baru. Sejak lama, barang ini tidak mengalami inovasi yang berarti. Jadi, bagaimana membuat bola lampu yang lebih inovatif? Dengan metode ini, langkah utama adalah mendaftarkan atribut-atribut, fitur-fitur, atau fungsi bola lampu tersebut. Misalkan saja daftar tersebut terdiri dari: bentuk lampu, warna permukaan, warna cahaya, bahan permukaan, fungsi, cara pemasangan, sumber energi, dan cara menyalakan (silakan menambah yang lain sebagai latihan).

Langkah berikutnya adalah membuat semacam tabel dan masing-masing atribut yang didaftarkan di atas menjadi judul kolom. Lalu untuk masing-masing kolom (atribut), kita menuliskan sebanyak mungkin ide yang bisa Anda pikirkan sebagai parameter untuk kolom bersangkutan. Sebagai contoh, untuk kolom ‘bentuk lampu’, kita bisa menulis: tabung, bulat seperti bola, elips, segi tiga, segi empat, poligon, berbentuk donut, dlsb… Di sini, kita bisa memakai teknik-teknik lain untuk menghasilkan ide segila mungkin. Pada kelompok, masing-masing anggota bisa menulis pada selembar kertas terlebih dahulu, baru kemudian hasilnya dikumpulkan untuk menjamin jumlah ide yang lebih banyak.

Lakukan hal yang sama untuk setiap atribut. Sebagian contoh akan diberikan di bawah ini:

  • Bentuk lampu: (lihat di atas)
  • Warna permukaan: bening, putih susu, kuning, hijau, merah, …
  • Warna cahaya: putih, kuning, merah, biru, …
  • Bahan permukaan: kaca, plastik, …
  • Fungsi: penerang ruangan, hiasan, mainan, untuk dikoleksi, lampu sirene, lampu darurat, untuk sekali pakai, untuk mengusir nyamuk, …
  • Cara pemasangan: diputar, ditekan, langsung dicolok, tidak usah dicolok (memakai sistem wireless), dengan sistem refill (bola lampu tidak usah diganti, yang diganti hanya isi di dalamnya)…
  • Cara menyalakan: pakai switch on/off, dengan remote control, dengan mendeteksi suara, dengan mendeteksi bayangan, dengan SMS, …
  • Sumber energi: PLN, baterai, komputer (lewat USB), …

Setelah selesai, barulah lakukan analisis untuk melihat apakah ada ide yang tidak bisa dijalankan, misalnya karena hambatan teknologi atau regulasi. Tetapi lakukanlah dengan hati-hati. Kadang apa yang dilihat tidak mungkin ternyata sangat mungkin. Seperti contoh, sekilas kelihatannya ide untuk membuat bola lampu wireless berada di luar jangkauan teknologi saat ini. Namun bila dipikirkan lebih lanjut, ide tersebut bisa (dan sudah) diwujudkan, yaitu dengan mengisi baterai lampu terlebih dahulu, dan setelah itu lampu tersebut bisa dibawa secara portabel.

Bila ide-ide yang benar-benar tidak mungkin tersebut sudah dieliminasi, Anda sekarang bisa bebas mengkombinasikan ide-ide yang ada. Setelah itu, coba pikirkan apakah produk tersebut bisa memenuhi keinginan/kebutuhan konsumen tertentu? Bagaimana dengan bola lampu berbentuk poligon yang portabel dan bisa dinyalakan dengan remote control? Mungkin bola lampu seperti itu bisa dipakai untuk hiasan rumah-rumah mewah? Sebagai mainan anak-anak? Atau sebagai bahan koleksi?

Tentu saja tidak semua kombinasi ide-ide tersebut bisa dipakai. Tetapi seperti teknik-teknik sebelumnya, dari sekian ribu kombinasi ide yang ada, dipastikan Anda akan menemukan beberapa yang layak untuk dicoba. Meski Anda belum berhasil menemukan ide yang sesuai, anggaplah sebagai latihan. Dengan berlatih teknik ini (dan teknik-teknik lain) berulang kali, pikiran Anda akan semakin terbiasa mencari hubungan-hubungan yang selama ini luput dari perhatian Anda. Tanpa Anda sadari, Anda akan menjadi semakin kreatif.

Seperti yang sudah Anda lihat, tidak dibutuhkan kejeniusan seperti Einstein untuk menjadi kreatif. Memang ada sebagian orang yang dilahirkan dengan bakat yang mampu melihat dunia dengan mata berbeda, namun tidaklah berarti ketrampilan seperti itu tidak bisa dipelajari. Mozart adalah jenius musik, tetapi Anda tidak perlu menjadi Mozart untuk menjadi pemusik. Yang dibutuhkan adalah motivasi dan 3 hal lainnya, yaitu:

Latihan, latihan, dan latihan.

• • •
 

October 27, 2006

Teknik berpikir kreatif: Analogi

Filed under: Creative Thinking, Innovation — itpin @ 8:38 am

Pada tahun 1988, ketika Woody Norris masih menjalankan American Technology Corporation, sebuah perusahaan yang khusus bergerak di bidang penemuan produk-produk baru, dia memimpikan membuat sistem audio yang tidak memerlukan speaker. Mengapa speaker tidak dihilangkan saja? Bagaimana bila saya bisa menghasilkan suara di tengah-tengah udara tanpa bantuan speaker?

Untuk menyelesaikan masalah tersebut, Norris mencari masalah lain yang pernah manghadapi situasi serupa. Dia mencari sebuah analogi. Akhirnya, dia menemukan analogi tersebut dari dunia seni lukis. Seorang pelukis umumnya hanya membekali dirinya dengan beberapa jenis warna. Warna-warna tersebut dicampur untuk menghasilkan warna-warna lain. Dia segera melihat bagaimana konsep pencampuran tersebut menawarkan analogi yang sangat cocok dengan masalah yang sedang dihadapinya. Bagaimana bila saya mencampur beberapa jenis suara di udara? Apakah akan menghasilkan suara baru? Bila saya mencampurkan dua suara yang tidak terdengar, bisakah dihasilkan suara yang terdengar? Bila alat elektronik seperti TV bekerja dengan prinsip pencampuran warna, mengapa alat elektronik untuk mencampur suara tidak bisa diciptakan?

Ketika dia memulai percobaan-percobaan awal untuk membuktikan analogi tersebut, dia gagal. Tidak ada suara yang muncul. Setelah mencoba beberapa lama lagi, suara-suara kecil mulai terdengar, walau masih jauh dari harapan. Norris yang percaya akan analogi tersebut terus berupaya.

Akhirnya, setelah mencoba selama 7 tahun dengan membuang biaya sebesar USD 40 juta, Norris berhasil. Produknya, sistem HyperSonic Sound (HSS) adalah sebuah alat yang menerjemahkan suara dari CD atau sistem audio lainnya ke gelombang-gelombang ultrasonik. Gelombang yang tak terdengar oleh telinga manusia itu dimasukkan ke sebuah electronic mixer yang lalu mengirimkannya ke udara. Ketika dua atau lebih jenis gelombang suara ultrasonik tersebut bertemu, suara yang jernih dihasilkan.

Tidak itu saja. Norris juga memakai analogi kedua untuk menghasilkan produk HSS-nya. Analogi kedua tersebut diperoleh dari lampu senter atau sinar laser. Semakin tinggi intensitas sebuah sinar, fokusnya semakin tajam. Norris melihat hal yang sama juga berlaku untuk gelombang ultrasonik. Semakin tinggi frekuensi gelombang suara, semakin fokus arahnya. Lalu di mana aplikasi gelombang ultrasonik yang super fokus seperti laser itu? Norris membayangkan suara yang dihasilkan HSS tersebut mampu diarahkan ke orang-orang tertentu saja. Misalnya di dalam mobil, masing-masing tempat duduk akan bisa memutar lagu yang berbeda tanpa penumpangnya harus memakai headphone. Sistem tersebut bisa juga dipakai untuk vending machine yang bisa berbicara dengan orang-orang yang berdiri di sekitarnya tanpa terdengar oleh orang yang berdiri lebih jauh. Atau, polisi bisa memakainya untuk memerintahkan seorang buron untuk menyerah di tengah kerumunan tanpa harus menimbulkan kepanikan massal.

John Vaught dari HP juga memakai analogi untuk menghasilkan printer inkjet yang lebih efisien dan efektif. Di suatu pagi di tahun 1979, ketika Vaught sedang membuat kopi, dia tiba-tiba tertarik melihat lebih dekat cara kerja alat otomatis pembuat kopi. Dia mengamati betapa cepatnya alat tersebut memanaskan air, dan bertanya-tanya apakah prinsip yang sama bisa dipergunakan untuk memanaskan tinta printer. Analogi tersebut membawanya menghasilkan salah satu mesin uang paling berharga untuk perusahaannya.

Pada contoh-contoh di atas, kita melihat bagaimana para insan-insan kreatif tersebut berusaha mencari solusi terhadap masalah baru melalui analogi dari solusi yang sudah ada di bidang lain. Variasi lain adalah mengambil solusi yang sudah ada dan mencari masalah baru untuk diselesaikan. Leonard M. Greene, seorang penemu terkenal memberikan contoh untuk variasi ini. Untuk mengukur jarak, arsitek sering menggunakan alat pengukur jarak beroda. Alat tersebut dilengkapi dengan counter yang akan menghitung jumlah putaran roda dari titik A ke titik B. Bagaimana membawa solusi ini ke tempat lain? Bagaimana dengan memasang counter yang sama pada tas golf yang diberi roda? Dengan solusi ini, seorang pemain golf bisa mengukur berapa jarak pukulannya dengan gampang.

Analogi, atau metafora, merupakan salah satu alat bantu yang efektif untuk menghasilkan ide-ide kreatif dan inovasi. Cara ini cukup efektif karena mengambil dari solusi yang sudah berhasil dijalankan di tempat lain. Benchmarking yang sering dilakukan perusahaan juga termasuk dalam pemakaian analogi ini, terutama bila benchmarking yang dilakukan di industri yang berlainan sama sekali. Sebagai contoh, Southwest Airlines belajar bagaimana meningkatkan mengurangi waktu pemberhentian pesawatnya dengan melihat bagaimana tim balap mobil melakukan pit stop. Motorola belajar dari Domino’s Pizza untuk mengurangi waktu produksinya. Banyak lagi contoh lain bagaimana benchmarking di industri yang berbeda mampu menghasilkan ide-ide kreatif yang jarang terpikirkan sebelumnya. Tentu saja, analogi yang paling sering dipakai adalah dengan meniru solusi dari alam (baca juga: Biomimicry: Belajar dari Alam).

Bagaimana dengan Anda? Bisakah Anda menemukan analogi untuk masalah yang sedang Anda hadapi?

• • •
 

October 26, 2006

Teknik berpikir kreatif: Berangan-angan

Filed under: Creative Thinking — itpin @ 8:23 am

Alkisah, ada seorang raja yang kaya raya. Uang emasnya menggunung sehingga dia mampu membeli apa pun yang diinginkannya. Suatu hari, sang raja memutuskan melakukan perjalanan keliling ibu kota dengan berjalan kaki. Rombongan pun berangkat sesuai jadwal. Namun di tengah perjalanan, raja tersebut mulai mengeluh karena kakinya yang telanjang merasa sakit. Tidak tahan berjalan lebih lanjut, sang baginda memerintahkan rombongan untuk pulang. Sesampainya di istana, dia langsung mengumpulkan para menteri dan memerintahkan mereka untuk melapisi seluruh jalan-jalan di ibu kota dengan kulit asli agar lain kali dia melakukan perjalanan yang sama, kakinya tidak akan kesakitan.

Sang Perdana Menteri menyadari kekayaan sang raja memang sanggup menutupi biaya proyek tersebut. Tetapi, itu jelas membutuhkan biaya yang besar. Dengan sedikit bantuan teknik berpikir yang dipelajarinya di salah satu blog, dia akhirnya berhasil mendapatkan satu solusi kreatif. Dia berkata, “Baginda, daripada mengeluarkan biaya besar untuk melapisi jalan-jalan dengan kulit, mengapa Baginda tidak memotong kulit seukuran kaki Baginda dan meletakkannya di bawah kaki Baginda setiap kali berjalan-jalan?” Usul murah meriah yang menjadi asal muasal sandal dan sepatu tersebut langsung disetujui dengan suara bulat.

Apa hubungannya cerita dongeng di atas dengan teknik berpikir kreatif? Dongeng tersebut menjelaskan inti dari teknik berikutnya, yaitu berangan-angan. Pada teknik ini, pertama-tama kita membiarkan pikiran kita bebas berangan-angan menjadi siapa pun yang kita inginkan. Anggap saja kita adalah raja tersebut, atau Bill Gates, atau Madonna, atau siapa pun yang lebih kaya, lebih pintar, dan lebih baik dari kita. Lalu, ajukanlah pertanyaan pertanyaan berikut: “Apa yang bisa dilakukan orang tersebut untuk menyelesaikan masalah ini?”

Jawaban dari pertanyaan tersebut sering terlalu mahal, dan tidak praktis (seperti solusi sang raja pada cerita di atas). Karena itu, kita perlu menempuh langkah kedua yaitu menerjemahkan solusi tersebut ke solusi yang praktis, murah, dan gampang diterapkan (seperti solusi sang PM), tapi tetap mampu memberikan manfaat yang sama.

Salah satu contoh pemakaian teknik ini diberikan oleh Barry Nalebuff dan Ian Ayres dalam buku mereka “Why Not?” Bayangkan Anda adalah Donald Trump. Apa yang akan Anda lakukan untuk menyaring penelepon yang tidak Anda kehendaki? Bagi Donald Trump yang kaya raya, dia bisa saja mempekerjakan seorang asisten pribadi untuk menyaring seluruh telepon yang masuk. Tetapi solusi tersebut tidak bisa dijalankan oleh kebanyakan orang. Bagaimana bila asisten pribadi tersebut diganti dengan solusi otomatis, misalnya telepon yang dilengkapi dengan daftar nomor telepon yang bisa menerobos masuk setiap saat? Bila nomor telepon Anda tidak berada dalam daftar tersebut, Anda harus memasukkan kode 4 digit yang diberikan oleh Trump. Kelihatannya ide yang menarik dan bisa diterapkan. Tetapi, jangan berhenti dulu sampai di sini. Coba pikirkan apakah solusi ini memiliki efek samping yang lain bila diterapkan secara luas? Bila semua telepon dilengkapi dengan fitur tersebut, berapa banyak kode 4 digit yang harus kita hapal?

Solusi yang lebih mudah adalah mengganti kode 4 digit tersebut dengan angka “0″. Namun sebelum angka “0″ tersebut bisa ditekan, penelepon harus mendengar rekaman suara yang memastikan mereka tidak salah sambung atau hanya sekedar ingin menawarkan sesuatu. Rekaman suara tersebut bisa seperti ini, “Halo, di sini rumah keluarga Notowijoyo. Bila Anda tidak salah sambung atau bukan salesman yang ingin menawarkan produk, silakan tekan angka nol untuk melanjutkan. Bila Anda tidak termasuk kriteria di atas dan tetap menekan angka nol, jangan salahkan kami bila hubungan telepon Anda akan diputus di tengah-tengah pembicaraan.” Ya, tentu saja tetap ada salesman nekat yang dengan gigih akan menekan angka nol tersebut, tetapi jumlah tersebut pasti menurun. Lagi pula, bila mereka melakukannya setelah diberi peringatan, tidak ada yang bisa menyalahkan Anda bila Anda dengan nekat memutuskan hubungan telepon dengan nada tinggi.

Variasi lain dari teknik di atas adalah dengan mengajukan pertanyaan “Mengapa tidak?” Bila ada yang mengatakan sesuatu tidak mungkin dilakukan, tanyakan saja “Mengapa tidak?” Pertanyaan ini, bila dilakukan dengan sungguh-sungguh, bisa memacu pikiran kreatif kita untuk menemukan jawaban yang tidak terpikirkan sebelumnya. Memang tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan teknik seperti ini. Hambatan teknologi adalah salah satu penghalang. Tetapi, teknik ini mampu membawa kita lebih dekat ke solusi ideal yang jarang dipikirkan sebelumnya.

Cobalah teknik ini. Selain mampu membantu menyelesaikan masalah Anda, teknik ini bisa membuat Anda menjadi raja atau siapa pun yang Anda inginkan, walau hanya sejenak dan hanya dalam angan-angan.

• • •
 

October 25, 2006

Teknik berpikir kreatif: Aritmatika ide dan SCAMPER

Filed under: Creative Thinking — itpin @ 8:15 am

Metode untuk menghasilkan ide kreatif berikutnya tidak kalah sederhananya dengan metode stimulasi acak. Aritmatika di sini tidak berbeda dengan aritmatika bilangan biasa, namun bilangan diganti menjadi ide. Operasi yang dipakai adalah penambahan, pengurangan, perkalian, pembagian, dan inversi.

Mari kita lihat penjelasan dan beberapa contohnya:

Penambahan. Bisakah kita menggabungkan lebih dari satu ide/produk untuk menghasilkan sesuatu yang baru? Jawaban terhadap pertanyaan ini bisa ditemukan di sekitar kita, terutama dalam konvergensi teknologi. Telepon genggam + kamera digital + MP3 player. Printer + fax + telepon + mesin fotocopy. Mobil + home theater. Asuransi + investasi + tabungan. Travel + kerja sosial. Belajar + bermain. Sama seperti operasi penambahan bilangan, operasi penambahan ide ini adalah yang paling mudah dipikirkan dibanding operasi-operasi lainnya. Karena itu, tidak heran bila ide-ide baru yang dihasilkan dari penambahan ini adalah yang paling umum dijumpai.

Pengurangan. Operasi ini merupakan kebalikan dari operasi penambahan. Meski kadang kelihatannya kurang masuk akal karena inovasi selalu dihubungkan dengan sesuatu yang lebih kompleks, kadang melakukan pengurangan terhadap suatu produk/layanan mampu menghasilkan sesuatu yang inovatif. Salah satu contohnya adalah penerbangan low cost yang mengurangi segala pernak-pernik layanan yang tidak perlu untuk mencapai harga murah. Demikian juga ATM yang menghilangkan kasir. Operasi ini biasanya dipakai untuk produk/layanan yang sudah terlalu kompleks, padahal ada sebagian orang yang lebih menghargai sesuatu yang sederhana dan mudah dipakai.

Perkalian. Operasi ini bisa dipakai untuk menghasilkan penggandaan produk/layanan seperti bioskop cineplex. Inovasi model bisnis franchise yang memungkinkan suatu usaha untuk berkembang cepat juga termasuk dalam operasi ini. Contoh lainnya adalah inovasi Henry Ford yang memperkenalkan metode produksi mass customization untuk menghasilkan produk-produk yang sama dan sejenis dalam waktu singkat. Prinsip dasar dari operasi aritmatika ide ini adalah menghasilkan volume yang besar dan mencapai skala ekonomis.

Pembagian. Dari semua operasi aritmatika yang ada, pembagian adalah yang paling sulit dan paling jarang dilakukan. Namun bukan berarti operasi ini tidak bisa dipakai untuk menghasilkan sesuatu yang berharga. Contoh terbaik adalah pabrik baja minimill seperti Nucor yang ukurannya hanya sepersekian dari pabrik baja konvensional. Meski tidak bisa mencapai skala ekonomis dan efisiensi seperti pabrik baja konvensional, minimill memiliki keuntungan lain yaitu tidak diperlukan investasi besar dan lebih fleksibel menghadapi fluktuasi permintaan di pasaran. Supermarket kecil seperti Indomaret dan Alfamart yang berfokus untuk melayani penduduk sekitar juga bisa dilihat sebagai hasil dari aritmatika pembagian. Contoh lain pada tingkatan produk adalah coklat ukuran kecil atau shampoo ukuran sachet.

Inversi. Pada aritmatika bilangan, inversi adalah perkalian angka tersebut dengan -1. Pada aritmatika ide, inversi adalah pembalikan asumsi-asumsi yang sebelumnya mendasari sebuah produk/layanan/ide. Kisah Alex Tew, Kyle MacDonald, dan Homaro Cantu adalah contoh inversi asumsi semacam ini. Umumnya aritmatikan inversi ini sangat ampuh menghasilkan inovasi radikal karena yang diubah di sini adalah nilai-nilai kepercayaan yang sudah diterima umum. Bila nilai-nilai kepercayaan tersebut berhasil diubah, publik akan menaruh perhatian yang lebih besar.

Varian lain dari aritmatika ide adalah metode yang dikenal sebagai SCAMPER (yang diciptakan oleh Bob Eberle) dan SCAMMPERR (diperluas dari SCAMPER oleh Michael Michalko). Kata SCAMPER ini adalah singkatan dari Substitute, Combine, Adapt, Modify, Put to another use, Eliminate, dan Reverse. Sementara tambahan M dan R pada SCAMMPERR adalah Magnify dan Rearrange. Combine memiliki kesamaan dengan penambahan, eliminate dengan pengurangan, magnify dengan perkalian, dan reverse dengan inversi. Karena itu, kita hanya akan membahas sisanya tanpa memberikan contoh. Pembaca dipersilakan mencari contoh sendiri sambil berlatih berpikir kreatif:

Substitute. Apakah ada unsur-unsur dari sebuah produk/layanan/ide yang bisa diganti, misalnya dengan mengganti orang yang mengerjakan, material, atau komponennya?

Adapt. Bisakah produk/solusi ini dipakai pada kondisi lain dengan sedikit perubahan? Perubahan apa yang bisa dilakukan untuk menyesuaikan dengan lingkungan baru?

Modify. Apakah ada atribut yang bisa diubah, misalnya warna, bentuk, dan ukuran produk?

Put to another use. Bisakah produk/layanan/solusi yang sama dipakai di tempat lain atau untuk kegunaan lain?

Rearrange. Bisakah urutan pengerjaan atau susunan komponen diubah untuk mendapatkan fungsi lain, misalnya dari merubah orientasi produk dari horisontal ke vertikal?

Cobalah teknik ini untuk menyelesaikan masalah Anda atau mendapatkan ide kreatif baru.

• • •
 

October 24, 2006

Teknik berpikir kreatif: Stimulasi acak

Filed under: Creative Thinking — itpin @ 8:12 am

Dari posting kemarin tentang lateral thinking, kita melihat salah satu prinsip utama berpikir kreatif adalah kemampuan keluar dari pola berpikir yang umum diterimal. Teknik Po pada lateral thinking adalah satu satu cara yang bisa dipakai. Cara lainnya yang sering dipergunakan adalah menggunakan stimulus acak, dengan mengambil kata atau gambar yang diambil secara acak.

Cara ini sungguh sederhana, tetapi jangan diremehkan efektivitasnya. Untuk melakukannya, yang dibutuhkan hanyalah sebuah kamus. Bila tidak ada kamus, buku atau koran apa saja bisa dipergunakan juga. Bila tetap tidak ada, Anda hanya perlu melihat sekeliling dan ambil sembarang obyek untuk dijadikan stimulus.

Anggap saja Anda memakai kamus. Apa yang harus dilakukan adalah menutup mata Anda, membuka kamus tersebut pada sembarang halaman, dan menunjuk pada sembarang tempat. Setelah itu, bukalah mata Anda, dan lihatlah kata yang sedang ditunjuk tersebut. Kata tersebut adalah stimulus yang bisa dipakai untuk menyelesaikan masalah Anda.

Sebagai contoh: Anda ingin merancang mesin jahit yang inovatif. Dengan memakai metode stimulus acak, Anda menemukan kata ‘cetak’. Mesin jahit dan cetak? Apa hubungannya? Cobalah cari sampai ketemu. Misalkan saja, kata ‘cetak’ tersebut membuat Anda terpikir pada ‘printer komputer’.

Ok, bagaimana ‘printer komputer’ bisa membantu kita membuat mesin jahit yang inovatif? Adakah fitur-fitur printer yang bisa dipakai mesin jahit? Kita mungkin akan teringat printer berwarna yang memakai hanya beberapa warna tinta untuk menghasilkan ribuan kombinasi warna. Mengapa sistem tersebut tidak bisa dipakai di mesin jahit? Bagaimana dengan mesin jahit yang hanya memerlukan benang putih dan tinta warna yang bisa diisi ulang untuk menghasilkan ribuan kombinasi warna lainnya? Dengan demikian, pemakai tidak perlu lagi membeli benang-benang berwarna yang kadang jarang dipakai. Selain itu, benang dan tinta tersebut bisa dibuat khusus sehingga pembeli hanya bisa membeli dari perusahaan Anda. Selain menghasilkan produk inovatif, perusahaan Anda bisa mendapatkan penghasilan tambahan melalui penjualan benang dan tinta khusus tersebut.

Tentu saja masih ada hambatan teknologi dan proses produksi yang harus dipertimbangkan. Tetapi, setidaknya kita bisa melihat bagaimana stimulus acak bisa dipakai untuk menghasilkan solusi yang tidak bisa terpikirkan sebelumnya.

Anda juga bisa memperoleh stimulus acak dengan cara lain, misalnya dengan berkunjung ke tempat yang belum pernah Anda kunjungi sebelumnya, membaca buku/majalah dengan topik yang Anda tidak tahu sebelumnya, menonton film yang tidak Anda sukai, atau sekedar mengambil rute lain dari rumah ke kantor. Perubahan lingkungan seperti itu sering menghasilkan stimulus untuk indra yang belum pernah Anda alami sebelumnya. Jadikanlah sensasi pengalaman baru tersebut sebagai sumber untuk memperoleh stimulus acak.

Cobalah sendiri teknik ini untuk melihat hasilnya. Satu hal penting yang harus diingat adalah Anda harus disiplin memakai kata yang didapatkan. Bila kata tersebut belum bisa membuat Anda memikirkan sesuatu, jangan tergoda untuk berpindah ke kata lain. Carilah terus. Bila Anda tergoda untuk memakai stimulus yang lebih ‘gampang’, kemungkinan besar stimulus yang ‘gampang’ tersebut tidak akan membawa pikiran kreatif Anda terlalu jauh.

• • •
 

October 23, 2006

Teknik berpikir kreatif: ‘Lateral thinking’

Filed under: Creative Thinking — itpin @ 3:06 pm

Di jaman ini, kita tidak mungkin membicarakan tentang berpikir kreatif tanpa menyinggung tentang lateral thinking, sebuah istilah yang diperkenalkan oleh Edward de Bono. Inti dari lateral thinking adalah banyak masalah yang membutuhkan perspektif berbeda untuk diselesaikan. Teknik lateral thinking akan membantu kita mengubah persepsi yang umum dipakai ke persepsi yang berbeda dalam penyelesaian masalah.

Salah satu contoh pemakaian lateral thinking diberikan oleh de Bono (1967). Seorang pedagang yang berhutang pada seorang tengkulak setuju untuk menyelesaikan hutang mereka dengan cara undian. Sang tengkulak akan memasukkan sebuah batu putih dan sebuah batu hitam ke dalam kantung uang. Bila anak perempuan sang pedagang berhasil mengambil batu putih, hutang dianggap lunas. Namun bila yang ditarik keluar adalah batu hitam, sang anak gadis harus menikahi sang tengkulak. Tengkulak tersebut ternyata bermain curang. Dia memasukkan dua batu hitam ke dalam kantung. Untunglah sang anak gadis melihat hal itu. Menurut Anda, apa yang akan dilakukan anak gadis itu? Dengan cerdik, dia mengambil sebuah batu dari dalam kantung dan membuangnya ke tanah sehingga tercampur dengan batu-batu lain. Setelah itu dia menantang sang tengkulak melihat warna batu yang tersisa di kantung tersebut. Warna yang dipilihnya pastilah warna yang berbeda dengan yang ada di kantung itu. Itulah salah satu contoh lateral thinking karena apa yang dilakukan gadis tersebut bertentangan dengan cara berpikir yang umum. Apa yang sebenarnya menjadi ancaman justru diubah menjadi keuntungan.

Ada satu cerita lain lagi yang menunjukkan cara berpikir lateral ini. Seorang profesor dari Oxford sedang mandi telanjang di sungai ketika melihat beberapa orang siswanya mendekati dengan perahu. Dengan selembar handuk di tangan, apa yang dilakukannya? Menutup auratnya? Bukan. Dia memilih cara lain yang lebih efektif. Handuk tersebut dipakai untuk menutup wajahnya! Tidak perduli sebanyak apa pun yang dilihat siswa-siswanya, yang penting mereka tidak tahu siapa dia.

Lalu bagaimana agar bisa berpikir lateral? De Bono mengidentifikasi empat langkah utama lateral thinking: (1) mengenali ide dominan dari masalah yang sedang dihadapi, (2) mencari cara-cara lain dalam memandang permasalahan, (3) melonggarkan kendali cara berpikir yang kaku, dan (4) memakai ide-ide acak untuk membangkitkan ide-ide baru. Dari keempat langkah tersebut, langkah ke-4 paling sering mendapat penekanan karena kita jarang melihat bagaimana ide-ide acak bisa dipakai untuk menyelesaikan masalah yang sedang kita hadapi. Tetapi, menurut de Bono, justru ide-ide acak tersebut bisa menarik kita keluar dari pola berpikir normal. Memang tidak semua ide-ide acak yang dihasilkan itu akan menghasilkan solusi yang praktis dan bisa dipakai. Tetapi umumnya dengan sedikit modifikasi, ide-ide tersebut mampu diubah menjadi ide-ide yang bisa dikembangkan lebih lanjut.

Salah satu alat bantu yang diperkenalkan de Bono untuk menghasilkan ide-ide acak adalah Po. Po, singkatan dari provocative operation, merupakan sebuah ide yang memaksa kita berpikir ke tempat baru di mana ide-ide lainnya yang lebih masuk akal bisa dihasilkan untuk menyelesaikan masalah. Untuk menghasilkan Po, tuliskan saja semua ide-ide yang muncul di kepala Anda tanpa memikirkan apakah ide tersebut bisa dijalankan atau tidak.

Sebagai contoh bila perusahaan Anda yang menghasilkan perabot rumah tangga sedang menghadapi masalah penurunan penjualan, Anda mungkin akan menghasilkan Po-Po berikut:

  • Po: Jual seperti McDonald menjual hamburgernya.
  • Po: Terus berjualan ketika saya tidur.
  • Po: Pakai sistem MLM.
  • Po: Jual kepada bayi dan anak-anak kecil.
  • Po: Jual kepada seluruh penduduk dunia.

Beberapa Po di atas kelihatannya ngawur dan tidak bisa diimplementasikan. Tetapi ide-ide Po di atas hanya langkah awal. Yang penting di sini, Po tersebut bisa menarik Anda keluar dari pola berpikir lama seperti menurunkan harga atau meningkatkan kualitas. Po-Po tersebut akan menuntun Anda untuk menemukan ide-ide baru yang selama ini tidak terpikirkan. Mari kita lihat bagaimana Anda bisa mendapatkan ide-ide baru dari Po-Po di atas:

  • Po: Jual seperti McDonald menjual hamburgernya. Hmh… bukankah produk McDonald distandardisasi sehingga mampu diproduksi dalam jumlah banyak dengan cepat tanpa perbedaan kualitas? Bagaimana bila kita membuat lemari sistem modul yang bisa dipasang dengan cepat, bahkan oleh orang yang tidak ahli sekalipun?
  • Po: Terus berjualan ketika saya tidur. Bagaimana caranya? Apakah mungkin merekrut salesman yang bersedia menjual 24 jam penuh? Kalau pun ada, bagiamana dengan konsumen? Bukankah mereka juga tidur? Ya, memang benar. Tapi tunggu dulu. Bagaimana dengan konsumen di zona waktu lain? Kenapa tidak menjual lewat Internet?
  • Po: Pakai sistem MLM. Furniture dan MLM? Mungkin tidak cocok, tetapi mungkin sebagian ciri-ciri MLM bisa dipakai? Bagaimana bila diadakan sistem point untuk setiap pembelian perabot? Bila akumulasi point sudah mencapai jumlah tertentu, pelanggan bisa mendapatkan hadiah.
  • Po: Jual kepada bayi dan anak-anak kecil. Tentu tidak praktis. Tapi yang jelas bisa membuat perabot untuk bayi (misalnya: kotak bayi). Tapi tidak itu saja. Kalau mau sedikit “gila” dengan ide ini, bagaimana dengan membuat perabot ukuran bayi (mini) yang bisa dikoleksi? Ide ini bisa menuntun untuk ekspansi ke pasar baru yang selama ini luput dari perhatian.
  • Po: Jual ke seluruh dunia. Tentu saja yang paling mudah kelihatan adalah menjual lewat Internet atau ekspor. Tapi kata ‘dunia’ bisa juga diasosiasikan dengan ‘bola dunia’ (globe). Bagaimana bila kita merancang meja artistik yang memiliki bola dunia yang bisa diputar yang diletakkan persis di tengah-tengah meja? Meja artistik seperti ini bisa dijual dengan harga lebih tinggi. Ide ini mungkin bisa menuntun ke ide-ide lainnya seperti meja tamu yang dilengkapi meja catur di tengah-tengahnya, atau malah meja tamu yang bisa diubah menjadi meja bilyard mini?

Dari beberapa ide di atas, Anda bisa memilih yang bisa dijalankan sesuai dengan strategi dan kemampuan perusahaan Anda saat ini. Lewat contoh sederhana ini, Anda bisa melihat bagaimana Po-Po yang dihasilkan secara ngawur mampu menuntun kita mendapatkan solusi-solusi yang lebih praktis yang mungkin selama ini tidak terpikirkan.

Bagaimana? Sudahkah Anda ber-Po ria hari ini?

• • •
 

October 20, 2006

Mendeteksi sumber inovasi

Filed under: Entrepreneurship, Innovation — itpin @ 8:12 am

Dengan semangat menggebu-gebu, Anda sudah memutuskan inilah waktunya untuk membuka usaha baru, atau mengembangkan produk/layanan yang inovatif untuk mengembangkan perusahaan Anda. Tetapi bagaimana caranya? Dari mana harus memulai? Berita baiknya, sumber tersebut ada di mana-mana. Berita buruknya, Anda harus melatih kepekaan observasi Anda untuk mendeteksinya. O ya, satu lagi berita baiknya, tulisan di bawah ini akan membantu Anda menemukan sumber-sumber inovasi secara lebih sistematis, dan sekaligus menjaga semangat Anda agar tidak luntur.

Sumber-sumber tersebut umumnya terletak pada perubahan antara realita hari kemarin dengan realita hari ini. Misalnya, selama ini kita jarang melihat potensi segmen warga senior karena keterbatasan fisik mereka. Selain itu, usia pensiun membuat mereka tidak lagi bekerja yang mempengaruhi sumber pendapatan mereka. Tetapi mata yang jeli seharusnya bisa melihat realita lain, yaitu tumbuhnya pasar kelompok warga senior yang memiliki daya beli yang lebih tinggi. Pertumbuhan segmen tersebut disebabkan karena semakin tingginya kualitas perawatan kesehatan dan tingginya nilai tabungan mereka (atau kemampuan ekonomi anak-anak mereka yang memberikan tunjangan). Selain itu, karena kesibukan anak-anak mereka, kelompok ini sering merasa terasing di keluarganya. Realita ini mestinya menyajikan peluang bagi mereka yang jeli, misalnya dengan menyediakan layanan kesehatan, olah raga, hiburan, atau liburan khusus untuk para warga senior. Kebutuhan mereka untuk diterima dalam kelompok bisa juga dimanfaatkan dengan meluncurkan klub khusus warga senior.

Selain perubahan yang timbul dari pergeseran demografis seperti di atas, perubahan tersebut juga bisa ditemukan juga di tempat-tempat lain. Secara umum, ada empat dimensi di mana kita bisa mengarahkan radar untuk mendeteksi perubahan, yaitu dimensi-dimensi yang disingkat dengan kata PEST (political environment, economic reality, socio-cultural, dan technology development). Mari kita lihat satu persatu:

Political Environment. Pergantian rejim yang berkuasa dari diktatorial ke demokrasi seperti yang pernah terjadi di Indonesia umumnya akan menciptakan peluang untuk para pengusaha yang selama ini tidak punya akses ke sumber kekuasaan. Pemberian otonomi daerah yang lebih luas juga memberikan kesempatan bagi para pengusaha-pengusaha daerah. Di negara-negara demokratis, perbedaan kebijakan ekonomi antara partai pemenang sering memberi kesempatan yang berbeda pada pihak yang berlainan. Partai yang memihak kaum kaya akan menyajikan kesempatan yang berbeda dengan partai yang memihak kaum buruh dan minoritas. Di jaman globalisasi ini, perusahaan-perusahaan multinasional juga harus mencermati perubahan politik di negara-negara lain. Krisis di Timur Tengah, misalnya, sering menjadi tanda bakal naiknya harga minyak dunia. Kejadian seperti itu bisa membuka kesempatan bagi para inovator yang mengembangkan peralatan yang memakai energi alternatif seperti panel surya atau mobil tenaga biodiesel.

Economic Reality. Peningkatan kesejahteraan, bertambahnya penduduk miskin, krisis atau pemulihan ekonomi, semuanya menyajikan peluang bagi yang jeli melihatnya. Bertambahnya penduduk miskin, misalnya, jangan dilihat secara negatif belaka. Beberapa perusahaan yang jeli mampu memanfaatkan besarnya segmen ini dengan meluncurkan solusi-solusi inovatif untuk melayani segmen yang selama ini terlupakan potensinya (baca: Melayani Piramida Terbawah dan Inovasi dari Kaum Miskin). Perubahan realitas ekonomi tersebut juga bisa dilihat di sektor B2B. Dengan tingginya resiko perusahaan saat ini, banyak perusahaan yang berusaha merubah fixed costs mereka menjadi variable costs. Fenomena ini memunculkan peluang untuk membuka perusahaan-perusahaan penerima jasa outsourcing dan penyewaan aset-aset fisik (komputer/notebook, mobil/motor, proyektor, peralatan kantor, dlsb).

Socio-Cultural. Dimensi ini cukup banyak dipengaruhi oleh struktur demografis penduduk. Contoh tentang peluang di segmen warga senior di atas adalah salah satu contoh perubahan yang terjadi pada dimensi ini. Tidak seperti dimensi lainnya, perubahan demografis ini sebenarnya lebih mudah diprediksi. Bukankah jumlah bayi 1 tahun saat ini bisa menjadi acuan untuk menghitung pasar anak-anak berumur 6 tahun pada 5 tahun ke depan? Namun menariknya, banyak perusahaan yang melupakan hal itu (dan ini merupakan peluang bagi mereka yang bisa melihatnya). Perubahan lain yang bisa dicermati adalah pengaruh globalisasi terhadap dimensi sosial budaya. Banyaknya siswa-siswa yang bersekolah di luar negeri dan kemudian kembali ke Indonesia membuka peluang untuk melayani segmen ini. Para pengusaha yang cerdik juga ramai-ramai membuka sekolah internasional di dalam negeri untuk melayani para orang tua yang tidak bisa/tidak ingin mengirimkan anaknya ke luar negeri, tetapi menginginkan sekolah dengan kualitas internasional.

Technology Development. Kemajuan teknologi tak pelak lagi menyediakan kesempatan inovasi yang cukup luas. Contoh terbaru adalah mikroprosesor, komputer pribadi, dan Internet yang memungkinkan lahirnya inovasi demi inovasi. Luasnya pemakaian telepon genggam juga telah melahirkan inovasi seperti SMS voting, alat pelacak, atau micropayment dengan memakai teknologi tersebut. Keberhasilan pemetaan gen memungkinkan diproduksinya obat-obatan baru yang lebih ampuh dan aman. Teknologi juga membuat produk yang dipasarkan semakin bermutu tinggi dan lebih sulit rusak. Hal ini menyebabkan perusahaan harus terus menerus memikirkan cara-cara lain untuk meningkatkan penjualan, antara lain dengan memperkenalkan produk baru secara kontiniu.

Dalam bukunya “Innovation and Entrepreneurship“, mahaguru manajemen Peter Drucker menulis, “Semua inovasi yang efektif adalah sungguh sederhana. Malahan, pujian tertinggi yang bisa diterima sebuah inovasi adalah ketika orang-orang mengatakan: ‘Ini sangat jelas. Mengapa saya tidak memikirkannya?’” Ya, inovasi sebenarnya sesederhana itu. Yang Anda butuhkan hanyalah pengamatan. Lalu, cocokkan hasil pengamatan dengan kemampuan/minat Anda. Dari sanalah Anda bisa memulai pencapaian mimpi-mimpi Anda…

• • •
 

October 19, 2006

Manfaat 10x lipat

Filed under: Innovation, Consumer Behaviour — itpin @ 8:00 am

Baru-baru ini, sebuah perusahaan di San Francisco yang memproduksi binatang peliharaan cloning, Genetic Savings & Clone, menyatakan diri bangkrut karena minimnya permintaan. Sejauh ini, perusahaan tersebut hanya berhasil menjual 2 ekor kucing hasil kloning untuk dijadikan binatang peliharaan.

Nasib buruk yang dihadapi perusahaan tersebut bukanlah hal baru buat para inovator. Sebelumnya, sederet inovasi terkenal yang sempat dianggap bakal merevolusi hidup kita mengalami nasib yang hampir sama atau sedang menuju ke arah sana. Sebut saja alat transportasi Segway yang didukung oleh dana dari Steve Jobs (Apple) dan Jeff Bezos (Amazon). Dalam 18 bulan, perusahaan ini hanya berhasil menjual sekitar 6.000 produk. TiVo, perekam video digital juga mengalami nasib yang lebih kurang sama. Meski mendapatkan banyak ulasan positif karena kemampuannya menghindari iklan TV, perusahaan ini terus merugi.

Memang banyak alasan yang bisa diberikan mengapa produk-produk revolusioner tersebut mengalami kegagalan seperti itu. John T. Gourville dalam artikelnya di Harvard Business Review, Eager Sellers & Stony Buyers (Juni 2006) memberikan penjelasan yang didasarkan atas hasil penelitian Daniel Kahneman dan Amos Tversky, yaitu teori loss aversion dan endowment effect. Secara ringkas teori endowment effect ini menunjukkan bahwa manusia menilai apa yang dimilikinya sekitar 3 kali lebih berharga dibanding barang lain yang bernilai sama. Efek ini umumnya terjadi untuk barang pribadi atau barang yang tidak dimaksudkan untuk diperjualbelikan. Sementara teori loss aversion menunjukkan kita lebih suka menghindari kerugian dibanding memperoleh keuntungan, lagi-lagi dengan perbedaan sekitar 2-3 kali lipat.

Penilaian asimetris tersebut membuat para pencipta produk sering salah menilai laju adopsi konsumen. Setiap produk baru, sebaik apa pun, akan meminta konsumen membuang hal-hal lama yang dimilikinya. Hal-hal lama tersebut bisa berupa peralatan lama, sistem lama, manfaat lama, kebiasaan lama, atau kepercayaan lama. Dengan mengingat kecendrungan konsumen menghindari kerugian karena membuang apa yang dimilikinya sekarang dibanding memperoleh manfaat baru, produk baru tersebut setidaknya harus menawarkan manfaat 3 kali lebih besar berdasarkan kaca mata konsumen. Bila manfaat yang ditawarkan di bawah 3 kali manfaat produk lama, jangan harap konsumen akan beramai-ramai pindah ke produk baru.

Yang membikin masalah ini lebih kompleks lagi adalah kecendrungan inovator melihat hasil ciptaannya lebih superior dibanding produk lama. Setelah lama bergelut dengan ciptaannya, inovator tanpa sadar telah menjadikan produk baru tersebut sebagai ‘milik’nya. Karena sudah menjadi miliknya, endowment effect juga bekerja di sisi inovator. Dengan kata lain, inovator akan menilai miliknya 3 kali lebih berharga dari solusi yang ada saat ini.

Menggabungkan efek yang bekerja di kedua belah pihak tersebut, Gourville menyimpulkan agar sebuah produk baru bisa berhasil, produk tersebut harus menawarkan manfaat minimal 3×3 = 9 kali lebih besar dari solusi yang ada saat ini. Lebih baik lagi bila 10 kali lebih besar. Produk baru yang memiliki kemungkinan besar untuk berhasil adalah yang menawarkan manfaat dan nilai yang cukup besar, namun tidak mengharuskan pengguna mengubah kebiasaan mereka. Search engine Google adalah contoh yang sangat bagus dengan menawarkan kinerja pencarian yang lebih baik dibanding pendahulunya namun tidak mengharuskan para pengguna merubah kebiasaan mereka sama sekali. iPod adalah contoh lainnya karena penggunaanya cukup intuitif dan mirip dengan walkman, tapi mampu menyimpan lagu dengan kapasitas yang jauh lebih banyak dibanding walkman. Mobil hybrid Toyota Prius, juga berhasil karena mengembangkan mobil yang tetap memakai mesin konvensional (sehingga penggunanya tidak perlu mempelajari sesuatu yang baru), dan ditambah dengan engine baru yang digerakkan oleh tenaga listrik. Hasilnya adalah pengalaman berkendara yang persis sama dengan mobil berbahan bakar bensin lainnya.

Sementara itu untuk produk yang awalnya memang mengharuskan pengguna merubah kebiasaan mereka secara total seperti sepeda, mobil, pesawat terbang, atau komputer, produk bersangkutan harus menawarkan manfaat yang benar-benar lebih dan proses edukasi konsumen yang panjang. Tanpa adanya manfaat berkali-kali lipat tersebut dan edukasi tersebut, produk tersebut pasti akan gagal.

Strategi lainnya yang bisa dipakai adalah menjual produk tersebut ke segmen pasar yang belum terlanjur “disandera” oleh solusi lama. Linux dan aplikasi-aplikasinya pasti akan mengalami kesulitan masuk ke korporasi yang sudah terlanjur membeli solusi Wintel. Tetapi, untuk perusahaan yang baru berdiri, Linux lebih mudah untuk masuk. Blogging awalnya juga dihindari oleh media konvensional, tetapi dirangkul dalam skala luas oleh individu-individu lainnya.

Setelah melihat contoh-contoh di atas, kita bisa menarik kesimpulan ketika sebuah produk inovatif gagal di pasaran, sering masalahnya bukan terletak pada kurangnya manfaat produk tersebut. Kegagalan tersebut lebih sering disebabkan oleh hambatan pada pikiran konsumen yang lebih menghargai solusi sekarang. Dengan mengetahui hambatan sebenarnya, inovator baru bisa mengembangkan strategi yang tepat untuk mengatasinya.

• • •
 
Next Page »