eXTReMe Tracker
if knowledge is power, then passion is the engine, body is the vehicle, and conscience is the driver

… tentang inovasi dan berpikir holistik

October 31, 2006

Wisata kreativitas

Filed under: Creative Thinking, Learning, Managing People — itpin @ 8:27 am

Bila mendengar kata Ferrari, kebanyakan dari kita akan teringat Formula One Grand Prix, Michael Schumacher, atau mobil mewah buatan Italia. Tidak banyak yang tahu kalau perusahaan dengan karyawan sekitar 3.000 orang ini adalah salah satu perusahaan paling kreatif di Eropa. Kreativitas tersebut tidak saja tercermin pada produk-produknya, tetapi pada cara mereka membangkitkan kreativitas para karyawannya.

Sebagai contoh, Ferrari secara teratur menyelenggarakan program Creativity Club untuk para stafnya. Setiap kali pertemuan klub diselenggarakan, mereka akan mengundang para artis dari bidang seni yang berbeda-beda. Daftar undangan tersebut umumnya terdiri dari para pelukis, pemahat, pemusik, penulis, DJ, fotografer, chef, aktor, dan konduktor orkestra. Selain berbincang-bincang dengan para karyawan Ferrari, para artis tersebut juga diminta mengajarkan ketrampilan mereka melalui kursus-kursus singkat. Para peserta klub tersebut tidak dibatasi. Selain eksekutif dan kalangan manajer, para pekerja pabrik juga boleh ikut serta. Klub ini sangat diminati, karena selain menawarkan nuansa baru, juga memberi kesempatan bagi keluarga besar Ferrari untuk belajar melihat masalah secara berbeda.

Selain Creativity Club, perusahaan berlambang kuda jingkrak ini juga meluncurkan program-program seperti English@breakfast, English@tea, English@lunch, German@breakfast, dan sejenisnya, yang diperuntukkan untuk para karyawan yang ingin belajar bahasa asing dalam suasana santai.

Dari Ferrari, kita beralih ke perusahaan otomotif lainnya, Nissan. Ketika para staf Nissan Design International (NDI) mengalami kebuntuan di tengah-tengah proyek merancang model Pathfinder, wakil presiden NDI kala itu, Jerry Hirshberg, membuat keputusan yang mencengangkan. Dia mengajak seluruh staf, termasuk para teknisi dan sekretaris, untuk … menonton film Silence of the Lambs. Nonton setelah jam kerja selesai? Tidak, mereka menonton di siang hari. Hasilnya? Menurut penuturan Hirshberg, setelah acara tersebut, ketegangan di perusahaan tersebut berkurang perlahan-lahan. Dalam beberapa hari, ide-ide berdatangan dan masalah-masalah berhasil diselesaikan.

Cara Pixar lain lagi. Perusahaan pembuat film animasi 3 dimensi ini mendirikan Pixar University. Universitas ini menjalankan kelas-kelas, event, atau workshop yang berkaitan dengan pembuatan film animasi 3 dimensi, termasuk kelas-kelas melukis, memahat, atau creative writing. Setiap karyawan diharapkan menghabiskan 4 jam setiap minggu di universitas tersebut untuk terus mengembangkan diri dan kreativitas mereka, dan mereka dianjurkan mengambil kelas-kelas yang tidak berhubungan dengan pekerjaan mereka.

Ferrari, Nissan, dan Pixar adalah dua contoh perusahaan yang benar-benar serius mengembangkan dan memanfaatkan kreativitas staf mereka. Program-program yang kadang kelihatannya tidak berhubungan dengan pekerjaan tersebut justru sering membawa para staf belajar melihat pekerjaan dan masalah mereka dengan kaca mata lain. Ketiga perusahaan tersebut memahami pentingnya pemberian stimulus acak pada otak-otak yang bekerja di sana agar mampu melahirkan ilham-ilham kreatif.

Upaya memperoleh stimulus acak tersebut bisa juga dilakukan dengan melakukan benchmarking ke perusahaan lain. Akan tetapi, benchmarking paling efektif bukanlah dengan mengunjungi perusahaan pada industri yang sama atau yang masih berkaitan. Pilihlah industri yang berlainan. Perusahaan manufaktur yang ingin meningkatkan hubungan dengan distributornya bisa belajar dari divisi customer service hotel bintang lima atau call center perusahaan kartu kredit. Perusahaan minuman ringan yang ingin memastikan distribusinya selalu lancar bisa melakukan jiarah ke kantor FedEx atau UPS. Belajar dari industri yang tidak berhubungan tersebut lebih sering memberikan ide-ide kreatif.

• • •
 

October 30, 2006

Merayakan kegagalan cerdas

Filed under: Managing People, Innovation — itpin @ 8:55 am

Bagi Anda yang bekerja di perusahaan, kemungkinan besar Anda akan berusaha sekuat mungkin melakukan kesalahan yang bisa merugikan perusahaan. Kesalahan, kadang sekecil apa pun, bisa membuat kita menerima umpatan dari boss. Perusahaan tentu saja memiliki alasan yang sangat masuk akal untuk tidak mentolerir kesalahan, karena bagaimana pun, perusahaan memang didirikan untuk menghasilkan keuntungan dan menghindari kerugian.

Hal yang sama juga berlaku bila Anda adalah pengusaha atau pemilik perusahaan. Kegagalan bukanlah sesuatu yang Anda harapkan. Selain harus menghadapi celaan dari diri sendiri, Anda mungkin juga harus menghadapi cemoohan (atau kadang-kadang, lebih parah lagi, rasa kasihan) dari orang-orang lain. Sebaliknya, kita akan berbangga dengan keberhasilan dalam bentuk apa pun, tidak perduli bagaimana kita mencapainya.

Hukuman terhadap kegagalan ini, walau sering mampu menjadi motivator yang kuat untuk berhasil, namun ternyata bisa menjadi musuh besar inovasi. Mengapa? Karena untuk menciptakan satu inovasi yang berhasil sering dibutuhkan banyak kegagalan. Bukankah Thomas A. Edison sendiri baru berhasil menciptakan bola lampu yang mampu bertahan lama setelah melakukan ribuan ‘kesalahan’? Tanpa mentalitas seperti Edison, kita tidak mungkin bisa menghasilkan keberhasilan besar.

Kecenderungan orang-orang Asia yang menilai kegagalan semata-mata dari kaca mata negatif merupakan salah satu alasan mengapa kontinental ini jarang menghasilkan karya-karya inovatif. Wiraswasta yang takut dicemooh karena gagal lebih memilih bidang usaha yang sedang populer saat ini. Ketika bisnis factory outlet lagi marak, semua orang berpikir untuk membuka factory outlet. Ketika bisnis telepon genggam lagi booming, semua orang tertarik untuk masuk ke bidang tersebut, tidak perduli apakah mereka menyukainya atau tidak. Mentalitas semacam itu membuat kita lebih banyak menjadi imitator. Padahal, meski kelihatannya cara ini aman, namun dalam jangka panjang bila banyak orang berpikiran sama, bisnis semenarik apa pun akan overcrowded sehingga pangsa pasar dan margin keuntungan menyusut.

Untuk para pekerja di perusahaan, ketakutan untuk melakukan kesalahan dalam bentuk apa pun, membuat kita tidak berani mengajukan ide-ide inovatif karena adanya kemungkinan ide-ide tersebut tidak jalan (baca juga: Ketakutan, Kreativitas, dan Inovasi).

Tentu saja, ada kesalahan yang harus dihukum. Tetapi, perusahaan harus bijak membedakan antara kesalahan tolol semacam itu dengan ‘kegagalan cerdas’. Kegagalan cerdas adalah kegagalan yang memang sudah diprediksikan dari awal mungkin akan terjadi. Namun, langkah tersebut tetap dilakukan karena adanya peluang untuk berhasil juga. Katakanlah perusahaan Anda meluncurkan sebuah produk baru. Melalui analisis awal, Anda sudah tahu produk ini memiliki kemungkinan sukses 70% dan kemungkinan gagal 30%. Anda mungkin sudah mendaftarkan syarat-syarat apa yang mesti dipenuhi agar produk ini sukses, seperti kondisi ekonomi yang kondusif atau peraturan pemerintah yang mendukung. Tetapi setelah diluncurkan ternyata kondisi ekonomi tiba-tiba memburuk dan produk tersebut gagal total di pasaran. Dalam kasus ini, kegagalan tersebut bukanlah akibat dari kesalahan tolol. Menghukum para manajer yang bertanggung jawab atas peluncuran produk tersebut bukanlah langkah bijak karena akan membuat orang-orang dalam perusahaan Anda tidak berani mencoba lagi kelak.

Kadang kegagalan semacam itu tidak bisa dianggap kegagalan sepenuhnya juga, selama perusahaan bisa menarik pelajaran. Untuk setiap kegagalan seperti itu, perusahaan hendaknya melakukan semacam after action review (AAR) untuk mencari sebab-sebab kegagalan tanpa berusaha mencari kambing hitam. Fokuskan pencarian pada sistem atau asumsi-asumsi yang dipakai. Beberapa perusahaan yang secara disiplin melakukan AAR semacam itu seperti Hewlett-Packard mampu menarik manfaat besar, karena kegiatan seperti itu mampu mengurangi tingkat kegagalan untuk peluncuran produk berikutnya tanpa membuat para staf takut mencoba lagi.

Solusi yang gagal di satu tempat kadang ternyata bisa berhasil di tempat lain. Pada tahun 1980an, IBM mengembangkan microchip yang dibuat dari kombinasi germanium dengan silikon biasa yang mampu mengantar listrik dengan lebih efisien. Rencana untuk memakai produk tersebut ke komputer mainframe gagal setelah teknologi microchip yang lebih bagus keluar. Gagal? Tunggu dulu. Para insinyur proyek ini tidak menyerah. Mereka merancang ulang microchip ini untuk keperluan lain: telepon genggam dan peralatan wireless lainnya. IBM akhirnya berhasil menangguk penghasilan tambahan milyaran USD berkat teknologi ini.

Berkah yang didapat IBM ini hanya mungkin terjadi bila para insinyur (staf lainnya) mendapat kebebasan untuk belajar dari kegagalan mereka tanpa merasa disalahkan. Tidak semua kegagalan atau kesalahan adalah negatif. Membabat kesalahan tanpa pandang bulu bisa membuat Anda membabat peluang keberhasilan di masa depan juga.

• • •
 

October 28, 2006

Teknik berpikir kreatif: Analisis morfologis

Filed under: Creative Thinking — itpin @ 8:03 am

Lewat artikel-artikel sebelumnya, Anda telah diperkenalkan dengan lima teknik berpikir kreatif. Teknik keenam ini berbeda dengan kelima teknik sebelumnya, terutama dalam hal jumlah ide yang bisa dihasilkan. Bila teknik-teknik sebelumnya hanya bisa menghasilkan jumlah ide yang terbatas, teknik morfologis ini menjamin Anda bisa mendapatkan ribuan (atau malah jutaan) ide dalam waktu singkat. Untuk mendapatkan jumlah ide sebanyak itu, teknik ini bisa dipakai bersama-sama dengan teknik-teknik lain.

Karena tekniknya cukup sederhana, kita langsung menuju ke contohnya tanpa perlu berteori panjang lebar:

Katakanlah Anda ingin merancang bola lampu baru. Sejak lama, barang ini tidak mengalami inovasi yang berarti. Jadi, bagaimana membuat bola lampu yang lebih inovatif? Dengan metode ini, langkah utama adalah mendaftarkan atribut-atribut, fitur-fitur, atau fungsi bola lampu tersebut. Misalkan saja daftar tersebut terdiri dari: bentuk lampu, warna permukaan, warna cahaya, bahan permukaan, fungsi, cara pemasangan, sumber energi, dan cara menyalakan (silakan menambah yang lain sebagai latihan).

Langkah berikutnya adalah membuat semacam tabel dan masing-masing atribut yang didaftarkan di atas menjadi judul kolom. Lalu untuk masing-masing kolom (atribut), kita menuliskan sebanyak mungkin ide yang bisa Anda pikirkan sebagai parameter untuk kolom bersangkutan. Sebagai contoh, untuk kolom ‘bentuk lampu’, kita bisa menulis: tabung, bulat seperti bola, elips, segi tiga, segi empat, poligon, berbentuk donut, dlsb… Di sini, kita bisa memakai teknik-teknik lain untuk menghasilkan ide segila mungkin. Pada kelompok, masing-masing anggota bisa menulis pada selembar kertas terlebih dahulu, baru kemudian hasilnya dikumpulkan untuk menjamin jumlah ide yang lebih banyak.

Lakukan hal yang sama untuk setiap atribut. Sebagian contoh akan diberikan di bawah ini:

  • Bentuk lampu: (lihat di atas)
  • Warna permukaan: bening, putih susu, kuning, hijau, merah, …
  • Warna cahaya: putih, kuning, merah, biru, …
  • Bahan permukaan: kaca, plastik, …
  • Fungsi: penerang ruangan, hiasan, mainan, untuk dikoleksi, lampu sirene, lampu darurat, untuk sekali pakai, untuk mengusir nyamuk, …
  • Cara pemasangan: diputar, ditekan, langsung dicolok, tidak usah dicolok (memakai sistem wireless), dengan sistem refill (bola lampu tidak usah diganti, yang diganti hanya isi di dalamnya)…
  • Cara menyalakan: pakai switch on/off, dengan remote control, dengan mendeteksi suara, dengan mendeteksi bayangan, dengan SMS, …
  • Sumber energi: PLN, baterai, komputer (lewat USB), …

Setelah selesai, barulah lakukan analisis untuk melihat apakah ada ide yang tidak bisa dijalankan, misalnya karena hambatan teknologi atau regulasi. Tetapi lakukanlah dengan hati-hati. Kadang apa yang dilihat tidak mungkin ternyata sangat mungkin. Seperti contoh, sekilas kelihatannya ide untuk membuat bola lampu wireless berada di luar jangkauan teknologi saat ini. Namun bila dipikirkan lebih lanjut, ide tersebut bisa (dan sudah) diwujudkan, yaitu dengan mengisi baterai lampu terlebih dahulu, dan setelah itu lampu tersebut bisa dibawa secara portabel.

Bila ide-ide yang benar-benar tidak mungkin tersebut sudah dieliminasi, Anda sekarang bisa bebas mengkombinasikan ide-ide yang ada. Setelah itu, coba pikirkan apakah produk tersebut bisa memenuhi keinginan/kebutuhan konsumen tertentu? Bagaimana dengan bola lampu berbentuk poligon yang portabel dan bisa dinyalakan dengan remote control? Mungkin bola lampu seperti itu bisa dipakai untuk hiasan rumah-rumah mewah? Sebagai mainan anak-anak? Atau sebagai bahan koleksi?

Tentu saja tidak semua kombinasi ide-ide tersebut bisa dipakai. Tetapi seperti teknik-teknik sebelumnya, dari sekian ribu kombinasi ide yang ada, dipastikan Anda akan menemukan beberapa yang layak untuk dicoba. Meski Anda belum berhasil menemukan ide yang sesuai, anggaplah sebagai latihan. Dengan berlatih teknik ini (dan teknik-teknik lain) berulang kali, pikiran Anda akan semakin terbiasa mencari hubungan-hubungan yang selama ini luput dari perhatian Anda. Tanpa Anda sadari, Anda akan menjadi semakin kreatif.

Seperti yang sudah Anda lihat, tidak dibutuhkan kejeniusan seperti Einstein untuk menjadi kreatif. Memang ada sebagian orang yang dilahirkan dengan bakat yang mampu melihat dunia dengan mata berbeda, namun tidaklah berarti ketrampilan seperti itu tidak bisa dipelajari. Mozart adalah jenius musik, tetapi Anda tidak perlu menjadi Mozart untuk menjadi pemusik. Yang dibutuhkan adalah motivasi dan 3 hal lainnya, yaitu:

Latihan, latihan, dan latihan.

• • •
 
Next Page »