Jika Anda rajin duduk di depan televisi, Anda tentunya pernah melihat iklan sebuah produk pemutih kulit. Iklan produk ini menggambarkan seorang gadis yang meninggalkan kampung halamannya untuk mengejar mimpi menjadi seorang pebalet terkenal. Setelah berlatih keras, dia akhirnya berhasil masuk ke babak final sebuah kompetisi. Sayangnya, dia gugur hanya karena kulitnya kalah putih. Beberapa saat kemudian, ketika sang gadis tersebut pulang ke apartemennya, dia mendapatkan kiriman paket dari orang tuanya, berupa sebuah krim pemutih disertai kata-kata yang mendorong semangat. Cerita ini tentu saja berakhir happy ending. Sang gadis yang sekarang berkulit lebih cerah akhirnya berhasil menjadi pemeran utama sebuah pertunjukan besar dengan dihadiri orang tuanya yang menangis terharu.
Iklan tersebut hanya salah satu contoh penerapan teknik means-end chain yang semakin sering dipakai pada iklan-iklan. Filosofi di balik means-end chain adalah atribut-atribut produk sebenarnya dipakai oleh konsumen sebagai batu loncatan (means) untuk mencapai tujuan akhir tertentu (end). Tujuan akhir tersebut adalah personal values, atau nilai-nilai pribadi yang kita anut. Untuk mencapai end tersebut, atribut-atribut produk bersangkutan harus melewati jalur manfaat fungsional dan psikososial produk. Jalur dari atribut produk –> manfaat fungsional –> manfaat psikososial –> nilai-nilai pribadi tersebut adalah means-end chain, rantai manfaat yang ditempuh produk bersangkutan untuk menyentuh konsumen di semua dimensi kebutuhannya. Teori ini berargumen, dengan menyentuh segala dimensi konsumen mulai dari kebutuhan fisik, psikososial, dan spiritual, sebuah produk akan lebih mudah diterima.
Dari contoh iklan di atas, salah satu contoh atribut produk tersebut adalah zat pemutih yang terdapat di dalamnya. Zat tersebut berguna untuk mencerahkan kulit (manfaat fungsional), yang bisa membantu pencapaian sebuah cita-cita (manfaat psikososial), yang untuk seterusnya akan membuat kita bahagia karena berhasil memenuhi harapan orang-orang yang kita cintai (nilai-nilai pribadi).
Sekarang, cobalah Anda pikirkan iklan-iklan lain yang berusaha menghubungkan atribut produknya dengan manfaat fungsional, psikososial, dan nilai-nilai Anda. Saya percaya Anda akan menemukan beberapa dengan cepat.
Ya, cara ini memang cukup ampuh, terutama bila hubungan yang berusaha dijalin bisa dipercaya (dan tentu saja bila dibantu dengan kreativitas perusahaan iklan). Tetapi tentu saja tidak semua iklan atau metode komunikasi pemasaran lain yang berusaha mengeksploitasi metode ini bakal berhasil. Pada kasus di mana konsumen merasa hubungan yang ingin diciptakan produsen terlalu dipaksakan, bisa-bisa konsumen akan mencibir dan mengabaikan iklan tersebut.
Kepopuleran metode ini juga membuat banyak perusahaan lain, termasuk kompetitor Anda yang sudah memanfaatkannya. Pada saat semua iklan beramai-ramai menonjolkan aspek emosional, sosial, dan pemenuhan nilai-nilai pribadi pada iklan, konsumen akan jenuh dan menganggap semuanya sama. Karena itu, perusahaan tidak bisa menciptakan sembarang means-end chain tanpa disertai pengetahuan terhadap kebutuhan konsumen dan strategi kompetitor untuk menciptakan positioning produk yang unik dan sulit ditiru.
Untuk membangun sebuah means-end chain yang ampuh untuk produk Anda, Anda harus berfokus pada manfaat yang diterima konsumen akhir. Lakukanlah wawancara, focus group, etnografi, atau metode-metode lain untuk menggali semua jenis manfaat dan pemenuhan nilai-nilai pribadi yang mereka cari dari kategori produk yang dihuni produk Anda. Temukan dan daftarkan semua manfaat-manfaat tersebut, lalu kelompokkan ke dalam golongan: manfaat fungsional, manfaat psikososial, dan nilai-nilai pribadi yang terpenuhi oleh manfaat-manfaat tersebut.
Dari daftar tersebut, Anda bisa menyusun banyak means-end chains yang bisa dipakai produk Anda. Tentu Anda tidak bisa memanfaatkan semuanya. Konsumen terlalu pintar untuk diakali bahwa ada produk yang bisa memenuhi semua kebutuhan mereka. Tugas Anda adalah mencari satu means-end chain yang paling memungkinkan untuk dipakai. Bagaimana memilihnya?
Melempar koin adalah salah satu cara yang bisa dipakai. Melempar dadu adalah cara lainnya. Menghitung kancing baju juga bisa dijadikan pilihan. Anda bisa juga berkonsultasi dengan ahli feng shui atau paranormal. Tetapi ada cara yang lebih efektif dan ilmiah.
Apa yang perlu Anda lakukan adalah mendaftarkan semua means-end chains yang ada yang sesuai dengan produk Anda. Setelah itu, urutkanlah sesuai dengan potensi pasarnya. Dengan kata lain, taruhlah means-end chain yang paling banyak disebut di posisi teratas dan urutkan terus ke bawah sampai yang paling jarang disebut. Misalnya untuk produk pasta gigi, bisa jadi ada means-end chain yang menekankan pada kebersihan gigi dan kepercayaan diri; ada yang menekankan pada keharuman napas dan daya tarik terhadap lawan jenis; ada juga yang mementingkan hilangnya karang gigi dan kesehatan; atau bagi ibu-ibu ada yang lebih mementingkan kesehatan gigi anak dan rasa tanggung jawab sebagai orang tua yang baik. Dari daftar rantai-rantai yang ada tersebut, lewat riset pasar, Anda harus bisa menentukan mana peringkat dari rantai yang paling populer sampai yang paling tidak populer.
Idealnya, produk Anda ingin mengklaim means-end chain pada posisi teratas sebagai milik produk Anda. Hal itu bisa dilakukan bila jalur tersebut belum terlanjur diambil kompetitor Anda. Atau, bila kompetitor yang sudah melakukan positioning melalui jalur tersebut relatif kecil dibanding Anda, masih ada peluang untuk menggesernya walau harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Akan tetapi bila kompetitor yang mengambil jalur rantai tersebut adalah perusahaan yang kuat, lebih bijak bila Anda mengambil means-end chain berikutnya dalam daftar. Bila yang ini juga sudah diambil kompetitor kuat lainnya, cobalah yang berikutnya, sampai Anda menemukan yang cocok dengan konteks kompetisi di industri Anda.
Di sini kita melihat bagaimana analisis terhadap kebutuhan konsumen dan kompetitor dimanfaatkan untuk membangun means-end chain yang paling efektif. Yang tentu penting untuk diingat adalah selalu memulai dengan melihat dari kaca mata konsumen. Temukan manfaat yang mereka cari terlebih dahulu, bukan dari fitur-fitur atau atribut-atribut yang ditawarkan produk Anda. Dengan cara demikian, Anda akan lebih sukses mempengaruhi keputusan mereka.
Analisis means-end chain selain membantu positioning produk dan mempengaruhi keputusan membeli konsumen juga bisa membantu perusahaan mengungkapkan kebutuhan konsumen yang selama ini belum terpenuhi. Dalam hal ini, analisis ini juga bisa membantu lahirnya inovasi produk baru.
Semoga tulisan ini bisa membantu Anda memahami means-end chain, yang akan membantu Anda sukses di pekerjaan Anda, yang akan membuat Anda merasa puas dengan pencapaian pribadi Anda.