eXTReMe Tracker
if knowledge is power, then passion is the engine, body is the vehicle, and conscience is the driver

Blog ini sudah pindah ke http://www.nexusnexia.com

March 30, 2007

Kontainer, sebuah maha inovasi

Filed under: Entrepreneurship, Innovation, Globalization — itpin @ 7:57 am

Bagi Anda yang tinggal di kota-kota besar, terutama kota pelabuhan, pemandangan truk atau kereta api yang membawa kontainer tentu sudah merupakan hal yang lumrah. Kontainer seolah-oleh sudah menjadi pemandangan biasa nan tidak istimewa.

Dalam kesederhanaannya, kontainer sebenarnya merupakan sebuah maha inovasi yang sering luput dari perhatian kita. Penyebabnya tentu saja kontainer merupakan sebuah inovasi teknologi rendah. Padahal sejarah dunia, terutama sejarah dagang, telah banyak berubah karena terciptanya kontainer.

Sebenarnya berbagai upaya untuk mempermudah pengiriman barang telah dimulai sejak permulaan abad ke-20. Sejak tahun 1920-an, upaya kontainerisasi sudah dimulai. Namun kala itu, ukuran kontainer masih relatif kecil untuk ukuran saat ini. Penyempurnaan demi penyempurnaan terjadi sampai Malcom McLean, seorang pengusaha transportasi US, menciptakan kontainer besar yang bisa dipindahkan dari kereta api, truk, dan kapal dengan mudah. Selama proses transfer dari satu alat angkutan ke alat angkutan lainnya, kontainer tidak perlu dibuka sama sekali. Efeknya: biaya transportasi lebih murah dan resiko kehilangan barang berkurang jauh. Berkat inovasi tersebut, pengiriman barang menjadi lebih murah, efektif, dan efisien.

Inovasi kontainer juga berhasil menyelamatkan industri kapal dagang antar samudera. Industri ini sempat divonis akan mati. Fungsi kapal barang samudera diramalkan akan digantikan oleh pesawat terbang. Biaya pengiriman lewat laut dianggap cukup mahal, lama, dan beresiko. Satu-satunya jenis barang yang cukup efisien dikirim lewat laut adalah komoditi dalam jumlah besar.

Alasan kelamnya masa depan industri ini adalah kesalahan asumsi yang dipakai untuk mengatasi masalah ini. Dalam rangka meningkatkan efisiensi pemakaian kapal, para pemain di industri ini berlomba-lomba meningkatkan kecepatan kapal sehingga barang diharapkan lebih cepat sampai ke tujuan. Sialnya, kapal adalah barang dengan investasi besar, dan sebagaimana halnya barang-barang kapital besar lainnya, biaya terbesar ada pada biaya penyusutan dan biaya bunga. Baiya tersebut akan terasa dampaknya bila barang tersebut tidak dipakai. Itulah yang terjadi ketika kapal harus merapat ke dermaga dan menunggu aktivitas bongkar muat.

Inovasi kontainer berhasil menyelamatkan industri ini karena membalikkan asumsi sebelumnya. Bukan kapal yang lebih cepat yang dibutuhkan, tetapi waktu nganggur kapal yang harus dikurangi. Dengan kontainer, masalah tersebut berhasil dipecahkan dan industri yang hampir mati tersebut sekarang menjadi industri yang sangat penting dalam aktivitas perdagangan dunia.

Dengan segala kelebihannya, inovasi ini ternyata tidak diterima begitu saja. Regulasi yang bersifat lokal atau internasional membatasi adopsi kontainerisasi di tahun 1960an. Barulah di tahun 1980an, segala hambatan tersebut berhasil disingkirkan. Perkembangan seterusnya sungguh tidak diduga oleh siapapun. Kontainer yang berhasil menekan biaya pengiriman berhasil memacu laju ekspor impor antar negara. Singkat kata, saat ini kontainer telah menjadi bagian penting dalam sejarah umat manusia. Meski kadang jarang kita sadari, hampir semua barang impor yang kita beli pernah mencicipi bagaimana rasanya berada berhari-hari di dalam kontainer. Diperkirakan saat ini terdapat sekitar 18 juta kontainer yang lalu lalang setiap hari di samudera raya, dan sekitar 25% berasal dari Cina.

Namun popularitas kontainer ternyata juga diiringi dengan masalah lain. Jumlah kontainer yang sudah pensiun semakin memenuhi tempat pembuangan dan menyebabkan bahaya lingkungan. Terorisme juga menyisakan masalah lain karena kontainer juga mempermudah para teroris melakukan pengiriman antar benua.

Kisah inovasi kontainer ini memberi kita banyak pelajaran. Pertama, inovasi besar tidak harus lahir dari dunia teknologi tinggi. Inovasi besar umumnya muncul untuk memenuhi kebutuhan orang banyak yang sebelumnya tidak terlayani. Inovasi besar seperti kontainer atau listrik juga sering luput dari pengamatan kita. Justru karena pentingnya inovasi tersebut, mereka perlahan-lahan berhasil merasuk dalam kehidupan kita tanpa kita sadari. Kedua, inovasi sebesar kontainer bisa lahir melalui pengamatan terhadap adanya asumsi yang salah yang dipegang umum. Asumsi bahwa kapal (dan alat transportasi lainnya) harus mampu bergerak cepat untuk mencapai efisiensi ternyata salah. Yang dibutuhkan adalah utilisasi yang lebih tinggi. Dengan mencocokkan asumsi yang salah dengan realita, sebuah inovasi bisa dilahirkan. Ketiga, semua jenis inovasi besar harus melewati hambatan besar di awal perkenalannya karena status quo adalah pusat gravitasi besar yang harus dilawan secara konsisten dalam waktu lama. Inovasi yang bersifat diskontiniu seperti kontainer harus melewati sebuah jurang sebelum bisa diadopsi masal (baca juga: Inovasi, Lewatilah Jurang Ini!). Keempat, evolusi inovasi tidaklah mudah ditebak arahnya. Di tahun 1950an, siapa yang pernah menyangka kontainer bakal menjadi motor penggerak globalisasi? Karena itu, untuk menarik manfaat maksimal dari sebuah inovasi, selalulah berpikiran terbuka. Jangan memaksakan arah perkembangan inovasi tersebut. Biarkanlah pasar yang menentukan. Kelima, inovasi besar selalu menimbulkan efek samping yang tidak bisa diramalkan sebelumnya. Di sini, kita diminta untuk tanggap mengatasi efek samping tersebut yang sering melahirkan inovasi lainnya. Upaya untuk mengatasi pornografi pada Internet, misalnya, melahirkan inovasi berupa software yang bisa mengenali situs porno dan memblokirnya.

Setelah membaca artikel ini, ketika Anda melihat kontainer lagi, semoga Anda bisa mengingat bahwa kontainer tersebut bukan saja sarat dengan muatan dagang, namun juga sarat dengan pelajaran mengenai inovasi. Dan biarkanlah pelajaran tersebut masuk ke dalam otak Anda, yang merupakan kontainer yang paling berharga.

• • •
 

March 29, 2007

Integratif atau modular?

Filed under: Innovation — itpin @ 8:27 am

Bagi kebanyakan perusahaan, R&D adalah departemen yang misterius. Kadang setelah uang dikucurkan secara deras, hasilnya tidak kelihatan. Namun sesekali R&D bangkit menjadi pahlawan dengan mengeluarkan produk baru yang berhasil merubah nasib perusahaan. Misteri inilah yang menjadi misteri bernilai milyaran USD yang ingin dipecahkan banyak orang. Lebih spesifik lagi, banyak perusahaan yang ingin tahu mengapa ada perusahaan yang berhasil mendapatkan pengembalian yang tinggi dari upaya-upaya R&D mereka, dan ada yang gagal meski sudah mengucurkan dana besar? Apa faktor-faktor penyebabnya?

Mencari faktor pembeda tersebut sungguh tidak mudah. Banyak hal-hal eksternal lain yang bisa mempengaruhi. Kecepatan melahirkan inovasi yang diterima pasar tentu merupakan salah satu faktor penting. Tidak perduli sebaik apapun produk baru yang dihasilkan, bila ada kompetitor yang masuk duluan dengan produk sejenis, tingkat pengembalian investasi R&D pasti akan berkurang drastis. Demikian juga dengan regulasi pemerintah. Sebuah perubahan regulasi bisa membuat semua rencara porak poranda.

Kita tidak akan membahas semua faktor-faktor tersebut. Fokus kita adalah membahas salah satu faktor keberhasilan R&D yang selama ini sering lepas dari pengamatan. Apa itu? Faktor tersebut adalah ciri dari produk (komponen) yang dikembangkan R&D. Apakah produk tersebut bersifat modular atau integratif? Modular bila produk tersebut bisa diintegrasikan dengan produk lainnya dengan mudah selama parameter-parameter yang disepakati bersama ditentukan.

Contoh terbaik adalah PC. Karena sifatnya komponen-komponennya yang modular, perakit PC bisa menawarkan banyak kombinasi karena sebuah komponen tinggal dimasukkan di tempat yang sudah disediakan. Kebalikan dari modular adalah integratif. Di sini, produk tersebut memiliki keterkaitan tinggi dengan komponen-komponen pendukungnya yang sulit untuk dipisah. Hal ini umumnya terjadi pada produk baru yang hubungan sebab akibat kinerja masing-masing komponennya masih belum diketahui dengan jelas. Beberapa obat, misalnya, memiliki hubungan integratif dengan cara pemakaiannya. Obat tersebut harus dipakai dalam jumlah tertentu sesuai konteksnya, dan untuk mengerti konteks tersebut, sering dibutuhkan seorang ahli.

R&D yang difokuskan pada pengembangan produk yang terintegrasi ternyata mampu menghasilkan pengembalian keuntungan yang lebih tinggi dibanding untuk produk yang modular. Tidak dibutuhkan penjelasan yang rumit untuk menjelaskan fenomena ini. Pada produk yang terintegrasi, hubungan sebab akibat yang sulit diuraikan membuat hasil R&D sulit bocor ke dan diduplikasikan oleh perusahaan lain. Walau ada 1-2 insinyur yang lari ke perusahaan kompetitor, sifat integratif dari produk baru tersebut membuat para pembelot tersebut sulit menjelaskannya ke perusahaan baru mereka. Sementara pada produk modular, karena parameter-parameter penting sudah distandarkan, hasil riset dengan cepat bocor ke perusahaan lain. Hilangnya keunggulan unik tersebut membuat perusahaan harus berhadapan dengan hukum ekonomi: Ketika banyak perusahaan lain yang bisa menghasilkan produk yang sama, laba rata-rata menurun dengan cepat.

Untuk membuktikan hal tersebut, kita bisa berpaling kembali ke industri PC. Di industri ini, sifat modularitas sistem PC membuat para perakit PC hanya mampu meraup marjin keuntungan yang tipis. Para pemain terkenal harus bersaing dengan produsen komputer jangkrik. Sementara itu, mikroprosesor bersifat integratif. Hubungan rumit antara jutaan komponen-komponen yang membentuk sebuah mikroprosesor tidak bisa disederhanakan begitu saja. Karena itu, Intel yang menguasai pasar ini meraup keuntungan tinggi. Demikian juga untuk sistem operasi yang terintegrasi dan dikuasai oleh Microsoft.

Sampai di sini, tentu mudah untuk menyimpulkan perusahaan tinggal berfokus pada upaya pengembangan produk yang terintegrasi saja. Sederhana bukan? Sayang sekali, masalahnya tidak sesederhana itu. Alasannya karena ada beberapa faktor yang membuat sebuah produk terintegrasi akan berubah menjadi modular. Faktor pertama adalah tuntutan struktur organisasi. Ketika sebuah produk terintegrasi, pengembangan tidak bisa dilakukan secara pararel. Tim pengembang harus bekerja bersama-sama. Ketika produk semakin rumit, mengelola tim yang semakin besar sangat sulit. Karena itu, perusahaan harus memecah tim tersebut menjadi tim-tim yang lebih kecil yang bisa melakukan pengembangan secara pararel. Untuk bisa melakukan hal tersebut, produk tersebut harus dibuat modular sehingga beberapa tim bisa mengembangkan komponen-komponen tertentu secara bersamaan dan baru menggabungkan semuanya ketika selesai.

Faktor kedua adalah skala ekonomis. Sebuah perusahaan yang memiliki beberapa produk yang terintegrasi sulit mencapai skala ekonomis karena semua produk memiliki komponen-komponen yang bersifat unik. Bila beberapa komponen bisa dibuat modular, komponen-komponen tersebut bisa dipakai di beberapa produk sekaligus dan diproduksi dalam jumlah lebih banyak. Sony, misalnya, memakai komponen-komponen modular untuk produk Walkman-nya. Dengan strategi ini, Sony bisa memasarkan lebih dari 75 jenis produk, namun tetap bisa mencapai skala ekonomis karena komponen-komponennya bisa diproduksi dalam skala besar.

Faktor ketiga adalah akumulasi pengetahuan dari para perancang produk yang memungkinkan mereka menentukan hubungan sebab akibat dari komponen-komponen yang membentuk produk bersangkutan. Ketika hubungan-hubungan tersebut bisa didefinisikan dengan baik, sifat integratif produk perlahan-lahan mulai hilang.

Karena ketiga alasan tersebut, sifat integratif sebuah produk baru akan berubah menjadi modular. Perusahaan memang bisa berusaha memperpanjang waktu peralihan tersebut, namun seperti yang sudah dibuktikan berkali-kali dalam sejarah: semua yang terintegrasi pada akhirnya akan menjadi modular. Walau demikian, kadang kebalikannya bisa juga terjadi. Apa yang sudah modular bisa terintegrasi lagi bila ada perkembangan teknologi baru.

Perusahaan yang ingin memaksimalkan pengembalian R&D-nya tentu harus mengenali sifat dari produk yang akan dikembangkannya. Apakah produk tersebut bersifat integratif atau modular? Kita bisa belajar dari Dell. Menyadari sistem PC bersifat modular, Dell tidak mengucurkan uang besar untuk R&D di sistem PC. Alih-alih, mereka berfokus pada R&D untuk mengembangkan sistem supply chain mereka yang bersifat integratif. Hasilnya? Di tengah-tengah industri yang ketat ini, Dell mampu menjadi pemain yang disegani.

• • •
 

March 28, 2007

‘Of course, size matters’

Filed under: Change Management, Managing People, Innovation, Strategy — itpin @ 7:31 am

Apakah ukuran itu penting? Pertanyaan tersebut tentu bisa dianggap sebagai pertanyaan retorik. Ya, ukuran jelas penting, dan itu juga berlaku bila kita membahas mengenai inovasi perusahaan.

Namun yang masih menjadi teka teki (setelah melalui perdebatan sepanjang 50 tahun): apakah perusahaan besar atau perusahaan kecil yang lebih inovatif? Pada tahun 1940, Joseph Schumpeter, seorang ekonom terkenal di masanya, berargumen perusahaan besar jelas lebih inovatif dan monopoli bisa dibenarkan karena alasan itu (selama tidak merugikan konsumen). Lewat ukuran mereka yang besar, perusahaan tersebut mampu menyediakan sumber daya yang besar untuk menopang upaya-upaya inovasi. Uang? Mereka tentu punya. Pengetahuan pasar? Mereka mungkin lebih tahu selera Anda dibanding Anda sendiri. SDM? Tahukan Anda bila jumlah PhD yang bekerja di P&G lebih banyak dibanding jumlah PhD dari fakultas-fakultas sains yang mengajar di Harvard, Stanford, dan MIT, bila mereka digabungkan menjadi satu? Biaya produksi? Ukuran besar memungkinkan para perusahaan besar mencapai skala ekonomis karena mampu memproduksi dalam skala besar.

Selain itu, perusahaan besar juga lebih mampu mengelola resiko. Sebuah kegagalan proyek untuk perusahaan kecil akan menenggelamkan perusahaan tersebut. Di beberapa industri, seperti pembuatan pesawat terbang dan farmasi, jarang ada perusahaan kecil yang mampu bertahan karena besarnya investasi yang harus dibenamkan untuk menghasilkan produk-produk baru. Sedangkan bagi perusahaan besar, resiko tersebut bisa disebar ke beberapa proyek dalam bentuk portofolio. Sebuah keberhasilan umumnya akan mampu menutup seluruh kerugian di proyek-proyek lainnya. Kemampuan seperti ini sangat dibutuhkan dalam program-program inovasi karena tingginya angka kegagalan di sini. Reputasi perusahaan-perusahaan besar tersebut juga membuat konsumen lebih berani mencoba produk-produk inovatif yang dikeluarkan perusahaan bersangkutan sehingga penyebaran inovasi bisa dipercepat.

Jika begitu, apakah berarti perdebatan selesai dengan kemenangan di pihak perusahaan besar? Tentu tidak sesederhana itu, karena seperti yang dituliskan di alinea pembuka, perdebatan ini sudah terjadi selama 50 tahun dan mungkin tidak akan selesai 50 tahun lagi. Ukuran besar memang menjanjikan sejumlah keuntungan dalam berinovasi seperti yang dituliskan di atas. Namun, ukuran besar juga melahirkan masalah-masalah tersendiri.

Sebut saja masalah kontrol. Ukuran besar menyebabkan kontrol menjadi sulit. Akibatnya, di banyak perusahaan besar, upaya-upaya R&D banyak yang saling tumpang tindih dan keluar dari jalur strategi yang sudah ditentukan perusahaan. Kerumitan tersebut bertambah lagi bila perusahaan memiliki lebih dari satu basis R&D yang tersebar di mancanegara. Efisiensi R&D jelas menurun. Interaksi antar fungsi-fungsi dalam organisasi menjadi lebih sulit karena setiap fungsi cenderung membangun kerajaannya sendiri. Hal ini mempersulit upaya-upaya inovasi yang sering membutuhkan kerja sama lintas fungsional. Perusahaan besar juga lebih sulit memotivasi para stafnya yang sudah berjumlah ribuan orang. Lapisan birokrasi yang dibangun perlahan-lahan akan mencekik ide-ide yang datang dari bawah. Bahkan bila ide tersebut datang dari atas sekalipun, pola-pola hubungan dan kerja sama yang sudah dibangun dengan para pemasok, distributor, komplementor, atau subkontraktor sering menyulitkan perusahaan untuk berubah. Dan, o ya, jangan lupakan budaya perusahaan besar yang sering menyebabkan inersia.

Di sinilah perusahaan-perusahaan yang lebih kecil memiliki keuntungan. Ukuran kecil membuat mereka lebih lincah dan fleksibel. Karena keterbatasan dana R&D, mereka umumnya lebih selektif memilih proyek-proyek yang hendak dijalankan sehingga tingkat keberhasilan lebih tinggi. Beberapa riset berhasil membuktikan tingkat pengembalian R&D perusahaan-perusahaan kecil memang lebih tinggi dibandingkan perusahaan-perusahaan besar. Selain itu, kurangnya jalinan hubungan dengan pihak-pihak lain membuat para perusahaan kecil lebih bebas berinovasi, terutama dalam meluncurkan disruptive innovations. Ide-ide yang datang dari segala arah lebih mudah terdeteksi. Interaksi yang intens antara sesama anggota perusahaan membuat berbagai sudut pandang terakomodasi dengan baik.

Jadi sekarang kita bisa melihat ukuran memang memegang peranan besar dalam upaya inovasi. Ukuran besar memiliki keunggulan tersendiri, dan ukuran kecil memiliki keuntungannya juga. Beberapa perusahaan besar yang menyadari fakta ini berusaha sekuat mungkin menyeimbangkan keduanya. Walau ukuran mereka besar, mereka berusaha memecah-mecah perusahaannya menjadi beberapa unit yang lebih kecil. GE, Johnson & Johnson, Virgin, dan Hewlett-Packard sudah mencoba pendekatan seperti itu dengan cukup sukses. Tetapi permainan tersebut bukan permainan untuk semua perusahaan. Upaya menyeimbangkan ukuran besar dan kecil memperlukan upaya-upaya koordinasi dan kontrol yang cukup njelimet. Ini ibarat meminta tangan kiri menggambar lingkaran dan tangan kanan menggambar segitiga. Anda tidak percaya? Mengapa tidak mencoba menggambar sendiri?

• • •
 
Next Page »