|

Aktivasi Otak Tengah: Penipuan atau Bukan?

Berikut adalah artikel tambahan untuk buku ‘Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya‘. Artikel ini bisa dibaca lepas, namun Anda dianjurkan untuk membaca buku Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya terlebih dahulu bila ingin mendapatkan pengertian yang lebih mendalam:

Belakangan ini di tanah air sedang marak tawaran untuk menyulap anak-anak biasa menjadi genius secara cepat melalui metode aktivasi otak. Apakah tawaran tersebut bisa dipercaya atau tidak? Saya kira sebagian dari kalian sudah mengetahui jawabannya. Sementara bagi yang belum, saya anjurkan Anda untuk mengikuti beberapa diskusi yang berkembang di Internet:

http://www.kaskus.us/showthread.php?p=251431763

http://www.facebook.com/topic.php?uid=136540899711671&topic=136

Saya harap kebanyakan pertanyaan Anda bisa terjawab dari diskusi tersebut.

Di sini saya ingin menambahkan sedikit pandangan pribadi saya, terutama saat pertama kali mendengar tentang metode tersebut.

Hal pertama yang menimbulkan tanda tanya besar di kepala saya waktu itu adalah penjelasan dari pihak GMC bahwa otak tengah berfungsi untuk menghubungkan otak kiri dan otak kanan. Dengan mengaktifkan otak tengah tersebut, secara otomatis otak kiri dan otak kanan akan terhubung dan anak tersebut akan menjadi genius. Hmh.. kedengarannya masuk akal. Yang menjadi masalah, bagian yang menghubungkan otak kiri dan otak kanan adalah corpus callosum, bukan otak tengah (mid brain). Semua mahasiswa kedokteran atau psikologi pasti sudah mengetahui fakta tersebut. Nah, bagaimana mungkin sebuah teori yang konon kabarnya telah diselidiki belasan dokter di Jepang bisa salah untuk istilah yang mendasar seperti itu?

Kedua, jika tidak salah ingat, di buku yang diterbitkan pihak GMC, dijelaskan juga bahwa otak tengah hewan lebih aktif dibanding manusia sehingga hewan memiliki daya penglihatan atau insting yang lebih tajam, dlsb. Itu mungkin benar. Masalahnya, otak tengah termasuk otak primitif yang bekerja berdasarkan refleks dan insting. Pada manusia, sebagian besar fungsi otak tengah (termasuk bagian lain dari sistem otak kuno seperti amygdala, thalamus, basal ganglia, cerebellum), sudah diambil alih oleh neocortex, bagian otak yang lebih modern dan rasional. Neocortex inilah yang memungkinkan kita memilih tanggapan dengan jauh lebih cerdas, dan tidak semata-mata mengikuti insting kita. Katakanlah metode aktivasi tersebut berhasil mengaktifkan otak tengah kita, tidakkah itu berarti kita diminta berjalan mundur sehingga menjadi lebih mirip hewan?

Ketiga, metode ini mengasumsikan ada bagian otak kita yang harus diaktivasi. Ada yang bilang otak kita hanya aktif 10%-15%. Siapa yang bilang demikian? Seperti yang bisa dibaca di buku Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya, otak kita adalah organ yang efisien. Semua neuron yang membentuk otak kita sudah aktif. Bila ada neuron yang tidak aktif, neuron tersebut akan mati. Mitos 10%-15% tersebut kemungkinan besar adalah hasil dari pelintiran salah satu pidato William James (bapak psikologi modern) yang pernah menyebut kita masih memiliki banyak potensi untuk dikembangkan. Dalam Bab 2 buku Ketika Mozart Kecil, kita bisa melihat pengembangan potensi tersebut bukanlah dilakukan melalui aktivasi bagian otak atau neuron-neuron yang masih “tertidur”. Potensi tersebut dikembangkan dengan membangun dan memperkuat koneksi-koneksi berkualitas tinggi antar neuron, dan proses pembangunan koneksi tersebut tidaklah instan. Anda harus berlatih dan belajar dengan tahapan dan langkah-langkah yang benar.

Keempat, setelah melihat banyaknya lubang-lubang pada metode aktivasi tersebut, saya mencoba mencari makalah ilmiah yang mendukung aktivasi otak tengah di Internet. Hasilnya? Nihil. Kosong. Semua informasi hanya berasal dari pihak GMC sendiri. Penemuan sebesar ini — yang berpotensi menghasilkan Hadiah Nobel buat penemunya — masa tidak ada jurnal ilmiah yang mendukung, atau paling tidak merujuknya?

Selain itu, beberapa hari lalu, saya sempat menonton tayangan di salah satu saluran di TV kabel. Acara tersebut memberitakan tingginya persaingan anak-anak Jepang hanya untuk masuk ke TK/SD. Rata-rata anak harus menyelesaikan 20.000 lembar kertas kerja untuk latihan untuk ujian masuk ke SD favorit! Jangan heran bila banyak anak-anak Jepang yang depresi dan bunuh diri. Pertanyaannya: Bila Jepang sukses mengembangkan metode aktivasi otak tengah ini, mengapa metode tersebut tidak dipergunakan untuk anak-anak tersebut? Bukankah metode tersebut bisa meningkatkan daya saing Jepang, apalagi Jepang sekarang mengalami krisis demografi (dimana jumlah anak-anak kecil terus mengalami penurunan)?

Sekarang, dengan segala tanda tanya tersebut, marilah kita coba membuka pikiran kita sedikit. Mungkin saja metode aktivasi tersebut memang benar? Jika demikian, saya akan mengundang pihak GMC memberikan rujukan ilmiah untuk mendukung teori tersebut (dan tidak berlindung di belakang kedok penelitian tersebut bersifat rahasia. Bila rahasia, mengapa bisa diajarkan dengan bebas di Indonesia?). Atau, untuk orang tua yang pernah mencoba metode tersebut, mungkin ada yang bersedia membagikan pengalamannya di sini? Sementara itu, bagi para orang tua yang sayang anak-anaknya, saya harap kalian jangan terlalu cepat percaya pada metode-metode yang konon kabarnya bisa menjadikan anak-anak Anda genius secara cepat. Semua orang memang berpotensi menjadi genius, tetapi tidak ada cara cepat. Seperti yang bisa Anda simpulkan dari buku Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya: “Kegeniusan adalah proses pengasahan terus-menerus, bukan sebuah kondisi yang statis.”

Jadi, selalulah bersikap waspada dan lakukan riset secara mendalam sebelum merogoh dompet Anda.

(Untuk artikel terkait lainnya, silakan ke laman resmi “Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya“)

1 Comment for “Aktivasi Otak Tengah: Penipuan atau Bukan?”

  1. Aku pikir, otak tengah bukanlah merupakan jembatan untuk kejeniusan,

    Tapi yang menyebabkan seseorang jenius atau tidak, adalah prinsip bawah sadar |”dibawah kegelapan, di atasnya cahaya, ditengahnya jingga|”|????bingung|? , untuk penjelasannya sangat rahasia dan tidak diperjualbelikan.

Leave a Reply

Recently Commented

  • cholid: Pak saya sudah menunggu sejak lama akhirnya terbit juga saya sudah pre-order dari buku pertama selesai di...
  • irpan Salehuddin: Banyak inovasi-inovasi canggih di Indonesia yang berhenti ditengah jalan terbentur masalah...
  • rudiath7: Wah keren banget artikelnya.. sangat2 inspiratif. Makasih saya jadi nambah ilmu. Sepertinya jadi tahu...
  • devi: Sy nggak sabar untuk baca buku selanjutnya :D
  • admin: @viavi: u/ jadwalnya semuanya tergantung dari pihak penerbit. kita doakan saja semoga bisa cepat :) sementara...