|

‘Cars’ dan globalisasi

Sudahkah Anda menonton film animasi 3D terbaru dari Pixar, Cars? Bila sudah, Anda mungkin tanpa sadar telah disuguhi pelajaran ekonomi, terutama dalam kaitan dengan perdagangan dan globalisasi.

Dalam film tersebut, sang pemeran utama, si mobil balap baru Lightning McQueen, terdampar di daerah gurun dari perjalanan menuju LA untuk mengikuti babak akhir kejuaraan balap mobil Piston Cup. Karena kebingungannya, dia akhirnya harus berurusan dengan aparat hukum dan diberi hukuman kerja sosial di sebuah kota terpencil Radiator Springs. Aktivitas perekonomian kota kecil ini hampir mati karena tidak ada pendatang dari luar yang berkunjung. Namun kota tersebut ternyata merupakan kota yang hidup dan berjaya bertahun-tahun sebelumnya. Yang membuat perbedaan antara kedua kondisi tersebut adalah dibangunnya jalan raya baru, Interstate 40, yang tidak melewati kota tersebut. Sebelumnya, kota tersebut dilewati jalan raya lama Route 66. Perbedaan antara adanya akses ke dunia luar dan tidak adalah penentu mati hidupnya perekonomian sebuah daerah.

Bila Anda menganggap cerita tersebut hanyalah cerita kartun, maka cerita berikut mungkin bisa mengubah pandangan Anda. Pada abad ke-9 di negeri yang sekarang kita kenal dengan nama Belgia, Bruges merupakan kota yang sangat terkenal. Kota ini terletak di pinggir sungai Zwin yang berdekatan dengan muara laut. Karena letaknya yang strategis, Kota ini menjadi pusat perdagangan di Eropa bagian utara. Pedagang-pedagang dari Spanyol, Inggris, Belanda, Prancis, Rusia dan lainnya bertemu di kota tersebut untuk bertukar dagangan. Akibat aktivitas perdagangan yang ramai tersebut, kota ini menjadi kaya raya dan makmur. Penduduk kota ini sempat mencapai 2 kali kota London. Ratu Prancis yang pernah mengunjungi kota ini pernah dengan terkagum-kagum berkata “Aku berpikir aku adalah ratu, namun di sini aku menyaksikan 600 orang pesaing.”

Kejayaan tersebut terus berlangsung sampai 250 tahun, meski kota tersebut berganti penguasa dan ditaklukkan oleh negeri-negeri lain berulang kali. Industri-industri baru berkembang; dan demikian juga dengan kesenian dan bidang-bidang lainnya.

Namun pada abad ke-15, endapan di Zwin membuat kapal-kapal besar mulai kesulitan mencapai kota Bruges. Para pedagang terpaksa memindahkan pusat perdagangan ke kota lain yang lebih mudah diakses lewat laut, yaitu Antwerpen. Perlahan-lahan Bruges menjadi kota mati. Para penduduk dan bisnis lokal perlahan-lahan meninggalkan kota tersebut. Hari ini, kejayaan masa silamnya hanya bisa disaksikan di museum dan gedung-gedung bersejarah yang masih berdiri.

Di negeri bahari kita sendiri, banyak ahli yang berpendapat kemunduran kerajaan Majapahit dimulai pada saat kerajaan tersebut memutuskan untuk memindahkan pusatnya dari pesisir ke pedalaman Jawa. Akibat keputusan tersebut, aktivitas perekonomian dengan saudagar-saudagar dari negeri lain berkurang drastis. Dengan berkurangnya aktivitas perekonomian, berkurang juga upeti yang diterima kerajaan. Ujung-ujungnya, kurangnya kas kerajaan membuat pertahanan negara melemah. Kesempatan ini dipergunakan oleh kerajaan-kerajaan lainnya yang berpusat di pesisir untuk meningkatkan kemakmuran dan kekuatannya yang akhirnya berhasil menaklukkan Majapahit.

Kasus di atas melukiskan pentingnya perdagangan untuk menaikkan taraf kemakmuran dan kelangsungan hidup sebuah negara. Perdagangan tersebut hanya bisa terjadi bila kita bersedia membuka diri dengan dunia luar. Kecaman para pendukung anti-globalisasi jelas ada benarnya. Globalisasi memang telah menciptakan jurang yang semakin lebar antara kaya dan miskin. Namun bila globalisasi dihilangkan, walau jurang kekayaan tersebut akan menyempit, yang ada hanyalah yang miskin dan yang miskin (kecuali penguasa dan kroni-kroninya). Mau contoh? Lihat saja Korea Utara atau Myanmar. Atau Cina, Mongolia, India, Uni Soviet, dan negara-negara Eropa Timur pada 20-30 tahun sebelumnya. Afrika Selatan yang dulunya sempat diembargo ekonomi karena politik apartheid-nya juga pernah mengalami kesulitan ekonomi. Setelah embargo tersebut dicabut, barulah negara tersebut mampu menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia.

Dalam menghadapi globalisasi, kita tidak perlu berpikiran negatif. Bila kita siap, globalisasi justru merupakan berkah. Kuncinya tentu saja adalah kata siap. Sebagai individu, siapkah Anda dengan terus mempersenjatai diri dengan cara pikir dan pengetahuan terkini? Sebagai perusahaan, siapkah perusahaan Anda bersaing secara global dengan strategi yang benar? Sebagai negara, siapkah pemerintah kita memangkas birokrasi dan menciptakan iklim investasi yang baik? Selain itu, sebagai masyarakat, siapkah kita menangkal efek samping globalisasi berupa masuknya budaya yang tidak cocok dengan nilai-nilai kita? India berhasil menarik manfaat dari globalisasi tanpa menghancurkan budayanya. Mengapa kita tidak bisa?

Sebagai catatan tambahan, salah satu jalur perdagangan terbesar telah dibangun saat ini. Jalur tersebut bukan Interstate 40. Kita mengenalnya dengan nama Internet. Dengan Internet, kita tidak perlu berlokasi di kota-kota strategis untuk menjalankan aktivitas perekonomian. Yang penting adalah akses Internet yang baik. Tapi, apakah saat ini, infrastruktur fisik dan pengetahuan kita juga sudah siap untuk itu? Berapa persen penduduk kita yang mampu mengakses broadband? (Jangankan broadband, untuk akses modem saja mungkin masih terbatas di kota-kota.) Seberapa siap lembaga pendidikan kita menghasilkan lulusan yang mampu memanfaatkan Internet selain untuk sarana chatting? Sebagai individu, siapkah juga Anda untuk membuka bisnis di Internet (dan bukan sebagai penjual nomor kartu kredit curian atau money games)? Dan pemerintah? Seberapa serius pemerintah kita menempatkan akses Internet sebagai agenda pembangunan nasional? Apakah kita hanya bisa menyaksikan negara-negara lain memanfaatkan jalan raya baru tersebut dari tepi jalan dengan hati iri dan mencari kambing hitam untuk kekurangan kita?

Semuanya terserah kita…

Pada akhir cerita di Cars, kota Radiator Springs akhirnya mampu menghidupkan dirinya kembali. Bagi Anda yang belum menonton, ada baiknya Anda menonton sendiri akhir ceritanya. Namun bagi yang tidak sabar, keberhasilan mereka diraih berkat: optimisme, kerukunan, kesiapan, dan kerja sama (atau meminjam istilah dari budaya kita: gotong royong).

1 Comment for “‘Cars’ dan globalisasi”

  1. Kata pak Kwik Kian Gie, salah satu contoh strategi ekonomi kerakyatan yang berhasil adalah ketika China masih menutup diri dari dunia luar (politik Tirai Bambu). Ketika era keterbukaan memberi kesempatan pada dunia untuk melihat isi dalam China, ternyata nggak ketinggalan-ketinggalan amat. Kuncinya terletak pada strategi ekonomi kerakyatan yang mereka anut. Salah satu cirinya, tidak mengandalkan industrialisasi yang bahan bakunya impor.

    Kita nggak mengharapkan terisolasi seperti itu. Alasan pertama, karena kualitas kepemimpinan kita mungkin tidak sebagus China (dalam memikirkan rakyatnya). Alasan lain adalah, saya bakalan kehilangan akses ke tulisan2 pemikiran macam mas ItPin. :)

Leave a Reply

Recently Commented

  • cholid: Pak saya sudah menunggu sejak lama akhirnya terbit juga saya sudah pre-order dari buku pertama selesai di...
  • irpan Salehuddin: Banyak inovasi-inovasi canggih di Indonesia yang berhenti ditengah jalan terbentur masalah...
  • rudiath7: Wah keren banget artikelnya.. sangat2 inspiratif. Makasih saya jadi nambah ilmu. Sepertinya jadi tahu...
  • devi: Sy nggak sabar untuk baca buku selanjutnya :D
  • admin: @viavi: u/ jadwalnya semuanya tergantung dari pihak penerbit. kita doakan saja semoga bisa cepat :) sementara...