eXTReMe Tracker
if knowledge is power, then passion is the engine, body is the vehicle, and conscience is the driver

Blog ini sudah pindah ke http://www.orangenexus.com

December 2, 2006

Belajar dari tiga orang bijak

Filed under: Globalization, Economics, Macroeconomics — itpin @ 9:06 am

Negeri indah kita ini berturut-turut mendapatkan kunjungan tiga pakar ekonomi dan strategi tingkat dunia. Kunjungan pertama dilakukan oleh ekonom kelas dunia dari Peru, Hernando de Soto. Setelah itu menyusul guru besar strategi dari University of Michigan, CK Prahalad. Kemudian baru-baru ini Michael Porter, yang sering dianggap sebagai pemikir strategi paling berpengaruh dewasa ini, berkesempatan hadir dan membagikan pengetahuannya.

Kita tentu layak berbangga menerima kunjungan mereka. Tetapi yang lebih penting lagi adalah menyerap buah pemikiran mereka, karena ketiga pemikir ini merupakan pakar-pakar yang disegani di dunia. Buah pemikiran mereka bukan saja bersifat akademis dan teoritis, namun telah terbukti mampu meningkatkan daya saing beberapa negara di dunia. Sebagai contoh, ide-ide Hernando de Soto sudah diterapkan dengan sukses di Peru, Mesir, dan bekas negara-negara komunis di Eropa Timur. Model diamond dari Porter yang menjelaskan daya saing ekonomi nasional dipakai secara fanatik oleh Singapura untuk membangun perekonomian nasional mereka.

Ketiganya tentu melihat masalah ekonomi nasional dari kaca mata berbeda. De Soto, misalnya, melihat pentingnya peran birokrasi dalam menentukan kemajuan ekonomi sebuah bangsa. Hukum-hukum dan peraturan yang dibuat pemerintah dan para birokrat memiliki pengaruh yang amat besar, baik secara positif atau negatif. Porter menekankan hal yang hampir sama, tetapi Porter lebih berani dalam melancarkan kritik langsung kepada pemerintah Indonesia. Menurut beliau, birokrasi di Indonesia terkenal paling njelimet di dunia. Kerumitan tersebut membuat para investor asing berpikir berkali-kali sebelum membenamkan investasi di negara ini. Padahal, investasi tersebut sangat penting untuk mengurangi angka pengangguran dan meningkatkan taraf hidup bangsa.

Namun De Soto membawa buah pikiran lain yang membuatnya terkenal. Dia menekankan pentingnya pemberian hak atas properti untuk kaum marginal yang selama ini belum memiliki hak milik legal atas tempat tinggal mereka. Legalisasi seperti itu mutlak dibutuhkan untuk memungkinkan mereka mengakses kredit perbankan dengan biaya rendah dalam upaya memacu kewiraswastaan mereka. Kurangnya akses ke kredit resmi tersebut membuat mereka harus tergantung pada kredit berbunga tinggi dari para rentenir yang umumnya semakin memperparah kondisi ekonomi mereka.

Bila kita terbiasa melihat ekonomi nasional dari kaca mata konvensional, kita tentu layak mempertanyakan kemampuan kaum miskin tersebut membantu pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan daya beli yang lemah, bagaimana mungkin mereka memiliki kekuatan untuk mendorong kemacetan ekonomi Indonesia yang sarat dengan masalah?

Di sinilah buah pikiran Prahalad mampu memberikan pencerahan. Kaum marginal ini, atau yang disebuat Prahalad sebagai bottom of the pyramid sebenarnya menyimpan potensi ekonomi yang besar. Sebagai individu, pengaruh mereka memang hampir tidak ada. Tetapi untuk negara berkembang dengan jumlah penduduk miskin yang besar seperti di Indonesia (sekitar 40 juta jiwa menurut sensus resmi terakhir), secara agregat kekuatan ekonomi tersebut tidak bisa diremehkan.

Kaum ini sebenarnya juga memiliki aspirasi yang sama dengan kaum-kaum lainnya. Bila daya konsumsi mereka bisa dibuka – misalnya dengan menyediakan kredit ringan atau pembelian melalui sistem arisan seperti yang dirintis perusahaan semen dari Meksiko, Cemex – kaum miskin ini juga bersedia membeli barang-barang yang sama dengan kaum menengah dan atas.

Organisasi bisnis yang telah melayani segmen ini menemukan beberapa keuntungan. Pertama, kompetisi di segmen ini cukup rendah dibanding di segmen yang melayani kalangan menengah dan atas. Kedua, untuk melayani segmen ini sering dibutuhkan inovasi radikal untuk menghasilkan produk bermutu dengan biaya rendah seperti yang dilakukan Jaipur Foot di India yang mampu menjual sebuah kaki palsu bermutu dengan harga USD 25. Kemampuan menciptakan inovasi dengan biaya murah tersebut pada akhirnya bisa dipakai untuk menghasilkan barang biaya murah untuk kelas menengah dan atas, sehingga mampu membantu perusahaan tersebut mendapatkan margin keuntungan yang lebih tinggi di semua segmen. Selain itu, perusahaan yang melayani segmen ini sering mendapatkan image yang positif dari publik karena dianggap peduli terhadap kaum miskin seperti yang dialami oleh Hindustan Lever, anak perusahaan Unilever di India. Perusahaan ini mengangkat para wanita miskin sebagai distributor di desa-desa mereka, sebuah upaya yang membantu meningkatkan taraf hidup mereka.

Ide Prahalad ini memang cukup membuka mata buat dunia bisnis yang selama ini meremehkan potensi kaum miskin. Padahal, bukti-bukti yang berhasil dikumpulkan Prahalad menunjukkan perusahaan yang berhasil melayani kaum miskin memiliki tingkat pengembalian investasi yang lebih tinggi dibanding perusahaan lain yang melayani segmen yang lebih makmur.

Seperti yang bisa kita lihat, ketiga pemikiran tersebut sebenarnya saling melengkapi. Birokrasi memang perlu, tapi harus disederhanakan. Peraturan yang mendorong investasi dari segala arah harus dikeluarkan, bukan saja dari perusahaan multinasional, namun juga dari kaum paling bawah. Peraturan yang dikeluarkan oleh pihak-pihak yang berbeda juga harus berjalan ke arah yang sama dan bukannya saling bertolak belakang.

Tetapi yang lebih penting adalah jangan melupakan kekuatan ekonomi dari kaum miskin. Porter mengakui permasalahan yang dihadapi Indonesia memang rumit dan tidak cukup waktu untuk melakukan segalanya. Tetapi Porter mengatakan kita harus bisa memprioritaskan hal-hal penting. Salah satu hal penting yang bisa dilakukan pemerintah tentu saja membantu perusahaan yang ingin memberdayakan para kaum miskin tersebut, dan memberi kemudahan pada kaum miskin untuk berinvestasi. Dengan kekuatan agregat mereka, bila diberi waktu dan kesempatan, mereka seharusnya bisa membantu meringankan masalah ekonomi bangsa ini.

• • •
 

October 12, 2006

Eksperimen harga taksi di Surabaya

Filed under: Business, Strategy, Economics — itpin @ 8:10 am

Bila Anda tinggal di Surabaya, Anda mungkin sudah mendengar tentang keputusan penurunan tarif taksi oleh para operator taksi di kota ini. Keputusan tersebut mulai diberlakukan tanggal 27 September lalu. Penurunan tarif tersebut diharapkan mampu meningkatkan jumlah penumpang yang terus menurun. Apalagi tarif taksi di Surabaya sebelumnya adalah yang tertinggi untuk kota-kota besar di pulau Jawa, termasuk Jakarta. Namun sampai sejauh ini jumlah penumpang belum mengalami peningkatan.

Beberapa alasan diberikan untuk menjelaskan hal ini. Alasan utama karena pemberlakuan tarif baru ini dimulai pada bulan puasa, yang memang biasanya sepi. Sedangkan alasan lain adalah kurangnya sosialisasi ke masyarakat sehingga masih banyak yang belum tahu.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan penurunan tarif tersebut, apalagi bila tarif taksi di Surabaya memang termasuk mahal. Akan tetapi terlihat kesan penurunan tersebut lebih merupakan upaya spekulatif untuk mengatasi krisis daripada sesuatu yang dipikirkan secara matang. Salah satu perusahaan taksi dikabarkan pernah mengadakan survei terlebih dahulu. Dari 336 responden yang dipilih dari 4 pusat keramaian menunjukkan 75% responden mengatakan ongkos taksi di Surabaya memang mahal dan 65% mengatakan jumlah penumpang pasti akan naik bila tarif taksi diturunkan (Kompas edisi Jatim, 25 Agustus).

Terlepas dari keakuratan metode sampling yang dipakai, jawaban yang diberikan tersebut tidak memberi banyak informasi berharga. Meski 65% responden mengatakan jumlah penumpang pasti akan naik, tidak berarti setelah tarif diturunkan, jumlah penumpang akan naik 65%. Harap diingat juga, para konsumen sering mengatakan sesuatu sewaktu disurvei dan melakukan hal yang lain.

Selain itu ada satu hal penting lagi yang tampaknya tidak dianalisis sama sekali, yaitu price elasticity (of demand) dari konsumen. Istilah price elasticity yang diambil dari dunia ekonomi ini menunjukkan sejauh mana pengaruh perubahan harga terhadap keputusan konsumen untuk membeli. Bila sedikit perubahan saja mampu menarik banyak konsumen baru, maka elastisitas harga tergolong tinggi. Namun bila perubahan sedikit tidak memberi banyak pengaruh (atau sama sekali tidak ada), elastisitas tersebut tergolong rendah. Elastisitas tersebut bisa saja (dan hampir pasti) berbeda untuk jenis pelanggan yang ada. Untuk mereka yang mampu, mereka mungkin menunjukkan elastisitas yang rendah, sementara untuk yang kurang mampu, elastisitas tersebut cukup tinggi. Bayangkan bila segmen atas bersedia membayar Rp. 10.000,- dan segmen bawah bersedia membayar Rp. 5.000,-. Penurunan harga dari Rp. 10.000,- ke Rp. 6.000,- jelas tidak akan berdampak terhadap jumlah penumpang. Yang dulunya bersedia membayar Rp. 10.000,- tentu akan berterima kasih karena bisa menghemat. Namun yang bersedia membayar Rp. 5.000,- tetap tidak akan terpengaruh. Tanpa adanya analisis berdasarkan segmen pelanggan semacam itu, penurunan harga secara spekulatif hanya akan merugikan.

Kenapa juga tidak dilakukan pengujian terbatas terlebih dahulu agar ada perbandingan dengan control group? Taruhlah dilakukan dulu uji coba terbatas, misalnya dengan mengumumkan penurunan untuk waktu 1 minggu. Lihat hasilnya apakah terdapat perbedaan yang signifikan. Kalau jawabannya adalah “ya”, baru dilanjutkan.

Sebenarnya apa yang dilakukan pengelola armada taksi di Surabaya tersebut adalah hal yang lumrah kita jumpai di Indonesia. Bila jumlah pelanggan menurun, turunkan harga. Harga, seolah-olah adalah satu-satunya parameter persaingan. Celakanya, ketika kita menurunkan harga, kompetitor yang berpikiran sama akan menjawab dengan menurunkan harga juga. Pada akhirnya, perusahaan akan menemui dirinya kembali berada pada titik awal persaingan, tetapi kali ini dengan harga jual dan laba yang lebih rendah.

Industri yang sudah mencapai kondisi ini tak pelak lagi adalah industri yang sudah masuk ke zona komoditi. Walau demikian, industri apa pun yang sudah masuk zona komoditi tersebut sebenarnya masih bisa diselamatkan kembali. Caranya tentu saja dengan melakukan differentiation melalui inovasi yang didasarkan atas kebutuhan konsumen.

Kita mencoba kembali ke industri taksi di Surabaya. Walau ongkos taksi memang cukup tinggi, tetapi saya yakin ada sebagian konsumen yang tidak terlalu mempertimbangkan masalah harga selama kebutuhan mereka yang lain terpenuhi. Bila perusahaan taksi bersedia berhenti melihat taksi hanya sebagai alat fungsional untuk memindahkan orang dari titik A ke titik B, sebenarnya terdapat banyak ruang untuk solusi kreatif dan inovatif sebagai titik awal melakukan differentiation. Beberapa contoh:

Keselamatan. Bukankah keselamatan tidak bisa dinilai dengan uang? Bila ada armada taksi yang menjamin semua supir taksinya mengutamakan keselamatan, armada tersebut pasti banyak dicari pelanggan yang meletakkan keselamatan di atas segalanya, tidak perduli bila harganya agak mahal sedikit. Dengan banyaknya supir taksi yang ugal-ugalan, peluang untuk menjadikan aspek keselamatan sebagai nilai jual tambah sangat terbuka.

Kejujuran. Cerita tentang pengemudi taksi yang senang mengajak penumpangnya berputar-putar kota sudah bukan cerita baru lagi. Mungkin hampir setiap orang yang kebetulan berpergian di kota lain pernah mengalaminya. Dengan banyaknya pendatang baru dan pengunjung di kota metropolitan ini, mestinya banyak yang tertarik dengan nilai jual yang berdasarkan aspek kejujuran ini. Saya bukannya mengatakan tidak ada supir taksi yang jujur, tetapi tanpa adanya komitmen dari perusahaan taksi bersangkutan, penumpang tetap akan merasa berjudi ketika memilih taksi. Syukur-syukur dapat yang jujur. Blue Bird di Jakarta boleh dibilang cukup berhasil dalam hal ini. Setahu saya, banyak pengunjung ibu kota yang selalu memilih taksi Blue Bird meski harus menunggu beberapa menit lebih lama.

Tepat waktu. Seberapa sering Anda memesan taksi, tetapi setelah menunggu 30 menit, taksi tersebut tidak datang-datang? Bila Anda memiliki urusan penting, misalnya janji dengan dokter atau ada anggota keluarga yang sakit, waktu adalah sesuatu yang sangat berharga. Sedikit saran kreatif: Bila tidak ada armada taksi dari perusahaan sendiri yang mampu menjemput pelanggan dalam waktu 10-15 menit, panggillah taksi perusahaan lain yang mampu menyediakannya. Memang perusahaan Anda akan rugi sedikit dalam jangka pendek (terutama rugi waktu dan biaya telepon), tetapi hal ini akan meningkatkan kesetiaan pelanggan Anda, terutama untuk pelanggan rumah tangga yang jumlahnya cukup banyak. Bila mereka sudah biasa memutar nomor telepon perusahaan taksi Anda, mereka akan melakukannya lagi, apalagi mereka merasa puas dengan pelayanan perusahaan Anda. Pelanggan juga merasa tidak perlu lagi menghapal nomor telepon perusahaan taksi lain, karena tahu perusahaan Anda selalu bersedia membantu mencarikan taksi lain.

Kenyamanan dan hiburan. Selain kebersihan taksi, bagaimana dengan menyediakan koran hari ini atau majalah untuk dibaca penumpang selama perjalanan? Bagaimana pula dengan alunan musik yang sesuai dengan selera penumpang? Lebih jauh lagi, dengan banyaknya penumpang pesawat terbang akhir-akhir ini, bagaimana bila bekerjasama dengan perusahaan penerbangan agar penumpang bisa melakukan check in di dalam taksi?

Solusi korporat. Dari pelanggan biasa kita beralih ke segmen korporasi. Saat ini, banyak perusahaan yang memiliki armada kendaraan sendiri. Mengapa tidak ada perusahaan taksi yang mengunjungi perusahaan-perusahaan tersebut dan menyediakan jasa outsourcing untuk armada kendaraan? Taksi-taksi tersebut akan membantu mengantar jemput para eksekutif, manajer, dan para tamu-tamu perusahaan. Sebagai tambahan, taksi tersebut bisa dilengkapi dengan peralatan kantor standar agar para penumpang tetap bisa bekerja selama dalam perjalanan (termasuk colokan listrik untuk notebook dan HP). Ingin mengirim surat atau paket? Titipkan saja ke supir taksi. Sang supir lewat perusahaannya akan membantu Anda mengirimkan surat/paket tersebut. Harga? Tentu saja lebih mahal, tetapi perusahaan/profesional akan bersedia membayar kelebihan tersebut selama mereka memperoleh manfaat lain.

Bagaimana dengan inovasi untuk memperoleh pendapatan lainnya? Menyediakan body mobil sebagai media iklan berjalan tentu merupakan salah satu alternatif, dan hal itu sudah banyak dilakukan di negara-negara lain. Bagaimana pula dengan iklan di tempat duduk, atau dalam bentuk brosur yang ditaruh di dalam mobil?

Itu adalah beberapa contoh inovasi dan sumber differentiation bisa ditawarkan perusahaan taksi umum. Ya, harga memang penting, tetapi bukanlah satu-satunya hal yang dihargai. Memang ada konsumen yang meletakkan harga sebagai faktor utama. Lalu, mengapa perusahaan taksi tidak meluncurkan 2 atau lebih produk sekaligus: produk pertama yang bersifat fungsional dengan harga standar, dan produk kedua yang menyasar segmen yang lebih mengutamakan keselamatan dan/atau kenyamanan? Dengan demikian, perusahaan akan untung lebih, dan pelanggan senang karena mereka memiliki pilihan yang sesuai kebutuhannya.

Memang tidak mudah melakukan differentiation dan berinovasi. Budaya perusahaan dan cara berpikir lama harus dibongkar ulang. Struktur organisasi, sistem perusahaan, dan proses kerja juga harus dirombak. Dan semua itu membutuhkan waktu dan biaya. Karena itu, perusahaan lebih suka bermain di harga. Tetapi seperti kata pepatah: no pain, no gain, perusahaan yang tidak ingin bersusah payah membangun differentiation akan menemukan produk/layanannya dihargai semakin murah sehingga akhirnya tidak menguntungkan lagi.

• • •
 

August 4, 2006

Rasionalitas dalam kegilaan pasar

Filed under: Cognitive Biases, Economics, Group Thinking, Finance — itpin @ 7:44 am

Bulan Mei lalu, nilai IHSG sempat mencapai level tertinggi dengan menembus angka 1550, yang merupakan nilai tertinggi dalam beberapa tahun belakangan ini. Para analis berpendapat kenaikan tersebut tidak didasari atas fundamental ekonomi yang solid. Investasi yang masuk kebanyakan berupa hot money yang bisa hengkang dalam sekejap. Hal ini sempat terbukti ketika harga rupiah dan IHSG kemudian meluncur turun.

Apa yang menarik di sini adalah walau kebanyakan orang percaya kenaikan saham (dan rupiah) tidak akan berlangsung seterusnya, dan bisa terjun bebas kapan saja, para investor masih tetap memborong saham di saat harga saham sudah dinilai tinggi. Alan Greenspan, mantan Gubernur Bank Sentral US menciptakan istilah irrational exuberance untuk menggambarkan aktivitas pembelian spekulatif yang mengakibatkan naiknya nilai-nilai aset di atas nilai sebenarnya. Beberapa ahli lain memberi istilah madness of crowds yang melukiskan tindakan segerombolan orang untuk terus melakukan pembelian yang mengakibatkan naiknya harga-harga jauh di atas nilai semestinya.

Namun, apakah istilah irrational dan madness merupakan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan fenomena ini? Benarkah para investor yang mempertaruhkan uang mereka dengan membeli saham-saham di BEJ dan rupiah dengan berharap nilai-nilai investasi mereka akan naik terus, merupakan orang-orang yang tidak rasional atau malah gila? Apakah hal ini bisa dicegah bila kita lebih rasional? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus mengerti motivasi dan cara pikir dua aktor utama di bursa saham, yaitu broker dan investor.

Mari kita mulai dengan cerita Tony Dye, mantan Chief Investment Officer dari Philips & Dye. Pada tahun 1996, Dye setelah berpendapat nilai index FTSE (London) yang mencapai 4000 sudah terlalu tinggi, memindahkan sebesar 7 milyar pound dana investasi saham kliennya ke bentuk investasi tunai dengan return yang lebih stabil. Akibat tindakannya, dia langsung mendapatkan julukan ‘Dr Doom’. Ternyata, FTSE naik terus sampai tahun 2000. Perusahaan tempat Dye bekerja jatuh sebagai salah satu perusahaan investasi dengan kinerja terburuk. Tindakan Dye kelihatan sebagai tindakan yang bodoh. Namun Dye tetap pada pendiriannya.

Philips & Dew akhirnya memberi Dye ‘pensiun dini’ di bulan Maret 2000. Namun, tidak lama berselang, Dye ternyata benar! Bubble saham-saham perusahaan Internet pecah dan harga saham di mana-mana terjun bebas. Philips & Dew, yang belum sempat merubah strategi yang diterapkan Dye, langsung meloncat menjadi perusahaan investasi dengan kinerja terbaik selama periode tersebut, sementara perusahaan investasi lain tunggang langgang menyelamatkan diri.

Dye memang benar. Tapi pertanyaannya adalah: Apakah Dye bertindak rasional dengan menjual saham kliennya pada tahun 1996? Keputusan tersebut membuat dirinya menjadi bahan olok-olok dan kehilangan pekerjaannya. Sementara broker lain yang walau akhirnya terbukti salah, namun salah bersama-sama sehingga tidak ada yang bisa disalahkan. Setidaknya, pekerjaan mereka tetap aman.

Cerita ini menunjukkan bahwa dari sisi broker saham, tindakan mengikuti trend yang sedang terjadi jelas lebih aman daripada melakukan tindakan yang berlawanan. Lebih baik jatuh bersama-sama daripada sendirian. Perlu juga dipahami bahwa para broker umumnya dinilai berdasarkan jumlah dan nilai transaksi yang berhasil mereka buat, dan bukan untuk memilih saham yang benar berdasarkan asas-asas fundamental bisnis. Sebagaimana halnya manusia rasional pada umumnya, insentif mengendalikan tindakan mereka.

Lalu, bagaimana dari sisi investor sendiri? Sebagai manusia biasa, investor memiliki keinginan untuk mendapatkan lebih dari hasil investasinya. Meski percaya nilai saham pasti akan turun suatu saat nanti, namun dari perhitungan jangka pendek, cara terbaik untuk mendapatkan return of investment tercepat adalah dengan menunggangi ombak nilai saham yang sedang membumbung tinggi.

Sir Isaac Newton, yang dipercaya sebagai seorang paling jenius di jamannya pernah terjebak dalam kondisi demikian. Pada saat itu, terjadi bubble yang disebut dengan South Sea Bubble. South Sea Company (SSC) didirikan di Inggris pada awal 1710an pada saat Inggris berada di ambang kebangkrutan karena biaya perang. Kerajaan Inggris meminta perusahaan tersebut memberikan pinjaman dengan bunga 6%. Selain itu, SSC diberi hak monopoli untuk perdagangan di bagian lautan selatan bumi. Untuk mendapatkan dana, SSC mengeluarkan saham yang segera saja menjadi rebutan karena para investor melihat prospek monopoli di tanah Amerika Tengah dan Selatan yang konon kabarnya penuh dengan emas permata. Melihat besarnya minat, SSC mengeluarkan lebih banyak saham lagi yang juga langsung ludes. Nilai saham SSC membumbung tinggi.

Newton yang memegang saham SSC yakin harga saham tersebut sudah terlalu tinggi dan segera menjualnya. Namun, melihat harga saham SSC yang terus naik, Newton tidak tahan membeli kembali saham tersebut. Sang jenius akhirnya menderita kerugian yang cukup besar ketika ketika bubble tersebut pecah karena terjadinya perang Inggris-Spanyol yang menutup jalur perdagangan ke benua Amerika Selatan dan kesalahan bisnis lainnya yang dilakukan oleh SSC.

Bila Newton yang bisa dianggap sangat rasional tersebut terjebak dalam kegilaan seperti ini, maka kita bisa berargumen, kita juga tidak mempan terhadap godaan untuk terus membeli pada saat harga saham terus naik.

Fenomena irrational exuberance tersebut sebenarnya bisa dilihat sebagai upaya rasional para aktor utama di bursa saham - broker dan investor - untuk memperoleh hasil terbaik buat diri mereka sendiri, walau faktor lain seperti kecendrungan para pemain untuk mengambil resiko memegang peranan juga. Mungkin itu juga salah satu alasan yang membuat bursa saham begitu menarik. Karena itu, meski kita semua mengenal cerita tentang market crash (stock, bond, real estate) kita bisa memastikan: hal tersebut akan terjadi lagi dan lagi dan lagi…

• • •
 

July 19, 2006

Ekonomi = kejujuran?

Filed under: Entrepreneurship, Moral & Ethics, Economics, Macroeconomics — itpin @ 8:39 am

Pada posting sebelumnya mengenai etika dan bisnis, saya sempat membahas bagaimana kedua hal tersebut bisa saling mendukung. Sekarang, saya akan coba membahas bagaimana ekonomi dan kejujuran sebenarnya adalah dua sisi dari mata uang yang sama.

Selama ini, ilmu ekonomi memang sering dihubungkan dengan model matematika yang abstrak dan lebih membutuhkan rasionalitas. Konstruksi “the invisible hand” yang diperkenalkan oleh bapak ekonomi modern, Adam Smith, sering dilihat sebagai tangan yang egois dan hanya mementingkan diri sendiri. Lewat pengejaran kepentingan sendiri yang egois itu lah, pasar bebas terbentuk. Struktur pemikiran dunia bisnis yang banyak dipengaruhi oleh ilmu ekonomi pada akhirnya mengambil begitu saja pola pikir tersebut. Akibatnya, banyak yang berpandangan bahwa dalam bisnis, kejujuran adalah hal yang haram, terutama bila ingin kaya dengan cepat.

Dalam mengutip teori-teori Adam Smith tentang pasar bebas dan kapitalisme, banyak yang tidak tahu bahwa Adam Smith sebenarnya adalah seorang profesor filsafat moral. Dia memiliki kepercayaan bahwa apa yang disebut sebagai “kepentingan diri” sebenarnya mencakup aspek-aspek lain seperti moralitas, etika, dan rasa kasih sayang pada sesama. Sayangnya, dalam perjalanan waktu, kata “kepentingan diri” perlahan-lahan berubah definisi dan hanya difokuskan pada pencapaian material belaka.

Mari kita berfokus pada aspek kejujuran terlebih dahulu. Bagaimana ekonomi dan kejujuran sebenarnya saling mendukung?

Kita lihat dulu dari segi pendirian usaha baru. Bila Anda ingin membuka usaha baru, apa faktor-faktor yang membuat Anda berani melakukannya? Kita tahu bahwa usaha baru mengandung resiko yang cukup besar. Karena itu, untuk berani mengambil resiko tersebut, resiko yang ada harus dikurangi atau dibagi. Di sini kita membutuhkan pihak yang bersedia diajak bekerja sama, baik dari segi permodalan atau pun sumber daya lainnya. Dan apa yang membuat pihak lain bersedia menanggung resiko bersama kita? Kepercayaan. Selain itu, Anda juga ingin kepastian hukum bahwa usaha Anda bisa berjalan baik tanpa ancaman ditutup tanpa alasan. Di sini, Anda harus percaya bahwa pemerintah akan menyokong hak-hak dasar Anda dalam berbisnis. Anda juga harus percaya para pelanggan dan pemasok akan memenuhi janji mereka dan bila janji tersebut tidak dipenuhi, Anda harus percaya hukum bisa menyelesaikannya untuk kepentingan Anda. Selain itu, Anda juga harus percaya bahwa orang-orang yang bekerja untuk Anda tidak akan menyalahgunakan kepercayaan yang Anda berikan kepada mereka.

Dan apa yang melandasi kepercayaan seperti itu? Tentu saja kejujuran dan integritas dari pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.

Tentu itu bukan berarti Anda tidak bisa membuka bisnis baru bila Anda hidup di tengah-tengah masyarakat yang tidak menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran dan integritas. Namun di tengah-tengah masyarakat seperti itu, para pengusaha harus bersedia mengeluarkan biaya-biaya siluman dan menanggung transaction costs yang tidak kecil. (Transaction costs adalah biaya-biaya yang harus dikeluarkan untuk menjamin suatu transaksi jual beli yang saling menguntungkan.) Bila transaction costs yang tidak diperlukan tersebut (dalam bentuk korupsi, pungutan-pungutan liar, birokrasi, dan setumpuk ijin-ijin yang tidak jelas fungsinya) bisa dihilangkan, bayangkan betapa banyak calon wiraswasta yang bersedia membuka bisnis baru.

(Kuis kilat: Bisa sebutkan contoh sebuah negara kepulauan di dekat daerah khatulistiwa, di mana biaya-biaya siluman tersebut masih merajalela?)

Salah satu efek transaction costs bisa dilihat dari perkembangan online auction di Cina. Sama seperti negara-negara berkembang lainnya, perangkat hukum untuk melindungi transaksi online di Cina masih belum sebaik di negara-negara maju. Karena itu, baik para pembeli atau pun penjual, enggan memakai medium ini untuk melakukan transaksi online. Di sini kedua belah pihak menghadapi transaction costs yang besar dalam bentuk resiko yang harus dihadapi. Namun belakangan ini total nilai online auction di Cina meningkat drastis. Penyebabnya? Ternyata, para pengusaha yang melihat adanya celah di sini mengembangkan layanan escrow seperti EachNet. Layanan ini membantu penjual dengan menyimpan pembayaran mereka sampai barangnya tiba. Pada saat yang sama, mereka juga membantu pembeli dengan memastikan penjual sudah melakukan pembayaran. Tanpa adanya perangkat hukum yang memadai, layanan escrow ini berfungsi sebagai alat untuk menjamin kejujuran kedua belah pihak. Di sini kita bisa melihat bagaimana sebuah mekanisme yang mampu menjamin kejujuran berhasil menggerakkan transaksi ekonomi yang relatif besar (pada tahun 2005, total transaksi online auction di Cina mencapai US$30 juta, atau 2 kali lipat tahun sebelumnya. EachNet sendiri, karena keberhasilannya, akhirnya dibeli oleh eBay tahun 2003 lalu senilai US$180 juta.)

Di negara maju sendiri, transaction costs juga hadir dalam bentuk biaya yang dikeluarkan untuk negosiasi, biaya pengacara dan pengadilan, biaya pengawasan, dan lainnya. Philip Evans dan Bob Wolf (Harvard Business Review, Jul-Aug 2005) menaksir setidaknya transaction costs yang harus dikeluarkan di US untuk transaksi tunai saja mencapai separuh dari GDP non-pemerintah selama tahun 2000!

Di tingkat perusahaan, kita bisa melihat efek kepercayaan terhadap keberhasilan perusahaan. Toyota, yang terkenal dengan hubungan saling percaya mempercayai dengan karyawan dan pemasoknya, berhasil menekan transaction costs senilai belasan ribu US$ per kendaraan yang dihasilkannya! Penghematan tersebut adalah salah satu alasan Toyota mampu menghasilkan mobil-mobil bagus dengan biaya murah dan mengalahkan perusahaan-perusahaan otomotif lainnya. Tingkat kepercayaan yang tinggi tersebut juga membuat para partner bisnis Toyota tidak takut membagikan inovasi terbaru mereka kepada Toyota.

Sementara itu, tiadanya kepercayaan sering menjadi pemicu pemogokan, sabotase, atau dalam bentuk yang lebih halus: penundaan pekerjaan. Penelitian yang dilakukan oleh Tony Simons (Cornell University) dan Randall S. Peterson (London Business School) juga menunjukkan perusahaan yang para eksekutif puncaknya saling tidak mempercayai sering tidak efektif dalam menjalankan kebijakan strategis perusahaan. Dalam upaya manajemen perubahan perusahaan, perusahaan yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi antar sesama anggotanya memiliki peluang yang lebih besar untuk berhasil.

Dari contoh-contoh di atas, kita bisa melihat sebenarnya kejujuran mampu menciptakan nilai ekonomi dalam bentuk pengurangan transaction costs dan mengurangi ketidakpastian. Kejujuran membantu membangun reputasi sehingga para pelanggan dan pemasok lebih suka bertransaksi dengan perusahaan tersebut. Reputasi yang bagus tersebut akan membuat lebih banyak orang bersedia bergabung dengan perusahaan tersebut, yang memungkinkan perusahaan menarik bakat-bakat terbaik. Komunitas sekitar juga lebih bersedia membantu bila perusahaan menghadapi masalah.

• • •
 

May 30, 2006

‘All you can eat’ dan masalah sosial

Filed under: Systems Thinking, Economics, Column Archive — itpin @ 7:51 am

(Versi lain dari artikel ini juga dipublikasikan di harian Jawa Pos)

Kuis kilat: Di manakah Anda makan lebih banyak: di restoran presmanan (all you can eat), atau di restoran di mana pemesanan dilakukan melalui menu?

Percaya atau tidak, jawaban Anda tersebut sangat relevan dengan setidaknya tiga masalah sosial yang sedang kita hadapi bersama, yaitu: kemacetan jalan raya, polusi lingkungan, dan perparkiran.

Ketiga masalah tersebut mengandung satu kesamaan penting: kesemuanya melibatkan sekelompok orang yang menikmati fasilitas umum dengan membebankan biaya kepada orang lain dan lingkungan. Bila kita memakai kendaraan bermotor, kita akan menyebabkan polusi udara dan suara selain menambah kemungkinan terjadinya kemacetan jalan. Bila kita membuang limbah, kita akan mengotori lingkungan dan mungkin malah membahayakan orang lain. Bila kita mengambil lahan parkir, kita berpotensi menimbulkan kemacetan jalan atau menyulitkan orang lain yang lebih membutuhkan untuk memarkir kendaraannya. Dalam dunia ekonomi, istilah negative externalities dipakai untuk melabeli fenomena-fenomena semacam ini, karena apa yang kita lakukan akan menyebabkan ekses negatif terhadap pihak-pihak eksternal.

Kita tentu tidak mengatakan semua orang yang menyebabkan negative externalities ini adalah orang-orang yang egois. Umumnya kita melakukannya tanpa sengaja, karena kita tidak pernah menyadari konsekuensinya terhadap lingkungan sekitar. Kita juga sering dipaksa keadaan. Infrastruktur yang minim dan aturan-aturan hukum yang berlaku sering menjadi faktor pendukung. Selain itu, negative externalities tidak mungkin dihilangkan sepenuhnya tanpa melenyapkan aktivitas seluruh masyarakat.

Namun, masalah akan terjadi bila negative externalities berkembang ke titik yang terlalu ekstrim. Apa yang terjadi di ruas-ruas jalan protokol kota-kota metropolitan adalah contoh yang nyata. Segala upaya yang telah coba dilakukan oleh pemerintah memang layak didukung. Akan tetapi, bila kita melihat dari konsep negative externalities, upaya-upaya tersebut hanya sebatas menyembuhkan gejala tanpa menyentuh akarnya.

Salah satu alasannya adalah: untuk menanggulangi negative externalities, pihak-pihak pelaku harus didenda sebanding dengan biaya yang dibebankan ke lingkungan berdasarkan aktivitasnya. Sedangkan sejauh ini kita tidak pernah (atau jarang) menyadari biaya tersebut, apalagi membayarnya. Kita bebas membuang gas-gas berbahaya atau mengambil ruas jalan tanpa harus dimintai kompensasi yang sebanding. Memang, kita bisa berargumen kita sudah membayar pajak kendaraan bermotor. Untuk pencemaran lingkungan, beberapa waktu lalu sempat beredar wacana untuk memberlakukan pajak limbah untuk perusahaan besar. Wacana untuk menerapkan parkir berlangganan juga sempat dikumandangkan di beberapa daerah. Bila semua itu diterapkan, bukankah sudah cukup?

Walau sekilas kelihatannya pajak-pajak tersebut memang diadakan untuk tujuan tersebut, namun bila diteliti lebih lanjut, pajak-pajak tersebut tidak berbeda dengan sistem all you can eat di restoran. Dan seperti jawaban kebanyakan orang atas pertanyaan di atas, umumnya kita akan berusaha memakan sebanyak-banyaknya di restoran all you can eat. Dengan kata lain, karena harga yang kita bayar bersifat fixed-sum (jumlah yang tetap), terdapat kecendrungan untuk mengkompensasi pengeluaran tersebut dengan konsumsi maksimal. Bila mayoritas anggota masyarakat memiliki pemikiran serupa, para pembayar pajak tersebut justru akan berebut memakai semaksimal mungkin fasilitas umum yang terbatas sehingga melebihi daya tampung optimum.

Secara teori, masalah negative externalities baru bisa dikurangi bila kita membayar denda yang sebanding dengan aktivitas kita, ibarat sistem pemesanan lewat menu di restoran. Sistem ini membuat kita lebih berhati-hati dalam melakukan konsumsi, karena semakin banyak kita mengkonsumsi, semakin banyak biaya yang harus kita keluarkan. Dengan kata lain, kita hanya akan memesan sesuai yang kita inginkan dan sebatas kemampuan kita.

Memang harus diakui, apa yang indah di teori tidak selalu indah di lapangan. Pada kebanyakan kasus, jelas tidak mudah menghitung harga yang harus dikenakan untuk sekali konsumsi fasilitas publik. Bayangkan saja untuk mobil. Untuk menghitung total biaya akibat externalities dari pemakaian mobil tersebut, kita membutuhkan informasi seperti tingkat kemacetan, jarak tempuh kendaraan, dan emisi gas-gas beracun yang dikeluarkan knalpot mobil tersebut. Idealnya, informasi semacam ini mungkin bisa diambil dengan teknologi seperti GPS, RFID, atau sensor-sensor yang ditempatkan di mobil. Setiap kali melewati suatu jalan, sistem komputer di mobil akan memberitahu berapa harga yang harus dibayar berdasarkan informasi yang didapatnya dan pengendara bisa memutuskan untuk terus memilih jalan tersebut atau mencari jalan alternatif lain yang lebih murah. Informasi tersebut dikirim ke komputer pemerintah yang akan mengirimkan rekening tagihan bulanan. Akan tetapi, bayangan ideal tersebut masih jauh dari kenyataan karena keterbatasan infrastruktur.

Namun, meski kondisi ideal tersebut belum bisa dijalankan, solusi sebagian sudah dicoba diterapkan di beberapa tempat dengan sukses. Di tahun 2003, kota London menerapkan zona khusus di mana pemakai mobil harus membayar bila ingin memakai zona tersebut pada jam-jam sibuk. Dalam setahun, jumlah pemakai di zona tersebut turun sepertiganya. Sistem ini sudah dipelajari untuk diterapkan di kota-kota metropolitan lainnya. Sistem meteran parkir dengan tarif parkir berdasarkan zona dan lama parkir sudah diterapkan di banyak negara. Sistem ini mampu mengurangi negative externalities akibat pemakaian ruas jalan dan sekaligus mengatasi masalah kebocoran uang parkir.

Demikian juga untuk pengendalian polusi. Pengendalian emisi gas sulfur dengan menggabungkan sistem kuota dan lelang telah dilakukan di beberapa negara maju dan Cina. Pada sistem ini, perusahaan yang ingin membuang gas sulfur harus membeli ijin di pasar lelang. Jumlah ijin umumnya dibatasi dengan kuota. Sistem serupa sedang dikembangkan untuk pembatasan emisi karbon dalam upaya menanggulangi pemanasan global. Teknis dan mekanisme dari solusi-solusi tersebut tidak mungkin dijelaskan di ruang artikel ini, namun bagi yang berminat, terdapat banyak referensi yang bisa didapat di Internet. Tentu saja bila sistem ini dijalankan, pajak tahunan yang bersifat fixed-sum harus diturunkan untuk tidak terlalu membebani masyarakat, terutama bagi yang jarang memakai fasilitas-fasilitas umum tersebut.

Indahnya sistem ini adalah pemerintah tidak sendirian memikirkan bagaimana menanggulangi masalah yang terjadi. Pemerintah hanya perlu mengumumkan biaya yang harus dibayar bila ingin memakai fasilitas publik. Selanjutnya terserah kepada pemakai untuk membuat keputusan sendiri, termasuk memikirkan solusinya bila ingin menghemat. Dengan jutaan pemakai, solusi-solusi kreatif untuk mengurangi biaya pasti akan bermunculan. Kreativitas kolektif ini akan lebih baik dibanding kebijakan sekelompok orang yang duduk di pemerintahan saja. Efek lainnya adalah membuat seluruh lapisan masyarakat untuk ikut bersama-sama merasa bertanggung jawab terhadap masalah tersebut.

Dengan demikian, kita bisa menyimpulkan bahwa untuk menyelesaikan masalah negative externalities sampai ke akarnya, harus dipikirkan cara-cara kreatif untuk beralih dari sistem pembayaran fixed-sum ke variable-sum. Kalau pun teknologi belum mampu memberikan solusi sepenuhnya, solusi yang sub-optimum tetap bisa membantu selama masih berpijak pada teori dan prinsip pengendalian negative externalities.

Akan tetapi, bila tujuan pemerintah hanyalah demi meningkatkan nilai kas, kita tidak perlu berdebat lebih jauh. Barulah jika pemerintah menganggap masalah-masalah tersebut sebagai masalah sosial dan bersungguh-sungguh ingin menyelesaikannya sampai ke tingkat fundamental, ahli-ahli ekonomi seharusnya dilibatkan selain dari bidang-bidang terkait lainnya seperti transportasi, lingkungan, psikologi, dan sosiologi. Solusi sederhana yang hanya melihat satu sisi saja paling banter hanya akan memberikan solusi sementara yang mungkin malah akan menyebabkan masalah yang lebih rumit di kemudian hari.

Perlu diingat juga bahwa pengenaan bayaran variabel atas biaya externalities tersebut tidak bisa menyelesaikan seluruh masalah. Konsistensi dan komitmen dari pemerintah, pengadaan infrastuktur yang mendukung, dan kepastian hukum dalam menindak para pelanggar tetap dibutuhkan. Singkatnya, masalah sosial tetap harus dipandang dengan kerangka berpikir secara sistem (systems thinking).

• • •
 

May 22, 2006

Ekonomi Semakin ‘Sexy’

Filed under: Reviews, Economics — itpin @ 8:23 am

Ekonomi terkenal sebagai ilmu yang kering dan terlalu rasional. Namun untungnya, belakangan ini telah bermunculan buku-buku yang mencoba mengupas ilmu tersebut ke dalam bahasa awam dan mengaplikasikannya dalam hidup sehari-hari. Beberapa dari buku tersebut adalah:

  • Freakonomics, karangan Steven D. Levitt dan Stephen J. Dubner. Bila Anda ingin tahu apa persamaan agen real-estate dengan Ku Klux Klan, mengapa penjual obat bius tetap tinggal dengan orang tuanya, bagaimana tindakan seorang ibu yang ingin mengaborsi bayinya ternyata berhasil menurunkan tingkat kriminalitas di seluruh US, mana yang lebih berbahaya untuk anak kecil: pistol atau kolam renang, dan apa hubungan nama Anda dengan penghasilan Anda saat ini; inilah bukunya. Levitt, ekonom dari University of Chicago dan Dubner, penulis untuk The New York Times berhasil membuat ekonomi menjadi petualangan ala Sherlock Holmes yang berusaha mencari kebenaran sejati di balik apa yang kita terima sebagai kebenaran konvensional. Menurut saya, buku ini lebih merupakan buku yang bisa menantang cara berpikir Anda dibanding sebagai buku tentang ekonomi (walau buku tersebut telah dipakai sebagai textbook ekonomi di beberapa sekolah karena popularitas dan daya tarik cerita-cerita yang disajikannya).
  • The Undercover Economist, karangan Tim Harford, penulis kolom di Financial Times. Buku ini lebih ‘ekonomi’ dibanding Freakonomics. Namun, tetap saja ringan untuk dibaca siapa saja yang tidak memiliki latar belakang ilmu ekonomi atau bisnis. Harford menyajikan ilmu ekonomi secara lugas dan menghubungkannya dengan hal-hal nyata seperti: mengapa harga-harga di supermarket berbeda-beda, mengapa infrastruktur transportasi yang baik bisa menurunkan harga rumah di tengah kota, mengapa terjadi kemacetan di jalan dan polusi lingkungan dan bagaimana mengatasinya, atau mengapa Kamerun tetap miskin tetapi Cina bisa kaya padahal dulunya Cina lebih miskin dari Kamerun. Pembaca awam dipastikan akan lebih menghargai peranan ilmu ekonomi dalam hidupnya setelah menyelesaikan buku ini.
  • The World Is Flat, karangan Thomas L. Friedman. Buku ini sudah saya singgung sekilas pada posting sebelumnya. Meski bukan seorang ekonom, Friedman mampu menceritakan tentang asal muasal dan dampak globalisasi dengan jelas dan menarik. Buku yang ditulis seperti novel ini membuat pembacanya tidak bisa meletakkannya begitu saja. Sangat perlu dibaca untuk semua orang, terutama para pengusaha dan profesional untuk membayangkan langsung denyut-denyut globalisasi. (Bagi para ekonom yang penasaran: Thomas Friedman tidak memiliki hubungan keluarga dengan Milton Friedman.)
  • Confessions of An Economy Hit Man, karangan John Perkins. Dalam buku bak novel Sidney Sheldon ini, Perkins menceritakan bagaimana pemerintah US, IMF, dan World Bank, dengan didukung beberapa perusahaan multinasional, menjalankan strategi yang sistematik dan terselubung agar US bisa menguasai perekonomian negara-negara tertentu. Beberapa contoh yang diberikan adalah: invasi ke Panama, dan invasi ke Irak tahun 2003. Ada juga cerita tentang Indonesia. Walau banyak yang meragukan keabsahan teori konspirasi yang diurai Perkins, banyak juga yang menggunakan buku ini sebagai argumen untuk mengkritik habis hegemoni ekonomi US, IMF, dan World Bank.
  • The Roaring Nineties, karangan Joseph E. Stiglitz, seorang pemenang hadiah Nobel ekonomi dan mantan penasehat ekonomi Bill Clinton. Dalam buku ini, Stiglitz menelusuri pengalamannya selama bertugas di Washington dan berkesimpulan bahwa ekonomi pasar bebas US terlalu bebas sehingga menyebabkan berbagai masalah sosial dan skandal-skandal seperti Enron. Pemerintah seharusnya melakukan campur tangan terbatas untuk membantu pemerataan sosial. Dia juga mengkritik globalisasi yang terjadi sekarang dan apa yang harus dilakukan untuk menarik manfaat maksimal dari globalisasi sambil mengurangi dampak sosialnya.  Seperti Confessions, Indonesia juga menjadi salah satu bahan bahasan, terutama pada saat krisis ekonomi 1997. (Buku ini telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul Dekade Keserakahan.)
  • Co-Opetition, karangan Adam M. Brandenburger dan Barry J. Nalebuff. Buku ini sebenarnya populer di tahun 1990-an karena berhasil mempopulerkan game theory tanpa menggunakan persamaan matematika. (Game theory adalah cabang ilmu ekonomi yang menggunakan matematika secara intensif. Hal ini tidak terlepas dari kejeniusan para penggagas teori ini seperti John von Neumann dan John Nash. Neumann diceritakan bisa menyelesaikan persoalan serumit apa pun hanya dengan sekejap, sementara cerita tentang Nash bisa ditonton di film A Beautiful Mind.) Mereka menggunakan prinsip-prinsip game theory untuk menjelaskan beberapa kasus bisnis terkenal seperti pertarungan antara Atari, Sega, dan Nintendo; atau mengapa promosi ‘everyday low prices‘ yang diterapkan supermarket sebenarnya justru merugikan konsumen.

Buku-buku di atas pernah atau masih menjadi best sellers. Mereka telah membantu mempopulerkan ilmu kering kerontang yang dulunya hanya dianggap sebagai penentuan masalah supply-demand dan buy-low sell-high tersebut. Namun, selain buku-buku tersebut, jangan lupakan beberapa buku lain yang kualitasnya hampir sama. Beberapa di antaranya:

  • Sex, Drugs and Economics, karangan Diane Coyle. Lewat judulnya yang provokatif, kita bisa menduga bagaimana Coyle berusaha keras menjelaskan ekonomi lewat topik-topik yang ‘hangat’ dan malah ‘panas’, seperti industri seks, obat-obat terlarang, olah raga, musik, hiburan, dan lainnya. Sayangnya, meski buku ini sangat membantu untuk mendalami dunia ekonomi, buku ini kalah jauh dalam hal penjualan dibanding Freakonomics dan The Undercover Economist. Mungkin rendahnya penjualan buku ini membuat Coyle lebih menyadari lagi pentingnya hukum supply and demand: supply buku-buku sejenis sudah terlalu banyak di pasaran!
  • Reinventing the Bazaar, karangan John McMillan. Buku ini dengan lugas menceritakan evolusi pasar dari pasar-pasar jaman kuno sampai saat ini. McMillan juga mengemukakan pendapatnya bahwa untuk mencapai pasar yang baik, ada 5 hal yang harus dipenuhi: kepercayaan sosial yang tinggi, perlindungan atas hak-hak properti, pencegahan negative externalities (semoga saya sempat menulis tentang externalities suatu saat nanti, karena ini adalah topik yang menarik), informasi yang mengalir bebas, dan kompetisi. McMillan juga menganjurkan peranan pemerintah yang terbatas untuk mengawasi pasar.
  • Thinking Strategically (Avinash K. Dixit dan Barry J. Nalebuff), dan Game Theory at Work (James Miller). Kedua buku ini juga membahas tentang game theory, namun tidak seringan Co-Opetition. Bagi yang tertarik untuk mendalami game theory, kedua buku tersebut juga dianjurkan.

Anda yang pernah membaca salah satu dari buku-buku di atas pasti akan lebih menghargai peranan ekonomi dalam hidup kita. Para pengarang Freakonomics memang mengatakan ilmu ekonomi berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Namun sang pengarang Sex, Drugs dan Economics juga memberikan satu pertanyaan yang menantang: mengapa tidak banyak orang yang bekerja di bidang (maaf), prostitusi? Supply terbatas, dan demandnya? Ehm.. katakanlah cukup banyak. Bayaran tinggi, waktu kerja fleksibel, dan bisa bekerja di rumah lagi! Bila dilihat dari kaca mata ekonomi belaka, seharusnya bidang pekerjaan ini banyak peminatnya, namun kenyataannya tidak. Menurut pengarang tersebut, Diane Coyle, untuk menjawab pertanyaan tersebut, orang harus berpaling ke tempat lain seperti agama, moral, psikologi, dan sosiologi.

Singkatnya, meski ekonomi mampu membantu kita memahami apa yang terjadi di sekeliling kita, ekonomi tidaklah menawarkan satu-satunya jawaban.

• • •