eXTReMe Tracker
if knowledge is power, then passion is the engine, body is the vehicle, and conscience is the driver

… tentang inovasi dan berpikir holistik

April 4, 2007

Perjalanan seorang pahlawan

Filed under: Entrepreneurship, Innovation — itpin @ 7:43 am

Bila Anda pernah melahap cerita-cerita hikayat atau mitos — baik dari dunia Timur seperti kisah Pandawa Lima dari Mahabharata, dari dunia Barat seperti mitos Hercules atau Odysseus, dari dunia dongeng seperti kisah Snow White dan Cinderella, dari dunia silat seperti kisah Kwee Ceng atau Thio Bu-ki, atau kisah dari dunia antar galaksi seperti Luke Skywalker dalam Star Wars, atau dongeng masa kini seperti kisah Frodo dalam Lord of the Rings dan Harry Potter — Anda akan menemukan sebuah benang merah dari cerita-cerita tersebut. Kesamaan tersebut terletak pada jalan hidup para pahlawan-pahlawan yang oleh ahli mitologi Joseph Campbell disebut Hero’s Journey.

Jalan hidup para pahlawan tersebut, menurut Campbell, selalu melewati 6 tahap penting: innocence, the call, initiation, allies, breakthrough, dan celebration. Pada tahap innocence, mereka adalah orang biasa. Kemudian mereka tiba-tiba mendapatkan panggilan hidup (the call) yang tidak bisa ditolak. Panggilan tersebut mengharuskan mereka melewati cobaan-cobaan berat (initiation). Untuk melewati cobaan tersebut, mereka sering dibantu beberapa teman-teman setia (allies) yang akhirnya membawa mereka mencapai terobosan (breakthrough) dan keberhasilan (celebration).

Keenam tahap tersebut bisa juga dianalogikan dengan perjalanan hidup manusia, mulai dari keberadaan di dalam rahim ibu (innocence), kelahiran (the call), kerentanan sebagai seorang bayi (initiation), keberadaan orang tua sebagai pelindung (allies), belajar mandiri (breakthrough), dan menjadi mandiri (celebration). Tahap tersebut kemudian berulang lagi ketika kita menginjak usia remaja, dewasa, paro baya, dan usia senja.

Kisah para pahlawan tersebut memang kisah fiktif, tetapi kisah mereka adalah kisah kita semua. Kita mengidolakan mereka karena di alam bawah sadar, kita bisa mengidentifikasikan kisah-kisah mereka dengan pergelutan kita sendiri. Dan tentu saja kisah para pahlawan tersebut juga merupakan kisah para inovator dan wiraswasta. Untuk berhasil, tidak ada jalan pintas. Jangan pernah percaya akan janji-janji yang bisa menawarkan Anda kesuksesan dengan cepat tanpa cucuran keringat (dan sering keringat tersebut adalah keringat dingin). Semua kisah sukses harus melewati tahapan-tahapan tersebut yang jelas tidak semuanya memberikan kegembiraan.

Dalam dunia inovasi dan kewiraswastaan, tahap innocence bisa diibaratkan dengan kehidupan kita yang sebelumnya tenang-tenang saja mengikuti arus. Tiba-tiba sebuah ide cemerlang atau krisis datang, yang juga sekaligus menandai kedatangan fase the call. Ide atau krisis tersebut hadir sedemikian kuatnya sehingga kita terpaksa bertindak. Namun kita ternyata menghadapi banyak halangan dan cobaan. Ide yang kita anggap bagus, ketika coba dijual ke orang lain, ternyata hanya disambut dengan cibiran atau sikap masa bodo. Itulah tanda-tanda bahwa kita telah masuk ke tahap initiation. Tahap ini sangat berbahaya karena banyaknya calon pahlawan yang kembali menjadi orang biasa karena tidak berhasil melewati fase ini. Di sinilah dibutuhkan allies untuk membantu kita. Sukses tidak bisa datang dengan berjuang seorang diri. Snow White membutuhkan tujuh kurcaci, Frodo membutuhkan Sam dan kelompok yang dipimpin penyihir Gandalf, dan Kwee Ceng membutuhkan Oey Yong. Anda juga harus mencari para pendukung setia Anda. Tanpa itu, perjalanan berat tersebut mungkin tidak bisa Anda lalui.

Jika Anda berhasil menemukan allies, dengan bantuan mereka, Anda baru bisa mencapai fase breakthrough. Ide atau inovasi Anda mulai diterima, walau belum secara luas. Tetapi dengan ketabahan dan strategi yang benar, ide Anda akan semakin diterima sehingga bisa mencapai tingkatan terakhir, celebration.

Untuk perusahaan, perjalanan yang sama dalam memperkenalkan produk baru ke pasaran juga harus melewati siklus serupa. Inovasi baru belum tentu diterima pasar dengan tangan terbuka. Tahap inisiasi dalam bentuk the chasm-nya Gordon Moore selalu penuh dengan jebakan (baca juga: Inovasi, Lewatilah Jurang Ini!). Untuk melewati jebakan tersebut, perusahaan harus menjalin aliansi dan kerja sama dengan pihak-pihak luar untuk mempercepat penetrasi produknya. Aliansi tersebut juga bisa melibatkan para calon konsumen dengan melibatkan mereka dalam proses pengembangan produk baru, misalnya melalui prototyping atau mengundang para lead users. Setelah aliansi terjalin, dan diiringi dengan strategi peluncuran produk baru yang benar, keberhasilan baru akan mendekat.

Perjalanan melewati keenam tahap tersebut tentu membutuhkan waktu. Anda mungkin tidak sabar dan ingin cepat-cepat tiba di tujuan. Tetapi itu tidak mungkin. Karena itu, berusahalah melewati setiap tahap dengan gembira karena setiap tahap sebenarnya menawarkan kita hadiah besar. Tahap innocence memberi kita kesempatan melakukan refleksi diri. The call memberi kita motivasi untuk bergerak maju. Initiation memberi kita pelajaran berharga, termasuk pelajaran melalui kegagalan dan cucuran air mata. Tahap ini juga sering memaksa kita mendefinisi ulang hidup dan prioritas kita. Allies memberikan kita dukungan untuk terus maju dan membantu kita melihat masalah melalui perspektif yang berbeda. Breakthrough membawa kita ke dunia dan pengalaman baru. Dan tahap terakhir celebration memberi kita kepuasan jiwa dan kegembiraan. Setelah itu, Anda akan masuk lagi ke tahap innocence yang memungkinkan Anda menyaring pelajaran dari perjalanan terdahulu untuk membantu perjalanan Anda yang berikutnya.

Karena itu, ketika Anda bercermin, lihatlah diri seorang pahlawan dalam cermin tersebut. Jalan hidup para pahlawan adalah jalan hidup Anda juga. Jalanilah hidup seperti mereka. Maju terus tetapi jangan pernah mengharapkan perjalanan yang mulus. Perjalanan penuh rintangan adalah ujian buat Anda agar semakin kuat dan dewasa. Jangan takut juga menempuh jalan yang jarang ditempuh orang lain. Para inovator selalu menempuh jalan yang jarang dilewati orang lain. Camkanlah selalu kata-kata indah dalam puisi terkenal Robert Fross, The Road Less Taken:

Two roads diverged in a wood, and I
I took the one less traveled by
And that has made all the difference
.

• • •
 

April 2, 2007

Eksploratasi Hariono Ginoto

Filed under: Entrepreneurship, Innovation — itpin @ 7:35 am

Ketika bisnis wartelnya mulai sepi, Hariono Ginoto dan keluarganya memutuskan untuk beralih usaha. Mereka membuka toko yang menawarkan kebutuhan kantor yang terintegrasi di Supermal Karawaci pada tahun 1999 di tempat bekas usaha wartelnya. Secara perlahan-lahan toko tersebut dikembangkan sehingga pelanggan bisa mendapatkan layanan mulai dari fotocopy, fax, telepon, akses internet, cetak via komputer, sampai ke penyewaan kotak pos dan pembelian voucher hotel dan tiket pesawat terbang. Karena sifatnya yang terintegrasi, Hariono memutuskan tidak bermain di harga. Harga layanan di tokonya relatif lebih mahal dibanding penyedia layanan sejenis lainnya. Tetapi dengan konsepnya yang terintegrasi dan toko yang terkesan bersih dan nyaman, toko Hariono tersebut ramai dikunjungi.

Toko tersebut diberi nama Multiplus, dan mana tersebut saya yakin pasti sudah akrab di telinga kita berkat kesuksesan Hariono mengembangkan usaha tersebut lewat sistem franchise. Saat ini Multiplus telah memiliki sekitar 90 gerai hasil franchise. Menariknya, dari seluruh toko tersebut, Hariono mengaku tidak ada satupun yang tutup atau merugi. Padahal biaya franchise tersebut cukup tinggi, hampir Rp. 500 juta per gerai. Setelah sukses di Indonesia, Hariono bertekad memperluasnya ke Asia Tenggara. Berkat kesuksesan tersebut, Multiplus menerima penghargaan Indonesia Franchise Gold 2006 dan menjadi satu-satunya wakil Indonesia di Franchisor of the Year 2006.

Walau kita bisa melihat kesuksesan Multiplus saat ini, ternyata Hariono tidak langsung menawarkan konsepnya melalui franchise. Dia menguji coba terlebih dahulu dengan mendirikan dua gerai lainnya, yaitu di Tanjung Duren dan Kebon Jeruk (keduanya di Jakarta Barat). Barulah setelah semua tokonya terbukti sukses, Hariono menggodok lebih jauh konsep franchisenya sebelum diluncurkan secara resmi pada pertengahan 2003.

Dari kaca mata inovasi produk, apa yang dilakukan Hariono bukanlah sesuatu yang baru. Layanan sejenis juga sudah ada dan berjalan lama di negara-negara lain. Namun yang menarik dan bisa kita pelajari adalah strategi yang diambil Hariono dalam mengembangkan usahanya dan kecerdikannya menangkap peluang yang luput dari pengamatan pebisnis lainnya.

Kita bisa melihat bagaimana sebuah konsep yang kelihatan sederhana bisa diolah menjadi mesin uang. Ya, Hariono mungkin asal beruntung ketika dia memutuskan beralih ke bisnis ini. Paksaan lingkungan, terutama karena lesunya bisnis wartel, ikut mengambil andil dalam cerita ini. Di awal usaha, Hariono mungkin juga tidak pernah berpikir usahanya akan sebesar sekarang ini, apalagi sampai menjadi franchisor terbaik di Indonesia. Kita bisa berargumen letak kejelian dan kecerdikan Hariono bukan di sana. Pendapat tersebut sah-sah saja. Namun kita sulit menyangkal cepatnya Hariono menangkap peluang begitu dia melihat adanya sebuah jendela kesempatan yang terbuka. Ketika dia melihat bagaimana toko pertamanya ramai dikunjungi dan fakta tersebut diperkuat oleh dua toko lainnya, Hariono langsung menyimpulkan dia telah menemukan formula sukses yang bisa dan bisa diduplikasi dengan cepat. Inovasi Hariono terletak pada kemampuannya menduplikasi formula sukses tersebut dengan cepat dengan tingkat keberhasilan yang tinggi. Kecerdikan Hariono lain adalah memutuskan tidak bermain di tingkat harga karena layanan terintegrasi Multiplus menawarkan value propositions baru yang saat itu belum ditawarkan para pemain lainnya.

Keberhasilan Multiplus tentu mengundang para imitator lainnya. Sebagian besar para imitator tersebut pasti akan mencoba menawarkan harga lebih rendah. Tantangan lebih berat akan datang bila ada pemain besar yang masuk ke bisnis ini. Jaringan supermarket atau toko-toko buku besar adalah calon kompetitor berat yang harus diawasi. Karena itu, Multiplus harus bersiap-siap sejak sekarang. Multiplus harus bisa terus berinovasi dan belajar mengenali kebutuhan konsumennya lebih jauh untuk memenuhi kebutuhan mereka lebih baik dibanding para kompetitornya. Tanpa itu, kesuksesan Multiplus akan digerogoti perlahan-lahan. Bila Multiplus gagal melakukan hal itu, ukurannya yang semakin besar justru akan menjadi penghambat perubahan, apalagi strategi franchising yang dipakai akan menyulitkannya mengkoordinasikan perubahan dengan berbagai pihak.

Terlepas dari tantangan tersebut, di sini kita bisa melihat adanya kesamaan Hariono dengan Ary Ginanjar. Keduanya sukses karena sama-sama lihai mengelola dua tahap inovasi dan kewiraswastaan terpenting: tahap eksplorasi dan tahap eksploitasi (baca juga: Ary Ginanjar Agustian dan ESQ). Pada tahap eksplorasi, Hariono mungkin melakukan beberapa kesalahan dan terpaksa merubah sebagian konsep awalnya. Namun begitu dia menemukan konsep yang menunjukkan hasil, Hariono dengan cepat beralih ke fase eksploitasi. Pada fase inilah, Hariono menggandakan formula kesuksesannya secara cepat.

Peralihan antara fase eksplorasi dan eksploitasi inilah yang hendaknya menjadi kunci yang selalu dipegang para calon wiraswasta dan inovator. Eksplorasi tanpa eksploitasi hanya akan menghasilkan ide-ide baru yang tidak bisa menawarkan keuntungan ekonomis buat penciptanya; sementara eksploitasi tanpa eksplorasi akan menghasilkan produk yang itu-itu saja dan memaksa pemainnya bersaing ketat di dimensi harga. Menyeimbangkan keduanya dan tahu kapan harus beralih fase bukanlah pekerjaan gampang. Bagi para insan yang imajinatif, selalu terdapat godaan untuk tinggal selamanya di fase eksplorasi, sementara mereka yang cenderung action-oriented ingin langsung masuk ke fase eksploitasi tanpa memikirkan alternatif-alternatif lain yang mungkin lebih baik. Untuk berhasil, Anda harus mampu menahan godaan tersebut. Bila Anda ingin berhasil sebagai wiraswasta atau inovator, belajarlah mengelola dua fase yang saling melengkapi tersebut — eksplorasi dan eksploitasi, atau yang saya singkat sebagai eksploratasi.

• • •
 

March 30, 2007

Kontainer, sebuah maha inovasi

Filed under: Entrepreneurship, Innovation, Globalization — itpin @ 7:57 am

Bagi Anda yang tinggal di kota-kota besar, terutama kota pelabuhan, pemandangan truk atau kereta api yang membawa kontainer tentu sudah merupakan hal yang lumrah. Kontainer seolah-oleh sudah menjadi pemandangan biasa nan tidak istimewa.

Dalam kesederhanaannya, kontainer sebenarnya merupakan sebuah maha inovasi yang sering luput dari perhatian kita. Penyebabnya tentu saja kontainer merupakan sebuah inovasi teknologi rendah. Padahal sejarah dunia, terutama sejarah dagang, telah banyak berubah karena terciptanya kontainer.

Sebenarnya berbagai upaya untuk mempermudah pengiriman barang telah dimulai sejak permulaan abad ke-20. Sejak tahun 1920-an, upaya kontainerisasi sudah dimulai. Namun kala itu, ukuran kontainer masih relatif kecil untuk ukuran saat ini. Penyempurnaan demi penyempurnaan terjadi sampai Malcom McLean, seorang pengusaha transportasi US, menciptakan kontainer besar yang bisa dipindahkan dari kereta api, truk, dan kapal dengan mudah. Selama proses transfer dari satu alat angkutan ke alat angkutan lainnya, kontainer tidak perlu dibuka sama sekali. Efeknya: biaya transportasi lebih murah dan resiko kehilangan barang berkurang jauh. Berkat inovasi tersebut, pengiriman barang menjadi lebih murah, efektif, dan efisien.

Inovasi kontainer juga berhasil menyelamatkan industri kapal dagang antar samudera. Industri ini sempat divonis akan mati. Fungsi kapal barang samudera diramalkan akan digantikan oleh pesawat terbang. Biaya pengiriman lewat laut dianggap cukup mahal, lama, dan beresiko. Satu-satunya jenis barang yang cukup efisien dikirim lewat laut adalah komoditi dalam jumlah besar.

Alasan kelamnya masa depan industri ini adalah kesalahan asumsi yang dipakai untuk mengatasi masalah ini. Dalam rangka meningkatkan efisiensi pemakaian kapal, para pemain di industri ini berlomba-lomba meningkatkan kecepatan kapal sehingga barang diharapkan lebih cepat sampai ke tujuan. Sialnya, kapal adalah barang dengan investasi besar, dan sebagaimana halnya barang-barang kapital besar lainnya, biaya terbesar ada pada biaya penyusutan dan biaya bunga. Baiya tersebut akan terasa dampaknya bila barang tersebut tidak dipakai. Itulah yang terjadi ketika kapal harus merapat ke dermaga dan menunggu aktivitas bongkar muat.

Inovasi kontainer berhasil menyelamatkan industri ini karena membalikkan asumsi sebelumnya. Bukan kapal yang lebih cepat yang dibutuhkan, tetapi waktu nganggur kapal yang harus dikurangi. Dengan kontainer, masalah tersebut berhasil dipecahkan dan industri yang hampir mati tersebut sekarang menjadi industri yang sangat penting dalam aktivitas perdagangan dunia.

Dengan segala kelebihannya, inovasi ini ternyata tidak diterima begitu saja. Regulasi yang bersifat lokal atau internasional membatasi adopsi kontainerisasi di tahun 1960an. Barulah di tahun 1980an, segala hambatan tersebut berhasil disingkirkan. Perkembangan seterusnya sungguh tidak diduga oleh siapapun. Kontainer yang berhasil menekan biaya pengiriman berhasil memacu laju ekspor impor antar negara. Singkat kata, saat ini kontainer telah menjadi bagian penting dalam sejarah umat manusia. Meski kadang jarang kita sadari, hampir semua barang impor yang kita beli pernah mencicipi bagaimana rasanya berada berhari-hari di dalam kontainer. Diperkirakan saat ini terdapat sekitar 18 juta kontainer yang lalu lalang setiap hari di samudera raya, dan sekitar 25% berasal dari Cina.

Namun popularitas kontainer ternyata juga diiringi dengan masalah lain. Jumlah kontainer yang sudah pensiun semakin memenuhi tempat pembuangan dan menyebabkan bahaya lingkungan. Terorisme juga menyisakan masalah lain karena kontainer juga mempermudah para teroris melakukan pengiriman antar benua.

Kisah inovasi kontainer ini memberi kita banyak pelajaran. Pertama, inovasi besar tidak harus lahir dari dunia teknologi tinggi. Inovasi besar umumnya muncul untuk memenuhi kebutuhan orang banyak yang sebelumnya tidak terlayani. Inovasi besar seperti kontainer atau listrik juga sering luput dari pengamatan kita. Justru karena pentingnya inovasi tersebut, mereka perlahan-lahan berhasil merasuk dalam kehidupan kita tanpa kita sadari. Kedua, inovasi sebesar kontainer bisa lahir melalui pengamatan terhadap adanya asumsi yang salah yang dipegang umum. Asumsi bahwa kapal (dan alat transportasi lainnya) harus mampu bergerak cepat untuk mencapai efisiensi ternyata salah. Yang dibutuhkan adalah utilisasi yang lebih tinggi. Dengan mencocokkan asumsi yang salah dengan realita, sebuah inovasi bisa dilahirkan. Ketiga, semua jenis inovasi besar harus melewati hambatan besar di awal perkenalannya karena status quo adalah pusat gravitasi besar yang harus dilawan secara konsisten dalam waktu lama. Inovasi yang bersifat diskontiniu seperti kontainer harus melewati sebuah jurang sebelum bisa diadopsi masal (baca juga: Inovasi, Lewatilah Jurang Ini!). Keempat, evolusi inovasi tidaklah mudah ditebak arahnya. Di tahun 1950an, siapa yang pernah menyangka kontainer bakal menjadi motor penggerak globalisasi? Karena itu, untuk menarik manfaat maksimal dari sebuah inovasi, selalulah berpikiran terbuka. Jangan memaksakan arah perkembangan inovasi tersebut. Biarkanlah pasar yang menentukan. Kelima, inovasi besar selalu menimbulkan efek samping yang tidak bisa diramalkan sebelumnya. Di sini, kita diminta untuk tanggap mengatasi efek samping tersebut yang sering melahirkan inovasi lainnya. Upaya untuk mengatasi pornografi pada Internet, misalnya, melahirkan inovasi berupa software yang bisa mengenali situs porno dan memblokirnya.

Setelah membaca artikel ini, ketika Anda melihat kontainer lagi, semoga Anda bisa mengingat bahwa kontainer tersebut bukan saja sarat dengan muatan dagang, namun juga sarat dengan pelajaran mengenai inovasi. Dan biarkanlah pelajaran tersebut masuk ke dalam otak Anda, yang merupakan kontainer yang paling berharga.

• • •
 
Next Page »