eXTReMe Tracker
if knowledge is power, then passion is the engine, body is the vehicle, and conscience is the driver

Blog ini sudah pindah ke http://www.orangenexus.com

March 30, 2007

Kontainer, sebuah maha inovasi

Filed under: Entrepreneurship, Innovation, Globalization — itpin @ 7:57 am

Bagi Anda yang tinggal di kota-kota besar, terutama kota pelabuhan, pemandangan truk atau kereta api yang membawa kontainer tentu sudah merupakan hal yang lumrah. Kontainer seolah-oleh sudah menjadi pemandangan biasa nan tidak istimewa.

Dalam kesederhanaannya, kontainer sebenarnya merupakan sebuah maha inovasi yang sering luput dari perhatian kita. Penyebabnya tentu saja kontainer merupakan sebuah inovasi teknologi rendah. Padahal sejarah dunia, terutama sejarah dagang, telah banyak berubah karena terciptanya kontainer.

Sebenarnya berbagai upaya untuk mempermudah pengiriman barang telah dimulai sejak permulaan abad ke-20. Sejak tahun 1920-an, upaya kontainerisasi sudah dimulai. Namun kala itu, ukuran kontainer masih relatif kecil untuk ukuran saat ini. Penyempurnaan demi penyempurnaan terjadi sampai Malcom McLean, seorang pengusaha transportasi US, menciptakan kontainer besar yang bisa dipindahkan dari kereta api, truk, dan kapal dengan mudah. Selama proses transfer dari satu alat angkutan ke alat angkutan lainnya, kontainer tidak perlu dibuka sama sekali. Efeknya: biaya transportasi lebih murah dan resiko kehilangan barang berkurang jauh. Berkat inovasi tersebut, pengiriman barang menjadi lebih murah, efektif, dan efisien.

Inovasi kontainer juga berhasil menyelamatkan industri kapal dagang antar samudera. Industri ini sempat divonis akan mati. Fungsi kapal barang samudera diramalkan akan digantikan oleh pesawat terbang. Biaya pengiriman lewat laut dianggap cukup mahal, lama, dan beresiko. Satu-satunya jenis barang yang cukup efisien dikirim lewat laut adalah komoditi dalam jumlah besar.

Alasan kelamnya masa depan industri ini adalah kesalahan asumsi yang dipakai untuk mengatasi masalah ini. Dalam rangka meningkatkan efisiensi pemakaian kapal, para pemain di industri ini berlomba-lomba meningkatkan kecepatan kapal sehingga barang diharapkan lebih cepat sampai ke tujuan. Sialnya, kapal adalah barang dengan investasi besar, dan sebagaimana halnya barang-barang kapital besar lainnya, biaya terbesar ada pada biaya penyusutan dan biaya bunga. Baiya tersebut akan terasa dampaknya bila barang tersebut tidak dipakai. Itulah yang terjadi ketika kapal harus merapat ke dermaga dan menunggu aktivitas bongkar muat.

Inovasi kontainer berhasil menyelamatkan industri ini karena membalikkan asumsi sebelumnya. Bukan kapal yang lebih cepat yang dibutuhkan, tetapi waktu nganggur kapal yang harus dikurangi. Dengan kontainer, masalah tersebut berhasil dipecahkan dan industri yang hampir mati tersebut sekarang menjadi industri yang sangat penting dalam aktivitas perdagangan dunia.

Dengan segala kelebihannya, inovasi ini ternyata tidak diterima begitu saja. Regulasi yang bersifat lokal atau internasional membatasi adopsi kontainerisasi di tahun 1960an. Barulah di tahun 1980an, segala hambatan tersebut berhasil disingkirkan. Perkembangan seterusnya sungguh tidak diduga oleh siapapun. Kontainer yang berhasil menekan biaya pengiriman berhasil memacu laju ekspor impor antar negara. Singkat kata, saat ini kontainer telah menjadi bagian penting dalam sejarah umat manusia. Meski kadang jarang kita sadari, hampir semua barang impor yang kita beli pernah mencicipi bagaimana rasanya berada berhari-hari di dalam kontainer. Diperkirakan saat ini terdapat sekitar 18 juta kontainer yang lalu lalang setiap hari di samudera raya, dan sekitar 25% berasal dari Cina.

Namun popularitas kontainer ternyata juga diiringi dengan masalah lain. Jumlah kontainer yang sudah pensiun semakin memenuhi tempat pembuangan dan menyebabkan bahaya lingkungan. Terorisme juga menyisakan masalah lain karena kontainer juga mempermudah para teroris melakukan pengiriman antar benua.

Kisah inovasi kontainer ini memberi kita banyak pelajaran. Pertama, inovasi besar tidak harus lahir dari dunia teknologi tinggi. Inovasi besar umumnya muncul untuk memenuhi kebutuhan orang banyak yang sebelumnya tidak terlayani. Inovasi besar seperti kontainer atau listrik juga sering luput dari pengamatan kita. Justru karena pentingnya inovasi tersebut, mereka perlahan-lahan berhasil merasuk dalam kehidupan kita tanpa kita sadari. Kedua, inovasi sebesar kontainer bisa lahir melalui pengamatan terhadap adanya asumsi yang salah yang dipegang umum. Asumsi bahwa kapal (dan alat transportasi lainnya) harus mampu bergerak cepat untuk mencapai efisiensi ternyata salah. Yang dibutuhkan adalah utilisasi yang lebih tinggi. Dengan mencocokkan asumsi yang salah dengan realita, sebuah inovasi bisa dilahirkan. Ketiga, semua jenis inovasi besar harus melewati hambatan besar di awal perkenalannya karena status quo adalah pusat gravitasi besar yang harus dilawan secara konsisten dalam waktu lama. Inovasi yang bersifat diskontiniu seperti kontainer harus melewati sebuah jurang sebelum bisa diadopsi masal (baca juga: Inovasi, Lewatilah Jurang Ini!). Keempat, evolusi inovasi tidaklah mudah ditebak arahnya. Di tahun 1950an, siapa yang pernah menyangka kontainer bakal menjadi motor penggerak globalisasi? Karena itu, untuk menarik manfaat maksimal dari sebuah inovasi, selalulah berpikiran terbuka. Jangan memaksakan arah perkembangan inovasi tersebut. Biarkanlah pasar yang menentukan. Kelima, inovasi besar selalu menimbulkan efek samping yang tidak bisa diramalkan sebelumnya. Di sini, kita diminta untuk tanggap mengatasi efek samping tersebut yang sering melahirkan inovasi lainnya. Upaya untuk mengatasi pornografi pada Internet, misalnya, melahirkan inovasi berupa software yang bisa mengenali situs porno dan memblokirnya.

Setelah membaca artikel ini, ketika Anda melihat kontainer lagi, semoga Anda bisa mengingat bahwa kontainer tersebut bukan saja sarat dengan muatan dagang, namun juga sarat dengan pelajaran mengenai inovasi. Dan biarkanlah pelajaran tersebut masuk ke dalam otak Anda, yang merupakan kontainer yang paling berharga.

• • •
 

March 22, 2007

Mendaki piramida, menuju pasar global

Filed under: Innovation, Strategy, Globalization — itpin @ 8:15 am

Banyak perusahaan-perusahaan nasional yang keder menghadapi saingan-saingannya dari perusahaan multinasional. Ketakutan tersebut memang berdasar. Perusahaan-perusahaan multinasional sering datang dengan strategi yang sudah terasah belasan atau puluhan tahun, reputasi bagus yang sulit untuk ditaklukkan, dan SDM dan sistem perusahaan berkelas dunia. Ketakutan tersebut memang perlu untuk menjaga kewaspadaan, tetapi ketakutan tersebut tidak perlu berlebihan juga. Memang benar, raksasa-raksasa multinasional tersebut memiliki hampir semua sumber daya yang didambakan perusahaan lokal. Namun sering mereka tidak mampu menggunakan keunggulan mereka secara maksimal di lingkungan negara-negara berkembang.

Sebut saja efisiensi logistik. Di negara-negara berkembang seperti Indonesia yang lalu lintasnya masih tidak karuan dengan infrastruktur yang sering di bawah standar, sistem informasi logistik yang mampu memprediksi tibanya kiriman dalam hitungan menit tidak bisa diterapkan di sini. Ini belum termasuk kondisi daerah pedalaman dan kepulauan Indonesia. Pasar Indonesia yang heterogen juga menyulitkan metode riset pasar yang terasah untuk negara-negara maju. Banyaknya jumlah penduduk miskin dan berpendidikan rendah membuat pesan pemasaran harus diadaptasi sesuai tingkat pendidikan mereka. Dalam konteks ini, para pemain lokal sering sudah mendapatkan pengetahuan tersebut secara tacit, sementara para pemain multinasional memerlukan waktu untuk merubah strategi dan paradigma mereka. Kelebihan pemain lokal dan kekurangan perusahaan multinasional tersebut seharusnya dipergunakan secara maksimal oleh perusahaan-perusahaan dalam negeri.

Para perusahaan lokal seharusnya juga bisa memanfaatkan pembagian pasar negara berkembang berdasarkan hasil riset Tarun Khanna dan Krishna G. Palepu (keduanya dari Harvard Business School). Menurut mereka, pasar negara berkembang terdiri dari 4 tingkatan: global, glocal, local, dan bottom. Keempat lapis pasar ini membentuk sebuah piramida dengan lapisan global yang memiliki jumlah konsumen paling sedikit terletak di atas dan lapisan bottom dengan jumlah konsumen terbesar menempati posisi terbawah.

Konsumen yang menempati pasar global menginginkan produk dengan atribut dan kualitas yang sama dengan para konsumen di negara-negara maju. Mereka bersedia membayar lebih untuk produk-produk tersebut. Mereka adalah para pembeli barang-barang bermutu seperti tas Louis Vuitton atau jam tangan Rolex yang asli. Di bawah pasar global, kita menemukan pasar glocal. Penghuni pasar ini masih membutuhkan barang-barang berkualitas tinggi, tetapi kesediaan mereka mengeluarkan uang sedikit lebih rendah dibanding konsumen di tingkat global. Mereka adalah para konsumen yang suka menginap di hotel-hotel berbintang lima sambil menjinjing notebook dan telepon genggam model terbaru. Setelah itu, kita menemukan para penghuni lapisan local yang sudah cukup puas dengan produk-produk lokal dengan harga lebih murah. Dan di bagian paling bawah, di bottom of the pyramid, terdapat kelas konsumen yang hanya bisa membeli produk-produk termurah dalam jumlah seminimal mungkin.

Di segmen global, perusahaan multinasional memang mendominasi. Jarang ada perusahaan lokal yang bisa menandingi mereka. Sementara itu, para perusahaan lokal kebanyakan bersaing antar sesama mereka sendiri di tingkat local. Kedua lapisan ini, global dan local, menciptakan dua medan persaingan yang berbeda. Misalnya untuk industri minuman air mineral kemasan, Evian bersaing dengan Perrier dan Dasani di segmen global, sementara Aqua bertempur dengan Ades dan Total di segmen local.

Bagaimana dengan di lapisan glocal? Ternyata, di sinilah pertempuran paling seru sering terjadi. Perusahaan multinasional yang melihat kecilnya jumlah penghuni segmen global, mau tak mau harus menjangkau ke bawah (tetapi tidak terlalu bawah untuk melindungi brand positioning-nya). Sementara itu, para pemain lokal yang ingin tumbuh terpaksa melirik ke atas agar mampu menjual dengan marjin keuntungan yang lebih tinggi. Kedua jenis perusahaan tersebut, tanpa bisa dihindari lagi, bertemu di segmen glocal. Siapa yang menang? Tentu saja jawabannya tergantung pada sejauh mana perusahaan tersebut mampu memanfaatkan competitive advantage-nya dengan baik relatif terhadap para kompetitor mereka. Di sini, strategi yang baik dan inovasi terus menerus memegang kunci.

Di tengah serunya perebutan pasar di tingkat global, glocal, dan local, banyak perusahaan yang melupakan segmen bottom. Padahal seperti yang sudah pernah dibahas di beberapa artikel lainnya dalam blog ini (misalnya: Melayani Piramida Terbawah dan Kala Pasien Negara Maju Terbang ke Asia), di pasar ini, persaingan relatif ringan dan menjanjikan potensi besar bagi mereka yang berhasil menggarapnya. Hanya saja, untuk melayani segmen ini, perusahaan harus merubah cara pikir dan pendekatan-pendekatan mereka secara radikal.

Perusahaan-perusahaan lokal, karena itu, sebenarnya tidak perlu takut bersaing dengan perusahaan-perusahaan multinasional. Yang terpenting adalah memilih medan persaingan dan strategi bersaing yang benar. Tentu saja, jangan langsung bersaing di pasar glocal dan terlebih-lebih global bila perusahaan Anda belum kuat di lapisan local. (Pengecualian tentu saja bisa diberikan untuk perusahaan lokal yang cukup percaya diri untuk langsung bermain di tingkatan glocal seperti J.Co atau Excelso.) Bangun kekuatan Anda dan manfaatkan pengetahuan Anda akan konteks lokal untuk menguasai segmen local dan bottom terlebih dahulu. Setelah menuai keberhasilan di sana, barulah lirik segmen glocal dan mulai membangun kekuatan yang lebih besar misalnya dengan merekrut lulusan perguruan tinggi terbaik dan mendapatkan sertifikasi internasional seperti ISO. Barulah setelah itu, Anda mulai melirik pasar global. Namun sebisa mungkin, berekspansilah terlebih dahulu ke negara-negara berkembang lainnya sebelum merambah ke negara-negara maju yang menuntut kualitas produk dan reputasi merek yang lebih tinggi. Sama halnya dengan para pendaki gunung, untuk sukses mendaki piramida ini, Anda harus membangun base camps di beberapa tempat terlebih dahulu untuk menyusun kekuatan dan menyimpan energi sebelum mendaki ke tempat yang lebih tinggi.

Perusahaan-perusahaan dari negara berkembang seperti Haier, Huawei, Lenovo, Wahaha Group (Cina); Infosys, Tata Group, Wipro (India); AmBev (Brazil), SABMiller (Afsel), Jollibee Foods (Filipina), atau S.A.C.I Falabella (Cile) adalah beberapa contoh perusahaan dari negara berkembang yang akhirnya berhasil menjadi pemain global dengan menjalankan strategi mendaki yang benar. Mereka bisa, perusahaan Anda pasti bisa juga.

• • •
 

March 15, 2007

Alice masuk ke dunia lain

Filed under: Innovation, Globalization — itpin @ 8:06 am

Richard Florida, profesor dari George Mason University dan pengarang buku The Flight of Creative Class menemukan sebuah fenomena menarik. Ketika Thomas Friedman dalam bukunya The World Is Flat meramalkan dunia yang semakin datar, di mana lokasi fisik bukan lagi penghalang untuk menghasilkan ide-ide kreatif dan inovatif; Florida justru menemukan kota-kota yang terkenal karena inovasinya seperti San Francisco, New York, Chicago, Sydney, London, Paris, Bangalore, Shanghai, atau Tokyo semakin dibanjiri para manusia-manusia kreatif. Padahal biaya hidup di kota-kota tersebut sangat tinggi. Bila the flat world-nya Friedman memang benar, mengapa mereka tidak cabut dari sana dan hidup di pedesaan sepi nan tenang dengan biaya hidup yang jauh lebih murah?

Pengamatan Florida ini sungguh menarik karena membuktikan teknologi tetap belum mampu menggantikan peran penting lokasi fisik. Lokasi fisik tetap dibutuhkan karena inovasi membutuhkan transfer pengetahuan yang bersifat tacit yang sulit untuk dikodifikasi. Pengetahuan juga memiliki nilai-nilai sosial yang tidak bisa dilepaskan dari konteks dan orang-orangnya, dan di sini communities of practices memegang peranan penting dalam penyebaran pengetahuan (baca juga: Nilai Sosial Dari Informasi). Kita juga membutuhkan Kluster-kluster industri karena selain mampu mengakomodasi transfer tacit knowledge dan aspek sosial dari informasi, kluster industri mampu mengurangi transaction costs dan resiko pembukaan usaha baru (baca juga: Cybercity, Kluster Industri, dan Inovasi).

Ketajaman pengamatan Friedman memang tak perlu kita ragukan lagi. Di beberapa tempat, dunia memang makin datar. Seorang murid di pedalaman Afrika memiliki akses informasi yang sama banyaknya dengan seorang profesor di MIT atau Harvard. Namun Florida juga benar. Lokasi fisik dan interaksi sosial tetap memegang peranan penting. Informasi tidaklah sama dengan pengetahuan atau kebijaksanaan. Informasi dalam bentuk bytes komputer dan kata-kata dalam tulisan mungkin bisa ditransfer ke mana saja tanpa kehilangan bentuknya. Namun untuk memindahkan pengetahuan tetap dibutuhkan orang-orang. Dan pengetahuan orang-orang yang berkumpul di sebuah tempat akan semakin bertambah dan berlipat ganda karena pengetahuan tersebut dengan mudah ditularkan dari satu kepala ke kepala lainnya, didebat, disintesiskan, atau dikawinsilangkan.

Karena alasan itulah kita melihat bagaimana kota-kota atau daerah-daerah yang dulunya terkenal sebagai pusat inovasi semakin jaya dengan inovasi-inovasinya. Silicon Valley semakin melaju kencang. Di Indonesia sendiri, Jakarta tetap menjadi magnet buat para profesional dengan Surabaya, Bandung, Medan, Yogyakarta, dan Semarang mengekor agak jauh di belakang. Sisanya? Lebih jauh lagi ketinggalan. Ya, the flat world dari Friedman memang terbukti. Anda sulit membedakan pusat kota Jakarta dengan kota-kota besar lainnya di dunia. Tetapi, Florida juga benar. Jakarta memang sama dengan Singapore atau Hong Kong atau Sydney, namun perbedaan antara Jakarta dengan Banyuwangi, Donggala, atau Padang Sidempuan sungguh besar. Kita seolah-olah hidup dalam dua ekonomi yang berbeda dan terpisah sama sekali seperti yang pernah dijelaskan oleh Kwik Kian Gie dalam acara radio di PAS FM beberapa bulan lalu. Florida sendiri memberi istilah economy of spikes dan economy of valleys. Ekonomi lapis atas yang diwakili Jakarta adalah ekonomi the flat world. Ekonomi sisanya adalah ekonomi negara-negara berkembang yang seolah-olah tidak pernah tersentuh kemajuan jaman.

Padahal agar sebuah negara bisa kuat, kota-kota lapis kedua dan ketiga harus dikembangkan menjadi pusat-pusat inovasi dan kreativitas. Tanpa itu, jurang kemajuan hanya akan bertambah lebar dengan meninggalkan potensi konflik tiada habisnya. Dua ekonomi yang terpisah jauh akan menimbulkan disekuilibrium yang setiap saat bisa bergolak. Masalah ini memang bukan masalah di Indonesia saja. Bahkan di negara-negara maju seperti US dan negara-negara di Eropa Barat, pembagian dua lapis ekonomi tersebut tetap ada. Namun kondisi di Indonesia jelas-jelas lebih parah.

Lalu apa yang harus kita lakukan? Kita tentu sudah tahu pentingnya pembentukan kluster industri seperti cybercity atau technopark. Republik kita ini seharusnya sudah menempuh jalan ke sana. Bukankah kita sudah bisa melihat sendiri bagaimana kluster di Ubud atau Jepara mampu menghasilkan karya-karya seni yang dihargai dunia? Sekarang yang kita perlukan adalah kluster-kluster untuk teknologi seperti TI, telekomunikasi, media, dan bioteknologi. Tetapi meletakkan kluster-kluster tersebut di Jakarta tidak menyelesaikan masalah, jika kita tidak ingin mengatakan justru menciptakan masalah yang lebih pelik di kemudian hari. Cara terbaik adalah dengan meyebarkan kluster-kluster tersebut di kota-kota lapis kedua. Campur tangan pemerintah sangat diharapkan dengan bantuan dari pihak-pihak seperti lembaga-lembaga pendidikan dan perusahaan-perusahaan yang berpotensi meraup keuntungan dari pendirian kluster-kluster seperti itu. Tanpa adanya strategi pembangunan kluster-kluster seperti itu, saya jamin bangsa kita akan sulit bersaing dengan bangsa-bangsa lain.

Dan jangan menunggu terlalu lama… Jarum jam terus berdetak… Seperti dalam kisah Alice in Wonderland, sang tokoh utama Alice bertemu dengan Ratu Merah yang terus berlari. Heran, Alice bertanya mengapa. Sang Ratu menjawab, Alice pasti berasal dari dunia yang bergerak lambat karena dia bisa tenang-tenang saja berdiri. Di dunianya Sang Ratu, semua orang harus berlari terus hanya untuk tetap berdiri di tempat yang sama.

Apakah kita adalah Alice yang sedang berada di Wonderland?

• • •
 

January 10, 2007

Fenomena ‘outsourcing’ R&D

Filed under: Innovation, Current Events, Globalization — itpin @ 8:22 am

Salah satu tren dalam bidang inovasi belakangan ini adalah kecendrungan negara-negara maju seperti US, Jepang, dan negara-negara Eropa Barat mengalihkan departemen R&D dan upaya-upaya inovasi mereka ke negara-negara berkembang. Cina, India, dan negara-negara Eropa Timur menjadi tujuan utama pengalihdayaan (outsourcing) tersebut; dan negara-negara Asia lainnya (seperti Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Filipina) dan Afrika Selatan menyusul di belakang.

Tentu itu merupakan sebuah tren yang cukup mengejutkan, mengingat sebelumnya proses atau aktivitas yang dialihdayakan umumnya bukan merupakan proses yang termasuk kompetensi inti perusahaan. Sedangkan R&D dan inovasi, seperti yang kita ketahui, sering dianggap sebagai kompetisi inti perusahaan.

Kenapa perusahaan di negara-negara maju bersedia melakukan hal tersebut? Katakanlah biaya R&D di negara-negara berkembang lebih murah, tetapi bukankah itu beresiko dalam jangka panjang terutama mengingat adanya kemungkinan kebocoron hasil-hasil riset karena infrastruktur perlindungan hukum hak cipta intelektual di negara-negara berkembang belum sesempurna di negara-negara maju?

Biaya, tentu saja, adalah salah satu alasan utama. Beberapa negara berkembang menawarkan insentif bagi perusahaan dari negara maju yang mendirikan pusat R&D di tanah negerinya. Cina malah mengeluarkan peraturan yang mengharuskan perusahaan multinasional yang ingin mengakses pasar Cina harus membuka pabrik di negeri Tirai Bambu tersebut.

Tetapi tidak itu saja yang menjadi motor pendorong. Pendorong lainnya adalah kekurangan tenaga kerja ahli di dalam negeri masing-masing. Jumlah insinyur warga negara US tidak mencukupi kebutuhan dalam negerinya. Selain karena pergeseran demografis (semakin sedikitnya jumlah anak per penduduk dan semakin banyaknya jumlah manula), mahasiswa setempat kurang berminat masuk ke jurusan sains dan engineering. Sementara di sisi dunia lain, para mahasiswa dari India dan Cina justru berduyun-duyun masuk ke jurusan-jurusan sains dan engineering. Ketika sekolah-sekolah di US menghasilkan sekitar 250 ribu lulusan di bidang teknologi, Cina menghasilkan 650 ribu lulusan di bidang yang sama. Memang kita bisa memperdebatkan perbedaan mutu lulusan kedua negara, namun tidak semua pekerjaan riset membutuhkan lulusan dari sekolah terbaik. Selama pengetahuan dasar yang dibutuhkan mencukupi, pelatihan internal di perusahaan yang ditambah dengan on job training mampu menutupi kekurangan lulusan negara-negara berkembang tersebut.

Alasan-alasan berikutnya bersifat strategis. Cina, India, Eropa Timur, dan beberapa negara Asia lainnya adalah pasar yang menjanjikan. Perusahaan multinasional yang masuk ke pasar-pasar tersebut segera belajar solusi yang dibuat untuk pasar global sering tidak cocok dengan kondisi lokal. Penduduk Cina, sebagai contoh, lebih menyukai software berbahasa Cina meski kemampuan berbahasa Inggris mereka cukup baik. Di India, masih banyak penduduk yang buta aksara sehingga perusahaan handset telepon genggam harus menciptakan handset khusus tanpa tulisan teks. Dalam upaya mengembangkan produk untuk kebutuhan lokal tersebut, perusahaan multinasional tersebut merasa perlu mengembangkan pusat R&D di daerah setempat.

Di samping itu, beberapa negara berkembang telah berhasil mengembangkan kemampuan khusus di bidang teknologi. India terkenal dengan keahlian sistem informasinya, Cina dengan pengembangan mobil-mobil kecil, dan Rusia dengan pembuatan pesawat terbangnya. Kemampuan kelas dunia tersebut menjanjikan pengembalian investasi R&D yang tinggi bagi perusahaan-perusahaan yang mampu memanfaatkannya.

Kemudian kompetisi yang semakin ketat membuat daur hidup produk semakin sempit. Produk-produk baru harus diluncurkan terus menerus tanpa henti. Untuk menghasilkan produk-produk baru dengan kecepatan tinggi, R&D perusahaan yang hanya bekerja 8-12 jam per hari sudah tidak mencukupi lagi. R&D harus bekerja 24 jam sehari! Untuk melakukan hal itu, pendirian R&D di beberapa negara adalah salah satu pilihan terbaik. Teknologi telekomunikasi dan Internet juga mempermudah koordinasi dan kolaborasi antar beberapa pusat R&D yang terletak berjauhan.

Tren lainnya yang bisa diamati adalah semakin canggihnya kegiatan R&D yang dipercayakan kepada negara-negara berkembang tersebut. Bila awalnya produk yang dikembangkan masih berupa produk-produk dasar yang tidak terlalu penting, saat ini riset-riset yang lebih canggih seperti pembuatan material baru sudah mulai dilakukan. Hak-hak paten sudah mulai mengalir keluar dari lembaga-lembaga R&D di India dan Cina.

Resiko tentu ada. Kompleksitas pengelolaan jaringan R&D yang menyebar di mancanegara membutuhkan kemampuan tambahan baru. Tetapi bagi perusahaan-perusahaan yang berhasil mengelola resiko dan kompleksitas tersebut dengan baik, mereka akan mendapatkan diri mereka berada di depan para pesaingnya.

Tren ini, semoga bisa dimanfaatkan Indonesia juga. Semoga!

• • •
 

December 2, 2006

Belajar dari tiga orang bijak

Filed under: Globalization, Economics, Macroeconomics — itpin @ 9:06 am

Negeri indah kita ini berturut-turut mendapatkan kunjungan tiga pakar ekonomi dan strategi tingkat dunia. Kunjungan pertama dilakukan oleh ekonom kelas dunia dari Peru, Hernando de Soto. Setelah itu menyusul guru besar strategi dari University of Michigan, CK Prahalad. Kemudian baru-baru ini Michael Porter, yang sering dianggap sebagai pemikir strategi paling berpengaruh dewasa ini, berkesempatan hadir dan membagikan pengetahuannya.

Kita tentu layak berbangga menerima kunjungan mereka. Tetapi yang lebih penting lagi adalah menyerap buah pemikiran mereka, karena ketiga pemikir ini merupakan pakar-pakar yang disegani di dunia. Buah pemikiran mereka bukan saja bersifat akademis dan teoritis, namun telah terbukti mampu meningkatkan daya saing beberapa negara di dunia. Sebagai contoh, ide-ide Hernando de Soto sudah diterapkan dengan sukses di Peru, Mesir, dan bekas negara-negara komunis di Eropa Timur. Model diamond dari Porter yang menjelaskan daya saing ekonomi nasional dipakai secara fanatik oleh Singapura untuk membangun perekonomian nasional mereka.

Ketiganya tentu melihat masalah ekonomi nasional dari kaca mata berbeda. De Soto, misalnya, melihat pentingnya peran birokrasi dalam menentukan kemajuan ekonomi sebuah bangsa. Hukum-hukum dan peraturan yang dibuat pemerintah dan para birokrat memiliki pengaruh yang amat besar, baik secara positif atau negatif. Porter menekankan hal yang hampir sama, tetapi Porter lebih berani dalam melancarkan kritik langsung kepada pemerintah Indonesia. Menurut beliau, birokrasi di Indonesia terkenal paling njelimet di dunia. Kerumitan tersebut membuat para investor asing berpikir berkali-kali sebelum membenamkan investasi di negara ini. Padahal, investasi tersebut sangat penting untuk mengurangi angka pengangguran dan meningkatkan taraf hidup bangsa.

Namun De Soto membawa buah pikiran lain yang membuatnya terkenal. Dia menekankan pentingnya pemberian hak atas properti untuk kaum marginal yang selama ini belum memiliki hak milik legal atas tempat tinggal mereka. Legalisasi seperti itu mutlak dibutuhkan untuk memungkinkan mereka mengakses kredit perbankan dengan biaya rendah dalam upaya memacu kewiraswastaan mereka. Kurangnya akses ke kredit resmi tersebut membuat mereka harus tergantung pada kredit berbunga tinggi dari para rentenir yang umumnya semakin memperparah kondisi ekonomi mereka.

Bila kita terbiasa melihat ekonomi nasional dari kaca mata konvensional, kita tentu layak mempertanyakan kemampuan kaum miskin tersebut membantu pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan daya beli yang lemah, bagaimana mungkin mereka memiliki kekuatan untuk mendorong kemacetan ekonomi Indonesia yang sarat dengan masalah?

Di sinilah buah pikiran Prahalad mampu memberikan pencerahan. Kaum marginal ini, atau yang disebuat Prahalad sebagai bottom of the pyramid sebenarnya menyimpan potensi ekonomi yang besar. Sebagai individu, pengaruh mereka memang hampir tidak ada. Tetapi untuk negara berkembang dengan jumlah penduduk miskin yang besar seperti di Indonesia (sekitar 40 juta jiwa menurut sensus resmi terakhir), secara agregat kekuatan ekonomi tersebut tidak bisa diremehkan.

Kaum ini sebenarnya juga memiliki aspirasi yang sama dengan kaum-kaum lainnya. Bila daya konsumsi mereka bisa dibuka – misalnya dengan menyediakan kredit ringan atau pembelian melalui sistem arisan seperti yang dirintis perusahaan semen dari Meksiko, Cemex – kaum miskin ini juga bersedia membeli barang-barang yang sama dengan kaum menengah dan atas.

Organisasi bisnis yang telah melayani segmen ini menemukan beberapa keuntungan. Pertama, kompetisi di segmen ini cukup rendah dibanding di segmen yang melayani kalangan menengah dan atas. Kedua, untuk melayani segmen ini sering dibutuhkan inovasi radikal untuk menghasilkan produk bermutu dengan biaya rendah seperti yang dilakukan Jaipur Foot di India yang mampu menjual sebuah kaki palsu bermutu dengan harga USD 25. Kemampuan menciptakan inovasi dengan biaya murah tersebut pada akhirnya bisa dipakai untuk menghasilkan barang biaya murah untuk kelas menengah dan atas, sehingga mampu membantu perusahaan tersebut mendapatkan margin keuntungan yang lebih tinggi di semua segmen. Selain itu, perusahaan yang melayani segmen ini sering mendapatkan image yang positif dari publik karena dianggap peduli terhadap kaum miskin seperti yang dialami oleh Hindustan Lever, anak perusahaan Unilever di India. Perusahaan ini mengangkat para wanita miskin sebagai distributor di desa-desa mereka, sebuah upaya yang membantu meningkatkan taraf hidup mereka.

Ide Prahalad ini memang cukup membuka mata buat dunia bisnis yang selama ini meremehkan potensi kaum miskin. Padahal, bukti-bukti yang berhasil dikumpulkan Prahalad menunjukkan perusahaan yang berhasil melayani kaum miskin memiliki tingkat pengembalian investasi yang lebih tinggi dibanding perusahaan lain yang melayani segmen yang lebih makmur.

Seperti yang bisa kita lihat, ketiga pemikiran tersebut sebenarnya saling melengkapi. Birokrasi memang perlu, tapi harus disederhanakan. Peraturan yang mendorong investasi dari segala arah harus dikeluarkan, bukan saja dari perusahaan multinasional, namun juga dari kaum paling bawah. Peraturan yang dikeluarkan oleh pihak-pihak yang berbeda juga harus berjalan ke arah yang sama dan bukannya saling bertolak belakang.

Tetapi yang lebih penting adalah jangan melupakan kekuatan ekonomi dari kaum miskin. Porter mengakui permasalahan yang dihadapi Indonesia memang rumit dan tidak cukup waktu untuk melakukan segalanya. Tetapi Porter mengatakan kita harus bisa memprioritaskan hal-hal penting. Salah satu hal penting yang bisa dilakukan pemerintah tentu saja membantu perusahaan yang ingin memberdayakan para kaum miskin tersebut, dan memberi kemudahan pada kaum miskin untuk berinvestasi. Dengan kekuatan agregat mereka, bila diberi waktu dan kesempatan, mereka seharusnya bisa membantu meringankan masalah ekonomi bangsa ini.

• • •
 

August 3, 2006

‘Contingency plan’ dan ancaman pandemik flu burung

Filed under: Business, Globalization, Complex Systems — itpin @ 7:51 am

Di era globalisasi ini, semua bagian dunia sudah saling terhubung, baik melalui transportasi, satelit, mau pun Internet. Dari sisi positif, hubungan dagang antar negara semakin lancar. Ide-ide terbaik juga mengalir dengan mudah dari satu benua ke benua lainnya, yang memungkinkan kemajuan ilmu pengetahuan yang lebih merata. Namun, globalisasi juga mengandung potensi bahaya. Salah satunya adalah mempermudah penularan penyakit seperti yang terjadi pada kasus SARS pada tahun 2003.

Kini, dunia menghadapi ancaman lain yaitu virus flu burung. Sejauh ini, virus flu dengan kode H5N1 tersebut memang hanya menjangkiti manusia melalui unggas. Setidaknya 200 orang sudah terjangkit di 50 lebih negara dan setengah dari penderita meninggal. Hanya waktu yang bisa membuktikan apakah virus tersebut akan tetap seperti sekarang atau bermutasi menjadi virus yang mampu menular dari manusia ke manusia dengan cepat. Bila virus tersebut bermutasi, dunia harus bersiap-siap menghadapi sebuah pandemik yang diperkirakan akan meminta korban 5-150 juta penduduk, dengan 1 milyar penduduk lainnya harus mendapatkan perawatan medis.

Bencana dengan skala sedemikian besar pasti akan berdampak terhadap dunia bisnis dan sosial. Para karyawan yang sakit atau yang takut untuk keluar rumah akan mengambil absen secara berbarengan. Produktivitas menurun drastis. Kerusakan pada mesin atau sistem IT mungkin tidak bisa diperbaiki bila karyawan yang berkompeten absen. Permintaan terhadap produk di luar kebutuhan pokok juga akan jatuh karena para pelanggan lebih suka tinggal di rumah. Jaringan supply chain perusahaan yang semakin kompleks saat ini membuat kelumpuhan pada satu perusahaan akan berdampak pada perusahaan lainnya.

Salah satu cara untuk mengantisipasi skenario ini adalah dengan mengembangkan rencana darurat yang umumnya disebut dengan contingency plan.

Hal penting yang harus ada pada contingency plan tersebut adalah mempersiapkan vaksin flu. Akan tetapi, pada bila terjadi pandemik, permintaan terhadap vaksin pasti akan melampaui kapasitas produksi yang ada saat ini. Karena itu, histeria massa untuk memperebutkan vaksin mungkin terjadi. Selain itu, virus yang sudah bermutasi mungkin sudah mengembangkan kekebalan terhadap vaksin yang ada. Berdasarkan estimasi para pakar, setidaknya dibutuhkan 2-4 bulan untuk mengembangkan vaksin baru, setelah pandemik bermula; dan 6-12 bulan kemudian untuk produksi masal. Sementara, selama waktu tersebut, virus tersebut dipastikan sudah akan menulari jutaan manusia dan melumpuhkan perekonomian.

Jelas sulit untuk mengembangkan contingency plan untuk sebuah skenario yang serba tidak pasti dan belum pernah dialami sebelumnya. Sebaik apa pun rencana tersebut, pasti ada yang kelewatan. Namun, perusahaan yang memiliki rencana tersebut akan mampu mengurangi dampaknya dibanding perusahaan yang sama sekali tidak siap. Contingency plan yang baik setidaknya harus mampu mengukur dampak yang ditimbulkan pandemik terhadap para stakeholders dan lingkungan; dan mengkoordinasikan sumber daya yang ada untuk berkomunikasi dan mengurangi dampak terhadap perusahaan dan lingkungan. Perusahaan harus bekerjasama dengan pemerintah dan LSM terkait. Berbeda dengan contingency plan untuk bencana alam lainnya, fokus di sini harus lebih diarahkan pada penyelamatan jiwa manusia, dibanding dengan aset-aset fisik.

Perusahaan yang ingin manaksir dampak secara lebih jelas bisa memanfaatkan diagram systems thinking di mana semua komponen dan kejadian direpresentasikan dalam hubungan sebab akibat pada halaman yang sama. Melalui diagram tersebut, perusahaan bisa melihat hal-hal yang mungkin kelewatan dengan cara berpikir yang linier.

Selain itu, perusahaan juga harus memikirkan cara-cara untuk beroperasi secara lebih fleksibel. Pertama-tama, posisi-posisi kunci hendaknya diidentifikasi sehingga sumber daya yang terbatas bisa diberikan secara tepat. Kemungkinan bekerja secara remote bisa dipertimbangkan. Para staf lebih diarahkan sebagai generalis untuk fungsi-fungsi yang kritis sehingga dampak ketidakhadiran beberapa orang pekerja bisa dikurangi. Penunjukan beberapa orang wakil untuk posisi manajemen puncak harus dilakukan untuk menghindari kebingungan bila sang kepala tidak bisa dihubungi. Dan tak kalah pentingnya, pemimpin yang mampu membuat keputusan dengan cepat sangat dibutuhkan dalam situasi krisis.

Kita juga bisa belajar dari negara-negara yang pernah mengalami kasus SARS, seperti di Hong Kong, Cina, Kanada, dan Singapura. Beberapa artikel dan contoh kasus bisa dijumpai di Internet. Pengetahuan tersebut bisa dijadikan acuan untuk menyusun contingency plan yang lebih baik.

Sebagai manusia, kita memang memiliki kecendrungan untuk berfokus pada jangka pendek dan cara berpikir yang linier. Namun dalam menghadapi ancaman pandemik flu burung ini, cara berpikir tersebut harus disingkirkan untuk sementara. Skenario terburuk mungkin saja tidak akan terjadi, namun pandemik dalam skala kecil saja telah mampu menghentikan semua kegiatan sosial dan ekonomi daerah yang terjangkit (seperti yang terjadi pada kasus SARS dulu). Tidak ada salahnya kita mempersiapkan payung sebelum hujan. Hope for the best, prepare for the worst. Pesan yang sama juga berlaku untuk pemerintah, masyarakat, keluarga, dan individu.

• • •
 

June 26, 2006

‘Cars’ dan globalisasi

Filed under: Globalization, Reviews — itpin @ 8:43 am

Sudahkah Anda menonton film animasi 3D terbaru dari Pixar, Cars? Bila sudah, Anda mungkin tanpa sadar telah disuguhi pelajaran ekonomi, terutama dalam kaitan dengan perdagangan dan globalisasi.

Dalam film tersebut, sang pemeran utama, si mobil balap baru Lightning McQueen, terdampar di daerah gurun dari perjalanan menuju LA untuk mengikuti babak akhir kejuaraan balap mobil Piston Cup. Karena kebingungannya, dia akhirnya harus berurusan dengan aparat hukum dan diberi hukuman kerja sosial di sebuah kota terpencil Radiator Springs. Aktivitas perekonomian kota kecil ini hampir mati karena tidak ada pendatang dari luar yang berkunjung. Namun kota tersebut ternyata merupakan kota yang hidup dan berjaya bertahun-tahun sebelumnya. Yang membuat perbedaan antara kedua kondisi tersebut adalah dibangunnya jalan raya baru, Interstate 40, yang tidak melewati kota tersebut. Sebelumnya, kota tersebut dilewati jalan raya lama Route 66. Perbedaan antara adanya akses ke dunia luar dan tidak adalah penentu mati hidupnya perekonomian sebuah daerah.

Bila Anda menganggap cerita tersebut hanyalah cerita kartun, maka cerita berikut mungkin bisa mengubah pandangan Anda. Pada abad ke-9 di negeri yang sekarang kita kenal dengan nama Belgia, Bruges merupakan kota yang sangat terkenal. Kota ini terletak di pinggir sungai Zwin yang berdekatan dengan muara laut. Karena letaknya yang strategis, Kota ini menjadi pusat perdagangan di Eropa bagian utara. Pedagang-pedagang dari Spanyol, Inggris, Belanda, Prancis, Rusia dan lainnya bertemu di kota tersebut untuk bertukar dagangan. Akibat aktivitas perdagangan yang ramai tersebut, kota ini menjadi kaya raya dan makmur. Penduduk kota ini sempat mencapai 2 kali kota London. Ratu Prancis yang pernah mengunjungi kota ini pernah dengan terkagum-kagum berkata “Aku berpikir aku adalah ratu, namun di sini aku menyaksikan 600 orang pesaing.”

Kejayaan tersebut terus berlangsung sampai 250 tahun, meski kota tersebut berganti penguasa dan ditaklukkan oleh negeri-negeri lain berulang kali. Industri-industri baru berkembang; dan demikian juga dengan kesenian dan bidang-bidang lainnya.

Namun pada abad ke-15, endapan di Zwin membuat kapal-kapal besar mulai kesulitan mencapai kota Bruges. Para pedagang terpaksa memindahkan pusat perdagangan ke kota lain yang lebih mudah diakses lewat laut, yaitu Antwerpen. Perlahan-lahan Bruges menjadi kota mati. Para penduduk dan bisnis lokal perlahan-lahan meninggalkan kota tersebut. Hari ini, kejayaan masa silamnya hanya bisa disaksikan di museum dan gedung-gedung bersejarah yang masih berdiri.

Di negeri bahari kita sendiri, banyak ahli yang berpendapat kemunduran kerajaan Majapahit dimulai pada saat kerajaan tersebut memutuskan untuk memindahkan pusatnya dari pesisir ke pedalaman Jawa. Akibat keputusan tersebut, aktivitas perekonomian dengan saudagar-saudagar dari negeri lain berkurang drastis. Dengan berkurangnya aktivitas perekonomian, berkurang juga upeti yang diterima kerajaan. Ujung-ujungnya, kurangnya kas kerajaan membuat pertahanan negara melemah. Kesempatan ini dipergunakan oleh kerajaan-kerajaan lainnya yang berpusat di pesisir untuk meningkatkan kemakmuran dan kekuatannya yang akhirnya berhasil menaklukkan Majapahit.

Kasus di atas melukiskan pentingnya perdagangan untuk menaikkan taraf kemakmuran dan kelangsungan hidup sebuah negara. Perdagangan tersebut hanya bisa terjadi bila kita bersedia membuka diri dengan dunia luar. Kecaman para pendukung anti-globalisasi jelas ada benarnya. Globalisasi memang telah menciptakan jurang yang semakin lebar antara kaya dan miskin. Namun bila globalisasi dihilangkan, walau jurang kekayaan tersebut akan menyempit, yang ada hanyalah yang miskin dan yang miskin (kecuali penguasa dan kroni-kroninya). Mau contoh? Lihat saja Korea Utara atau Myanmar. Atau Cina, Mongolia, India, Uni Soviet, dan negara-negara Eropa Timur pada 20-30 tahun sebelumnya. Afrika Selatan yang dulunya sempat diembargo ekonomi karena politik apartheid-nya juga pernah mengalami kesulitan ekonomi. Setelah embargo tersebut dicabut, barulah negara tersebut mampu menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia.

Dalam menghadapi globalisasi, kita tidak perlu berpikiran negatif. Bila kita siap, globalisasi justru merupakan berkah. Kuncinya tentu saja adalah kata siap. Sebagai individu, siapkah Anda dengan terus mempersenjatai diri dengan cara pikir dan pengetahuan terkini? Sebagai perusahaan, siapkah perusahaan Anda bersaing secara global dengan strategi yang benar? Sebagai negara, siapkah pemerintah kita memangkas birokrasi dan menciptakan iklim investasi yang baik? Selain itu, sebagai masyarakat, siapkah kita menangkal efek samping globalisasi berupa masuknya budaya yang tidak cocok dengan nilai-nilai kita? India berhasil menarik manfaat dari globalisasi tanpa menghancurkan budayanya. Mengapa kita tidak bisa?

Sebagai catatan tambahan, salah satu jalur perdagangan terbesar telah dibangun saat ini. Jalur tersebut bukan Interstate 40. Kita mengenalnya dengan nama Internet. Dengan Internet, kita tidak perlu berlokasi di kota-kota strategis untuk menjalankan aktivitas perekonomian. Yang penting adalah akses Internet yang baik. Tapi, apakah saat ini, infrastruktur fisik dan pengetahuan kita juga sudah siap untuk itu? Berapa persen penduduk kita yang mampu mengakses broadband? (Jangankan broadband, untuk akses modem saja mungkin masih terbatas di kota-kota.) Seberapa siap lembaga pendidikan kita menghasilkan lulusan yang mampu memanfaatkan Internet selain untuk sarana chatting? Sebagai individu, siapkah juga Anda untuk membuka bisnis di Internet (dan bukan sebagai penjual nomor kartu kredit curian atau money games)? Dan pemerintah? Seberapa serius pemerintah kita menempatkan akses Internet sebagai agenda pembangunan nasional? Apakah kita hanya bisa menyaksikan negara-negara lain memanfaatkan jalan raya baru tersebut dari tepi jalan dengan hati iri dan mencari kambing hitam untuk kekurangan kita?

Semuanya terserah kita…

Pada akhir cerita di Cars, kota Radiator Springs akhirnya mampu menghidupkan dirinya kembali. Bagi Anda yang belum menonton, ada baiknya Anda menonton sendiri akhir ceritanya. Namun bagi yang tidak sabar, keberhasilan mereka diraih berkat: optimisme, kerukunan, kesiapan, dan kerja sama (atau meminjam istilah dari budaya kita: gotong royong).

• • •
 

June 8, 2006

Kapan Indonesia menyusul?

Filed under: Globalization — itpin @ 9:36 am

Saya memang belum terlalu banyak menulis tentang globalisasi, walau saya yakin itu merupakan topik penting. Singkatnya, saya tidak menentang globalisasi, namun menyadari globalisasi — walau menguntungkan negara secara keseluruhan — tetap menyisakan masalah-masalah sosial bagi yang tidak mampu menarik manfaat dari globalisasi. Selain itu, pendapat bahwa kita harus memakai sistem ekonomi yang seragam (sistem US, seperti yang dianjurkan IMF) seharusnya tidak ditelan mentah-mentah begitu saja. Cina berhasil karena menjalankan sistem ekonomi sendiri, sementara Rusia carut marut karena mengikuti sistem ekonomi US. Sistem ekonomi, bagaimana pun, harus diterapkan sesuai konteksnya, dan tidak bisa dibongkar pasang seperti balok Lego.

Di sini saya cuma ingin menulis posting singkat. Saya prihatin dengan ketidakmampuan Indonesia mendapatkan manfaat maksimal dari globalisasi, terutama karena kurangnya dukungan dari pemerintah. Sementara itu, negara-negara lain seperti India, Cina, dan negara-negara Eropa Timur telah berbenah diri dengan dukungan pemerintah untuk menjadikan tempat mereka sebagai lahan bagi outsourcing di bidang IT dan bidang-bidang terkait lainnya (antara lain dengan pendirian cybercities dan insentif pajak). Argentina, Malaysia, Meksiko, Brasil, dan Filipina juga menyusul. Sekarang, negara-negara yang selama ini kita pandang sebelah mata, seperti Mesir, Botswana, Ghana, Kenya, dan Senegal mulai menyusul.

Kapan Indonesia? Apakah kita akan ketinggalan dari mereka semua?

• • •
 

May 20, 2006

Fenomena ‘The Flat World’

Filed under: Current Events, Social Entrepreneurship, Globalization, Reviews — itpin @ 8:05 am

Saat ini saya sedang membaca buku Thomas L. Friedman, The World Is Flat, yang menceritakan tentang sejarah globalisasi saat ini, yang oleh Friedman disebut sebagai Globalization 3.0 (Globalisasi 1.0 adalah globalisasi antar negara yang dimulai dari perjalanan Columbus, Globalisasi 2.0 adalah globalisasi antar perusahaan yang dimulai sekitar 1800an, dan Globalisasi 3.0 adalah globalisasi antar individu seperti yang kita alami saat ini). Lewat buku best-seller ini, pembaca akan terbawa menelusuri sejarah globalisasi yang dimulai dengan runtuhnya Tembok Berlin, revolusi Internet, outsourcing, Wikipedia, blogging, open source software, Wal-Mart, sampai ke munculnya media-media mobile seperti PDA dan handphone. Buku ini juga akan membawa kita mengalami secara langsung kemajuan yang telah dibuat India dan Cina dengan merangkul globalisasi. Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca siapa pun karena sadar atau tidak, hidup kita sangat dipengaruhi oleh Globalisasi 3.0 ini. Sayangnya, sejauh ini saya belum melihat versi terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

Sementara masih membaca bab-bab awal, saya sempat juga bersua dengan artikel mengenai maraknya trend outsourcing di negara-negara Eropa Timur, terutama Bulgaria. Kedekatan Bulgaria dengan negara-negara Eropa Barat, namun dengan biaya tenaga kerja yang relatif rendah, membuat eks negara komunis ini menjadi alternatif yang sangat menarik bagi perusahaan-perusahaan US untuk dijadikan tujuan outsourcing. Sebenarnya negara-negara Eropa Timur lainnya juga tidak mau ketinggalan dengan Bulgaria. Rusia, Ukraina, dan negara-negara Balkan juga berlomba-lomba memposisikan negara mereka sebagai tujuan outsourcing yang paling baik, terutama untuk sektor TI.

Membicarakan tentang outsourcing TI di negara-negara Eropa Timur mungkin terlalu jauh buat kita. India dan Cina? Masih agak jauh juga? Bagaimana dengan Kamboja dan Laos? Apakah kedua negara yang lebih miskin dari Indonesia ini, dan barusan membuka ekonominya dalam satu dekade terakhir masih terlalu jauh untuk dibicarakan?

Memang di kedua negara tersebut, outsourcing sektor TI yang dilakukan belumlah setaraf dengan apa yang terjadi di India atau Cina. Bila di India, Cina, dan Eropa Timur, mereka sudah menerima outsourcing pekerjaan TI yang membutuhkan intelektual dan kreativitas, di Kamboja dan Laos, outsourcing TI masih sebatas melakukan data entry untuk perusahaan-perusahaan negara maju yang ingin mendigitalkan koleksi perpustakaan mereka. Para pekerja ini disebut sebagai digital factory workers.

Lewat perusahaan Digital Data Divide, yang dibangun dengan filosofi social entrepreneurship oleh warga negara US Jeremy Hockenstein pada tahun 2001, para pekerja di kedua negara tersebut dibayar upah yang mencukupi kebutuhan hidup mereka secara layak untuk pekerjaan mengkonversi data-data analog ke bentuk digital. Pekerja direkrut dari kaum miskin atau orang-orang cacat dan bekerja 6 jam sehari. Selain itu, mereka diberi kursus komputer dan bahasa Inggris. Salah satu hasil kerja mereka bisa dilihat di arsip situs surat kabar Harvard Crimson.

Apa yang terjadi di Kamboja dan Laos memang masih merupakan awal, namun bagaimana dengan Indonesia? Kapan terakhir kali kita mendengar outsourcing TI yang diberikan untuk negara kita, yang sekaligus mampu membantu permasalahan sosial yang kita hadapi? Kapankah kita bisa menarik keuntungan dari the flat world ini, dan bukan hanya sebagai konsumen barang-barang global? Hal yang sangat disayangkan karena konsep seperti Digital Data Divide sebenarnya cocok untuk diterapkan di bumi Nusantara ini.

• • •