eXTReMe Tracker
if knowledge is power, then passion is the engine, body is the vehicle, and conscience is the driver

… tentang inovasi dan berpikir holistik

October 4, 2006

Studi kasus: Mendanai usaha baru

Filed under: Entrepreneurship, Case Studies, Finance — itpin @ 8:11 am

Saya sangat baru dalam hal bisnis. Baru-baru ini saya dapat tawaran kerja sama dengan seorang pengembang untuk suatu proyek telekomunikasi dan juga ada beberap proyek yang lain.

Mereka butuh dana besar untuk diinvestasikan.dan kebetulan saya punya dana tersebut. Mereka juga memperlihatkan RAB mereka dan BEP hingga relatif singkat yaitu 15-16 bulan.

Yang ingin saya tanyakan adalah:

1. Ketika kita ingin bekerja sama bisnis dengan orang lain, apa sajakah yang mesti kita perhatikan untuk bisa menilai bahwa perusahaan dan proyek mereka itu real bukan fiktif. Dokumen apa saja yang perlu saya minta dari mereka untuk diperlihatkan kepada saya (maklum karena dananya besar). Kemudian bagaimana cara saya bisa memastikan bahwa dokumen mereka itu legal? Apa saya harus memanfaatkan jasa konsultan/notaris/semacamnya? Biasanya berapa tarif mereka untuk hal seperti ni?

2. Jika kita ingin memberi pinjaman besar pada rekan bisnis, kemudian mereka memberikan jaminan berupa surat tanah, atau yg lainnya, bagaimana saya bisa mengecek kebenaran surat-surat itu? Kemudian bagaimana saya bisa mengecek kalau surat jaminan itu memang seharga/nilainya sama/lebih tinggi/lebih rendah dari nilai pinjaman yang saya berikan kepada rekan bisnis tersebut?

3. Jika saya hanya punya dana besar, bagaimanakah kesepakatan yang terbaik bagi saya jika saya ingin/akan bekerjasama dengan orang lain? Dengan sistem bagi hasil, atau kepemilikan saham, atau bunga, atau bagaimana?

4. Bagimana sih bentuk perjanjian/agreement yang baku? Apa cukup hanya ada tanda tangan dari kedua belah pihak beserta materai, ataukah harus di hadapan notaris?

5. Sebenarnya fungsi dari seorang notaris itu apa sih? Bedanya dengan konsultan bisnis?

Komentar dari It Pin:

Pertama-tama saya harus minta maaf dulu karena tidak bisa menjawab beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan notaris dan bidang hukum, karena kompetensi saya memang tidak berada di bidang tersebut. Yang bisa saya katakan berkaitan dengan bidang tersebut adalah: Bila akhirnya Anda memutuskan untuk bergabung: Ya, Anda memang butuh bantuan mereka untuk kasus dengan dana sebesar itu. Saya yakin mereka bisa membantu Anda dalam menyusun kontrak dan memastikan keaslian beberapa surat-surat tertentu. Namun tentunya, Anda sendiri harus rajin juga mengadakan survei sendiri untuk memastikan keaslian dokumen atau realita dari rencana yang mereka susun.

Yang bisa saya bantu adalah memberi sedikit pandangan dari sudut strategi investasi, terutama untuk perusahaan baru. Di sini, dua pertanyaan utama yang harus Anda jawab adalah: (1) apakah harus investasi? (2) bila iya, bagaimana caranya agar resiko bisa dikurangi sambil memaksimalkan potensi pengembalian investasi?

Untuk pertanyaan pertama, (apakah harus investasi?), tentu saja Anda harus menyelidiki dulu reputasi dari rekan-rekan Anda tersebut? Sudah berapa lama kalian berkenalan? Dalam konteks apa? Bagaimana karakter mereka selama ini? Ada baiknya juga Anda bertanya pada orang-orang lain yang pernah berhubungan bisnis dengan mereka. Kalau Anda belum terlalu mengenal mereka, minta saja CV mereka plus siapa-siapa saja yang bisa dihubungi untuk memberi mereka referensi. Setelah itu, hubungi nama-nama dalam daftar referensi tersebut untuk menyelidiki lebih jauh. Memang ada kecendrungan pemberi referensi memberikan komentar yang positif saja. Dalam hal ini, Anda harus mampu mengajukan pertanyaan yang lebih langsung, misalnya dengan bertanya pada pemberi referensi, “Apakah Bapak bersedia meminjamkan uang sebesar Rp. X kepada saudara tersebut? Kenapa?” Perhatikan apakah terdapat nada keragu-raguan dalam jawaban mereka. CV tersebut juga bisa memberi peluang untuk mencari sumber referensi dari tempat lain. Misalnya kalau ternyata orang tersebut kebetulan pernah bekerja di perusahaan Y, dan teman Anda ada yang bekerja di sana, Anda bisa menghubungi teman Anda tersebut untuk mengorek lebih banyak informasi.

Setelah itu, tak kalah pentingnya adalah menyelidiki seberapa jauh rencana usaha mereka mendekati realita. Meski Anda percaya penuh pada mereka, langkah ini tetap harus dilakukan. Mengapa? Karena manusia umumnya memiliki kecenderungan untuk overconfidence pada saat menyusun rencana bisnis. Petunjuk umumnya adalah: Semua biaya-biaya dalam rencana tersebut harus dikali 2 (setidaknya 1.5). Semua estimasi pemasukan juga harus diuji karena sering angka-angka estimasi tersebut tidak memperhitungkan hadirnya kompetitor yang mampu menekan harga dan mengurangi volume. Intinya, untuk setiap angka yang besar, Anda harus bertanya apa dasarnya mereka meletakkan angka tersebut. Asumsi-asumsi yang mereka pakai untuk tiba pada angka tersebut sering jauh lebih penting dibanding angkanya sendiri. Ujilah asumsi-asumsi tersebut dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang kritis. Bila mereka meminta Anda untuk berinvestasi dengan dana sebesar itu, Anda berhak untuk melakukan hal ini. Selain itu, Anda juga membantu mereka menyusun rencana bisnis yang lebih akurat melalui pertanyaan-pertanyaan kritis tersebut.

Pastikan juga Anda mengerti industri yang akan digeluti tersebut. Apakah Anda tahu seluk-beluk industri ini? Bila tidak, apakah Anda memiliki orang yang bisa dipercaya untuk membantu Anda di sini? Tanpa pengetahuan di industri bersangkutan, Anda tidak akan pernah tahu bila “dikibuli”.

Dalam hal ini, kadang intuisi berperan juga. Coba perhatikan kata hati Anda. Apakah Anda merasa “sreg” atau ada ganjalan yang tidak bisa dijelaskan? Cobalah juga berdoa untuk meminta bimbingan.

Bila setelah melalui ujian-ujian tersebut, Anda akhirnya memutuskan untuk ikut, maka masalah berikutnya adalah bagaimana mengurangi resiko dan memaksimalkan potensi pengembalian laba. Ada beberapa strategi umum di sini.

Pertama, Anda harus memastikan mereka juga menaruh uang mereka sendiri dalam jumlah yang cukup signifikan. Tentu saja tidak perlu sebanyak dana Anda. Namun setidaknya jumlah tersebut cukup besar dibanding dengan pendapatan dan aset mereka saat ini. Bila Anda yang lebih banyak menanggung resiko, dikhawatirkan mereka tidak memiliki “ketakutan” untuk mengendalikan pengeluaran. Tanpa adanya kesediaan mereka untuk ikut menanggung resiko, motivasi kedua belah pihak akan berlainan. Anda ingin untung sambil meminimalkan pengeluaran, sementara mereka hanya memikirkan keuntungan. Kondisi asimetris ini akan memunculkan banyak konflik di kemudian hari.

Kedua, berikan dana secara bertahap (staging). Dana tahap berikutnya hanya bisa dikeluarkan bila mereka sudah menyelesaikan tahap sebelumnya. Selain mengurangi resiko Anda, cara ini memaksa mereka untuk bertanggung jawab terhadap rencana mereka. Bila mereka berjanji akan menyelesaikan proyek pendahuluan dalam waktu 3 bulan, mau tidak mau mereka akan berusaha menyelesaikannya bila ingin kucuran dana lebih lanjut. Tentu saja kadang terjadi penundaan, namun yang penting adalah apakah mereka bisa memberi penjelasan yang masuk akal bila terjadi penundaan. Staging ini juga membantu Anda melihat keseriusan mereka. Bila ada tanda-tanda ketidakseriusan atau masalah besar yang tidak Anda bayangkan, jangan segan-segan untuk menghentikan keterlibatan Anda. Jangan terjebak dalam apa yang disebut sebagai sunk cost fallacy. Kesalahan ini terjadi bila pemberi dana terus menerus memberi dana meski proyek terlilit masalah karena tidak ingin melihat uang yang ditanam sebelumnya hilang begitu saja. Celakanya, umumnya proyek yang bermasalah dari awal akan semakin bermasalah kemudian. Jadi lebih baik memotong kerugian seminimal mungkin daripada mengalami kerugian yang lebih besar hanya karena tidak tega melihat uang kita hilang begitu saja.

Mengenai bagaimana cara kerja sama yang paling baik, itu tergantung dari risk profile Anda, yaitu bagaimana Anda bersikap terhadap resiko. Bila Anda adalah orang yang cenderung bermain aman, sistem bunga lebih tepat. Tetapi bila Anda suka bermain resiko, penyertaan saham mungkin lebih cocok. Prinsip di sini adalah: high risk, high return. Semakin besar resiko yang harus Anda tanggung, semakin besar tingkat pengembalian yang harus Anda minta. Selain itu, perhitungkan juga apakah dana yang ditanamkan tersebut merupakan dana lebih yang tidak terpakai atau dana tersebut sebenarnya bisa dipakai untuk investasi lain yang lebih aman? Bila itu adalah “dana nganggur”, Anda tentu bisa mengambil resiko yang lebih tinggi.

Walaupun saya tidak bisa menjawab semua pertanyaan Anda, semoga sedikit saran-saran dari saya bisa membantu.

(Untuk para pembaca lain yang memiliki masalah yang berkaitan dengan strategi inovasi dan bisnis, dan ingin dikonsultasikan di blog ini, silakan baca ketentuannya di sini.)

• • •
 

September 11, 2006

Studi kasus: Dijual atau tidak?

Filed under: E-Business, Case Studies — itpin @ 8:02 am

Saya ingin konsultasi mengenai usaha saya di bidang website. Begini, saya punya sebuah website yang relatif masih baru, lalu singkat cerita ada orang dari luar negeri yang menawarkan kerja sama utk mengembangkan site saya ini. Saya tertarik melakukan kerja sama karena mereka punya site yang bergerak dlm bidang yang sama dan kelihatannya cukup besar (sudah established), sehingga saya pikir kerja sama ini dapat sebagai “leverage” untuk mempercepat pengembangan site saya baik dalam melengkapi contentnya dan terutama dalam hal traffic/visitors.

Masalahnya adalah, mereka ingin agar site saya menjadi “property” mereka, alasannya mereka akan mengeluarkan dana untuk biaya promosi, pengembangan lebih lanjut dll dan tentu saja mereka tidak akan mau mengeluarkan dana untuk site yang masih menjadi hak milik orang lain, cukup masuk akal juga. Semula saya memang khawatir apakah mereka bermaksud menipu saya, tetapi melihat website mereka yg sudah cukup terkenal saya pikir mereka tidak akan mempertaruhkan kredibilitas mereka meskipun jika ada apa-apa tentunya cukup sulit untuk menuntut mereka karena mereka berada di luar negeri dan kami hanya kenal melalui internet. Hal kedua yang mengurangi kekhawatiran saya adalah selama ini saya terus berinteraksi dgn mereka dan saya nilai mereka cukup jujur dan kelihatannya benar-benar ingin bekerja sama secara baik-baik.

Ok, mungkin masih banyak detail yg bisa saya sampaikan tetapi utk mempersingkat tulisan ini saya rangkum saja menurut pilihan yg saya hadapi:

1. Bekerja sama dgn mereka, dalam arti saya menyerahkan site saya sebagai “property” mereka, sementara saya tetap bekerja utk mengembangkan site ini (ada pembagian tugas antara saya dan mereka). Kami sepakat memakai sistem bagi hasil dgn semacam prosentase saham.

Advantages di sisi saya:

  • Saya menemukan partner yg benar-benar “sejalan” (krn mereka punya site serupa yang sudah established). Ini saya anggap sebuah point besar karena tentunya ini adalah sebuah kesempatan yg jarang ada.
  • Site saya dapat cepat berkembang dgn demikian diharapkan cepat menghasilkan.
  • Saya mendapat support dari suatu perusahaan terutama dalam pendanaan (bila mereka menepati janjinya). Ini juga penting krn kemampuan financial saya tidak sebagus mereka.

Disadvantages:

  • Resiko yg paling buruk adalah kehilangan site saya, meskipun kami akan membuat kontrak kerjasama, tapi berhubung ini antar negara rasanya kontrak ini hanya sebatas perjanjian di atas kertas (jika ada apa-apa mau lewat jalur hukum koq rasanya bakal ribet banget ya). Selain itu saya juga akan mencoba cara lain misalkan yang saya berikan domainnya tapi contentnya tetap di host saya (intinya saya masih “pegang” site tsb).
  • Kemungkinan sulit dlm kerjasamanya karena tidak bertemu langsung, jika punya partner lokal kan lebih mudah untuk mendiskusikan sesuatu.

2. Tidak bekerja sama dengan mereka, jadi saya jalan sendiri atau mungkin mencari partner lokal (yang belum tentu ada, ada pun belum tentu sebaik kesempatan ini, karena site saya temanya populer di luar negeri sana). Advantages & disadvantages: kebalikan dari option 1.

3. Cari cara lain, katanya orang-orang management “think outside the box”. Masalahnya saya belum menemukan pilihan lain, sementara saya mesti membuat keputusan secepatnya.

Jadi yang saya lihat pilihan saya cuma “Be” or “Not to be”, kalau mau jalan ya ambil resiko (yang cukup besar), kalau tidak ya jalan “alon2 asal kelakon”. Dilema juga, mungkin Pak It Pin bisa menuntun saya utk ke arah yg lebih mudah untuk mengambil keputusan?

Komentar dari It Pin:

Tempat pertama untuk memulai menganalisis masalah Anda sebenarnya terletak pada tujuan utama Anda membangun site tersebut. Apakah murni hanya sebagai hobi dan kepuasan tersebut didapat dari karya itu sendiri (dengan kata lain, bukan karena potensi finansial yang bisa diperoleh); atau memang dari awal ditujukan untuk memperoleh keuntungan finansial? Kalau memang jawabannya adalah yang terakhir (atau gabungan dari keduanya, namun tetap ada unsur kepentingan finansialnya), Anda tentu boleh mempertimbangkan tawaran tersebut, tetapi tentunya setelah Anda melakukan evaluasi secara benar.

Saya melihat kebingungan yang Anda alami di sini karena tiga hal:

Pertama, kekuatan mereka dalam tawar menawar (bargaining position) lebih tinggi. Hal itu terjadi karena Anda kelihatannya memiliki pilihan yang terbatas, sementara mereka mungkin dengan mudah bisa menemukan site lain dengan tema sejenis bila Anda menolak. Dalam negosiasi, pihak yang memiliki pilihan yang lebih banyak umumnya memiliki kekuatan penawaran yang lebih tinggi. Kekuatan tersebut bisa dipakai untuk “memaksakan” kehendak mereka.

Kedua, Anda juga mengalami apa yang disebut dengan information asymmetry, di mana informasi yang mereka dapatkan tentang Anda mungkin lebih banyak dibanding informasi yang Anda peroleh tentang mereka. Information asymmetry ini sering menjadi masalah dalam membuat keputusan yang benar karena menimbulkan banyak tanda tanya dan ketidakpastian.

Ketiga, karena sifat kontrak yang lintas negara dan lemahnya kekuatan hukum untuk menjangkau mereka bila terjadi sesuatu, Anda menghadapi resiko yang besar bila hubungan tidak berjalan seperti yang diharapkan.

Dari analisis tersebut, apa yang bisa saya sarankan adalah:

(1) Mencoba menaikkan posisi penawaran Anda, misalnya dengan mencari penawaran lain. Bila itu tidak bisa dilakukan, Anda bisa mencoba “jual mahal” dengan meyakinkan mereka kalau Anda masih bisa meneruskan site Anda tanpa keterlibatan mereka. Jadi di sini, Anda mencoba menciptakan “alternatif” lain untuk menaikkan posisi penawaran Anda. Dengan naiknya posisi penawaran tersebut, Anda bisa mengajukan beberapa syarat tambahan yang sesuai dengan kepentingan Anda (dengan tujuan mengurangi resiko Anda).

(2) Mencoba menghilangkan information asymmetry tersebut dengan mencari informasi perusahaan tersebut di Internet (mis: via web forums). Gali informasi apakah mereka bisa dipercaya. Tanyakan juga kepada mereka secara detail, apa-apa saja yang akan mereka lakukan untuk mempromosikan site Anda? Sejauh mana mereka akan membantu perkembangan site Anda? Tanyakan juga perusahaan tersebut apakah mereka bisa memberi daftar websites lain yang pernah mereka ajak kerja sama, lalu kirim email ke para webmasters tersebut untuk menanyakan pengalaman mereka selama bekerja sama dengan perusahaan bersangkutan. Kesediaan perusahaan tersebut memberikan daftar websites tersebut bisa juga dijadikan semacam petunjuk keseriusan mereka dalam membangun kerja sama yang saling menguntungkan dan terbuka. Sebaliknya, bila mereka menolak memberikan atau mencoba menghindar, itu juga bisa dijadikan sinyal negatif yang harus Anda cermati. Tentunya bisa saja mereka memberikan alamat teman-teman mereka sendiri dan Anda hanya akan mendengar pujian-pujian setinggi langit. Namun, dengan bantuan Google atau search engines lain di Internet, Anda bisa mencoba melakukan cross-checking atas identitas mereka. Anda toh tidak akan rugi dengan mencoba cara ini (kecuali rugi waktu).

(3) Mengurangi resiko Anda, baik dengan mengajukan pasal-pasal yang melindungi kepentingan Anda bila terjadi sesuatu (misalnya: mereka harus mengembalikan domain name tersebut ke Anda bila perusahaan tersebut tutup atau kesalahan terjadi di pihak mereka); atau seperti cara yang Anda ajukan: domain name ditransfer ke mereka, tetapi Anda tetap memegang content dan database-nya di server Anda sendiri. Cara lain adalah mengembangkan site lain sehingga bila terjadi sesuatu atas site yang dijual itu, Anda tetap memiliki pegangan (silakan baca artikel tentang keseimbangan resiko di sini).

Akhir kata, Anda tentu lebih tahu kondisi yang sedang Anda hadapi. Jawaban ini hanyalah mencoba memberikan padangan dari luar. Semoga bisa membantu Anda membuat keputusan yang lebih baik.

(Untuk para pembaca lain yang memiliki masalah yang berkaitan dengan strategi inovasi dan bisnis, dan ingin dikonsultasikan di blog ini, silakan baca ketentuannya di sini.)

• • •
 

September 1, 2006

Studi kasus: Kebingungan calon wiraswasta

Filed under: Entrepreneurship, Case Studies — itpin @ 8:22 am

Saya memiliki gelar di bidang ‘business administration’. Saat ini saya masih bekerja sebagai marketing manager di sebuah perusahaan di Jakarta, namun sedang memikirkan untuk memulai bisnis kecil. Masalahnya, modal saya hanya sebesar Rp. 20 juta dan saya belum memiliki ide jenis bisnis apa yang ingin saya terjuni. Mohon sarannya dan terima kasih.

Komentar dari It Pin:

Pertanyaan yang Anda ajukan, saya yakin juga merupakan pertanyaan yang ingin diajukan jutaan calon wiraswasta lainnya. Di sini tentu tidak ada jawaban yang mudah, yang bisa langsung diaplikasikan. Untuk menemukan jawaban yang sesuai bagi masing-masing individu, sering dibutuhkan waktu lama untuk refleksi diri dalam mencari jawaban tersebut di dalam diri masing-masing.

Apa yang bisa saya bantu adalah membagikan beberapa prinsip yang sudah disarikan dari pengalaman para wiraswasta yang berhasil secara holistik (bukan hanya dari segi materi, tetapi juga kepuasan jiwa). Prinsip-prinsip tersebut bersifat ideal, sehingga mungkin sulit diterapkan seluruhnya dalam kehidupan nyata. Namun setidaknya prinsip-prinsip tersebut bisa dijadikan titik tolak awal perjalanan Anda.

Menurut Mark Thompson, Stewart Emery, dan Jerry Porras dalam buku mereka “Success Built to Last“, terdapat 3 prinsip fundamental untuk menghasilkan sukses berkelanjutan. Ketiga prinsip tersebut adalah: arti, pikiran, dan aksi (meaning, thought, action). Arti adalah menemukan sesuatu yang membuat hidup Anda merasa berarti. Biasanya itu adalah bidang yang benar-benar kita sukai sehingga kita merasa waktu berlalu dengan cepat ketika menjalaninya. Pikiran adalah tindakan berpikir secara sadar untuk perencanaan dalam menyusun strategi dan langkah-langkah implementasi. Sementara aksi adalah disiplin dalam implementasi. Bisnis paling cocok untuk seseorang terletak di perpotongan antara ketiga bagian tersebut.

Ketiganya harus berinteraksi satu sama lainnya dan saling melengkapi. Hilangkan salah satu, dan sukses Anda tidak akan bertahan lama. Misalkan Anda mengeluarkan ‘meaning‘, Anda bisa saja sukses dalam jangka pendek, tetapi sulit untuk bertahan dalam jangka panjang karena tanpa rasa cinta terhadap bidang yang Anda jalani, Anda tidak akan kuat menjalani periode-periode krisis yang pasti akan muncul. Hilangkan ‘thought‘, maka Anda tidak tahu bagaimana memanfaatkan sumber daya Anda yang terbatas secara efektif, dan Anda mungkin akan kehabisan cash flow sebelum mampu menghasilkan laba yang cukup. Hilangkan ‘action‘, dan semuanya hanya indah di atas kertas.

Dari ketiga prinsip di atas, ‘meaning‘ adalah yang paling sering hilang. Banyak pengusaha yang langsung terjun pada setiap kesempatan tanpa merenungkan apakah yang mereka lakukan tersebut merupakan sesuatu yang benar-benar mereka sukai.

Tentu pada prakteknya, kita sering menghadapi hambatan untuk mencapai kondisi ideal. Dengan mengambil contoh dari kasus Anda, dengan modal sebesar itu, jelas sulit untuk memulai bisnis dalam skala menengah/besar, atau yang membutuhkan aset fisik dalam jumlah besar. Bahkan bila Anda memutuskan untuk joint venture dengan teman-teman sekalipun, bila Anda ingin tetap mempertahankan saham mayoritas, jumlah modal yang terkumpul jelas tidak akan banyak. Batasan modal tersebut membuat Anda harus lebih mempertimbangkan bidang jasa. Walau demikian, bidang jasa sebenarnya menyediakan pilihan yang sangat beragam: kerajinan tangan, kesenian, event organizer, fotografi, konsultan, catering, dlsb. Tentu saja, sebaiknya Anda memilih dari bidang-bidang tersebut mana yang paling Anda sukai.

Mengingat besarnya resiko usaha sendiri, Anda mungkin bisa memulai dulu secara parttime/freelance, tanpa melepas pekerjaan sekarang. Setelah bisnis Anda sudah mulai mantap, barulah Anda mempertimbangkan untuk terjun secara fulltime.

Dalam konteks budaya Indonesia yang masih menghargai nilai-nilai kekeluargaan, kita juga harus mengakui adanya kesempatan untuk menarik keuntungan melalui social network, misalnya melalui akses ke orang-orang penting yang bisa membantu, atau bisa juga bisnis keluarga. Selama hal itu tidak melanggar moral dan etika bisnis, pemanfaatan kesempatan tersebut bisa juga dijadikan sebagai pilihan.

Semoga pendapat tersebut bisa sedikit membantu Anda dalam membuat keputusan.

(Untuk para pembaca lain yang memiliki masalah yang berkaitan dengan strategi inovasi dan bisnis, dan ingin dikonsultasikan di blog ini, silakan baca ketentuannya di sini.)

• • •
 
Next Page »