Studi kasus: Mendanai usaha baru
Saya sangat baru dalam hal bisnis. Baru-baru ini saya dapat tawaran kerja sama dengan seorang pengembang untuk suatu proyek telekomunikasi dan juga ada beberap proyek yang lain.
Mereka butuh dana besar untuk diinvestasikan.dan kebetulan saya punya dana tersebut. Mereka juga memperlihatkan RAB mereka dan BEP hingga relatif singkat yaitu 15-16 bulan.
Yang ingin saya tanyakan adalah:
1. Ketika kita ingin bekerja sama bisnis dengan orang lain, apa sajakah yang mesti kita perhatikan untuk bisa menilai bahwa perusahaan dan proyek mereka itu real bukan fiktif. Dokumen apa saja yang perlu saya minta dari mereka untuk diperlihatkan kepada saya (maklum karena dananya besar). Kemudian bagaimana cara saya bisa memastikan bahwa dokumen mereka itu legal? Apa saya harus memanfaatkan jasa konsultan/notaris/semacamnya? Biasanya berapa tarif mereka untuk hal seperti ni?
2. Jika kita ingin memberi pinjaman besar pada rekan bisnis, kemudian mereka memberikan jaminan berupa surat tanah, atau yg lainnya, bagaimana saya bisa mengecek kebenaran surat-surat itu? Kemudian bagaimana saya bisa mengecek kalau surat jaminan itu memang seharga/nilainya sama/lebih tinggi/lebih rendah dari nilai pinjaman yang saya berikan kepada rekan bisnis tersebut?
3. Jika saya hanya punya dana besar, bagaimanakah kesepakatan yang terbaik bagi saya jika saya ingin/akan bekerjasama dengan orang lain? Dengan sistem bagi hasil, atau kepemilikan saham, atau bunga, atau bagaimana?
4. Bagimana sih bentuk perjanjian/agreement yang baku? Apa cukup hanya ada tanda tangan dari kedua belah pihak beserta materai, ataukah harus di hadapan notaris?
5. Sebenarnya fungsi dari seorang notaris itu apa sih? Bedanya dengan konsultan bisnis?
Komentar dari It Pin:
Pertama-tama saya harus minta maaf dulu karena tidak bisa menjawab beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan notaris dan bidang hukum, karena kompetensi saya memang tidak berada di bidang tersebut. Yang bisa saya katakan berkaitan dengan bidang tersebut adalah: Bila akhirnya Anda memutuskan untuk bergabung: Ya, Anda memang butuh bantuan mereka untuk kasus dengan dana sebesar itu. Saya yakin mereka bisa membantu Anda dalam menyusun kontrak dan memastikan keaslian beberapa surat-surat tertentu. Namun tentunya, Anda sendiri harus rajin juga mengadakan survei sendiri untuk memastikan keaslian dokumen atau realita dari rencana yang mereka susun.
Yang bisa saya bantu adalah memberi sedikit pandangan dari sudut strategi investasi, terutama untuk perusahaan baru. Di sini, dua pertanyaan utama yang harus Anda jawab adalah: (1) apakah harus investasi? (2) bila iya, bagaimana caranya agar resiko bisa dikurangi sambil memaksimalkan potensi pengembalian investasi?
Untuk pertanyaan pertama, (apakah harus investasi?), tentu saja Anda harus menyelidiki dulu reputasi dari rekan-rekan Anda tersebut? Sudah berapa lama kalian berkenalan? Dalam konteks apa? Bagaimana karakter mereka selama ini? Ada baiknya juga Anda bertanya pada orang-orang lain yang pernah berhubungan bisnis dengan mereka. Kalau Anda belum terlalu mengenal mereka, minta saja CV mereka plus siapa-siapa saja yang bisa dihubungi untuk memberi mereka referensi. Setelah itu, hubungi nama-nama dalam daftar referensi tersebut untuk menyelidiki lebih jauh. Memang ada kecendrungan pemberi referensi memberikan komentar yang positif saja. Dalam hal ini, Anda harus mampu mengajukan pertanyaan yang lebih langsung, misalnya dengan bertanya pada pemberi referensi, “Apakah Bapak bersedia meminjamkan uang sebesar Rp. X kepada saudara tersebut? Kenapa?” Perhatikan apakah terdapat nada keragu-raguan dalam jawaban mereka. CV tersebut juga bisa memberi peluang untuk mencari sumber referensi dari tempat lain. Misalnya kalau ternyata orang tersebut kebetulan pernah bekerja di perusahaan Y, dan teman Anda ada yang bekerja di sana, Anda bisa menghubungi teman Anda tersebut untuk mengorek lebih banyak informasi.
Setelah itu, tak kalah pentingnya adalah menyelidiki seberapa jauh rencana usaha mereka mendekati realita. Meski Anda percaya penuh pada mereka, langkah ini tetap harus dilakukan. Mengapa? Karena manusia umumnya memiliki kecenderungan untuk overconfidence pada saat menyusun rencana bisnis. Petunjuk umumnya adalah: Semua biaya-biaya dalam rencana tersebut harus dikali 2 (setidaknya 1.5). Semua estimasi pemasukan juga harus diuji karena sering angka-angka estimasi tersebut tidak memperhitungkan hadirnya kompetitor yang mampu menekan harga dan mengurangi volume. Intinya, untuk setiap angka yang besar, Anda harus bertanya apa dasarnya mereka meletakkan angka tersebut. Asumsi-asumsi yang mereka pakai untuk tiba pada angka tersebut sering jauh lebih penting dibanding angkanya sendiri. Ujilah asumsi-asumsi tersebut dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang kritis. Bila mereka meminta Anda untuk berinvestasi dengan dana sebesar itu, Anda berhak untuk melakukan hal ini. Selain itu, Anda juga membantu mereka menyusun rencana bisnis yang lebih akurat melalui pertanyaan-pertanyaan kritis tersebut.
Pastikan juga Anda mengerti industri yang akan digeluti tersebut. Apakah Anda tahu seluk-beluk industri ini? Bila tidak, apakah Anda memiliki orang yang bisa dipercaya untuk membantu Anda di sini? Tanpa pengetahuan di industri bersangkutan, Anda tidak akan pernah tahu bila “dikibuli”.
Dalam hal ini, kadang intuisi berperan juga. Coba perhatikan kata hati Anda. Apakah Anda merasa “sreg” atau ada ganjalan yang tidak bisa dijelaskan? Cobalah juga berdoa untuk meminta bimbingan.
Bila setelah melalui ujian-ujian tersebut, Anda akhirnya memutuskan untuk ikut, maka masalah berikutnya adalah bagaimana mengurangi resiko dan memaksimalkan potensi pengembalian laba. Ada beberapa strategi umum di sini.
Pertama, Anda harus memastikan mereka juga menaruh uang mereka sendiri dalam jumlah yang cukup signifikan. Tentu saja tidak perlu sebanyak dana Anda. Namun setidaknya jumlah tersebut cukup besar dibanding dengan pendapatan dan aset mereka saat ini. Bila Anda yang lebih banyak menanggung resiko, dikhawatirkan mereka tidak memiliki “ketakutan” untuk mengendalikan pengeluaran. Tanpa adanya kesediaan mereka untuk ikut menanggung resiko, motivasi kedua belah pihak akan berlainan. Anda ingin untung sambil meminimalkan pengeluaran, sementara mereka hanya memikirkan keuntungan. Kondisi asimetris ini akan memunculkan banyak konflik di kemudian hari.
Kedua, berikan dana secara bertahap (staging). Dana tahap berikutnya hanya bisa dikeluarkan bila mereka sudah menyelesaikan tahap sebelumnya. Selain mengurangi resiko Anda, cara ini memaksa mereka untuk bertanggung jawab terhadap rencana mereka. Bila mereka berjanji akan menyelesaikan proyek pendahuluan dalam waktu 3 bulan, mau tidak mau mereka akan berusaha menyelesaikannya bila ingin kucuran dana lebih lanjut. Tentu saja kadang terjadi penundaan, namun yang penting adalah apakah mereka bisa memberi penjelasan yang masuk akal bila terjadi penundaan. Staging ini juga membantu Anda melihat keseriusan mereka. Bila ada tanda-tanda ketidakseriusan atau masalah besar yang tidak Anda bayangkan, jangan segan-segan untuk menghentikan keterlibatan Anda. Jangan terjebak dalam apa yang disebut sebagai sunk cost fallacy. Kesalahan ini terjadi bila pemberi dana terus menerus memberi dana meski proyek terlilit masalah karena tidak ingin melihat uang yang ditanam sebelumnya hilang begitu saja. Celakanya, umumnya proyek yang bermasalah dari awal akan semakin bermasalah kemudian. Jadi lebih baik memotong kerugian seminimal mungkin daripada mengalami kerugian yang lebih besar hanya karena tidak tega melihat uang kita hilang begitu saja.
Mengenai bagaimana cara kerja sama yang paling baik, itu tergantung dari risk profile Anda, yaitu bagaimana Anda bersikap terhadap resiko. Bila Anda adalah orang yang cenderung bermain aman, sistem bunga lebih tepat. Tetapi bila Anda suka bermain resiko, penyertaan saham mungkin lebih cocok. Prinsip di sini adalah: high risk, high return. Semakin besar resiko yang harus Anda tanggung, semakin besar tingkat pengembalian yang harus Anda minta. Selain itu, perhitungkan juga apakah dana yang ditanamkan tersebut merupakan dana lebih yang tidak terpakai atau dana tersebut sebenarnya bisa dipakai untuk investasi lain yang lebih aman? Bila itu adalah “dana nganggur”, Anda tentu bisa mengambil resiko yang lebih tinggi.
Walaupun saya tidak bisa menjawab semua pertanyaan Anda, semoga sedikit saran-saran dari saya bisa membantu.
(Untuk para pembaca lain yang memiliki masalah yang berkaitan dengan strategi inovasi dan bisnis, dan ingin dikonsultasikan di blog ini, silakan baca ketentuannya di sini.)