eXTReMe Tracker
if knowledge is power, then passion is the engine, body is the vehicle, and conscience is the driver

Blog ini sudah pindah ke http://www.orangenexus.com

March 13, 2007

Bertanya “Mengapa” 5 kali

Filed under: Analytical Thinking, Innovation, Critical Thinking — itpin @ 8:31 am

Anak saya yang berumur 2.5 tahun sedang getol-getolnya belajar berbicara. Setiap hari dia akan terus bertanya “Apa ini, pa?” “Apa ini ma?” “Kenapa?” Sering pertanyaan yang diajukannya tidak berhenti sampai di sana saja. Dia akan terus mengejar dengan pertanyaan “Kenapa?” atau “Mengapa?” sampai saya malas menjawab, atau tidak tahu jawabannya.

Begitulah anak kecil. Mereka adalah makhluk-makhluk pembelajar paling efektif yang pernah ada. Lewat pertanyaan-pertanyaan lugu seperti itu, mereka belajar hubungan sebab akibat. Sayangnya, kemampuan tersebut berangsur-angsur berkurang, jika tidak hilang, begitu kita beranjak dewasa. Kita menjadi terbiasa menghafalkan data dan fakta. Kita percaya pada pendapat yang dimasukkan ke kepala kita tanpa menilai secara kritis. Kita juga jarang mempertanyakan “kenapa” dan “mengapa” ketika diminta mengerjakan sesuatu.

Padahal pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang sering menjadi dasar kreativitas dan inovasi. Para inovator yang berhasil adalah orang-orang yang masih mampu mempertahankan sifat-sifat rasa ingin tahu bak seorang anak kecil. Namun jika Anda tidak termasuk golongan yang beruntung tersebut, jangan menyesali diri terlebih dahulu. Kita bisa memakai sebuah teknik yang dikenal sebagai 5-Whys (5-Mengapa) yang diperkenalkan oleh Toyota. Melalui teknik ini, kita diajak kembali untuk terus bertanya “Mengapa” sekitar 5 kali sampai kita mendapatkan jawaban final. (Angka 5 di sini bukanlah angka mati. Sering Anda cuma perlu bertanya 3-4 kali, atau kadang-kadang 6 kali. Tetapi angka 5 dianggap cukup representatif.)

Teknik ini sebenarnya dipakai untuk mengidentifikasikan masalah di jalur produksi yang muncul sampai ke akar permasalahan yang sebenarnya. Misalnya, di pabrik dijumpai bahan baku yang sudah kadaluarsa. Dengan memakai teknik 5-Whys ini kita mengajukan pertanyaan “Why” yang pertama, “Mengapa bisa terjadi?”. Jawaban: “Karena barang-barang baru selalu diletakkan di atas sehingga barang-barang di bagian bawah jarang terpakai.” Jangan puas dengan jawaban tersebut terlebih dahulu. Ingat, Anda baru memakai 1 “Why” dan masih ada 4 “Whys” yang tersisa. Kejar terus dengan pertanyaan, “Mengapa cara tersebut dipakai?” Jawabannya mungkin, “Karena supervisor yang meminta kami melakukannya.” Tanyakan lagi, “Mengapa supervisor meminta begitu?” Jawaban berikutnya bisa jadi, “Karena dia menganggap ini bukanlah masalah penting.” Tanyakan lagi, “Mengapa dia menganggap itu bukan masalah penting?” Jawaban yang datang kemudian, mungkin seperti ini: “Karena kenaikan gaji dan bonusnya dinilai berdasarkan keluaran mesin, bukan mengurus bahan baku.” Anda mungkin tidak perlu bertanya lebih lanjut bila merasa jawaban terakhir sudah menyentuh akar permasalahan.

Dari contoh di atas kita bisa melihat bagaimana pertanyaan “Why” yang terus menerus bisa menemukan masalah sebenarnya. Masalah bahan baku yang kadaluarsa tersebut bukan sekedar masalah kelalaian, tetapi merupakan masalah yang lebih sistemik yang menyangkut sistem kompensasi karyawan. Bila jumlah bahan baku yang rusak tersebut cukup besar, maka perusahaan perlu memperbaiki masalahnya tepat di sumbernya, yaitu di sistem kompensasi.

Contoh di atas adalah contoh penyelesaian masalah operasional dengan memakai teknik ini. Bagaimana dengan mendapatkan ide-ide untuk inovasi dan pertumbuhan? Apakah teknik “5-Whys” ini bisa dipakai? Why not?

Ambil saja contoh sebuah perusahaan yang mendapatkan laporan keterlambatan pengiriman barang ke distributor di daerah tertentu. Awalnya perusahaan menganggap masalahnya terdapat pada supir yang ditugasi untuk melayani wilayah tersebut. Namun setelah supir ditukar, masalah yang sama tetap muncul. Curiga masalah tersebut bersifat lebih sistemik, perusahaan memutuskan menggunakan teknik “5-Whys“. Berikut kira-kira contoh pertanyaan dan jawaban yang diperoleh:

Mengapa pengiriman barang ke wilayah tersebut sering terlambat?

Karena supir harus menunggu lebih lama di gudang ketika hendak mengambil barang.

Mengapa harus menunggu lebih lama?

Karena jenis barang yang diangkut lebih bervariasi, dan variasi ‘packaging’ berdasarkan permintaan distributor di daerah tersebut lebih besar sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama untuk diproses dan ditata di dalam truk.

Mengapa permintaan lebih bervariasi?

Karena permintaan pelanggan di tingkat eceran juga bervariasi.

Mengapa demikian?

Karena beberapa daerah perumahan baru mulai ditempati, dan para konsumen di daerah-daerah tersebut memiliki selera yang berbeda sehingga para distributor di daerah tersebut terpaksa menyediakan lebih banyak variasi model.

Mengapa para penduduk di perumahan baru tersebut menyukai model yang berbeda?

Karena perumahan tersebut lebih banyak dihuni oleh segmen pelanggan keluarga muda. Karena jumlah penghuni rumah lebih sedikit, mereka lebih suka membeli kemasan produk yang berukuran lebih kecil.

Melalui pertanyaan demi pertanyaan tersebut, Anda mendapatkan pengetahuan baru, bahwa pasangan yang baru membina rumah tangga lebih menyukai kemasan ukuran kecil dan jumlah konsumen di segmen ini menunjukkan peningkatan. Bila selama ini perusahaan Anda kurang memperhatikan segmen ini, pengetahuan seperti itu jelas menawarkan peluang untuk inovasi dan pertumbuhan. Untuk memenangkan segmen ini, perusahaan Anda bisa mengembangkan produk atau program pemasaran yang lebih inovatif dan terfokus untuk merangkul mereka. Bayangkan sekarang bila Anda tidak melakukan “5-Whys” di sini dan hanya menggonta-ganti supir truk.

5-Whys” bukanlah teknik yang misterius dan ajaib. Teknik ini termasuk murah meriah dan sangat berguna. Para anak kecil memakai teknik ini setiap hari dan menjadi bagian dari hidup mereka. Karena kita semua pernah menjadi anak kecil, kita hanya perlu melatih kembali pemakaian teknik ini.

Mulailah bertanya “Mengapa?” terus menerus mulai sekarang.

• • •
 

September 14, 2006

Analitika di perusahaan

Filed under: Analytical Thinking, Innovation, Consumer Behaviour, Strategy — itpin @ 8:37 am

Ketika seorang petugas kasino Harrah’s Entertainment menyambut pelanggannya dengan nama depan, mengucapkan selamat ulang tahun, dan menawarkan tiket atau kupon permainan gratis, itu tidak berarti tamu tersebut sedang didatangi sang dewi Fortuna. Yang sedang bekerja di sini adalah sistem CRM (customer relationship management) bernilai puluhan juta dollar. Ketika seorang tamu menggesekkan kartu anggotanya di salah satu slot mesin permainan, semua yang dilakukan sang tamu selama kunjungan tersebut akan tercatat dengan rapi di dalam database perusahaan. Dan ketika komputer “menemukan” tamu yang kalah terus menerus, komputer dengan bemurah hati akan mengeluarkan kupon makan malam gratis lewat mesin yang sedang dimainkan tamu sial itu untuk mengobati kekecewaannya. Semua data kunjungan juga akan dianalisis, termasuk data kunjungan ke properti Harrah’s di kota-kota lainnya di seantero US. Lewat analisis tersebut, bila Harrah’s menemukan adanya tamu tetap yang sudah lama tidak berkunjung, tamu tersebut akan “diingatkan” untuk kembali lewat tawaran kupon menginap gratis atau kupon-kupon lainnya yang langsung dikirim ke rumah sang tamu.

Lihat juga bagaimana Capital One Financial Corporation yang memakai database berkapasitas terabyte untuk menyimpan data pemakai kartu kredit, menganalisis data tersebut, dan mengeluarkan penawaran yang berbeda-beda untuk setiap pelanggan sesuai hasil analisisnya. Penawaran-penawaran yang ada kemudian dianalisis lagi untuk melihat mana penawaran yang paling efektif dan mana yang gagal. Lewat analisis seperti itu, Capital One dengan cepat mampu melejit menjadi salah satu perusahaan kartu kredit terbesar di US.

Dari US, kita menuju ke UK. Di UK, siapa yang tidak mengenal nama Tesco? Malah boleh dibilang hampir semua penduduk negeri tersebut pernah mengunjungi salah satu toko Tesco. Jaringan supermarket ini memang terkenal piawai dalam mengolah data transaksi pelanggannya, dan kemudian memberikan penawaran khusus sesuai dengan selera masing-masing pelanggan.

Di Internet, penggunaan data untuk tujuan meningkatkan laba sudah merupakan sesuatu yang lazim. Amazon dulu pernah mencoba menggunakan variable pricing, di mana setiap pelanggan diberi daftar harga yang berbeda. Praktek tersebut terpaksa dihentikan setelah menuai protes dari pelanggan dan media. Namun demikian, penyesuaian harga secara global masih kerap dilakukan oleh Amazon berdasarkan tingkat supply dan demand, dan promosi-promosi lainnya. Yahoo! juga sering melakukan testing kecil-kecilan untuk melihat efektivitas layout iklan atau layanan lainnya sebelum diluncurkan untuk umum.

Selamat datang di dunia analitika perusahaan! Bertahun-tahun dulu, kita sering mendengar prediksi bahwa perkembangan TI akan merevolusi dunia bisnis. Ramalan tersebut memang sudah terbukti saat ini. Namun disayangkan, kebanyakan perusahaan, terutama perusahaan lokal di Indonesia, hanya mendayagunakan TI untuk keperluan administrasi dan membantu operasional belaka. Sementara itu, perusahaan-perusahaan di atas (dan juga perusahaan besar lainnya seperti Wal-Mart, Dell, Novartis, Progressive Insurance, Marriott, dlsb), telah menggunakan TI sebagai salah satu alat strategi untuk bersaing dan berinovasi. Data storage yang semakin murah, prosesor yang semakin cepat, dan kemampuan menangkap data secara real time memungkinkan semua itu.

Memang dari contoh-contoh di atas, kelihatannya pemakaian data mining dan analitika di dunia bisnis hanya bisa dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar. Namun dengan bantuan kreativitas, sebenarnya prinsip-prinsip tersebut bisa juga dipakai oleh perusahaan kecil dan menengah. Brosur, misalnya, bisa dibuat beberapa versi. Masing-masing versi diberi nomor telepon yang berbeda untuk dihubungi. Perusahaan tinggal menghitung berapa panggilan masuk untuk masing-masing nomor untuk menganalisis mana brosur yang paling efektif. Saya juga melihat beberapa peritel di tanah air sudah memberlakukan sistem kartu anggota. Gramedia, misalnya memberikan diskon 10% untuk setiap pembelian kepada pemegang kartu anggotanya. Yang saya tidak tahu adalah apakah data yang terkumpul dari transaksi tersebut telah diolah dan dianalisis untuk tujuan yang lebih strategis?

Di tengah persaingan merebut isi dompet konsumen yang semakin sengit, mengenal keinginan konsumen adalah hal yang mutlak. Untuk usaha kecil, kita masih bisa mencoba mengenal konsumen-konsumen kita secara pribadi. Namun untuk perusahaan raksasa, hal tersebut tidak mungkin lagi. Yang bisa dilakukan adalah membuat seolah-olah kita mengenal mereka secara pribadi dengan bantuan database raksasa yang memuat segala transaksi mereka dan menganalisis data tersebut dengan benar. Inovasi juga sering muncul dari analisis semacam ini ketika kita menemukan pengetahuan baru tentang konsumen yang selama ini luput dari perhatian kita.

Lalu apa yang harus dilakukan bila perusahaan Anda ingin menjadi perusahaan yang “analitika”? Menurut Prof. Thomas Davenport dari Babson College, perusahaan yang analitika adalah perusahaan yang rajin memakai model-model statistik, bukan saja untuk menganalisis transaksi dengan konsumen, tetapi juga dalam proses bisnis lainnya. Singkatnya, pola pikir analitika sudah menjadi bagian dari budaya perusahaan. Ahli-ahli statistik banyak dipekerjakan dan tentunya dengan bayaran yang menarik. Selain itu, fokus pada teknologi, terutama TI, juga menjadi perhatian utama. Tentu saja, para ahli-ahli TI juga mendapatkan bayaran lumayan. Yang tak kalah pentingnya adalah dukungan dari eksekutif puncak yang yakin akan pentingnya sistem informasi dan alat bantu analitika. (Dan para eksekutif puncak ini pasti menerima bayaran yang lebih lumayan lagi!)

Dengan segala kelebihannya, alat bantu analitika bukanlah tanpa keterbatasan. Harap tetap diingat bahwa alat bantu analitika adalah… alat bantu. Kreativitas, intuisi, etika, reputasi, strategi yang baik, dan budaya perusahaan yang menomorsatukan konsumen tetap dibutuhkan untuk membuat konsumen bersedia terus berhubungan dengan perusahaan kita. Tanpa semua itu, data dan metode analitika secanggih apa pun yang dimiliki tidak akan berguna.

• • •
 

August 24, 2006

Angsa hitam bernama ‘induksi’

Kita mengenal dua cara untuk menarik kesimpulan atau menyusun argumen: deduksi dan induksi. Dalam deduksi, kesimpulan dianggap benar bila diturunkan dari premis-premis yang benar. Misalnya, bila premis pertama adalah: Semua manusia pasti akan mati, dan premis kedua adalah: Saya adalah manusia, dan kedua premis tersebut adalah benar, maka kesimpulan benar yang bisa ditarik adalah: Saya pasti akan mati.

Sementara itu, induksi tidak bermain dengan kepastian mutlak. Kesimpulan bisa ditarik dari premis-premis yang mungkin benar. Sebagai contoh: bila saya melihat kucing yang berwarna putih hari ini, dan besok melihat lagi kucing putih, dan keesokan harinya lagi melihat kucing berwarna putih, maka saya bisa menarik kesimpulan bahwa semua kucing berwarna putih. Kita bisa melihat bagaimana rapuhnya argumen berdasarkan induksi dibanding argumen deduksi. Singkatnya, bila deduksi bersifat pasti, induksi bersifat probabilistik.

Meski memiliki kelemahan dibanding deduksi, induksi sungguh menggoda karena kemampuannya mereduksi kejadian-kejadian individual menjadi generalisasi tunggal sehingga menghemat kapasitas penyimpanan di otak. Namun induksi mengandung bahaya tersembunyi, karena keterbatasan kemampuan kognitif manusia, kita sering menganggap kesimpulan dari hasil induksi sebagai hasil dari deduksi. Sikap rasialisme, praduga, atau takhayul sering berakar dari kerancuan ini.

Padahal seperti yang kita ketahui, kesimpulan induksi belum tentu benar, sekuat apa pun contoh-contoh kasus yang diberikan. Sebagai contoh, sebelum abad ke-17, orang-orang Eropa hanya pernah melihat angsa berwarna putih. Sebab itu, mereka percaya bila semua angsa harus berwarna putih. Kesimpulan induksi sempat dianggap sebagai kesimpulan deduksi, sampai seorang penjelajah Belanda, Vlaming menemukan spesies angsa hitam, cygnus atratus, di Australia Barat pada tahun 1697.

Penemuan angsa hitam tersebut menjadi contoh yang baik untuk menunjukkan kelemahan induksi. David Hume, seorang skeptis tulen dari Inggris memakai penemuan angsa hitam ini untuk menjelaskan sikap skeptisnya terhadap kebenaran absolut, “No amount of observations of white swans can allow the inference that all swans are white, but the observations of a single black swan is sufficient to refute that conclusion.”

Bagi seorang skeptis tulen seperti Hume, di dunia ini tidak ada kebenaran mutlak, meski yang diperoleh dari metode deduksi sekalipun. Menurut Hume, semua deduksi sebenarnya adalah induksi yang belum menemukan ‘angsa hitam’nya. Bahkan premis yang selama ini diterima sebagai kebenaran, seperti “Semua manusia pasti akan mati” bisa saja terbukti salah. Siapa yang bisa memastikan tidak ada manusia-manusia baka seperti dalam kisah Highlander yang hidup di antara kita? Walau peradaban manusia sudah melahirkan puluhan milyar anak manusia, cukup satu orang manusia baka saja yang dibutuhkan untuk membalikkan kebenaran premis bersangkutan.

Hukum-hukum alam yang diperoleh dari sains juga tidak bisa dianggap memiliki kebenaran kekal. Kita melihat bagaimana Hukum Newton ternyata tidak bisa dipakai pada skala makrokosmos (digantikan oleh teori relativitas Einstein) dan pada skala mikrokosmos (digantikan oleh teori mekanika kuantum). Teori geocentris yang sempat dianut ribuan tahun akhirnya terbukti salah dan digantikan oleh teori heliocentris berkat jasa Nicolaus Copernicus dan Galileo Galilei. Siapa di antara kita yang bisa menjamin baik teori relativitas, mekanika kuantum, dan heliocentris sebenarnya hanya merupakan hipotesa sementara sampai ditemukan lagi teori-teori baru yang lebih mendekati kebenaran absolut?

Dalam mencari kebenaran, kita tentu tidak perlu sampai seskeptis Hume. Skeptisme membutuhkan energi yang besar dan bila kita skeptis terhadap segala sesuatu, kita tidak akan mampu menyisihkan waktu untuk menikmati keindahan hidup. Induksi, dengan segala kekurangannya tetap diperlukan. Tetapi berbekal pengetahuan tentang kelemahan induksi, kita bisa mengurangi resiko yang ditimbulkannya. Misalnya saja, bila Anda percaya bahwa kemarau bulan Juli tidak akan menurunkan hujan, Anda bisa merencanakan piknik kebun pada bulan tersebut. Namun dengan menyadari bahwa kesimpulan tersebut adalah kesimpulan induksi, Anda bisa bersiap-siap bila hujan ternyata turun, misalnya dengan mempersiapkan payung besar atau mencari lokasi yang berdekatan dengan ruang tertutup. Dalam permainan saham, Anda bisa memakai strategi hedging atau metode stop loss untuk mengurangi kerugian bila analisis Anda ternyata salah. Kita juga bisa belajar untuk tidak memandang orang-orang yang berbeda dengan kita (baik dalam segi suku, ras, agama) secara negatif, meski kita sering mendengar cerita-cerita yang mendukung sikap negatif tersebut.

Cara terbaik untuk menjaga keseimbangan di sini adalah mungkin dengan bersikap open-minded dan belajar terus, sambil tetap memegang teguh beberapa kebenaran positif yang membuat hidup kita lebih berarti. Dan tetap ingat juga: Angsa hitam tetap memiliki kecantikannya sendiri, meski berbeda dengan kecantikan angsa putih.

• • •
 

August 23, 2006

‘Survivorship bias’

Filed under: Analytical Thinking, Cognitive Biases — itpin @ 8:13 am

Bayangkan diri Anda menghadiri reuni sekolah. Ketika menerima undangan, Anda sudah memutuskan untuk hadir. Bukankah posisi Anda sekarang sudah cukup membanggakan, sebagai seorang manajer TI di sebuah perusahaan multinasional? Selain itu, Anda terkenal sebagai salah satu blogger ternama dari Indonesia. Pendidikan Anda juga lumayan, paling gak Anda menyandang gelar S1 dan S2 dari universitas terkemuka di Jakarta. Dan Anda punya istri yang kecantikannya bisa dipamerkan ke teman-teman Anda, atau malah lebih baik lagi, ke para mantan pacar yang sempat memutuskan Anda.

Hari reuni tiba. Agak mengherankan juga kenapa yang hadir hanya segelintir. Tetapi gak masalah. Yang penting masih bisa bertukar cerita dengan teman-teman yang hadir. Yup, salah satu mantan pacar Anda juga hadir dan garis-garis ketuaan mulai tampak di matanya. Perutnya juga sudah mulai mengendur. Untung saja kita gak jadian dulunya.

Anda pura-pura tidak melihatnya. O ya, bukankah itu si Anton yang pernah jadi teman dekat Anda? Anda pun mendekatinya untuk bertukar cerita. Melihat Anda, Anton tersenyum. Dalam sekejap, kalian berdua sudah terlibat pembicaraan. Ternyata Anton sudah sukses besar. Dia memiliki beberapa perusahaan, termasuk satu di Cina. Ya, gak masalah. Bukankah setiap orang memiliki takdir yang berbeda? Anda toh sudah puas dengan apa yang Anda miliki. Anda juga masih yakin kondisi Anda lebih baik dibanding mayoritas teman-teman lainnya.

Beberapa teman kemudian bergabung. Satu per satu menceritakan kondisi mereka saat ini. Bambang, setelah menikahi anak pejabat, sekarang memiliki kedudukan yang penting di sebuah bank negara dan sering diajak makan malam Gubernur BI. Ridwan, yang dulu anak badung, ternyata sering bolak-balik Indonesia-US untuk membantu bisnis orang tuanya. Yudi sukses di bisnis Internet dan sekarang aktif bermain saham di Wall Street lewat Internet. Grace, setelah menyelesaikan studi S3 di UCLA, sekarang bekerja sebagai eksekutif GE untuk kawasan Asia Pasifik. Semakin Anda mendengar cerita mereka, semakin Anda merasa diri Anda menciut dan menciut… Bahkan mantan pacar Anda, Rini, ternyata menikah dengan putra seorang konglomerat. Kelihatannya dari semua yang hadir, nasib Anda yang paling memprihatinkan.

Bila Anda pernah berada pada situasi seperti itu, jangan terburu-buru minder. Anda adalah korban dari ‘survivorship bias‘. Dengan kata lain yang lebih awam, semua yang hadir memang sengaja hadir untuk memamerkan diri mereka. Sementara bagi mereka yang tidak memiliki apa pun untuk dipamerkan, memilih untuk tidak hadir (kecuali Anda yang naif, tentunya). Jika Anda ingin mengembalikan harga diri Anda, yakinlah bahwa Anda kemungkinan besar lebih sukses dari semua yang tidak hadir saat itu (kecuali yang sudah hidup enak di luar negeri).

Efek bias ini juga sering kita alami sehari-hari. Bukankah kita sering merasa antrian kita selalu bergerak lebih lambat dari antrian lainnya? (Jawabannya: karena Anda tidak pernah memperhatikan antrian yang bergerak lebih lambat dibanding antrian Anda). Atau, secepat apa pun Anda menjalankan kendaraan, kelihatannya Anda masih terlalu lambat karena selalu ada yang menyalib kendaraan Anda? (Jawabannya: karena Anda tidak akan pernah melihat kendaraan yang bergerak lebih lambat dari kendaraan Anda.)

Perusahaan-perusahaan MLM atau money game juga sering memanfaatkan bias ini. Ketika Anda hadir di forum atau presentasi mereka, Anda akan menjumpai mereka yang telah sukses setelah bergabung dengan perusahaan tersebut. Mereka tidak berpura-pura sukses. Bila Anda meminta mereka menunjukkan account statements bank mereka, Anda akan melihat sendiri buktinya. Rasa percaya diri yang mereka tunjukkan bukanlah hasil latihan akting. Namun, tentu saja Anda harus ingat, mereka yang gagal setelah bergabung, tidak mungkin hadir untuk memamerkan kegagalan mereka. Yang Anda saksikan adalah para ‘survivors‘ yang hanya merupakan sebagian kecil dari sample.

Jadi, bagaimana caranya bersikap terhadap bias semacam ini? Bila Anda menemukan kondisi seperti di atas, cobalah bersikap obyektif dalam menjawab pertanyaan ini: Seberapa besar populasi yang ada dan seberapa besar sample yang mewakili populasi yang hadir? Dalam kasus reuni sekolah, bila jumlah murid sekolah yang diundang adalah 300 orang (total populasi) dan yang hadir hanya 30 orang (sample), Anda harus berhati-hati bahwa yang hadir tidaklah representatif. Tetapi bila jumlah murid yang diundang hanya 40 orang dan yang hadir 30 orang, dan Anda berada dalam situasi di atas, Anda layak depresi setelah merenungi nasib Anda. Sementara dalam kasus seperti MLM, Anda bisa bertanya berapa total anggota yang ada dan berapa dari anggota tersebut yang mendapatkan pendapatan di atas 5 juta, misalnya. Dengan meletakkan semuanya pada perspektif yang lebih obyektif, semoga Anda bisa terhindar dari perangkap ‘survivorship bias‘ ini.

• • •
 

June 17, 2006

Korelasi atau sebab akibat?

Filed under: Analytical Thinking — itpin @ 9:32 am

Jika Anda melihat kilatan petir dan mendengar suaranya, Anda tidak akan menyimpulkan bahwa kilatan petir menyebabkan suara petir. Anda sudah tahu ada sumber lain yang menyebabkan keduanya, dan karena cahaya merambat lebih cepat dari suara, kita melihat kilatan terlebih dahulu sebelum mendengar suaranya. Kita tahu dalam hal ini, kilatan dan suara petir memiliki hubungan korelasi (kejadian yang satu beriringan dengan kejadian lainnya), namun bukan hubungan sebab akibat (kejadian yang satu menyebabkan kejadian lainnya).

Namun, bayangkan saja bila Anda hidup di masyarakat yang masih primitif dan belum mempelajari gejala alam, Anda mungkin masih berpikir kilat menyebabkan guntur. Celakanya, dalam banyak hal kita masih mewarisi cara berpikir primitif tersebut. Bila Anda berpikir perbedaan antara korelasi dan sebab akibat adalah hal yang remeh, katakanlah hal itu pada orang-orang yang telah mengorbankan jiwanya agar kita bisa terbang.

Sejak jaman dahulu, manusia selalu terpesona oleh burung-burung yang bisa terbang bebas di angkasa. Percaya bahwa manusia suatu saat bisa terbang, mereka berusaha mencari tahu kenapa burung bisa terbang. Mudah diduga, alasan yang mereka temukan adalah ’sayap’. Bukankah semua makhluk yang bisa terbang bersayap, sementara manusia tidak? Mitologi Icarus dari Yunani Kuno memperkuat kepercayaan tersebut. (Dalam dongeng tersebut, Icarus terbang dengan sayap yang dibuat dari bulu burung bersama ayahnya, Daedalus. Namun karena terlalu bersemangat, Icarus terbang mendekati matahari sehingga lilin yang merekatkan sayapnya meleleh. Icarus akhirnya terhempas ke bumi dan tewas.) Berbekal temuan tersebut, mereka merancang puluhan bahkan ratusan model sayap untuk diuji coba. Jiwa-jiwa yang penasaran tersebut tak jarang harus menyusul Icarus tanpa sempat mencicipi rasanya terbang karena mempercayai hubungan sebab akibat yang salah tersebut.

Mungkin masih banyak dari kita yang percaya bahwa sayap burung adalah penyebab mengapa burung bisa terbang. Dan kita melupakan burung unta yang tidak bisa terbang.

Akhirnya, Bernoulli menemukan alasan mengapa burung bisa terbang. Burung bisa terbang karena sayapnya dirancang sesuai dengan prinsip-prinsip aerodinamika. Prinsip-prinsip aerodinamika inilah, yang kemudian disebut sebagai prinsip-prinsip Bernoulli, yang memungkinkan burung untuk terbang. Setelah mengetahui penyebab sebenarnya, barulah manusia berhasil membuat pesawat terbang. Dalam kasus ini, sebenarnya sayap dan terbang memiliki hubungan korelasi, bukan sebab akibat.

Sebuah contoh lain: Bila Anda menemukan bahwa anak-anak yang cerdas cenderung memiliki buku yang banyak di rumahnya, apa kesimpulan Anda? Buku menyebabkan anak-anak menjadi pintar? Cukup masuk di akal. Bila Anda mempercayai hubungan sebab akibat tersebut, Anda akan membeli sebanyak mungkin buku untuk mencerdaskan anak Anda. Tapi apakah Anda mempertimbangkan kemungkinan adanya penyebab lainnya yang menjelaskan kedua kejadian tersebut? Bagaimana bila jumlah buku di rumah dan anak yang pintar disebabkan oleh orang tua yang cerdas? Bukankah orang tua yang cerdas cenderung suka membaca?

Pernahkah Anda diminta bergabung dengan perusahaan MLM? Siapa yang tidak pernah saat ini? Beberapa perusahaan tersebut memberikan bukti beberapa anggotanya yang menjadi kaya setelah bergabung dengan MLM. Secara implisit, asumsi yang coba mereka kemukakan adalah “mereka menjadi kaya karena bergabung dengan MLM.” Apakah logika tersebut benar? Bagaimana bila anggota yang berhasil tersebut disebabkan oleh etos kerja mereka, dan bukan karena sistem MLM-nya? Bila itu penyebab sebenarnya, bukankah yang harus kita pelajari adalah etos kerjanya dan bukan sekedar bergabung dengan perusahaan MLM tersebut? (Perhatikan bahwa saya menekankan kata ‘bila‘ di atas. Tanpa bukti yang cukup, kita sebaiknya jangan terburu-buru menarik kesimpulan.)

Bagaimana pula di dunia bisnis? Perusahaan sering mencari praktek-praktek terbaik (best practices) dari perusahaan yang sukses untuk diterapkan. Tapi, apakah best practices tersebut merupakan penyebab kesuksesan perusahaan tersebut atau ada sebab lainnya? Banyak perusahaan yang sudah mengunjungi pabrikan Toyota di Jepang untuk mempelajari The Toyota Way. Tapi sejauh ini tidak ada yang berhasil mengungguli Toyota dalam hal efisiensi perakitan mobil. Mengapa? Karena yang mereka tiru adalah apa yang kelihatan di permukaan dan menganggap hal itu sebagai penyebab keberhasilan Toyota. Yang baru disadari kalangan industri otomotif dan para akademisi adalah praktek-praktek manufaktur Toyota yang kelihatan tersebut, seperti kanban atau tali andon, disebabkan oleh hal lain yang tidak kelihatan sebelumnya, yaitu kepercayaan dan kebebasan yang diberikan kepada karyawan untuk memperbaiki sistem tanpa campur tangan manajemen. (Apakah ini penyebab sebenarnya? Kita masih belum tahu. Tapi setidaknya hipotesis penyebab baru ini lebih mendekati kebenaran dibanding sebelumnya.)

Hal yang sama juga terjadi di tingkat pemerintahan. Negara X memiliki pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan mereka menerapkan kebijakan A, B, dan C. Mari kita tiru. Rombongan presiden (atau Anggota DPR[D]) yang melakukan kunjungan kerja ke luar negeri melihat ide menarik yang dianggapnya bertanggung jawab atas keberhasilan penanggulangan masalah sejenis di wilayahnya. Mari kita tiru.

Para pembaca blog ini kebanyakan sudah lulus kuliah di perguruan tinggi. Jadi, untuk bisa lulus kuliah, Anda harus sering-sering membaca blog ini:)

• • •
 

April 22, 2006

Rusia mendominasi kontes pemrograman komputer

Filed under: Analytical Thinking, Current Events — itpin @ 8:00 am

Tim dari Saratov State University, Rusia berhasil menjuarai kontes pemrograman komputer dunia yang diselengarakan baru-baru ini oleh Association for Computer Machinery (ACM). Tujuh dari 10 tim teratas berasal dari benua Eropa dan hanya 1 dari US, yaitu MIT di posisi ke-8. Sementara dari Asia, tim dari Shanghai Jiao Tong University berhasil menduduki posisi ke-5.

Pemenang ditentukan melalui 10 pertanyaan babak final yang harus diselesaikan dalam waktu 15 jam. Tim dari Rusia tersebut berhasil menyelesaikan dengan benar 6 pertanyaan. Bagi yang penasaran dengan soal-soal yang dilombakan di babak final, silakan download di sini.

• • •
 

April 21, 2006

Mempersiapkan wawancara kerja di Microsoft

Filed under: Fun Stuff, Analytical Thinking — itpin @ 8:00 am

Jika Anda cukup beruntung mendapatkan kesempatan interview kerja di kantor pusat Microsoft di Redmond, WA, US, berikut adalah beberapa pertanyaan yang mungkin akan Anda hadapi:

  • Bagaimana Anda menimbang sebuah pesawat jumbo jet tanpa menggunakan timbangan?
  • Berapa estimasi jumlah stasiun pengisian bensin di seluruh Amerika Serikat?
  • Bila ada salah satu negara bagian Amerika Serikat yang bisa dihilangkan, manakah itu?
  • Berapa kali dalam sehari jarum jam pendek dan jarum jam panjang saling bertumpukan?
  • Berapa berat es di sebuah lapangan ice hockey?
  • Anda memiliki delapan bola billiard. Salah satunya lebih ringan atau lebih berat. Dengan dua kali timbangan, bagaimana Anda menemukan bola tersebut?
  • Empat orang harus menyeberangi sebuah jembatan tua yang akan rubuh 17 menit lagi. Jembatan tersebut cukup rapuh sehingga hanya bisa memuat dua orang dalam sekali penyebrangan. Karena waktu itu malam gelap gulita, penyeberangan harus dilakukan dengan bantuan sinar senter. Sayangnya hanya ada 1 senter untuk keempat orang tersebut. Keempat orang tersebut mampu berjalan dengan kecepatan berbeda. Adam mampu menyeberangi dalam 1 menit, Larry 2 menit, Elton 5 menit, dan Bono 10 menit. Bagaimana caranya keempat orang tersebut mampu menyeberangi jembatan tersebut dengan selamat?

Berapa banyak yang bisa Anda jawab? Terlalu mudah? :-)

• • •