Oticon yang tuli
Ketika pesawat tempur belum dilengkapi dengan sinar laser untuk mengarahkan misil, para pilot harus menguasai cara menjatuhkan bom secara tradisional, yang dikenal dengan istilah dive bombing. Sang pilot pertama-tama akan terbang tinggi dan lalu menukik tajam menuju sasaran dengan kecepatan tinggi. Selama manuver tersebut, pilot harus menjaga agar alur tukikan pesawat berada pada garis lurus dengan target-nya. Sang pilot yang harus berfokus pada target sering melupakan sekitarnya, termasuk musuh yang mungkin datang dari samping.
Hal yang sama sering dialami perusahaan yang terlalu terpaku pada satu hal saja, sementara realita lingkungan sudah berubah. Mari kita lihat Oticon.
Pada tahun 1960an, Oticon adalah perusahaan kecil Denmark yang memproduksi alat bantu pendengaran untuk para tunarungu. Denmark memang memiliki keunggulan di industri ini karena dukungan dari pemerintah, dokter THT yang berdedikasi tinggi, dan riset kelas dunia dari Technical University of Denmark.
Keunggulan tersebut segera dipakai secara maksimal oleh tiga perusahaan pembuat alat bantu pendengaran untuk mengembangkan produk yang berkualitas tinggi. Dalam waktu dua dekade, ketiga perusahaan tersebut berhasil menguasai pangsa pasar dunia sebesar 30%. Dari ketiganya, Oticon adalah yang paling berhasil. Penjualan dan laba perusahaan naik drastis. Jumlah staf meningkat menjadi 1000 orang yang bekerja di 10 negara. Para direktur perusahaan tersebut dianggap sebagai guru di industri ini. Paket kompensasi mereka? Ah, jangan ditanya lagi…
Periode ini juga merupakan masa-masa di mana cara berpikir Oticon terbentuk. Oticon melihat alat bantu pendengaran sebagai produk standar yang diproduksi secara besar-besaran di pabrik-pabrik otomatis mereka. Pasien tidak memiliki pilihan yang banyak dan keputusan untuk memilih alat bantu pendengaran dilakukan oleh para profesional, bukan pasien. Dari segi produk, kriteria utama pemilihan adalah kinerja akustiknya.
Pada tahun 1970an, Oticon memasarkan alat bantu pendengaran yang diletakkan di belakang telinga. Berkat teknologi dan upaya-upaya marketingnya, produk tersebut laris bak kacang goreng. Para petinggi dan staf Oticon semakin percaya diri dengan formula sukses mereka.
Namun pelanggan mulai menginginkan sesuatu yang lain. Mereka ingin alat bantu yang bisa dimasukkan ke dalam telinga. Meski kelihatannya sederhana, perbedaan antara belakang telinga dengan dalam telinga sangat besar. Selain ruangan di dalam telinga yang lebih kecil, bagian dalam telinga masing-masing orang tidak sama. Ini berarti produk harus bisa dikustomisasi, sesatu yang tidak cocok dengan model produksi masal Oticon.
Karena alasan itu, Oticon terjebak pada cara berpikir lamanya meski pasar sudah mulai bergeser. Oticon malah yakin para konsumen melakukan keputusan yang salah dengan memilih model di dalam telinga. Fokus mereka pada cara berpikir lama membuat mereka tuli terhadap keinginan pelanggan.
Bahkan ketika Oticon mulai kehilangan pangsa pasar, cara berpikir lama tersebut membuat mereka tiba pada satu keputusan: mengembangkan model baru dengan kinerja akustik yang lebih bagus, tetapi tetap untuk belakang telinga. Namun konsumen sudah kehilangan selera terhadap model belakang telinga tersebut. Para dokter yang selama ini membantu penjualan Oticon juga mulai melihat Oticon sebagai perusahaan yang angkuh. Oticon tetap tuli. Bahkan ketika produk di dalam telinga telah memperoleh setengah dari pangsa pasar untuk alat bantu pendengaran, Oticon masih percaya mereka yang benar.
Ketika akhirnya Oticon memutuskan membuat model di dalam telinga, keputusan tersebut terkesan setengah hati. Oticon memproduksi model di dalam telinga dengan cara yang dikenal sebelumnya… produksi masal. Pelanggan tidak bisa melakukan kustomisasi karena produk yang dihasilkan melalui produksi masal adalah model standar. Respon pasar? Tentu saja menolak mentah-mentah produk tersebut.
Oticon segera kehilangan pangsa pasarnya, tetapi masih terus menyalahkan konsumen dan kompetitor. Barulah di tahun 1987 ketika perusahaan tersebut kehilangan setengah dari nilai sebelumnya, Oticon sadar. Perusahaan ini memang berhasil bangkit kembali, tetapi cerita tentang Oticon sungguh merupakan sebuah pelajaran penting buat kita semua: apa yang membuat kita sukses sering akan mengunci pikiran kita terhadap realita lain. Selama dunia tidak berubah, penguncian tersebut tidak akan berakibat buruk, malah bisa meningkatkan efisiensi. Namun ketika dunia berubah cepat, penguncian tersebut bisa berakibat fatal, seperti yang dialami ratusan pilot yang gugur dalam tugas karena pandangannya terkunci pada target sehingga tidak sempat memperhatikan lingkungannya.