eXTReMe Tracker
if knowledge is power, then passion is the engine, body is the vehicle, and conscience is the driver

Blog ini sudah pindah ke http://www.orangenexus.com

March 8, 2007

MacGyverism

Filed under: Creative Thinking, Cognitive Biases — itpin @ 8:01 am

Bagi para pembaca seusia saya mungkin masih ingat serial TV MacGyver yang sangat populer di akhir tahun 1980an. Sang tokoh utama, MacGyver, terkenal dengan kecerdasan dan ide-ide kreatifnya untuk menyelesaikan masalah — mulai dari masalah sehari-hari sampai masalah yang berkaitan dengan keselamatan jiwa. Kreativitas tersebut ditunjukkan dengan menemukan solusi dari benda sehari-hari yang terdapat di sekitar kita, termasuk untuk membuat bom.

MacGyver tentu saja kisah fiktif, tetapi prinsip kreativitasnya tentu bisa kita terapkan di kehidupan pribadi dan bisnis kita. Sebagai contoh, ketika NASA meluncurkan para astronotnya ke angkasa luar, mereka menemukan bahwa para astronot tersebut tidak bisa memakai pulpen karena tintanya tidak bisa mengalir ke bawah akibat kondisi gravitasi nol. Untuk menyelesaikan masalah tersebut, NASA menghabiskan waktu 10 tahunan dan USD 12 juta. Mereka mengembangkan sebuah pulpen yang bisa berfungsi dalam gravitasi nol, atas bawah, di bawah laut, di segala jenis permukaan termasuk kristal dan pada segala kondisi temperatur dari titik beku sampai titik didih air. Apa yang akan dilakukan MacGyver? Dia pasti akan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Uni Soviet. Para kosmonot Uni Soviet menggunakan pensil.

Kemudian ada lagi sebuah cerita dari salah satu perusahaan kosmetik terbesar di Jepang. Perusahaan ini menerima keluhan dari salah satu pelanggan yang membeli sebuah sabun, tetapi menemukan kotak sabun tersebut kosong melompong. Karena kualitas merupakan masalah penting di Jepang, perusahaan segera mencara sebab musababnya. Akhirnya, sumber masalah ditemukan di jalur perakitan. Karena sesuatu alasan, sebuah kotak kosong masuk ke jalur tersebut tanpa terdeteksi. Pihak manajemen langsung meminta para insinyur memecahkan masalah tersebut. Mereka akhirnya menciptakan sebuah alat X-ray untuk melihat semua kotak sabun yang lewat. Alat ini harus dijaga oleh 2 orang yang tentu saja tidak efisien.

Ketika sebuah perusahaan kecil lainnya menghadapi masalah serupa, apa yang mereka lakukan? Lagi-lagi mereka memakai solusi ala MacGyver. Alih-alih mendeteksi dengan alat secanggih X-ray, mereka menggunakan kipas angin besar yang diarahkan ke jalur perakitan. Angin dari kipas tersebut akan menghembuskan kotak kosong keluar dari jalur perakitan. Masalah selesai.

Apa yang bisa kita pelajari dari kedua kisah di atas? Kreativitas dan penyelesaian masalah ternyata tidak harus melibatkan kecanggihan dan dana yang besar. Originalitas ide bisa ditemukan dengan berpikir sesederhana mungkin. Kita memang sering masuk jebakan terlalu berfokus pada masalah dan bukan solusinya. Seperti pada contoh di atas, ketika NASA melakukan framing atas masalah sebagai “menemukan pulpen yang bisa berfungsi pada gravitasi nol,” frame tersebut menyingkirkan alternatif solusi yang tidak melibatkan pulpen. Padahal bila masalah tersebut di-framing ulang sebagai “menemukan alat untuk menulis pada kondisi gravitasi nol,” dengan mudah kita bisa melihat pensil sebagai alternatif yang layak.

Selain masalah framing masalah yang terlalu sempit atau salah, kita juga sering terjebak dalam melihat benda melalui kaca mata forms over functions. Ketika kita melihat sebuah kotak kayu, secara otomatis kita mengasosiasikan benda tersebut sesuai dengan fungsi utamanya, yaitu sebagai tempat penyimpanan barang. Padahal kotak kayu tersebut bisa dipakai untuk berbagai fungsi, antara lain sebagai pengganjal pintu, kursi, tangga, pendobrak pintu, meja piknik, tempat persembunyian, atau malah kanvas untuk melukis.

Berpikir kreatif, karena itu, mengharuskan kita menyadari frame yang kita pakai dalam menilai sebuah masalah dan melihat sesuatu dengan mata anak kecil. MacGyver pasti akan setuju dengan pernyataan tersebut.

• • •
 

November 30, 2006

‘Confirmation bias’ dan kreativitas

Filed under: Creative Thinking, Cognitive Biases — itpin @ 7:51 am

Katakanlah Anda diberi deretan kartu seperti di bawah ini:

E, 8, N, 3, 6

Anda diberitahu bahwa di belakang setiap kartu ada huruf/angka lainnya. Anda juga diminta untuk memverifikasi sebuah aturan dengan membalikkan 3 buah kartu. Aturan tersebut adalah: di belakang setiap huruf hidup selalu ada angka genap (misalnya: A/2, O/4, I/8). Kartu-kartu manakah yang akan Anda balikkan?

Coba pikirkan dulu baik-baik sebelum membaca lebih lanjut untuk menentukan ketiga kartu yang harus dibalik untuk memverifikasi kebenaran aturan tersebut.

Sekarang kita bahas jawaban Anda.

Bila salah satu jawaban Anda adalah ‘E’, selamat. Jawaban tersebut adalah jawaban mayoritas orang-orang yang pernah mendapatkan tes serupa, dan tentu saja itu adalah jawaban yang benar. Bila di balik ‘E’ Anda menemukan angka ganjil, maka Anda berhasil membuktikan bahwa aturan di atas salah.

Yang menarik adalah dua jawaban berikutnya. Jawaban terpopuler kedua dan ketiga ternyata adalah angka ‘8′ dan ‘6′. Padahal kedua kartu tersebut tidak membuktikan apa-apa. Kalau di balik ‘8′ atau ‘6′ adalah huruf hidup, Anda hanya akan memperkuat keyakinan Anda bahwa aturan tersebut benar. Sebaliknya bila di balik angka ‘8′ tersebut adalah huruf mati, apa yang bisa Anda buktikan? Toh aturannya berbunyi: Di belakang kartu huruf hidup selalu ada angka genap (dan bukan sebaliknya).

Pilihan yang benar seharusnya ‘3′ dan ‘N’. (Sebagian dari Anda mungkin akan bertanya: Kenapa ‘N’? Bukankah ‘N’ adalah huruf? Ya, memang. Tapi siapa yang pernah mengatakan di balik huruf tidak boleh ada huruf lainnya?) Pada kedua kartu tersebut, bila di baliknya terdapat huruf hidup, aturan tersebut salah. Sebaliknya bila di balik ‘3′ dan ‘N’ bukan huruf hidup, maka aturan bersangkutan terbukti benar seratus persen.

Hasil tes ini membuktikan bekerjanya confirmation bias pada pikiran kita. Ketika dihadapkan pada sebuah masalah atau kondisi, kita cenderung mencari bukti-bukti untuk membenarkan pendapat atau keyakinan kita sebelumnya. Dalam kasus di atas, kita lebih tertarik untuk membuktikan bahwa aturan tersebut benar dengan membalikkan angka genap ‘8′ dan ‘6′. Sementara itu, strategi yang benar adalah berusaha menemukan apakah ada kondisi yang membuat aturan tersebut salah. Bila kesalahan tidak ditemukan, barulah aturan tersebut bisa dibenarkan.

Dalam hidup sehari-hari kita dengan mudah bisa melihat bekerjanya confirmation bias. Bila Anda mencurigai pembantu Anda telah mencuri perhiasan Anda, segala tindak tanduknya akan kelihatan seperti seorang pencuri. Bila Anda mencurigai pasangan Anda berselingkuh, segala tindak tanduknya menunjukkan indikasi perselingkuhan.

Bias ini juga berpengaruh terhadap kreativitas. Kenapa? Solusi kreatif terhadap sebuah masalah biasanya bukan datang pada alternatif pertama atau kedua yang melintas di otak kita. Alternatif awal tersebut umumnya adalah solusi yang sudah kita kenal sebelumnya. Untuk mencari alternatif yang kreatif, kita umumnya harus menggali lebih jauh. Semakin jauh Anda menggali, semakin kreatif ide yang dihasilkan. Kalau Anda tidak percaya, cobalah daftarkan alternatif solusi untuk masalah Anda saat ini di selembar kertas (atau ketik di komputer). Tuliskanlah sebanyak mungkin alternatif yang muncul dalam 15-30 menit. Setelah itu periksalah. Anda akan menemukan solusi yang terletak di baris bawah pada umumnya lebih kreatif dibanding yang ditulis di baris-baris atas.

Confirmation bias akan menghambat kita mencari alternatif-alternatif lainnya ketika kita sudah menemukan alternatif pertama yang kelihatannya cukup baik. Persis seperti alasan kita membalikkan kartu ‘8′ dan ‘6′ di atas, begitu solusi pertama didapatkan, pikiran kita secara otomatis akan mencari bukti-bukti untuk mendukung solusi tersebut, dan bukannya berusaha mencari bukti-bukti yang bertentangan. Karena energi mental kita sudah diarahkan untuk mendukung solusi awal tersebut, kita kehilangan motivasi untuk mencari lebih jauh alternatif-alternatif lain yang mungkin lebih baik. Kesimpulannya: bila Anda ingin kreatif, waspadalah terhadap confirmation bias.

Seperti bias-bias kognitif lainnya, confirmation bias memiliki fungsinya sendiri, yaitu mengurangi beban kerja pikiran kita (pada kebanyakan kasus). Namun dengan mengenali kapan bias ini memberikan dampak negatif (misalnya bila kita ingin mencari ide-ide kreatif), kita bisa secara sadar menghentikan bias ini untuk sementara.

• • •
 

September 12, 2006

Eksternalisasi ‘risk homeostasis’?

Filed under: Cognitive Biases — itpin @ 3:10 pm

Ada sebuah artikel menarik di Jawa Pos hari ini. Berikut adalah kutipannya:

Menggunakan helm saat mengendarai sepeda angin, ternyata tak menjamin keselamatan pemakainya. Hal itu disebabkan para pengguna jalan lainnya cenderung berani menyalip pengendara sepeda berhelm ketimbang pengendara sepeda yang tak menggunakan pelindung apa-apa.

Hasil tersebut diperoleh dalam penelitian yang dilakukan Dr. Ian Walker, pakar psikolog lalu lintas dari Bath University, Inggris. Dalam uji coba pertama, Walker menjadikan dirinya sebagai kelinci percobaan. Hasilnya, ia ditabrak bus dan kereta tambang saat mengendarai sepeda dengan menggunakan helm.

Tak puas, Walker melanjutkan penelitiannya dengan memasang sensor ultrasonik pada sepeda. Ternyata, dari 2.500 pemakai jalan di Salisbury dan Bristol, mayoritas dua kali lebih berani mendekati sepeda angin hingga hanya berjarak 8,5 sentimeter saat pengendaranya memakai helm.

Apakah ini berarti konsep risk homeostasis juga berlaku saat kita menilai resiko orang lain yang berinteraksi dengan kita? Dengan kata lain, bila kita merasa orang lain memiliki resiko yang lebih rendah, kita lebih berani memberikan resiko tambahan kepada orang tersebut (walau tentunya tidak kita sadari)?

Bagaimana menurut Anda?

(Bagi yang belum membaca posting tentang risk homeostasis, silakan klik di sini.)

• • •
 

September 6, 2006

Menjaga keseimbangan resiko

Filed under: Entrepreneurship, Cognitive Biases — itpin @ 8:15 am

Bayangkan Anda seorang yang baru belajar mengemudikan mobil. Anda memasuki jalan yang sempit dan gelap dan mengurangi laju kendaraan Anda selambat mungkin. Secara otomatis Anda pasti akan berhati-hati sekali. Sekarang bayangkan bila Anda sudah cukup mahir menyetir. Bagaimana tingkat kehati-hatian Anda? Meski masih awas, Anda kemungkinan besar akan menjalankan kendaraan lebih cepat. Dan bagaimana bila Anda melewati jalan tersebut siang hari? Dipastikan kendaraan Anda akan melaju lebih cepat lagi.

Contoh di atas mengilustrasikan konsep risk homeostasis. Konsep yang diperkenalkan oleh seorang psikolog dari Queens University di Kanada, Gerald Wilde, tersebut menyimpulkan bahwa setiap orang memiliki tingkat total resiko yang selalu dijaga agar seimbang. Dengan kata lain, bila kita berhasil menurunkan resiko di satu tempat, kita tanpa sadar akan lebih berani meningkatkan resiko di tempat lain. Dalam kasus di atas, misalnya, bila kita sudah mahir berkendara (resiko melakukan kesalahan menurun), kita akan lebih berani meningkatkan laju kendaraan (menaikkan resiko di tempat lain).

Wilde tidak sekedar berteori. Kesimpulan tersebut diperoleh dari sebuah studi terkenal yang dilakukan di Munich, Jerman. Pada penelitian tersebut, para periset memasang ABS (antilock brake systems) di sebagian taksi-taksi dan membiarkan taksi-taksi dalam kelompok kontrol tanpa ABS. ABS, sebagaimana yang kita ketahui, mencegah terkuncinya ban mobil pada saat dilakukan pengereman mendadak. Secara intuitif, kita tentu akan menyimpulkan kendaraan yang dipasangi ABS akan lebih aman dan memiliki tingkat kecelakaan yang rendah. Namun hasil penelitian mengatakan lain. Taksi-taksi yang dipasang ABS ternyata memiliki tingkat kecelakaan yang sama dengan yang tidak dipasangi ABS. Para pengemudi taksi yang ber-ABS ternyata lebih berani mengambil resiko seperti melaju lebih cepat dan melakukan pengereman mendadak lebih sering.

Wilde kemudian melakukan beberapa penelitian lain. Misalnya, dia menemukan tingkat kecelakaan di zebra cross sama tingginya dengan di tempat lain. Para penyeberang zebra cross kelihatannya secara tidak sadar menurunkan tingkat mawas diri mereka. Tingkat kecelakaan pengemudi mobil pemula dan berpengalaman juga tidak memiliki perbedaan nyata. Pengemudi pemula jelas lebih hati-hati untuk mengimbangi kekurangtrampilan mereka. Demikian juga dengan pemakaian sabuk pengaman. Pengemudi tanpa sabuk pengaman cenderung lebih berhati-hati, walau mereka mungkin tidak menyadarinya.

Tentu itu bukan berarti peraturan untuk mengurangi kecelakaan tidak dibutuhkan. Akan tetapi, pengetahuan akan risk homeostasis bisa membantu para pembuat kebijakan untuk tidak semata-mata berfokus pada pembuatan peraturan tanpa berusaha merubah aspek tingkah laku lainnya. Sebagai contoh, penempatan sebuah papan tulis di daerah zebra cross yang mengingatkan agar para penyeberang tetap memperhatikan kendaraan dari kanan kiri jalan sewaktu menyeberang mungkin bisa membantu. Kampanye dan pendidikan akan pentingnya mempertahankan tingkat kehati-hatian walau tindakan pengamanan sudah dilakukan juga bisa dilakukan, baik melalui media massa atau pun melalui ruang-ruang kelas.

Pengetahuan akan risk homeostasis ini juga bisa membantu bagi yang ingin memulai usaha sendiri. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, resiko kegagalan dalam memulai usaha sendiri sangat tinggi. Karenanya, banyak yang tidak berani mengambil resiko demikian. Nah, bagi yang tetap ingin menjadi wiraswasta namun masih ragu-ragu, ada baiknya Anda menganalisis keseluruhan aspek hidup Anda secara lengkap. Temukan resiko-resiko lain dalam hidup Anda yang bisa dikurangi. Cicilan yang belum lunas? Belum memiliki asuransi kesehatan? Gaya hidup yang tidak sehat? Atau bisa jadi… karena Anda adalah setan jalanan? Dengan berhasil mengurangi resiko di tempat lain, semoga Anda akan lebih berani mengambil resiko untuk memulai bisnis Anda.

(Sebagian alasan mengapa kasino banyak dipenuhi orang-orang kaya dan para pensiunanĀ  yang memiliki jaminan sosial di negara-negara maju boleh jadi disebabkan karena resiko mereka di tempat lain sudah minimal. Demikian juga dengan alasan mengapa orang yang sudah berkeluarga lebih takut untuk keluar dari pekerjaan untuk memulai usaha sendiri.)

Bagi Anda yang ingin mempelajari langsung konsep risk homeostasis ini, silakan baca tulisan Gerald Wilde di sini.

Dan berhati-hatilah saat berkendara di jalan raya!

• • •
 

August 28, 2006

Umar Hasan Saputra

Filed under: Innovation, Cognitive Biases, Current Events, Belief Systems — itpin @ 8:34 am

Beberapa harian nasional beberapa hari ini rajin melaporkan tentang penemuan fenomenal di dunia pertanian oleh Umar Hasan Saputra, seorang alumni IPB. Umar berhasil menemukan nutrisi khusus pengganti pupuk yang telah terbukti mampu meningkatkan hasil produksi pertanian secara signifikan (yang dinamakan Nutrisi Saputra). Pak Ciputra yang melihat presentasi Umar tersebut bahkan menyebutkan sebagai pencapaian yang melebihi pencapaian Einstein dan berpotensi merevolusi dunia pertanian.

Namun sebelum menghargai hasil karya Umar, ada baiknya kita menghargai perjuangan serba sulit yang dilakoninya terlebih dahulu. Seperti yang bisa dibaca di harian Jawa Pos hari ini, Umar sempat ditertawakan rekan-rekannya, gagal dan berpindah laboratorium berkali-kali, harus merogoh kocek sendiri untuk mendanai penelitiannya, hampir putus asa, dan sempat terpaksa berhutang Rp. 500.000,- untuk membeli susu anaknya karena kehabisan uang. Apa yang membuatnya maju terus adalah keyakinan dalam dirinya dan keinginan yang mendalam untuk menyumbangkan sesuatu buat umat manusia.

Beriringan dengan cerita tentang Umar, Kompas juga mengeluarkan berita tentang pemberian penghargaan Fields Medal Awards, ajang penghargaan setaraf Hadiah Nobel untuk para matematikawan. Empat orang mendapatkan penghargaan untuk tahun ini, termasuk Grigori Perelman, seorang matematikawan eksentrik dari Rusia. Hampir sama dengan nasib Umar, Perelman harus merogoh kocek sendiri untuk mendanai penelitiannya. Hasil karyanya juga masih jarang diketahui, bahkan oleh para ahli matematika sekali pun. Perelman sendiri sering dianggap eksentrik dan gila.

Kedua cerita tersebut merupakan gambaran betapa sulitnya menjadi pendobrak paradigma. Kita mungkin sering berasumsi, bila kita memiliki ide yang hebat, orang akan berduyun-duyun memberikan dana atau setidaknya dukungan moral. Kadang hal tersebut memang benar, tetapi lebih sering dukungan yang diharapkan tersebut tidak pernah datang, bahkan dari orang-orang terdekat. Semuanya baru akan datang setelah penemuan tersebut terbukti sukses.

Salah satu penyebabnya adalah daya tolak dari cara pandang lama yang sangat kuat, bahkan di dunia ilmu pengetahuan dan akademis yang konon kabarnya sangat mendewakan rasionalitas. Di sini kita hendaknya selalu mengingat bahwa para ilmuwan sekali pun adalah manusia biasa yang tidak terlepas dari bias-bias kognitif dan dipengaruhi oleh kepentingan pribadi dan keinginan untuk menjaga status quo bidang bersangkutan. Pendewaan terhadap rasionalitas dan berpikir kritis tidaklah menjamin mereka tidak memiliki ikatan emosi terhadap teori yang mereka yakini saat ini.

Sebagai contoh kita bisa melihat bagaimana Royal Society of London mengejek penemuan vaksin cacar oleh Edward Jenner karena penemuan tersebut sangat bertentangan dengan pengetahuan umum yang dianut saat itu. Dan ketika dokter Ignaz Semmelweis dari Hongaria membuktikan bahwa tangan dokter yang tidak disteril merupakan penyebab infeksi mematikan selama kelahiran di Universitas Wina di tahun 1850-an, dia harus kehilangan jabatannya.

Jalan menuju pendobrak paradigma dan inovator tidaklah seindah yang terlihat. Karena itu, rasa cinta terhadap bidang yang ditekuni yang berasal dari panggilan hidup sangat dibutuhkan. Rasa cinta dan panggilan hidup inilah yang merupakan sumber kekuatan dari dalam. Jalan tersebut jelas bukanlah jalan untuk semua orang, terutama bagi mereka yang menyukai status quo atau yang masih belum menemukan panggilan hidupnya.

Bagaimana dengan Anda?

• • •
 

August 25, 2006

Dewi Fortuna dan Hitler

Filed under: Learning, Cognitive Biases — itpin @ 8:26 am

Pada musim panas tahun 1930 di sebuah daerah di Jerman, sebuah kecelakaan hampir terjadi antara sebuah mobil penumpang dan sebuah truk trailer besar. Untung saja (atau sialnya?) pengemudi truk tersebut bereaksi cukup cepat untuk menginjak pedal rem. Bila dia terlambat setengah detik saja, mobil penumpang tersebut pasti akan tergilas dan kemungkinan besar para penumpang di dalam mobil tersebut akan tewas.

Apa yang membuat insiden tersebut istimewa adalah fakta bahwa penumpang yang duduk di baris depan (bagian kanan) adalah Adolf Hitler, yang dua tahun kemudian naik di tampuk kekuasaan Jerman. Tanpa disadari supir truk tersebut, responnya yang cepat kemungkinan besar telah ikut mempengaruhi sejarah dan wajah peradaban dunia.

Cerita di atas adalah salah satu contoh bagaimana ‘keberuntungan’ (atau tiadanya keberuntungan) mempengaruhi hidup kita. Harus diakui, sebaik apa pun rencana yang kita susun, faktor keberuntungan memegang peranan yang sangat penting. Dalam bisnis sekalipun, berada di tempat yang benar pada waktu yang benar sering menjadi faktor penentu keberhasilan; sementara mereka yang telah melakukan perhitungan yang njelimet sering gagal karena Dewi Fortuna kebetulan berada di tempat lain. Beberapa riset yang ditujukan untuk mempelajari faktor-faktor keberhasilan sebuah bisnis sering menemukan banyak perusahaan yang ‘kesuksesannya yang tidak bisa dijelaskan’, sebuah kata lain untuk kata ‘luck‘.

Fakta ini seharusnya membuat kita rendah hati dalam menghadapi hidup, karena kita menyadari adanya kekuatan yang jauh lebih besar di luar diri kita yang ikut mempengaruhi jalan hidup kita. Namun pada kenyataannya, manusia sering disesatkan oleh bias yang disebut sebagai fundamental attribution error. Bias ini membuat kita menganggap kesuksesan kita berasal dari kemampuan, ketrampilan, atau keputusan yang kita buat; sementara kegagalan disebabkan karena nasib buruk belaka. Padahal kenyataannya, (hampir) semua kesuksesan dan kegagalan bisa jadi disebabkan oleh pertautan yang sulit diurai antara tindakan kita dan keputusan nasib.

Anda lalu akan bertanya, “Bila nasib ikut menentukan kesuksesan/kegagalan kita, mengapa kita perlu belajar?” Jawaban sederhananya, karena semua kejadian di dunia ini tidak diatur dalam logika biner hitam dan putih, ya dan tidak. Semua kejadian di dunia ini beroperasi secara probabilistik. Fungsi belajar adalah meningkatkan probabilitas kita untuk meraih apa yang kita inginkan dan mengurangi dampak negatif bila nasib memutuskan lain. Dengan kata lain, belajar tidak memastikan Anda akan sukses, tetapi akan meningkatkan probabilitas kesuksesan Anda dibanding mereka yang tidak belajar. Seberapa banyak probabilitas tersebut, tidak ada yang tahu kecuali Yang Maha Kuasa.

Keunggulan probabilitas tersebut juga tidak berarti Anda akan selalu menang melawan mereka yang probabilitasnya lebih kecil. Bila Anda memiliki probabilitas 60-40 dan teman Anda 40-60, dan tangan nasib kebetulan memilih 40% yang dimiliki teman Anda dibanding 60% milik Anda, Anda tetap kalah pada kesempatan tersebut. Probabilitas tersebut hanya akan berpihak pada Anda, bila kejadian yang sama bisa diulang beberapa kali. Semakin sering kejadian yang sama berulang, semakin besar probabilitas tersebut akan membantu Anda. Contoh terjelas bisa dilihat di bursa saham. Para pemain yang memiliki pengetahuan yang lebih baik tidak selalu menang pada setiap transaksi, tetapi dalam jangka panjang, pengetahuan mereka akan membuat mereka menang lebih sering. Anda bisa saja memprotes bahwa tidak semua dari kita diberi peluang sebanyak itu. Tetapi dengan pengetahuan dan sikap yang benar, Anda seharusnya bisa menciptakan peluang-peluang yang lebih banyak. Bukankah Seneca pernah berkata, “Luck is what happens when preparation meets opportunity“?

Walau demikian, ada baiknya untuk selalu diingat: tidak perduli sebanyak apa pun yang telah Anda pelajari, always be humble… Kita hidup di dunia yang tidak pasti dan random.

• • •
 

August 24, 2006

Angsa hitam bernama ‘induksi’

Kita mengenal dua cara untuk menarik kesimpulan atau menyusun argumen: deduksi dan induksi. Dalam deduksi, kesimpulan dianggap benar bila diturunkan dari premis-premis yang benar. Misalnya, bila premis pertama adalah: Semua manusia pasti akan mati, dan premis kedua adalah: Saya adalah manusia, dan kedua premis tersebut adalah benar, maka kesimpulan benar yang bisa ditarik adalah: Saya pasti akan mati.

Sementara itu, induksi tidak bermain dengan kepastian mutlak. Kesimpulan bisa ditarik dari premis-premis yang mungkin benar. Sebagai contoh: bila saya melihat kucing yang berwarna putih hari ini, dan besok melihat lagi kucing putih, dan keesokan harinya lagi melihat kucing berwarna putih, maka saya bisa menarik kesimpulan bahwa semua kucing berwarna putih. Kita bisa melihat bagaimana rapuhnya argumen berdasarkan induksi dibanding argumen deduksi. Singkatnya, bila deduksi bersifat pasti, induksi bersifat probabilistik.

Meski memiliki kelemahan dibanding deduksi, induksi sungguh menggoda karena kemampuannya mereduksi kejadian-kejadian individual menjadi generalisasi tunggal sehingga menghemat kapasitas penyimpanan di otak. Namun induksi mengandung bahaya tersembunyi, karena keterbatasan kemampuan kognitif manusia, kita sering menganggap kesimpulan dari hasil induksi sebagai hasil dari deduksi. Sikap rasialisme, praduga, atau takhayul sering berakar dari kerancuan ini.

Padahal seperti yang kita ketahui, kesimpulan induksi belum tentu benar, sekuat apa pun contoh-contoh kasus yang diberikan. Sebagai contoh, sebelum abad ke-17, orang-orang Eropa hanya pernah melihat angsa berwarna putih. Sebab itu, mereka percaya bila semua angsa harus berwarna putih. Kesimpulan induksi sempat dianggap sebagai kesimpulan deduksi, sampai seorang penjelajah Belanda, Vlaming menemukan spesies angsa hitam, cygnus atratus, di Australia Barat pada tahun 1697.

Penemuan angsa hitam tersebut menjadi contoh yang baik untuk menunjukkan kelemahan induksi. David Hume, seorang skeptis tulen dari Inggris memakai penemuan angsa hitam ini untuk menjelaskan sikap skeptisnya terhadap kebenaran absolut, “No amount of observations of white swans can allow the inference that all swans are white, but the observations of a single black swan is sufficient to refute that conclusion.”

Bagi seorang skeptis tulen seperti Hume, di dunia ini tidak ada kebenaran mutlak, meski yang diperoleh dari metode deduksi sekalipun. Menurut Hume, semua deduksi sebenarnya adalah induksi yang belum menemukan ‘angsa hitam’nya. Bahkan premis yang selama ini diterima sebagai kebenaran, seperti “Semua manusia pasti akan mati” bisa saja terbukti salah. Siapa yang bisa memastikan tidak ada manusia-manusia baka seperti dalam kisah Highlander yang hidup di antara kita? Walau peradaban manusia sudah melahirkan puluhan milyar anak manusia, cukup satu orang manusia baka saja yang dibutuhkan untuk membalikkan kebenaran premis bersangkutan.

Hukum-hukum alam yang diperoleh dari sains juga tidak bisa dianggap memiliki kebenaran kekal. Kita melihat bagaimana Hukum Newton ternyata tidak bisa dipakai pada skala makrokosmos (digantikan oleh teori relativitas Einstein) dan pada skala mikrokosmos (digantikan oleh teori mekanika kuantum). Teori geocentris yang sempat dianut ribuan tahun akhirnya terbukti salah dan digantikan oleh teori heliocentris berkat jasa Nicolaus Copernicus dan Galileo Galilei. Siapa di antara kita yang bisa menjamin baik teori relativitas, mekanika kuantum, dan heliocentris sebenarnya hanya merupakan hipotesa sementara sampai ditemukan lagi teori-teori baru yang lebih mendekati kebenaran absolut?

Dalam mencari kebenaran, kita tentu tidak perlu sampai seskeptis Hume. Skeptisme membutuhkan energi yang besar dan bila kita skeptis terhadap segala sesuatu, kita tidak akan mampu menyisihkan waktu untuk menikmati keindahan hidup. Induksi, dengan segala kekurangannya tetap diperlukan. Tetapi berbekal pengetahuan tentang kelemahan induksi, kita bisa mengurangi resiko yang ditimbulkannya. Misalnya saja, bila Anda percaya bahwa kemarau bulan Juli tidak akan menurunkan hujan, Anda bisa merencanakan piknik kebun pada bulan tersebut. Namun dengan menyadari bahwa kesimpulan tersebut adalah kesimpulan induksi, Anda bisa bersiap-siap bila hujan ternyata turun, misalnya dengan mempersiapkan payung besar atau mencari lokasi yang berdekatan dengan ruang tertutup. Dalam permainan saham, Anda bisa memakai strategi hedging atau metode stop loss untuk mengurangi kerugian bila analisis Anda ternyata salah. Kita juga bisa belajar untuk tidak memandang orang-orang yang berbeda dengan kita (baik dalam segi suku, ras, agama) secara negatif, meski kita sering mendengar cerita-cerita yang mendukung sikap negatif tersebut.

Cara terbaik untuk menjaga keseimbangan di sini adalah mungkin dengan bersikap open-minded dan belajar terus, sambil tetap memegang teguh beberapa kebenaran positif yang membuat hidup kita lebih berarti. Dan tetap ingat juga: Angsa hitam tetap memiliki kecantikannya sendiri, meski berbeda dengan kecantikan angsa putih.

• • •
 

August 23, 2006

‘Survivorship bias’

Filed under: Analytical Thinking, Cognitive Biases — itpin @ 8:13 am

Bayangkan diri Anda menghadiri reuni sekolah. Ketika menerima undangan, Anda sudah memutuskan untuk hadir. Bukankah posisi Anda sekarang sudah cukup membanggakan, sebagai seorang manajer TI di sebuah perusahaan multinasional? Selain itu, Anda terkenal sebagai salah satu blogger ternama dari Indonesia. Pendidikan Anda juga lumayan, paling gak Anda menyandang gelar S1 dan S2 dari universitas terkemuka di Jakarta. Dan Anda punya istri yang kecantikannya bisa dipamerkan ke teman-teman Anda, atau malah lebih baik lagi, ke para mantan pacar yang sempat memutuskan Anda.

Hari reuni tiba. Agak mengherankan juga kenapa yang hadir hanya segelintir. Tetapi gak masalah. Yang penting masih bisa bertukar cerita dengan teman-teman yang hadir. Yup, salah satu mantan pacar Anda juga hadir dan garis-garis ketuaan mulai tampak di matanya. Perutnya juga sudah mulai mengendur. Untung saja kita gak jadian dulunya.

Anda pura-pura tidak melihatnya. O ya, bukankah itu si Anton yang pernah jadi teman dekat Anda? Anda pun mendekatinya untuk bertukar cerita. Melihat Anda, Anton tersenyum. Dalam sekejap, kalian berdua sudah terlibat pembicaraan. Ternyata Anton sudah sukses besar. Dia memiliki beberapa perusahaan, termasuk satu di Cina. Ya, gak masalah. Bukankah setiap orang memiliki takdir yang berbeda? Anda toh sudah puas dengan apa yang Anda miliki. Anda juga masih yakin kondisi Anda lebih baik dibanding mayoritas teman-teman lainnya.

Beberapa teman kemudian bergabung. Satu per satu menceritakan kondisi mereka saat ini. Bambang, setelah menikahi anak pejabat, sekarang memiliki kedudukan yang penting di sebuah bank negara dan sering diajak makan malam Gubernur BI. Ridwan, yang dulu anak badung, ternyata sering bolak-balik Indonesia-US untuk membantu bisnis orang tuanya. Yudi sukses di bisnis Internet dan sekarang aktif bermain saham di Wall Street lewat Internet. Grace, setelah menyelesaikan studi S3 di UCLA, sekarang bekerja sebagai eksekutif GE untuk kawasan Asia Pasifik. Semakin Anda mendengar cerita mereka, semakin Anda merasa diri Anda menciut dan menciut… Bahkan mantan pacar Anda, Rini, ternyata menikah dengan putra seorang konglomerat. Kelihatannya dari semua yang hadir, nasib Anda yang paling memprihatinkan.

Bila Anda pernah berada pada situasi seperti itu, jangan terburu-buru minder. Anda adalah korban dari ‘survivorship bias‘. Dengan kata lain yang lebih awam, semua yang hadir memang sengaja hadir untuk memamerkan diri mereka. Sementara bagi mereka yang tidak memiliki apa pun untuk dipamerkan, memilih untuk tidak hadir (kecuali Anda yang naif, tentunya). Jika Anda ingin mengembalikan harga diri Anda, yakinlah bahwa Anda kemungkinan besar lebih sukses dari semua yang tidak hadir saat itu (kecuali yang sudah hidup enak di luar negeri).

Efek bias ini juga sering kita alami sehari-hari. Bukankah kita sering merasa antrian kita selalu bergerak lebih lambat dari antrian lainnya? (Jawabannya: karena Anda tidak pernah memperhatikan antrian yang bergerak lebih lambat dibanding antrian Anda). Atau, secepat apa pun Anda menjalankan kendaraan, kelihatannya Anda masih terlalu lambat karena selalu ada yang menyalib kendaraan Anda? (Jawabannya: karena Anda tidak akan pernah melihat kendaraan yang bergerak lebih lambat dari kendaraan Anda.)

Perusahaan-perusahaan MLM atau money game juga sering memanfaatkan bias ini. Ketika Anda hadir di forum atau presentasi mereka, Anda akan menjumpai mereka yang telah sukses setelah bergabung dengan perusahaan tersebut. Mereka tidak berpura-pura sukses. Bila Anda meminta mereka menunjukkan account statements bank mereka, Anda akan melihat sendiri buktinya. Rasa percaya diri yang mereka tunjukkan bukanlah hasil latihan akting. Namun, tentu saja Anda harus ingat, mereka yang gagal setelah bergabung, tidak mungkin hadir untuk memamerkan kegagalan mereka. Yang Anda saksikan adalah para ‘survivors‘ yang hanya merupakan sebagian kecil dari sample.

Jadi, bagaimana caranya bersikap terhadap bias semacam ini? Bila Anda menemukan kondisi seperti di atas, cobalah bersikap obyektif dalam menjawab pertanyaan ini: Seberapa besar populasi yang ada dan seberapa besar sample yang mewakili populasi yang hadir? Dalam kasus reuni sekolah, bila jumlah murid sekolah yang diundang adalah 300 orang (total populasi) dan yang hadir hanya 30 orang (sample), Anda harus berhati-hati bahwa yang hadir tidaklah representatif. Tetapi bila jumlah murid yang diundang hanya 40 orang dan yang hadir 30 orang, dan Anda berada dalam situasi di atas, Anda layak depresi setelah merenungi nasib Anda. Sementara dalam kasus seperti MLM, Anda bisa bertanya berapa total anggota yang ada dan berapa dari anggota tersebut yang mendapatkan pendapatan di atas 5 juta, misalnya. Dengan meletakkan semuanya pada perspektif yang lebih obyektif, semoga Anda bisa terhindar dari perangkap ‘survivorship bias‘ ini.

• • •
 

August 4, 2006

Rasionalitas dalam kegilaan pasar

Filed under: Cognitive Biases, Economics, Group Thinking, Finance — itpin @ 7:44 am

Bulan Mei lalu, nilai IHSG sempat mencapai level tertinggi dengan menembus angka 1550, yang merupakan nilai tertinggi dalam beberapa tahun belakangan ini. Para analis berpendapat kenaikan tersebut tidak didasari atas fundamental ekonomi yang solid. Investasi yang masuk kebanyakan berupa hot money yang bisa hengkang dalam sekejap. Hal ini sempat terbukti ketika harga rupiah dan IHSG kemudian meluncur turun.

Apa yang menarik di sini adalah walau kebanyakan orang percaya kenaikan saham (dan rupiah) tidak akan berlangsung seterusnya, dan bisa terjun bebas kapan saja, para investor masih tetap memborong saham di saat harga saham sudah dinilai tinggi. Alan Greenspan, mantan Gubernur Bank Sentral US menciptakan istilah irrational exuberance untuk menggambarkan aktivitas pembelian spekulatif yang mengakibatkan naiknya nilai-nilai aset di atas nilai sebenarnya. Beberapa ahli lain memberi istilah madness of crowds yang melukiskan tindakan segerombolan orang untuk terus melakukan pembelian yang mengakibatkan naiknya harga-harga jauh di atas nilai semestinya.

Namun, apakah istilah irrational dan madness merupakan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan fenomena ini? Benarkah para investor yang mempertaruhkan uang mereka dengan membeli saham-saham di BEJ dan rupiah dengan berharap nilai-nilai investasi mereka akan naik terus, merupakan orang-orang yang tidak rasional atau malah gila? Apakah hal ini bisa dicegah bila kita lebih rasional? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus mengerti motivasi dan cara pikir dua aktor utama di bursa saham, yaitu broker dan investor.

Mari kita mulai dengan cerita Tony Dye, mantan Chief Investment Officer dari Philips & Dye. Pada tahun 1996, Dye setelah berpendapat nilai index FTSE (London) yang mencapai 4000 sudah terlalu tinggi, memindahkan sebesar 7 milyar pound dana investasi saham kliennya ke bentuk investasi tunai dengan return yang lebih stabil. Akibat tindakannya, dia langsung mendapatkan julukan ‘Dr Doom’. Ternyata, FTSE naik terus sampai tahun 2000. Perusahaan tempat Dye bekerja jatuh sebagai salah satu perusahaan investasi dengan kinerja terburuk. Tindakan Dye kelihatan sebagai tindakan yang bodoh. Namun Dye tetap pada pendiriannya.

Philips & Dew akhirnya memberi Dye ‘pensiun dini’ di bulan Maret 2000. Namun, tidak lama berselang, Dye ternyata benar! Bubble saham-saham perusahaan Internet pecah dan harga saham di mana-mana terjun bebas. Philips & Dew, yang belum sempat merubah strategi yang diterapkan Dye, langsung meloncat menjadi perusahaan investasi dengan kinerja terbaik selama periode tersebut, sementara perusahaan investasi lain tunggang langgang menyelamatkan diri.

Dye memang benar. Tapi pertanyaannya adalah: Apakah Dye bertindak rasional dengan menjual saham kliennya pada tahun 1996? Keputusan tersebut membuat dirinya menjadi bahan olok-olok dan kehilangan pekerjaannya. Sementara broker lain yang walau akhirnya terbukti salah, namun salah bersama-sama sehingga tidak ada yang bisa disalahkan. Setidaknya, pekerjaan mereka tetap aman.

Cerita ini menunjukkan bahwa dari sisi broker saham, tindakan mengikuti trend yang sedang terjadi jelas lebih aman daripada melakukan tindakan yang berlawanan. Lebih baik jatuh bersama-sama daripada sendirian. Perlu juga dipahami bahwa para broker umumnya dinilai berdasarkan jumlah dan nilai transaksi yang berhasil mereka buat, dan bukan untuk memilih saham yang benar berdasarkan asas-asas fundamental bisnis. Sebagaimana halnya manusia rasional pada umumnya, insentif mengendalikan tindakan mereka.

Lalu, bagaimana dari sisi investor sendiri? Sebagai manusia biasa, investor memiliki keinginan untuk mendapatkan lebih dari hasil investasinya. Meski percaya nilai saham pasti akan turun suatu saat nanti, namun dari perhitungan jangka pendek, cara terbaik untuk mendapatkan return of investment tercepat adalah dengan menunggangi ombak nilai saham yang sedang membumbung tinggi.

Sir Isaac Newton, yang dipercaya sebagai seorang paling jenius di jamannya pernah terjebak dalam kondisi demikian. Pada saat itu, terjadi bubble yang disebut dengan South Sea Bubble. South Sea Company (SSC) didirikan di Inggris pada awal 1710an pada saat Inggris berada di ambang kebangkrutan karena biaya perang. Kerajaan Inggris meminta perusahaan tersebut memberikan pinjaman dengan bunga 6%. Selain itu, SSC diberi hak monopoli untuk perdagangan di bagian lautan selatan bumi. Untuk mendapatkan dana, SSC mengeluarkan saham yang segera saja menjadi rebutan karena para investor melihat prospek monopoli di tanah Amerika Tengah dan Selatan yang konon kabarnya penuh dengan emas permata. Melihat besarnya minat, SSC mengeluarkan lebih banyak saham lagi yang juga langsung ludes. Nilai saham SSC membumbung tinggi.

Newton yang memegang saham SSC yakin harga saham tersebut sudah terlalu tinggi dan segera menjualnya. Namun, melihat harga saham SSC yang terus naik, Newton tidak tahan membeli kembali saham tersebut. Sang jenius akhirnya menderita kerugian yang cukup besar ketika ketika bubble tersebut pecah karena terjadinya perang Inggris-Spanyol yang menutup jalur perdagangan ke benua Amerika Selatan dan kesalahan bisnis lainnya yang dilakukan oleh SSC.

Bila Newton yang bisa dianggap sangat rasional tersebut terjebak dalam kegilaan seperti ini, maka kita bisa berargumen, kita juga tidak mempan terhadap godaan untuk terus membeli pada saat harga saham terus naik.

Fenomena irrational exuberance tersebut sebenarnya bisa dilihat sebagai upaya rasional para aktor utama di bursa saham - broker dan investor - untuk memperoleh hasil terbaik buat diri mereka sendiri, walau faktor lain seperti kecendrungan para pemain untuk mengambil resiko memegang peranan juga. Mungkin itu juga salah satu alasan yang membuat bursa saham begitu menarik. Karena itu, meski kita semua mengenal cerita tentang market crash (stock, bond, real estate) kita bisa memastikan: hal tersebut akan terjadi lagi dan lagi dan lagi…

• • •
 

July 17, 2006

Irasionalitas dalam konsumsi

Filed under: Cognitive Biases, Consumer Behaviour — itpin @ 8:28 am

Bila Anda sedang menjalani diet, maka pilihan makanan dengan kandungan kalori yang lebih rendah tentu merupakan pilihan yang masuk akal. Demikian juga bagi yang tetap ingin merokok, namun ingin menghindari resiko kesehatan, akan lebih memilih rokok dengan kandungan tar dan nikotin rendah. Dengan cara demikian, setidaknya Anda masih bisa menikmati apa yang Anda sukai dan sekaligus menghindari resiko. Strategi tersebut kelihatannya jitu dan sangat masuk di akal.

Tapi, tunggu dulu…

Brian Wansik dari Cornell University dan Pierre Chandon dari INSEAD tidak sependapat dengan kesimpulan tersebut. Dan mereka tentu saja tidak asal omong. Lewat penelitian yang mereka lakukan, mereka menemukan konsumen akan mengkonsumsi makanan yang dilabeli sebagai “low fat” dalam kuantitas yang lebih banyak. Hasil akhirnya? Jumlah kalori yang dikonsumsi bisa-bisa lebih besar dibanding bila mereka menyantap makanan biasa. Hal ini dibantu oleh label makanan yang sering membingungkan.

Meski label makanan sering memberi informasi kalori, informasi tersebut (entah sengaja atau tidak), sering dibuat menjadi lebih kompleks. Kalori dihitung dengan satuan serving size, sementara 1 bungkus makanan sering terdiri dari beberapa serving size. Selain itu, terkadang informasi kalori diberikan dalam satuan kJ (kilo Joule). Berapa orang yang tahu cara mengkonversi kJ ke kalori, dan dari kalori ke berat badan? Untuk menghitung kalori dengan benar, konsumen harus melakukan perhitungan aritmatika terlebih dahulu. Di Indonesia, hal ini malah lebih parah karena banyak produsen yang tidak memberikan informasi tersebut sama sekali.

Fenomena yang sama juga bisa diamati pada konsumsi rokok yang dilabeli sebagai rokok “low tar low nicotine“. Label tersebut sering membuat konsumen berani mengambil resiko tambahan dengan membakar lebih banyak rokok di sela jari-jari tangan mereka.

Sekarang kita lihat penelitian kedua.

Lisa E. Bolton dari Wharton dan dua rekannya dari University of Pennsylvania School of Medicine, Kevin G. Volpp dan Katrina Armstrong, mengadakan penelitian yang lain. Penelitian mereka berkaitan dengan bagaimana pola makan konsumen yang setelah didiagnosa menderita kondisi klinis seperti kolesterol atau kegemukan diberi obat dokter atau suplemen. Apakah pemberian obat atau suplemen tersebut mempengaruhi pola makan dan gaya hidup mereka?

Mereka menemukan, konsumen yang diberi suplemen ternyata lebih memilih pola hidup sehat dibanding yang mendapatkan obat dokter. Jawaban atas perbedaan tersebut? Konsumen yang mendapatkan obat dokter merasa lebih percaya bahwa obat yang mereka terima lebih ampuh menghilangkan apa pun “penyakit” yang mereka derita. Bila problem yang sama terulang kembali, mereka dengan mudah kembali ke dokter untuk meminta resep yang sama tanpa mengganggu kenikmatan lidah mereka. Sementara itu, konsumen yang menerima suplemen lebih berhati-hati karena mereka menyadari suplemen hanyalah suplemen. Akibatnya, mereka lebih termotivasi untuk merubah gaya hidup mereka, karena suplemen dilihat hanya sebagai salah satu alat bantu.

Kesimpulan dari kedua penelitian di atas? Kita, konsumen, bukanlah makhluk yang rasional. Kita sering percaya pada kesimpulan kita tanpa menyelidiki lebih jauh. Pada kondisi-kondisi yang berhubungan dengan kesehatan, kekurangan tersebut bisa jadi berakibat fatal. Dalam hal ini, produsen kelihatannya belum berpihak kepada kepentingan Anda. Hanya kehati-hatian Anda sendiri yang mampu menyelamatkan Anda dari irasionalitas tersebut. Sementara itu, bagi pihak-pihak otoritas dan lembaga perlindungan konsumen, hasil riset ini semoga bisa dijadikan acuan untuk meminta produsen agar bersedia memberikan informasi yang lebih bertanggung jawab kepada konsumen.

• • •
 
Next Page »