eXTReMe Tracker
if knowledge is power, then passion is the engine, body is the vehicle, and conscience is the driver

Blog ini sudah pindah ke http://www.nexusnexia.com

March 8, 2007

MacGyverism

Filed under: Creative Thinking, Cognitive Biases — itpin @ 8:01 am

Bagi para pembaca seusia saya mungkin masih ingat serial TV MacGyver yang sangat populer di akhir tahun 1980an. Sang tokoh utama, MacGyver, terkenal dengan kecerdasan dan ide-ide kreatifnya untuk menyelesaikan masalah — mulai dari masalah sehari-hari sampai masalah yang berkaitan dengan keselamatan jiwa. Kreativitas tersebut ditunjukkan dengan menemukan solusi dari benda sehari-hari yang terdapat di sekitar kita, termasuk untuk membuat bom.

MacGyver tentu saja kisah fiktif, tetapi prinsip kreativitasnya tentu bisa kita terapkan di kehidupan pribadi dan bisnis kita. Sebagai contoh, ketika NASA meluncurkan para astronotnya ke angkasa luar, mereka menemukan bahwa para astronot tersebut tidak bisa memakai pulpen karena tintanya tidak bisa mengalir ke bawah akibat kondisi gravitasi nol. Untuk menyelesaikan masalah tersebut, NASA menghabiskan waktu 10 tahunan dan USD 12 juta. Mereka mengembangkan sebuah pulpen yang bisa berfungsi dalam gravitasi nol, atas bawah, di bawah laut, di segala jenis permukaan termasuk kristal dan pada segala kondisi temperatur dari titik beku sampai titik didih air. Apa yang akan dilakukan MacGyver? Dia pasti akan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Uni Soviet. Para kosmonot Uni Soviet menggunakan pensil.

Kemudian ada lagi sebuah cerita dari salah satu perusahaan kosmetik terbesar di Jepang. Perusahaan ini menerima keluhan dari salah satu pelanggan yang membeli sebuah sabun, tetapi menemukan kotak sabun tersebut kosong melompong. Karena kualitas merupakan masalah penting di Jepang, perusahaan segera mencara sebab musababnya. Akhirnya, sumber masalah ditemukan di jalur perakitan. Karena sesuatu alasan, sebuah kotak kosong masuk ke jalur tersebut tanpa terdeteksi. Pihak manajemen langsung meminta para insinyur memecahkan masalah tersebut. Mereka akhirnya menciptakan sebuah alat X-ray untuk melihat semua kotak sabun yang lewat. Alat ini harus dijaga oleh 2 orang yang tentu saja tidak efisien.

Ketika sebuah perusahaan kecil lainnya menghadapi masalah serupa, apa yang mereka lakukan? Lagi-lagi mereka memakai solusi ala MacGyver. Alih-alih mendeteksi dengan alat secanggih X-ray, mereka menggunakan kipas angin besar yang diarahkan ke jalur perakitan. Angin dari kipas tersebut akan menghembuskan kotak kosong keluar dari jalur perakitan. Masalah selesai.

Apa yang bisa kita pelajari dari kedua kisah di atas? Kreativitas dan penyelesaian masalah ternyata tidak harus melibatkan kecanggihan dan dana yang besar. Originalitas ide bisa ditemukan dengan berpikir sesederhana mungkin. Kita memang sering masuk jebakan terlalu berfokus pada masalah dan bukan solusinya. Seperti pada contoh di atas, ketika NASA melakukan framing atas masalah sebagai “menemukan pulpen yang bisa berfungsi pada gravitasi nol,” frame tersebut menyingkirkan alternatif solusi yang tidak melibatkan pulpen. Padahal bila masalah tersebut di-framing ulang sebagai “menemukan alat untuk menulis pada kondisi gravitasi nol,” dengan mudah kita bisa melihat pensil sebagai alternatif yang layak.

Selain masalah framing masalah yang terlalu sempit atau salah, kita juga sering terjebak dalam melihat benda melalui kaca mata forms over functions. Ketika kita melihat sebuah kotak kayu, secara otomatis kita mengasosiasikan benda tersebut sesuai dengan fungsi utamanya, yaitu sebagai tempat penyimpanan barang. Padahal kotak kayu tersebut bisa dipakai untuk berbagai fungsi, antara lain sebagai pengganjal pintu, kursi, tangga, pendobrak pintu, meja piknik, tempat persembunyian, atau malah kanvas untuk melukis.

Berpikir kreatif, karena itu, mengharuskan kita menyadari frame yang kita pakai dalam menilai sebuah masalah dan melihat sesuatu dengan mata anak kecil. MacGyver pasti akan setuju dengan pernyataan tersebut.

• • •
 

February 28, 2007

Menjadi kolektor ide

Filed under: Creative Thinking, Innovation — itpin @ 8:07 am

Saya senang membeli dan mengkoleksi buku. Meski sering tahu tidak punya waktu untuk membacanya, saya akan membeli terlebih dahulu buku-buku yang menarik perhatian saya. Tidak jarang buku-buku tersebut akan tersimpan rapi dalam lemari buku selama bertahun-tahun sebelum saya sempat membuka halaman pertamanya. Ada juga buku yang “salah beli”, dalam arti ketika membaca halaman-halaman pertama, saya mendapatkan isinya kurang bermutu atau tidak relevan dengan kebutuhan saya. Walau demikian, buku-buku seperti itu tetap saya simpan. Yang menarik, ketika saya mencoba membuka buku-buku tersebut pada kesempatan lain, saya sering menemukan adanya ide-ide baru dari buku yang tadinya dianggap “salah beli” tersebut.

Saya juga belajar bahwa buku-buku bisa dibaca berulang kali, dan setiap pembacaan ulang akan memberikan makna yang berbeda. Isi buku tersebut tentu tidak berubah. Perbedaan lebih terletak pada diri saya sendiri, entah karena cara pandang saya yang sudah berubah, atau pengalaman yang bertambah sehingga lebih mampu menghubungkan konsep-konsep yang ditawarkan buku tersebut dengan dunia nyata, atau karena suasana hati saya. Pemahaman isi sebuah buku, karena itu, menurut saya bersifat subjektif. Meski buku-buku menyajikan fakta-fakta objektif dengan struktur yang logis, penerjemahan isinya tetap tergantung pada sang pembaca.

Apa yang berlaku untuk buku-buku berlaku juga untuk ide-ide kreatif. Seperti layaknya sebuah buku, ide-ide kreatif hendaknya disimpan dalam sebuah “lemari”, entah dalam bentuk catatan tertulis atau diketik rapi di dokumen yang disimpan dalam arsip komputer. Untuk perusahaan, ide-ide tersebut bisa disimpan juga di dalam database atau software seperti Lotus Notes.

Ada beberapa alasan yang membuat penyimpanan ide-ide tersebut penting. Pertama, ide-ide kreatif sering datang begitu saja. Ide-ide yang datang sekilas tersebut sering pergi secepat kilat juga. Tanpa mencatatnya, kita sering kehilangan ide tersebut. Saya pernah mengalami hal demikian berkali-kali. Untuk mengatasinya, sekarang saya berusaha mencatat ide-ide yang muncul ke dalam memori handphone saya. Terus terang, saya menemukan aktivitas seperti itu sangat berguna, atau malah terlalu berguna, karena ide-ide yang saya catat telah melebihi kapasitas saya untuk merealisasikan semuanya.

Di sinilah kita masuk ke alasan kedua. Ide-ide kreatif sering tidak bisa langsung direalisasikan. Selain karena keterbatasan waktu, ide-ide kadang datang sebelum waktunya. Ada ide-ide yang membutuhkan tambahan kompetensi sebelum bisa diwujudkan, dan ada yang membutuhkan dana lebih. Dengan mencatat ide-ide tersebut dan memeriksanya secara berkala, kita sering menemukan adanya ide-ide lama yang ternyata cocok dipergunakan untuk menyelesaikan masalah hari ini (dengan beberapa adaptasi, tentunya).

Kemudian ada lagi alasan ketiga. Walau ide-ide lama yang kita catat tidak bisa langsung menyelesaikan masalah hari ini, ada kemungkinan dari daftar ide-ide tersebut kita bisa membangun analogi atau dijadikan stimulan acak untuk menghasilkan solusi kreatif bagi permasalahan hari ini. Dengan kata lain, ide-ide lama bisa dijadikan benih-benih pemicu untuk menghasilkan ide-ide kreatif baru.

Kemudian ada lagi alasan mengapa mencatat sebuah ide kreatif sangat penting. Seperti yang kita ketahui, kreativitas berbeda dengan inovasi. Kreativitas berkaitan dengan ide-ide baru sementara inovasi melibatkan kerja keras untuk merealisasikan ide tersebut. Dalam momen euforia “Eureka”, kita sering melupakan aspek kerja keras tersebut dan menganggap ide kreatif yang baru muncul pasti bisa berhasil diwujudkan. Namun dengan mencatat ide tersebut dan membiarkannya mengendap selama beberapa waktu sebelum ditinjau lagi, kita akan lebih bisa menilainya secara lebih objektif. Pengendapan ide seperti itu sangat penting untuk memberi kita kesempatan melengkapi ide kreatif tersebut dengan cara berpikir analitik dan sistemik agar ide tersebut memiliki peluang lebih besar untuk berhasil.

Tentu tidak semua ide-ide kreatif yang dicatat tersebut akan berubah menjadi inovasi. Tetapi apakah Anda tahu salah satu hukum utama inovasi? Hukum tersebut berbunyi: Kuantitas dulu, baru kualitas. Berdasarkan hukum ini, kita diajak untuk mengumpulkan sebanyak mungkin ide-ide kreatif sebelum dilakukan seleksi ketat untuk menemukan potensi inovasi. Menyimpan ide-ide di sebuah media sangat penting untuk meningkatkan kuantitas karena kapasitas ingatan kita sangat terbatas.

Saya juga menjumpai sebuah fenomena yang menarik. Semakin banyak ide-ide yang kita kumpulkan, semakin mudah kita menghasilkan ide-ide kreatif berikutnya. Karena itu, saya melihat pengumpulan ide-ide merupakan salah satu sarana latihan berpikir kreatif yang mudah dan murah. Dalam skala organisasi, ide-ide yang disimpan di database juga memungkinkan anggota organisasi lainnya meninjau ide tersebut dan membangun ide-ide lain untuk menyempurnakan ide tersebut. Karena setiap anggota organisasi memiliki cara pandang dan cara pikir yang berbeda, ide-ide yang dikembangkan secara bersama akan lebih kreatif lagi dan sekaligus memiliki peluang lebih besar untuk bertahan hidup.

Dengan semua alasan-alasan di atas, mengapa Anda tidak mulai menjadi kolektor ide mulai hari ini?

• • •
 

February 20, 2007

Kreativitas di titik nol

Filed under: Creative Thinking — itpin @ 8:11 am

Anda sedang menghadiri sebuah kelas. Sang guru meminta Anda duduk bersila, menutup mata, mengosongkan pikiran, dan bermeditasi. Setelah selesai, beliau meminta Anda mengocok dan menarik beberapa kartu-kartu Tarot secara acak. Lalu, dia meminta Anda mencoba menebak apa yang coba dikatakan kartu-kartu tersebut kepada Anda. Tidak cukup sampai di sini saja. Kadang-kadang Anda juga diminta berkonsultasi dengan simbol-simbol kuno seperti I-Ching dari Cina atau Mandala dari India.

Anda pasti sedang duduk di sebuah kelas agama New Age, atau pelatihan mistik bukan? Mungkin jawaban tersebut adalah “Ya” bagi sebagian orang. Tetapi, kelas tersebut pernah diselenggarakan oleh salah satu sekolah bisnis terpopuler di dunia, Stanford Graduate School of Business. Dan sang guru bukanlah seorang maharesi, melainkan seorang profesor Marketing yang bernama Michael Ray. Bagaimana dengan para muridnya? Pernah dengar nama Jeff Skoll (salah satu dari duo pendiri eBay bersama Pierre Omidyar) atau Jim Collins (penulis buku bestsellers Good to Great dan Built to Last)? Skoll dan Collins hanyalah dua murid dari ribuan murid lainnya yang pernah dibimbing langsung oleh Ray.

Sebenarnya kelas apakah itu? Kelas tersebut ternyata adalah kelas “Creativity in Business” yang pernah dijalankan oleh Ray sebelum dia pensiun beberapa tahun lalu. Kelas ini, meski kelihatan tidak rasional, ternyata merupakan kelas yang sangat diminati para mahasiswa MBA di Stanford. Tidak mudah untuk ikut di dalam kelas ini karena banyaknya peserta yang berminat sementara jumlah peserta dibatasi.

Apa yang menjadikan kelas ini menarik? Di tengah-tengah kelas-kelas MBA yang menekankan pada sisi kiri otak, kelas ini menawarkan sesuatu yang berbeda. Kreativitas memang bukan titik berat sekolah-sekolah MBA di mana pun, sehingga kelas-kelas dengan tema kreativitas di sekolah-sekolah MBA sungguh memberikan angin segar. Tetapi Ray bertindak lebih jauh lagi. Kelas ini tidak mengajarkan kreativitas dengan teori-teori seperti lateral thinking atau analisis morfologis. Kelas ini mengajak kita untuk berkreativitas dengan menghubungkan diri kita dengan Sumber Tertinggi, dengan apa yang disebut Ray sebagai The Essence.

Menurut Ray, kita semua sebenarnya adalah makhluk-makhluk kreatif. Kita dilengkapi dengan sumber kreativitas tiada habisnya. Kita bisa mencari solusi atas semua masalah kita dengan mengakses ke sumber tersebut. Namun yang sering menjadi penghalang adalah ego kita yang terus menerus berbicara dan berargumentasi. Karena itu, Ray rajin mengajak para siswanya bermeditasi untuk menghentikan ego mereka untuk sementara. Bagaimana dengan kartu-kartu Tarot atau I-Ching? Menurut Ray, sebenarnya kita sudah memiliki jawaban atas masalah kita, namun karena Kecerdasan tersebut memakai bahasa-bahasa simbolis, kita membutuhkan bantuan penerjemah untuk mengerti apa yang ingin disampaikan kepada kita. Simbol-simbol seperti I-Ching adalah sarana The Essence untuk berkomunikasi dengan kita. Kita mungkin bisa menyamakan konsep The Essence ini dengan konsep zero mind yang diperkenalkan oleh Ary Ginanjar dalam ESQ.

Ray juga meminta para muridnya menjalani hidup berdasarkan beberapa aturan-aturan yang disebut heuristik. Selama hidup dengan heuristik tersebut, hentikan dulu pikiran-pikiran logis dan analitik. Lakukan saja sesuai petunjuk heuristik tersebut. Salah satu contoh heuristik tersebut adalah “Jika awalnya tidak berhasil, pasrahlah!” Para siswa yang mencoba heuristik ini selama seminggu diminta untuk bersikap pasrah selama seminggu ketika mencoba melakukan sesuatu. Menariknya, Ray berhasil mendapatkan banyak cerita-cerita sukses berkat sikap pasrah seperti itu. Beberapa heuristik lainnya yang sering dipakai dan sering memberikan hasil adalah: “Hancurkan penilaian, ciptakan rasa ingin tahu,” “Ajukan pertanyaan-pertanyaan bodoh,” “Jangan pikirkan, lakukan saja,” dan “Amatilah sekitar.” Anda juga bisa menciptakan heuristik-heuristik Anda sendiri dan cobalah hidup dengan heuristik tersebut selama 1-2 minggu. Bila memang memberikan hasil, pakailah heuristik tersebut untuk seterusnya.

Tak lupa, Ray mengajak kita untuk berekspresi secara total. Para murid diberi crayon untuk menggambar. Di akhir kelas, para murid diminta berekspresi di depan kelas. Jika Anda suka melukis, lakukanlah secara total. Jika suka menari, menarilah. Jika Anda hanya ingin berdiam diri, lakukanlah juga tanpa rasa sungkan. Di rumah, jika Anda malu dilihat orang lain, tutuplah pintu kamar Anda dan menarilah sesuai kata hati Anda. Jalanilah hidup secara total, pasrah, dan penuh syukur sesuai dengan bimbingan The Essence. Niscaya saluran energi-energi kreatif Anda akan terbuka. Bila dijalani secara konsisten, Anda akan menemukan titik sinergi antara kehidupan pribadi, keluarga, karir, dan peran di masyarakat.

Kelas Ray tersebut tak pelak lagi merupakan sebuah kelas yang kreatif dan inovatif dalam mengajarkan tentang kreativitas. Sayang sekali karena usia tua, Ray harus pensiun. Namun bagi para pembaca yang tidak berkesempatan lagi mengikuti kelas Ray tersebut jangan terlalu kecewa. Ray telah menuangkan sebagian isi kelasnya dalam buku-bukunya Creativity in Business dan The Highest Goal. Buku yang disebut terakhir tadi sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Saya menyerahkan pada Anda untuk mempercayai keampuhan metode ini. Bisa jadi cara ini tidak cocok buat sebagian orang. Sebagian murid Ray pada awalnya juga mengaku skeptis, tetapi kemudian mengakui peran penting kelas ini dalam karir dan hidup mereka (pengakuan seperti ini pernah diberikan oleh Jim Collins). Beberapa sekolah MBA lainnya sudah mulai menawarkan kelas sejenis.

Melalui karya inovatif Ray ini, kita juga bisa melihat betapa beragamnya sumber kreativitas. Mulai dari akses kepada Sumber Tertinggi, mencari analogi dari alam atau pengalaman orang lain, sampai ke teknik-teknik yang bisa kita lakukan secara analitik. Karena itu, jangan pernah katakan lagi Anda tidak kreatif.

• • •
 
Next Page »