eXTReMe Tracker
if knowledge is power, then passion is the engine, body is the vehicle, and conscience is the driver

Blog ini sudah pindah ke http://www.orangenexus.com

July 29, 2010

Kreativitas di titik nol

Filed under: Creative Thinking — itpin @ 8:33 am

Anda sedang menghadiri sebuah kelas. Sang guru meminta Anda duduk bersila, menutup mata, mengosongkan pikiran, dan bermeditasi. Setelah selesai, beliau meminta Anda mengocok dan menarik beberapa kartu-kartu Tarot secara acak. Lalu, dia meminta Anda mencoba menebak apa yang coba dikatakan kartu-kartu tersebut kepada Anda. Tidak cukup sampai di sini saja. Kadang-kadang Anda juga diminta berkonsultasi dengan simbol-simbol kuno seperti I-Ching dari Cina atau Mandala dari India.

Bagaimanakah kelas bernuansa spiritual tersebut berkaitan dengan kreativitas? Dan siapa pengajar di kelas tersebut? Ikuti kelanjutannya di Orange Nexus dengan klik di sini.

• • •
 

July 27, 2010

Empat hambatan kreativitas

Filed under: Creative Thinking — itpin @ 8:32 am

Kita sudah tahu, kita semua pada dasarnya kreatif. Benih-benih dan kekuatan kreatif sebenarnya terus menerus mengalir dari dalam diri kita. Yang menjadi masalah bukanlah ketiadaan ide-ide kreatif, tetapi adanya halangan-halangan yang memblokir ekspresi kreativitas kita. Ingin tahu apa saja hambatan-hambatan kreativitas tersebut? Silakan baca kelanjutannya di laman Orange Nexus: Empat Hambatan Kreativitas.

• • •
 

March 8, 2007

MacGyverism

Filed under: Creative Thinking, Cognitive Biases — itpin @ 8:01 am

Bagi para pembaca seusia saya mungkin masih ingat serial TV MacGyver yang sangat populer di akhir tahun 1980an. Sang tokoh utama, MacGyver, terkenal dengan kecerdasan dan ide-ide kreatifnya untuk menyelesaikan masalah — mulai dari masalah sehari-hari sampai masalah yang berkaitan dengan keselamatan jiwa. Kreativitas tersebut ditunjukkan dengan menemukan solusi dari benda sehari-hari yang terdapat di sekitar kita, termasuk untuk membuat bom.

MacGyver tentu saja kisah fiktif, tetapi prinsip kreativitasnya tentu bisa kita terapkan di kehidupan pribadi dan bisnis kita. Sebagai contoh, ketika NASA meluncurkan para astronotnya ke angkasa luar, mereka menemukan bahwa para astronot tersebut tidak bisa memakai pulpen karena tintanya tidak bisa mengalir ke bawah akibat kondisi gravitasi nol. Untuk menyelesaikan masalah tersebut, NASA menghabiskan waktu 10 tahunan dan USD 12 juta. Mereka mengembangkan sebuah pulpen yang bisa berfungsi dalam gravitasi nol, atas bawah, di bawah laut, di segala jenis permukaan termasuk kristal dan pada segala kondisi temperatur dari titik beku sampai titik didih air. Apa yang akan dilakukan MacGyver? Dia pasti akan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Uni Soviet. Para kosmonot Uni Soviet menggunakan pensil.

Kemudian ada lagi sebuah cerita dari salah satu perusahaan kosmetik terbesar di Jepang. Perusahaan ini menerima keluhan dari salah satu pelanggan yang membeli sebuah sabun, tetapi menemukan kotak sabun tersebut kosong melompong. Karena kualitas merupakan masalah penting di Jepang, perusahaan segera mencara sebab musababnya. Akhirnya, sumber masalah ditemukan di jalur perakitan. Karena sesuatu alasan, sebuah kotak kosong masuk ke jalur tersebut tanpa terdeteksi. Pihak manajemen langsung meminta para insinyur memecahkan masalah tersebut. Mereka akhirnya menciptakan sebuah alat X-ray untuk melihat semua kotak sabun yang lewat. Alat ini harus dijaga oleh 2 orang yang tentu saja tidak efisien.

Ketika sebuah perusahaan kecil lainnya menghadapi masalah serupa, apa yang mereka lakukan? Lagi-lagi mereka memakai solusi ala MacGyver. Alih-alih mendeteksi dengan alat secanggih X-ray, mereka menggunakan kipas angin besar yang diarahkan ke jalur perakitan. Angin dari kipas tersebut akan menghembuskan kotak kosong keluar dari jalur perakitan. Masalah selesai.

Apa yang bisa kita pelajari dari kedua kisah di atas? Kreativitas dan penyelesaian masalah ternyata tidak harus melibatkan kecanggihan dan dana yang besar. Originalitas ide bisa ditemukan dengan berpikir sesederhana mungkin. Kita memang sering masuk jebakan terlalu berfokus pada masalah dan bukan solusinya. Seperti pada contoh di atas, ketika NASA melakukan framing atas masalah sebagai “menemukan pulpen yang bisa berfungsi pada gravitasi nol,” frame tersebut menyingkirkan alternatif solusi yang tidak melibatkan pulpen. Padahal bila masalah tersebut di-framing ulang sebagai “menemukan alat untuk menulis pada kondisi gravitasi nol,” dengan mudah kita bisa melihat pensil sebagai alternatif yang layak.

Selain masalah framing masalah yang terlalu sempit atau salah, kita juga sering terjebak dalam melihat benda melalui kaca mata forms over functions. Ketika kita melihat sebuah kotak kayu, secara otomatis kita mengasosiasikan benda tersebut sesuai dengan fungsi utamanya, yaitu sebagai tempat penyimpanan barang. Padahal kotak kayu tersebut bisa dipakai untuk berbagai fungsi, antara lain sebagai pengganjal pintu, kursi, tangga, pendobrak pintu, meja piknik, tempat persembunyian, atau malah kanvas untuk melukis.

Berpikir kreatif, karena itu, mengharuskan kita menyadari frame yang kita pakai dalam menilai sebuah masalah dan melihat sesuatu dengan mata anak kecil. MacGyver pasti akan setuju dengan pernyataan tersebut.

• • •
 

February 28, 2007

Menjadi kolektor ide

Filed under: Creative Thinking, Innovation — itpin @ 8:07 am

Saya senang membeli dan mengkoleksi buku. Meski sering tahu tidak punya waktu untuk membacanya, saya akan membeli terlebih dahulu buku-buku yang menarik perhatian saya. Tidak jarang buku-buku tersebut akan tersimpan rapi dalam lemari buku selama bertahun-tahun sebelum saya sempat membuka halaman pertamanya. Ada juga buku yang “salah beli”, dalam arti ketika membaca halaman-halaman pertama, saya mendapatkan isinya kurang bermutu atau tidak relevan dengan kebutuhan saya. Walau demikian, buku-buku seperti itu tetap saya simpan. Yang menarik, ketika saya mencoba membuka buku-buku tersebut pada kesempatan lain, saya sering menemukan adanya ide-ide baru dari buku yang tadinya dianggap “salah beli” tersebut.

Saya juga belajar bahwa buku-buku bisa dibaca berulang kali, dan setiap pembacaan ulang akan memberikan makna yang berbeda. Isi buku tersebut tentu tidak berubah. Perbedaan lebih terletak pada diri saya sendiri, entah karena cara pandang saya yang sudah berubah, atau pengalaman yang bertambah sehingga lebih mampu menghubungkan konsep-konsep yang ditawarkan buku tersebut dengan dunia nyata, atau karena suasana hati saya. Pemahaman isi sebuah buku, karena itu, menurut saya bersifat subjektif. Meski buku-buku menyajikan fakta-fakta objektif dengan struktur yang logis, penerjemahan isinya tetap tergantung pada sang pembaca.

Apa yang berlaku untuk buku-buku berlaku juga untuk ide-ide kreatif. Seperti layaknya sebuah buku, ide-ide kreatif hendaknya disimpan dalam sebuah “lemari”, entah dalam bentuk catatan tertulis atau diketik rapi di dokumen yang disimpan dalam arsip komputer. Untuk perusahaan, ide-ide tersebut bisa disimpan juga di dalam database atau software seperti Lotus Notes.

Ada beberapa alasan yang membuat penyimpanan ide-ide tersebut penting. Pertama, ide-ide kreatif sering datang begitu saja. Ide-ide yang datang sekilas tersebut sering pergi secepat kilat juga. Tanpa mencatatnya, kita sering kehilangan ide tersebut. Saya pernah mengalami hal demikian berkali-kali. Untuk mengatasinya, sekarang saya berusaha mencatat ide-ide yang muncul ke dalam memori handphone saya. Terus terang, saya menemukan aktivitas seperti itu sangat berguna, atau malah terlalu berguna, karena ide-ide yang saya catat telah melebihi kapasitas saya untuk merealisasikan semuanya.

Di sinilah kita masuk ke alasan kedua. Ide-ide kreatif sering tidak bisa langsung direalisasikan. Selain karena keterbatasan waktu, ide-ide kadang datang sebelum waktunya. Ada ide-ide yang membutuhkan tambahan kompetensi sebelum bisa diwujudkan, dan ada yang membutuhkan dana lebih. Dengan mencatat ide-ide tersebut dan memeriksanya secara berkala, kita sering menemukan adanya ide-ide lama yang ternyata cocok dipergunakan untuk menyelesaikan masalah hari ini (dengan beberapa adaptasi, tentunya).

Kemudian ada lagi alasan ketiga. Walau ide-ide lama yang kita catat tidak bisa langsung menyelesaikan masalah hari ini, ada kemungkinan dari daftar ide-ide tersebut kita bisa membangun analogi atau dijadikan stimulan acak untuk menghasilkan solusi kreatif bagi permasalahan hari ini. Dengan kata lain, ide-ide lama bisa dijadikan benih-benih pemicu untuk menghasilkan ide-ide kreatif baru.

Kemudian ada lagi alasan mengapa mencatat sebuah ide kreatif sangat penting. Seperti yang kita ketahui, kreativitas berbeda dengan inovasi. Kreativitas berkaitan dengan ide-ide baru sementara inovasi melibatkan kerja keras untuk merealisasikan ide tersebut. Dalam momen euforia “Eureka”, kita sering melupakan aspek kerja keras tersebut dan menganggap ide kreatif yang baru muncul pasti bisa berhasil diwujudkan. Namun dengan mencatat ide tersebut dan membiarkannya mengendap selama beberapa waktu sebelum ditinjau lagi, kita akan lebih bisa menilainya secara lebih objektif. Pengendapan ide seperti itu sangat penting untuk memberi kita kesempatan melengkapi ide kreatif tersebut dengan cara berpikir analitik dan sistemik agar ide tersebut memiliki peluang lebih besar untuk berhasil.

Tentu tidak semua ide-ide kreatif yang dicatat tersebut akan berubah menjadi inovasi. Tetapi apakah Anda tahu salah satu hukum utama inovasi? Hukum tersebut berbunyi: Kuantitas dulu, baru kualitas. Berdasarkan hukum ini, kita diajak untuk mengumpulkan sebanyak mungkin ide-ide kreatif sebelum dilakukan seleksi ketat untuk menemukan potensi inovasi. Menyimpan ide-ide di sebuah media sangat penting untuk meningkatkan kuantitas karena kapasitas ingatan kita sangat terbatas.

Saya juga menjumpai sebuah fenomena yang menarik. Semakin banyak ide-ide yang kita kumpulkan, semakin mudah kita menghasilkan ide-ide kreatif berikutnya. Karena itu, saya melihat pengumpulan ide-ide merupakan salah satu sarana latihan berpikir kreatif yang mudah dan murah. Dalam skala organisasi, ide-ide yang disimpan di database juga memungkinkan anggota organisasi lainnya meninjau ide tersebut dan membangun ide-ide lain untuk menyempurnakan ide tersebut. Karena setiap anggota organisasi memiliki cara pandang dan cara pikir yang berbeda, ide-ide yang dikembangkan secara bersama akan lebih kreatif lagi dan sekaligus memiliki peluang lebih besar untuk bertahan hidup.

Dengan semua alasan-alasan di atas, mengapa Anda tidak mulai menjadi kolektor ide mulai hari ini?

• • •
 

January 26, 2007

Motivasi untuk berpikir kreatif

Filed under: Creative Thinking, Managing People — itpin @ 8:10 am

Menurut Teresa Amabile, profesor dari Harvard Business School yang sudah meneliti topik mengenai kreativitas pribadi dan organisasi ini, kita sering melihat proses kreativitas secara sempit. Ketika kita berbicara mengenai kreativitas, yang umumnya menjadi fokus kita adalah proses berpikir itu saja. Sementara kreativitas sebenarnya terdiri dari 3 komponen yang saling bertautan. Ketiganya adalah: keahlian, ketrampilan berpikir kreatif, dan motivasi.

Keahlian tentu saja tidak perlu dijelaskan panjang lebar. Anda sulit menghasilkan ide kreatif untuk bidang yang tidak Anda kuasai dengan baik. Kalaupun bisa, biasanya Anda harus bekerjasama dengan orang yang ahli di bidang bersangkutan. Di sini, Amabile mendefinisikan keahlian secara luas. Bukan saja keahlian pribadi kita, tetapi keahlian dari orang-orang lain yang bisa kita akses. Jadi, semakin besar jaringan kenalan yang kita miliki, semakin luas juga keahlian yang bisa kita dapatkan. Ketrampilan berpikir kreatif juga sudah kita bahas berkali-kali di blog ini. Dengan alasan itu, fokus kita kali ini ada pada komponen ketiga yaitu motivasi.

Motivasi adalah topik yang kompleks. Kita tahu motivasi penting sebagai tenaga pendorong terhadap semua yang kita kerjakan. Tetapi tidak semua motivasi memiliki kekuatan yang sama besar. Amabile pernah mengadakan riset yang menyimpulkan motivasi terkuat untuk memacu pikiran kreatif adalah motivasi intrinsik, atau motivasi yang muncul dari dalam diri kita. Ketika kita termotivasi secara intrinsik, kita tidak mencari pengakuan dari luar dalam bentuk pujian atau materi. Kita melakukannya semata-mata demi kepuasan kita, demi aktualisasi diri kita.

Bagaimana dengan uang? Bukankah selama ini para manajer yang ingin para anak buahnya lebih kreatif sering menjadikan uang sebagai motivator? Uang, kata Amabile, tentu saja tidak menghalangi orang untuk kreatif. Namun pada kebanyakan kasus, uang juga tidak membantu. Kadang uang malah membuat motivasi intrinsik seseorang untuk berkarya menjadi surut karena digantikan oleh keinginan untuk mendapatkan uang tersebut. Uang juga tidak bisa membeli gairah (passion) yang dibutuhkan untuk mengatasi hambatan-hambatan besar yang muncul selama proses kreatif.

Karenanya, yang harus dilakukan adalah membangkitkan motivasi intrinsik. Caranya? Saran pertama adalah mencocokkan pekerjaan dengan kemampuan dan minat sang karyawan. Kelihatannya cukup sederhana, tetapi untuk bisa melakukan itu dengan baik, manajer harus mengenal diri para anak buahnya dengan baik. Pengumpulan informasi seperti itu kadang membutuhkan waktu lama sementara sang manajer mungkin terlalu sibuk dengan urusan lain. Cara lainnya adalah menentukan tujuan yang harus dicapai dan memberikan kebebasan karyawan untuk menemukan cara mencapai tujuan tersebut selama tidak melanggar etika dan hukum. Otonomi seperti itu bisa meningkatkan kreativitas karena luasnya ruang bergerak yang dimiliki karyawan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut dan memberi mereka sense of ownership.

Setelah itu, sang atasan atau perusahaan harus bisa memberikan sumber daya dalam jumlah yang cukup bagi karyawan. Menariknya, sumber daya yang terlalu banyak bisa menghambat kreativitas karena karyawan akan mendapatkan banyak kemudahan. Sementara sumber daya yang terlalu sedikit juga memberi efek negatif yang sama.

Cara lain untuk meningkatkan motivasi intrinsik dilakukan oleh Novartis, sebuah perusahaan farmasi dunia. Di samping berupaya menghasilkan obat-obatan yang mampu menghasilkan laba jutaan USD, Novartis juga mengembangkan obat untuk keperluan negara-negara berkembang. Obat untuk lepra, misalnya, disumbangkan ke WHO sampai penyakit tersebut bisa dibasmi. Perusahaan ini juga melakukan penelitian untuk mengatasi penyakit-penyakit lain yang masih menyerang negara-negara miskin dan membangun pusat riset di Singapura untuk tujuan tersebut. Obat-obat tersebut, karena umumnya dijual dengan harga murah, memang tidak ditujukan untuk tujuan laba.

Melalui cara seperti itu, dengan memberikan sebuah sense of mission pada karyawan perusahaan, Novartis berhasil membangkitkan motivasi intrinsik para karyawannya. Para karyawan tidak melihat perusahaan sebagai entiti ekonomis belaka, tetapi juga sebagai tempat yang mampu menjawab kebutuhan emosional dan spiritual mereka.

Walau pendapat Amabile bahwa motivasi intrinsik lebih dibutuhkan dalam proses kreatif, beberapa pakar lain menambahkan bila motivasi ekstrinsik tetap dibutuhkan. Siapa dari kita yang mau bekerja dengan gratis walau pekerjaan tersebut cocok dengan minat kita sementara setiap bulannya harus ada tagihan-tagihan yang harus dibayar? Kecuali Anda telah mendapatkan harta warisan tak terhingga dari seorang paman kaya, kita semua masih harus menghadapi tekanan-tekanan hidup. Karena itu, pemberian motivasi ekstrinsik tetap harus diperhatikan.

Hanya saja pemberian tersebut tidak melulu harus berupa uang dan harus disesuaikan dengan pribadi masing-masing orang. Bila gaji Anda Rp. 2.000.000,-, bonus Rp. 250.000,- tentu akan diterima dengan senyum lebar. Tetapi berikanlah bonus sebesar itu pada seorang direktur dan Anda akan mendapatkan reaksi yang berbeda. Bagi eksekutif dengan jabatan setinggi itu, sebuah piagam yang nilainya lebih rendah secara tunai mungkin lebih dihargai. Untuk para ilmuwan, kesempatan mempublikasikan karyanya di jurnal-jurnal ilmiah bisa jadi lebih berharga dibandingkan uang sebesar berapapun. Beberapa orang lainnya mungkin lebih menyukai publisitas lewat buletin internal atau malah media massa lokal dan nasional.

Cara-cara lain yang lebih kreatif juga bisa diterapkan. Di beberapa perusahaan, bonus untuk ide karyawan dihitung berdasarkan persentase dari penghematan atau pendapatan tambahan yang berhasil didapatkan dari implementasi ide tersebut. Menawarkan kenaikan jabatan juga bisa dilakukan bila seorang karyawan telah beberapa kali memberikan ide-ide cemerlang.

Ya, motivasi memang topik yang sulit-sulit gampang untuk dibahas karena kompleksnya kebutuhan manusia. Tetapi kita juga tidak bisa menghindar dari masalah ini. Motivasi dan kreativitas terkait erat. Bila perusahaan Anda ingin membangkitkan kreativitas para karyawannya, masalah motivasi harus menjadi salah satu fokus utama.

• • •
 

January 25, 2007

Jika karbon dan silikon bersatu

Filed under: Creative Thinking — itpin @ 7:37 am

Bagi kebanyakan orang yang sudah lama bergelut dengan dunia komputer, kemampuan mesin silikon tersebut untuk menyelesaikan masalah yang terdefinisi dengan baik dan bersifat algoritmik sudah tidak diragukan lagi. Kemampuan komputer menampung data yang semakin banyak dan kecepatan prosesor yang semakin tinggi menjadikan kekuatan komputer dalam menganalisis data sulit ditandingi manusia yang paling jenius sekalipun. Gary Kasparov yang disebut-sebut sebagai pecatur terkuat yang pernah hidup juga pernah takluk di papan catur. Catur, ternyata, walau memiliki kombinasi hampir tak terbatas merupakan permainan yang bisa didefinisikan ke aturan-aturan tertentu.

Namun, walau demikian, kita tahu manusia tetap unggul untuk penyelesaian masalah yang membutuhkan kreativitas. Bila cara berpikir analitik bersifat algoritmik, cara berpikir kreatif bersifat heuristik. Heuristik tidak memiliki aturan baku yang bisa didefinisikan secara gamblang sehingga kinerja komputer tidak bisa melebihi kemampuan manusia di sini. Sebagai contoh: Meski Kasparov berhasil dikalahkan komputer, komputer belum bisa mendekati kemampuan pemain biasa dalam permainan Go, sebuah permainan sederhana dari Asia Timur yang aturan-aturannya lebih sulit dijadikan algoritma.

Di bidang yang membutuhkan kreativitas inilah manusia boleh bertepuk dada. Kreativitas adalah ranah homo sapiens yang belum bisa dijamah oleh spesies-spesies dari silikon. Tetapi jangan terlena terlalu lama. Sebuah artikel di Fast Company edisi November 2006 menceritakan tentang program komputer untuk Mac yang bernama DEVONthink yang mampu menunjukkan ciri-ciri pikiran kreatif.

Cara pemakaian software yang dikeluarkan oleh Devon Technologies ini sebenarnya cukup sederhana. Pemakainya cukup memberikan dokumen-dokumen (dalam bentuk email, halaman-halaman web, PDF, atau dokumen-dokumen dalam format lain) yang dianggapnya akan berguna kelak kepada DEVONthink. Software ini akan menganalisis kata-kata dalam dokumen dan mampu belajar untuk mengenali, misalnya kata ‘tebal muka’ sama artinya dengan ‘tidak tahu malu’. Kemampuan ini membuat software ini bisa menghubungkan dua atau lebih dokumen yang kelihatannya tidak memiliki kesamaan apapun. Dan bukankah kemampuan menghubungkan dua konsep yang kelihatannya tidak berhubungan tersebut merupakan cikal bakal teknik berpikir kreatif?

Fast Company memberikan contoh bagaimana Steven Johnson, seorang penulis di New York, menemukan bagaimana ‘kecerdasan kreatif’ DEVONthink membantunya mendapatkan ide kreatif. Dia telah memakai software ini selama bertahun-tahun dan meminta DEVONthink menganalisis semua bahan-bahan risetnya. Ketika dia menulis buku baru mengenai wabah kolera di London pada tahun 1854, dia memasukkan draft tulisannya ke dalam DEVONthink untuk mencari dokumen-dokumen lain yang berhubungan. Suatu hari, ketika dia memasukkan sebuah paragraf yang berhubungan dengan sistem pembuangan limbah di London, software ini secara tak terduga menemukan sebuah dokumen yang mendiskusikan bagaimana tulang hewan-hewan bertulang belakang berevolusi — dengan memakai buangan kalsium yang dihasilkan oleh proses metabolisme mereka.

Sebuah koneksi yang aneh: sistem pembuangan limbah sebuah kota dengan makhluk hidup. Koneksi semacam itu hanya bisa dilakukan oleh pikiran kreatif manusia yang sudah terlatih menemukan analogi (baca juga: Teknik Berpikir Kreatif: Analogi dan Menggandakan Kekuatan Analogi dengan Synectics). Ketika Johnson melihat hubungan tersebut, sebuah bola lampu pijar menyala di dalam kepalanya. Dia berpikir untuk menulis sebuah bab yang membandingkan cara kota-kota dan tubuh manusia memanfaatkan hasil buangan mereka secara produktif.

“Sekarang,” Johnson bertanya, “siapakah yang bertanggung jawab atas ide awal tersebut?” Apakah Johnson atau DEVONthink? Menurutnya, ide tersebut adalah hasil sintesis dan kerjasama dua jenis otak: otak karbon miliknya dan otak silikon milik komputer. Apakah itu berarti komputer sebenarnya mampu dilatih untuk berpikir kreatif juga? Bisa jadi. Tapi paling tidak untuk saat ini, komputer sudah memiliki kemampuan menjadi rekan kita dalam mengeksplorasi ide-ide baru.

Homo sapiens, berhati-hatilah!

(Tampilan DEVONthink dan cerita Steven Johnson bisa dilihat di sini.)

• • •
 

January 19, 2007

Menggandakan kekuatan analogi dengan ’synectics’

Filed under: Creative Thinking, Group Thinking — itpin @ 7:25 am

Synectics adalah sebuah teknik penyelesaian masalah yang sering dipakai dalam kelompok. Teknik ini diperkenalkan pertama kali oleh William Gordon pada tahun 1961 lewat buku karangannya, Synectics.

Banyak orang yang pernah memakai teknik ini mengakui jika teknik ini lebih ampuh dibanding brainstorming, karena teknik ini menggabungkan antara teknik-teknik kreativitas (terutama analogi dan metafora) dengan beberapa aturan yang lebih baku sehingga sesi pertemuan berlangsung lebih terstruktur dan efisien. Sama seperti teknik-teknik berpikir kreatif lainnya, synectics mengajarkan kita untuk “mempercayai hal-hal asing, dan mengasingkan hal-hal yang dipercayai.” Dengan kata lain, kita diajak untuk memanfaatkan analogi-analogi yang kelihatannya tidak berhubungan dengan masalah yang hendak diselesaikan, dan pada saat yang sama melupakan ide-ide konvensional yang biasa dipakai.

Banyak juga yang menganggap synectics sebagai variasi lain dari brainstorming. Memang ada persamaannya, terutama bila synectics dilakukan dalam kelompok. Namun, berbeda sama sekali dengan brainstorming yang membiarkan para peserta mengeluarkan ide tanpa batasan yang jelas, synectics memberikan beberapa batasan sehingga terkesan lebih terstruktur.

Struktur synectics bisa dilihat dari penentuan empat jenis analogi yang akan dipakai selama sesi pemecahan masalah. Keempat jenis analogi tersebut adalah: personal analogy, direct analogy, symbolic analogy, dan fantasy analogy.

Personal analogy meminta peserta sesi mengidentifikasikan dirinya dengan sebagai atau keseluruhan masalah atau solusinya. Direct analogy mencoba menyelesaikan masalah dengan mencari analogi langsung dari tempat lain, aplikasi lain, teknologi lain, pengetahuan lain, dlsb. Symbolic analogy hampir sama dengan personal analogy, tetapi identifikasi dilakukan bukan dengan peserta, melainkan dengan objek lain. Fantasy analogy memperbolehkan peserta berkhayal sejauh-jauhnya untuk menyelesaikan masalah.

Untuk melihat contoh-contoh analogi tersebut, saya akan mengutip contoh langsung dari buku Gordon tersebut. Dalam contoh ini, sebuah kelompok yang terdiri dari 5 orang sedang berdiskusi bagaimana merancang semacam ritsleting untuk baju astronot. Saya akan mengambil beberapa cuplikan diskusi tersebut untuk masing-masing analogi (dengan beberapa editing untuk menyederhanakan bacaan).

Personal analogy: “Saya membayangkan menjadi seorang penyelamat pantai. Bayangkan badai besar di laut. Kapal terombang-ambing. Sebagai penyelamat pantai, saya berusaha menambatkan kapal dengan menggigit seutas tali tambang dan berenang mencari tambatan.”

Direct analogy: “Saya membayangkan ritsleting yang mirip dengan seekor serangga mekanik… Jika Anda menggunakan seekor laba-laba, dia bisa memintal sehelai benang dan menjahit kedua sisi agar tertutup.”

Symbolic analogy: “Kita bisa menjahit dengan baja.”

Fantasy analogy: “Saya membayangkan seorang jin yang bisa menutupnya untuk saya. Cukup sebutkan mantranya dan tertutup!”

Lewat analogi-analogi yang dihasilkan dari diskusi di atas, kita akan mendapatkan alternatif-alternatif solusi yang selama ini tidak mungkin bisa dibayangkan. Sesi synectics bisa juga dilakukan sendirian, tetapi keampuhannya dalam kelompok lebih terasa karena para peserta bisa menimpali satu sama lainnya.

Teknik ini sudah dikembangkan menjadi beberapa variasi. Namun dasar yang dipakai tetapi sama, yaitu memakai kekuatan analogi. Pembaca yang ingin berkenalan lebih jauh tentang pemakaian analogi dalam kreativitas bisa membaca artikel lainnya dalam blog ini (Teknik Berpikir Kreatif: Analogi).

• • •
 

January 18, 2007

‘Houston, we’re in trouble!’

Filed under: Creative Thinking, Managing People — itpin @ 8:16 am

Ketika Apollo 13 kembali dari perjalanannya ke Bulan pada tahun 1970, sebuah ledakan terjadi yang mengakibatkan rusaknya sistem penyaringan udara. Gas karbondioksida segera bertambah sementara gas oksigen berkurang. Para astronot yang berada di dalam pesawat tersebut terancam jiwanya.

Houston, we are in trouble!

Dan di Houston, pusat kontrol misi NASA, hampir semua para insinyur, ahli sains, dan teknisi bekerja keras untuk menemukan solusi atas masalah tersebut. Mereka diberi bahan-bahan yang sama dengan yang ada di kabin pesawat. Dalam tekanan waktu, mereka akhirnya berhasil merakit sebuah alat yang jelek, kasar, dan tidak sempurna; namun bisa dipakai untuk menyaring udara. Rancangan tersebut lalu dikomunikasikan dengan jelas kepada para astronot, yang untungnya mampu mengerti instruksi yang diterima di bawah kondisi kekurangan oksigen. Alhasil, jiwa-jiwa mereka berhasil diselamatkan.

Kisah ini merupakan contoh bagaimana tekanan waktu mampu meningkatkan kreativitas. Kisah ini tentu bukan satu-satunya contoh. Banyak orang yang mengaku kreativitasnya akan meningkat bila bekerja di bawah tekanan. Para mahasiswa karenanya sering memakai teori ini untuk menunda pekerjaan sampai menit-menit terakhir. Perusahaan juga tak mau ketinggalan. Teori ini dipergunakan dalam bentuk memberikan deadline yang tidak masuk akal kepada para karyawan untuk menyelesaikan proyek mereka.

Padahal, menurut penelitian yang dilakukan oleh Teresa Amabile, Constance Hadley, dan Steven Kamer (yang dituangkan di artikel Creativity Under the Gun, Harvard Business Review, Agustus 2002), teori tersebut walau bisa dibenarkan dalam kasus Apollo 13, namun tidak berlaku pada kondisi yang lain. Tekanan waktu hanya akan meningkatkan kreativitas bila kita bisa menganggap pekerjaan kita sebagai sebuah misi. Misi tersebut bisa berupa menyelamatkan jiwa manusia (seperti pada kasus Apollo 13), menciptakan dunia yang lebih baik, atau menyelamatkan perusahaan dari krisis. Mereka yang lebih kreatif pada kondisi tertekan seperti ini juga melaporkan lebih sedikitnya interupsi dari luar sehingga mampu berkonstrasi penuh pada tugas.

Di luar itu, tekanan waktu justru mengurangi kreativitas dan produktivitas. Jumlah pekerjaan yang bisa diselesaikan menurun, dan ide-ide kreatif jarang muncul. Menariknya, mereka menemukan, walau tingkat kreativitas menurun karena tekanan waktu, para subjek penelitian justru merasa kreativitas mereka meningkat. Paradoks inilah yang sering membuat kita tetap mempercayai teori tersebut, walau kenyataan berkata lain.

Jadi, apakah itu berarti kita akan kreatif bila tekanan waktu tidak ada? Ternyata jawabannya: tidak juga. Sepanjang waktu kerja kita, dengan atau tanpa adanya tekanan, kita tetap jarang berpikir kreatif. Perbedaan antara waktu yang menghasilkan kreativitas dan tidak terletak pada bagaimana waktu tersebut dihabiskan. Bila kita hanya menjalankan rutinitas sehari-hari, tentu saja kreativitas tidak mungkin muncul. Namun bila kita memakai waktu santai tersebut untuk mengeksplorasi ide-ide baru, atau mencari alternatif-alternatif solusi baru, barulah waktu tersebut dipakai secara kreatif.

Menariknya lagi, eksplorasi ide-ide baru tersebut umumnya dilakukan hanya dengan satu teman lainnya, dan jarang di dalam kelompok yang lebih besar. Bisa jadi itu karena lebih mudah mencari 1 orang teman dibanding mengumpulkan sekelompok orang, apalagi dalam suasana kantor. Tetapi bisa juga diskusi yang melibatkan dua orang lebih santai dan tidak intens.

Apa implikasi hasil riset tersebut untuk perusahaan? Tentu saja, bila Anda ingin karyawan Anda kreatif, jangan berikan tekanan waktu yang terlalu berat kepada mereka. Namun bila hal itu tidak bisa dihindari (misalkan karena permintaan dari klien), usahakanlah menciptakan misi bersama yang bisa memotivasi mereka. Selain itu, kurangilah interupsi dari luar sehingga mereka bisa berkonsentrasi dengan baik.

• • •
 

December 15, 2006

Mitos-mitos kreativitas dan inovasi

Filed under: Creative Thinking, Innovation — itpin @ 7:47 am

Banyak orang atau organisasi yang gagal menjadi inovatif karena kepercayaan salah yang mereka miliki. Kepercayaan-kepercayaan tersebut menyelinap dalam-dalam dan tidak pernah diselidiki kebenarannya. Padahal seperti Anda yang tidak percaya dengan kisah Zeus, Hercules, atau Gatot Kaca; kepercayaan-kepercayaan tersebut adalah mitos.

Karena itu, agar energi kreatif dan inovatif (organisasi) Anda bisa dibebaskan, pertama-tama Anda harus menghancurkan mitos-mitos tersebut terlebih dahulu. Di sini, kita akan meninjau beberapa mitos yang umum dan coba bersikap jujurlah untuk mengakui bila ada di antara mitos-mitos berikut yang sudah terlanjur Anda percayai. Kejujuran adalah awal dari transformasi diri.

Mitos #1: Orang-orang kreatif dilahirkan, bukan dibentuk.

Sudahkah Anda membaca artikel-artikel ini, ini, ini, ini, ini, ini, dan ini? Case closed!

Mitos #2: Inovasi membutuhkan keberadaan orang-orang yang kreatif (seperti Steve Jobs atau Thomas Alva Edison).

OK, seorang Steve Jobs mungkin akan membuat perusahaan Anda lebih inovatif. Bila Anda menemukan orang-orang seperti itu, selamat. Manfaatkanlah kreativitas mereka sebaik-baiknya. Tetapi tidak banyak perusahaan yang memiliki nasib sebaik itu. Riset-riset terbaru telah membuktikan bahwa kreativitas dan inovasi organisasi lebih ditentukan oleh proses kreatif, dan bukannya orang-orang kreatif. Organisasi yang inovatif bukanlah organisasi yang terdiri dari orang-orang “inovatif”, tetapi organisasi yang memiliki proses yang mampu menghasilkan ide-ide inovatif.

Mitos #3: Orang pintar pasti kreatif (dan inovatif).

Rekrutlah orang-orang pintar dengan IQ tinggi, dan secara otomatis organisasi Anda akan menjadi organisasi yang inovatif. Benarkah? Memang benar ada korelasi antara IQ dan kemampuan berpikir kreatif, tetapi riset membuktikan korelasi tersebut hanya sampai IQ 120. Di atas itu, hampir tidak terdapat hubungan antara kreativitas dan kepintaran. Selain itu, memasukkan orang-orang ber-IQ tinggi ke dalam sebuah kelompok yang tidak kondusif tidak akan melahirkan ide-ide inovatif. Proses tetap lebih penting dari orang-orang yang ada di dalamnya.

Mitos #4: Kreativitas tidak bisa dikelola.

Kreativitas adalah seni, bukan sains. Mengelola kreativitas akan menghancurkan kreativitas tersebut. Benarkah? Memang ada bagian dari proses kreatif yang masih misterius, tetapi sudah terbukti pengelolaan proses kreatif akan mampu menghasilkan ide-ide kreatif. Dan tidak ada yang misterius dalam proses tersebut.

Mitos #5: Inovasi (kreativitas) hanya dibutuhkan di industri-industri berbasis teknologi atau hiburan.

Benarkah? Anda bisa minum air dengan gratis, tetapi jiwa-jiwa inovatif telah berhasil menghasilkan air-air mineral, air-air berozon, air-air heksagonal, dan sederetan jenis air-air lainnya yang dikemas dan dijual dengan harga ribuan per botol. Jika air saja bisa dijual dengan harga yang kadang lebih tinggi dari BBM melalui proses-proses inovatif, maka tidak ada alasan mengapa inovasi tidak dibutuhkan di tempat-tempat lain.

Mitos #6: Kreativitas berarti ide-ide besar.

Memang ada ide-ide kreatif yang menghasilkan lompatan besar yang mempengaruhi jalannya peradaban manusia. Namun mayoritas ide-ide kreatif yang dihasilkan adalah untuk hal-hal kecil. Tidak perduli seberapa besar dampak yang dihasilkan, proses untuk mendapatkan ide-ide kreatif tersebut relatif sama.

Mitos #7: Inovasi sama dengan kreativitas.

Walau benar inovasi dan kreativitas sama-sama berkaitan dengan ide-ide baru, namun dibutuhkan cara-cara berpikir yang lebih analitis dan sistemik untuk menjadikan ide-ide kreatif tersebut menjadi inovasi. Setelah melalui proses-proses penyulingan tersebut, ide kreatif barulah bisa menjadi sesuatu yang inovatif (baca juga: Inovasi dan Kreativitas).

Itulah sebagian mitos-mitos yang berkenaan dengan kreativitas dan inovasi. Setelah selesai membacanya, Anda mungkin masih ingin membantah beberapa mitos-mitos di atas. Ya, memang begitulah cara bekerja kepercayaan. Sekali menjadi kepercayaan, sulit untuk dihilangkan. Tetapi saya tetap berharap tulisan singkat ini mampu meningkatkan kesadaran Anda bahwa tidak semua kepercayaan yang Anda pegang adalah benar.

Apakah Anda bisa menemukan mitos-mitos lainnya?

• • •
 

December 13, 2006

Kepribadian kompleks, kepribadian kreatif

Filed under: Creative Thinking — itpin @ 8:10 am

Mihaly Csikszentmihalyi tak pelak lagi merupakan salah satu pakar terbaik di bidang kreativitas individu. Dia telah mencurahkan puluhan tahun dari hidupnya untuk menyelidiki fenomena kreativitas tersebut, termasuk mewawancarai banyak pemenang Hadiah Nobel dari bidang-bidang yang berbeda.

Salah satu kesimpulan yang didapatnya adalah (yang ditulis dalam bukunya yang terkenal, yang judulnya sungguh kreatif: Creativity): Tidak ada tipe kepribadian tertentu yang bisa dikorelasikan dengan kemampuan menjadi kreatif. Orang-orang kreatif bisa jadi adalah ekstrovert, tetapi banyak juga yang introvert. Raphael adalah seorang ekstrovert dan Michelangelo seorang introvert, dan keduanya adalah jenius besar. Orang-orang kreatif bisa juga alim seperti para ulama, bisa juga jahat seperti Hitler. Ada yang hidung belang, tetapi ada juga yang setia sampai mati. Ada yang konservatif, ada yang berpikiran terlalu maju. Ada yang serius, ada yang santai. Tegasnya, tidak ada konsistensi di sini.

Bagaimana dengan pengaruh genetik? Pengaruh genetik memang tidak bisa diabaikan, tetapi pengaruhnya lebih ke menentukan kecendrungan bidang mana yang akan dikuasai seorang individu dengan baik. Orang yang dilahirkan dengan sensitivitas yang tinggi terhadap suara akan cenderung menjadi ahli musik atau penyanyi yang baik. Bila hal itu digabung dengan latihan keras di bidang tersebut, mereka dengan mudah akan menjadi ahli musik atau penyanyi yang sukses dan kreatif.

Csikszentmihalyi kemudian menyimpulkan, kalaupun ada satu kata yang bisa dipakai untuk menyimpulkan sifat-sifat yang dimiliki orang-orang kreatif, maka kata tersebut adalah kompleks (complex). Dengan istilah ini, Csikszentmihalyi mengartikan kemampuan individu menunjukkan dua sifat ekstrim secara bersamaan, yang umumnya sulit ditunjukkan oleh orang-orang normal lainnya. Sebagai contoh, individu yang kreatif bisa memiliki imajinasi yang menggila dan kesadaran akan keterbatasan realitas pada saat yang sama. Kemampuan seperti itulah yang memungkinkan mereka berpikir secara “lain”.

Kemampuan menunjukkan sifat-sifat ekstrim tersebut sebenarnya dimiliki oleh setiap orang. Tetapi, pada kebanyakan dari kita, kita telah melatih diri kita sehingga hanya satu sisi dominan saja yang muncul. Carl Jung, psikoanalis dari Swiss yang terkenal itu telah lama menyelidiki fenomena tersebut dan menciptakan istilah shadow. Shadow adalah sisi lain dari sifat dominan kita yang jarang dikembangkan. Orang alim, misalnya, kadang ingin menjadi liar. Cowok macho kadang ingin menangis lepas. Menurut Jung, selama kita menekan shadow kita dengan keras dan berusaha menafikan keberadaannya, kita tidak bisa menjadi manusia seutuhnya.

Orang-orang kreatif, karenanya, adalah orang-orang yang bisa berdamai dengan shadow mereka. Lalu, apa saja sifat-sifat kontradiktif yang sering ditunjukkan oleh orang-orang kreatif? Csikszentmihalyi memberi sebuah daftar yang terdiri dari 10 pasangan sifat:

  • Energi fisik yang besar dan ketenangan. Mereka bisa bekerja keras sampai tidak mengenal waktu, bahkan pada usia tua; namun mereka tahu kapan harus berhenti dan mengisi ulang energi mereka.
  • Cerdas dan naif pada saat yang sama. Tentu tidak ada lagi yang meragukan kecerdasan orang-orang kreatif besar seperti Einstein, tetapi mereka sering melihat dunia melalui kaca mata seorang anak kecil (dan kadang menunjukkan sikap seperti anak kecil).
  • Suka bermain-main dan disiplin. Mereka bekerja keras dan disiplin, tetapi juga melihat pekerjaan mereka sebagai permainan yang menyenangkan.
  • Berimaginasi dan realistis. Mereka berkhayal untuk mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan masa depan, tetapi tidak melarikan diri dari realitas dan keterbatasan hari ini.
  • Ekstrovert dan introvert. Mereka mampu menjalin hubungan dengan orang-orang lain, tetapi suka sendirian juga.
  • Rendah hati dan bangga. Mereka sadar pengetahuan dan ciptaan mereka merupakan hasil dari individu-individu besar lainnya, tetapi mereka juga berambisi besar dan berbesar hati dengan pencapaian yang mereka peroleh.
  • Maskulin dan feminin. Jangan lihat ini sebagai kecendrungan seksual yang mengarah ke homoseksualitas. Namun istilah ini menunjukkan kecendrungan psikologis dalam pengertian yang lebih luas. Sebagai contoh: pria yang kreatif memiliki kemampuan yang lebih dalam mengungkapkan perasaan mereka dibanding rekan-rekan mereka; sementara wanita kreatif bersikap lebih dominan dibanding wanita-wanita yang “kurang” kreatif.
  • Pemberontak dan patuh. Orang kreatif memberontak dengan mengajukan ide-ide baru, tetapi pada saat yang sama tetap mampu bekerja dan mengikuti peraturan di domainnya. Sebagai contoh: Anda tidak mungkin menjadi seorang pemusik kreatif bila tidak mengikuti aturan-aturan dan prinsip-prinsip dasar musik.
  • Bergairah dan bersikap objektif terhadap pekerjaannya. Dengan gairah, mereka memelihara energi untuk berkarya, dan dengan sikap objektif mereka menilai validitas dan menjaga kredibilitas karya mereka.
  • Mudah disakiti dan disenangkan. Sikap sensitif, atau penolakan-penolakan membuat mereka mudah disakiti; namun berkarya untuk sesuatu yang benar-benar disukai membuat mereka mendapatkan kepuasan jiwa terus menerus.

Polaritas seperti itu, menurut Csikszentmihalyi, memang dibutuhkan agar kita bisa menjadi kreatif. Tanpa kemampuan berpindah dari satu ujung ke ujung lainnya, kita sulit menciptakan sesuatu yang baru tetapi tetapi dihargai oleh dunia hari ini.

Anda tidak memiliki kemampuan menjadi insan yang kompleks seperti itu? Jangan kuatir. Toh, tidak semua sifat-sifat tersebut harus hadir pada orang yang sama. Hasil penelitian tersebut dilakukan pada insan-insan yang sungguh terkenal di bidangnya. Untuk orang-orang awam yang hanya ingin sekedar kreatif, kita tidak perlu memiliki jiwa sekompleks itu. Selain itu, seperti kata Csikszentmihalyi sendiri, kemampuan berkontradiksi tersebut sebenarnya sudah ada di dalam diri kita semua. Kita hanya perlu mengakui keberadaan shadow kita dan memakainya pada saat yang dibutuhkan.

Kita semua adalah makhluk-makhluk kreatif!

• • •
 
Next Page »