eXTReMe Tracker
if knowledge is power, then passion is the engine, body is the vehicle, and conscience is the driver

… tentang inovasi dan berpikir holistik

August 30, 2006

Perubahan dimulai dari diri sendiri

Filed under: Education, Macroeconomics — itpin @ 8:16 am

Tulisan berikut saya dapatkan dari kiriman Sdr. Carlos Patriawan. Karena tersentuh oleh tulisan tersebut dan melihat relevansinya dengan beberapa artikel saya sebelumnya, saya memutuskan memasukkannya di blog ini. Saya tidak tahu sumber asli tulisan ini (kalau ada yang tahu, tolong beritahukan). Hasil terjemahan di bawah adalah berkat jasa Boedi Dayono (Januari 2004).

Selamat membaca…

Perbedaan antara negara berkembang (miskin) dan negara maju (kaya) tidak tergantung pada umur negara itu. Contohnya negara India dan Mesir, yang umurnya lebih dari 2000 tahun, tetapi mereka tetap terbelakang (miskin). Di sisi lain, Singapura, Kanada, Australia, dan New Zealand –- negara-negara yang umurnya kurang dari 150 tahun dalam membangun — saat ini merupakan bagian dari negara maju di dunia. Mayoritas penduduknya tidak lagi miskin.

Ketersediaan sumber daya alam dari suatu negara juga tidak menjamin negara itu menjadi kaya atau miskin. Jepang mempunyai area yang sangat terbatas. Daratannya 80% berupa pegunungan dan tidak cukup untuk pertanian dan peternakan. Tetapi, saat ini Jepang menjadi raksasa ekonomi nomor dua di dunia. Jepang laksana suatu negara “industri terapung” yang besar sekali, mengimpor bahan baku dari semua negara di dunia dan mengekspor barang jadinya.

Swiss tidak mempunyai perkebunan coklat tetapi sebagai negara pembuat coklat terbaik di dunia. Negara Swiss sangat kecil, hanya 11% daratannya yang bisa ditanami. Swiss juga mengolah susu dengan kualitas terbaik. (Nestle adalah salah satu perusahaan makanan terbesar di dunia). Swiss juga tidak mempunyai cukup reputasi dalam keamanan, integritas, dan ketertiban –- tetapi saat ini bank-bank di Swiss menjadi bank yang sangat disukai di dunia.

Para eksekutif dari negara maju yang berkomunikasi dengan temannya dari negara terbelakang akan sependapat bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam hal kecerdasan. Ras atau warna kulit juga bukan faktor penting. Para imigran yang dinyatakan pemalas di negara asalnya ternyata menjadi sumber daya yang sangat produktif di negara-negara maju/kaya di Eropa.

Lalu, apa perbedaannya?

Perbedaannya adalah pada sikap/perilaku masyarakatnya, yang telah dibentuk bertahun-tahun melalui kebudayaan dan pendidikan. Berdasarkan analisis atas perilaku masyarakat di negara maju, ternyata bahwa mayoritas penduduknya sehari-harinya mengikuti/mematuhi prinsip-prinsip dasar kehidupan sebagai berikut:

  1. Etika, sebagai prinsip dasar dalam kehidupan sehari-hari
  2. Kejujuran dan integritas
  3. Bertanggung jawab
  4. Hormat pada aturan dan hukum masyarakat
  5. Hormat pada hak orang/warga lain
  6. Cinta pada pekerjaan
  7. Berusaha keras untuk menabung dan berinvestasi
  8. Mau bekerja keras
  9. Tepat waktu

Di negara terbelakang/miskin/berkembang, hanya sebagian kecil masyarakatnya mematuhi prinsip dasar kehidupan tersebut.

Kita bukan miskin (terbelakang) karena kurang sumber daya alam, atau karena alam yang kejam kepada kita. Kita terbelakang/lemah/miskin karena perilaku kita yang kurang/tidak baik. Kita kekurangan kemauan untuk mematuhi dan mengajarkan prinsip dasar kehidupan yang akan memungkinkan kita mampu membangun masyarakat, ekonomi, dan negara.

Jika Anda tidak meneruskan pesan ini, tidak akan terjadi apa-apa pada diri Anda! Hewan peliharaan Anda tidak akan mati. Anda tidak akan kehilangan pekerjaan. Anda tidak akan mendapat kesialan dalam 7 tahun. Anda juga tidak akan sakit.

Tetapi jika Anda mencintai negara kita, teruskan pesan ini kepada teman-teman Anda. Biarlah mereka merefleksikan hal ini. Kita harus mulai dari mana saja. Kita ingin BERUBAH dan BERTINDAK!

Dan… PERUBAHAN DIMULAI DARI DIRI KITA SENDIRI!

• • •
 

June 9, 2006

Melahirkan bakat sepakbola

Filed under: Entrepreneurship, Learning, Education — itpin @ 8:27 am

Selamat datang di Piala Dunia 2006 yang akan dimulai malam ini di Jerman. Posting ini adalah edisi khusus Piala Dunia untuk para penggila bola (gibol).

Nah, para gibol, pernahkan Anda memperhatikan tanggal lahir para bintang sepakbola, terutama dari Eropa? Kalau Anda memang terlalu nganggur, inilah yang Anda akan temukan: mayoritas pemain-pemain elit, baik di tingkat senior atau junior, lahir di bulan Januari-Maret. Sementara pemain yang lahir di bulan-bulan seperti November dan Desember sangat jarang.

Mengapa demikian? Silakan pilih beberapa alternatif di bawah ini:

  • Cuma kebetulan semata.
  • Pengaruh astrologi. Para bintang sepak bola lebih cocok dengan rasi bintang tertentu.
  • Pengaruh cuaca pada saat terjadi pembuahan atau pada saat kelahiran.
  • Para penggila bola lebih suka membikin anak di musim semi, pada saat puncak liga-liga sepakbola di Eropa.

Sudah memilih jawabannya?

Ternyata semua jawaban di atas salah, setidaknya menurut Anders Ericsson, seorang profesor psikologi dadri Florida State University. Ericcson adalah seorang pakar di bidang Expert Performance Movement yang berusaha menjawab pertanyaan “Mengapa seseorang bagus di bidang tertentu?

Dan inilah penjelasan beliau:

Di Eropa, sepakbola sudah ditangani secara profesional sejak anak-anak berusia dini. Liga-liga untuk anak kecil merupakan sesuatu yang umum. Karena liga-liga tersebut ditentukan berdasarkan kelompok umur, maka tanggal 31 Desember ditentukan sebagai acuan perhitungan umur. Jadi bila sekarang tahun 2006 dan yang bertanding adalah KU-13, maka yang para pemain harus lahir di antara 1 Januari 1993 - 31 Desember 1993. Dan ketika pelatih harus memilih satu di antara dua pemain, yang satu lahir di bulan Januari dan satunya lagi di bulan Desember, secara statistik, pemain yang lahir di bulan Januari akan memiliki tubuh yang lebih besar, yang memberikan pemain kelahiran Januari tersebut lebih banyak peluang untuk terpilih sebagai pemain inti.

Apa yang terjadi bila kelompok tersebut masuk ke jenjang KU-14? Pola yang sama akan berulang. Anak yang lahir bulan Januari tersebut akan diberi porsi latihan lebih, bertanding lebih sering, mendapatkan nasehat lebih banyak, dst-nya. Akumulasi tersebut menyebabkan pemain tersebut akan tumbuh lebih matang. Memang mungkin saja pemain kelahiran Desember tersebut lebih berbakat, tapi menurut Ericsson, bakat saja tidaklah cukup. Latihan dan feedbacks lebih berperan dalam meningkatkan kinerja, bukan saja dalam sepakbola, tapi di hampir semua bidang.

Dalam bidang kedokteran, misalnya, Ericsson melihat kualitas analisa para dokter semakin memburuk sesuai dengan usia, kecuali… ahli bedah. Kenapa? Karena ahli bedah akan langsung menerima feedback dari tindakan media mereka. Hal yang sama tidak berlaku untuk mamografer. Ketika seorang dokter membaca mamogram, dia tidak bisa memastikan apakah suatu benjolan merupakan kanker atau bukan, sampai sebulan atau setahun kemudian.

Solusinya? Feedback! feedback! dan feedback!

Untuk kasus mamogram, misalnya, adakan pelatihan untuk para dokter dengan membaca mamogram lama yang hasilnya sudah ketahuan. Lalu dokter diminta melakukan diagnosa. Hasil diagnosa langsung dinilai dan bila salah diberi feedback.

Ini tidak berarti bakat tidak penting. Anda atau saya bisa saja berlatih menendang si kulit bundar setiap hari, tetapi tidak akan pernah menjadi pemain sepak bola yang lebih baik dari Ronaldo atau Ronaldinho yang hanya berlatih sekali seminggu, misalnya. Tapi bila Ronaldo dan Ronaldinho tidak pernah latihan setiap hari, mereka mungkin masih bermain di pantai-pantai di Rio dan tinggal di daerah kumuh.

Jadi bila Anda ingin berprestasi di bidang tertentu, inilah nasehat Ericcson: tentukan target yang spesifik yang ingin Anda capai; latihan-latihan-latihan; bandingkan hasil latihan dengan target; bila masih ada gap (bukan cuma dalam hal hasil akhir, tapi juga teknik atau proses yang dipakai), cari tahu kenapa gap tersebut muncul; dan kembali latihan-latihan-latihan berdasarkan feedback yang Anda dapatkan.

Untuk yang ingin mencari karir atau memulai bisnis, pesan Ericsson cukup sederhana: Temukan bidang yang benar-benar Anda sukai. Bila tidak, Anda tidak memiliki motivasi untuk berlatih terus menerus.

Dan bagi para gibol, bila Anda ingin menyaksikan anak Anda bertanding di Piala Dunia 2026, 2030, atau 2034, semoga hasil riset Ericsson ini bisa membuka jalan menuju mimpi Anda.

• • •
 

April 24, 2006

Efek Pygmalion

Filed under: Mind & Thinking, Managing People, Education, Column Archive — itpin @ 8:40 am

(Artikel ini juga dipublikasikan di majalah Human Capital, edisi Oktober 2006)

Pygmalion adalah salah satu legenda terkenal Romawi yang awalnya ditulis oleh pujangga Ovid. Dalam kisah tersebut, Pygmalion adalah seorang pemahat kesepian yang mengaku tidak pernah tertarik dengan wanita. Suatu saat, dia memahat patung berbentuk seorang wanita dari gading. Patung tersebut sangat indah dan realistis sehingga Pygmalion akhirnya jatuh cinta pada patung tersebut. Karena cintanya, Pygmalion memohon pada sang dewi cinta Venus untuk menghidupkan patung tersebut untuk dinikahi. Berkat permohonannya yang sungguh-sungguh dan tulus, Venus akhirnya mengabulkan permintaan tersebut.

Ide cerita tersebut kemudian dipakai oleh George Bernard Shaw, dramawan Irlandia yang juga pemenang hadiah nobel kesusasteraan tahun 1925, untuk menghasilkan salah satu karyanya yang paling dikenal, Pygmalion. Karya Shaw tersebut menceritakan tentang seorang profesor fonetik yang berhasil merubah seorang gadis penjual bunga yang sederhana, Eliza Doolittle, menjadi seorang lady di kalangan elit di London.

Walau kisah asli Pygmalion jelas-jelas merupakan legenda yang tidak mungkin terjadi, namun adaptasi Shaw ternyata menggambarkan sesuatu yang cukup dekat dengan realitas yang jarang kita sadari: bahwa harapan kita terhadap seseorang akan merubah harapan orang tersebut terhadap dirinya sendiri dan akhirnya akan merubah harapan tersebut menjadi kenyataan.

Interaksi rumit tersebut bukanlah sekedar teori yang hanya bisa dinikmati dalam pementasan Shaw, tapi sudah dibuktikan dalam beberapa eksperimen yang dilakukan dengan ketat.

Sekitar tahun 1960-an, Rosenthal dan Jacobson melakukan eksperimen di beberapa sekolah dasar di US. Dalam salah satu eksperimen tersebut, para guru diberitahu bahwa sekelompok murid-murid (sekitar seperlima dari kelas) memiliki IQ yang lebih tinggi. Secara berkala selama eksperimen tersebut dilakukan, dilakukan tes IQ. Dan memang benar, IQ kelompok murid-murid yang diharapkan memiliki IQ yang lebih tinggi tersebut memang memiliki IQ yang secara signifikan lebih tinggi dibanding murid-murid lainnya.

Namun itu saja tidak cukup membuat cerita tersebut menjadi istimewa. Apa yang membuat cerita ini menjadi istimewa adalah fakta bahwa sebelum kelas tersebut dimulai, semua murid-murid telah menjalani tes IQ dan sebenarnya IQ semua murid-murid dalam kelas tersebut lebih kurang sama! Bagaimana sekolompok murid-murid yang diberitahu memiliki IQ tinggi akhirnya benar-benar menunjukkan IQ yang tinggi, menurut Rosenthal dan Jacobson, adalah hasil dari harapan guru-guru tersebut. Secara tidak sadar, harapan-harapan tersebut mempengaruhi citra diri murid-murid itu sendiri. Citra diri tersebut mungkin membuat mereka belajar lebih keras atau secara tidak sadar mengembangkan kemampuan bawah sadar mereka. Eksperimen tersebut juga dilakukan untuk mahasiswa dengan hasil yang lebih kurang sama.

Kesimpulannya: walau kisah Pygmalion merupakan dongeng, namun efek Pygmalion bukanlah dongeng!

Dalam konteks dunia kerja, efek ini juga pernah diteliti oleh J. Sterling Livingstone. Hasil penelitian tersebut dipublikasikan di Harvard Business Review pada edisi Sep/Okt 1988 di artikel yang berjudul “Pygmalion in Management“. Menurut Livingstone, bagaimana manajer memperlakukan anak buahnya dipengaruhi secara tidak sadar oleh harapan manajer tersebut. Manajer yang memiliki pengharapan positif terhadap anak buahnya akan cenderung mendapatkan hasil yang positif dan sebaliknya. Harapan-harapan tersebut dikomunikasikan dengan halus, kadang tidak disadari oleh manajer tersebut. Misalnya saja manajer akan memberikan lebih banyak feedback konstruktif untuk anak buah yang diharapkan menunjukkan kinerja positif dan memberikan kritik bernada negatif terhadap anak buah yang diharapkan menunjukkan kinerja negatif. Atau manajer akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk berdiskusi dengan anak buah yang diharapkan menunjukkan kinerja positif. Akumulasi dari hal-hal kecil seperti itu akan mempengaruhi citra diri para anak buah tersebut yang akhirnya berbuah pada kenyataan sesuai harapan manajer tersebut dari awal. Kesesuaian antara harapan dan kenyataan tersebut semakin memperkukuh kepercayaan manajer bersangkutan bahwa pendapatnya memang benar dari awal.

Pendapat tersebut ditunjang juga oleh dua peneliti dari Insead, Jean-Francois Manzoni dan Jean-Louis Barsoux. Penelitian tersebut dituangkan dalam buku “The Set-Up-to-Fail Syndrome“. Mereka berfokus pada bagaimana para boss secara tidak sadar menyusun perangkap untuk menggagalkan anak buahnya. Harapan negatif boss menimbulkan ketidakpercayaan diri anak buah, yang menurunkan kinerjanya, yang memperkuat kepercayaan awal sang boss, dan seterusnya.

Lalu apa artinya efek Pygmalion bagi kita? Bila kita adalah orang tua atau pengajar, berhati-hatilah dengan harapan-harapan negatif yang kita miliki terhadap anak-anak atau murid-murid kita. Bila kita adalah manajer atau boss, berhati-hatilah terhadap harapan-harapan negatif terhadap bawahan kita. Sebagai pasangan, kita juga harus berhati-hati terhadap pikiran-pikiran negatif terhadap pasangan kita.

Sebagai manusia, kita memang sulit menghilangkan harapan-harapan tersebut, namun dengan menyadari bahwa harapan-harapan kita bisa menjadi kenyataan, kita bisa selalu bermawas diri. Walau saat ini kita masih jauh dari memahami bagaimana pikiran kita bisa menciptakan kenyataan, bukti-bukti secara empiris dan eksperimental telah menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bisa ditarik antara pikiran dan kenyataan.

• • •