eXTReMe Tracker
if knowledge is power, then passion is the engine, body is the vehicle, and conscience is the driver

Blog ini sudah pindah ke http://www.orangenexus.com

July 28, 2010

‘The long tail’

Filed under: Entrepreneurship, E-Business, Reviews, Column Archive — itpin @ 8:42 am

Bila sampai hari ini Anda belum mendengar istilah ‘the long tail‘, sangat mungkin dalam beberapa waktu ke depan, Anda akan sering mendengarnya. Dan sebelum Anda mendapatkan diri terlibat dalam percakapan mengenai topik ini, ada baiknya Anda mengetahui terlebih dahulu ada apa di balik istilah ‘the long tail‘ sehingga rekan-rekan diskusi Anda bakal terpesona dengan luasnya pengetahuan Anda (atau dalam kasus ini, panjangnya pengetahuan Anda).

Silakan baca lanjutan artikel tentang The Long Tail ini di Orange Nexus dengan meng-klik link ini.

• • •
 

August 16, 2006

Poros benua dan kemerdekaan Indonesia

Filed under: Reviews — itpin @ 8:37 am

Kita mungkin sering bertanya-tanya, kenapa ada bangsa atau ras yang maju dan ada yang ketinggalan jauh. Penduduk asli seperti Aborigin di Australia, misalnya, masih hidup di jaman batu ketika bangsa Eropa memasuki benua tersebut. Sampai saat ini pun, ada sebagian suku-suku di Indonesia yang kehidupannya tidak jauh beranjak dari kebudayaan jaman batu. Melihat perbedaan tersebut, kita sering berkesimpulan bahwa perbedaan tersebut terletak pada perbedaan kecerdasan yang jauh, seolah-olah umat manusia ini terdiri dari spesies berbeda. Yang lebih disayangkan lagi, banyak yang menjadikan itu sebagai alasan untuk merasa rendah diri sebagai anak bangsa yang dianggap masih ‘terbelakang’.

Apakah kesimpulan tersebut benar? Dalam agama, kita sering diajari bahwa setiap manusia itu sama. Gerakan hak asasi juga mengeluarkan pernyataan yang bernada serupa. Tetapi, apakah ada bukti yang bisa diterima nalar bahwa perbedaan tersebut bukan disebabkan oleh kemampuan individu? Jared Diamond mengambil tantangan tersebut dan hasil penelitiannya dituangkan dalam buku Guns, Germs, and Steel yang menerima banyak penghargaan.

Dalam buku tersebut, Diamond menyimpulkan bahwa perbedaan kemajuan budaya tersebut bukan disebabkan oleh perbedaan kecerdasan. Bahkan dengan nada simpatik, Diamond berargumen bahwa kebudayaan yang dianggap terbelakang sebenarnya memaksa penduduknya untuk lebih kreatif dibanding kebudayaan modern yang dimanja oleh MTV. Apa yang terjadi sebenarnya adalah, kebudayaan yang lebih maju (terutama di Eropa, Afrika Utara, dan Asia - yang disingkat Eurasia) sebenarnya disebabkan karena wilayah tersebut mendukung terbentuknya masyarakat pertanian lebih dahulu. Sementara di bagian lain, karena kondisi geografis, masyarakat pertanian terlambat muncul menggantikan masyarakat pemburu nomaden.

Apa yang istimewa dari masyarakat pertanian ini? Dibanding dengan masyarakat pemburu nomaden, masyarakat pertanian mampu menyimpan surplus produksi mereka. Sebagian dari surplus tersebut bisa dipakai untuk mensubsidi profesi lainnya seperti tukang (yang merupakan cikal bakal kesenian). Masyarakat pertanian yang menetap juga memunculkan kebutuhan akan administrasi dan birokrasi. Karena tidak perlu berpindah-pindah, mereka bisa beranak pinak lebih banyak. Kompleksitas masyarakat semacam itu memaksa munculnya inovasi-inovasi dalam kebudayaan bersangkutan. Menyusul pertanian, peternakan juga muncul. Setelah itu: huruf dan angka. Yang tidak kalah pentingnya, interaksi antara manusia dengan hewan peliharaan mengakibatkan menularnya beberapa penyakit dari hewan ke masyarakat ini. Sepanjang sejarah, proses penularan tersebut memang menimbulkan banyaknya kematian di dalam masyarakat pertanian itu sendiri, namun yang bertahan hidup akhirnya mengembangkan kekebalan tubuh.

Kekebalan terhadap kuman ini lah yang menjadi salah satu alasan superioritas masyarakat pertanian terhadap pemburu ketika kedua kebudayaan tersebut bertemu. Sebagai contoh, ketika bangsa Spanyol berperang melawan bangsa Inca dan Aztec, kado kuman dari kerajaan Spanyol membunuh lebih banyak korban dari pihak lawan dibanding senjata dan mesiu.

Lalu apa yang menyebabkan kontinental Eurasia lebih kondusif untuk masyarakat pertanian? Jawabannya adalah: Geografi. Bila Anda bisa melukiskan peta dunia di kepala Anda, tentunya Anda tahu bahwa benua Eropa dan Asia sebenarnya saling bertautan secara horizontal dari Portugal sampai Jepang. Dengan kata lain, benua ini memanjang secara horizontal. Bandingkan dengan benua Amerika dan Afrika yang memanjang ke bawah (vertikal). Kita mungkin menganggap itu bukanlah hal penting dalam menentukan kemajuan budaya dan masyarakat. Diamond menganggap itu adalah faktor yang paling penting.

Benua yang horizontal (atau menurut istilah Diamond, berporos Timur-Barat) memiliki keunggulan karena daerah-daerah yang terletak bersebelahan secara horizontal kemungkinan besar memiliki iklim yang sama. Selain itu, wilayah-wilayah tersebut memiliki panjang hari yang sama. Iklim dan panjang hari yang sama memungkinkan tanaman yang sukses dikembangkan sebagai bahan pertanian di satu tempat diterima di tempat lain tanpa masalah berarti. Sebagai contoh, gandum dan buah-buahan yang dikembangkan di Mesopotamia dengan cepat menyebar ke Eropa. Sementara untuk benua yang berporos Utara-Selatan, pengembangan di satu wilayah sering mendapat hambatan untuk ditransfer ke tempat lainnya karena adanya perbedaan iklim yang kontras. Varian jagung di Meksiko, misalnya, membutuhkan waktu yang lama untuk tiba di Amerika Serikat.

(Meski Diamond tidak mengambil kepulauan Indonesia sebagai contoh, saya pribadi yakin teori tersebut berlaku juga untuk menjelaskan perbedaan kemajuan di kepulauan Indonesia. Alasan mengapa kebudayaan Jawa lebih maju dibanding kebudayaan dari pulau lain adalah karena alasan geografi. Jawa memiliki poros Timur-Barat dan akses geografis dari ujung timur ke barat hampir tidak menemui hambatan.)

Secara singkat, tidak ada alasan bagi kita untuk memandang rendah bangsa/suku lain yang terbelakang. Dan jelas tidak ada alasan juga bagi kita untuk memandang rendah diri kita sendiri. Perbedaan yang muncul bukan disebabkan oleh superioritas/inferioritas pada tingkatan individu, tetapi karena kondisi geografi yang harus dihadapi para nenek moyang kita. Sedangkan di jaman modern ini, perbedaan yang ada antara negara miskin dan kaya lebih disebabkan oleh sistem dan budaya yang sudah terbentuk. Tentu saja, sebagai manusia yang memiliki akal budi, kita memiliki kemampuan untuk merubah sistem dan budaya yang ada di sekitar kita.

Meski terlalu cepat sehari, ijinkan saya mengucapkan Selamat Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ke-61. Maju terus, bangsa Indonesia!

• • •
 

June 26, 2006

‘Cars’ dan globalisasi

Filed under: Globalization, Reviews — itpin @ 8:43 am

Sudahkah Anda menonton film animasi 3D terbaru dari Pixar, Cars? Bila sudah, Anda mungkin tanpa sadar telah disuguhi pelajaran ekonomi, terutama dalam kaitan dengan perdagangan dan globalisasi.

Dalam film tersebut, sang pemeran utama, si mobil balap baru Lightning McQueen, terdampar di daerah gurun dari perjalanan menuju LA untuk mengikuti babak akhir kejuaraan balap mobil Piston Cup. Karena kebingungannya, dia akhirnya harus berurusan dengan aparat hukum dan diberi hukuman kerja sosial di sebuah kota terpencil Radiator Springs. Aktivitas perekonomian kota kecil ini hampir mati karena tidak ada pendatang dari luar yang berkunjung. Namun kota tersebut ternyata merupakan kota yang hidup dan berjaya bertahun-tahun sebelumnya. Yang membuat perbedaan antara kedua kondisi tersebut adalah dibangunnya jalan raya baru, Interstate 40, yang tidak melewati kota tersebut. Sebelumnya, kota tersebut dilewati jalan raya lama Route 66. Perbedaan antara adanya akses ke dunia luar dan tidak adalah penentu mati hidupnya perekonomian sebuah daerah.

Bila Anda menganggap cerita tersebut hanyalah cerita kartun, maka cerita berikut mungkin bisa mengubah pandangan Anda. Pada abad ke-9 di negeri yang sekarang kita kenal dengan nama Belgia, Bruges merupakan kota yang sangat terkenal. Kota ini terletak di pinggir sungai Zwin yang berdekatan dengan muara laut. Karena letaknya yang strategis, Kota ini menjadi pusat perdagangan di Eropa bagian utara. Pedagang-pedagang dari Spanyol, Inggris, Belanda, Prancis, Rusia dan lainnya bertemu di kota tersebut untuk bertukar dagangan. Akibat aktivitas perdagangan yang ramai tersebut, kota ini menjadi kaya raya dan makmur. Penduduk kota ini sempat mencapai 2 kali kota London. Ratu Prancis yang pernah mengunjungi kota ini pernah dengan terkagum-kagum berkata “Aku berpikir aku adalah ratu, namun di sini aku menyaksikan 600 orang pesaing.”

Kejayaan tersebut terus berlangsung sampai 250 tahun, meski kota tersebut berganti penguasa dan ditaklukkan oleh negeri-negeri lain berulang kali. Industri-industri baru berkembang; dan demikian juga dengan kesenian dan bidang-bidang lainnya.

Namun pada abad ke-15, endapan di Zwin membuat kapal-kapal besar mulai kesulitan mencapai kota Bruges. Para pedagang terpaksa memindahkan pusat perdagangan ke kota lain yang lebih mudah diakses lewat laut, yaitu Antwerpen. Perlahan-lahan Bruges menjadi kota mati. Para penduduk dan bisnis lokal perlahan-lahan meninggalkan kota tersebut. Hari ini, kejayaan masa silamnya hanya bisa disaksikan di museum dan gedung-gedung bersejarah yang masih berdiri.

Di negeri bahari kita sendiri, banyak ahli yang berpendapat kemunduran kerajaan Majapahit dimulai pada saat kerajaan tersebut memutuskan untuk memindahkan pusatnya dari pesisir ke pedalaman Jawa. Akibat keputusan tersebut, aktivitas perekonomian dengan saudagar-saudagar dari negeri lain berkurang drastis. Dengan berkurangnya aktivitas perekonomian, berkurang juga upeti yang diterima kerajaan. Ujung-ujungnya, kurangnya kas kerajaan membuat pertahanan negara melemah. Kesempatan ini dipergunakan oleh kerajaan-kerajaan lainnya yang berpusat di pesisir untuk meningkatkan kemakmuran dan kekuatannya yang akhirnya berhasil menaklukkan Majapahit.

Kasus di atas melukiskan pentingnya perdagangan untuk menaikkan taraf kemakmuran dan kelangsungan hidup sebuah negara. Perdagangan tersebut hanya bisa terjadi bila kita bersedia membuka diri dengan dunia luar. Kecaman para pendukung anti-globalisasi jelas ada benarnya. Globalisasi memang telah menciptakan jurang yang semakin lebar antara kaya dan miskin. Namun bila globalisasi dihilangkan, walau jurang kekayaan tersebut akan menyempit, yang ada hanyalah yang miskin dan yang miskin (kecuali penguasa dan kroni-kroninya). Mau contoh? Lihat saja Korea Utara atau Myanmar. Atau Cina, Mongolia, India, Uni Soviet, dan negara-negara Eropa Timur pada 20-30 tahun sebelumnya. Afrika Selatan yang dulunya sempat diembargo ekonomi karena politik apartheid-nya juga pernah mengalami kesulitan ekonomi. Setelah embargo tersebut dicabut, barulah negara tersebut mampu menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia.

Dalam menghadapi globalisasi, kita tidak perlu berpikiran negatif. Bila kita siap, globalisasi justru merupakan berkah. Kuncinya tentu saja adalah kata siap. Sebagai individu, siapkah Anda dengan terus mempersenjatai diri dengan cara pikir dan pengetahuan terkini? Sebagai perusahaan, siapkah perusahaan Anda bersaing secara global dengan strategi yang benar? Sebagai negara, siapkah pemerintah kita memangkas birokrasi dan menciptakan iklim investasi yang baik? Selain itu, sebagai masyarakat, siapkah kita menangkal efek samping globalisasi berupa masuknya budaya yang tidak cocok dengan nilai-nilai kita? India berhasil menarik manfaat dari globalisasi tanpa menghancurkan budayanya. Mengapa kita tidak bisa?

Sebagai catatan tambahan, salah satu jalur perdagangan terbesar telah dibangun saat ini. Jalur tersebut bukan Interstate 40. Kita mengenalnya dengan nama Internet. Dengan Internet, kita tidak perlu berlokasi di kota-kota strategis untuk menjalankan aktivitas perekonomian. Yang penting adalah akses Internet yang baik. Tapi, apakah saat ini, infrastruktur fisik dan pengetahuan kita juga sudah siap untuk itu? Berapa persen penduduk kita yang mampu mengakses broadband? (Jangankan broadband, untuk akses modem saja mungkin masih terbatas di kota-kota.) Seberapa siap lembaga pendidikan kita menghasilkan lulusan yang mampu memanfaatkan Internet selain untuk sarana chatting? Sebagai individu, siapkah juga Anda untuk membuka bisnis di Internet (dan bukan sebagai penjual nomor kartu kredit curian atau money games)? Dan pemerintah? Seberapa serius pemerintah kita menempatkan akses Internet sebagai agenda pembangunan nasional? Apakah kita hanya bisa menyaksikan negara-negara lain memanfaatkan jalan raya baru tersebut dari tepi jalan dengan hati iri dan mencari kambing hitam untuk kekurangan kita?

Semuanya terserah kita…

Pada akhir cerita di Cars, kota Radiator Springs akhirnya mampu menghidupkan dirinya kembali. Bagi Anda yang belum menonton, ada baiknya Anda menonton sendiri akhir ceritanya. Namun bagi yang tidak sabar, keberhasilan mereka diraih berkat: optimisme, kerukunan, kesiapan, dan kerja sama (atau meminjam istilah dari budaya kita: gotong royong).

• • •
 

May 22, 2006

Ekonomi Semakin ‘Sexy’

Filed under: Reviews, Economics — itpin @ 8:23 am

Ekonomi terkenal sebagai ilmu yang kering dan terlalu rasional. Namun untungnya, belakangan ini telah bermunculan buku-buku yang mencoba mengupas ilmu tersebut ke dalam bahasa awam dan mengaplikasikannya dalam hidup sehari-hari. Beberapa dari buku tersebut adalah:

  • Freakonomics, karangan Steven D. Levitt dan Stephen J. Dubner. Bila Anda ingin tahu apa persamaan agen real-estate dengan Ku Klux Klan, mengapa penjual obat bius tetap tinggal dengan orang tuanya, bagaimana tindakan seorang ibu yang ingin mengaborsi bayinya ternyata berhasil menurunkan tingkat kriminalitas di seluruh US, mana yang lebih berbahaya untuk anak kecil: pistol atau kolam renang, dan apa hubungan nama Anda dengan penghasilan Anda saat ini; inilah bukunya. Levitt, ekonom dari University of Chicago dan Dubner, penulis untuk The New York Times berhasil membuat ekonomi menjadi petualangan ala Sherlock Holmes yang berusaha mencari kebenaran sejati di balik apa yang kita terima sebagai kebenaran konvensional. Menurut saya, buku ini lebih merupakan buku yang bisa menantang cara berpikir Anda dibanding sebagai buku tentang ekonomi (walau buku tersebut telah dipakai sebagai textbook ekonomi di beberapa sekolah karena popularitas dan daya tarik cerita-cerita yang disajikannya).
  • The Undercover Economist, karangan Tim Harford, penulis kolom di Financial Times. Buku ini lebih ‘ekonomi’ dibanding Freakonomics. Namun, tetap saja ringan untuk dibaca siapa saja yang tidak memiliki latar belakang ilmu ekonomi atau bisnis. Harford menyajikan ilmu ekonomi secara lugas dan menghubungkannya dengan hal-hal nyata seperti: mengapa harga-harga di supermarket berbeda-beda, mengapa infrastruktur transportasi yang baik bisa menurunkan harga rumah di tengah kota, mengapa terjadi kemacetan di jalan dan polusi lingkungan dan bagaimana mengatasinya, atau mengapa Kamerun tetap miskin tetapi Cina bisa kaya padahal dulunya Cina lebih miskin dari Kamerun. Pembaca awam dipastikan akan lebih menghargai peranan ilmu ekonomi dalam hidupnya setelah menyelesaikan buku ini.
  • The World Is Flat, karangan Thomas L. Friedman. Buku ini sudah saya singgung sekilas pada posting sebelumnya. Meski bukan seorang ekonom, Friedman mampu menceritakan tentang asal muasal dan dampak globalisasi dengan jelas dan menarik. Buku yang ditulis seperti novel ini membuat pembacanya tidak bisa meletakkannya begitu saja. Sangat perlu dibaca untuk semua orang, terutama para pengusaha dan profesional untuk membayangkan langsung denyut-denyut globalisasi. (Bagi para ekonom yang penasaran: Thomas Friedman tidak memiliki hubungan keluarga dengan Milton Friedman.)
  • Confessions of An Economy Hit Man, karangan John Perkins. Dalam buku bak novel Sidney Sheldon ini, Perkins menceritakan bagaimana pemerintah US, IMF, dan World Bank, dengan didukung beberapa perusahaan multinasional, menjalankan strategi yang sistematik dan terselubung agar US bisa menguasai perekonomian negara-negara tertentu. Beberapa contoh yang diberikan adalah: invasi ke Panama, dan invasi ke Irak tahun 2003. Ada juga cerita tentang Indonesia. Walau banyak yang meragukan keabsahan teori konspirasi yang diurai Perkins, banyak juga yang menggunakan buku ini sebagai argumen untuk mengkritik habis hegemoni ekonomi US, IMF, dan World Bank.
  • The Roaring Nineties, karangan Joseph E. Stiglitz, seorang pemenang hadiah Nobel ekonomi dan mantan penasehat ekonomi Bill Clinton. Dalam buku ini, Stiglitz menelusuri pengalamannya selama bertugas di Washington dan berkesimpulan bahwa ekonomi pasar bebas US terlalu bebas sehingga menyebabkan berbagai masalah sosial dan skandal-skandal seperti Enron. Pemerintah seharusnya melakukan campur tangan terbatas untuk membantu pemerataan sosial. Dia juga mengkritik globalisasi yang terjadi sekarang dan apa yang harus dilakukan untuk menarik manfaat maksimal dari globalisasi sambil mengurangi dampak sosialnya.  Seperti Confessions, Indonesia juga menjadi salah satu bahan bahasan, terutama pada saat krisis ekonomi 1997. (Buku ini telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul Dekade Keserakahan.)
  • Co-Opetition, karangan Adam M. Brandenburger dan Barry J. Nalebuff. Buku ini sebenarnya populer di tahun 1990-an karena berhasil mempopulerkan game theory tanpa menggunakan persamaan matematika. (Game theory adalah cabang ilmu ekonomi yang menggunakan matematika secara intensif. Hal ini tidak terlepas dari kejeniusan para penggagas teori ini seperti John von Neumann dan John Nash. Neumann diceritakan bisa menyelesaikan persoalan serumit apa pun hanya dengan sekejap, sementara cerita tentang Nash bisa ditonton di film A Beautiful Mind.) Mereka menggunakan prinsip-prinsip game theory untuk menjelaskan beberapa kasus bisnis terkenal seperti pertarungan antara Atari, Sega, dan Nintendo; atau mengapa promosi ‘everyday low prices‘ yang diterapkan supermarket sebenarnya justru merugikan konsumen.

Buku-buku di atas pernah atau masih menjadi best sellers. Mereka telah membantu mempopulerkan ilmu kering kerontang yang dulunya hanya dianggap sebagai penentuan masalah supply-demand dan buy-low sell-high tersebut. Namun, selain buku-buku tersebut, jangan lupakan beberapa buku lain yang kualitasnya hampir sama. Beberapa di antaranya:

  • Sex, Drugs and Economics, karangan Diane Coyle. Lewat judulnya yang provokatif, kita bisa menduga bagaimana Coyle berusaha keras menjelaskan ekonomi lewat topik-topik yang ‘hangat’ dan malah ‘panas’, seperti industri seks, obat-obat terlarang, olah raga, musik, hiburan, dan lainnya. Sayangnya, meski buku ini sangat membantu untuk mendalami dunia ekonomi, buku ini kalah jauh dalam hal penjualan dibanding Freakonomics dan The Undercover Economist. Mungkin rendahnya penjualan buku ini membuat Coyle lebih menyadari lagi pentingnya hukum supply and demand: supply buku-buku sejenis sudah terlalu banyak di pasaran!
  • Reinventing the Bazaar, karangan John McMillan. Buku ini dengan lugas menceritakan evolusi pasar dari pasar-pasar jaman kuno sampai saat ini. McMillan juga mengemukakan pendapatnya bahwa untuk mencapai pasar yang baik, ada 5 hal yang harus dipenuhi: kepercayaan sosial yang tinggi, perlindungan atas hak-hak properti, pencegahan negative externalities (semoga saya sempat menulis tentang externalities suatu saat nanti, karena ini adalah topik yang menarik), informasi yang mengalir bebas, dan kompetisi. McMillan juga menganjurkan peranan pemerintah yang terbatas untuk mengawasi pasar.
  • Thinking Strategically (Avinash K. Dixit dan Barry J. Nalebuff), dan Game Theory at Work (James Miller). Kedua buku ini juga membahas tentang game theory, namun tidak seringan Co-Opetition. Bagi yang tertarik untuk mendalami game theory, kedua buku tersebut juga dianjurkan.

Anda yang pernah membaca salah satu dari buku-buku di atas pasti akan lebih menghargai peranan ekonomi dalam hidup kita. Para pengarang Freakonomics memang mengatakan ilmu ekonomi berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Namun sang pengarang Sex, Drugs dan Economics juga memberikan satu pertanyaan yang menantang: mengapa tidak banyak orang yang bekerja di bidang (maaf), prostitusi? Supply terbatas, dan demandnya? Ehm.. katakanlah cukup banyak. Bayaran tinggi, waktu kerja fleksibel, dan bisa bekerja di rumah lagi! Bila dilihat dari kaca mata ekonomi belaka, seharusnya bidang pekerjaan ini banyak peminatnya, namun kenyataannya tidak. Menurut pengarang tersebut, Diane Coyle, untuk menjawab pertanyaan tersebut, orang harus berpaling ke tempat lain seperti agama, moral, psikologi, dan sosiologi.

Singkatnya, meski ekonomi mampu membantu kita memahami apa yang terjadi di sekeliling kita, ekonomi tidaklah menawarkan satu-satunya jawaban.

• • •
 

May 20, 2006

Fenomena ‘The Flat World’

Filed under: Current Events, Social Entrepreneurship, Globalization, Reviews — itpin @ 8:05 am

Saat ini saya sedang membaca buku Thomas L. Friedman, The World Is Flat, yang menceritakan tentang sejarah globalisasi saat ini, yang oleh Friedman disebut sebagai Globalization 3.0 (Globalisasi 1.0 adalah globalisasi antar negara yang dimulai dari perjalanan Columbus, Globalisasi 2.0 adalah globalisasi antar perusahaan yang dimulai sekitar 1800an, dan Globalisasi 3.0 adalah globalisasi antar individu seperti yang kita alami saat ini). Lewat buku best-seller ini, pembaca akan terbawa menelusuri sejarah globalisasi yang dimulai dengan runtuhnya Tembok Berlin, revolusi Internet, outsourcing, Wikipedia, blogging, open source software, Wal-Mart, sampai ke munculnya media-media mobile seperti PDA dan handphone. Buku ini juga akan membawa kita mengalami secara langsung kemajuan yang telah dibuat India dan Cina dengan merangkul globalisasi. Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca siapa pun karena sadar atau tidak, hidup kita sangat dipengaruhi oleh Globalisasi 3.0 ini. Sayangnya, sejauh ini saya belum melihat versi terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

Sementara masih membaca bab-bab awal, saya sempat juga bersua dengan artikel mengenai maraknya trend outsourcing di negara-negara Eropa Timur, terutama Bulgaria. Kedekatan Bulgaria dengan negara-negara Eropa Barat, namun dengan biaya tenaga kerja yang relatif rendah, membuat eks negara komunis ini menjadi alternatif yang sangat menarik bagi perusahaan-perusahaan US untuk dijadikan tujuan outsourcing. Sebenarnya negara-negara Eropa Timur lainnya juga tidak mau ketinggalan dengan Bulgaria. Rusia, Ukraina, dan negara-negara Balkan juga berlomba-lomba memposisikan negara mereka sebagai tujuan outsourcing yang paling baik, terutama untuk sektor TI.

Membicarakan tentang outsourcing TI di negara-negara Eropa Timur mungkin terlalu jauh buat kita. India dan Cina? Masih agak jauh juga? Bagaimana dengan Kamboja dan Laos? Apakah kedua negara yang lebih miskin dari Indonesia ini, dan barusan membuka ekonominya dalam satu dekade terakhir masih terlalu jauh untuk dibicarakan?

Memang di kedua negara tersebut, outsourcing sektor TI yang dilakukan belumlah setaraf dengan apa yang terjadi di India atau Cina. Bila di India, Cina, dan Eropa Timur, mereka sudah menerima outsourcing pekerjaan TI yang membutuhkan intelektual dan kreativitas, di Kamboja dan Laos, outsourcing TI masih sebatas melakukan data entry untuk perusahaan-perusahaan negara maju yang ingin mendigitalkan koleksi perpustakaan mereka. Para pekerja ini disebut sebagai digital factory workers.

Lewat perusahaan Digital Data Divide, yang dibangun dengan filosofi social entrepreneurship oleh warga negara US Jeremy Hockenstein pada tahun 2001, para pekerja di kedua negara tersebut dibayar upah yang mencukupi kebutuhan hidup mereka secara layak untuk pekerjaan mengkonversi data-data analog ke bentuk digital. Pekerja direkrut dari kaum miskin atau orang-orang cacat dan bekerja 6 jam sehari. Selain itu, mereka diberi kursus komputer dan bahasa Inggris. Salah satu hasil kerja mereka bisa dilihat di arsip situs surat kabar Harvard Crimson.

Apa yang terjadi di Kamboja dan Laos memang masih merupakan awal, namun bagaimana dengan Indonesia? Kapan terakhir kali kita mendengar outsourcing TI yang diberikan untuk negara kita, yang sekaligus mampu membantu permasalahan sosial yang kita hadapi? Kapankah kita bisa menarik keuntungan dari the flat world ini, dan bukan hanya sebagai konsumen barang-barang global? Hal yang sangat disayangkan karena konsep seperti Digital Data Divide sebenarnya cocok untuk diterapkan di bumi Nusantara ini.

• • •