|

Cuplikan Buku ‘Ketika Archimedes Berteriak Eureka!’

Berikut adalah cuplikan untuk buku ‘Ketika Archimedes Berteriak Eureka!‘ Buku ini direncanakan terbit tahun 2012 oleh Elex Media. Silakan ‘Like‘ halaman pengarang di http://www.facebook.com/itpinarifin untuk informasi penerbitan lebih lanjut dan artikel-artikel terkait lainnya.

Altamira…

Daerah ini terletak di antara pantai utara Spanyol dan Pegunungan Cantabrian. Dari wilayah perbukitan Altamira, kita bisa melihat hamparan tanah pertanian yang menyejukkan mata. Indah, permai, menenteramkan, wilayah ini sebenarnya bukanlah tempat yang istimewa. Setidaknya, sampai seorang pemburu kehilangan anjing spaniel-nya di suatu hari di tahun 1868.

Hari itu, seorang pemburu yang sedang memburu rubah-rubah di sekitar Altamira kebingungan mencari anjing spaniel-nya yang tiba-tiba raib ditelan bumi. Pemburu ini sudah mencari ke segala tempat yang mungkin dengan sia-sia. Sebelum berputus asa, akhirnya dia menemukan sebuah retakan kecil di atas tanah. Ketika dia mencoba mendengar melalui lubang tersebut, samar-samar dia mendengar suara gonggongan anjing. Hatinya bersorak gembira. Anjingnya ternyata memang benar-benar ditelan bumi. Maka, pemburu itu pun memperlebar lubang tersebut, dan masuk ke dalam lubang yang gelap gulita untuk mengeluarkan anjingnya. Rasa penasaran membuatnya melihat sekeliling. Secercah cahaya kecil yang masuk ke dalam kegelapan tersebut meyakinkan pemburu tersebut bahwa dia telah menemukan sebuah gua.

Tujuh tahun berlalu sebelum pemilik tempat tersebut, Don Marcelino, mendengar tentang gua itu dari salah satu penduduk desa. Don Marcelino, atau dikenal juga dengan nama Marquis de Sautuola, adalah bangsawan kaya yang mampu memanfaatkan waktu luangnya untuk mempelajari bermacam-macam ilmu. Dia tumbuh menjadi seorang pecinta buku dan tanaman, menyusun silsilah keluarga orang-orang terhormat di wilayah sekitarnya, dan kebetulan juga menyukai geologi dan arkeologi. Mengetahui adanya gua di tanah miliknya, dia kemudian membawa beberapa pekerja untuk membuka lubang masuk. Don Marcelino lalu masuk sendiri ke dalam. Dengan lampu senter, dia menemukan beberapa tulang besar yang patah.

Penasaran, tulang-tulang tersebut kemudian ditunjukkan kepada temannya Don Juan Vilanova, seorang profesor geologi dari Universitas Madrid. Profesor Vilanova mengenali tulang-tulang tersebut sebagai bagian dari bison, kuda liar, dan sejenis rusa raksasa yang sudah punah. Dia berkesimpulan, tulang tersebut patah karena dimakan oleh manusia yang pernah berdiam di sana.

Empat tahun berlalu lagi tanpa kejadian berarti di dalam gua tersebut. Namun bayangan gua tersebut tidak pernah hilang dari kepala Don Marcelino. Dia mengelilingi gua-gua lain di Spanyol dan belajar tentang teknik-teknik eskavasi gua. Pada tahun 1878, dia kebetulan mengunjungi sebuah pameran internasional di kota Paris. Di sanalah dia terkesima melihat pameran benda-benda peninggalan pra-sejarah yang diperoleh dari salah satu gua di Perancis. Pameran tersebut membangkitkan minat Don Marcelino untuk kembali ke dalam guanya. Pada kunjungan berikutnya, dia kemudian menemukan beberapa peralatan dari batu, yang meyakinkannya bahwa gua tersebut memang pernah dihuni orang-orang purba.

Sayang sekali, kegiatan menggali sendirian di dalam sebuah gua gelap di usia yang ke-48 bukanlah pekerjaan yang mengasyikkan. Maka, ketika putrinya, Maria yang berusia 9 tahun ingin ikut ke dalam gua tersebut, Don Marcelino setuju. Ayah dan anak pun berangkat ke gua pada hari itu. Saat sang ayah sibuk menggali dekat pintu keluar, si kecil Maria masuk lebih jauh ke dalam gua.

Tak lama kemudian, Don Marcelino tiba-tiba dikejutkan suara teriakan putri tercintanya. “Papa, Papa! Mira! Toros pintados!” (Papa, Papa! Lihatlah gambar banteng!) Terkejut dengan teriakan putri tercinta, dia langsung berlari ke dalam tempat anaknya. Sang putri sedang menunjuk ke langit-langit gua. Dengan bantuan lampu, Don Marcelino melihat ke atas langit-langit, dan kedua orang tersebut menyaksikan untuk pertama kalinya lukisan indah dari jaman prasejarah. Lukisan yang menggambarkan bison-bison tersebut bukan sekedar lukisan biasa, tetapi lukisan berwarna! Beberapa lukisan malah menampilkan efek tiga dimensi. Sebagai orang yang berpendidikan tinggi dan berpengetahuan luas, Don Marcelino segera mengetahui lukisan tersebut bukan karya asal-asalan. Hanya seorang maestro pelukis yang mampu melukis sehalus dan seindah itu. Bahkan hanya segelintir pelukis terkenal dari Paris dan Madrid yang mampu menandingi keindahan lukisan-lukisan tersebut.

Dia memperhatikan lebih teliti gua tersebut. Lukisan bison-bison tersebut ternyata menyebar di atas langit-langit dan sebagian di dinding-dinding sekitar. Semangatnya langsung menyala-nyala. Don Marcelino menyadari mereka adalah saksi pertama karya lukis dari jaman prasejarah. Ini adalah penemuan bersejarah dan aku menjadi bagian dari sejarah itu! Kita tidak tahu apakah malamnya dia bisa tidur atau tidak, tetapi beberapa hari kemudian, profesor Vilanova datang dari Madrid dengan semangat yang sama berkobarnya.

Kedua orang ini kemudian sama-sama memeriksa sekitar 150 lukisan di gua tersebut. Lukisan-lukisan tersebut ternyata dibuat oleh cat yang mempergunakan lemak binatang sebagai salah satu bahannya. Lemak, ditambah dengan suhu rendah di gua, membuat lukisan-lukisan tersebut kelihatan masih baru. Karena itu, mereka mampu merekonstruksi teknik yang dipergunakan untuk melukis dengan mudah. Kedua orang tersebut memperkirakan lukisan tersebut dibuat di Zaman Batu[2].

Hasil penelitian mereka tersebut kemudian diterbitkan oleh Dan Marcelino dalam sebuah makalah ilmiah. Sayang seribu sayang, kaum cendekiawan Eropa belum siap menerima berita mengejutkan tersebut. Saat itu, hampir semua ilmuwan percaya bahwa orang purbakala belum mengembangkan ketrampilan melukis setinggi itu. Alih-alih, mereka berdua malah dianggap menciptakan tipuan murahan untuk mencari sensasi. Mana mungkin para pelukis dari zaman prasejarah mampu melukis sebaik para seniman terbaik dari kota Paris? Skeptisme para ahli tersebut sungguh besar, sampai-sampai mereka melarang Don Marcelino hadir di kongres-kongres para ahli pra-sejarah. Sampai beliau meninggal tahun 1888, penemuan dan karya ilmiahnya tetap dianggap sebagai tipuan murahan.

Salah satu penentang terbesar Don Marcelino adalah Professor Cartailhac, profesor pra-sejarah dari Universitas Toulouse. Beberapa tahun kemudian, ketika seorang padri muda, Abb´e Henri Breuil menunjukkan gambar prasejarah yang hampir sama dari sebuah gua di selatan Perancis kepada Cartailhac, barulah profesor ini menyadari kesalahannya. Dengan jiwa besar, dia segera menulis sebuah makalah untuk meminta maaf kepada Don Marcelino dan kemudian datang sendiri ke Altamira untuk memohon maaf pada Maria, si anak yang pertama kali menemukan lukisan tersebut. Nama baik Don Marcelino berhasil dipulihkan kembali. Dia kini boleh beristirahat dengan tenang.

***

Mari kita lihat bagaimana cerita di atas berkaitan dengan kreativitas. Sebagai awal, cerita tersebut menunjukkan manusia purba sudah menunjukkan sisi artistik mereka. Jauh sebelum penemuan teknologi dan sistem ekonomi modern, seni adalah bentuk kreativitas tertua. Lukisan di Altamira tersebut adalah bukti kreativitas sudah hadir bersama umat manusia sejak dulu kala, yang tentu membuat kita harus mengajukan pertanyaan yang satu ini: Mengapa kita diberikati dengan otak yang kreatif? Mengapa otak kita perlu menemukan atau menciptakan sesuatu yang baru? Apakah kemampuan menciptakan tersebut – termasuk melukis di langit-langit – mampu membantu keberlangsungan hidup kita sebagai manusia? Dan apakah seni dan kreativitas adalah hak ekslusif spesies manusia? Kita akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di artikel berikutnya.

Tetapi kisah di atas tidak sekedar menjadi pengantar ke masa-masa awal peradaban manusia dan peranan kreativitas terhadap keseluruhan sejarah umat manusia. Secara spesifik, kisah Don Marcelino juga menghadirkan lebih banyak pertanyaan lain yang terkait dengan isi buku ini. Apakah Don Marcelino layak dianggap orang yang kreatif? Ingat: bukan dialah yang menemukan gua tersebut. Gua tersebut ditemukan oleh seekor anjing spaniel terlebih dahulu, kemudian tuannya, yang memberitahu kepada teman-temannya, dan salah satu temannya memberitahu kepada Don Marcelino. Bukan Don Marcelino juga yang menemukan lukisan tersebut, tetapi putrinya. Dan tentu saja, kebetulan gua tersebut terletak di bawah tanah miliknya. Semua rentetan kejadian tersebut adalah alasan kuat mengapa nama Don Marcelino tidak pantas dimasukkan ke dalam buku yang mempelajari tentang proses kreativitas. Namun mengapa justru kisahnya terpilih untuk membuka buku ini?

Bagaimana pula dengan Maria kecil? Mengapa dia yang menemukan lukisan tersebut dan bukan ayahnya? Lukisan tersebut ditemukan di atas langit-langit, yang sudah dilewati berkali-kali oleh Don Marcelino. Apakah benar seorang anak kecil secara intuitif memang lebih ingin tahu dan lebih mungkin menemukan sesuatu yang baru? Apakah kenaifan adalah berkah dalam kreativitas, dan pengetahuan atau pengalaman yang banyak justru menghalangi kreativitas? Lebih jauh lagi, apakah ada sifat-sifat atau kepribadian tertentu yang bisa memprediksi kreativitas seseorang?

Dan tentu saja kita juga harus mempertimbangkan reaksi profesor Cartailhac dan rekan-rekan mereka yang meremehkan penemuan Don Marcelino. Mengapa penemuan-penemuan baru selalu mendapatkan tantangan sebesar itu? Bisakah sebuah karya disebut kreatif bila tidak disetujui para pakar lainnya di bidang tersebut? Mengapa?

Kita akan kembali ke pertanyaan-pertanyaan tersebut di sepanjang buku ini. Dengan mengupas jawaban tersebut satu per satu, kita akan sama-sama mempelajari kreativitas dari berbagai sudut pandang, dan memanfaatkan pengetahuan tersebut untuk meningkatkan kreativitas pribadi kita.

Kita mulai dulu dari pertanyaan pertama: Mengapa manusia dilahirkan kreatif?

Sinopsis buku Ketika Archimedes Berteriak Eureka! bisa dibaca di laman resmi untuk buku tersebut dengan klik sini.

4 Comments for “Cuplikan Buku ‘Ketika Archimedes Berteriak Eureka!’”

  1. Bukunya di release kapan pak?

  2. @viavi: u/ jadwalnya semuanya tergantung dari pihak penerbit. kita doakan saja semoga bisa cepat :)

    sementara itu, jika ingin dapat kabar lgsg via email begitu ada kepastian tanggal terbit, bisa pre-order buku tsb. cara2nya bisa dibaca di:

    http://www.itpin.com/blog/laman-resmi-buku-ketika-archimedes-berteriak-eureka/

  3. Sy nggak sabar untuk baca buku selanjutnya :D

  4. Pak saya sudah menunggu sejak lama akhirnya terbit juga
    saya sudah pre-order dari buku pertama selesai di baca kira2 hampir setahun yg lalu

    :D

    tinggal menunggu informasi untuk tindak lanjut preordernya nih

Leave a Reply

Recently Commented

  • cholid: Pak saya sudah menunggu sejak lama akhirnya terbit juga saya sudah pre-order dari buku pertama selesai di...
  • irpan Salehuddin: Banyak inovasi-inovasi canggih di Indonesia yang berhenti ditengah jalan terbentur masalah...
  • rudiath7: Wah keren banget artikelnya.. sangat2 inspiratif. Makasih saya jadi nambah ilmu. Sepertinya jadi tahu...
  • devi: Sy nggak sabar untuk baca buku selanjutnya :D
  • admin: @viavi: u/ jadwalnya semuanya tergantung dari pihak penerbit. kita doakan saja semoga bisa cepat :) sementara...