|

Ekonomi Semakin ‘Sexy’

Ekonomi terkenal sebagai ilmu yang kering dan terlalu rasional. Namun untungnya, belakangan ini telah bermunculan buku-buku yang mencoba mengupas ilmu tersebut ke dalam bahasa awam dan mengaplikasikannya dalam hidup sehari-hari. Beberapa dari buku tersebut adalah:

  • Freakonomics, karangan Steven D. Levitt dan Stephen J. Dubner. Bila Anda ingin tahu apa persamaan agen real-estate dengan Ku Klux Klan, mengapa penjual obat bius tetap tinggal dengan orang tuanya, bagaimana tindakan seorang ibu yang ingin mengaborsi bayinya ternyata berhasil menurunkan tingkat kriminalitas di seluruh US, mana yang lebih berbahaya untuk anak kecil: pistol atau kolam renang, dan apa hubungan nama Anda dengan penghasilan Anda saat ini; inilah bukunya. Levitt, ekonom dari University of Chicago dan Dubner, penulis untuk The New York Times berhasil membuat ekonomi menjadi petualangan ala Sherlock Holmes yang berusaha mencari kebenaran sejati di balik apa yang kita terima sebagai kebenaran konvensional. Menurut saya, buku ini lebih merupakan buku yang bisa menantang cara berpikir Anda dibanding sebagai buku tentang ekonomi (walau buku tersebut telah dipakai sebagai textbook ekonomi di beberapa sekolah karena popularitas dan daya tarik cerita-cerita yang disajikannya).
  • The Undercover Economist, karangan Tim Harford, penulis kolom di Financial Times. Buku ini lebih ‘ekonomi’ dibanding Freakonomics. Namun, tetap saja ringan untuk dibaca siapa saja yang tidak memiliki latar belakang ilmu ekonomi atau bisnis. Harford menyajikan ilmu ekonomi secara lugas dan menghubungkannya dengan hal-hal nyata seperti: mengapa harga-harga di supermarket berbeda-beda, mengapa infrastruktur transportasi yang baik bisa menurunkan harga rumah di tengah kota, mengapa terjadi kemacetan di jalan dan polusi lingkungan dan bagaimana mengatasinya, atau mengapa Kamerun tetap miskin tetapi Cina bisa kaya padahal dulunya Cina lebih miskin dari Kamerun. Pembaca awam dipastikan akan lebih menghargai peranan ilmu ekonomi dalam hidupnya setelah menyelesaikan buku ini.
  • The World Is Flat, karangan Thomas L. Friedman. Buku ini sudah saya singgung sekilas pada posting sebelumnya. Meski bukan seorang ekonom, Friedman mampu menceritakan tentang asal muasal dan dampak globalisasi dengan jelas dan menarik. Buku yang ditulis seperti novel ini membuat pembacanya tidak bisa meletakkannya begitu saja. Sangat perlu dibaca untuk semua orang, terutama para pengusaha dan profesional untuk membayangkan langsung denyut-denyut globalisasi. (Bagi para ekonom yang penasaran: Thomas Friedman tidak memiliki hubungan keluarga dengan Milton Friedman.)
  • Confessions of An Economy Hit Man, karangan John Perkins. Dalam buku bak novel Sidney Sheldon ini, Perkins menceritakan bagaimana pemerintah US, IMF, dan World Bank, dengan didukung beberapa perusahaan multinasional, menjalankan strategi yang sistematik dan terselubung agar US bisa menguasai perekonomian negara-negara tertentu. Beberapa contoh yang diberikan adalah: invasi ke Panama, dan invasi ke Irak tahun 2003. Ada juga cerita tentang Indonesia. Walau banyak yang meragukan keabsahan teori konspirasi yang diurai Perkins, banyak juga yang menggunakan buku ini sebagai argumen untuk mengkritik habis hegemoni ekonomi US, IMF, dan World Bank.
  • The Roaring Nineties, karangan Joseph E. Stiglitz, seorang pemenang hadiah Nobel ekonomi dan mantan penasehat ekonomi Bill Clinton. Dalam buku ini, Stiglitz menelusuri pengalamannya selama bertugas di Washington dan berkesimpulan bahwa ekonomi pasar bebas US terlalu bebas sehingga menyebabkan berbagai masalah sosial dan skandal-skandal seperti Enron. Pemerintah seharusnya melakukan campur tangan terbatas untuk membantu pemerataan sosial. Dia juga mengkritik globalisasi yang terjadi sekarang dan apa yang harus dilakukan untuk menarik manfaat maksimal dari globalisasi sambil mengurangi dampak sosialnya.  Seperti Confessions, Indonesia juga menjadi salah satu bahan bahasan, terutama pada saat krisis ekonomi 1997. (Buku ini telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul Dekade Keserakahan.)
  • Co-Opetition, karangan Adam M. Brandenburger dan Barry J. Nalebuff. Buku ini sebenarnya populer di tahun 1990-an karena berhasil mempopulerkan game theory tanpa menggunakan persamaan matematika. (Game theory adalah cabang ilmu ekonomi yang menggunakan matematika secara intensif. Hal ini tidak terlepas dari kejeniusan para penggagas teori ini seperti John von Neumann dan John Nash. Neumann diceritakan bisa menyelesaikan persoalan serumit apa pun hanya dengan sekejap, sementara cerita tentang Nash bisa ditonton di film A Beautiful Mind.) Mereka menggunakan prinsip-prinsip game theory untuk menjelaskan beberapa kasus bisnis terkenal seperti pertarungan antara Atari, Sega, dan Nintendo; atau mengapa promosi ‘everyday low prices‘ yang diterapkan supermarket sebenarnya justru merugikan konsumen.

Buku-buku di atas pernah atau masih menjadi best sellers. Mereka telah membantu mempopulerkan ilmu kering kerontang yang dulunya hanya dianggap sebagai penentuan masalah supply-demand dan buy-low sell-high tersebut. Namun, selain buku-buku tersebut, jangan lupakan beberapa buku lain yang kualitasnya hampir sama. Beberapa di antaranya:

  • Sex, Drugs and Economics, karangan Diane Coyle. Lewat judulnya yang provokatif, kita bisa menduga bagaimana Coyle berusaha keras menjelaskan ekonomi lewat topik-topik yang ‘hangat’ dan malah ‘panas’, seperti industri seks, obat-obat terlarang, olah raga, musik, hiburan, dan lainnya. Sayangnya, meski buku ini sangat membantu untuk mendalami dunia ekonomi, buku ini kalah jauh dalam hal penjualan dibanding Freakonomics dan The Undercover Economist. Mungkin rendahnya penjualan buku ini membuat Coyle lebih menyadari lagi pentingnya hukum supply and demand: supply buku-buku sejenis sudah terlalu banyak di pasaran!
  • Reinventing the Bazaar, karangan John McMillan. Buku ini dengan lugas menceritakan evolusi pasar dari pasar-pasar jaman kuno sampai saat ini. McMillan juga mengemukakan pendapatnya bahwa untuk mencapai pasar yang baik, ada 5 hal yang harus dipenuhi: kepercayaan sosial yang tinggi, perlindungan atas hak-hak properti, pencegahan negative externalities (semoga saya sempat menulis tentang externalities suatu saat nanti, karena ini adalah topik yang menarik), informasi yang mengalir bebas, dan kompetisi. McMillan juga menganjurkan peranan pemerintah yang terbatas untuk mengawasi pasar.
  • Thinking Strategically (Avinash K. Dixit dan Barry J. Nalebuff), dan Game Theory at Work (James Miller). Kedua buku ini juga membahas tentang game theory, namun tidak seringan Co-Opetition. Bagi yang tertarik untuk mendalami game theory, kedua buku tersebut juga dianjurkan.

Anda yang pernah membaca salah satu dari buku-buku di atas pasti akan lebih menghargai peranan ekonomi dalam hidup kita. Para pengarang Freakonomics memang mengatakan ilmu ekonomi berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Namun sang pengarang Sex, Drugs dan Economics juga memberikan satu pertanyaan yang menantang: mengapa tidak banyak orang yang bekerja di bidang (maaf), prostitusi? Supply terbatas, dan demandnya? Ehm.. katakanlah cukup banyak. Bayaran tinggi, waktu kerja fleksibel, dan bisa bekerja di rumah lagi! Bila dilihat dari kaca mata ekonomi belaka, seharusnya bidang pekerjaan ini banyak peminatnya, namun kenyataannya tidak. Menurut pengarang tersebut, Diane Coyle, untuk menjawab pertanyaan tersebut, orang harus berpaling ke tempat lain seperti agama, moral, psikologi, dan sosiologi.

Singkatnya, meski ekonomi mampu membantu kita memahami apa yang terjadi di sekeliling kita, ekonomi tidaklah menawarkan satu-satunya jawaban.

Leave a Reply

Recently Commented

  • cholid: Pak saya sudah menunggu sejak lama akhirnya terbit juga saya sudah pre-order dari buku pertama selesai di...
  • irpan Salehuddin: Banyak inovasi-inovasi canggih di Indonesia yang berhenti ditengah jalan terbentur masalah...
  • rudiath7: Wah keren banget artikelnya.. sangat2 inspiratif. Makasih saya jadi nambah ilmu. Sepertinya jadi tahu...
  • devi: Sy nggak sabar untuk baca buku selanjutnya :D
  • admin: @viavi: u/ jadwalnya semuanya tergantung dari pihak penerbit. kita doakan saja semoga bisa cepat :) sementara...