eXTReMe Tracker
if knowledge is power, then passion is the engine, body is the vehicle, and conscience is the driver

Blog ini sudah pindah ke http://www.nexusnexia.com

April 21, 2006

FAQ

Filed under: Uncategorized — itpin @ 7:42 am

(FAQ ini masih dalam proses penyempurnaan)

Apa definisi dari berpikir holistik (holistic thinking)?

Kata holistic thinking cukup sering dipakai dengan definisi yang berbeda-beda. Karena itu, saya merasa perlu memberi definisi sendiri untuk blog ini.

Secara singkat, holistic thinking berarti:

  • Menyadari aktivitas berpikir sebagai aktivitas gabungan antara dimensi-dimensi spiritual (moral, etika, tujuan hidup), psikososial (motivasi, empati), rasional (tingkat pertama dan tingkat kedua, lihat penjelasan di bawah), dan fisikal (eksekusi, implementasi, menerima feedbacks). Kecerdasan pada dimensi-dimensi tersebut dilabeli dengan istilah SQ (spiritual), EQ (emosional), IQ (rasional), dan PQ (fisikal).

Karena dimensi rasional melibatkan proses kognitif yang lebih dominan, maka dimensi ini mendapatkan penekanan lebih jauh. Walau begitu bukan berarti dimensi ini lebih penting dibanding dimensi-dimensi lainnya. Dalam cara berpikir holistik, kesemua dimensi memiliki pengaruh yang sama besar dan saling mempengaruhi.

Dimensi rasional bisa dibagi lagi menjadi:

  • Pada dimensi rasional tingkat pertama, kita harus mampu berpikir secara analitis (analytical thinking), kreatif (creative thinking), dan sistemik (systems thinking). Ketiga cara berpikir tersebut dibutuhkan untuk melihat permasalahan secara menyeluruh dan mencari solusi atas permasalahan yang lebih optimal. Ketiga jenis berpikir ini kita sebut sebagai first-order thinking.
  • Pada dimensi rasional tingkat kedua, kita harus mampu berpikir secara kritis (critical thinking). Bila berpikir analitis, kreatif, dan sistemik merupakan berpikir tentang masalah; maka berpikir kritis adalah berpikir tentang proses berpikir itu sendiri. Cara berpikir ini dibutuhkan untuk menghindari atau setidaknya mengurangi kesalahan dan bias-bias (cognitive biases) yang mungkin terjadi dan mengetahui bagaimana sistem kepercayaan (belief systems), budaya (culture) dan model-model mental (mental models) yang jarang dipertanyakan bisa mempengaruhi proses berpikir kita. Hasil dari berpikir kritis ini harus dijadikan bahan renungan dan pembelajaran (learning) agar proses berpikir kita semakin terasah. Cara berpikir kritis ini disebut dengan second-order thinking.

Bagaimana berpikir holistik diterapkan dalam dunia bisnis?

Kemampuan berpikir holistik ini dibutuhkan untuk menghasilkan hal-hal seperti menciptakan inovasi-inovasi, membuka bisnis baru, manajemen perubahan, atau mengatur sumber daya manusia. Tanpa kemampuan berpikir holistik, kita sulit mendapatkan solusi optimum dalam menangani hal-hal di atas.

• • •
 

5 Comments »

  1. Saya kira sudah waktunya kita beranjak dari bentuk penelitian tradional dan (pastilah) konvensional, seperti KUANTITATIF dan KUALITATIF itu. Bukankah setiap bidang memiliki pelangi dan karakteristikan keunikan dan oleh kerananya berbeda denga yang lain. Misalnya, Ilmu Sastra tidak perlu terlalu “takut” di bawah bayang-bayang kualitatif yang selamanya “saling membenci” dengan kuantitatif. Untuk apa? Kerna sastra memiliki wilayah sendiri yang relatif berbeda dengan ilmu-ilmu sosial. Jadi, ayo terus bergerak memajukan dunia penelitian Indonesia.

    Comment by Sahid T Widodo — October 9, 2006 @ 3:39 pm

  2. hmmm…
    membaca FAQ ini saja rasanya kok jadi merasa bersyukur banget jadi orang yang meyakini agama.
    Tinggal baca kitab suci sudah tersedia banyak jawaban beragam persoalan berbagai dimensi yang tak wajib, tak perlu, bahkan tak boleh dipikirkan dan dipahami.
    Namun kadangkala sulit menjelaskan tentang keyakinan kita ke orang lain melalui pemikiran dan pemahaman common sense, barangkali metodologi2 pemikiran SQ, EQ, IQ, dan PQ bisa menjembatani pemahaman dengan keyakinan

    Comment by Hastu — December 19, 2006 @ 1:08 pm

  3. Rasa syukur saya menemukan blog yang mencerahkan ini. To the point, bagaimana contoh kongkritnya menerapkan cara berpikir holistik ini dlm hubungan keluarga mis: dlm mendidik anak (internal)dan lingkungan sekitar (eksternal).mohon pencerahannya. kalo berkenan via japri e-mail saya. terima kasih.

    Comment by fahmi — January 10, 2007 @ 9:40 am

  4. Betul, perlu disyukuri blog ini muncul di dunia, karena blog ini sangat membantu dalam memecahkan masalah melalui pemikiran-pemikiran yang ada, semoga hal ini bisa menjadi renungan bagi kita, untuk menajuan bersama.

    Comment by Wahyu — March 13, 2007 @ 4:35 pm

  5. Thank you for your enlighten

    Comment by kadir — June 1, 2007 @ 4:58 pm

RSS feed for comments on this post. | TrackBack URI

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.