<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>It Pin Arifin</title>
	<atom:link href="http://www.itpin.com/blog/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.itpin.com/blog</link>
	<description>Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Jan 2012 09:50:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Cuplikan Buku &#8216;Ketika Archimedes Berteriak Eureka!&#8217;</title>
		<link>http://www.itpin.com/blog/cuplikan-buku-ketika-archimedes-berteriak-eureka/</link>
		<comments>http://www.itpin.com/blog/cuplikan-buku-ketika-archimedes-berteriak-eureka/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2012 01:34:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ketika Archimedes Berteriak Eureka!]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.itpin.com/blog/?p=652</guid>
		<description><![CDATA[Berikut adalah cuplikan untuk buku &#8216;Ketika Archimedes Berteriak Eureka!&#8216; Buku ini direncanakan terbit tahun 2012 oleh Gramedia Pustaka Utama. Silakan &#8216;Like&#8216; halaman pengarang di http://www.facebook.com/itpinarifin untuk informasi penerbitan lebih lanjut dan artikel-artikel terkait lainnya. Altamira… Daerah ini terletak di antara pantai utara Spanyol dan Pegunungan Cantabrian. Dari wilayah perbukitan Altamira, kita bisa melihat hamparan tanah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut adalah cuplikan untuk buku &#8216;<a href="http://www.itpin.com/blog/laman-resmi-buku-ketika-archimedes-berteriak-eureka/"><strong>Ketika Archimedes Berteriak Eureka!</strong></a>&#8216; Buku ini direncanakan terbit tahun 2012 oleh Gramedia Pustaka Utama. Silakan &#8216;<em>Like</em>&#8216; halaman pengarang di <a href="http://www.facebook.com/itpinarifin"><strong>http://www.facebook.com/itpinarifin</strong></a> untuk informasi penerbitan lebih lanjut dan artikel-artikel terkait lainnya.</p>
<blockquote><p>Altamira…</p>
<p>Daerah ini terletak di antara pantai utara Spanyol dan Pegunungan Cantabrian. Dari wilayah perbukitan Altamira, kita bisa melihat hamparan tanah pertanian yang menyejukkan mata. Indah, permai, menenteramkan, wilayah ini sebenarnya bukanlah tempat yang istimewa. Setidaknya, sampai seorang pemburu kehilangan anjing spaniel-nya di suatu hari di tahun 1868.</p>
<p>Hari itu, seorang pemburu yang sedang memburu rubah-rubah di sekitar Altamira kebingungan mencari anjing spaniel-nya yang tiba-tiba raib ditelan bumi. Pemburu ini sudah mencari ke segala tempat yang mungkin dengan sia-sia. Sebelum berputus asa, akhirnya dia menemukan sebuah retakan kecil di atas tanah. Ketika dia mencoba mendengar melalui lubang tersebut, samar-samar dia mendengar suara gonggongan anjing. Hatinya bersorak gembira. Anjingnya ternyata memang benar-benar ditelan bumi. Maka, pemburu itu pun memperlebar lubang tersebut, dan masuk ke dalam lubang yang gelap gulita untuk mengeluarkan anjingnya. Rasa penasaran membuatnya melihat sekeliling. Secercah cahaya kecil yang masuk ke dalam kegelapan tersebut meyakinkan pemburu tersebut bahwa dia telah menemukan sebuah gua.</p>
<p>Tujuh tahun berlalu sebelum pemilik tempat tersebut, Don Marcelino, mendengar tentang gua itu dari salah satu penduduk desa. Don Marcelino, atau dikenal juga dengan nama Marquis de Sautuola, adalah bangsawan kaya yang mampu memanfaatkan waktu luangnya untuk mempelajari bermacam-macam ilmu. Dia tumbuh menjadi seorang pecinta buku dan tanaman, menyusun silsilah keluarga orang-orang terhormat di wilayah sekitarnya, dan kebetulan juga menyukai geologi dan arkeologi. Mengetahui adanya gua di tanah miliknya, dia kemudian membawa beberapa pekerja untuk membuka lubang masuk. Don Marcelino lalu masuk sendiri ke dalam. Dengan lampu senter, dia menemukan beberapa tulang besar yang patah.</p>
<p>Penasaran, tulang-tulang tersebut kemudian ditunjukkan kepada temannya Don Juan Vilanova, seorang profesor geologi dari Universitas Madrid. Profesor Vilanova mengenali tulang-tulang tersebut sebagai bagian dari bison, kuda liar, dan sejenis rusa raksasa yang sudah punah. Dia berkesimpulan, tulang tersebut patah karena dimakan oleh manusia yang pernah berdiam di sana.</p>
<p>Empat tahun berlalu lagi tanpa kejadian berarti di dalam gua tersebut. Namun bayangan gua tersebut tidak pernah hilang dari kepala Don Marcelino. Dia mengelilingi gua-gua lain di Spanyol dan belajar tentang teknik-teknik eskavasi gua. Pada tahun 1878, dia kebetulan mengunjungi sebuah pameran internasional di kota Paris. Di sanalah dia terkesima melihat pameran benda-benda peninggalan pra-sejarah yang diperoleh dari salah satu gua di Perancis. Pameran tersebut membangkitkan minat Don Marcelino untuk kembali ke dalam guanya. Pada kunjungan berikutnya, dia kemudian menemukan beberapa peralatan dari batu, yang meyakinkannya bahwa gua tersebut memang pernah dihuni orang-orang purba.</p>
<p>Sayang sekali, kegiatan menggali sendirian di dalam sebuah gua gelap di usia yang ke-48 bukanlah pekerjaan yang mengasyikkan. Maka, ketika putrinya, Maria yang berusia 9 tahun ingin ikut ke dalam gua tersebut, Don Marcelino setuju. Ayah dan anak pun berangkat ke gua pada hari itu. Saat sang ayah sibuk menggali dekat pintu keluar, si kecil Maria masuk lebih jauh ke dalam gua.</p>
<p>Tak lama kemudian, Don Marcelino tiba-tiba dikejutkan suara teriakan putri tercintanya. “<em>Papa, Papa! Mira! Toros pintados!</em>” (Papa, Papa! Lihatlah gambar banteng!) Terkejut dengan teriakan putri tercinta, dia langsung berlari ke dalam tempat anaknya. Sang putri sedang menunjuk ke langit-langit gua. Dengan bantuan lampu, Don Marcelino melihat ke atas langit-langit, dan kedua orang tersebut menyaksikan untuk pertama kalinya lukisan indah dari jaman prasejarah. Lukisan yang menggambarkan bison-bison tersebut bukan sekedar lukisan biasa, tetapi lukisan berwarna! Beberapa lukisan malah menampilkan efek tiga dimensi. Sebagai orang yang berpendidikan tinggi dan berpengetahuan luas, Don Marcelino segera mengetahui lukisan tersebut bukan karya asal-asalan. Hanya seorang maestro pelukis yang mampu melukis sehalus dan seindah itu. Bahkan hanya segelintir pelukis terkenal dari Paris dan Madrid yang mampu menandingi keindahan lukisan-lukisan tersebut.</p>
<p>Dia memperhatikan lebih teliti gua tersebut. Lukisan bison-bison tersebut ternyata menyebar di atas langit-langit dan sebagian di dinding-dinding sekitar. Semangatnya langsung menyala-nyala. Don Marcelino menyadari mereka adalah saksi pertama karya lukis dari jaman prasejarah. <em>Ini adalah penemuan bersejarah dan aku menjadi bagian dari sejarah itu!</em> Kita tidak tahu apakah malamnya dia bisa tidur atau tidak, tetapi beberapa hari kemudian, profesor Vilanova datang dari Madrid dengan semangat yang sama berkobarnya.</p>
<p>Kedua orang ini kemudian sama-sama memeriksa sekitar 150 lukisan di gua tersebut. Lukisan-lukisan tersebut ternyata dibuat oleh cat yang mempergunakan lemak binatang sebagai salah satu bahannya. Lemak, ditambah dengan suhu rendah di gua, membuat lukisan-lukisan tersebut kelihatan masih baru. Karena itu, mereka mampu merekonstruksi teknik yang dipergunakan untuk melukis dengan mudah. Kedua orang tersebut memperkirakan lukisan tersebut dibuat di Zaman Batu<a href="#_ftn2">[2]</a>.</p>
<p>Hasil penelitian mereka tersebut kemudian diterbitkan oleh Dan Marcelino dalam sebuah makalah ilmiah. Sayang seribu sayang, kaum cendekiawan Eropa belum siap menerima berita mengejutkan tersebut. Saat itu, hampir semua ilmuwan percaya bahwa orang purbakala belum mengembangkan ketrampilan melukis setinggi itu. Alih-alih, mereka berdua malah dianggap menciptakan tipuan murahan untuk mencari sensasi. Mana mungkin para pelukis dari zaman prasejarah mampu melukis sebaik para seniman terbaik dari kota Paris? Skeptisme para ahli tersebut sungguh besar, sampai-sampai mereka melarang Don Marcelino hadir di kongres-kongres para ahli pra-sejarah. Sampai beliau meninggal tahun 1888, penemuan dan karya ilmiahnya tetap dianggap sebagai tipuan murahan.</p>
<p>Salah satu penentang terbesar Don Marcelino adalah Professor Cartailhac, profesor pra-sejarah dari Universitas Toulouse. Beberapa tahun kemudian, ketika seorang padri muda, Abb´e Henri Breuil menunjukkan gambar prasejarah yang hampir sama dari sebuah gua di selatan Perancis kepada Cartailhac, barulah profesor ini menyadari kesalahannya. Dengan jiwa besar, dia segera menulis sebuah makalah untuk meminta maaf kepada Don Marcelino dan kemudian datang sendiri ke Altamira untuk memohon maaf pada Maria, si anak yang pertama kali menemukan lukisan tersebut. Nama baik Don Marcelino berhasil dipulihkan kembali. Dia kini boleh beristirahat dengan tenang.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Mari kita lihat bagaimana cerita di atas berkaitan dengan kreativitas. Sebagai awal, cerita tersebut menunjukkan manusia purba sudah menunjukkan sisi artistik mereka. Jauh sebelum penemuan teknologi dan sistem ekonomi modern, seni adalah bentuk kreativitas tertua. Lukisan di Altamira tersebut adalah bukti kreativitas sudah hadir bersama umat manusia sejak dulu kala, yang tentu membuat kita harus mengajukan pertanyaan yang satu ini: Mengapa kita diberikati dengan otak yang kreatif? Mengapa otak kita perlu menemukan atau menciptakan sesuatu yang baru? Apakah kemampuan menciptakan tersebut – termasuk melukis di langit-langit – mampu membantu keberlangsungan hidup kita sebagai manusia? Dan apakah seni dan kreativitas adalah hak ekslusif spesies manusia? Kita akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di artikel berikutnya.</p>
<p>Tetapi kisah di atas tidak sekedar menjadi pengantar ke masa-masa awal peradaban manusia dan peranan kreativitas terhadap keseluruhan sejarah umat manusia. Secara spesifik, kisah Don Marcelino juga menghadirkan lebih banyak pertanyaan lain yang terkait dengan isi buku ini. Apakah Don Marcelino layak dianggap orang yang kreatif? Ingat: bukan dialah yang menemukan gua tersebut. Gua tersebut ditemukan oleh seekor anjing spaniel terlebih dahulu, kemudian tuannya, yang memberitahu kepada teman-temannya, dan salah satu temannya memberitahu kepada Don Marcelino. Bukan Don Marcelino juga yang menemukan lukisan tersebut, tetapi putrinya. Dan tentu saja, kebetulan gua tersebut terletak di bawah tanah miliknya. Semua rentetan kejadian tersebut adalah alasan kuat mengapa nama Don Marcelino tidak pantas dimasukkan ke dalam buku yang mempelajari tentang proses kreativitas. Namun mengapa justru kisahnya terpilih untuk membuka buku ini?</p>
<p>Bagaimana pula dengan Maria kecil? Mengapa dia yang menemukan lukisan tersebut dan bukan ayahnya? Lukisan tersebut ditemukan di atas langit-langit, yang sudah dilewati berkali-kali oleh Don Marcelino. Apakah benar seorang anak kecil secara intuitif memang lebih ingin tahu dan lebih mungkin menemukan sesuatu yang baru? Apakah kenaifan adalah berkah dalam kreativitas, dan pengetahuan atau pengalaman yang banyak justru menghalangi kreativitas? Lebih jauh lagi, apakah ada sifat-sifat atau kepribadian tertentu yang bisa memprediksi kreativitas seseorang?</p>
<p>Dan tentu saja kita juga harus mempertimbangkan reaksi profesor Cartailhac dan rekan-rekan mereka yang meremehkan penemuan Don Marcelino. Mengapa penemuan-penemuan baru selalu mendapatkan tantangan sebesar itu? Bisakah sebuah karya disebut kreatif bila tidak disetujui para pakar lainnya di bidang tersebut? Mengapa?</p>
<p>Kita akan kembali ke pertanyaan-pertanyaan tersebut di sepanjang buku ini. Dengan mengupas jawaban tersebut satu per satu, kita akan sama-sama mempelajari kreativitas dari berbagai sudut pandang, dan memanfaatkan pengetahuan tersebut untuk meningkatkan kreativitas pribadi kita.</p>
<p>Kita mulai dulu dari pertanyaan pertama: <em>Mengapa manusia dilahirkan kreatif?</em></p></blockquote>
<p>Sinopsis buku <strong>Ketika Archimedes Berteriak Eureka!</strong> bisa dibaca di <a href="http://www.itpin.com/blog/laman-resmi-buku-ketika-archimedes-berteriak-eureka/">laman resmi untuk buku tersebut dengan klik sini</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.itpin.com/blog/cuplikan-buku-ketika-archimedes-berteriak-eureka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kecerdasan Khusus dan Berkah Usia Tua</title>
		<link>http://www.itpin.com/blog/kecerdasan-khusus-dan-berkah-usia-tua/</link>
		<comments>http://www.itpin.com/blog/kecerdasan-khusus-dan-berkah-usia-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Nov 2011 01:40:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.itpin.com/blog/?p=646</guid>
		<description><![CDATA[Berikut adalah artikel tambahan untuk buku &#8216;Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya&#8216;. Artikel ini bisa dibaca lepas, namun Anda dianjurkan untuk membaca buku Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya terlebih dahulu bila ingin mendapatkan pengertian yang lebih mendalam: Bagi Anda yang masih muda, usia tua adalah sesuatu yang ditakuti, karena kita selalu mengasosiasikan usia tua dengan penurunan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut adalah artikel tambahan untuk buku &#8216;<strong><a href="http://www.gramediapustakautama.com/buku-detail/85185/Ketika-Mozart-Kecil-Memainkan-Jemarinya:-Bagaimana-Mencetak-Genius-yang-Bahagia" target="_blank">Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya</a></strong>&#8216;. Artikel ini bisa dibaca lepas, namun Anda dianjurkan untuk membaca buku <em>Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya</em> terlebih dahulu bila ingin mendapatkan pengertian yang lebih mendalam:</p>
<blockquote><p>Bagi Anda yang masih muda, usia tua adalah sesuatu yang ditakuti, karena kita selalu mengasosiasikan usia tua dengan penurunan fisik dan mental.</p>
<p>Dalam hal fisik, memang tidak bisa dipungkiri usia tua akan menggerogoti kemampuan fisik kita. Trilyunan rupiah dihamburkan setiap hari di seluruh dunia untuk menghindari proses penuaan tersebut, dan hal terbaik yang bisa kita lakukan hanyalah menundanya untuk beberapa tahun. Dalam kompetisi olahraga dunia, usia jelas berpengaruh. Kemampuan motorik, metabolisme tubuh, dan kekuatan otot pasti menurun di usia tua. Kita hampir tidak pernah menemukan pesenam dunia yang berumur di atas 30 tahun, atau atlet kelas dunia di cabang olahraga lain yang membutuhkan daya tahan fisik yang berumur di atas 50 tahun.</p>
<p>Tetapi bila kita berbicara di bidang lain, kita harus berhadapan dengan gambaran yang lebih kompleks. Dalam dunia ilmu sosial dan alam, sumbangan yang diberikan ahli kelas dunia yang berusia 30 tahun dengan yang berusia 70 tahun tidak berbeda jauh, baik dalam hal kuantitas mau pun kualitas. Linus Pauling pada usia 91 tahun mengaku menerbitkan makalah dua kali lebih banyak di rentang usianya yang ke 70 sampai 90 dibanding rentang 20 tahun di usia-usianya yang lebih muda. Benjamin Franklin menemukan lensa bifokal ketika berusia 78 tahun, Frank Lloyd Wright menyelesaikan salah satu karya terbesarnya, Museum Guggenheim, pada usia 91 tahun. Dalam dunia seni, kita memang melihat penurunan tajam sumbangan para ahli yang berusia di atas 60 tahun. Tetapi di sini pun kita bisa melihat banyak pengecualian. Guiseppe Verdi menulis opera <em>Falstaff</em>, salah satu karya terbaiknya, ketika berusia 80 tahun. Michelangelo melukis di kapel Pauline di Vatikan pada usia 89. Di dunia bisnis dan ekonomi, siapa yang tidak mengenal nama-nama seperti Jack Welch, Warren Buffett, George Soros, atau dari dalam negeri: Ir. Ciputra, Dahlan Iskan, dan Hermawan Kartajaya? Apakah ketajaman pikiran mereka dipengaruhi usia tua, atau usia tua justru memberkati mereka dengan kebijaksanaan?</p>
<p>Ketika Mihaly Csikszentmihalyi mewawancarai para pakar yang berusia lanjut dalam bukunya <em>Creativity</em>, secara umum mereka tidak melihat banyak perbedaan dari kuantitas dan kualitas karya mereka di usia 50, 60, 70, atau 80 tahun. Kemampuan mereka berkarya tidak berkurang dan keluhan terhadap kekurangan fisik mereka hampir tidak terdengar. Bahkan secara mengejutkan, Csikszentmihalyi menemukan, para pakar usia lanjut tersebut merasakan lebih banyak hal-hal positif dalam hidup mereka dibanding ketika mereka masih muda.</p>
<p>Kenapa demikian? Kenapa hal itu bertentangan dengan kepercayaan kita selama ini?</p>
<p>Apakah Anda masih ingat perbedaan dua jenis kecerdasan yang kita bahas sebelumnya di buku <em>Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya</em>, yaitu <em>kecerdasan umum</em> dan <em>kecerdasan khusus</em>? Kecerdasan umum, terutama kecerdasan logika-analitika, banyak berhubungan dengan kemampuan memori jangka pendek. Kecerdasan ini mencapai puncaknya di usia muda dan kemudian mulai menurun setelah usia 35, dan menurun dengan cepat di atas usia 70 tahun. Individu berusia 70 tahun membutuhkan waktu sekitar 1.6 sampai 2 kali lebih lama untuk menyelesaikan tugas-tugas biasa dibanding mereka yang berusia 20-an. Setelah umur 30 tahun, nilai rata-rata IQ juga menurun berbanding lurus dengan penambahan usia. Sementara itu, kecerdasan khusus berhubungan dengan memori jangka panjang dan bertambah sesuai dengan pembelajaran yang telah dilakukan. Dengan bertambahnya usia, tingkat kecerdasan khusus ini akan bertambah, dengan catatan bila dilatih dan dipergunakan terus menerus. Akumulasi kecerdasan khusus inilah yang sering kita sebut dengan kebijaksanaan. Sebagian ahli berpendapat kecerdasan ini akan mulai menurun di usia 65 tahun, tetapi hal itu masih mengundang perdebatan karena beberapa individu yang tetap berkarya di usia tua mereka seperti Linus Pauling tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan. Kecuali bila terserang penyakit seperti Parkinson, kita bisa berkesimpulan kecerdasan khusus ini tidak terlalu dipengaruhi usia tua.</p>
<p>Nah, kita tahu bahwa kecerdasan khusus inilah yang berperan penting dalam pencapaian keahlian. Ketrampilan para ahli kelas dunia, terutama di bidang yang berkaitan dengan mental, bisa tetap terjaga atau malah bertambah di usia tua bila individu tersebut tetap melakukan <em>deliberate practice</em> secara teratur. Kecerdasan khusus mereka memang tidak bisa ditransfer ke kecerdasan umum, tetapi dengan mempertahankan dan menggunakan kecerdasan khusus mereka, kualitas hidup mereka tidak akan berkurang.</p>
<p>Terkadang, bukan saja ketrampilan mental mereka tidak menurun, ketrampilan fisik mereka juga masih terjaga. Stanley Drucker masih lincah memainkan jari-jari tangannya sebagai pemain klarinet di usia menjelang 80 tahun di New York Philharmonic, salah satu orkestra paling terkenal di dunia. Beberapa olahragawan, meski sudah tidak bisa bersaing lagi di ajang seperti Olimpiade, masih mampu menunjukkan ketangkasan jauh di atas para anak muda yang masih sehat.</p>
<p>Walau demikian, para ahli yang berusia lanjut memiliki kesulitan bila terjadi perubahan mendasar di bidang keahlian mereka. Hal ini sering dialami mereka yang berkecimpung di dunia teknologi seperti kedokteran atau teknologi informasi. Jika mereka yang berusia muda lebih gampang mempelajari teknik-teknik atau pengetahuan terbaru, mereka yang berusia lebih tua mengalami kesulitan lebih besar. Mereka yang lebih senior telah menginvestasikan banyak waktu, tenaga dan pikiran untuk mempelajari teknik-teknik lama. Semua pola-pola yang terekam dalam otak mereka sudah terbungkus myelin (peranan myelin dalam pencapaian kegeniusan bisa dibaca di Bab 2 buku <em>Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya</em>). Melepaskan semua itu untuk sesuatu yang baru adalah pengalaman yang sulit secara emosional dan kognitif. Pembentukan jaringan neuron-neuron baru <em>(neurogenesis</em>) sebagai hasil dari pembelajaran di usia lanjut juga lebih lambat dibanding ketika berusia lebih muda.</p>
<p>Dengan bertambah tingkat kemakmuran dan kesehatan masyarakat dan dibarengi dengan menurunnya angka kelahiran bayi, di masa depan kita akan menemukan masyarakat yang memiliki lebih banyak orang-orang berusia lanjut. Masyarakat seperti itu sudah terlihat di sebagian negara-negara Eropa dan Jepang. Alangkah sayangnya bila kita melihat mereka sebagai beban, sementara mereka bisa menjadi aset berharga, terutama bila mereka telah memiliki keahlian khusus di bidang tertentu. Kita seharusnya memberi lebih banyak kesempatan bagi mereka untuk memanfaatkan kecerdasan khusus yang telah mereka kumpulkan selama puluhan tahun ke kegiatan yang benar-benar mereka cintai. Berilah mereka kesempatan “hidup kedua”, yang selain bermanfaat buat mereka, juga bermanfaat buat masyarakat. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah memundurkan usia pensiun bagi karyawan usia lanjut yang masih berprestasi, atau menjadikan mereka sebagai mentor paro-waktu bagi karyawan muda. Mereka juga bisa diberi kesempatan untuk aktif dalam kegiatan-kegiatan filantropis, seperti mengajar di sekolah-sekolah, dosen tamu di kampus-kampus, atau membacakan buku untuk anak-anak kecil di perpustakaan.</p>
<p>Usia tua bila dimanfaatkan dengan benar bisa merupakan <em>second life</em>, hidup kedua yang lebih berarti. Ketika anak-anak sudah mandiri dan semua tanggung jawab lain sudah bisa ditinggal di belakang, para warga senior bisa meluangkan waktu untuk mengejar hal-hal yang benar-benar mereka cintai tanpa memikirkan pemenuhan kebutuhan materi. Lihatlah Ir. Ciputra. Setelah bisnisnya sudah ditangani anak-anaknya, dengan membawa pengalaman bisnisnya selama puluhan tahun, Pak Ciputra menghabiskan waktu mempromosikan pendidikan wiraswasta untuk generasi muda. Kita bisa melihat betapa perjuangan tersebut adalah <em>passion</em>-nya. “Karir keduanya” tersebut membuatnya terlihat tetap enerjik. Kecerdasan dan semangatnya belum kelihatan menurun.</p>
<p>Demikian juga dengan Dahlan Iskan, mantan orang nomor satu di Jawa Pos Group. Setelah melepas perusahaan yang dibesarkannya ke generasi kedua, sebagian karena alasan kesehatan, Pak Dahlan benar-benar mendapatkan hidup kedua setelah sukses menjalani operasi transplantasi hati di Cina. Meski sudah pensiun dari dunia media, dia tetap menulis dan kemudian memutuskan membawa keahliannya mengelola Jawa Pos ke PLN, dan kemudian dipercaya menjadi Menteri BUMN. Menurut saya, keputusan beliau menerima mandat sebagai boss PLN atau posisi Menteri BUMN bukan untuk mengejar uang atau pengakuan. Beliau sudah mendapatkan semua itu. Apa yang dikejarnya adalah sesuatu yang lebih besar – kesempatan untuk menyumbang dan belajar hal-hal baru, kesempatan untuk membuat hidupnya berarti.</p>
<p>Kedua orang terhormat ini memiliki satu kesamaan: mereka membawa kecerdasan khusus mereka sebelumnya, dan mengaplikasikannya di tempat lain yang membutuhkan kecerdasan khusus mereka. Mereka menolak untuk pensiun, dan memilih untuk tetap bisa menyumbang. Pak Ci dan Pak Dahlan adalah bukti kita tidak perlu takut dengan usia tua. Usia tua sering memberikan kesempatan kedua, kadang malah lebih baik dari kesempatan pertama yang diperoleh ketika masih muda. Karena itu, mulainya berinvestasi untuk kehidupan kedua tersebut dengan mulai memupuk kecerdasan khusus Anda.</p>
<p>Apakah usia tua merupakan berkah atau bukan, semuanya tergantung dari kita sendiri. Setuju?</p></blockquote>
<p><strong>(Untuk artikel terkait lainnya, silakan ke laman resmi &#8220;<a href="../genius-bahagia/">Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya</a>&#8220;)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.itpin.com/blog/kecerdasan-khusus-dan-berkah-usia-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peranan Tidur Dalam Pembelajaran</title>
		<link>http://www.itpin.com/blog/peranan-tidur-dalam-pembelajaran/</link>
		<comments>http://www.itpin.com/blog/peranan-tidur-dalam-pembelajaran/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Nov 2011 01:27:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.itpin.com/blog/?p=635</guid>
		<description><![CDATA[Berikut adalah artikel tambahan untuk buku &#8216;Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya&#8216;. Artikel ini bisa dibaca lepas, namun Anda dianjurkan untuk membaca buku Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya terlebih dahulu bila ingin mendapatkan pengertian yang lebih mendalam: Apakah Anda masih ingat salah satu artikel di Bab 1 buku Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya yang menjelaskan pentingnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut adalah artikel tambahan untuk buku &#8216;<strong><a href="http://www.gramediapustakautama.com/buku-detail/85185/Ketika-Mozart-Kecil-Memainkan-Jemarinya:-Bagaimana-Mencetak-Genius-yang-Bahagia" target="_blank">Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya</a></strong>&#8216;. Artikel ini bisa dibaca lepas, namun Anda dianjurkan untuk membaca buku <em>Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya</em> terlebih dahulu bila ingin mendapatkan pengertian yang lebih mendalam:</p>
<blockquote><p>Apakah Anda masih ingat salah satu artikel di Bab 1 buku <em>Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya</em> yang menjelaskan pentingnya tidur bagi para siswa akademi musik di Berlin Barat atau mereka yang menjalani <em>deliberate practice</em>? Apa fungsi dari tidur dalam pencapaian keahlian? Apakah tidur dibutuhkan semata-mata agar tubuh fisik kita bisa beristirahat dan memulihkan kesegaran?</p>
<p>Pada tahun 1996, sekelompok ilmuwan yang ingin menjawab pertanyaan tersebut mengambil seekor tikus. Mereka mamasukkan kabel-kabel ke dalam kepala tikus yang terpilih ini, dan kabel-kabel tersebut disambung ke alat pencatat. Kabel-kabel tersebut dipasang untuk “mendengarkan” aktivitas sekitar 500 neuron-neuron dalam kepala tikus tersebut. Tikus malang ini kemudian diminta untuk berkelana ke dalam sebuah labirin. Setelah itu, tikus kita tersebut diperbolehkan untuk tidur siang, dengan kabel-kabel yang tetap terpasang di dalam kepalanya dan tersambung ke alat perekam.</p>
<p>Saat tikus tersebut berkelana di dalam labirin, alat perekam tersebut mencatat aktivitas neuron-neuron sang tikus yang sedang “mempelajari” labirin tersebut. Serangkaian neuron aktif berdasarkan urutan yang spesifik selama pembelajaran tersebut. Setelah itu, setiap kali tikus tersebut masuk ke dalam labirin, rangkaian neuron-neuron yang sama akan aktif kembali. Rangkaian tersebut kelihatannya merupakan pola pikiran yang mewakili labirin di dalam otak tikus.</p>
<p>Hal paling menarik terjadi ketika tikus kita tertidur. Lewat alat perekam tersebut, terdengar pola yang sama terulang kembali. Pengulangan tersebut bukan sekali, dua kali, atau sepuluh kali. Bukan juga seratus kali. Pola tersebut aktif ribuan kali dengan kecepatan yang tinggi. Kelihatannya tidur memungkinkan tikus tersebut mengulangi pelajaran yang mereka dapatkan dan pelajaran tersebut dikonsolidasikan ke memori jangka panjang mereka. Bila salah satu ciri utama dari <em>deliberate practice</em> adalah pengulangan pola yang dilakukan berkali-kali sehingga sempurna, maka tidur memungkinkan pengulangan tersebut terjadi kembali, ribuan kali.</p>
<p>Satu hal menarik lagi yang terjadi adalah, jika di tengah-tengah proses konsolidasi tersebut tikus tersebut tiba-tiba dibangunkan, keesokan harinya tikus tersebut akan melupakan labirin tersebut. Pelajarannya terlupakan.</p>
<p>Tentu saja Anda layak bertanya: apakah hal yang sama juga berlaku untuk manusia? Jawabannya? Tentu saja. Malah pada manusia, prosesnya lebih kompleks. Dalam tidur, kita juga mengulangi pengalaman harian kita selama tidur. Namun berbeda dengan tikus, pengalaman yang emosional akan diulangi pada beberapa tahap dalam tidur.</p>
<p>Jadi itulah fungsi tidur dalam pembelajaran. Tidur ternyata bukan sekedar untuk mengistirahatkan tubuh, tetapi juga untuk mengkosolidasikan pelajaran dan pengalaman harian kita. Riset-riset tentang tidur dan pembelajaran selama tidur masih terus dilakukan agar kita bisa mengetahui lebih banyak lagi, termasuk apakah proses pembalutan <em>axon</em> oleh <em>myelin</em> lebih intensif terjadi selama fase tidur (peranan penting myelin dalam pencapaian kegeniusan sudah kita bahas di Bab 2 buku <em>Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya</em>). Setidaknya, kita sekarang bisa memaklumi bila individu yang belajar dan berlatih keras membutuhkan tidur yang lebih banyak. Bagi mereka, tidur bukanlah kegiatan malas-malasan, namun merupakan bagian tak terpisahkan dari proses pengembangan keahlian kelas dunia.</p>
<p>Selain tidur malam yang panjang, tidur siang kelihatannya juga sangat membantu peningkatan ketrampilan. Sebuah studi dari NASA menunjukkan tidur siang selama 26 menit bisa meningkatkan kinerja pilot hingga 34 persen. Sebuah studi lain yang dilakukan oleh Matthew A. Tucher dari Harvard Medical School menunjukkan tidur siang 45 menit bisa meningkatkan kinerja memori deklaratif (yaitu memori jangka panjang yang menyimpan data dan fakta). Penelitian tersebut didukung oleh penelitian lain yang dilakukan oleh sesama rekannya di Harvard Medical School, Jeffrey M. Ellenbogen dan Robert Stickgold. Ellenbogen dan Stickgold membuktikan mahasiswa yang tidur cukup setelah belajar dan sebelum ujian akan mendapatkan nilai rata-rata yang lebih baik.</p>
<p>Banyak teori yang berusaha menjelaskan hubungan antara tidur dengan konsolidasi memori jangka panjang. Salah satu teori mencoba menghubungkan sintesis kolesterol yang terjadi selama proses tidur. Apa hubungannya kolesterol dengan memori jangka panjang? Bagi Anda penggemar makanan berkolesterol, setidaknya paragraf ini bisa mengurangi rasa bersalah Anda. Kolesterol, di balik citranya yang buruk selama ini, ternyata adalah bahan utama pembentuk myelin. Tentu saja bila Anda terbukti sudah memiliki cadangan kolesterol yang banyak, jangan menjadikan paragraf ini sebagai alasan untuk melanjutkan gaya hidup hedonis Anda. Untuk membentuk myelin, yang dibutuhkan hanyalah kolesterol secukupnya, dalam jumlah yang normal.</p>
<p>Teori lain mengajukan alternatif bahwa selama periode tidur yang disebut REM (<em>rapid eye movement</em>, fase tidur di mana mata kita bergerak dengan cepat), otak kita akan membuang atau melemahkan koneksi-koneksi sinaptik yang tidak dibutuhkan. Hanya memori yang dianggap penting akan dibiarkan atau diperkuat koneksinya. Dengan demikian, memori menjadi lebih efisien.</p>
<p>Tentu saja upaya membuktikan teori mana yang benar masih sulit dibuktikan, setidaknya dalam jangka waktu dekat ini. Akan tetapi, hampir semua ahli sependapat, tidur memang membantu pembelajaran dan konsolidasi memori.</p></blockquote>
<p><strong>(Untuk artikel terkait lainnya, silakan ke laman resmi &#8220;<a href="../genius-bahagia/">Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya</a>&#8220;)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.itpin.com/blog/peranan-tidur-dalam-pembelajaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Laman Resmi Buku &#8216;Ketika Archimedes Berteriak Eureka!&#8217;</title>
		<link>http://www.itpin.com/blog/laman-resmi-buku-ketika-archimedes-berteriak-eureka/</link>
		<comments>http://www.itpin.com/blog/laman-resmi-buku-ketika-archimedes-berteriak-eureka/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Nov 2011 01:51:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Laman Resmi 'Ketika Archimedes Berteriak Eureka!']]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.itpin.com/blog/?p=615</guid>
		<description><![CDATA[Ketika Archimedes Berteriak Eureka! adalah judul buku berikutnya dari It Pin Arifin. Cuplikan buku bisa dibaca dengan klik di link ini. Buku ini akan membahas tentang proses kreatif dengan mempelajari rahasia para genius kreatif seperti Archimedes, Einstein, Darwin, Picasso, Bach, Jane Austen, Alexander Graham Bell, Wright bersaudara, Alexander Fleming, Charles Goodyear, dan lainnya. Topik-topik utama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Ketika Archimedes Berteriak Eureka!</em> adalah judul buku berikutnya dari It Pin Arifin.</p>
<p><a href="http://www.itpin.com/blog/cuplikan-buku-ketika-archimedes-berteriak-eureka/"><strong>Cuplikan buku bisa dibaca dengan klik di link ini</strong></a>.</p>
<p><strong> </strong>Buku ini akan membahas tentang proses kreatif dengan mempelajari rahasia para genius kreatif seperti Archimedes, Einstein, Darwin, Picasso, Bach, Jane Austen, Alexander Graham Bell, Wright bersaudara, Alexander Fleming, Charles Goodyear, dan lainnya.</p>
<p>Topik-topik utama buku ini, antara lain:</p>
<ul>
<li>Bagaimana kreativitas ditinjau melaluiu empat sudut pandang yang disingkat 4P: <em>product</em>, <em>person</em>, <em>place</em> (konteks), dan <em>process</em>?</li>
<li>Apa hubungan antara kreativitas dengan proses alam bawah sadar, tidur, otak kiri/kanan, perbedaan jenis kelamin pria/wanita, gangguan kejiwaan, dan pemakaian obat-obatan seperti LSD/mariyuana?</li>
<li>Seberapa jauh peranan keberuntungan dan/atau kebetulan dalam proses kreatif?</li>
<li>Bagaimana kreativitas dipengaruhi proses kognitif yang terdiri dari atensi, persepsi, imajinasi?</li>
<li>Apa peranan pengetahuan domain atau kecerdasan khusus terhadap kreativitas? Kapan pengetahuan dan pendidikan membantu kreativitas, dan kapan pengetahuan/pendidikan menghalangi kreativitas?</li>
</ul>
<p>Kasus-kasus yang akan dikupas dalam buku ini antara lain penemuan gua di Altamira, penisilin oleh Alexander Fleming, pesawat terbang oleh Wright bersaudara, teori evolusi Darwin, pengaruh Restorasi Meiji terhadap kreativitas bangsa Jepang, kreativitas bangsa Yahudi, dan lainnya. Buku ini akan ditutup dengan studi kasus yang membahas proses kreatif yang terjadi selama perlombaan untuk menemukan struktur DNA oleh Watson, Crick, Wilkins, Franklin, dan Pauling.</p>
<p>Bila buku <strong><em><a href="/blog/genius-bahagia/">Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya</a></em></strong> berfokus pada pencapaian kegeniusan, maka buku ini akan membantu Anda menjadi genius kreatif.</p>
<p>Kreativitas Anda dijamin akan meningkat beberapa kali lipat dengan mempraktekkan prinsip-prinsip yang dibahas di dalam buku ini.</p>
<p><strong>Buku ini dijadwalkan terbit pada tahun 2012, oleh: Gramedia Pustaka Utama</strong>.</p>
<p>Untuk mengetahui perkembangan buku ini dan mendapatkan informasi tentang cuplikan atau artikel pendukung buku <em>Ketika Archimedes Berteriak Eureka!</em>, silakan &#8220;<em>Like</em>&#8221; halaman FB pengarang di <strong><a href="http://www.facebook.com/itpinarifin" target="_blank">http://www.facebook.com/itpinarifin/</a></strong>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h2 style="text-align: center;"><strong>Informasi Pre-Order </strong></h2>
<h2 style="text-align: center;"><strong>&#8220;Ketika Archimedes Berteriak Eureka!&#8221;</strong></h2>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">Bagi Anda yang tertarik untuk memesan terlebih dahulu buku <em>Ketika Archimedes Berteriak Eureka!</em>, <a href="http://www.itpin.com/blog/hubungi-saya/">bisa mengirim email ke pengarang melalui laman ini</a> (dengan menuliskan &#8220;<strong>Pre-Order Ketika Archimedes</strong>&#8221; di bagian <em>Subject</em>)</p>
<p>Mereka yang memesan di sini bisa mendapatkan buku yang ditandatangani pengarang dan kesempatan berkonsultasi 1x via email, baik untuk buku <a href="/blog/genius-bahagia/"><em>Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya</em></a>, atau pun <em>Ketika Archimedes Berteriak Eureka!</em></p>
<p>Untuk Anda yang masih ragu, jangan kuatir, email pemesanan tersebut <em>tidak</em> bersifat mengikat. Setelah buku terbit, Anda akan dihubungi via email untuk konfirmasi pemesanan dan informasi pembayaran. Anda tentu saja berhak untuk membatalkan pemesanan sebelum melakukan pembayaran.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.itpin.com/blog/laman-resmi-buku-ketika-archimedes-berteriak-eureka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengaruh Lingkungan Sosial Terhadap Kesuksesan</title>
		<link>http://www.itpin.com/blog/pengaruh-lingkungan-sosial-terhadap-kesuksesan/</link>
		<comments>http://www.itpin.com/blog/pengaruh-lingkungan-sosial-terhadap-kesuksesan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Nov 2011 23:45:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.itpin.com/blog/?p=609</guid>
		<description><![CDATA[Berikut adalah artikel tambahan untuk buku ‘Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya‘. Artikel ini bisa dibaca lepas, namun Anda dianjurkan untuk membaca buku Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya terlebih dahulu bila ingin mendapatkan pengertian yang lebih mendalam: Ketika novel Johann Wolfgang von Goethe, The Sorrows of Young Werther, terbit di tahun 1774, angka bunuh diri para [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut adalah artikel tambahan untuk buku ‘<strong><a href="http://www.gramediapustakautama.com/buku-detail/85185/Ketika-Mozart-Kecil-Memainkan-Jemarinya:-Bagaimana-Mencetak-Genius-yang-Bahagia" target="_blank">Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya</a></strong>‘. Artikel ini bisa dibaca lepas, namun Anda dianjurkan untuk membaca buku <em>Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya</em> terlebih dahulu bila ingin mendapatkan pengertian yang lebih mendalam:</p>
<p><strong> </strong></p>
<blockquote><p>Ketika novel Johann Wolfgang von Goethe, <em>The Sorrows of Young Werther</em>, terbit di tahun 1774, angka bunuh diri para anak muda di beberapa negara Eropa tiba-tiba melonjak naik. Selidik punya selidik, ternyata kenaikan angka bunuh diri tersebut disebabkan oleh peniruan terhadap tokoh utama di novel tersebut. Pemerintahan di Italia, Jeman, dan Denmark segera melarang peredaran buku tersebut. Studi yang dilakukan sosiolog David Phillips di tahun 1974 menemukan bahwa fenomena Werther tersebut juga terjadi setelah publikasi tindakan bunuh diri di media massa. Phillips menemukan selama periode 1947 hingga 1968, angka bunuh diri naik setelah artikel tentang bunuh diri terbit di halaman dengan surat kabar <em>New York Times</em>.</p>
<p>Bila orang asing saja – yang kisahnya cuma dibaca lewat novel atau surat kabar – bisa mempengaruhi tindakan drastis kita, bagaimana dengan orang-orang dekat seperti teman atau saudara? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita bisa berkunjung ke sebuah desa di daerah Manitoba, Kanada, pada tahun 1995. Di desa yang berpenduduk 1500 jiwa tersebut, angka bunuh diri dengan gantung diri tiba-tiba melonjak tajam dalam empat bulan. Dalam komunitas yang kecil seperti itu, hampir setiap orang saling kenal. Tindakan bunuh diri dari orang pertama langsung menyebar bagaikan epidemi. Enam orang merenggut nyawanya sendiri dalam kurun waktu empat bulan tersebut, belum termasuk beberapa percobaan gagal lainnya.</p>
<p>Mari kita berkenalan dengan manusia, yang selain merupakan makhluk individu, juga merupakan makhluk sosial. Kecuali bila Anda adalah seorang psikopat atau sosiopat, tindakan dan pikiran Anda sangat dipengaruhi oleh orang-orang di sekitar Anda, bahkan orang-orang asing sekali pun. Para peneliti sosial menemukan, pengaruh terbesar datang dari orang-orang yang kita kenal langsung. Tetapi Anda masih akan mendapatkan pengaruh sosial sampai tingkat ketiga. Dengan kata lain, teman dari teman dari teman Anda tetap bisa mempengaruhi Anda, walau Anda sering tidak menyadarinya.</p>
<p>Sudah bukan rahasia umum lagi, secara rata-rata, orang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin. Logika yang bisa menjelaskan tersebut cukup sederhana: Orang kaya akan mendapatkan lebih banyak teman, dan banyak teman memberikan lebih banyak peluang bisnis. Prinsip yang sama berlaku juga untuk mereka yang pintar, yang lebih senang berkumpul dengan teman-teman mereka yang pintar, dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk bertukar pikiran sehingga pengetahuan mereka bertambah.</p>
<p>Seperti yang kita lihat, kekuatan jejaring sosial bisa menarik Anda menjauhi impian Anda, atau membantu Anda, melalui kekuatan motivasi atau demotivasi yang disalurkan lewat jejaring tersebut. Bila Anda berkumpul dengan orang-orang yang sukses, kesuksesan mereka bisa memotivasi untuk berusaha lebih keras, apalagi bila mereka berasal dari latar belakang yang sama dengan Anda.</p>
<p>Selain itu, unsur kompetisi dari anggota kelompok juga bisa memberikan motivasi tambahan yang tidak bisa diperoleh jika Anda berusaha sendirian. Itu sebabnya mengapa kelompok yang ingin mencapai tujuan bersama, seperti klub diet, bisa mencapai hasil yang lebih baik dibanding individu yang mencoba sendirian. Itu juga salah satu alasan mengapa klub tenis Spartak atau sekolah musik Ivan Galamian bisa menghasilkan banyak ahli kelas dunia dalam waktu singkat (seperti yang bisa dibaca di Bab 2 buku <em>Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya</em>). Para guru dan siswa-siswa yang berkumpul bersama bisa saling memotivasi, mendukung, mengkritik, atau berkompetisi.</p>
<p>Tetapi peran jejaring sosial lebih dari itu. Dalam salah satu studi psikologi yang berlangsung paling lama, George Vaillant mengikuti perkembangan para lulusan Harvard University selama 40 tahun untuk mengetahui apa yang membedakan mereka yang sukses dan bahagia dengan mereka yang kurang berhasil. Dalam wawancaranya dengan Atlantic Montly pada tahun 2009, Vaillant mengatakan dia bisa menyimpulkan hasil studi tersebut dalam satu kata, “Cinta – titik”. Sesederhana itu. Dalam sebuah artikel susulan yang ditulisnya kemudian, Vaillant mengatakan bahwa dia memiliki “bukti selama 70 tahun bahwa hubungan dengan orang lain berarti, dan berarti lebih dari apa pun di dunia ini.”</p>
<p>Kesimpulan tersebut didukung banyak pakar lainnya. Dalam buku mereka, <em>Happiness</em>, psikolog Ed Diener dan Robert Biswas-Diener mengkaji ulang banyak hasil riset tentang kebahagiaan, dan menyimpulkan bahwa kita membutuhkan hubungan sosial sama seperti kita membutuhkan udara dan air. Jika kita memiliki hubungan sosial yang berkualitas – apakah itu dengan pasangan hidup, keluarga, teman, atau rekan kerja – kita menggandakan sumber daya emosi, intelektual, dan fisik kita. Kita bisa kembali lebih cepat dari krisis atau stress. Kita bisa melakukan lebih banyak hal dalam waktu lebih singkat. Selain itu, hubungan sosial juga membuat kita lebih bahagia, dan orang yang bahagia belajar lebih cepat dan berpikir lebih kreatif.</p>
<p>Mereka yang sukses mencapai puncak, seperti Thomas Edison atau Albert Einstein, bukanlah orang-orang yang suka berpikir sendirian seperti yang kita percayai selama ini. Thomas Edison dikelilingi puluhan asisten di laboratoriumnya, dan Albert Einstein sering berdiskusi dengan rekan-rekannya, baik secara langsung atau lewat surat. George Stephenson sendiri memiliki mentor dan ketika anaknya sudah beranjak remaja, sering berdiskusi dengan anaknya yang telah mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Penelitian Anders Ericsson yang telah dikupas habis-habisan di Bab 1 buku <em>Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya</em> telah membuktikan pentingnya <em>deliberate practice</em> dalam mencapai kegeniusan. Dan mereka yang berhasil menjalani <em>deliberate practice</em> tersebut dan mencapai status ahli kelas dunia selalu dikelilingi orang-orang yang mendukung mereka. Bayangan tentangan ilmuwan eksentrik atau atlet yang berjuang sendirian seharusnya dibuang jauh-jauh.</p>
<p>Sebaliknya, bila Anda ingin mencapai sebuah impian besar, sementara teman-teman pergaulan Anda memiliki pikiran yang sempit, maka mereka akan berusaha keras menarik Anda kembali ke tingkatan mereka dengan berbagai cara. Karena itu, bila Anda ingin sukses, bijaklah memilih lingkungan sosial Anda.</p></blockquote>
<p><strong>(Untuk artikel terkait lainnya, silakan ke laman resmi &#8220;<a href="../genius-bahagia/">Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya</a>&#8220;)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.itpin.com/blog/pengaruh-lingkungan-sosial-terhadap-kesuksesan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Kekuatan Keinginan Terkuras&#8230;</title>
		<link>http://www.itpin.com/blog/ketika-kekuatan-keinginan-terkuras/</link>
		<comments>http://www.itpin.com/blog/ketika-kekuatan-keinginan-terkuras/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Nov 2011 01:08:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.itpin.com/blog/?p=597</guid>
		<description><![CDATA[Berikut adalah artikel tambahan untuk buku ‘Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya‘. Artikel ini bisa dibaca lepas, namun Anda dianjurkan untuk membaca buku Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya terlebih dahulu bila ingin mendapatkan pengertian yang lebih mendalam: Pentingnya kontrol diri sudah kita bahas di artikel sebelumnya. Kontrol diri membuat kita mampu menunda kepuasan untuk berfokus pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut adalah artikel tambahan untuk buku ‘<strong><a href="http://www.gramediapustakautama.com/buku-detail/85185/Ketika-Mozart-Kecil-Memainkan-Jemarinya:-Bagaimana-Mencetak-Genius-yang-Bahagia" target="_blank">Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya</a></strong>‘. Artikel ini bisa dibaca lepas, namun Anda dianjurkan untuk membaca buku <em>Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya</em> terlebih dahulu bila ingin mendapatkan pengertian yang lebih mendalam:</p>
<p><strong> </strong></p>
<blockquote><p>Pentingnya kontrol diri sudah <a href="http://www.itpin.com/blog/ketika-marshmallow-menggoda-anda/">kita bahas di artikel sebelumnya</a>. Kontrol diri membuat kita mampu menunda kepuasan untuk berfokus pada pencapaian tujuan jangka panjang yang lebih berharga. Setiap hari kita diuji dengan godaan-godaan untuk mencari kepuasan sesaat dan segera: ranjang yang empuk yang menahan kita bangun pagi untuk berolahraga, makanan lezat dan beraroma harus yang meminta kita melupakan diet sehat yang sudah kita rancang, atau tontonan serial televisi menarik yang memaksa kita harus memilih antara nonton atau belajar. Seperti yang bisa kita baca di buku <em>Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya</em>, mereka yang sukses meraih keahlian tinggi atau menjadi genius, adalah mereka yang termovitasi mengejar impian jangka panjang mereka secara terus menerus selama belasan tahun. Tanpa kemampuan menahan godaan dan mengumpulkan kekuatan keinginan (<em>willpower</em>), pencapaian impian tersebut bisa dipastikan hanya sekedar mimpi di siang bolong.</p>
<p>Karena itu, riset demi riset terus dilakukan untuk mencari cara agar individu bisa meningkatkan kekuatan keinginan mereka. Para ahli riset tersebut mencoba mencari tahu kenapa sebagian orang bisa mengontrol dirinya, dan yang lainnya gagal. Roy Baumeister, seorang psikolog sosial di Florida State University, adalah salah satu periset yang berusaha menemukan rahasia untuk mengontrol diri dan meningkatkan kekuatan keinginan.</p>
<p>“Belajar kontrol diri menghasilkan hasil positif dalam banyak hal,” kata Baumeister dalam artikelnya yang terbit di <em>Current Directions in Psychological Science</em>, “Anak-anak belajar lebih baik di sekolah, orang-orang bekerja lebih baik. Lihat saja semua kategori umum masalah yang diderita orang-orang dan kemungkinan besar kontrol diri merupakan penyebabnya dalam beberapa hal.” Anda setuju? Kalau Anda setuju, silakan terus baca.</p>
<p>Baumeister lalu mengajukan teori bahwa kontrol diri bisa dianalogikan dengan sebuah sumur: ia akan kosong bila dipergunakan terus. Untungnya, ia juga bisa diisi ulang. Untuk menguji teorinya, Baumeister memberikan subyek eksperimennya tugas-tugas yang membutuhkan penggunaan kontrol diri. Dalam salah satu eksperimennya, salah satu kelompok diminta untuk <em>tidak boleh</em> memikirkan seekor beruang putih. Menurut Anda itu tugas yang mudah? Cobalah. Semakin Anda mencoba tidak memikirkan beruang putih, semakin sering beruang putih tersebut melintas di benak Anda. Sementara pada kelompok lainnya, mereka diperbolehkan membiarkan pikiran mereka melayang kesana-sini. Setelah itu, kedua kelompok diberikan teka-teki yang cukup sulit untuk dipecahkan.</p>
<p>Kelompok pertama yang diharuskan mengontrol diri mereka untuk tidak memikirkan beruang putih menyerah lebih cepat. Kontrol diri mereka telah terpakai di tugas pertama yang kelihatannya sederhana itu. Meskipun asal mula kekuatan kontrol diri tersebut belum diketahui dengan pasti, Baumeister berpendapat bahwa “sumur” yang menyediakan energi untuk kontrol diri tersebut bisa diisi dengan makan dan tidur secukupnya, tertawa, atau pengalaman positif lainnya.</p>
<p>Dr. Baumeister juga melaporkan hasil studi yang menunjukkan hubungan antara kontrol diri dengan tingkat glukosa darah. Dalam satu studi yang diterbitkan di <em>Personality and Social Psychology Review</em>, subyek percobaan diminta menonton sebuah video, dan sebagian diminta untuk menahan senyum atau reaksi wajah lainnya. Setelah film tersebut selesai, tingkat gula darah partisipan yang diharuskan mengontrol diri agar tidak tersenyum turun; sementara mereka yang tidak diharuskan mengontrol diri memiliki tingkat gula darah yang sama.</p>
<p>Para penonton video tersebut kemudian diberikan diberikan ujian konsentrasi di mana mereka diminta mengidentifikasikan warna tulisan. Namun tentu saja tugas mereka tidak sesederhana itu. Tulisan “merah” misalnya akan tampil dengan warna biru. Subyek harus berkonsentrasi agar tidak dibingungkan antara apa yang tertulis dengan warna tulisannya. Hasil studi menunjukkan mereka yang tadinya harus menahan senyum dan mengalami penurunan tingkat gula darah mendapatkan nilai rendah. Tetapi apa buktinya jika yang bertanggung jawab adalah tingkat glukosa darah? Bisa jadi mereka terlalu lelah. Untuk menguji hipotesa tersebut, para periset memberikan minuman yang mengandung gula pada sekelompok subyek; dan minuman pemanis buatan yang tidak menaikkan glukosa darah kepada kelompok yang lain. Hasilnya: mereka yang menerima minuman dengan pemanis alami berhasil mendapatkan hasil yang lebih baik.</p>
<p>Glukosa memang sudah lama diketahui sebagai bahan bakar otak. Makanan kelihatannya mampu meningkatkan kontrol diri seseorang, selama dalam batas-batas yang wajar. Itu sebabnya mengapa para perokok yang ingin berhenti atau siswa yang ingin konsentrasi belajar secara naluriah akan mencari makanan. Tentu saja pelarian ke makanan manis tidak dianjurkan kepada mereka yang sedang berdiet, sebuah bentuk kontrol diri. Namun para periset juga menemukan untuk mereka yang sedang berusaha diet dalam jangka panjang, adalah lebih baik makan sering dalam porsi kecil dibanding berusaha menahan diri tidak makan sama sekali. Tentu saja karena kita sedang membicarakan tentang peningkatan keahlian di sini, kita tidak akan ikut dalam perdebatan peranan glukosa dalam diet. Biarlah mereka yang lebih berkompeten berkomentar dalam hal ini.</p>
<p>Kathleen Vohs, professor marketing di University of Minnesota, mengatakan dalam studi lab, kontrol diri atau kekuatan keinginan meningkat ketika orang-orang membangkitkan memori yang kuat tentang hal-hal yang berarti dalam hidup mereka. Dr. Vohs mencatat masalah kontrol diri timbul ketika seseorang terperangkap dalam “kekinian” dan melupakan tujuan jangka panjang mereka. Tanpa mengingat tujuan jangka panjang, kekuatan godaan sesaat sulit ditolak.</p>
<p>Beberapa studi menunjukkan orang-orang yang menghadapi masalah kontrol diri harus memulai mengatasi masalahnya dari hal-hal kecil terlebih dahulu. Studi-studi lainnya menunjukkan mereka yang diminta melakukan perubahan kecil seperti meningkatkan sikap tubuh atau menggosok gigi dengan tangan yang berlawanan mampu menunjukkan peningkatan kontrol diri dalam uji laboratorium. Memang masih banyak yang perlu diuji lagi di sini, tetapi bukti-bukti menunjukkan latihan kontrol diri harus dimulai secara bertahap. Daripada Anda memaksa diri langsung melakukan <em>jogging</em> setiap pagi, ada baiknya Anda memulai dengan membiasakan diri bangun setengah jam lebih awal terlebih dahulu. Setelah hal itu menjadi kebiasaan, barulah Anda meningkatkan ke tingkat berikutnya, misalnya mulai berjalan-jalan ringan dulu secara teratur. Setelah itu, barulah Anda mulai melakukan <em>jogging</em>.</p>
<p>Bagi Anda yang ingin mencapai kegeniusan, namun memiliki masalah kontrol diri atau motivasi, mulailah dengan langkah kecil terlebih dahulu. Yang penting, lakukan secara konsisten. Langkah kecil demi langkah kecil akan menjadi langkah raksasa. Anda juga dianjurkan untuk berfokus hanya pada satu atau maksimal dua tujuan jangka panjang. Seperti contoh-contoh pada buku <em>Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya</em>, para genius kelas dunia tidaklah genius di semua bidang. Mereka terbukti memiliki fokus tunggal pada satu bidang saja &#8212; dan itulah salah satu rahasia kegeniusan mereka.</p></blockquote>
<p><strong>(Untuk artikel terkait lainnya, silakan ke laman resmi &#8220;<a href="../genius-bahagia/">Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya</a>&#8220;)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.itpin.com/blog/ketika-kekuatan-keinginan-terkuras/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika &#8216;Marshmallow&#8217; Menggoda Anda</title>
		<link>http://www.itpin.com/blog/ketika-marshmallow-menggoda-anda/</link>
		<comments>http://www.itpin.com/blog/ketika-marshmallow-menggoda-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Nov 2011 01:11:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.itpin.com/blog/?p=591</guid>
		<description><![CDATA[Berikut adalah artikel tambahan untuk buku &#8216;Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya&#8216;. Artikel ini bisa dibaca lepas, namun Anda dianjurkan untuk membaca buku Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya terlebih dahulu bila ingin mendapatkan pengertian yang lebih mendalam: Di akhir tahun 1960an, Walter Mischel, seorang profesor ilmu psikologi di Stanford University melakukan sebuah percobaan sederhana yang kemudian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut adalah artikel tambahan untuk buku &#8216;<strong><a href="http://www.gramediapustakautama.com/buku-detail/85185/Ketika-Mozart-Kecil-Memainkan-Jemarinya:-Bagaimana-Mencetak-Genius-yang-Bahagia" target="_blank">Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya</a></strong>&#8216;. Artikel ini bisa dibaca lepas, namun Anda dianjurkan untuk membaca buku <em>Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya</em> terlebih dahulu bila ingin mendapatkan pengertian yang lebih mendalam:</p>
<blockquote><p>Di akhir tahun 1960an, Walter Mischel, seorang profesor ilmu psikologi di Stanford  University melakukan sebuah percobaan sederhana yang kemudian menjadi buah bibir di dunia psikologi. Awalnya, dia hanya ingin menyelidiki proses mental yang membuat sebagian orang mampu mengontrol diri mereka, sementara lainnya menyerah dengan cepat. Anak-anak yang ikut dalam eksperimennya diundang untuk masuk satu per satu ke sebuah ruangan di Bing Nursery School, yang terletak di kampus Stanford University. Ruangan tersebut tidak terlalu besar, dan hanya terdapat sebuah meja dan kursi di dalamnya. Di atas meja tersebut terdapat berbagai makanan kesukaan anak kecil: kembang gula <em>marshmallow</em>, biskuit, dan <em>pretzel</em>.</p>
<p>Anak yang masuk kemudian akan diminta untuk duduk dan dipersilakan memilih salah satu dari makanan-makanan kecil tersebut. Seorang periset kemudian mengajukan tawaran: Anak tersebut boleh langsung mengambil pilihan mereka; atau jika mereka mau menunggu periset tersebut yang akan keluar selama beberapa menit, anak tersebut boleh mendapatkan dua jenis makanan kesukaan mereka. Bila mereka tidak sabar menunggu dan ingin segera menikmati makanan kecil tersebut, mereka boleh membunyikan lonceng yang ditaruh di atas meja, dan periset tersebut akan langsung masuk untuk memberikan anak satu jenis jajanan saja. Setelah anak-anak tersebut mengerti, periset tersebut kemudian meninggalkan ruangan sekitar lima belas menit.</p>
<p>Eksperimen tersebut dilakukan selama beberapa tahun. Dalam upaya menahan godaan mereka untuk mendapatkan tawaran yang nilainya dua kali lebih banyak, sebagian anak-anak menutup mata mereka, bersembunyi di kolong meja, atau melihat ke arah lain. Yang lainnya menendang-nendang meja, atau bermain-main dengan rambut mereka. Salah seorang anak terlihat melirik sekeliling ruangan untuk memastikan tidak ada orang yang melihat. Kemudian dia mengambil sebuah Oreo, membuka bagian tengahnya, menjilati krim putihnya, dan kemudian dengan mengembalikan biskuit tersebut ke tempat semua &#8212; dengan wajah penuh kemenangan. Dan tentu saja, beberapa anak menyerah dan tanpa membunyikan lonceng, langsung menyantap makanan kesukaan mereka.</p>
<p>Setelah menerbitkan beberapa makalah dari percobaan di atas, Mischel berpindah ke penelitian-penelitian lain. Eksperimen yang melibatkan anak-anak yang berjuang melawan nafsu mereka memang cukup menarik, tetapi Mischel tidak merasa percobaan tersebut bisa melambungkan namanya. Masih banyak penelitian lain yang kelihatannya lebih menarik dan berbobot.</p>
<p>Sesekali ketika Mischel berbincang-bincang dengan tiga orang anak perempuannya yang juga pernah bersekolah di Bing, dia menanyakan kabar teman-teman sekelas mereka. Bagaimana kabar Jane? Bagaimana kabar Eric? Dari jawaban-jawaban para putrinya, Mischel mulai menyadari adanya hubungan antara prestasi akademik teman-teman anaknya setelah remaja dengan kemampuan mereka menahan diri selama eksperimen di atas. Dia meminta putri-putrinya memberikan skala 0-5 untuk menilai prestasi akademik teman-teman mereka, dan hasil tersebut kemudian dibandingkan dengan data pada percobaan tersebut. Begitu dia menemukan adanya korelasi yang menarik antara kemampuan kontrol diri dan prestasi akademik anak-anak tersebut, dia segera memutuskan kembali meneliti data-data percobaan tersebut dengan serius.</p>
<p>Di tahun 1981, ketika anak-anak tersebut sudah masuk usia sekolah menengah, Mischel mengirimkan kuisioner kepada para orang tua dan guru dari 653 anak-anak yang pernah mengikuti eksperimen di Bing tersebut. Kuisioner tersebut memuat pertanyaan-pertanyaan tentang semua perilaku yang bisa dipikirkannya, dari kemampuan mereka membuat rencana, atau berpikir ke depan, kemampuan mengatasi masalah atau konflik, atau kemampuan antar personal mereka. Dia juga meminta hasil ujian SAT mereka (SAT adalah ujian standar di Amerika untuk masuk ke perguruan tinggi).</p>
<p>Ketika data-data masuk dan Mischel mulai menganalisis hasilnya, dia menemukan anak-anak yang tidak sabar, yang tidak bisa menahan diri mereka dalam percobaan tersebut, lebih mungkin menghadapi masalah tingkah laku, baik di sekolah atau pun di rumah. Mereka juga mendapatkan nilai ujian yang lebih rendah, sulit berkonsentrasi dan memiliki lebih sedikit teman. Mereka yang bisa bertahan selama 15 menit dalam ruangan tersebut tanpa menyentuh makanan kesukaan mereka, secara rata-rata berhasil meraih nilai SAT 210 poin lebih tinggi dari mereka yang hanya bertahan 30 detik. Ketika mereka berusia 30 tahun, anak-anak yang dulunya tidak bisa mengontrol diri mereka memiliki berat badan yang lebih tinggi, dan lebih mungkin terlibat dalam obat bius.</p>
<p>Mengapa kontrol diri sangat penting? Selama berpuluh-puluh tahun, para psikolog dan masyarakat umum percaya bahwa kecerdasan adalah faktor utama untuk menentukan sukses di kemudian hari. Tetapi seperti yang kita baca di buku <em>Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya</em>, hal tersebut tidak benar. Kecerdasan tanpa pengetahuan mendalam di satu bidang tidaklah berguna, dan untuk mendapatkan pengetahuan tersebut dibutuhkan kerja keras. Mischel juga berpendapat demikian. Anak dengan IQ setinggi langit pun harus mengerjakan pekerjaan rumah mereka, dan kontrol diri memungkinkan mereka berfokus melakukan hal yang harus dilakukan, meski mereka tidak menyukainya.</p>
<p>Menurut Mischel, apa yang penting dari eksperimen tersebut, yang kemudian dikenal dengan nama ujian marshmallow, bukanlah cuma tentang kontrol diri atau kekuatan keinginan, tetapi tentang bagaimana mereka mencari cara agar tujuan mereka tercapai dalam situasi yang menantang. Pada dasarnya, semua orang menginginkan &#8220;marshmallow&#8221; kedua, ketiga, dan seterusnya. Yang menjadi pertanyaan: Bagaimana cara mendapatkannya? Kita tidak bisa mengontrol lingkungan kita, tetapi kita bisa mengontrol tanggapan kita tentang situasi yang sedang kita hadapi tersebut. Kemampuan mengontrol diri kita sendiri tersebut, pada akhirnya yang akan menentukan ke arah mana hidup kita akan menuju.</p>
<p>Menurut Mischel, itulah sebabnya ujian sederhana tersebut mampu meramalkan dengan baik keberhasilan anak-anak tersebut berpuluh tahun kemudian. Ujian tersebut adalah tentang kemampuan mengatasi emosi sesaat. Jika Anda bisa menghindari godaan sesaat tersebut, Anda bisa berfokus pada tujuan jangka panjang yang lebih penting seperti belajar, berlatih, atau menabung untuk masa depan. Meski eksperimen Mischel ini tidak ditujukan untuk menjelaskan pencapaian keahlian individu, bisa dipastikan kemampuan kontrol diri tersebut jelas dibutuhkan untuk menjalani <em>deliberate</em> <em>practice</em> dan pembelajaran yang benar selama belasan tahun.</p>
<p>Lalu bagaimana kemampuan kontrol diri tersebut diperoleh? Studi Mischel dan rekan-rekannya yang berikutnya menemukan perbedaan kemampuan kontrol diri tersebut sudah muncul sejak anak-anak belajar berjalan, sekitar satu setengah tahun. Anda yang masih percaya bahwa faktor keturunan adalah faktor utama dalam pencapaian sukses dan keahlian akan segera bersorak. Nah, akhirnya terbukti juga keturunan adalah faktor yang paling penting. Namun, tunggu dulu. Jangan bersorak gembira dulu karena Mischel tidak setuju dengan Anda. Lingkungan lebih mungkin menjelaskan perbedaan tersebut. Ketika Mischel melakukan eksperimen di keluarga miskin dengan keluarga kaya, dia menemukan anak-anak dari kalangan berada memiliki kontrol diri yang lebih tinggi. Mengingat tidak ada gen yang berkaitan dengan kekayaan, maka penjelasan yang lebih masuk akal adalah kontrol diri merupakan hasil dari pendidikan di rumah. Orang tua yang miskin tidak memiliki waktu untuk melatih anak-anak mereka menunda kesenangan karena sibuk dengan urusan perut yang lebih mendesak. Kontrol diri adalah hasil dari latihan yang diberikan orang tua sejak sedini mungkin.</p>
<p>Untuk membuktikan hal tersebut, Mischel dan rekan-rekannya mengajari anak-anak untuk menganggap gula-gula marshmallow sebagai awan. Melalui latihan tersebut, kontrol diri anak-anak tersebut meningkat naik. Tentu saja agar kemampuan mengalihkan perhatian tersebut menjadi kebiasaan, hal tersebut perlu diulang dan dilatih.</p>
<p>Bagaimanakah dengan kontrol diri Anda, atau anak-anak Anda?</p></blockquote>
<p><strong>(Untuk artikel terkait lainnya, silakan ke laman resmi &#8220;<a href="../genius-bahagia/">Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya</a>&#8220;)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.itpin.com/blog/ketika-marshmallow-menggoda-anda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Kapasitas Otak Kita Hanya Terpakai 10%-15%?</title>
		<link>http://www.itpin.com/blog/apakah-kapasitas-otak-kita-hanya-terpakai-10-15/</link>
		<comments>http://www.itpin.com/blog/apakah-kapasitas-otak-kita-hanya-terpakai-10-15/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Nov 2011 01:55:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.itpin.com/blog/?p=586</guid>
		<description><![CDATA[Berikut adalah artikel tambahan untuk buku &#8216;Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya&#8216;. Artikel ini bisa dibaca lepas, namun Anda dianjurkan untuk membaca buku Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya terlebih dahulu bila ingin mendapatkan pengertian yang lebih mendalam: Kapasitas otak kita yang terpakai hanya terpakai 10%-15%. Itu mungkin yang sering Anda dengar ketika membaca buku-buku pengembangan diri. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut adalah artikel tambahan untuk buku &#8216;<strong><a href="http://www.gramediapustakautama.com/buku-detail/85185/Ketika-Mozart-Kecil-Memainkan-Jemarinya:-Bagaimana-Mencetak-Genius-yang-Bahagia" target="_blank">Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya</a></strong>&#8216;. Artikel ini bisa dibaca lepas, namun Anda dianjurkan untuk membaca buku <em>Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya</em> terlebih dahulu bila ingin mendapatkan pengertian yang lebih mendalam:</p>
<blockquote><p>Kapasitas otak kita yang terpakai hanya terpakai 10%-15%. Itu mungkin yang sering Anda dengar ketika membaca buku-buku pengembangan diri. Itu juga mungkin yang Anda percayai. Dan menurut mereka yang percaya atas pandangan tersebut, kita perlu mengaktifkan sebagian dari kapasitas yang belum terpakai tersebut untuk menjadi genius.</p>
<p>Masalahnya, “fakta” tersebut hanyalah mitos belaka. Seperti yang bisa dibaca di buku <em>Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya</em>, sebagai organ yang luar biasa efisien, sel-sel neuron yang tidak terpakai pasti akan dibunuh, dan bukannya dipelihara. Pembunuhan masal sel-sel neuron yang tak terpakai tersebut – proses yang dinamakan <em>synaptic pruning</em> – terjadi selama periode pengembangan anak di masa balita. Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Abitz, Damgaard dkk (2007) dari Oxford, jumlah sel-sel neuron orang dewasa hanya 41% dari sel-sel neuron bayi. Dan sel-sel neuron yang bertahan hidup, adalah mereka yang sudah aktif.</p>
<p>Memang bila kita masukkan kepala kita ke dalam mesin pemindai otak seperti fMRI atau PET, dan kita diminta melakukan sebuah tugas berpikir / kognitif, yang terlihat hanyalah sebagian kecil dari otak yang aktif. Namun area yang aktif tersebut adalah area yang berkaitan dengan tugas yang sedang diberikan. Berilah tugas lain, dan area lain akan aktif. Mengatakan hanya 10% otak yang aktif dari pengamatan tersebut sama saja dengan  mengatakan hanya 10% anggota tubuh kita yang aktif saat mengamati seorang sekretaris yang sedang mengetik. Pada kasus tersebut hanya jari-jari tangan sang sekretaris yang bergerak, tapi itu tidak berarti anggota tubuhnya yang lain lumpuh atau mati. Otak juga demikian. Hanya bagian yang dibutuhkan yang akan aktif, sementara bagian lainnya siap untuk diaktifkan kapan saja dibutuhkan.</p>
<p>Bapak psikologi modern, William James memang pernah mengatakan kita belum memaksimalkan potensi otak kita. Walau demikian, dia tidak pernah mengatakan sebagian besar <em>kapasitas</em> otak kita yang belum aktif atau terpakai. Penelitian ilmu otak belakangan ini telah membuktikan kapasitas otak bukanlah penentu kegeniusan. Otak Einstein malah lebih kecil sedikit dibanding otak rata-rata manusia. Potensi yang dimaksudkan James jelas tidaklah datang dari kapasitas atau jumlah sel-sel neuron yang belum aktif.</p>
<p>Jadi apa yang membedakan otak para genius dengan kita yang biasa-biasa saja? Jawabannya terletak pada <em>kualitas dan kuantitas koneksi antar sel-sel neuron</em>. Dengan kata lain, bagaimana kita membangun dan memperkuat hubungan antar neuron itulah yang berperan penting terhadap kegeniusan. Sel-sel neuron bayi lebih banyak dari sel-sel neuron orang dewasa. Tapi jelas orang dewasa jauh lebih cerdas dari bayi. Hasil studi tersebut jelas memperkuat argumen, yang penting bukanlah jumlah neuron yang kita miliki, tetapi bagaimana kita membangun koneksi antar neuron dengan cara yang benar.</p>
<p>Dan dalam buku Ketika <em>Mozart Kecil Memainkan Jemarinya</em>, kita sudah membahas cara untuk membangun dan memperkuat koneksi tersebut melalui teknik-teknik seperti <em>chunking</em>, pemanfaatan model untuk membangun pengetahuan yang kontekstual, dan tentu saja peranan <em>deliberate practice</em> dan <em>myelin</em> untuk memperkuat koneksi tersebut. Intinya, secara ilmiah sudah terbukti setiap orang berpotensi menjadi genius. Yang patut disayangkan, hanya sedikit dari kita yang mengetahui caranya.</p>
<p>Yang jelas, bila Anda tergiur dengan tawaran yang menglaim bisa meningkatkan kegeniusan Anda dengan cepat melalui pengaktifkan otak atau neuron-neuron Anda, berhati-hatilah. Anda boleh saja tidak percaya artikel ini, tetapi jangan percaya juga pada klaim-klaim lain yang menjanjikan kegeniusan dengan cara cepat. Lakukanlah riset sendiri dari sumber-sumber yang bisa dipercaya. Tidak ada cara instan untuk mencapai kegeniusan, karena jika benar cara tersebut ada, kita sudah melihat ledakan para genius di dunia saat ini. Kenyataannya hal tersebut tidak terjadi.</p></blockquote>
<p><strong>(Untuk artikel terkait lainnya, silakan ke laman resmi &#8220;<a href="../genius-bahagia/">Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya</a>&#8220;)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.itpin.com/blog/apakah-kapasitas-otak-kita-hanya-terpakai-10-15/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aktivasi Otak Tengah: Penipuan atau Bukan?</title>
		<link>http://www.itpin.com/blog/aktivasi-otak-tengah-penipuan-atau-bukan/</link>
		<comments>http://www.itpin.com/blog/aktivasi-otak-tengah-penipuan-atau-bukan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Nov 2011 01:32:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.itpin.com/blog/?p=574</guid>
		<description><![CDATA[Berikut adalah artikel tambahan untuk buku &#8216;Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya&#8216;. Artikel ini bisa dibaca lepas, namun Anda dianjurkan untuk membaca buku Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya terlebih dahulu bila ingin mendapatkan pengertian yang lebih mendalam: Belakangan ini di tanah air sedang marak tawaran untuk menyulap anak-anak biasa menjadi genius secara cepat melalui metode aktivasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut adalah artikel tambahan untuk buku &#8216;<strong><a href="http://www.gramediapustakautama.com/buku-detail/85185/Ketika-Mozart-Kecil-Memainkan-Jemarinya:-Bagaimana-Mencetak-Genius-yang-Bahagia" target="_blank">Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya</a></strong>&#8216;. Artikel ini bisa dibaca lepas, namun Anda dianjurkan untuk membaca buku <em>Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya</em> terlebih dahulu bila ingin mendapatkan pengertian yang lebih mendalam:</p>
<blockquote><p>Belakangan ini di tanah air sedang marak tawaran untuk menyulap anak-anak biasa menjadi genius secara cepat melalui metode aktivasi otak. Apakah tawaran tersebut bisa dipercaya atau tidak? Saya kira sebagian dari kalian sudah mengetahui jawabannya. Sementara bagi yang belum, saya anjurkan Anda untuk mengikuti beberapa diskusi yang berkembang di Internet:</p>
<p><a href="http://www.kaskus.us/showthread.php?p=251431763">http://www.kaskus.us/showthread.php?p=251431763</a></p>
<p><a href="http://www.facebook.com/topic.php?uid=136540899711671&amp;topic=136">http://www.facebook.com/topic.php?uid=136540899711671&amp;topic=136</a></p>
<p>Saya harap kebanyakan pertanyaan Anda bisa terjawab dari diskusi tersebut.</p>
<p>Di sini saya ingin menambahkan sedikit pandangan pribadi saya, terutama saat pertama kali mendengar tentang metode tersebut.</p>
<p>Hal pertama yang menimbulkan tanda tanya besar di kepala saya waktu itu adalah penjelasan dari pihak GMC bahwa otak tengah berfungsi untuk menghubungkan otak kiri dan otak kanan. Dengan mengaktifkan otak tengah tersebut, secara otomatis otak kiri dan otak kanan akan terhubung dan anak tersebut akan menjadi genius. Hmh.. kedengarannya masuk akal. Yang menjadi masalah, bagian yang menghubungkan otak kiri dan otak kanan adalah <em>corpus callosum</em>, bukan otak tengah (<em>mid brain</em>). Semua mahasiswa kedokteran atau psikologi pasti sudah mengetahui fakta tersebut. Nah, bagaimana mungkin sebuah teori yang konon kabarnya telah diselidiki belasan dokter di Jepang bisa salah untuk istilah yang mendasar seperti itu?</p>
<p>Kedua, jika tidak salah ingat, di buku yang diterbitkan pihak GMC, dijelaskan juga bahwa otak tengah hewan lebih aktif dibanding manusia sehingga hewan memiliki daya penglihatan atau insting yang lebih tajam, dlsb. Itu mungkin benar. Masalahnya, otak tengah termasuk otak primitif yang bekerja berdasarkan refleks dan insting. Pada manusia, sebagian besar fungsi otak tengah (termasuk bagian lain dari sistem otak kuno seperti <em>amygdala</em>, <em>thalamus</em>, <em>basal ganglia</em>, <em>cerebellum</em>), sudah diambil alih oleh <em>neocortex</em>, bagian otak yang lebih modern dan rasional. Neocortex inilah yang memungkinkan kita memilih tanggapan dengan jauh lebih cerdas, dan tidak semata-mata mengikuti insting kita. Katakanlah metode aktivasi tersebut berhasil mengaktifkan otak tengah kita, tidakkah itu berarti kita diminta berjalan mundur sehingga menjadi lebih mirip hewan?</p>
<p>Ketiga, metode ini mengasumsikan ada bagian otak kita yang harus diaktivasi. Ada yang bilang otak kita hanya aktif 10%-15%. Siapa yang bilang demikian? Seperti yang bisa dibaca di buku <em>Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya</em>, otak kita adalah organ yang efisien. Semua neuron yang membentuk otak kita sudah aktif. Bila ada neuron yang tidak aktif, neuron tersebut akan mati. Mitos 10%-15% tersebut kemungkinan besar adalah hasil dari pelintiran salah satu pidato William James (bapak psikologi modern) yang pernah menyebut kita masih memiliki banyak potensi untuk dikembangkan. Dalam Bab 2 buku <em>Ketika Mozart Kecil</em>, kita bisa melihat pengembangan potensi tersebut bukanlah dilakukan melalui aktivasi bagian otak atau neuron-neuron yang masih “tertidur”. Potensi tersebut dikembangkan dengan <em>membangun dan memperkuat koneksi-koneksi berkualitas tinggi antar neuron</em>, dan proses pembangunan koneksi tersebut tidaklah instan. Anda harus berlatih dan belajar dengan tahapan dan langkah-langkah yang benar.</p>
<p>Keempat, setelah melihat banyaknya lubang-lubang pada metode aktivasi tersebut, saya mencoba mencari makalah ilmiah yang mendukung aktivasi otak tengah di Internet. Hasilnya? Nihil. Kosong. Semua informasi hanya berasal dari pihak GMC sendiri. Penemuan sebesar ini &#8212; yang berpotensi menghasilkan Hadiah Nobel buat penemunya &#8212; masa tidak ada jurnal ilmiah yang mendukung, atau paling tidak merujuknya?</p>
<p>Selain itu, beberapa hari lalu, saya sempat menonton tayangan di salah satu saluran di TV kabel. Acara tersebut memberitakan tingginya persaingan anak-anak Jepang hanya untuk masuk ke TK/SD. Rata-rata anak harus menyelesaikan 20.000 lembar kertas kerja untuk latihan untuk ujian masuk ke SD favorit! Jangan heran bila banyak anak-anak Jepang yang depresi dan bunuh diri. Pertanyaannya: Bila Jepang sukses mengembangkan metode aktivasi otak tengah ini, mengapa metode tersebut tidak dipergunakan untuk anak-anak tersebut? Bukankah metode tersebut bisa meningkatkan daya saing Jepang, apalagi Jepang sekarang mengalami krisis demografi (dimana jumlah anak-anak kecil terus mengalami penurunan)?</p>
<p>Sekarang, dengan segala tanda tanya tersebut, marilah kita coba membuka pikiran kita sedikit. Mungkin saja metode aktivasi tersebut memang benar? Jika demikian, saya akan mengundang pihak GMC memberikan rujukan ilmiah untuk mendukung teori tersebut (dan tidak berlindung di belakang kedok penelitian tersebut bersifat rahasia. Bila rahasia, mengapa bisa diajarkan dengan bebas di Indonesia?). Atau, untuk orang tua yang pernah mencoba metode tersebut, mungkin ada yang bersedia membagikan pengalamannya di sini? Sementara itu, bagi para orang tua yang sayang anak-anaknya, saya harap kalian jangan terlalu cepat percaya pada metode-metode yang konon kabarnya bisa menjadikan anak-anak Anda genius secara cepat. Semua orang memang berpotensi menjadi genius, tetapi tidak ada cara cepat. Seperti yang bisa Anda simpulkan dari buku <em>Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya</em>: <em>&#8220;Kegeniusan adalah proses pengasahan terus-menerus, bukan sebuah kondisi yang statis.&#8221;</em></p>
<p>Jadi, selalulah bersikap waspada dan lakukan riset secara mendalam sebelum merogoh dompet Anda.</p></blockquote>
<p><strong>(Untuk artikel terkait lainnya, silakan ke laman resmi &#8220;<a href="../genius-bahagia/">Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya</a>&#8220;)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.itpin.com/blog/aktivasi-otak-tengah-penipuan-atau-bukan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Efek Pygmalion</title>
		<link>http://www.itpin.com/blog/efek-pygmalion/</link>
		<comments>http://www.itpin.com/blog/efek-pygmalion/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Nov 2011 01:40:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Column Archive]]></category>
		<category><![CDATA[Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://itpin.com/blog/2006/04/24/efek-pygmalion/</guid>
		<description><![CDATA[Berikut adalah artikel tambahan untuk buku &#8216;Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya&#8216;. Artikel ini bisa dibaca lepas, namun Anda dianjurkan untuk membaca buku Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya terlebih dahulu bila ingin mendapatkan pengertian yang lebih mendalam: Pygmalion adalah salah satu legenda terkenal Romawi yang awalnya ditulis oleh pujangga Ovid. Dalam kisah tersebut, Pygmalion adalah seorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut adalah artikel tambahan untuk buku &#8216;<strong><a href="http://www.gramediapustakautama.com/buku-detail/85185/Ketika-Mozart-Kecil-Memainkan-Jemarinya:-Bagaimana-Mencetak-Genius-yang-Bahagia" target="_blank">Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya</a></strong>&#8216;. Artikel ini bisa dibaca lepas, namun Anda dianjurkan untuk membaca buku <em>Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya</em> terlebih dahulu bila ingin mendapatkan pengertian yang lebih mendalam:</p>
<blockquote><p>Pygmalion adalah salah satu legenda terkenal Romawi yang awalnya ditulis oleh pujangga <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Ovid" target="_blank">Ovid</a>. Dalam kisah tersebut, Pygmalion adalah seorang pemahat kesepian yang mengaku tidak pernah tertarik dengan wanita. Suatu saat, dia memahat patung berbentuk seorang wanita dari gading. Patung tersebut sangat indah dan realistis sehingga Pygmalion akhirnya jatuh cinta pada patung tersebut. Karena cintanya, Pygmalion memohon pada sang dewi cinta Venus untuk menghidupkan patung tersebut untuk dinikahi. Berkat permohonannya yang sungguh-sungguh dan tulus, Venus akhirnya mengabulkan permintaan tersebut.</p>
<p>Ide cerita tersebut kemudian dipakai oleh <a href="http://www.kirjasto.sci.fi/gbshaw.htm" target="_blank">George Bernard Shaw</a>, dramawan Irlandia yang juga pemenang hadiah nobel kesusasteraan tahun 1925, untuk menghasilkan salah satu karyanya yang paling dikenal, <em>Pygmalion</em>. Karya Shaw tersebut menceritakan tentang seorang profesor fonetik yang berhasil merubah seorang gadis penjual bunga yang sederhana, Eliza Doolittle, menjadi seorang <em>lady</em> di kalangan elit di London.</p>
<p>Walau kisah asli Pygmalion jelas-jelas merupakan legenda yang tidak mungkin terjadi, namun adaptasi Shaw ternyata menggambarkan sesuatu yang cukup dekat dengan realitas yang jarang kita sadari: <strong><span style="text-decoration: underline;">bahwa harapan kita terhadap seseorang akan merubah harapan orang tersebut terhadap dirinya sendiri dan akhirnya akan merubah harapan tersebut menjadi kenyataan</span></strong>.</p>
<p>Interaksi rumit tersebut bukanlah sekedar teori yang hanya bisa dinikmati dalam pementasan Shaw, tapi sudah dibuktikan dalam beberapa eksperimen yang dilakukan dengan ketat.</p>
<p>Sekitar tahun 1960-an, Rosenthal dan Jacobson melakukan eksperimen di beberapa sekolah dasar di AS. Dalam salah satu eksperimen tersebut, para guru diberitahu bahwa sekelompok murid-murid (sekitar seperlima dari kelas) memiliki IQ yang lebih tinggi. Secara berkala selama eksperimen tersebut dilakukan, dilakukan tes IQ. Dan memang benar, IQ kelompok murid-murid yang diharapkan memiliki IQ yang lebih tinggi tersebut memang memiliki IQ yang secara signifikan lebih tinggi dibanding murid-murid lainnya.</p>
<p>Namun itu saja tidak cukup membuat cerita tersebut menjadi istimewa. Apa yang membuat cerita ini menjadi istimewa adalah fakta bahwa sebelum kelas tersebut dimulai, semua murid-murid telah menjalani tes IQ dan sebenarnya IQ semua murid-murid dalam kelas tersebut lebih kurang sama! Bagaimana sekolompok murid-murid yang diberitahu memiliki IQ tinggi akhirnya benar-benar menunjukkan IQ yang tinggi, menurut Rosenthal dan Jacobson, adalah hasil dari harapan guru-guru tersebut. Secara tidak sadar, harapan-harapan tersebut mempengaruhi citra diri murid-murid itu sendiri. Citra diri tersebut mungkin membuat mereka belajar lebih keras atau secara tidak sadar mengembangkan kemampuan bawah sadar mereka. Eksperimen tersebut juga dilakukan untuk mahasiswa dengan hasil yang lebih kurang sama.</p>
<p>Kesimpulannya: walau kisah Pygmalion merupakan dongeng, namun <em>efek Pygmalion bukanlah dongeng!</em></p>
<p>Dalam konteks dunia kerja, efek ini juga pernah diteliti oleh J. Sterling Livingstone. Hasil penelitian tersebut dipublikasikan di Harvard Business Review pada edisi Sep/Okt 1988 di artikel yang berjudul &#8220;<em>Pygmalion in Management</em>&#8220;. Menurut Livingstone, bagaimana manajer memperlakukan anak buahnya dipengaruhi secara tidak sadar oleh harapan manajer tersebut. Manajer yang memiliki pengharapan positif terhadap anak buahnya akan cenderung mendapatkan hasil yang positif dan sebaliknya. Harapan-harapan tersebut dikomunikasikan dengan halus, kadang tidak disadari oleh manajer tersebut. Misalnya saja manajer akan memberikan lebih banyak <em>feedback</em> konstruktif untuk anak buah yang diharapkan menunjukkan kinerja positif dan memberikan kritik bernada negatif terhadap anak buah yang diharapkan menunjukkan kinerja negatif. Atau manajer akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk berdiskusi dengan anak buah yang diharapkan menunjukkan kinerja positif. Akumulasi dari hal-hal kecil seperti itu akan mempengaruhi citra diri para anak buah tersebut yang akhirnya berbuah pada kenyataan sesuai harapan manajer tersebut dari awal. Kesesuaian antara harapan dan kenyataan tersebut semakin memperkukuh kepercayaan manajer bersangkutan bahwa pendapatnya memang benar dari awal.</p>
<p>Pendapat tersebut ditunjang juga oleh dua peneliti dari <a href="http://www.insead.edu" target="_blank">Insead</a>, Jean-Francois Manzoni dan Jean-Louis Barsoux. Penelitian tersebut dituangkan dalam buku &#8220;<a href="http://www.amazon.com/gp/product/0875849490/104-7739497-4975909?v=glance&amp;n=283155" target="_blank">The Set-Up-to-Fail Syndrome</a>&#8220;. Mereka berfokus pada bagaimana para boss secara tidak sadar menyusun perangkap untuk menggagalkan anak buahnya. Harapan negatif boss menimbulkan ketidakpercayaan diri anak buah, yang menurunkan kinerjanya, yang memperkuat kepercayaan awal sang boss, dan seterusnya.</p>
<p>Lalu apa artinya efek Pygmalion bagi kita?  Bila kita adalah orang tua atau pengajar, berhati-hatilah dengan harapan-harapan negatif yang kita miliki terhadap anak-anak atau murid-murid kita. Bila kita adalah manajer atau boss, berhati-hatilah terhadap harapan-harapan negatif terhadap bawahan kita. Sebagai pasangan, kita juga harus berhati-hati terhadap pikiran-pikiran negatif terhadap pasangan kita. Simpanlah harapan positif, dan mereka akan memberikan sisi positif mereka; jagalah harapan negatif dan mereka akan bereaksi negatif juga. Ingin anak-anak Anda berprestasi? Harapkanlah demikian, dan motivasi mereka menjalani latihan dan pembelajaran yang benar. Lakukan hal  yang sama untuk diri Anda juga.</p>
<p>Sebagai manusia, kita memang sulit menghilangkan harapan-harapan tersebut, namun dengan menyadari bahwa harapan-harapan kita bisa menjadi kenyataan, kita bisa selalu bermawas diri. Walau saat ini kita masih jauh dari memahami bagaimana pikiran kita bisa menciptakan kenyataan, bukti-bukti secara empiris dan eksperimental telah menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bisa ditarik antara pikiran dan kenyataan.</p></blockquote>
<p><strong>(Untuk artikel terkait lainnya, silakan ke laman resmi &#8220;<a href="../genius-bahagia/">Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya</a>&#8220;)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.itpin.com/blog/efek-pygmalion/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

