|

Fenomena ‘The Flat World’

Saat ini saya sedang membaca buku Thomas L. Friedman, The World Is Flat, yang menceritakan tentang sejarah globalisasi saat ini, yang oleh Friedman disebut sebagai Globalization 3.0 (Globalisasi 1.0 adalah globalisasi antar negara yang dimulai dari perjalanan Columbus, Globalisasi 2.0 adalah globalisasi antar perusahaan yang dimulai sekitar 1800an, dan Globalisasi 3.0 adalah globalisasi antar individu seperti yang kita alami saat ini). Lewat buku best-seller ini, pembaca akan terbawa menelusuri sejarah globalisasi yang dimulai dengan runtuhnya Tembok Berlin, revolusi Internet, outsourcing, Wikipedia, blogging, open source software, Wal-Mart, sampai ke munculnya media-media mobile seperti PDA dan handphone. Buku ini juga akan membawa kita mengalami secara langsung kemajuan yang telah dibuat India dan Cina dengan merangkul globalisasi. Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca siapa pun karena sadar atau tidak, hidup kita sangat dipengaruhi oleh Globalisasi 3.0 ini. Sayangnya, sejauh ini saya belum melihat versi terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

Sementara masih membaca bab-bab awal, saya sempat juga bersua dengan artikel mengenai maraknya trend outsourcing di negara-negara Eropa Timur, terutama Bulgaria. Kedekatan Bulgaria dengan negara-negara Eropa Barat, namun dengan biaya tenaga kerja yang relatif rendah, membuat eks negara komunis ini menjadi alternatif yang sangat menarik bagi perusahaan-perusahaan US untuk dijadikan tujuan outsourcing. Sebenarnya negara-negara Eropa Timur lainnya juga tidak mau ketinggalan dengan Bulgaria. Rusia, Ukraina, dan negara-negara Balkan juga berlomba-lomba memposisikan negara mereka sebagai tujuan outsourcing yang paling baik, terutama untuk sektor TI.

Membicarakan tentang outsourcing TI di negara-negara Eropa Timur mungkin terlalu jauh buat kita. India dan Cina? Masih agak jauh juga? Bagaimana dengan Kamboja dan Laos? Apakah kedua negara yang lebih miskin dari Indonesia ini, dan barusan membuka ekonominya dalam satu dekade terakhir masih terlalu jauh untuk dibicarakan?

Memang di kedua negara tersebut, outsourcing sektor TI yang dilakukan belumlah setaraf dengan apa yang terjadi di India atau Cina. Bila di India, Cina, dan Eropa Timur, mereka sudah menerima outsourcing pekerjaan TI yang membutuhkan intelektual dan kreativitas, di Kamboja dan Laos, outsourcing TI masih sebatas melakukan data entry untuk perusahaan-perusahaan negara maju yang ingin mendigitalkan koleksi perpustakaan mereka. Para pekerja ini disebut sebagai digital factory workers.

Lewat perusahaan Digital Data Divide, yang dibangun dengan filosofi social entrepreneurship oleh warga negara US Jeremy Hockenstein pada tahun 2001, para pekerja di kedua negara tersebut dibayar upah yang mencukupi kebutuhan hidup mereka secara layak untuk pekerjaan mengkonversi data-data analog ke bentuk digital. Pekerja direkrut dari kaum miskin atau orang-orang cacat dan bekerja 6 jam sehari. Selain itu, mereka diberi kursus komputer dan bahasa Inggris. Salah satu hasil kerja mereka bisa dilihat di arsip situs surat kabar Harvard Crimson.

Apa yang terjadi di Kamboja dan Laos memang masih merupakan awal, namun bagaimana dengan Indonesia? Kapan terakhir kali kita mendengar outsourcing TI yang diberikan untuk negara kita, yang sekaligus mampu membantu permasalahan sosial yang kita hadapi? Kapankah kita bisa menarik keuntungan dari the flat world ini, dan bukan hanya sebagai konsumen barang-barang global? Hal yang sangat disayangkan karena konsep seperti Digital Data Divide sebenarnya cocok untuk diterapkan di bumi Nusantara ini.

1 Comment for “Fenomena ‘The Flat World’”

  1. Menarik membaca tulisan Anda. Mengenai The World is Flat versi Indonesia, awal tahun ini sudah ada, diterbitkan oleh Dian Rakyat. Menanggapi soal kapan Indonesia mendapat giliran di-outsource TI, agaknya terlalu jauh. Berapa persen dari 200 juta penduduk Indonesia yang sudah melek huruf apalagi komputer? Karena itu, di era flat world ini agaknya lebih baik kita mengeksplorasi keunggulan tanah air: pariwisata, budaya/kesenian, dan hal-hal lain yang bernuansa kreativitas (desain, kerajinan tangan). Departemen perdagangan dan perindustrian sendiri tampaknya sudah melihat hal itu. Mereka sekarang tengah menggalang orang-orang muda untuk memberdayakan diri di bidang itu.

Leave a Reply

Recently Commented

  • cholid: Pak saya sudah menunggu sejak lama akhirnya terbit juga saya sudah pre-order dari buku pertama selesai di...
  • irpan Salehuddin: Banyak inovasi-inovasi canggih di Indonesia yang berhenti ditengah jalan terbentur masalah...
  • rudiath7: Wah keren banget artikelnya.. sangat2 inspiratif. Makasih saya jadi nambah ilmu. Sepertinya jadi tahu...
  • devi: Sy nggak sabar untuk baca buku selanjutnya :D
  • admin: @viavi: u/ jadwalnya semuanya tergantung dari pihak penerbit. kita doakan saja semoga bisa cepat :) sementara...