Innovative Decision Making (IDM)

Selamat datang di blog ini!

Apa yang bisa Anda temukan di sini? Secara singkat, tema sentral blog ini adalah mengenai pengambilan keputusan inovatif (innovative decision making – IDM).

Selama ini, kita sering mengganggap proses pengambilan keputusan hanya melibatkan dua proses utama: berpikir rasional / analitik untuk keputusan yang membutuhkan perhitungan matang; atau berpikir intuitif untuk keputusan rutin atau yang kurang penting. Yang menjadi masalah adalah: kita jarang mempelajari proses berpikir rasional dan intuitif yang benar. Selain itu, meski kedua proses berpikir rasional dan intuitif sangat mendominasi, kita tidak bisa tergantung pada kedua proses berpikir tersebut semata.

Alasannya karena kita sekarang hidup di dunia yang serba kompleks, serba cepat dan serba terhubung — berterima kasihlah pada kombinasi dua kekuatan raksasa yang saling bekerjasama erat: globalisasi dan perkembangan teknologi. Globalisasi membuat hubungan sebab akibat antar ruang dan waktu semakin sulit diprediksi; sementara perkembangan teknologi membuat segalanya bergerak dengan kecepatan mendekati cahaya. Sebuah kejadian di belahan bumi lain bisa mempengaruhi hidup kita secara langsung. Pengetahuan yang kita miliki kemarin belum tentu masih valid hari ini. Berpikir rasional atau intuitif saja tidak cukup dalam konteks ini, karena sering kita harus berhadapan dengan informasi yang kurang saat harus membuat keputusan dengan cepat dalam dunia yang berubah-ubah. Selain itu, perkembangan pesat teknologi informasi sendiri telah menghasilkan mesin-mesin yang bisa menggantikan sebagian fungsi kognitif umat manusia (terutama fungsi-fungsi yang bersifat logika murni seperti aritmatika; dan memori). Untuk bersaing dengan mesin-mesin seperti itu, kita harus mengembangkan keterampilan yang saat ini belum bisa dilakukan oleh mereka, seperti inovasi, kreativitas, intuisi, dan penilaian moral/etika. Mau tidak mau, kita mesti mengasah terus kemampuan-kemampuan tersebut bila tidak ingin tertinggal.

Di sinilah, kemampuan innovative decision making (IDM) sangat dibutuhkan. Secara singkat, IDM adalah proses berpikir yang melibatkan dimensi-dimensi spiritual, emosional, mental, fisikal, dan sosial untuk mencapai kesuksesan dan kebahagiaan pribadi / organisasi.

IDM harus dimulai dari pencarian arti hidup pribadi (meaning) yang merupakan dimensi spiritual. Tanpa adanya arti dan tujuan hidup pribadi, segala pencapaian yang diraih tak bakal menyumbang setitik pun terhadap kebahagiaan kita. Arti hidup ini juga harus berjalan selaras dengan Nilai-Nilai Moral Universal seperti yang telah diajarkan para Nabi dan para guru moral. Abaikanlah Nilai-Nilai Moral Universal tersebut, maka hidup kita akan jauh dari rasa damai. Memiliki arti dan tujuan hidup pribadi saja belum cukup. Tahap berikutnya adalah Anda harus meyakini pencapaian tujuan tersebut. Keyakinan inilah yang akan menjadi sumber energi untuk mencapai apa pun tujuan hidup Anda.

Dimensi berikutnya, emosional, berkaitan dengan bagaimana emosi membantu atau menghalangi pencapaian tujuan kita. Emosi, bila dikelola secara positif, mampu menghasilkan motivasi yang sangat dibutuhkan agar kita terpacu untuk mencapai tujuan pribadi kita. Bila keyakinan akan pencapaian tujuan hidup adalah sumber energi, maka emosi adalah api yang dihasilkan dari energi tersebut. Api inilah yang akan menghasilkan nyala dalam diri kita. Kita termotivasi, terpacu, dan tergerak. Di sisi yang lain, api yang sama bisa membakar hangus diri kita, bila tidak dikelola dengan benar. Kita jelas harus belajar mengelola bara api tersebut. Kita juga akan membongkar mitos bahwa emosi dan proses berpikir yang rasional saling bertentangan. Justru emosi dan rasional sebenarnya saling terkait erat dan saling mempengaruhi. Keterkaitan kedua dimensi inilah yang menghasilkan bias-bias kognitif. Mengenali kelebihan/kekurangan bias-bias kognitif tersebut adalah salah satu kunci untuk memperbaiki proses berpikir kita.

Kedua dimensi tersebut — spiritual dan emosional — meletakkan landasan untuk dimensi ketiga: mental. Landasan yang benar dan kokoh akan mempermudah proses berpikir sesungguhnya yang terjadi di dimensi mental. Di sinilah kita akan berkenalan dengan istilah pembelajaran, basis pengetahuan, berpikir rasional, analitik, kreatif, sistemik, intuitif, dan inovatif. Kita jelas akan menghabiskan lebih banyak waktu di sini. Tentu itu tidak berarti dimensi ini lebih penting dibanding dimensi lainnya, namun semata-mata karena kegiatan berpikir pada dasarnya memang terjadi di tataran ini, selain karena kerangka teoritis untuk mempelajari proses berpikir kebanyakan dikembangkan untuk dimensi ini.

Bila dimensi spiritual dan emosional menyediakan landasan bagi dimensi mental, maka dimensi keempat ini — fisikal — merupakan ujung tombaknya. Dimensi ini berkaitan dengan eksekusi, disiplin, kebiasaan, kontrol diri, umpan balik, dan perbaikan terus-menerus. Tanpa adanya eksekusi yang merupakan hasil akhir dari pengambilan keputusan, semua hasil proses di dimensi-dimensi lain hanyalah teori yang indah di atas kertas. Sayangnya, meski sangat penting, dimensi ini sangat jarang dibahas saat kita berbicara mengenai proses pengambilan keputusan.

Keempat dimensi di atas: spiritual, emosional, mental, dan fisikal adalah dimensi yang dimiliki tiap individu. Kebanyakan pembahasan tentang pengambilan keputusan sering berhenti pada tingkatan individu ini. Pengambilan keputusan seolah-olah adalah kegiatan yang dilakukan sendirian, lepas bebas dari lingkungan. Namun bukankah kita semua tahu bahwa manusia selain adalah makhluk individu, juga merupakan makhluk sosial? Pengambilan keputusan, tentu saja tidak bisa terlepas dari pengaruh lingkungan sosial kita. Pernahkah Anda merasa kesulitan mengemukakan pendapat di dalam rapat? Atau merasa bagaimana keputusan Anda berubah ketika orang-orang di sekitar Anda berubah pendapat juga? Para investor pasar saham pasti sudah tidak asing dengan istilah herd behavior, di mana sebuah saham diburu ketika banyak investor lain membelinya; dan dilepas begitu investor lain berlomba-lomba melepasnya (tanpa memperhatikan fundamental perusahaan). Semua itu membuktikan proses pengembilan keputusan tidak bisa terlepas dari orang-orang di sekitar kita. Di sinilah pentingnya kita memasukkan dimensi kelima, sosial, dalam kerangka pengambilan keputusan kita.

Lalu, apa hasil dari kelima dimensi tersebut bila semuanya berjalan selaras ke arah yang benar? Hasil akhir yang diharapkan semua orang tentu saja adalah kebahagiaan dan kesuksesan. Tapi kebahagiaan dan kesuksesan sebaiknya jangan dikejar langsung. Mereka akan lari! Jadi, biarlah mereka berdua datang sendiri. “Bagaimana caranya?,” tentu kita semua bertanya-tanya. Jawabannya adalah dengan menghasilkan nilai tambah (added value) bagi sesama dan lingkungan sambil memenuhi tujuan hidup pribadi kita! Nilai tambah maksimal hanya akan dihasilkan bila kita berinovasi. Dengan kata lain, inovasi berasaskan tujuan hidup pribadi, seharusnya menjadi puncak dari proses pengambilan keputusan. Bila Anda mampu menggapai hal tersebut, kesuksesan dan kebahagiaan akan datang sendiri.

Itulah kerangka dasar IDM. Apakah kerangka tersebut menawarkan sesuatu yang baru dan original? Tidak dan Ya. Tidak, karena bila dipisah sendiri-sendiri, mayoritas ide-ide yang dipaparkan dalam blog ini bukanlah ide baru. Anda dengan mudah menemukan buku-buku yang membahas tentang pencarian arti/tujuan hidup; pengelolaan emosi, kecerdasan emosional (emotional intelligence); berpikir kritis, intuitif, kreatif, atau inovasi; pembelajaran; atau membangun kebiasaan yang baik. Dalam hal ini, blog ini tidak menawarkan ide yang benar-benar baru. Tapi di sisi lain, kerangka dasar IDM yang menggabungkan keseluruhan ide-ide tersebut adalah sesuatu yang baru, yang bisa Anda peroleh di sini. IDM adalah nilai tambah yang coba ditawarkan blog ini kepada Anda sekalian.

Tema sentral tersebut akan membuat kita bersinggungan dengan bidang-bidang ilmu seperti: psikologi, sosiologi, ekonomi, cognitive and decision science, complexity theory, game theoery, strategic thinking, dlsb. Perlu dicatat, saya bukanlah ahli dalam semua bidang-bidang di atas. Di kebanyakan bidang-bidang di atas, saya hanyalah pelajar seperti Anda. Namun, untuk menutupi kekurangan tersebut, saya berusaha mempelajari bidang-bidang tersebut sejak memulai kuliah MBA saya di Melbourne Business School, University of Melbourne sejak 2003.

Walau demikian, IDM tentunya harus diuji dan diverifikasi oleh pembaca. Saya percaya, pengetahuan tidak datang dari satu arah. Pengetahuan dan kebijaksanaan didapat dari proses dialog terus menerus dengan mendengarkan pandangan yang beragam. Pandangan-pandangan yang berlawanan (tesis dan antitesis) diadu, diuji, dan dikombinasikan untuk menghasilkan pandangan baru yang lebih baik (sintesis). Sintesis baru tersebut akan dianggap sebagai tesis baru, yang akan ditentang lagi dengan pandangan lain (antitesis baru) untuk melahirkan lagi pandangan sintesis baru berikutnya yang lebih baik, dst… Revolusi dan evolusi pengetahuan sepanjang sejarah manusia mengambil jejak tersebut (tesis-antitesis-sintesis-tesis-antitesis-sintesis-dst…). Dalam proses melahirkan sintesis-sintesis baru yang lebih baik, kita semua adalah pelajar dan sekaligus guru. Karena itu, diskusi dalam blog ini sangat diharapkan untuk membantu pemahaman kita bersama.

Akhir kata, saya berharap topik-topik yang dibahas di blog ini akan mampu mengembangkan kemampuan pengambilan keputusan kita bersama untuk kepentingan pribadi, organisasi (bisnis), masyarakat, dan negara.

 

It Pin Arifin

Surabaya, 29 Juli 2012

Recently Commented

  • cholid: Pak saya sudah menunggu sejak lama akhirnya terbit juga saya sudah pre-order dari buku pertama selesai di...
  • irpan Salehuddin: Banyak inovasi-inovasi canggih di Indonesia yang berhenti ditengah jalan terbentur masalah...
  • rudiath7: Wah keren banget artikelnya.. sangat2 inspiratif. Makasih saya jadi nambah ilmu. Sepertinya jadi tahu...
  • devi: Sy nggak sabar untuk baca buku selanjutnya :D
  • admin: @viavi: u/ jadwalnya semuanya tergantung dari pihak penerbit. kita doakan saja semoga bisa cepat :) sementara...