|

Kecerdasan Khusus dan Berkah Usia Tua

Berikut adalah artikel tambahan untuk buku ‘Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya‘. Artikel ini bisa dibaca lepas, namun Anda dianjurkan untuk membaca buku Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya terlebih dahulu bila ingin mendapatkan pengertian yang lebih mendalam:

Bagi Anda yang masih muda, usia tua adalah sesuatu yang ditakuti, karena kita selalu mengasosiasikan usia tua dengan penurunan fisik dan mental.

Dalam hal fisik, memang tidak bisa dipungkiri usia tua akan menggerogoti kemampuan fisik kita. Trilyunan rupiah dihamburkan setiap hari di seluruh dunia untuk menghindari proses penuaan tersebut, dan hal terbaik yang bisa kita lakukan hanyalah menundanya untuk beberapa tahun. Dalam kompetisi olahraga dunia, usia jelas berpengaruh. Kemampuan motorik, metabolisme tubuh, dan kekuatan otot pasti menurun di usia tua. Kita hampir tidak pernah menemukan pesenam dunia yang berumur di atas 30 tahun, atau atlet kelas dunia di cabang olahraga lain yang membutuhkan daya tahan fisik yang berumur di atas 50 tahun.

Tetapi bila kita berbicara di bidang lain, kita harus berhadapan dengan gambaran yang lebih kompleks. Dalam dunia ilmu sosial dan alam, sumbangan yang diberikan ahli kelas dunia yang berusia 30 tahun dengan yang berusia 70 tahun tidak berbeda jauh, baik dalam hal kuantitas mau pun kualitas. Linus Pauling pada usia 91 tahun mengaku menerbitkan makalah dua kali lebih banyak di rentang usianya yang ke 70 sampai 90 dibanding rentang 20 tahun di usia-usianya yang lebih muda. Benjamin Franklin menemukan lensa bifokal ketika berusia 78 tahun, Frank Lloyd Wright menyelesaikan salah satu karya terbesarnya, Museum Guggenheim, pada usia 91 tahun. Dalam dunia seni, kita memang melihat penurunan tajam sumbangan para ahli yang berusia di atas 60 tahun. Tetapi di sini pun kita bisa melihat banyak pengecualian. Guiseppe Verdi menulis opera Falstaff, salah satu karya terbaiknya, ketika berusia 80 tahun. Michelangelo melukis di kapel Pauline di Vatikan pada usia 89. Di dunia bisnis dan ekonomi, siapa yang tidak mengenal nama-nama seperti Jack Welch, Warren Buffett, George Soros, atau dari dalam negeri: Ir. Ciputra, Dahlan Iskan, dan Hermawan Kartajaya? Apakah ketajaman pikiran mereka dipengaruhi usia tua, atau usia tua justru memberkati mereka dengan kebijaksanaan?

Ketika Mihaly Csikszentmihalyi mewawancarai para pakar yang berusia lanjut dalam bukunya Creativity, secara umum mereka tidak melihat banyak perbedaan dari kuantitas dan kualitas karya mereka di usia 50, 60, 70, atau 80 tahun. Kemampuan mereka berkarya tidak berkurang dan keluhan terhadap kekurangan fisik mereka hampir tidak terdengar. Bahkan secara mengejutkan, Csikszentmihalyi menemukan, para pakar usia lanjut tersebut merasakan lebih banyak hal-hal positif dalam hidup mereka dibanding ketika mereka masih muda.

Kenapa demikian? Kenapa hal itu bertentangan dengan kepercayaan kita selama ini?

Apakah Anda masih ingat perbedaan dua jenis kecerdasan yang kita bahas sebelumnya di buku Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya, yaitu kecerdasan umum dan kecerdasan khusus? Kecerdasan umum, terutama kecerdasan logika-analitika, banyak berhubungan dengan kemampuan memori jangka pendek. Kecerdasan ini mencapai puncaknya di usia muda dan kemudian mulai menurun setelah usia 35, dan menurun dengan cepat di atas usia 70 tahun. Individu berusia 70 tahun membutuhkan waktu sekitar 1.6 sampai 2 kali lebih lama untuk menyelesaikan tugas-tugas biasa dibanding mereka yang berusia 20-an. Setelah umur 30 tahun, nilai rata-rata IQ juga menurun berbanding lurus dengan penambahan usia. Sementara itu, kecerdasan khusus berhubungan dengan memori jangka panjang dan bertambah sesuai dengan pembelajaran yang telah dilakukan. Dengan bertambahnya usia, tingkat kecerdasan khusus ini akan bertambah, dengan catatan bila dilatih dan dipergunakan terus menerus. Akumulasi kecerdasan khusus inilah yang sering kita sebut dengan kebijaksanaan. Sebagian ahli berpendapat kecerdasan ini akan mulai menurun di usia 65 tahun, tetapi hal itu masih mengundang perdebatan karena beberapa individu yang tetap berkarya di usia tua mereka seperti Linus Pauling tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan. Kecuali bila terserang penyakit seperti Parkinson, kita bisa berkesimpulan kecerdasan khusus ini tidak terlalu dipengaruhi usia tua.

Nah, kita tahu bahwa kecerdasan khusus inilah yang berperan penting dalam pencapaian keahlian. Ketrampilan para ahli kelas dunia, terutama di bidang yang berkaitan dengan mental, bisa tetap terjaga atau malah bertambah di usia tua bila individu tersebut tetap melakukan deliberate practice secara teratur. Kecerdasan khusus mereka memang tidak bisa ditransfer ke kecerdasan umum, tetapi dengan mempertahankan dan menggunakan kecerdasan khusus mereka, kualitas hidup mereka tidak akan berkurang.

Terkadang, bukan saja ketrampilan mental mereka tidak menurun, ketrampilan fisik mereka juga masih terjaga. Stanley Drucker masih lincah memainkan jari-jari tangannya sebagai pemain klarinet di usia menjelang 80 tahun di New York Philharmonic, salah satu orkestra paling terkenal di dunia. Beberapa olahragawan, meski sudah tidak bisa bersaing lagi di ajang seperti Olimpiade, masih mampu menunjukkan ketangkasan jauh di atas para anak muda yang masih sehat.

Walau demikian, para ahli yang berusia lanjut memiliki kesulitan bila terjadi perubahan mendasar di bidang keahlian mereka. Hal ini sering dialami mereka yang berkecimpung di dunia teknologi seperti kedokteran atau teknologi informasi. Jika mereka yang berusia muda lebih gampang mempelajari teknik-teknik atau pengetahuan terbaru, mereka yang berusia lebih tua mengalami kesulitan lebih besar. Mereka yang lebih senior telah menginvestasikan banyak waktu, tenaga dan pikiran untuk mempelajari teknik-teknik lama. Semua pola-pola yang terekam dalam otak mereka sudah terbungkus myelin (peranan myelin dalam pencapaian kegeniusan bisa dibaca di Bab 2 buku Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya). Melepaskan semua itu untuk sesuatu yang baru adalah pengalaman yang sulit secara emosional dan kognitif. Pembentukan jaringan neuron-neuron baru (neurogenesis) sebagai hasil dari pembelajaran di usia lanjut juga lebih lambat dibanding ketika berusia lebih muda.

Dengan bertambah tingkat kemakmuran dan kesehatan masyarakat dan dibarengi dengan menurunnya angka kelahiran bayi, di masa depan kita akan menemukan masyarakat yang memiliki lebih banyak orang-orang berusia lanjut. Masyarakat seperti itu sudah terlihat di sebagian negara-negara Eropa dan Jepang. Alangkah sayangnya bila kita melihat mereka sebagai beban, sementara mereka bisa menjadi aset berharga, terutama bila mereka telah memiliki keahlian khusus di bidang tertentu. Kita seharusnya memberi lebih banyak kesempatan bagi mereka untuk memanfaatkan kecerdasan khusus yang telah mereka kumpulkan selama puluhan tahun ke kegiatan yang benar-benar mereka cintai. Berilah mereka kesempatan “hidup kedua”, yang selain bermanfaat buat mereka, juga bermanfaat buat masyarakat. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah memundurkan usia pensiun bagi karyawan usia lanjut yang masih berprestasi, atau menjadikan mereka sebagai mentor paro-waktu bagi karyawan muda. Mereka juga bisa diberi kesempatan untuk aktif dalam kegiatan-kegiatan filantropis, seperti mengajar di sekolah-sekolah, dosen tamu di kampus-kampus, atau membacakan buku untuk anak-anak kecil di perpustakaan.

Usia tua bila dimanfaatkan dengan benar bisa merupakan second life, hidup kedua yang lebih berarti. Ketika anak-anak sudah mandiri dan semua tanggung jawab lain sudah bisa ditinggal di belakang, para warga senior bisa meluangkan waktu untuk mengejar hal-hal yang benar-benar mereka cintai tanpa memikirkan pemenuhan kebutuhan materi. Lihatlah Ir. Ciputra. Setelah bisnisnya sudah ditangani anak-anaknya, dengan membawa pengalaman bisnisnya selama puluhan tahun, Pak Ciputra menghabiskan waktu mempromosikan pendidikan wiraswasta untuk generasi muda. Kita bisa melihat betapa perjuangan tersebut adalah passion-nya. “Karir keduanya” tersebut membuatnya terlihat tetap enerjik. Kecerdasan dan semangatnya belum kelihatan menurun.

Demikian juga dengan Dahlan Iskan, mantan orang nomor satu di Jawa Pos Group. Setelah melepas perusahaan yang dibesarkannya ke generasi kedua, sebagian karena alasan kesehatan, Pak Dahlan benar-benar mendapatkan hidup kedua setelah sukses menjalani operasi transplantasi hati di Cina. Meski sudah pensiun dari dunia media, dia tetap menulis dan kemudian memutuskan membawa keahliannya mengelola Jawa Pos ke PLN, dan kemudian dipercaya menjadi Menteri BUMN. Menurut saya, keputusan beliau menerima mandat sebagai boss PLN atau posisi Menteri BUMN bukan untuk mengejar uang atau pengakuan. Beliau sudah mendapatkan semua itu. Apa yang dikejarnya adalah sesuatu yang lebih besar – kesempatan untuk menyumbang dan belajar hal-hal baru, kesempatan untuk membuat hidupnya berarti.

Kedua orang terhormat ini memiliki satu kesamaan: mereka membawa kecerdasan khusus mereka sebelumnya, dan mengaplikasikannya di tempat lain yang membutuhkan kecerdasan khusus mereka. Mereka menolak untuk pensiun, dan memilih untuk tetap bisa menyumbang. Pak Ci dan Pak Dahlan adalah bukti kita tidak perlu takut dengan usia tua. Usia tua sering memberikan kesempatan kedua, kadang malah lebih baik dari kesempatan pertama yang diperoleh ketika masih muda. Karena itu, mulainya berinvestasi untuk kehidupan kedua tersebut dengan mulai memupuk kecerdasan khusus Anda.

Apakah usia tua merupakan berkah atau bukan, semuanya tergantung dari kita sendiri. Setuju?

(Untuk artikel terkait lainnya, silakan ke laman resmi “Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya“)

Leave a Reply

Recently Commented

  • cholid: Pak saya sudah menunggu sejak lama akhirnya terbit juga saya sudah pre-order dari buku pertama selesai di...
  • irpan Salehuddin: Banyak inovasi-inovasi canggih di Indonesia yang berhenti ditengah jalan terbentur masalah...
  • rudiath7: Wah keren banget artikelnya.. sangat2 inspiratif. Makasih saya jadi nambah ilmu. Sepertinya jadi tahu...
  • devi: Sy nggak sabar untuk baca buku selanjutnya :D
  • admin: @viavi: u/ jadwalnya semuanya tergantung dari pihak penerbit. kita doakan saja semoga bisa cepat :) sementara...