Ketika KB Gagal di India
Alkisah di sekitar tahun 1950an, sekelompok sukarelawan internasional berusaha membantu pemerintah India mengendalikan jumlah penduduknya dengan memperkenalkan keluarga berencana (KB). Dengan dedikasi yang tinggi, mereka mendistribusikan alat-alat kontrasepsi dan informasi cara penggunaannya. Namun, angka kelahiran di India tidak terpengaruh. Para sukarelawan serta-merta menyayangkan sikap masa bodoh para penduduk India dan menyalahkan sikap mereka yang irasional.
Seorang konsultan ternama kemudian diundang untuk membantu. Setelah mendengarkan keluh-kesah para sukarelawan tersebut, sang konsultan meminta mereka untuk tidak menyalahkan orang-orang India tersebut terlebih dahulu. Asumsi bahwa orang-orang India tidak perduli dengan KB bisa jadi adalah asumsi yang salah. Soalnya, bila orang-orang India tidak perduli masalah KB, mereka bisa saja memiliki 15-20 orang anak, sesuai dengan rata-rata jumlah usia produktif wanita. Tapi kenyatannya, jumlah rata-rata anak per keluarga berkisar di angka 4-5. Angka tersebut mencerminkan adanya upaya keluarga India untuk mengendalikan jumlah anak pada kisaran tersebut. Yang menjadi pertanyaan: Mengapa 4-5?
Untuk mengetahui alasan tersebut, sang konsultan menyarankan para sukarelawan tersebut mengadakan penyelidikan dengan mengasumsikan orang-orang India tersebut bertindak rasional dalam menentukan jumlah anak tersebut. Para sukarelawan tersebut masih tidak goyah dengan pendapat mereka semula. Mereka menolak menyelidiki. Orang-orang India itu tidak mungkin bersikap rasional. Akhirnya, sang konsultan mengadakan penyelidikan sendiri.
Dan inilah hasilnya:
Ternyata di India tidak ada sistem jaminan sosial hari tua. Para pekerja juga dipensiunkan secara dini. Karena itu, pada saat memasuki usia paruh baya, mereka harus mengandalkan pendapatan dari anak-anaknya. Menurut perhitungan mereka, pendapatan satu orang cukup untuk menyokong dua orang; dan karena itu, mereka butuh setidaknya dua orang anak untuk menyokong hidup kedua orang tuanya. Selain itu, dalam masyarakat India yang patriakis, umumnya yang bekerja adalah kaum pria sedangkan kaum wanita biasanya menjadi ibu rumah tangga. Anak perempuan yang sudah menikah juga bukan milik keluarga lagi. Karena kemungkinan melahirkan anak lelaki dan perempuan adalah 50-50, secara statistik setiap keluarga butuh rata-rata empat orang anak untuk mendapatkan dua anak lelaki yang mampu menyediakan jaminan hari tua. Dan tingginya angka kematian bayi di India waktu itu, menyebabkan kadang-kadang mereka membutuhkan asuransi dalam wujud anak kelima untuk memastikan setidaknya ada dua orang anak lelaki yang bisa hidup sehat sampai mencapai usia dewasa. Dari sanalah didapat jumlah rata-rata anak 4-5 per keluarga.
Untuk menguji apakah kesimpulan tersebut benar, sang konsultan melihat keluarga yang hanya memiliki kurang dari empat orang anak. Keluarga-keluarga tersebut ternyata sudah memiliki 2-3 orang anak lelaki sehingga mereka tidak perlu melahirkan lebih banyak keturunan lagi.
Kesimpulan sang konsultan: Orang-orang India itu ternyata lebih cerdas dan rasional daripada yang dikira para sukarelawan. Dalam kesederhanaannya, mereka mampu menciptakan sistem jaminan sosial yang sesuai dengan konteks India saat itu. Sementara para sukarelawan itu justru yang bertindak irasional dengan memaksakan pola pikir dari negara asal mereka (yang memiliki jaminan sosial hari tua) tanpa memperhatikan perbedaan konteks yang penting.
Setelah mengetahui akar permasalahannya, sang konsultan mengajukan alternatif solusi yang lebih cerdas: perpanjang usia pensiun. Memang usia pensiun tersebut bukanlah satu-satunya faktor, namun jelas merupakan faktor yang sangat penting.
Kadang kita memang sering menyalahkan pihak lain bila solusi yang kita tawarkan tidak berhasil menyelesaikan masalah. Alangkah baiknya bila cerita ini bisa memberi kita pandangan lain: Mungkin yang salah adalah cara pandang kita, bukan pihak lain.
Pandangan yang sama pernah diberikan Stephen Covey dalam kebiasaan ke-5 dari 7 Kebiasaan Efektif yang diperkenalkan beliau: Seek first to understand, then to be understood.
Hanya dengan mengambil tanggung jawab ke atas pundak kita, kita bisa belajar dan mencari alternatif solusi yang lebih baik. Konflik-konflik yang terjadi di sekitar kita pasti akan berkurang bila kita mampu mengadopsi cara pikir tersebut. Bagi perusahaan yang ingin mengembangkan produk baru; atau calon wiraswasta yang ingin membuka usaha baru; atau atasan yang memiliki bawahan bermasalah (atau orang tua dengan anaknya), ada baiknya mengadopsi cara pikir sang konsultan. Buanglah jauh-jauh terlebih dahulu asumsi-asumsi Anda. Carilah fakta seobyektif mungkin. Tanyalah langsung pihak lain tersebut: Apa alasan mereka? Apa yang benar-benar mereka butuhkan? Apa saja kebiasaan-kebiasaan dan cara berpikir mereka? Apa alasan mereka untuk menerima solusi Anda? Apa pula alasan mereka untuk menolak solusi Anda? Apa hambatan yang harus mereka hadapi? Jangan langsung memaksakan solusi Anda hanya karena menurut Anda, solusi Anda paling bagus.
Yang penting adalah menurut mereka, bukan menurut Anda.

Mantabh Mas ceritanya… Tapi itu fiksi atau beneran yah? Tapi sungguh menarik.
cerita tsb benar terjadi, dan konsultan cerdas tsb adalah Russell Ackoff, salah satu akademisi terkenal dari Wharton School dan pioner ‘systems thinking’.
ane pikir anak 5 karena sering nonton wayang Pandawa
Sungguh sangat menyegarkan, setelah membaca artikel ini. Membuka tabir pemikiran dengan cara yang menyenangkan.
Terima Kasih pak, saya pantau terus untuk hikmah2 lainnya..
saya kagum dengan artikel ini. izin share ya pak.
[...] Di sela-sela jam mengajar di SMA Vidatra hari ini, aku ingin sekali menulis. Baru saja aku membaca artikel yang sangat bagus, baik untuk Anda baca sepertinya, tentang kegagalan program KB di India dulu. Aku sangat tertarik dengan hal-hal berbau KB saat ini, dan entah kenapa aku merasa menjadi pejuang KB yang cukup militan, karena justru mungkin karena aku dilahirkan dari keluarga yang buta dan tidak setuju dengan KB. Silakan dibaca terlebih dahulu. Ketika KB Gagal di India [...]
@Samsul: silakan pak.
Ada buku yang amat memikat tentang hal ini, berjudul SWITCH. PAsti anda sudah membacanya.
Buku SWITCH ini rasanya layak dibaca oleh semua pihak yang mau melakukan perubahan (change), termasuk mengubah perilaku untuk ber KB.
Switch, bagi saya, merupakan one of the best books dalam arena behavior change.
Switch memang buku yg bagus u/ mereka yg ingin melakukan perubahan tanpa sumber daya yang cukup (termasuk perubahan pribadi). Semoga saja buku ini sudah/akan diterjemahkan ke bahasa Indonesia.