|

Ketika Kekuatan Keinginan Terkuras…

Berikut adalah artikel tambahan untuk buku ‘Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya‘. Artikel ini bisa dibaca lepas, namun Anda dianjurkan untuk membaca buku Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya terlebih dahulu bila ingin mendapatkan pengertian yang lebih mendalam:

Pentingnya kontrol diri sudah kita bahas di artikel sebelumnya. Kontrol diri membuat kita mampu menunda kepuasan untuk berfokus pada pencapaian tujuan jangka panjang yang lebih berharga. Setiap hari kita diuji dengan godaan-godaan untuk mencari kepuasan sesaat dan segera: ranjang yang empuk yang menahan kita bangun pagi untuk berolahraga, makanan lezat dan beraroma harus yang meminta kita melupakan diet sehat yang sudah kita rancang, atau tontonan serial televisi menarik yang memaksa kita harus memilih antara nonton atau belajar. Seperti yang bisa kita baca di buku Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya, mereka yang sukses meraih keahlian tinggi atau menjadi genius, adalah mereka yang termovitasi mengejar impian jangka panjang mereka secara terus menerus selama belasan tahun. Tanpa kemampuan menahan godaan dan mengumpulkan kekuatan keinginan (willpower), pencapaian impian tersebut bisa dipastikan hanya sekedar mimpi di siang bolong.

Karena itu, riset demi riset terus dilakukan untuk mencari cara agar individu bisa meningkatkan kekuatan keinginan mereka. Para ahli riset tersebut mencoba mencari tahu kenapa sebagian orang bisa mengontrol dirinya, dan yang lainnya gagal. Roy Baumeister, seorang psikolog sosial di Florida State University, adalah salah satu periset yang berusaha menemukan rahasia untuk mengontrol diri dan meningkatkan kekuatan keinginan.

“Belajar kontrol diri menghasilkan hasil positif dalam banyak hal,” kata Baumeister dalam artikelnya yang terbit di Current Directions in Psychological Science, “Anak-anak belajar lebih baik di sekolah, orang-orang bekerja lebih baik. Lihat saja semua kategori umum masalah yang diderita orang-orang dan kemungkinan besar kontrol diri merupakan penyebabnya dalam beberapa hal.” Anda setuju? Kalau Anda setuju, silakan terus baca.

Baumeister lalu mengajukan teori bahwa kontrol diri bisa dianalogikan dengan sebuah sumur: ia akan kosong bila dipergunakan terus. Untungnya, ia juga bisa diisi ulang. Untuk menguji teorinya, Baumeister memberikan subyek eksperimennya tugas-tugas yang membutuhkan penggunaan kontrol diri. Dalam salah satu eksperimennya, salah satu kelompok diminta untuk tidak boleh memikirkan seekor beruang putih. Menurut Anda itu tugas yang mudah? Cobalah. Semakin Anda mencoba tidak memikirkan beruang putih, semakin sering beruang putih tersebut melintas di benak Anda. Sementara pada kelompok lainnya, mereka diperbolehkan membiarkan pikiran mereka melayang kesana-sini. Setelah itu, kedua kelompok diberikan teka-teki yang cukup sulit untuk dipecahkan.

Kelompok pertama yang diharuskan mengontrol diri mereka untuk tidak memikirkan beruang putih menyerah lebih cepat. Kontrol diri mereka telah terpakai di tugas pertama yang kelihatannya sederhana itu. Meskipun asal mula kekuatan kontrol diri tersebut belum diketahui dengan pasti, Baumeister berpendapat bahwa “sumur” yang menyediakan energi untuk kontrol diri tersebut bisa diisi dengan makan dan tidur secukupnya, tertawa, atau pengalaman positif lainnya.

Dr. Baumeister juga melaporkan hasil studi yang menunjukkan hubungan antara kontrol diri dengan tingkat glukosa darah. Dalam satu studi yang diterbitkan di Personality and Social Psychology Review, subyek percobaan diminta menonton sebuah video, dan sebagian diminta untuk menahan senyum atau reaksi wajah lainnya. Setelah film tersebut selesai, tingkat gula darah partisipan yang diharuskan mengontrol diri agar tidak tersenyum turun; sementara mereka yang tidak diharuskan mengontrol diri memiliki tingkat gula darah yang sama.

Para penonton video tersebut kemudian diberikan diberikan ujian konsentrasi di mana mereka diminta mengidentifikasikan warna tulisan. Namun tentu saja tugas mereka tidak sesederhana itu. Tulisan “merah” misalnya akan tampil dengan warna biru. Subyek harus berkonsentrasi agar tidak dibingungkan antara apa yang tertulis dengan warna tulisannya. Hasil studi menunjukkan mereka yang tadinya harus menahan senyum dan mengalami penurunan tingkat gula darah mendapatkan nilai rendah. Tetapi apa buktinya jika yang bertanggung jawab adalah tingkat glukosa darah? Bisa jadi mereka terlalu lelah. Untuk menguji hipotesa tersebut, para periset memberikan minuman yang mengandung gula pada sekelompok subyek; dan minuman pemanis buatan yang tidak menaikkan glukosa darah kepada kelompok yang lain. Hasilnya: mereka yang menerima minuman dengan pemanis alami berhasil mendapatkan hasil yang lebih baik.

Glukosa memang sudah lama diketahui sebagai bahan bakar otak. Makanan kelihatannya mampu meningkatkan kontrol diri seseorang, selama dalam batas-batas yang wajar. Itu sebabnya mengapa para perokok yang ingin berhenti atau siswa yang ingin konsentrasi belajar secara naluriah akan mencari makanan. Tentu saja pelarian ke makanan manis tidak dianjurkan kepada mereka yang sedang berdiet, sebuah bentuk kontrol diri. Namun para periset juga menemukan untuk mereka yang sedang berusaha diet dalam jangka panjang, adalah lebih baik makan sering dalam porsi kecil dibanding berusaha menahan diri tidak makan sama sekali. Tentu saja karena kita sedang membicarakan tentang peningkatan keahlian di sini, kita tidak akan ikut dalam perdebatan peranan glukosa dalam diet. Biarlah mereka yang lebih berkompeten berkomentar dalam hal ini.

Kathleen Vohs, professor marketing di University of Minnesota, mengatakan dalam studi lab, kontrol diri atau kekuatan keinginan meningkat ketika orang-orang membangkitkan memori yang kuat tentang hal-hal yang berarti dalam hidup mereka. Dr. Vohs mencatat masalah kontrol diri timbul ketika seseorang terperangkap dalam “kekinian” dan melupakan tujuan jangka panjang mereka. Tanpa mengingat tujuan jangka panjang, kekuatan godaan sesaat sulit ditolak.

Beberapa studi menunjukkan orang-orang yang menghadapi masalah kontrol diri harus memulai mengatasi masalahnya dari hal-hal kecil terlebih dahulu. Studi-studi lainnya menunjukkan mereka yang diminta melakukan perubahan kecil seperti meningkatkan sikap tubuh atau menggosok gigi dengan tangan yang berlawanan mampu menunjukkan peningkatan kontrol diri dalam uji laboratorium. Memang masih banyak yang perlu diuji lagi di sini, tetapi bukti-bukti menunjukkan latihan kontrol diri harus dimulai secara bertahap. Daripada Anda memaksa diri langsung melakukan jogging setiap pagi, ada baiknya Anda memulai dengan membiasakan diri bangun setengah jam lebih awal terlebih dahulu. Setelah hal itu menjadi kebiasaan, barulah Anda meningkatkan ke tingkat berikutnya, misalnya mulai berjalan-jalan ringan dulu secara teratur. Setelah itu, barulah Anda mulai melakukan jogging.

Bagi Anda yang ingin mencapai kegeniusan, namun memiliki masalah kontrol diri atau motivasi, mulailah dengan langkah kecil terlebih dahulu. Yang penting, lakukan secara konsisten. Langkah kecil demi langkah kecil akan menjadi langkah raksasa. Anda juga dianjurkan untuk berfokus hanya pada satu atau maksimal dua tujuan jangka panjang. Seperti contoh-contoh pada buku Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya, para genius kelas dunia tidaklah genius di semua bidang. Mereka terbukti memiliki fokus tunggal pada satu bidang saja — dan itulah salah satu rahasia kegeniusan mereka.

(Untuk artikel terkait lainnya, silakan ke laman resmi “Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya“)

Leave a Reply

Recently Commented

  • cholid: Pak saya sudah menunggu sejak lama akhirnya terbit juga saya sudah pre-order dari buku pertama selesai di...
  • irpan Salehuddin: Banyak inovasi-inovasi canggih di Indonesia yang berhenti ditengah jalan terbentur masalah...
  • rudiath7: Wah keren banget artikelnya.. sangat2 inspiratif. Makasih saya jadi nambah ilmu. Sepertinya jadi tahu...
  • devi: Sy nggak sabar untuk baca buku selanjutnya :D
  • admin: @viavi: u/ jadwalnya semuanya tergantung dari pihak penerbit. kita doakan saja semoga bisa cepat :) sementara...