|

Yayasan Khaula Karya

Seorang mahasiswa Indonesia berhasil menciptakan pembangkit listrik tenaga angin dengan modal Rp. 6,5 juta. Alat tersebut mampu menghasilkan 300 kwh listrik per jam, energi yang cukup untuk menerangi sekitar 500 rumah sekaligus. Seorang warga Bantul, Yogyakarta, juga berhasil merancang sebuah unit rumah tahan gempa tipe 36. Rumah berbahan kayu tersebut harganya cukup murah. Hanya Rp. 10,7 juta per unit.

Itulah dua contoh penemuan anak bangsa yang berhasil diketahui oleh Yayasan Khaula Karya, sebuah yayasan yang didirikan dengan dana dari The Lemelson Foundation (TLF) dari US. TLF didirikan oleh Jerome Lemelson, salah seorang penemu paling terkenal dari US yang memegang 572 hak paten. Lembaga ini telah mengalokasikan dana sebesar 3 juta USD untuk pengembangan inovasi-inovasi dari putra-putri Indonesia selama 3 tahun. TLF menjalin kerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan meluncurkan program yang disebut recognition and mentoring program (RAMP). Melalui program ini, TLF ingin menjembatani para penemu Indonesia dengan modal yang selama ini menjadi penghambat terbesar dalam komersialisasi penemuan.

Dana 3 juta USD tersebut akan dikucurkan untuk inovasi dari rakyat kecil dan siswa yang memiliki ide atau teknologi yang mampu memberikan dampak sosial luas. Prioritas diberikan kepada inovasi teknologi untuk meningkatkan produktivitas masyarakat miskin, terutama di pulau Jawa dan wilayah Indonesia bagian timur. Bidang yang menjadi mendapatkan perhatian utama adalah air, energi, kesehatan, pertanian, dan keanekaragaman hayati. Selain bantuan dana, TLF juga akan membantu sistem manajemen dan pemasaran. Hak paten tetap menjadi milik penemu dan TLF akan mengambil sebagian keuntungan dari penjualan produk-produk tersebut.

Untuk memperoleh bantuan senilai hingga Rp. 480 juta, setiap peneliti harus mengajukan proposal terlebih dahulu. Proposal diterima bulan September dan Maret setiap tahun. Selain RAMP, TLF juga membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin mengembangkan usaha mereka lewat program citizen based initiative (CBI). Informasi lebih lanjut bisa diperoleh lewat situs web www.ramp-indonesia.org atau www.khaula.org.

Berita di atas tentu harus kita syukuri. Indonesia sebenarnya bukanlah negara yang miskin penemu. Banyak mahasiswa-mahasiswa dan para praktisi lapangan kita yang cerdas dan inovatif. Keterbatasan mereka justru memaksa mereka menjadi lebih kreatif. Yang sering menjadi masalah adalah minimnya dana dan infrastruktur untuk mendukung penyebaran inovasi-inovasi mereka. Kita patut bersyukur kedua penemuan di atas berhasil dideteksi oleh Yayasan Khaula Karya, namun berapa banyak penemuan penting lainnya yang tidak pernah ketahuan? Karena itu, dana yang dikucurkan oleh TLF tersebut merupakan angin segar yang tidak boleh kita sia-siakan.

Fokus TLF pada bidang-bidang sosial dan masyarakat bawah juga harus didukung penuh. Beberapa artikel saya sebelumnya menjelaskan betapa pentingnya inovasi untuk kaum miskin. Inovasi-inovasi tersebut, selain mampu membantu penyelesaian masalah-masalah sosial, sebenarnya juga menyajikan peluang besar bagi perusahaan untuk mendapatkan keuntungan ekonomis. Rakyat bawah yang berjumlah banyak adalah potensi pasar yang besar asal kita bisa menemukan inovasi yang sesuai dengan kondisi mereka. Semiskin-miskinnya masyarakat bawah, mereka tetap perlu mengkonsumsi. Sayangnya, barang-barang yang tersedia buat mereka saat ini sebenarnya diperuntukkan untuk masyarakat dengan daya beli lebih tinggi. Inovasi-inovasi yang mampu menjawab kebutuhan mereka dengan biaya lebih rendah tentu akan sangat membantu kondisi ekonomi mereka. Perusahaan yang mampu mengembangkan inovasi demikian selain akan mendapatkan produk mereka laku, juga akan mendapatkan corporate image yang bagus.

Selain itu, inovasi yang berhasil di pasar akar rumput tersebut memiliki peluang menjadi disruptive innovation yang dengan mudah dijual ke segmen pelanggan yang berdaya beli lebih tinggi. Perusahaan besar lainnya jarang menganggap inovasi tersebut sebagai saingan karena menganggap inovasi tersebut lebih inferior dan tidak mengancam langsung target pasar mereka. Di sinilah terletak peluang bagi inovator untuk menyempurnakan produknya tanpa mengkuatirkan kompetisi yang ketat.

Mari kita tunggu inovasi-inovasi yang akan lahir dari bantuan Yayasan Khaula Karya tersebut. Jika Anda seorang penemu, tunggu apa lagi?

6 Comments for “Yayasan Khaula Karya”

  1. Keren2..
    Jadi inget dengan penghargaan SBY buat orang gila inovasi.
    Terus berinovasi Indonesia!

  2. Setuju sekali dengan perlunya memotivasi masyarakat untuk bersikap inovatif, termasuk untuk kalangan miskin. Inovasi sederhana tapi praktis perlu dikembangkan, terutama yang memiliki nilai ekonomis. Ini yang berkembang di RRC; makanya banyak produk mulai dari mainan sampai gadget sederhana menjadi barang dagangan. Kreativitas dan inovasi adalah penggerak ekonomi yang substansil. Ayo dorong terus semangat itu; apalagi sangat jelas bahwa kita memang bukan bangsa yang miskin inovasi. Salam, Anwar.

  3. Mantap.. duh bikin apaan ya?

  4. Bisa tau info lebih lanjut tentang mahasiswa yang menciptakan kincir angin tersebut di mana yah ?

    Terima kasih

  5. Yuda, sori saya tidak tahu cara menghubungi mahasiswa tsb. Ada baiknya Anda mencoba menghubungi Yayasan tsb melalui situs web mereka seperti yg tercantum di posting saya.

    Pin.

  6. irpan Salehuddin

    Banyak inovasi-inovasi canggih di Indonesia yang berhenti ditengah jalan terbentur masalah dana,Yayasan seperti ini semoga bisa jadi angin segar bagi Inovator Indonesia…Semoga tidak sulit untuk mengaksesnya…

Leave a Reply

Recently Commented

  • cholid: Pak saya sudah menunggu sejak lama akhirnya terbit juga saya sudah pre-order dari buku pertama selesai di...
  • irpan Salehuddin: Banyak inovasi-inovasi canggih di Indonesia yang berhenti ditengah jalan terbentur masalah...
  • rudiath7: Wah keren banget artikelnya.. sangat2 inspiratif. Makasih saya jadi nambah ilmu. Sepertinya jadi tahu...
  • devi: Sy nggak sabar untuk baca buku selanjutnya :D
  • admin: @viavi: u/ jadwalnya semuanya tergantung dari pihak penerbit. kita doakan saja semoga bisa cepat :) sementara...